Sri Wedari

Wajahnya molek berlapis pupur, ia telah melukisnya serupa dewi. Di kepalanya, tersunggi tinggi-tinggi sebuah mahkota yang berpura-pura, dan setiap kibasan selendangnya, memercikkan wangi srimpi yang menari-nari…

*

Sri Wedari, begitu nama perempuan yang digandrunginya setengah mati. Perempuan itu lelakon, temannya pernah berkata suatu hari. Tidak ada yang tahu pentas apa yang sedang mereka perankan sebenarnya. Temannya yang lain menambahi. Ia hanya mengangguk-angguk tak peduli mengingat percakapan usang yang usianya lebih dari dua dekade. Ia lantas mengedarkan pandangannya ke bangku-bangku penikmat lelakon yang sebagian besarnya hanya berisi udara kosong.

Kemudian, di hadapannya, di sebuah panggung yang jauh dari megah, lelakon mulai dimainkan. Para perempuan, sebagian laki-laki, mulai memainkan peran yang sudah seharusnya, sesuai dengan arahan dalang yang tersembunyi di balik selambu merah jambu.

Namun di matanya, hanya ada satu lelakon yang dimainkan, hanya ada satu wayang yang bermain peran.

Wedhar.

Ia mengecup nama yang diguratkannya lekat-lekat di pergelangan tangan kirinya.

*

Kebon Rojo atau Kebun milik Raja, begitu Wedhar pernah menyebut kawasan taman yang kini mulai kehilangan pesonanya. Entah karena usia atau karena ketidakhadirannya. Laki-laki itu

“Dahulu, di kawasan ini, beribu-ribu gulden dihabiskan untuk membangun Kebon Rojo lantaran ada beraneka hewan-hewan buruan beraneka warna yang dipisah-pisah sesuai jenisnya.

Mereka membangun museum lengkap dengan telaga buatan yang disebut segaran, meletakkan arca-arca andesit sebagai penjaga, bagian tengah dibuatkan ebuah taman hiburan rakyat yang menawarkan pasar malam, bioskop, dan gedung wayang wong. ”

Wedhar menyampirkan selendang yang digunakannya untuk pementasan lelakon di bahunya, aroma srimpi menguar dari tubuhnya yang berkilau-kilau terkena sinar matahari. Laki-laki yang duduk di sebelahnya seakan tersihir melihat sosok perempuan elok yang membuatnya gandrung. Laki-laki itu mengisap rokoknya sembari mendengarkan kisah dari bibir Wedhar, sambil tak henti-hentinya mencuri pandang kearahnya.

Lantrak-lintrik

Perempuan itu mengenakan kain penutup kepala yang melindungi surainya yang sewarna tembaga, lalu dengan gerakan yang halus lagi samar-samar, ia melepas penutup yang melekati tubuhnya. Selapis demi selapis, dari kepala sampai mata kaki, hingga hanya polos yang tersisa.

Kemudian dengan gerakan yang lebih ringan dari genta angin, ia melangkah mundur, selangkah demi selangkah, menuju pekuburan yang terletak selemparan batu dari rumahnya. Matanya memejam, kartu remi yang telah dibebatnya dengan mori di tangan kiri, berayun ringan, seirama lengannya yang bergoyang-goyang.

Hanya ada satu perempuan yang mendadak memenuhi kepalanya dengan bayang-bayang yang kadang-kadang teramat keterlaluan hingga ia tidak bisa menahan hasrat yang menuntut pembebasan. Ia berharap bisa mengusir bayang-bayang perempuan yang molek itu dengan membakar habis isi kepalanya dengan meminum arak api. Namun, arak api itu hanya membakar habis kesadarannya tanpa kuasa mengusir perempuan yang menari-nari di benaknya itu (laki-laki itu mulai merasa seharusnya ia tidak pernah berurusan dengan perempuan yang bayangannya kini melekat di kepalanya dengan terus menari-nari itu, tarian itu membuatnya menggeliut-geliut akibat rasa salah yang makin terasa menyengat.)

Aku menjadi gila sepertinya, ia berbisik pada cermin kokoh yang tergantung pasrah di dinding kamarnya yang telanjang. Sementara, lantai marmer di kakinya terasa lebih dingin ribuan kali. Ia menatap bayangan yang memantul di dalamnya, ia seketika gemetar saat perempuan yang hidup di dalam kepalanya itu mengedip genit ke arahnya.

“Pergi saja, kau!”

Ia meninju cermin, suara benturannya membuat ibunya datang menengok, sementara buku-buku jarinya tidak merasakan nyeri saat merah lalu menyeruak, mengalir bebas di ujung-ujung jarinya.

“Astaghfirullah, Agung! Ada apa, nak?”

Ia menggeleng, menatap ibunya yang mengernyit, kemudian berpaling saat sepasang mata itu berubah menjadi sepasang mata perempuan bayang-bayang yang terus menerus mengganggunya, menerornya tanpa mengenal kata berhenti.

Perempuan kita yang tanpa penutup suatu apa itu merasakan udara berubah, menusuki kulitnya, jari-jarinya mengatup kaku, mendadak kartu yang digenggamnya terasa lebih berat, dan ia mendengar tawa samar-samar menggelitiki kupingnya. Tawa dingin yang tidak menyenangkan. Tawa bengis yang lebih mirip ancaman ketimbang tawa hangat seorang kawan.

Ia merasakan kuduknya berdiri saat kakinya menapak tanah lembek yang bertaburan kamboja kering di sana-sini. Ia masih memejam mata, menajamkan telinga. Tawa dingin yang kering itu menyergapnya dengan tiba-tiba, memaksanya membuka mata, ia hampir muntah saat melihat sosok di hadapannya.

Perempuan di hadapannya itu, memiliki bola mata menggantung yang seolah menuntut keluar dari liangnya, tubuhnya bersisik warna lumut dari pinggang hingga sebatas leher, ia tidak sanggup memandang sosok di hadapannya. Ia mencengkeram kartunya erat-erat, tangannya memutih saking kuatnya ia menggenggam, dan ia terus-menerus menahan gejolak untuk muntah karena rasa ngeri telah mencengkeram perutnya sekencang besi.

Ia mematung, entah untuk berapa lama, bersitatap dengan setan perempuan di hadapannya, saat ia menatap bola mata yang bernanah itu, rasa takutnya malah mulai luruh, sadarlah ia apa yang membawanya ke pekuburan angker itu. Sadarlah ia apa yang ingin dituntutnya ke sana dengan membawa serta -menggenggam erat kartu remi dan bertelanjang tanpa busana.

Ia lalu meneruskan lelakunya, mengabaikan kakinya yang terasa melesak tanah semakin dalam, dan aroma kamboja berpadu wangi melati semakin kuat, ia melangkah dengan mantap. Melalui batin yang semakin peka, ia tahu ia sedang diiringi lusinan makhluk yang bermacam-macam wujudnya. Kesemuanya buruk, berkeropeng, busuk, penuh nanah dan koreng, tidak ada yang cukup pantas untuk dilihat. Ia terus melangkah mundur ke tengah-tengah pekuburan, lalu bersimpuh di atas tanah, mengais-ngais, meletakkan kartu remi di dalam lubang yang dikaisnya, kemudian setelah menutup lubang itu kembali, ia melenggang ringan. Pulang. Makhluk-makhluk buruk nan seram yang mengikutinya, membiarkannya pergi, sendirian.

Belum selesai, angin dingin berbisik menyapa tengkuknya, tiga puluh hari lagi, lalu bukalah, bebaskan apa yang hendak kau tuntut.

Perempuan itu lalu tersenyum keji.

Sukesi menahan getir yang tidak mengenal belas kasihan itu kembali melesaki ulu hatinya. Getir itu menyengatnya berkali-kali, menancapinya berulang kali hingga ia merasa nyeri, dan babak belur. Ia menggigit bibir menahan air yang telah berbayang-bayang di sepasang matanya. Ia meringkuk di sudut kamarnya, di bawah bayang-bayang lemari jati yang menjulang di belakang punggungnya.

Ia merasakan ada yang bergerak-gerak di atas kulitnya, berbonggol-bonggol tangan yang kasar, dan ia merasa mual saat teringat aroma tengik arak murahan menjelajah paksa di dalam rongga mulutnya. Ia dipuntir. Diremasi. Digerayangi. Kemudian yang paling menyakitkan di antara semuanya, ia masih merasakan ada yang menumbuk-numbuk di antara belah pahanya. Ia telah dihunjami, ia telah dilesaki berulang kali. Berkali-kali hingga rasanya ia ingin mati.

Sukesi menjerit semakin menjadi-jadi, air mata seakan menenggelamkan kedua bola matanya sendiri. Ia menampari tubuhnya. Ia menjambak. Ia meludah. Ia membanting. Ia menjerit hingga pekikannya membuat pekak telinga, ia ingin mati. Ia harus mati karena ia bukan siapa-siapa lagi.

Laki-laki Agung itu telah membuatnya sedemikian hina, ia ingin membunuh laki-laki itu lalu membunuh dirinya sendiri. Ia ingin laki-laki itu menderita seribu kali, dendam. Balas dendam. Sukesi berbisik. Lalu satu kata yang telah lama terlupakan itu mengambang, melayang begitu saja di benak Sukesi.

Lintrik.

Sukesi mengejanya dengan hati-hati. Ritual kuno itu menjanjikan pembalasan beribu kali lebih dahsyat dibanding sakit yang telah ia rasa.

Iya, Lintrik.

Sebentuk senyum mulai terukir di wajah Sukesi.

***

Tiga puluh hari telah berlalu, desa yang dulunya tentram itu digegerkan dengan sosok yang dikenal dulunya sebagai laki-laki Agung, berkeliaran layaknya orang yang kehilangan akalnya. Ia menjerit-jerit mencucuki kedua bola matanya dengan telunjuknya sendiri, memohon ampun, meraung-raung. Mendatangi setiap perempuan, memanggilnya Sukesi, dan menyembah-nyembah kakinya. Sementara perempuan yang dicarinya, yang bernama Sukesi, tidak diketahui perginya. Tempat yang dulu ditinggalinya telah kosong, hanya ada bau dupa yang samar-samar masih mengambang di udara. Tidak pernah ada yang tahu, bahwa tepat di bawah selapis papan yang menjadi lantai di kamar tidurnya, ada selembar baju yang telah dicuri perempuan itu dari kediaman Agung, dan di atasnya tergolek kartu remi berlumur tanah pekuburan, di mana nama laki-laki itu tertoreh di badannya… .

Solo, bertahun-tahun yang lalu

Dewi

Saat ia marah, sulur-sulur ular mencuat dari sepasang telinganya. Berbulu tipis namun tajam, sulur-sulur itu liat, lekuk-lekuk pejal yang siap memangsa apa yang ada di hadapannya.

Sementara, benaknya hanya menggeletarkan warna pekat yang berbau asam, sepenuhnya gelap hingga hampir-hampir tidak lagi mengenal cahaya.

Pada hari-hari terbaiknya, ia hanyalah seseorang. Seseorang yang biasa, seperti seseorang yang bisa kau temui di jalan, di persimpangan, di pusat perbelanjaan. Perempuan biasa dengan penampilan yang sangat biasa.

Sekuat tenaga, pada hari-hari yang badai dan buruk dan busuk, ia menahan segala rasa. Amarah. Sedih. Dendam. Sakit. Sakit. Selalu hanya sakit yang hadir di sana. Di dalam benaknya yang sepi. Di dalam benaknya di mana ia mengunci diri. Ia meringkuk dalam-dalam, seperti anak kucing yang kehilangan induknya. Hanya bergelung disana, menunggu. Entah apa lagi selain hanya ada jeri. Dan sakit. Dan sakit lagi.

Di atas, di permukaannya yang biasa-biasa, ia menutup wajahnya yang berkeriut jeri, menyunggingkan senyum. Menjadi orang baik. Menolong orang lain. Memelihara kucing. Merawat anak-anak burung.

Hari itu lain, rasa marah mendidih di setiap jengkal yang ada di tubuhnya. Sakit itu datang lagi. Sakit itu baik. IA berkata. Sakit itu baik, penebusan dosa, melatih peka. Persetan, akhirnya perempuan itu nyaring bersuara.

Aku tidak pernah baik, katanya, aku lahir dari rahim perempuan busuk. Sudah lama aku menyangkal aku. Sekali ini, biar saja aku buruk. Biar saja aku busuk.

Lalu menggeriaplah wajahnya. Geletar-geletar sakit yang disimpannya dalam-dalam. Sakit. Sakit. Sungguh memang sakit. Aku memang tidak pernah baik. Lalu sulur-sulur ular itu mulai bernapas api, menyerang apa saja. Menyambar siapa saja. Menyembur-nyembur dan tidak peduli dengan teriakan jeri.

Pic taken from here

Eli, Lama Sabakhtani

Aku teringat saat sosok tubuh yang dipancang di kayu salib itu, saat darah mulai menetes-netes itu, saat suaranya berubah menjadi bisik-bisik yang menggetarkan pokok-pokok beserta daun yang bertumbuh itu,

Eli, eli, lama sabakhtani

Aku setengah berharap akan ada gemuruh atau bumi bergejolak membuat gaduh, aku berharap ada suara menggelegar, atau tiupan terompet, atau, pasukan legiun yang kelak melepaskan amarah, menghukum, membalas, memberi pengajaran, tapi, tidak.

Hanya hening. Hanya hening yang bahkan angin pun segan menggesekkan diri. Hanya ada hening.

Kudus, kudus, aku ingin bernyanyi, melihat kepala yang dipenuhi duri-duri itu perlahan bergolek, tak sanggup lagi. 

Eli, eli, lama sabakhtani…

Aku teringat, anyir yang meruap dari selembar kain yang digunakan untuk mengurapi kaki yang menetes-netes darah itu. Kain yang menguarkan duka yang terasa pahit itu, yang menguarkan amarah yang terasa getir itu. 

Eli, aku kembali menghirup aroma pekat duka tubuh yang tergolek itu, kenapa Ia tak marah, Eli? Kenapa Ia tak gusar, Eli, sedang aku, yang hanya membaui sakit itu merasa begitu marah dan pedih. Dan getir. Dan pahit.

Eli, lama sabakhatani… . 

Ashoka dan Api yang Membakar Kepalanya

Perempuan itu memiliki rambut sewarna api, api paling membara bagi siapa saja yang telah meilhatnya. Api yang bisa menyulut hasrat paling dalam di dada manusia. Laki-laki. Perempuan. Bahkan yang berada di antaranya. Atau, yang bukan sama sekali di antara keduanya.
Perempuan itu membiarkan saja mahkota yang disungginya itu basah, mengkilat, dan terasa memanggil, terus menari-nari. Dan makhluk lain yang melihatnya akan menelan hasrat mereka yang mendadak membuncah, lalu tergesa-gesa untuk memadamkan gairah yang mendadak rekah. Susah payah mereka meredamnya. Karena, apa yang dibangkitkan api di dalam rambut perempuan itu adalah keinginan sejati mereka yang menapakkan kaki di dunia.
Ia meliukkan tubuhnya, bahunya berguncang seiring kakinya menapak langkah, ia membawa serta kunci yang bergemerincing di lengannya. Perempuan ini memiliki bahu melengkung khas perempuan yang tidak pernah berlatih beban. Tubuhnya kurus dengan tulang-tulang selangka yang menonjol. Sepasang matanya berbinar-binar meskipun ia tidak pernah mengerti kenapa mata itu terus berbinar, sementara api di hidupnya sudah padam, bahkan sebelum sempat bara itu menggeliat.
BUKA
Ia membalik tulisan yang telah lusuh dan coreng-moreng di dinding luar loket berwarna biru yang anak-anak kuncinya bergemerincing di lengannya. Orang-orang mulai mengedip padanya, berjejalan, berdesak-desakan, beringsut menuju ia yang kini duduk di ruangan loket yang sarat aroma besi dan tembakau. Panas. Panas sekali di dalam sini. Ia ingin mengikat api yang berkibar di rambutnya. Namun ia sedang sangat ingin bercumbu dengan sesuatu. Seseorang. Beberapa orang. Siapa saja.
Perlahan, ia menyulut rokok lintingan yang selalu terselip di telinganya.
“Lima ribu satu orang.”
Suara perempuan ini dalam dan serak. Sesekali ia terbatuk, namun asap masih zaja mengepul dari balik bibirnya.
“Anak-anak juga lima ribu. Sama.”
Keringat menetes di tengkuknya. Asap memenuhi pandangannya. Orang-orang masih berdesakan. Berjubel-jubel di hadapannya. Hari pertama sirkus itu buka di Kerta Maya. Hari pertama pula ia menjual sesuatu selain tubuhnya.
*
“Berapa?”
Hari sudah terlanjur jauh menuju larut, namun laki-laki di depannya masih terlihat rapi, dan aroma parfum segar tercium dari badannya yang atletis. Perempuan itu memain-mainkan ujung rambutnya. Memilinnya. Memuntirnya. Ada yang bergejolak di dirinya. Hasratnya membuncah. Hasrat yang mulai padam akibat keringat dan asap yang membelit tubuhnya seperti jaring laba-laba itu menggelegak, meletup-letup menuntut puas hingga tuntas.
“Lima ribu, tuan. Tapi hari sudah jauh malam. Sebentar lagi Gigir Perigi tutup.”
Laki-laki itu tersenyum, anehnya, terlihat begitu cemerlang di matanya.
“Ambil saja kembaliannya.”
Laki-laki itu berlalu.
Perempuan penjual karcis itu menggaruk pipinya. Tiga bekas luka melintang dari mata menuju dagunya, terasa gatal.
Siapa laki-laki itu?
Malam itu ia dipenuhi oleh hasrat yang terasa melimpah-limpah. Rambutnya basah oleh gairah. Jam di sakunya menunjukkan angka sebelas. Ada angin yang menggelitik tubuhnya, ia mengancingkan kemeja flanel merah yang dikenakannya. O, betapa ia ingin rapat. Betapa ingin ia hangat. Hari itu ia menggerai rambutnya, namun tidak seperti biasanya, di mana banyak mata yang melempar ingin ke dadanya, di mana banyak desah yang ingin mampir ke telinganya, hari itu tidak. Tidak ada yang meliriknya meski ia mengibarkan rambutnya yang sewarna api. Tidak ada yang menginginkannya sebesar ia menginginkan mereka semua. Hanya ada laki-laki terakhir yang membeli tiketnya.
Ia teringat sebelum malam itu, ia bermimpi, ia telah bercumbu dengan seekor singa. Tubuh binatang itu liat di dalam dekapannya. Geraman buas yang menyeruak dari dalam dada hewan itu membuatnya menggeliat, membuatnya melenguh menderu-deru. Ia bermimpi cakar itu merobeki tubuhnya, dan dengan senang hati ia menyerahkan tubuh telanjangnya. Ketika taring sang Raja terbenam ke dalam kulitnya, ia terbangun, tersengal-sengal, lalu air mata memenuhi wajahnya. Tidak ada singa. Tidak ada laki-laki. Tidak ada wanita di sisinya. Tidak ada yang di antara keduanya. Ia hanya merasa merana.
*
“Kau terlihat kacau, Non.”
Laki-laki itu datang lagi saat perempuan itu hendak mengunci bilik loketnya. Bersetelan rapi dan gaya. Menguarkan aroma yang membuatnya terpana. Mendadak ada yang menyala-nyala di dalam dirinya, padahal ia mengira bara di dalamnya sudah mati. Mati sejak tiga luka tertoreh di pipinya yang dulunya pualam. Mati sejak ia harus berpindah-pindah menghindari razia petugas moral. Ia hanya punya tubuh yang indah. Maka ia menjualnya.
Petugas-petugas itu beberapa pelanggannya. Mereka yang mengisikinya untuk segera pindah jika ia berdiam terlalu lama. Ia berpindah. Melompat dari satu sarang ke sarang lain. Sampai ia lelah, lalu menyerah. Perempuan itu lantas mendatangi rombongan pasar malam yang hendak membuka acara mereka. Mengemis kepada pemiliknya. Lagi-lagi ia bersiap harus menjual tubuhnya, namun, pemilik pasar malam itu berbudi. Laki-laki itu memberinya tumpangan, memberinya makan, memberinya atap untuk berlindung. Syaratnya, perempuan itu harus bekerja padanya. Menjual karcis saja. Jangan menjual yang lainnya. Perempuan itu patuh.
Ia tidak lagi menjual tubuhnya. Ia berhubungan dengan siapa saja yang ingin bercumbu dengannya. Tanpa harga.
“Non.”
Laki-laki itu masih di sana. Entah berapa lama benaknya berkelana. Melupakan laki-laki yang kedatangannya terlalu larut untuk bercengkrama.
“Sebentar lagi kami tutup, tuan.”
Dari kejauhan perempuan itu melihat lampu bianglala tak lagi menyala, sementara tenda-tenda mulai meredupkan cahayanya. Para pekerja mulai terlihat hilir mudik membongkari wahana. Kuda-kuda karusel terlihat muram tanpa penunggangnya, temaram cahaya membuat catnya yang mulai terkelupas berubah bersepuh kelam serupa malam.
Laki-laki itu mengulurkan rokoknya, rokok putih mint khas kaum borjuis. Perempuan itu menggeleng, ia lantas memantik api pada lintingan yang telah dikepitnya di antara telunjuk dan jari tengah.
“Sudah ada.”
Laki-laki itu megernyit memandangnya.
“Tembakau saja?”
Perempuan itu tertawa.
“Ditambah sejumput daun dari surga untuk sekeping tawa, tuan. Mau mencoba?”
Laki-laki itu tersenyum, mendekatkan wajahnya ke arah perempuan, melekatkan tubuhnya di box besi yang berfungsi sebagai loket. Mereka saling memandang, hanya terhalang sekat kaca. Hanya ada lubang setengah bundar tempat perempuan itu biasa mengangsurkan karcis kepada pembelinya.
“Sudah mau tutup, Non. Jalan denganku, sebentar?”
Perempuan itu melayang di sisi sang laki-laki. Malam itu bulan bundar sempurna.
*
Malam itu bulan bundar sempurna, tapi laki-laki itu hanya menyisakan satu pertanyaan yang menari di kepalanya.p
“Kamu mau itu, Non?”
“Itu?”
“Lebih baik dari lintingan ganjamu.”
Perempuan itu melepas kemejanya, beberapa pekerja yang masih sibuk hilir mudik membongkari wahana membelalak ke arah sepasang buah ranum yang menggantung di dadanya.
“Aku mau, ini.”
Perempuan itu menuntun lelaki itu menelusup tubuhnya, menekannya di tempat ia ingin disentuh, dan betapa herannya ia saat lelaki itu justru menepiskan tangannya.
“Bukan itu, Non. Ini, ambillah.”
Laki-laki itu memberinya sebungkus sesuatu. Ia bisa menghirupnya dan terbang sesudahnya. Terbang. Tanpa kendali.
Perempuan itu memungut kemejanya, lalu berlari menuju tenda tempat ia biasa rebah dan memejam mata. Ada yang retak di kedalaman dirinya. Ia belum pernah ditolak sebelumnya.
*.
“Bagaimana, non? Mau itu?”
Laki-laki itu ternyata mengejarnya. Berdiri di luar tenda dengan tangan terlipat di dada, dan kemeja yang digulung hingga siku.
“Tuan tahu betul apa yang saya mau.”
Laki-laki itu berlalu. Perempuan itu mengejarnya.
“Ya, Tuan. Kenapa bahkan tidak bertanya siapa nama saya?”
“Tidak perlu, semakin sedikit saling mengenal, semakin baik, Non. Mau berapa?”
“Saya cuma punya tubuh saya, tuan. Dan saya sudah punya ganja.”
“Ambil saja. Cuma-cuma.”
Laki-laki itu melempar bungkusan yang isinya bisa membuat perempuan itu gila. Atau bahagia.
Perempuan itu ternganga.
“Nama saya Shoka, tuan!”
Laki-laki itu hanya melambai dari kejauhan. Punggungnya menjauh, malam yang rakus dan penuh rahasia menelannya perlahan-lahan hingga hanya jejak kakinya yang tersisa.
Perempuan itu terduduk. Ada yang menyerbu kepalanya. Ada panas yang terasa membakar dirinya. Menggenangkan air mata hingga tumpauh, meruah mengaliri eajahnya.
Pernah ada perempuan lain dengan cakar besi menindih badannya, memaksa mencicip buah molek yang baru tumbuh di dadanya. Merobek-robek kembang yang baru saja mekar di selangkangannya. Rakus. Rakus. Ia menangis, menjerit melawan sekuat tenaga. Namun cakar itu lebih kuat. Dan tajam. Dan mencabik wajahnya. Menyisakan luka codet tiga baris dari pipi menuju ke bibirnya. Ia hina. Ia terhina. Ia lalu lari, sejauh-jauhnya dari perempuan bercakar besi yang menetap di tempat yang dulunya ia tinggali bersama kakak lelakinya yang lembut. Dan penyayang. Dan beristri perempuan dengan cakar besi di tangannya. Dari situ ia belajar, tubuhnya adalah harta yang berharga karena perempuan itu bahkan ingin menjarahnya.
Dari situ ia belajar menggunakan tubuhnya. Menjumput api dan menaruhnya di rambutnya. Menyulut hasrat siapa saja yang memandangnya. Dengan itu, ia memiliki dunia.
Perempuan itu tergugu, sebungkus penawar telah tergeletak di samping kakinya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak berharga, dan ia terlalu jauh, terlalu jauh ia telah terluka… .

Lelakon

Tirai-tirai mulai diturunkan dari tingkapnya, tidak ada tepuk tangan meriah, hanya ada tepukan malas-malasan dari sudut-sudut remang. Di atas panggung yang seharusnya mewah itu berdiri sesosok dewi, berlapis pupur dan berlapis gincu. Di kepalanya, tergerai surai sewarna tembaga yang molek. Saya ingin menelan ludah saya, tapi sepertinya gumpalan liur itu memilih tersangkut di batang tenggorok, lantas membuat saya tersedak. Lalu, sepertinya bukan lagi gravitasi yang menahan kaki-kaki saya tetap berdiri. Tatapan sepasang mata itu memaku saya hidup-hidup di tempat saya berdiri, hingga bernapaspun saya tidak berani.

Lalu sesuatu meledak.

Dan saya terbangun, kembali berkubang dalam genangan keringat dan kencing di atas kasur saya sendiri.

*

“Kupikir kau tidak merokok.”

Saya ingat saya terkekeh, dan hari itu hujan. Saya merapatkan syal hijau yang meliliti leher saya, sementara ia merapatkan tudung jaket ke kepalanya, menutupi surai indah yang membuat banyak laki-laki tergila-gila. Saya lalu menghirup rokok saya dalam-dalam.

“Kenapa saya harus tidak merokok?”

“Kenapa kamu harus merokok?”

Saya tidak pernah berhasil membalas pertanyaannya. Saya selalu terpojok di sudut loteng paling gelap dan berdebu, dengan benang laba-laba yang terjulur ke arah saya, memintal saya ke dalam kegelapan paling liat di dalam pekat. Lalu, saya hanya akan terpekur melihat sepasang boots yang sudah menjadi alas kaki saya selama dua tahun, membayangkan sepasang mata kenari itu membalas tatapan saya dari bawah sana, membayangkan lengkung senyum yang selalu terlukis di wajahnya. Senyum itu terlukis bukan untuk saya seorang, saya tahu. Ia harus senantiasa tersenyum agar orang-orang suka terhadapnya, ia harus tersenyum karena dia adalah pelakon. Karena dia adalah bintang yang harus bersinar paling terang di antara bintang-bintang lain yang senantiasa menyepuh diri mereka hingga berkilau di jajaran galaksi.
Lalu, saat saya menemukan suara saya lagi untuk menjawab pertanyaannya, dia sudah menghilang. Membaur di antara deretan para bintang yang berlomba-lomba menonjolkan kemilaunya, hingga langit dibuat resah.

*

Saya memiliki panggung paling mahal di dunia, saya harus membayar dengan hidup saya untuk memilikinya. Saya harus merelakan waktu saya, merelakan waktu berarti merelakan kebersamaan dengan keluarga. Merelakan waktu, berarti hanya malam-malam sepi yang tertinggal selain ampas kopi.
Saya hanya punya ponsel pintar yang bodoh, dan seekor kucing yang malas.
Saya ingin keluar, meliar, lalu menggeliat di bawah langit yang sama yang menaungi manusia normal lainnya. Manusia yang punya keluarga, kawan, saudara, rekan, pacar, dan lain sebagainya.

Saya mendengar sesuatu mendesis.

Cermin saya sedang sinis. Kemudian, getaran konstan dari ponsel saya memecah angan saya yang berkelana, layarnya berkedip, dia menelepon, dan saya tidak tahu harus menjawab apa.

Saya memukul cermin karena ia tidak mau berhenti mendesis.

Saya bermimpi, di atas panggung yang saya miliki, dewi itu melakonkan sandiwara dengan sempurna. Tubuhnya berkilat karena keringat, rambutnya basah, dan saya bermimpi saya sedang mengendus dengan rakus aromanya. Aroma itu, satu-satunya yang sanggup menentramkan gelisah saya sepanjang waktu. 

*
Kenapa kamu menghindari saya?

Saya tidak menghindar.

Kamu bersikap seolah tidak mengenal saya.

Saya manager, saya harus memastikan semua berjalan sesuai rencana. Semuanya bergantung pada saya, saya tidak ada waktu…

Tidak ada waktu untuk saya?

Dia lalu berpaling, menyembunyikan dua genangan air yang mulai terbentuk di kolam matanya. Saya benci airmata. Saya benci kenapa dia harus menangis sementara saya tidak ingin melihatnya menangis.

Saya memilih memarahi seseorang yang memasang tirai. Mencari-cari alasan dan menaikkan volume suara saya, hingga membuat pekerja serampangan berkepala botak itu gemetar tertahan. Menangis sana, saya tidak ada masalah jika kamu yang menangis, tapi laki-laki botak itu tidak menangis. Bintang saya yang sedang menangis, dan saya harus menawarkan bahu saya seperti seharusnya. Namun seperti biasanya, saya hanya berlalu dan membiarkan isakan itu menguap bersama angin. 

*
Dia tidak menjawab telepon saya, ponsel pintar saya yang bodoh ini bahkan tidak bisa membuat dia menjawab panggilan saya.

“Besok gladi resik. Jaga kesehatan.”

Pesan saya tidak berbalas.

***

Tirai-tirai mulai diturunkan dari tingkapnya, tidak ada tepuk tangan meriah, hanya ada tepukan malas-malasan dari sudut-sudut remang. Di atas panggung yang seharusnya mewah itu berdiri sesosok dewi, berlapis pupur dan berlapis gincu. Di kepalanya, tergerai surai sewarna tembaga yang molek. Saya ingin menelan ludah saya, tapi sepertinya gumpalan liur itu memilih tersangkut di batang tenggorok, lantas membuat saya tersedak. Lalu, sepertinya bukan lagi gravitasi yang menahan kaki-kaki saya tetap berdiri. Tatapan sepasang mata itu memaku saya hidup-hidup di tempat saya berdiri, hingga bernapaspun saya tidak berani.

Dewi itu menyunggingkan senyumnya perlahan, dan sebelum saya bergerak, sesuatu meledak.

Saya melihat genangan merah membasahi lantai kayu yang kini di atasnya, membujur tubuh dewi.

Saya tidak bisa berteriak seperti adik saya berteriak serak. 

“Ibu!”

Sepuluh tahun kemudian, saya kembali ke panggung Ibu, panggung paling mahal yang pernah saya miliki, karena saya membayarnya dengan waktu. Membayar dengan waktu, berarti merelakan kebersamaan dengan keluarga. Kebersamaan dengan keluarga berarti saya msminggalkan adik saya. Meninggalkan adik saya kepada paman yang ternyata adalah pembunuh Ibu yang diakuinya saat mabuk dan meniduri adik saya, bertahun-tahun yang lalu, sebelum menjualnya kepada mucikari. Ia berpindah-pindah mucikari dan tak pernah berhasil lari, sampai akhirnya, bos saya menjadikannya gundik, kemudian dia menjadi bintang di panggung saya.

Panggung ini adalah panggung paling mahal yang pernah saya punya. Dan dia sedang menangis, lagi-lagi, saya tahu dia menangis karena punggungnya bergetar menahan sesak yang menghimpit dadanya.

“Jangan menangis lagi.”

Saya menjulurkan kotak yang berisi rokok lintingan sendiri. Di dalamnya saya menambahkan sejumput fantasi.

“Saya tidak merokok.”

Dia mengusap matanya dengan punggung tangan sebelum melanjutkan dengan suara parau.

“Kamu sudah meninggalkan saya, dan sekarang kamu mengabaikan saya.”

“Saya harus minta maaf akan itu. Kamu boleh merokok. Usiamu sudah dua puluh.”

“Kenapa harus merokok?”

Saya siap terbelit jaring laba-laba dan terhimpit ke dalam gelap yang liat memadatkan pekat saat saya melihat bibir adik saya berubah menjadi bibir Ibu.

“Merokok sajalah, tidak perlu bertanya kenapa.”

Lalu ayah saya akan menamparnya. Saya ingat, saya mengoleskan alas bedak tebal-tebal untuk menutupi bekas merahnya, dan saya tahu, perih yang sebenarnya berada dalam hati ibu.

“Merokok sajalah, tidak perlu bertanya.”

Saya menjawab, dan adik perempuan saya itu mengambil sebatang hanya untuk dipatahkannya menjadi dua.

“Saya tidak ingin seperti Ibu.”

Saya ingin sekali menamparnya.

***

Saat itu Paman sedang mabuk dan ia mengacungkan senjata itu ke kepala adik saya.

Bagaimana saya tahu?

Saya memiliki panggung paling mahal sedunia. Panggung mahal yang saya beli dengan waktu. Dengan waktu berarti dengan segalanya. Saya pergi dari rumah bukan tanpa alasan. Saya mencari tahu di mana ayah saya saat ibu saya terbunuh.

Dia sedang menangisi mayat ibu, di atas gundukan tanah makam yang masih penuh bunga-bunga. Ibu sangat suka bunga, tapi ayah tak pernah memberikannya.

“Terlambat, yah.”

Saya ingat saya berkata, dan paman saya yang gila menghardik saya keluar dari pemakaman. Saya bilang saya mau pergi dan saya menitipkan Aliyha, dia mengiyakan tanpa menanyakan saya akan kemana.

Saya tidak berpikir Paman saya yang tampak berbudi adalah iblis paling keji. Segera setelah saya pergi, saya dengar kabar ayah saya gantung diri. Namun saya tidak mencari tahu kabar Aliyha, adik perempuan saya yang satu-satunya karena saya sibuk menata anak tangga demi panggung milik ibu. Selain itu, saya percaya ada paman yang menjaganya untuk saya. 

Saya menyusun anak-anak tangga, sepotong demi sepotong dengan tubuh dan keringat dan darah saya. Saya menghitung lebih dari tiga kali rahim saya berbuah dan tidak satupun saya biarkan tumbuh dan berkenalan dengan dunia.

Tidak. Tidak, satupun saya biarkan berkembang demi kelak memanggil saya, Ibu. 

Saya berkenalan dengan orang-orang Lelakon, ikut mementaskan lakon dari satu panggung ke panggung lain sembari melacur dari satu laki-laki, ke lelaki lain. Mabuk dari satu pentas ke pentas lain, hingga akhirnya saya ingin menciptakan panggung saya sendiri. Dan saya sadar, satu-satunya panggung yang saya inginkan adalah panggung Ibu.

Saya lalu memutar roda kendali, berpindah dari pelakon menjadi pengarah lakon, lalu menjadi penanggung jawab panggung, kemudian menjadi penyusun lakon, dan pada akhirnya, saya menjadi penguasa panggung. Semua darah dan keringat dan tangis yang sembunyi-sembunyi itu, pada akhirnya saya memetik hasilnya.

Saya banyak mengenal manusia, dan saya memanfaatkan mereka. Saya kembali ke kota saya, dan mereparasi panggung yang sudah saya beli. Lewat mereka, saya mencari tahu segalanya. Termasuk adik saya yang sudah dijual oleh paman saya yang gila.

Lalu dia muncul. Adik yang saya tinggalkan itu: Aliyha.

Dia menangis, dan saya tak sanggup untuk memeluknya.

Saya mendengarnya berteriak bahwa dia sedang mencari saya.

Saya meninggalkannya di depan panggung dan dia masih menangis.

***

Dia adalah bintang dan saya adalah tuhan pemilik panggung jagat raya. Saya menemukan laki-laki, yang dulu kepadanya saya titipi adik perempuan saya, dan dia malah menjualnya setelah sebelumnya menidurinya dengan paksa.

Dan dialah yang menembak ibu saya.

Saya bertanya kepadanya, mengapa?

Dia hanya memamerkan gigi geliginya yang menghitam karena tembakau.

“Anak sundal, sudah jadi sundal pula kau rupanya.”

Saya menendang mulutnya. Dia terikat seperti binatang buruan yang rusak dan hina. Dia pikir dia menyewa saya, tak mengenali keponakannya yang tertua. Ia pikir ia sedang asyik bersama pelacur ibukota yang sedang berlibur ke kotanya bersama rombokan pelakon yang akan memainkan Lelakon di panggung ibu. 

Kenapa, saya tanya lagi.

Dia semakin terkekeh-kekeh.

“Sundal itu mengataiku cebol tak tahu malu, aku cuma kepengen pegang susunya. Ha ha ha!”

Saya menembak, tepat di antara ke dua matanya, tempat di mana pelurunya dulu bersarang di kepala Ibu, tapi saya belum juga merasa lega. 

Ponsel pintar saya bergetar, alarmnya menyala. Lima menit lagi, pertunjukan bintang-bintang di jagat raya saya dimulai. Saya mengisi kembali peluru di pistol dan menyelipkannya di celana. Mayat cebol itu membelalak ke arah saya. Dan saya menginjak tepat kemaluannya.

***

Panggung usang itu mendadak gempita. Orang-orang bertepuk riuh, dan siulan bersahut-sahutan memekakkan telinga. Badan saya berkali-kali dipeluk, tangan saya berulang kali dijabat, dan rambut saya diacak-acak. Ucapan selamat terpantul-pantul di udara. Panggung saya sukses, dan pentas Lelakon di atasnya mengundang decak kagum penontonnya.

Tirai sebentar lagi diturunkan dari tingkap-tingkapnya, dan saya mendekat ke arah panggung, mencari bintang saya yang paling benderang, memanggilnya cukup keras hingga orang-orang menoleh, menonton.

“Aliyha!”

Dia tertawa begitu bahagia, sepasang lengannya terentang, setengah berlari menyongsong tubuh saya, kemudian saya menembak kepalanya.

Saya sudah bilang saya memiliki panggung paling mahal sedunia. Saya membelinya dengan segalanya. Segalanya berarti sudah tidak ada yang tersisa. Saya meledakkan kepala saya saat seseorang lain mulai menjerit di belakang saya.

Solo, 23 Januari 2016

keping enam menit

Silakan, jika memang kau begitu hebat. Lakukan saja.

Lalu koin itu meluncur dari genggaman tangan milikku. Berdenting memecah sepi yang mencabik-cabik jiwa hingga terasa kering. Ini tidak pernah mudah. Batinku mendesis. Aku tidak pernah hebat. Rasa sesal memenuhi tubuhku, berbuih-buih seperti aspal panas, membuatku melepuh, gosong, dan buruk. Tapi, seperti penyesalan pada umumnya, sesal itu hanya meninggalkan nyeri yang teramat dalam. Tanpa pernah bisa kau perbaiki dengan semestinya.

Koin itu berkilau samar di lantai kayu. Aku memandang berkeliling. Ada telepon yang hanya bisa digunakan jika nomornya diputar, ia membisu di ujung ruangan. Kebisuannya terasa angkuh, memamerkan warna merah yang menyala. Tepat di seberang telepon itu, ada ruangan yang pemiliknya akhir-akhir ini mengusik pikiranku. Pikiranku seakan bukan lagi milikku. Ada suara-suara yang terus menerus memekik. Menyalahkan. Menggerutu.

Aku membungkuk untuk mengambil keping koin, lalu rasa nyeri merambati punggungku. Punggung ini sudah terlalu lama digerogoti rematik, membungkuk tanpa mengernyit atau mengerang sakit adalah hal sepele yang kurindukan. Kemudian, dari balik bayang-bayang, aku merasakan ada sepasang mata lentik membakar punggungku dengan tatapannya.

“Hestia?”

Pemilik mata itu bungkam. Ia tidak pernah lagi menjawab panggilanku. Tidak menjerit saat kulayangkan tamparanku. Tidak menangis saat melihatku membawa Santya ke dalam kamar yang seharusnya menjadi altar suci tempat ritual penyatuan kami sebagai suami yang membutuhkan istri. Hestia. Hestia. Ke mana perginya semua nada yang merdu itu dari bibirmu?

Aku menatap mata itu. Langsung ke pusat yang dulunya adalah duniaku. Mata itu kosong. Hampa. Sehampa mata Santya yang sudah tak bernyawa. Santya. Santya. Sudah kularang ia, sudah kuperingatkan ia untuk berhenti. Berhenti mengeriting rambutnya. Atau mengecatnya menjadi merah menyala. Atau mengenakan legging warna neon dengan atasan yang hanya menutupi separuh badannya. Santya. Kularang kau pergi ke disko sambil menghisap ganja. Aku telah melarang engkau berpesta pora. Aku terlalu tua mengikuti pestamu, Santya. Ia hanya berjengit, lalu mengecup pipiku dengan lembut. Aku bisa mencium aroma parfum yang terlalu berlebihan di antara belahan dadanya. Kalau begitu, tinggal saja di rumah, Manis. Kau tidak bilang tua saat mengajakku kawin. Aku tidak tahan duduk-duduk seharian seperti Hestia. Lama-lama aku bisa keriput sebelum waktunya.
Ia berlalu. Tidak pernah kembali. Tubuh moleknya ditemukan dipenuhi tusukan pisau beberapa pekan kemudian, tidak jauh dari pub biasa ia melakukan pesta. Tidak ada barang yang hilang. Seolah pembunuhnya hanya ingin membunuhnya. Itu saja.

Saat Hestia mendengar Santya tewas, ia tidak menunjukkan perubahan apapun. Tidak raut wajah. Tidak pula sepatah kata. Ia tetap bisu. Dan datar. Dan kosong. Ia hanya menyeret kakinya kembali ke kamar utama. Ke altar penyatuan kami. Namun hanya punggungnya yang menjadi sisian untukku tidur. Lama-kelamaan, aku merasa jiwaku ikut kosong. Melompong.

Aku singguh rindu kehangatan rumah ini sebelum ada Santya.

***

“Alden!”

Ingatanku tak mungkin salah. Jeritan Hestia kala itu seperti kuku menggaruk papan tulis. Membuat sekujur tubuhku ngilu.

“Bawa dia kembali!”

Perempuan ayu berahang kokoh itu lalu melemparkan pandangannya yang setajam mata pedang ke arahku. Aku mengernyit. Hestia meraung.

“KAU MERASA BEGITU HEBAT! BAWA DIA PULANG! BEDEBAH TUA!”

Semenjak hari itu, perempuan ayu itu, tempatku mencurahkan segala hidup, menghilangkan suara dari dalam lehernya. Ia menolak bicara.

***
“Mungkin ada hubungannya koin itu dengan anakmu, Manis.”

Itu Santya. Ia menggelayut manja di leherku. Ia selalu memakai paefum di belahan dadanya. Kaosnya selalu menunjukkan pusar di perut ratanya. Celananya selalu ketat membalut panggul indah dengan lenggok sintren. Laki-laki mudah terperdaya. Aku. Terjebak dengan sukarela di dalamnya.

“Alden itu sudah besar. Besar pula kepalanya. Dipikirnya dengan minggat begini aku akan jadi lembek. Jangan harap!”

Santya mengelus-elus pahaku. Angin semilir di beranda mendadak terasa panas dan memabukkan.

“Santya, kita nikah saja.”

“Oho, sakit hati Alden tak akan terbayangkan, Bagya, Manisku.”

“Tapi kau cinta aku. Bukan Alden.”

“Memang begitu. Dunia kejam ya. Tidak punya bapak sejak lahir. Lalu ketemu Alden yang tergila-gila, tapi dia terlalu hijau. Kekanakan. Aku benci bocah.”

“Kau lebih suka yang tua seperti aku. Nikah saja denganku.”

Kami menikah sore itu, tanpa ijin Hestia, dan Alden, masih belum jelas entah di mana.
***
Dahulu kau pernah berjanji, sebelum perkawinan mengikat kita dengan kokoh di tiang rumah megahmu, sebelum anak laki-laki lahir dari rahimku, bahwa tidak ada apa pun di dunia yang akan memisahkan kita. Aku. Kamu. Anak kita kelak. Lalu kita tertawa. Saling berjanji, tapi janji hanyalah kata-kata manis yang membuat mabuk, lalu keesokannya kita akan bangun dengan bibir pahit dan sakit kepala. Silakan. Jika kamu memang begitu hebat, lakukan saja.”

Anak laki-laki di ujung ruangan menangis. Usianya baru genap tujuh belas. Ia menangis dengan mata yang mencerminkan jiwanya yang terkoyak-koyak.

Ia pergi. Melempar koin seratus rupiah itu ke arahku.

“Lima puluh rupiah untuk tiga menit. Itu yang di hadapanmu ada seratus. Enam menit, Pak Tua, enam menit waktumu menemukanku, Pak Tua.”

Anak laki-laki yang mewarisi kokoh rahang dan keras kepala ibunya itu lalu meludah. Entah kenapa aku merasa koyak. Lalu, aku ingat, selepas jeritan itu, saat Hestia memanggil Alden, Santya tetap duduk tenang tanpa kehilangan kendali, ia menyilangkan kakinya, dan sudut matanya mengikuti kepergian Alden. Tidak ada penyesalan di sana.

Sementara, buku pernikahan kami terbuka lebar-lebar di meja tempat Hestia meletakkan cangkir teh untuk Santya. Anak perempuan yang dianggapnya anak sendiri. Gadis muda pujaan anak laki-lakinya sendiri. Istri baru laki-laki yang dipanggilnya suami.

***

“Kenapa, pak?”

Sakrie, tukang sapu kuris ceking itu menghampiriku. Aku duduk di beranda yang sama, tempat Santya melingkarkan tangan jenjangnya ke leherku. Beranda yang sama, tempatku meminangnya. Beranda yang sama, yang letaknya tepat di bawah jendela kamar Hestia.

“Entahlah, Sakrie. Alden belum pulang juga. Sudah hampir tiga bulan. Aku kangen suara ibunya.”

“Lho, kangen Mas Alden apa kangen Ibu Hestia? Saya ndak ngerti, Pak.”

“Sudahlah. Pokoknya begitu.”

“Itu ada seratus rupiah bolehbsaya pinjem, pak? Saya mau nelepon Martini, anak saya sakit, pak.”

“Pakai telepon di dalam saja. Seratus ini kan cuma sebentar kalo dipake nelepon di sana.”

“Anu, pak, nomornya tetangga saya yang buat nyambungken Martini saya oret-oret di deket box telepon di ujung jalan itu, Pak.”

“Ya sudah sana. Ini saya ada seribu. Pakai saja.”

“Ndak usah, Pak. Seratus rupiah saja sudah cukup. Enam menit sudah cukup, pak. Saya ndak perlu ngobrol lama.”

Ada petir. Menyala. Tepat di kepala. Membakar dada.

“Sakrie, aku ikut.”

“Tapi, pak…”

Aku menegakkan tubuh, punggung rematikku membuatku kembali mengernyit. Kutepis tangan Sakrie yang hendak membimbingku.

Aku akan bawa Alden pulang, Hestia. Lalu kita bisa bercinta.

***

Sakrie mematung di tempatnya. Koin seratus rupiah meluncur dari genggamannya.

“Pak? Pak Bagya?”

Dari dalam gagang telepon, masih terdengar bisik-bisik yang licik, licin.

“Halo? HALO? SIAPA INI?”

Sakrie merebut gagang telepon boks itu dariku. Aku belum sanggup bergerak. Tulisan di box itu cukup menarik perhatianku. Tulisan tangan Alden. Menuliskan sederet nomor. Aku memencet nomor-nomor itu. Tanpa melihatnya. Aku mengenal nomor itu seoanjang usia. Telepon merah yang angkuh di ruang keluarga.

“Dalam enam menit ke depan, setelah kamu menghubungi nomor ini. Semua milikmu hilang. Hitung mundur, Pak Tua.”

***

Ia memeluk Alden dengan kedua lengannya yang terentang terbuka.

“Kemarilah, Mas! Lihat siapa yang sudah pulang!”

Alden tersenyum jahil, melirik arlojinya. Melambaikan tangan.

Lalu merah membumbung, melalap langit dengan amarahnya.

Sebelumnya, aku terpental dan sesuatu meledak dengan kerasnya.

Masih terngiang jeritan Hestia. Masih terukir senyum di wajahnya, lalu kulihat wajah itu kosong sejenak, lalu digantikan rasa sakit yang dirasakannya kurang dari sedetik, sebelum semuanya menyerpih. Menyerpih. Menjadi debu dan abu.

Hestia. Hestia.

****

“Benar. Setel saja enam menit, lalu aku hanya tinggal menunggu si tua itu menghubungiku. Aku akan datang pada ibu. Aku tidak pernah jauh, bu. Rumah itu terlalu banyak memiliki lorong tersembunyi. Si tua itu bahkan tidak menyadari. Tapi aku tahu, ibu. Aku tahu semua lubang, semua lorong, semua kamar rahasia di sini. Aku tahu sejak kakek mengenalkanku. Ia berkata ini rahasia. Bagya bahkan tidak pernah tahu.

Ibu, aku akan memelukmu, membawamu pergi.”

Lalu telepon di meja mulai berdering… .

Anak laki-laki itu yang telah merapal ucapannya berkali-kali, beranjak menuju meja telepon. Telepon yang utama, yang berwarna merah serupa darah, dengan kalender 1982 terpaku miring di atasnya, telah ia utak-atik hingga tak lagi mengeluarkan suara. Teleponnya sendiri di hadapannya, lusuh berwarna hijau tua. Telepon itu akses rahasia paralelnya, mulai menjerit keras di hadapannya.

Sudah kubilang, ruang kosong ini tersembunyi, Pak Tua. Enam menit, waktumu, mulai dari tiga… dua… satu… .

Sukoharjo, 17 Juni 2015.
Aku sudah menyelesaikan tantangan menulis kita, Rendra, Ade, Doroii, Andiana.

Perjalanan Setengah Tahun

Anak lanang yang dulu menghuni rahimku itu kini genap setengah tahun. Mikhael, sang malaikat pengayom pembawa terang, begitulah aku menamainya. Dagna, sang cahaya, aku memanggilnya. Aku mendoakan segala terang untuknya, dan gelap pasti tetap menjadi bayangannya, tapi aku tetap berdoa, segala kebaikan selalu kudaraskan untuk anak lanangku.

Sang Halomoan, sang kesayangan, Nababan, si batak nomor dua puluh satu. Siabangan bagi opung Nababan sekeluarga. Dia dicintai, dan aku berterima kasih pada alam raya atas berkat yang luar biasa ini.

Hari ini, genap perjalanannya setengah tahun, setelah kami berbagi tubuh lebih dari empat puluh minggu. Kami tidak lulus asi esklusif. Anak lanangku menolak menyusu langsung. Batak cilikku sudah merasakan manisnya buah apel dan pear di usianya yang baru setengah tahun kurang dua minggu.

Tidak apa-apa.

(Aku tidak akan menuliskan alasannya, aku hanya akan menuliskan alasanku ada hanyalah karena dia ada.)

Seperti yang telah kutulis, kami berbagi tubuh lebih dari empat puluh minggu. Di waktu seharusnya ia sudah menyundulkan kepalanya untuk merobek jalan lahir, ia memilih tenang, meringkuk diam-diam di dalam sana. Nyaman sekali, ya nak, di sana?

(Iya, ingin kukatakan dunia kejam, tapi biarlah ia akan mencicipinya sendiri, nanti. Seperti kata pepatah, tempat ternyaman adalah rahim ibu, namun tentu saja, kau tidak akan bisa meringkuk di sana selamanya! Hidup bukan hanya cari nyaman, nak! Hidup akan menempamu menjadi kuat dan tegar. Aku, tidak akan menuliskan bahwa kau harus kuat, kau harus tegar, tidak! Kau akan menjadi kuat karena Sang Hidup itu sendiri yang akan membuatmu kuat.)

Lalu akhirnya, karena tidak ada tanda-tanda kontraksi alami, dan air ketuban sudah menyusut habis, kami harus berjuang di meja operasi tanpa persiapan. Sama sekali. Tetapi Tuhan berkehendak semua lancar, meskipun sebelum pisau-pisau bedah itu mengiris perut dan dagingku, aku sempat was-was. Denyut jantung anak lanangku itu terlalu bekerja keras akibat asupan oksigen yang minim karena air ketuban yang sudah hampir habis.

Tapi sekali lagi, Haleluya! Kuasa Tuhan tidak ada yang menyangka. Syukur kepada Allah!

Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, tangisan itu merobek malam hening. Aku menangis. Bahagia. Haru. Tidak siap. Grogi. Waswas. Campur aduk… .

Lalu bayi merah yang masih penuh darah dan sisa ketuban itu didekatkan padaku. Aku ingin merangkul, mendekap ia erat, ingin kelekatkan tubuh mungil itu hangat di dada, dan menciumi pipinya yang bulat.

Namun aku tidak kuasa. Sepasang kakiku masih mati rasa. Sepasang tanganku diikat tali longgar, masih ditancapi infus dan sebagainya. Aku hanya bisa mencium kening anak lanang itu, dan berujar “Selamat datang, nak. Ini mama,”

Selanjutnya, Bapa Kami dan Salam Maria menjadi daras ujaran pertama dari bapaknya. Aku tahu, bapaknya pasti menangis. Sama merasakan hal yang aku rasa.

(Terima kasih, aku tahu kamu ayah yang baik untuk anak lanang yang sekarang sudah genap enam bulan dan sedang senang-senangnya berguling-guling di kasur. Dia selalu membuat kita waswas karena sewaktu-waktu bisa saja ia terguling, dan hanya lantai keras yang akan menangkapnya. Yang paling kencang menangis kesakitan setelah tangisan anak itu, tentu saja aku.)

Kami bukan orang tua yang sempurna, nak! Aku masih suka mengeluh: lelah, menjaga anak lanang itu seharian. (Padahal, konon hal itu adalah terlarang. Ibu tidak boleh bilang capek buat anaknya. Masa bodo, nak! Aku kalau tidak mengeluh, pasti sudah jadi bidadari. Atau, malah sudah mati. Tapi aku tidak akan mengeluh terus-menerus. Janji!)

Nak, maaf, ucapan selamat setengah tahunmu ini jika kau baca suatu hari nanti (dan saat kau sudah bisa membaca, kau pasti sudah mengenal betapa ruwetnya isi kepala mamakmu ini), jangan heran ya! Tertawa saja, dan jambak mamakmu seperti yang biasanya kau lakukan. Atau, guling-guling saja dari ujung kasur ke tempat mamakmu rebah, minta cium lalu nyengir seperti saat gigimu masih ompong.

Bertumbuhlah seperti semestinya, Dagna. Aku, ibumu, mamak ikan pausmu, tidak akan memaksa, apalagi menghalangi jalan yang mana saja yang hendak kau pilih, yang paling terjal sekalipun. Aku hanya akan berpesan, hati-hati, sejauh apapun kakimu membawamu jauh, pergi dari ibumu, selalu, ingatlah pulang, ke rumah di mana ada ibu yang mendekapmu, di mana ada ayah, yang mendoakanmu.

Saat di persimpangan, kenanglah rumah, ingatlah bagaimana ayah dan ibumu pernah memberitahumu akan sesuatu,dan jika ingatanmu tidak terlalu sempurna, ikuti saja terang yang selalu ada dalam hatimu. 

Selamat ulang bulan yang keenam, nak!

Selamat bertumbuh, Mikhael Dagna Halomoan Nababan!

SONJA

Sejak dulu, perempuan ditakdirkan untuk menjadi makhluk yang kuat di balik sosoknya yang selalu dipandang rapuh. Saat rahimnya rekah karena tunas yang mekar di dalamnya, tubuhnya bukan lagi miliknya. Dan ia harus menanggungnya selama sembilan bulan. Lebih atau kurang. Saat tunas itu bertumbuh, dirasakannya tubuhnya menjadi gembur dan bertambah massa. Pijakan kakinya limbung menahan beban yang tidak seharusnya.

Ia tidak lagi merasakan tidur yang nyaman. Seiring perutnya yang membulat, setiap gerakan akan terasa nyeri. Ia hanya akan meringis-ringis menahan sakit. Tidak sekalipun katup bibirnya membuka untuk mengeluarkan keluhan, apalagi serapah, padahal tubuhnya dirasanya bukan lagi miliknya. Ada makhluk yang sedang bertumbuh di dalamnya. Dan makhluk itu berbagi tubuh bersamanya. Sebaliknya, bibirnya justru tersenyum, sehat-sehat kau ya, nak, di dalam sana, sampai tiba saatnya kita berjumpa.

Perempuan itu, ibu. Pada sepasang matanya, teduh lautan menyimpan segala rahasia, rahasia yang selalu bermuara pada senyum yang tersungging di bibirnya. Rahasia yang tak pernah ia lelehkan di sudut matanya melalui bening air mata. Di dalam dekapan dadanya, berpulang segala gundah dan luka. Bahkan duka larut saat sepasang tangannya membelai rambut di kepala.

Ibu, di mana ibu?

Aku pernah mengenal perempuan yang kupanggil ibu. Perempuan yang dari sepasang ranum dadanya dulu, aku pernah menyusu. Ia kini masih kukenal dengan nama Ibu, namun, sepasang mata yang dulu teduh membayang lautan, di mana anak-anak ombak berkejaran dengan gembira kini telah berubah batu hitam. Rahasia-rahasia yang biasanya ia sembunyikan dengan pandai lewat tawa dan canda, kini menguar lepas melalui deras airmata.

Ibu, kenapa, Ibu?

Pada jaman dulu, Sonja, pernah hidup perempuan dengan sepasang sayap yang terbuat dari kaca, (malam itu hujan, gelegar petir mengamuk tidak seperti biasa, ibu mendekap tubuhku yang meringkuk dan gemetar ketakutan), sepasang mata perempuan itu teduh membayang lautan luas, hingga siapa saja ingin menyelam di kedalamannya.

Perempuan itu pastilah peri, ibu. Aku melupakan gelegar guntur yang membuat ciut nyali, dan betapa herannya aku ketika ibu justru menggeleng.

Bukan, Sonja, perempuan itu adalah perempuan biasa.

Tapi, ibu, perempuan biasa tidak punya sayap kaca bukan?

Di dunia ini, semua perempuan itu luar biasa, Sonja, tidak pernah ada perempuan yang hanya menjadi sekadar perempuan biasa. Nah, apakah kau ingin dengar lanjutannya?

Aku mengangguk dan merapatkan tubuhku ke badan ibu, di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Guntur dan petir masih mengamuk dengan gelegarnya.

Perempuan bersayap kaca itu mematahkan sayapnya yang indah, Sonja, memberikannya pada laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta. Laki-laki itu telah mampu menyelami lautan teduh di sepasang matanya. Laki-laki itu telah menanamkan riak-riak gelombang yang membuatnya merasa bahagia di dalam hatinya. Ia mematahkan sayap itu, karena, sayap-sayapnya hanya akan membuatnya selalu menjauh dari laki-laki yang ia puja.

Sayap-sayap kaca itu berubah tajam saat ia mendekatkan tubuhnya pada sang laki-laki. Sayap-sayap itu menolak menguncup saat perempuan itu ingin melekatkan badannya pada lelakinya. Bagaimana mereka bisa berdekatan dengan lekat, jika sayap-sayap runcing itu terus mengembang, seakan, mengancam akan mengirisi kulit sang laki-laki?

Sungguhlah saat itu aku dibuat bingung oleh cerita Ibu. Usiaku masih jauh dari remaja, namun jika kuingat-ingat dongeng malam itu, tentulah itu bukan dongeng untuk anak-anak perempuan yang biasanya.

Akhirnya, Sonja (aku melamun saat itu, membayangkan jika aku punya sayap runcing di punggungku, pastilah tidak ada yang mau mendekat, dan suara ibu mengagetkanku), perempuan itu memotong kedua sayapnya demi bisa berdekatan dengan laki-lakinya.

Sakitkah? Tanyaku.

Ibu hanya tersenyum simpul, pernahkah jarimu teriris saat memotong wortel? Sakitkah? Ibu bertanya.

Aku membalas dengan anggukan.

Seperti itulah pedihnya, dikalikan sepuluh.

Aku meringis. Ibu tertawa. Tawa paling indah yang pernah kudengar. Aku menyimpannya baik-baik di sudut kepala. Tawa itu tak pernah terdengar lagi sesudahnya. Aku hanya bisa mengulangnya di dalam kepala.

Lalu, setelah itu, apa yang terjadi, bu?

Batu hitam itu kemudian muncul ke sepasang mata ibu, menutupi lautan yang biasanya teduh di dalamnya. Menjadikan kedua matanya keras, kelam, dan mati.

Seperti kebanyakan dongeng pada umumnya, keberuntungan tak pernah berpihak pada perempuan yang telah berkorban demi lelakinya. Lihat saja Cinderella, dia kehilangan keluarganya hanya demi sang pangeran.

Tapi, Bu, ibu tiri dan saudara tiri Cinderella itu jahat, mereka menyiksa Cinderella, mengurungnya agar tidak bisa datang ke pesta dansa.

Sekali lagi ibu tersenyum, manis, manis sekali.

Ibu tiri Cinderella mengurungnya karena ia tahu, Pangeran itu mata keranjang. Tak direlakannya Cinderella yang cantik jatuh ke rayuan laki-laki berhidung belang. Kedua anaknya buruk rupa, ia tidak khawatir Pangeran akan merayunya.

Aku ternganga, Ibu melanjutkan ceritanya.

Lalu lihat itu, si Duyung yang menukar ekornya dengan sepasang kaki, ia merelakan suaranya hilang asal bisa ke daratan bertemu laki-laki impiannya, namun apa yang ia dapat? Ia berakhir tanpa suara hanya untuk melihat Pangeran pujaannya melenggang mesra bersama Putri Raja yang mengaku telah menyelamatkannya.

Aku terdiam. Hujan telah reda, dan mata Ibu yang biasa teduh membayang lautan masih berupa sepasang batu hitam.

Perempuan itu kehilangan sayapnya, ia kehilangan kebebasannya. Ia terbiasa terbang sehingga melangkahkan kaki saja ia kesakitan. Ia terbiasa menari bersama udara sehingga tanah membuatnya lemah dan basah. Ia terbaring, lembek, dan tak berdaya. Ia begitu basah karena air mata tak pernah mengering dari sudut matanya.

Lalu di mana lelakinya? Setelah didapatinya perempuan itu menjadi lemah dan buruk karena tak terbiasa dengan tanah, laki-laki itu masih dengan besar hati merawatnya. Memapahnya berjalan dari hari ke hari hingga perempuan itu kembali kuat dan bercahaya. Perempuan itu, meski tak punya sepasang sayap kaca, kini memiliki sepasang kaki kuat yang bisa membuatnya berdansa bersama lelakinya. Hidup mereka bahagia. Sangat bahagia.

Kemudian lahirlah peri mungil dari rahim perempuan itu, peri yang sangat cantik, Sonja, cantik sekali. Dengan segera hidup mereka semakin berwarna. Perempuan ini, sekali lagi, ia jatuh cinta. Bukan pada lelakinya saja, tapi juga pada peri mungil yang keluar dari rahimnya.

Namun ingatlah, Sonja, laki-laki itu makhluk pencemburu, laki-laki itu cemburu perempuannya terlalu mengasihi peri mungil mereka. Peri itu mulai bertumbuh menjadi perempuan kecil jelita, namun laki-laki itu malah mulai menyibukkan dirinya sendiri. Berkubang membuang-buang waktu dengan tidak pulang. Berhari-hari. Bermalam-malam. Sampai akhirnya perempuan itu tidak tahan. Berbagai rahasia telah menyelinap ke dalam matanya, mengeraskan mata itu menjadi batu. Tidak ada lagi lautan di dalam sepasang mata peremluan itu, yang tertinggal hanya kekosongan yang gelap. Kekosongan yang terasa keras dan getir. Rahasia-rahasia mulai ia muarakan di bibirnya, berderai-derai tawa disungginya di depan perempuan kecilnya yang jelita. Namun, sesungguhnya, berdarah-darah hatinya mengurai rahasia.

Ibu menghela napas, panjang. Aku merasakan getirnya.

Aku teringat akan ayah, bu.

Ia menelengkan kepala, melihat jam dinding bundar di dinding di hadapan kami, lalu beranjak tanpa menyelesaikan ceritanya. Ada bening yang menggumpal di sudut matanya.

Benar, Sonja, aku juga teringat ayahmu.

Dari balik punggung ibu, aku melihat seberkas bening kaca tergurat menyembul bergerigi di balik pakaiannya.

Solo, 11 oktober 2015.

Burung-burung Hitam di Mata Mahla

Tidak ada yang pernah tahu bagaimana bisa sekelompok burung berbulu hitam muncul dari sepasang mata milik seorang perempuan.

“Aku melihatnya menangis di sudut jalan, dan saat aku mendekatinya untuk menanyakan apa yang salah, ia mengirimkan burung-burung dari dalam matanya untuk menyerang dan mematukiku. Aku hampir buta karenanya!” Yeesaac, perempuan tambun itu bercerita dengan suara yang menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Ia menjadi pusat perhatian di antara kerumunan orang yang mengelilinginya. Tangan gemuk pendeknya yang bergerak-gerak saat menggambarkan ceritanya, membuat beberapa orang menahan napas karena ngeri, beberapa bergidik takut, dan lebih sedikit lagi yang merasa iba kepada perempuan muda yang sedang dituturkan Yeesaac.

“Tapi, kenapa dia mengirimkan burung-burung hitam untuk menyerangmu, Yeesaac? Apa yang telah kau perbuat?”

Seseorang bertanya, dan kerumunan menggumam-gumam samar, saling mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Sedangkan Yeesaac, ia menghela napasnya dengan berat, lalu menghembuskannya perlahan.

“Entah, saudaraku. Aku sama tidak tahunya denganmu. Tetapi Mahla, nama perempuan itu kuanggap saudaraku, karena semua perempuan adalah bersaudara, dan aku berharap ia mau membagi kesedihannya padaku. Hari itu adalah hari kesembilan ia mengenakan pakaian berkabung meskipun kita semua tahu, ia tidak punya keluarga untuk ditangisi kepergiannya. Dia hanya menangis, dan aku mendekatinya. Lalu…”

Mereka semua bergidik saat Yeesaac menggerakkan tangan-tangan gemuknya membentuk sayap-sayap yang menyambar matanya.

*

Bisik-bisik berkembang menjadi desas-desus, yang, menjalari lembah hingga berubah menjadi cerita harian yang dituturkan burung-burung di pokok kenari, atau, dibicarakan diam-diam di beranda rumah yang dulunya lengang. Para wanita sibuk berprasangka, dan para pria ikut bercengkrama di antara mereka. Menceritakan cerita yang telah diulang-ulang dengan berbagai versi.

Perempuan itu bisa mengirim tulah lewat tatapan matanya, kabar itu awalnya terdengar. Lalu berubah, menjadi, perempuan itu membuat siapa saja yang ditatapnya kesakitan seperti dicakari dan dipatuki sekawanan burung hitam yang jumlahnya puluhan ribu. Kemudian menjadi kabar yang lebih aneh, perempuan itu menularkan kesedihan yang tampak dalam di matanya itu, menjalari seluruh lembah desa yang mereka huni, seakan-akan mereka tak bisa gembira lagi, seolah-olah pandangan mereka yang ceria berubah sekelam kepak sayap burung-burung yang bersarang di matanya.

Kabar-kabar yang beredar itu semakin berkelindan, saling jalin-menjalin, menutupi kabar satu dengan yang lain. Mengubah cerita satu dengan menambah cerita lain, hingga kebenaran menjadi hal yang sulit untuk ditemukan.

Sementara, perempuan di sudut jalan yang dikabarkan membawa petaka itu, tetap menundukkan pandangannya, siapapun tak berani mendekatinya untuk sekadar melihat atau menatapnya. Rasa iba yang pertama kali orang-orang rasakan kepadanya berubah menjadi rasa takut yang terasa menyengat, rasa takut yang aneh dan tidak masuk akal. Sedang mereka sendiri bertanya-tanya, akankah sepasang mata perempuan itu mengirimkan burung-burung hitam untuk menyerang mereka, jika mereka menatapnya sekali saja?

Karena sesungguhnya, mustahil rasanya memalingkan pandangan dari sosok perempuan elok yang bertudung hitam dan bertubuh sewarna pualam. Ia pucat, molek, perempuan itu menawan dengan sepasang mata gelap, yang, pastilah sang iblis bersarang di dalamnya. Begitulah mereka menyebutnya.

Namun, saat itu tidak ada yang menyadari, bahwa perempuan bernama Mahla itu telah hadir di antara mereka begitu saja, mereka mengabaikan kehadirannya seolah-olah perempuan itu memang tinggal di sana, di ujung jalan yang gelap itu, mereka merasa ia sudah bertahun-tahun lamanya seperti seharusnya memang di sanalah tempatnya tinggal, meskipun mereka tahu, bahwa di ujung jalan itu hanya ada sebuah lubang kosong menganga yang bahkan sebilah papanpun takkan sanggup bertahan di atasnya tanpa terperosok ke dalamnya.

*

Yeesaac memutuskan akan menemui Mahla, perempuan misterius yang hampir menyerangnya dengan burung-burung dari dalam matanya. Yeesaac, perempuan kita ini adalah perempuan keras kepala yang sok tahu dan tukang gosip, penyebar kabar keji, begitulah ia dikenal. Ia dulunya dihindari, ia sangat jarang diikutkan dalam pembicaraan-pembicaraan karena kebanyakan orang menghindari lidahnya yang lebih tajam dari pisau yang digunakan untuk membelah limau. Namun, kabar tentang dirinya yang telah diserang burung-burung gaib itu sedikit banyak telah mengubah pandangan orang-orang yang pada dasarnya memang mudah melupakan apa yang seharusnya mereka ingat.

Mereka jadi iba padanya, orang-orang mulai mempercayai perkataannya yang berubah-ubah tiap kali ia menceritakan kembali, dan seperti naifnya para kanak-kanak saat mendengar dongeng, orang-orang malah terpana setiap kali ia kembali bercerita, dan mereka percaya padanya lebih daripada seharusnya.

Maka, untuk mempertahankan harga diri yang telah diperolehnya kembali, Yeesaac melangkahkan kaki gempalnya, menuju pondokan yang letaknya di barat daya, tempat perempuan bernama Mahla yang menjadi pokok beritanya berada, tepat seperti dugaannya, pondokan itu tidak berada di sana, hanya tersisa lubang menganga yang siap menelan tubuh gempalnya.

“Perempuan bernama Mahla itu pasti tak pernah ada, aku pasti bermimpi saja.”

Yeesaac menggumam sambil menolehkan kepalanya, rambut keritingnya bergoyang-goyang tertiup angin yang mendadak semakin dingin, di atas kepalanya, mendung mendadak berkumpul seakan menggulung langit dalam kelamnya. Ia lalu berbalik, bersiap-siap pergi ketika dilihatnya perempuan yang bertudung hitam itu menunduk di hadapannya. Ia gemetar, tak sanggup menatap wajah yang sedang menunduk itu, ia gentar membayangkan kawanan burung yang akan mencakar matanya, namun ia membutuhkan lebih banyak simpati untuk hidupnya yang sepi dan menyedihkan. Ia butuh kisah untuk bisa dibagi kembali, dengan itu Yeesaac bisa selalu diterima dalam kerumunan orang yang biasanya abai.

Yeesaac melangkahkan kakinya, pelan, sangat pelan, ketika tiba waktunya ia berada tepat di hadapan Mahla, ditengadahkannya wajah perempuan yang sedang menunduk dan tertutup tudung itu, dilihatnya di sana, di lubang yang seharusnya berada sepasang bola mata, hanya ada hitam. Kelam yang terlalu pekat, dan ada kesedihan tiba-tiba membungkusnya sedemikian rapat, kelepak sayap burung-burung bergesekan di telinganya. Yeesaac ingin menjerit, namun bibirnya kehilangan daya untuk membuka, lidahnya menempel ketat ke langit-langit mulutnya, lalu perempuan terkutuk yang bertudung itu tersenyum padanya, senyum yang getir. Senyum yang sungguh keji.

Jadi Yeesaac, cerita apa yang akan kau kabarkan kali ini?

Sementara, burung-burung masih saja menghambur keluar dari mata Mahla.