Jalan Magnolia No. 27

image

1/ Bisik-bisik berlumur tawa yang entah.

Aku mengintip ke dalam jendela yang bingkai kayu tuanya telah diselimuti lumut, dan rasanya empuk saat telapak tanganku menyentuhnya. Hidungku berdebu saat menempel di kacanya. Rumah itu telah lama ditinggalkan penghuninya, ibuku pernah bercerita. Jangan dekat-dekat ke sana, Feli, kau bisa ditahan karena memasuki properti orang lain tanpa ijin, ayahku dengan serius memperingati. Waktu itu aku yakin seratus juta persen, bahwa aku mendengar suara-suara tawa dari dalam sana saat melewati rumah itu. Jangan coba-coba, Felicia! Ibuku murka saat aku mengatakan hendak mengintip ke dalam sana.

Namun, rumah besar berdinding bata cokelat, dengan atap miring dan cerobong asap bulat itu, selalu punya cara untuk memancingku untuk sekadar mengintip. Lagipula rumah itu hanya satu blok saja jauhnya dari tempat tinggalku. Apa salahnya mengintip sebentar?

2/ Bayangan-bayangan yang terekam jauh dari sempurna.

Dinding-dindingnya kusam. Lantainya berdecit saat diinjak. Jam kayu di atas perapian tidak menunjukkan perubahan pada jarum yang bersejajaran di angka sepuluh. Sofa-sofa merah telah mengelupas kulitnya. Perutnya menganga berhamburan busa-busa yang sudah berubah warna menjadi hijau tua.

Di seluruh ruangan, terpampang potret yang membuatku gemetar hingga ke tulang-tulang. Jika bukan karena rasa penasaran yang berapi-api, aku pasti sudah lari. Kuperingatkan diriku berkali-kali, usahaku bersusah-payah mengungkit, dan memanjati jendela lapuk itu akan sia-sia kalau aku menjadi pengecut yang melarikan diri hanya karena foto-foto konyol di dindingnya.

Tapi foto-foto itu sama sekali tidak konyol.

Badut, di dalam foto tidak terlalu menakutkan, namun tetap saja, seringainya seram!

Bayangkan, apa yang disembunyikan para badut, dibalik senyum yang dipulas pemerah bibir yang keterlaluan, dan bedak putih  yang mirip sekali dengan abu orang mati?

3/ Jerat Pemburu

Selain udara kosong yang hanya meniupkan debu ke mataku hingga pedih, rumah ini kosong. Benar-benar kosong. Aku sudah menjelajah ke seluruh ruangan. Hanya ada tiga ruangan, kamar tidur, dapur yang menyatu dengan ruang tamu dan ruang makan, lalu kamar mandi di dalam kamar tidur.Kamar tidurnya  sempit, kamar mandinya –yang demi Yesus aku tidak mau memasukinya karena pasti jauh lebih kotor, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang mendiami kamar mandi yang sudah lama tidak dibersihkan. Di dalam kamar itu, ada lebih banyak foto badut, dan tempat tidurnya sudah bobrok sama sekali (ada banyak tali-tali dari lilitan tembaga diikatkan di sisi ranjang.) Lalu dapur, di dekat pintu belakang yang mengarah ke hutan kecil, pintunya terkunci, dapurnya mengerikan. Banyak noda-noda menghitam di lantai dan mejanya. Aku terus mengenyahkan pikiran bahwa noda hitam itu darah, mungkin saja dahulu pemilik rumah memasak kaldu lalu gosong atau apalah.

Lalu ada sesuatu yang menghentikan langkahku yang tinggal beberapa meter dari jendela tempatku menyelinap. 

Suara-suara tawa menggema. Mengganggu dan terasa mengancam.

“Mengapa terburu-buru? Bermainlah dulu.”

Perwujudan sosok di hadapanku lebih menyerupai mimpi buruk ketimbang nyata. Sebuah kamera video menyala di tangannya. Suara-suara yang kudengar berkali-kali saat melewati rumah ini mengalun dari dalamnya.

“Gadis kecil, apa kau takut?”

Aku menyesal tidak memeriksa kamar mandi. Lebih menyesal lagi saat aku menyadari bahwa aku tidak membawa semprotan merica di saku celana.

4/ Kabar yang berulang

“Jed, ke mana Felicia? Sudah hampir tengah malam!”

Meridia berteriak panik mendapati kamar anak perempuannya kosong, dan Jed, suaminya memberi tatapan yang sama bingungnya.

“Dari tadi sore aku belum melihatnya, sayang!”

“Dan kau tidak curiga?”

Suara Merida melengking karena marah sekaligus khawatir.

“Kupikir ia sudah pulang!”

warga diminta untuk selalu berhati-hati seiring meningkatnya laporan tentang kasus anak hilang. Kebanyakan yang dilaporkan menghilang adalah anak perempuan berusia tiga belas sampai delapan belas tahun. Kepolisian telah bergerak untuk menyelidiki apakah kasus anak-anak hilang ini seperti kasus yang pernah terjadi tujuh belas tahun yang lalu, di mana pelakunya sampai sekarang belum terungkap. Semua korban juga belum ditemukan hingga kini. Hanya ada beberapa asumsi bahwa pelaku melakukan penyamaran saat melakukan kejahatannya. Beberapa laporan yang masuk saat teror menyerang tujuh belas tahun yang lalu menyebutkan, bahwa ada sesosok badut asing yang berkeliaran di sekitar rumah kosong di jalan magnolia nomor dua puluh tujuh…

“Demi Tuhan, Jed. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Feli… .”

Mereka berpandangan ke arah televisi yang menyala di ruang tamu, kemudian saling terisak-isak.

*

Gadis kecil, mau bermain?

Kamera videonya berkerlip ke arahku. Sosok gendut berpakaian polkadot dengan pemulas bibir yang keterlaluan, dan bedak putih seperti abu orang mati itu, menyeringai. Aroma bibirnya masih melekat di badanku yang babak belur.

Sambil tertawa-tawa, ia mengayunkan parang berkarat yang dipenuhi bercak gelap. Sementara tubuhku menggelepar-gelepar, sebelah lenganku lunglai, tergantung berayun-ayun di sisi ranjang yang diikat tali-temali sewarna tembaga… .

Iklan

Suatu Masa: Ketika Ellia bertemu Abiram

Ellia seakan ingin meledak dalam kumparan cahaya yang mengungkungnya. Di barisan semak lili merah jambu yang menari-nari, dadanya ingin meledak karena rasa senang yang muncul tanpa terduga-duga. Pagi tadi, saat ia memanen kuntum-kuntum embun di barisan para lili (bunga-bunga cantik merah jambu itu merona di bawah sentuhan tangan beledunya yang mungil), ia mendengar Sang Kenari bernyanyi:

Terselip di antara kabar angin,
Yang lama hilang akan kembali,
Rumah-rumah akan berseri,
Perapian dipenuhi nyala api,
Hangat hanya hangat yang mengusir sepi,
Tunas-tunas lalu bersemi,
Dia kembali.
Dia kembali.

Ellia sampai menjatuhkan keranjang embunnya yang berharga, embun itu sama berkhasiatnya dengan nektar para mawar, menghidupkan hidup yang beranjak layu karena matahari, mengembangkan sayap para peri, serta melukiskan pelangi di kulit-kulit pohon yang kisut.

Namun Ellia tidak peduli. Ia segera mengembangkan sayap yang menggantung lemas di bahunya, secepat kilat ia menuju petak matahari –sebentuk tanah yang diselimuti rumput berwarna ungu yang bermandikan matahari, di sana, tempatnya biasa berdiam, diam-diam merindukan peri yang lama tidak dilihatnya lagi. Peri yang lalu menghilang tanpa menyisakan kabar kecuali hanya berupa sepotong kisikan angin.

Aku pergi sementara saja.

Abiram.

Ia terbahak-bahak teringat buntut serupa buntut tikus yang menempel di tubuh Abiram. Cahaya matahari membuatnya sangat bersemangat. Bukan. Namun kabar dari Sang Kenari yang menyalakan hidup yang hampir lesap dari dalam dirinya.

*

Taman Para Peri. Begitu Abiram pernah menyebut hutan kecil tempat mereka tinggal, dan bersembunyi. Mereka adalah sekumpulan peri –kebanyakan dari mereka adalah peri pohon dan peri bunga, beberapa diantaranya  kelinci yang ternyata pesulap ulung, sekelompok marmut pencuri kenari, bergerombol-gerombol mawar pongah dengan duri berbisa, sebarisan lili merah muda tukang merona, sekumpulan pohon tua yang tidak mau menyebutkan nama, sepasukan belalang tanpa bulu mata, serta seekor burung kenari buta.

Abiram adalah Kepala Suku, para peri penari yang genit (peri-peri ini datang sesuka hati mereka, tinggal di kastil-kastil yang terletak di utara), menyebut Abiram adalah Maha Raja. Ellia terkikik-kikik geli saat peri-peri penari itu dengan genit mencolek-colek buntut Abiram dengan sikap menggoda. Abiram yang kehilangan kata-kata hanya menanggapi mereka dengan memberi mereka sekeranjang penuh nektar mawar yang mereka panen dengan susah payah. Peri-peri genit itu lalu pergi dengan mendaratkan kecupan masing-masing di pipi Abiram, dua kali untuk setiap peri.

Ellia sendiri adalah peri bunga biasa yang tidak memiliki keahlian apapun selain memanen embun dan membuat  lili-lili merah jambu menjadi lebih merona. Namun berkat keberanian Ellia di suatu pagi, saat melihat Abiram tersengat laba-laba raksasa yang entah berasal dari kutukan negeri yang mana, peri bunga itu mengisap racun itu sendiri melalui bibirnya. Akibatnya, Ellia kejang-kejang dan muntah-muntah lebih dari tiga putaran matahari. Abiram menaruh hormat tinggi-tinggi untuk itu.

Selain itu, Ellia adalah peri pemberani. Ia pernah mengusir sekumpulan lebah bodoh, menimpuki mereka dengan kotoran kelinci, saat kawanan itu memyerbu semak mawar pongah mereka yang berharga. Dan untuk itu, mawar-mawar berbisa telah berbaik hati memberikan nektar mereka tanpa menyengat Ellia sama sekali.

*

“Abiram, kau tidak penasaran?”

“Tentang apa?”

“Dunia.”

“Memangnya dunia kenapa?”

(Ellia melemparkan setangkup embun ke wajah Abiram yang terkaget-kaget hingga tak mampu menghindar. Sekumpulan peri bunga yang lain berdeham-deham.)

“Dunia kan tidak hanya di sini.”

“Aku tahu. Lalu kenapa?”

“Tidak inginkah kau melihatnya?”

(Abiram mencolek nektar dari toples kaca yang telah diisi penuh-penuh oleh Ellia, sebarisan belalang melolong protes –jangan sampai jatah kami berkurang karena kau licik menjilat duluan, Abiram!)

“Baik. Aku akan melihatnya. Dunia yang mana yang ingin kau ketahui?”

“Maksudku, aku ingin melihatnya!”

(Ellia gusar. Ia menutup toples dengan asal-asalan, lalu melemparkannya pada peri lainyang terlihat putus asa — peri itu telah bersusah payah memanen nektar sepanjang pagi, dan ia belum mendapatkan setetespun, para mawar meruncingkan duri-durinya yang berbisa.)

“Tidak bisa, Elli. Kalau kau pergi, siapa yang memanen nektar dan menjaga petak matahari? Bayi-bayi peri harus dibaringkan di sana setiap satu putaran matahari. Dan hanya kau yang bisa ke sana tanpa dilukai barisan semak mawar-mawar jahanam itu.”

(Ellia terdiam, ia tahu petak matahari dipagari barisan mawar karena kesakralan tempat itu. Namun ia baru sadar hanya ia yang bisa ke sana. Bahkan Abiram yang Kepala Suku pun akan tersengat dan mati jika terkena duri-duri itu.)

“dan, Elli, jika para bayi tidak dibaringkan di sana, mereka akan kisut. Layu. Seperti masa-masa gelap saat kita belum menemukan petak matahari. Hanya akan ada tangisan dan pemakaman. Semua berkabung. Semua beranjak tua. Mati.”

(Ellia mengangguk.)

“Biar aku yang pergi.”

Setelah percakapan pagi itu, Abiram menghilang. Tujuh putaran purnama penuh. Ia tak kunjung kembali. Taman Para Peri perlahan-lahan berkabung. Bagi mereka, sang Kepala Suku adalah jiwa yang menghidupi semangat mereka semua. Tanpa terkecuali.

*
Ellia menangkupkan sebentuk cawan kaca di antara bibir-bibir mawar yang merekah, rona pongah itu perlahan luruh, menetes di cangkirnya. Nektar-nektar madu berlelehan di dalamnya, berkilau-kilau penuh nyala hidup. Sejenak setelah kelopak-kelopak itu tertidur layu, Ellia menjentikkan embun di atas mereka, menjadikan kuntum-kuntum mati itu terlahir kembali. Ellia mengusap-usap mereka dengan lembut. Hatinya merasa sendu. Dua putaran matahari setelah Sang Kenari bernyanyi, Abiram belum kembali.

Elli beringsut ke maple tua yang batangnya mulai menghitam, menyembunyikan tangisnya di sana.

Lalu, dari balik bayang-bayang pohon-pohon yang terlihat berkilau-kilau karena mereka serentak tersenyum hormat, Abiram, tersenyum lebih cerah dari matahari.

“Aku tidak pergi dalam waktu yang terlalu lama, bukan?”

Di sepasang mata peri pohon yang sewarna tembaga itu, Ellia melihat: dunia.

Api

Ia melihat perempuan itu begitu saja. Bintang-bintang bergayut di ujung rambut sang perempuan saat ia mengibaskannya. Hanya merah yang memenuhi matanya. Merah yang hangat. Merah yang rekah. Merah yang damba.

Perempuan itu mengerling, sejenak. Menancapkan pandangan ke sepasang mata miliknya sendiri.

*
Ia teringat pada cerita usang yang didongengkan padanya saat matanya terbenam pada malam yang lelap. Pada malam yang pekat. Pada malam yang sembap. Karena pada malam yang sama, ia akan terbangun kembali, menggigil dingin saat udara menyengat panas, dan dari pipinya, bergurat-gurat air meleleh dari matanya.

Ia merasa perih yang entah. Seolah-olah sang mimpi sendiri yang membuatnya jeri. Ia tidak pernah ingat mimpinya. Namun di kepalanya selalu mendengung dongeng dari bibir keriput nenek buyutnya yang beraroma kayu lapuk.

Hati-hatilah pada nyalang api yang menjilat-jilat rongga di tubuhmu. Karena saat panas itu membakarmu dari dalam, dia akan datang.

Peri bergigi runcing dan berjubah api. Ia hanya akan mengabukanmu tanpa engkau bisa menyadari.

Hati-hati.

Sejak saat itu, hatinya diliputi panas yang menggeliat-geliat. Dan ia tidak berhenti mencari-cari peri berjubah api.

*

Ia pernah bertanya, suatu ketika. Kepada ibu yang memeluknya suatu malam saat ia terbangun dan kembali berteriak.

“Siapa peri bergigi runcing dan berjubah api itu? Apakah ia ada?”

Ibunya hanya tersenyum, lalu menjelaskan bahwa itu hanya dongeng sang nenek buyut untuk menakutinya. Sebab, menurut ibunya, setiap manusia selalu memiliki api di dalam dadanya. Itulah yang membuat mereka semua hidup, dan bersemangat. Ibunya menutup cerita dengan menarik selimut hingga batas dagunya.

Malam itu, ia kembali bermimpi. Kali itu, ia terbakar di pasungan yang dilalap api. Namun aneh, ia justru mencengkeram sang api. Di sudut matanya, sang peri mengerling, menatapnya dengan sepasang mata merah yang merekah. Menyala-nyala.

*

Ia memiliki api. Ia membakar apa saja. Ia menghanguskan manusia. Ia mengabukan laki-laki. Memanggang perempuan. Mengganyang yang bukan keduanya.

Api disungginya tinggi-tinggi. Kali itu ia tidak lagi bermimpi pekat yang membuatnya kalut, dan ia tak lagi menggigil di saat udara menyengat dengan sangat. Ia melupakan mimpi yang membuatnya jeri.

Ia memiliki api. Api di dada. Api di kepala. Api di selangkangan.

Ia berjengit menatap sebaris gigi runcing dan jubah api berpendar di pundak perempuan. Bintang-bintang berdenyar di ujung rambutnya. Perempuan itu mengerling dari balik cermin. Menatap wajah yang menatapnya balik dengan jengah.

Hati-hati dengan api yang nyalang yang membakarmu dari dalam,
Sebab saat api itu kau pelihara, ia akan datang
Peri bergigi runcing, bermata darah, dan berjubah api

Hati-hati dengan api,
Sebab ia akan menjelma engkau
Dan engkau adalah satu.

Perempuan yang Menunggu Mati

Aku hidup dari menelan kepahitan, lalu memuntahkannya, empat puluh tujuh kali banyaknya, sepanjang usia lupa milik ibu.

**

Tidak ada yang lebih kelam, selain sepasang ceruk yang menganga di wajahnya.  Ceruk itu kelam, pekat, dan anyir. Mengingatkan aku tentang cerita-cerita seram tentang adanya sebuah lubang tempat ditimbunnya tubuh-tubuh yang dikoyak, dan ditorehkan luka-luka menjelang ajalnya. Cerita-cerita seram yang sering diteriakkan dari lidah yang biasanya beku dari dalam bibir ibu. Bibir yang biasanya hanya bergumam-gumam muram, merutuk, lalu bungkam itu mendadak buas, mendadak melengking tawa getir yang keji saat mimpi mulai menari, di saat sepasang kelopaknya bahkan belum terpejam. 

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Sayup-sayup suara ibu mengalun dari dalam bilik tempatnya bersembunyi. Di dalam kamar itu hanya ada sebilah cermin, sehelai kasur tipis, dan tubuh ibu yang ringkih. Teramat ringkih untuk bisa memeluk dirinya sendiri. Segera setelah kakiku melewati ambang pintu, yang tersisa dari dirinya hanya ceruk menganga yang dulunya tempat sepasang mata. Semakin lama aku memandangnya, semakin dalam aku tersedot kepedihan di dalamnya.

**

Mereka datang!
Mereka datang membawa klewang, dan bengis menjadi sekutu mereka. Tangan-tangan mereka telah penuh dengan daging-daging yang mereka cabik dari kawanan perempuan yang ditengarai sebagai perempuan sayap kiri. Padahal perempuan-perempuan itu hanya memiliki bakat dan nurani yang senang mereka bagi. Kepintaran mereka terlalu menakutkan. Kecedasan mereka terlalu mengancam!

Merekapun lalu dibungkam, dikotorilah tangan mereka dengan darah yang tak pernah setitikpun mereka tumpahkan, jari-jemari mereka dipasung, didera dakwa telah memotong-motong satu legiun Jendral dengan keji! Benang yang pernah terjalin dengan kawanan perempuan itu akan segera dikoyak dengan keji. Benang-benang itu akan dipotong-potong tanpa kompromi. seperti yang mereka lakukan pada kawanan Perempuan Kami. Larilah!

Larilah! Lari!

Ia adalah Wanita, yang meneriakkan peringatan. Ia adalah satu kawanan perempuan dengan. satu sayap yang menempel di punggungnya. Sayap kiri. Dadanya serasa meledak dengan geraman amarah yang dibalut duka, mata miliknya tak henti menumpahkan curah air yang mengirisi pipinya. Ia lari, ia berhasil lari, mengendap-endap seperti pencuri, lalu menyiarkan kabar kepada mereka yang pernah disinggahi perempuan-perempuan sayap kiri. Kabar itu hanya berisi satu seruan; Lari! Selamatkan diri!

Ia lalu menangkap lenganku yang gemetar, sebelum kemudian kembali berlari. meneriakkan peringatan-peringatan untuk saudari-saudari kawanan yang lain.

Lari, nak. Sembunyi. Jangan katakan apapun pada yang kau singgahi.

Ia berbisik, suaranya seakan berasal dari liang kubur saat aku menatap sepasang matanya.

**

Perempuan itu baru menginjak sembilan belas. Terlalu ranum untuk bertelanjang kaki,
terlalu mengundang untuk meringkuk di bawah malam yang berbayang-bayang. Kakinya telah lelah untuk menyeretnya agar terus bersembunyi, padahal hari baru berganti satu kali putaran matahari, sementara lengannya terus gemetar.

Peringatan Wanita terus berkumandang dari dalam kepalanya. Membuatnya seketika merasa renta. Ibu dan saudara-saudara perempuannya telah dijarah dan ditangkapi… . Ia tak sanggup, bahkan hanya sekadar untuk menangisi.

Ia meringkuk di sudut jalan yang ternyata masih liar. Aroma perempuannya yang baru mekar, terendus sekumpulan serigala, mereka menerjang dengan mata nyalang berahi yang rakus. Mereka menyeretnya ke dalam liang, lubang yang dijadikan sarang. Dan taring-taring mereka seketika berubah kemaluan, menusukinya hingga jeri. Jengkal demi jengkal tiap-tiap bagian tubuhnya. Ia menangis… ia terus menangis.Sungguh sekali ini ia ingin mati.

**

Lari!

Ibu berbisik di telingaku saat usiaku lima belas. Mata yang biasanya hanya berupa ceruk tanpa cahaya itu mendadak menyala-nyala. Ia menggamit lenganku erat, lalu bersimpuh di kakiku dan membuatku bersumpah.

Larilah, dan jangan kembali!

Namun kakiku telah terbenam ke dalam rawa-rawa genangan masa lalu yang menghisap daya hidupnya hingga hampir tuntas. Aku bersumpah tidak akan lari dan mengakibatkan ia seorang diri.

“Laila, mana tehnya?”

Dari balik pintu, suara Serigala satu menggelegar. Ibu memberitahuku, bahwa laki-laki itu adalah Serigala, di malam-malam saat ia bisa menemukan suara yang tersangkut di tenggorokannya, dan ceruk matanya hidup. Di sela-sela ceritanya, ibu menggumam-gumam tanpa arti, menangis, meratap-ratap, lalu kembali fokus. Lalu bergumam lagi. Fokus lagi. Begitu seterusnya.

Hati-hatilah pada Serigala satu. Dia bisa memangsamu.

Serigala yang mana, Bu?

Ibu melirik ke kanan dan ke kiri, lalu bergumam lagi, kemudian suaranya beralih, berubah jernih, seperti genta angin.

a yang menempati sebelah kamarmu.

Ayah?

Aku terkejut dengan mulut menganga, ibu bergumam-gumam lagi, sesekali melantunkan lagu yang menjadi salah satu bagian cerita-cerita seramnya tentang lubang dan tubuh-tubuh koyak sebelum dijemput ajal.

Ia Serigala Satu. Ia yang mengoyakku di paling awal sebelum kumpulan lainnya melakukan hal yang sama, lalu ia memasungku lebih dari empat puluh hari. Rahangnya melengkung senyum saat benih itu mekar di dalam rahimku. Ia tidak peduli benih siapa. Ia bujang tua bajingan yang kesepian. Mendamba putra. sekarang, pergilah, pergi!

Malam jahanam, sekawanan perempuan menari dengan iblis mendiami liang-liang yang mereka biarkan terbuka. Mengalun dari bibir-bibir tipis mereka lagu-lagu agar iblis tetap menyalakan dian di tubuh mereka. Menyalalah mereka karena keringat dan gairah. Dirajangilah para jenderal laki-laki dengan belati-belati perak. Dari ujung.. dari ujung..

Ia lalu kejang-kejang, dan aku selalu muntah-muntah mendengarkan cerita yang selalu ia sebut cerita-cerita seram.

“Laila, mana tehnya!”

Suara Serigala satu terasa mendesak. Aku meninggalkan ibu yang kejang-kejang, dengan bola mata terbalik dan tangis yang menenggelamkannya. Dari balik pintu, aku menemukan Serigala Satu, dengan mata merah dan taring memanjang ya g bersiap menerjang. Cangkir teh yang telah kosong pecah di lantai. Serpihannya menyebar, menyebar seperti ibu yang koyak dan berserak. Malam itu kali pertama aku melihat taring Sang Serigala berubah kemaluan saat ia menusuki tiap jengkal. Tiap liang. Tiap lipatan yang tersembunyi. Dikoyakkan aku hingga tercabik. Aku ingin mati. Matikan aku kali ini… .

Malam jahanam, sekawanan perempuan menari dengan iblis mendiami liang-liang yang mereka biarkan terbuka. Mengalun dari bibir-bibir tipis mereka lagu-lagu agar iblis tetap menyalakan dian di tubuh mereka. Harum mawar mekar setiap satu tetes darah ditumpahkan dari tubuh para Jenderal.. Menyalalah mereka karena keringat dan gairah. Dirajangilah para jenderal laki-laki dengan belati-belati perak. Dari ujung.. dari ujung rambut turun ke dada.. lalu pusar.. lalu kemaluan.. dirajangi mereka.. dirajangi mereka hingga telapak kaki tak luput dari bilah belati… . Perempuan-perempuan sayap kiri, sayap kiri satu-satunya sayap yang paling ditakuti. Dikutuklah mereka dan liang-liang yang mereka miliki, dengan keji. Dengan keji merekalah korban yang dikoyaki sepanjang ingatan, tidak satupun darah tertumpah dari tangan-tangan lentik para perempuan yang senang berbagi nurani.. .

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler… .

**

Dari dalam bilik tempatnya bersembunyi, ibu menceritakan cerita-cerita seram, empat puluh enam tahun lamanya. Di tahun ke empat puluh tujuh, kami masih menunggu…

*tulisan ini diikutkan dalam Lomba: Gerwani, Sundal Perkasa yang Menolak Mati, melalui Lembaga Lingkar Puisi dan Prosa, dan mendapatkan peringkat ketiga

SEPEREMPAT: Tentang Suatu Masa

Suatu masa yang telah mati karena laju waktu tidak pernah mengenal mati.

Masa itu datang seperti hantu. Mengendap-endap tanpa suara, lesap di dasar kepala. Menggumpal abu-abu, lalu beranjak terang. Terang yang justru menjadikannya lebih gelap daripada abu-abu. Gaungnya selalu memenuhi gendang telingamu hingga mendengung. Hingga berdenging. Hingga kau tak tahan lagi.

Lalu kau muntah.

Muntah serapah.

Aku tidak percaya lagi padamu!

Kau tahu, mendung telah berpindah ke dalam mataku?

Hantu-hantu yang mencengkerammu dengan cakar yang melengkung dan berbulu

Suatu hari, aku mendengar gemuruh dari dalam kepalamu. Gemuruh itu, melompati sepasang matamu dengan kilat yang membuatku buta seketika.

Kilat itu terlalu tajam.

(Membuat aku ingat pada cakar yang masih mencengkeram isi kepalamu.)

Gemuruh itu, berdentum-dentum saat aku melihat mata –milikmu, yang sedang menatap aku.

Apa yang kau lihat dari dalam sana?

Aku melihat semesta di dalam mata itu –mata milikmu.

Semesta yang sama, yang telah lama kuberikan padamu. Semesta yang benderang sebelum masa Kejatuhan.

(Aku akan menceritakan Kejatuhan setelah ini. Jangan terperangkap garis waktu ceritaku.)

Aku masih melihat semesta itu di sana. Setidaknya, aku berharap semesta itu ada, dan aku akan menetap selamanya.

Namun, goresan cakar-cakar hantu di kepalamu itu, terus mengoyakkan aku di malam-malam hening. Cakar-cakar itu, ingatlah, mereka melengkung, dan berbulu. Mereka menangkap ingatan-ingatanmu. Memenjarakannya di bawah cengkeraman para hantu.

Ingatlah sesuatu, para hantu tidak mengenal usai. Apa yang kau lihat dari sepasang mata milikmu?

Kejatuhan yang Membusukkan Waktu (setiap mengingat ini, aku harus kembali menambali lubang-lubang di dalam dada)

Meminjam tangan waktu, aku kembali membawamu ke dalam Kejatuhan. Bintang timur menggoda engkau sedemikian -pijarnya, sungguh menyesatkan!

Aku kehilangan engkau. Engkau, menghilangkan aku. Lalu aku membusukkan waktu. Membuatnya terengah-engah. Mencekiknya hingga habis pongah.

Saat itu, ada satu jangkrik yang terus melubangi telingaku. Membuatku beralih dari jalan, yang saat menitinya hanya membuatku pedih. Dan aroma waktu saat itu, begitu amis. Nanah memancur dari liang-liang kepedihan yang kupancung. Seharusnya mereka mati saat aku memenggalnya.

Aku lupa, aku tidak mendaraskan mantra agar kepedihan tetap bersemayam dengan tenang di alam baka.

Akibatnya, aku harus menutup kedua mata, dan hidung, dan telinga, dan, lidahku mengikuti suara jangkrik.

Krik.

Kamu tidak berguna.

Krik.

Kamu tidak cukup berharga.

Krik.

Aku memelihara jangkrik itu. Mengikuti suaranya. Namun, aku telah membusukkan waktu, bukan? Saat aku memberikan racun kepada waktu, cairan itu memercik ke dalam dadaku. Membusukkan isi di dalamnya. Aku hampir bukan manusia. Aku tumpul. Tanpa rasa.

Kurasa, kamupun terpercik racun itu. Kamupun membusuk di dalamnya.

Lalu, krik.

Jangkrik itu menikamku di hadapanmu, tepat saat engkau kembali menemukan aku.

Memotong-motong tubuhku hingga kaku.

Dan, krik.

Siulan terakhirnya, memenjarakan aku di dalam lubang yang lebih buruk. Lebih busuk.

Namun, kamu telah menemukan aku, yang sedang mencari kamu.

Ini tanganku, mari kita makamkan Kejatuhan. Aku telah memesankan nisan berulir untuknya. Namun kali ini, jangan lepaskan tanganku.

Prasangka-prasangka yang tertinggal dan membikin huru-hara

Para hantu bahkan masih berdiam dan menancapkan cakarnya di dalam sana. Lalu ada asap di kepalamu. Membuatmu tersedak hingga batuk-batuk tiap mengingatku. Para hantu, dengan setia masih membisikkan ingatanmu lewat cakar-cakar mereka.

Tubuhmu terpancang. Kepalamu dicincang. Asap dan hantu bekerjasama mengoyakkan kamu. Kaki-kakimu terasa seperti dilumuri timah, lengket dan berat. Bibirmu disulamkan sedemikian rapat, dan siapapun yang menyulamnya -entah hantu entah asap entah dirimu- meninggalkan jarumnya menggantung begitu saja.

Jarum yang akan menusuk aku setiap engkau mengeluarkan satu suara. Suara yang berhubungan dengan Kejatuhan. Suara yang ditajamkan para hantu yang menggasak kepalamu. Suara yang digelapkan asap-asap yang bernama prasangka.

Namun, tahukah engkau, bahwa aku telah menanggung pedih yang lebih, selain suara yang memiliki ujung jarum yang menusuki aku?

Atau suara-suara gelap yang hampir membuatku kehilangan aku, karena tidak mampu kehilangan kamu?

Benar. Aku akan menanggung semuanya hingga habis. Hingga para hantu melepaskan cakar mereka pada ingatanmu. Hingga para asap memudar di dalam kepalamu.

Seperempat Abad Menghidu Udara, Selamat Merayakannya

Tidak seperti kisah kebanyakan yang manis, dan hanya membuat gigimu terkikis, aku menuliskannya dalam gelap yang meraba-raba.

Aku menuliskannya dengan gemetar, karena dari sekian masa yang pernah terhampar, aku memilih masa paling paceklik, paling krisis, masa di mana seperempat perjalananmu meniti usia.

Namun di tahun ke delapan tangan kita bergandengan, terang melingkupi kita dari segala penjuru. Hangat memancar dari orang-perorang-seseorang-banyak orang, mengikat kita dari simpul mati, menjadi simpul sangat mati. Tidak akan terpisah, sekuat apapun ikatan itu hendak diburai.

Aku tersenyum memandang jemari kiriku. Jari manis, tepatnya. Lihatlah ke sana, ke arah jari milikmu. Jari manis sebelah kiri, masihkah para hantu, dan para asap mengerubungimu?

Jika masih, adalah jawabannya, aku tidak akan mengatakan apapun lagi.

“Jangan biarkan mereka mengusikmu. Percayalah pada… .”

Isilah sendiri sesukamu.

Kamar Sepi, 6 Juni 2013,

PS. Aku sengaja menuliskannya di tempat terbuka. Kulengkapi dengan aksara melintang-lintang, tidak terbaca, dan terkunci. Tidak ada yang bisa membaca “aku” seperti kamu. Selamat merayakan kelahiran, Semestaku.

Negeri Oranye

Aku menemukannya dengan tidak sengaja. Almanak itu tergeletak dengan debu yang menutupi permukaan sampulnya yabg terbuat dari kulit berwarna cokelat yang terlihat lusuh, bahkan ujung-ujungnya bolong-bolong, pertanda telah termakan ngengat. Sepertinya ia tergolek bisu di dalam laci ketiga lemari tua peninggalan Mama ini sudah cukup lama. Lama sekali, barangkali. Sejak almarhumah dikebumikan  bertahun yang lalu, aku tidak pernah menjamah kamar beliau. Aku membiarkan kamarnya menjadi museum yang tidak pernah terjamah. Bahkan aku tidak pernah memasukinya sekedar untuk membuka jendelanya. Namun, hari ini terpaksa aku harus membersihkan kamarnya yang terasa angker, karena begitu gelap, pengap, dan dipenuhi debu serta sarang laba-laba akibat bertahun-tahun dalam pembiaran
Begitupun bertahun sebelumnya saat beliau masih bugar, dan bukan merupakan mayat perempuan yang kisut dengan bibir yang tertekuk ke bagian bawah. Astaga, bahkan saat mangkat pun beliau masih terlihat begitu pemarah.

Namun, sepuluh tahun kemudian setelah beliau wafat, aku membuka kenop pintu yang terasa dingin di tanganku. Menyalakan lampu, dan terhenyak. Mama, maaf. Aku menuju ke arah lemari, membukanya. Menemukan pakaian-pakaian Mama yang telah menguning karena jamur, lalu di laci yang letaknya tiga tingkat di bawah tumpukan pakaiannya, rahasia Mama itu menampakkan dirinya. Mama tidak suka lemari yang mengharuskannya menggantung baju-baju, ia memilih lemari dengan tingkap-tingkap kayu sebagai penyekat dan dipenuhi dengan laci-laci yang terkunci. Ada tiga laci, aku menghitung. Satu, kosong. Dua, berisi akte-akte dan surat penting lainnya. Tiga, almanak yang terasa berat.

Ujung-ujung jemariku terasa tersengat listrik saat membuka lembar-lembar halaman almanak yang berbau apak itu, lengkap dengan kertas yang menguning dan terlalu rapuh. Tulisan tangan Mama terlihat bersilang-silang di atas penanggalan yang telah dibuatnya sendiri dengan rapi.

20 Maret 1923.
Jedediah Amzi. Suami yang menyenangkan. Seharusnya aku bahagia.

18 April 1924.
Marie Absalome.
Aku harus memanggilnya istri Jedediah. Ah. Akulah Marie Absalome. Nama yang aneh.

27 Mei 1950.
Miriam Amzi. Anak perempuan pertama. Mata biru lautnya membuat siapa saja ingin berenang di kedalaman matanya.

17 September 1955.
Negeri Oranye. Sungguh sebuah negeri yang membuat lupa siapa saja yang memasukinya.

Dahiku mengerut membaca tulisan tangannya. Sudah lama aku tahu bahwa Mama telah membuat kalendernya sendiri, meskipun aku tidak pernah diijinkan membaca isinya selain lembar pertama seperti yang baru saja kubaca. Kalender Mama hanya berisi tahun-tahun kelahiran orang-orang terdekatnya. Papa menertawai Mama dengan alamanak yang terus menerus dibawanya di dalam tas kulit imitasinya yang berwarna cokelat, sementara Mama yang memang pemarah, hanya akan menekuk bibirnya ke bawah sambil menggerutu. Kedua orang tua itu memang tidak pernah berhenti saling menertawai. Tunggu, Negeri Oranye?

**

Ia merasakan panas yang membakar bola matanya. Jemarinya bergetar saat menggoreskan pena ke buku tebalnya yang bersampul kulit. Banyak penanggalan yang telah ia tuliskan di sini. Kelahiran suaminya, kelahiran dirinya sendiri, kelahiran putrinya, dan kemunculan sebuah negeri yang ingin benar ia tinggal di dalamnya.

Sore itu matahari berwarna jeruk, berwarna oranye, terang sekaligus hangat. Ia memeluk dadanya yang ringkih, mengawasi putrinya yang baru berusia lima tahun, yang sedang mengejar kelinci di halamannya yang berumput. Ranting-ranting pohon oak yang menghitam membentuk cakar, menjulang dengan latar belakang langit yang oranye. Ia merasakan matanya panas, dan berair. Ia melihat lengkung cakar di ranting pohon, lalu awan membentuk segurat wajah yang muram, namun langit sangat cerah. Ia merasakan ada yang ingin disampaikan semesta kepadanya. Darah di dalam dirinya bergolak, sesuatu yang telah lama dikurungnya melesak, membuncah, menuntut keluar.

Tanpa berpikir ia melangkahkan kedua kakinya yang putih, mengindahkan bahwa ia sedang bertelanjang kaki, dan keliman di ujung gaun birunya mulai ternoda lumpur di jalanan yang masih berupa tanah lumpur.

Miriam. Masuk. Tunggu mama di dalam.

Gadisnya menoleh dengan pandangan ingin tahu, kaki-kali kecilnya bersiap berlari untuk mengejarnya yang sudah berada di luar pagar.

Miriam. Masuk!

Gadis kecil itu hanya menatap dengan pandangan ingin tahu, namun perintah ibunya membuatnya menjadi kerdil, ia pun berlari, lalu membanting pintu. Tanpa menoleh ke arah ibunya yang telah kembali berjalan seperti orang linglung.

Perempuan itu menelengkan kepalanya, menangkap suara-suara yang bergema di dalam kepalanya. Sementara langit berangsur memadamkan warna oranye yang hangat, perlahan menggantinya dengan hitam yang menyepuh semua warna menjadi abu-abu.

Ia merasa sangat aneh, bahwa sore tidak terasa seperti biasanya, dan malam lebih dingin daripada seharusnya. Ia melihat banyak yang bergerak di bawah bayang-bayang pohon palem, ada yang melata di atas batang akasia, dan jalan lumpur yang mengotori keliman gaunnya terasa semakin membenamkan kakinya.

Aneh.

Seharusnya jalanan tidak terasa lembek karena mataharu musim panas mengeringkan air di dalam lumpur.

Aneh.

Aneh.

Ia terus berjalan, dengan riuh yang hampir memekakkan kedua telinganya, hatinya terus bertanya-tanya. Sudah lama kepalaku sepi. Mengapa hari ini muncul riuh di dalam sini. Mengapa sore ini intuisi muncul kembali.

Ia mencengkeram erat almanak yang masih dipegangnya, dan penanya telah lama terjatuh. Entah.

**

20 Maret 1923 – 20 Sep 1955.
Requiem in Peace. Jedediah Amzi.

Negeri itu hanya berwarna oranye jeruk, serupa sore yang aneh saat intusiku kembali berteriak. Untuk pertama kalinya aku berteriak kepada Miriam, gadis kecil yang malang. Kedua kakiku terasa kisut akibat terendam lumpur begitu lama. Sore yang aneh. Sangat aneh. Lebih aneh karena tepat tiga hari selanjutnya Jedediah meninggal. Dia hanya.. meninggal begitu saja. Negeri Oranye, ah Negeri Oranye!

Aku masih bisa membayangkan aroma kamperfuli yang menyenangkan berpadu dengan aroma lembut verbenna di Negeri Oranye. Dan sore itu aroma madu bercampur susu dari kue-kue madeleine mengambang di udara. Surga yang menyenangkan. Surga yang entah… .

Mama menyukai aroma kamperfuli, dan mengoleksi ratusan pot verbenna di bawah jendela kamarnya. Ingatanku menerawang, sudah lama ia tidak memasak kue madeline, seketika harum madu bercampur susu mengambang di kamar yang pengap itu. Aku menarik kait jendelanya yang terbuat dari kayu, membiarkan udara masuk dan mengusir segala macam aroma masa lalu yang selalu membuatku tersengat. Almanak Mama lebih dari sekedar penanggalan, lebih dari sekedar yang ia ceritakan padaku saat aku bertanya.

Mama, ceritakan padaku lagi, semuanya.

Sore itu langit berwarna oranye jeruk, harum madu bercampur susu lamat-lamat mengambang, bercampur aroma verbenna yang telah lama kering dan busuk di bawah lengkung jendelanya.

**

Berhati-hatilah karena hidup bisa sangat kejam. Ia menggoreskan penanya ke atas almanaknya yang bersamlul kulit. Ia berkeras bahwa buku yang selalu dibawanya adalah sebuah jurnal kejadian. Bukan berupa diary yang berisi keluh-kesah segala sesuatu seperti perempuan tua. Ia melirik suaminya yang tampak kekenyangan di kursi makan, saus mentega masih meninggalkan jejak di bibirnya hingga membuatnya berkilat. Putri mereka mendengkur halus di sofa bundar tak jauh dari tempatnya menulis.

Masakanmu enak, Marie. Sayang Miriam masih terlalu kecil untuk bisa mengunyah daging kalkun saus mentegamu yang terasa alot.

Perempuan itu hanya mendongak sekilas dari almanaknya, lalu tersenyum. Namun ia menggeleng saat Jedediah memberinya isyarat untuk mengikutinya ke arah kamar.

Marie, ayolah.

Perempuan itu menggeleng. Lalu ia beranjak untuk menggendong Miriam di satu lengannya, lengan lainnya memeluk almanaknya yang berharga.

Tidurlah, Jedediah. Aku akan menemani Miriam.

Laki-laki itu menggelengkan kepalanya yang berambut sewarna tembaga lalu menggumam.

Kau lebih sayang almanakmu rupanya.

Marie Absalome menutup pintu kamar Miriam perlahan. Sepelan ia menutup pintu hatinya kepada Jedediah.

**
1 Juli 1950.
Suara-suara.

Perempuan itu bodoh, laki-laki itu berujar kepada satu rekannya di bar murahan di ujung jalan. Wajahnya memerah dan titik-titik keringat bermain di dahinya.

Bodoh, karena ia melahirkan perempuan lainnya yang pasti juga sama bodoh dengannya.

Tapi bukankah sama saja perempuan dan laki-laki. Rekannya yang ternyata perempuan itu menanggapi dengan mata yang berkedip licik. Perempuan yang itu mengenakan celana panjang ketat yang tidak pantas dan atasan dengan belahan dada yang terlalu rendah.

Kau tidak mengerti adat bangsawan, ya? Harus ada anak laki-laki di dalam sebuah keluarga.

Laki-laki itu kembali menenggak rum yang berbuih di gelasnya dengan pandangan yang tidak beralih dari wajah rekannya. Lalu satu tangannya merambat di tubuh rekannya yang perempuan yang tidak pantas itu. Dari paha. Lalu naik ke pangkal paha. Menggeseknya pelan. Lalu ke atas perut, mengusapnya. Kemudian dada. Meremasnya.

Buih di dalam rum itu berpindah ke dalam kepalaku. Mendidihkannya. Bar terkutuk. Laki-laki bajingan.

18 April 1951.
Kelahiran yang berulang.

Selamat berulang tahun yang ke dua puluh tujuh.

Suaminya membelikannya sebuah pot berisi verbenna, sama seperti tahun-tahun yang sebelumnya. Ditambah dengan pelukan yang segarusnya sama hangat, namun ciumannya kini terasa anyir berbau kebohongan.

Kenapa kau tidak tersenyum, Marie? Ini ulang tahunmu bukan? Kita rayakan dengan.. misalnya.. hmm.. bagaimana dengan memanggang kue? Madeleine? Kita berdua menyukai kue madu itu.

Perempuan itu menggeleng.

Bukannya aku bodoh karena melahirkan anak perempuan yang juga akan menjadi bodoh seperti aku?

Astaga dari mana kau bisa berpikiran seperti itu?

Suara suaminya terasa menusuk kedua lubang di telinganya. Mrnghunjam bebas ke dalam hatinya.

Aku mendamba anak lelaki, benar. Kita bisa mencobanya, bukan?

Lalu senyum lelaki itu mengembang, membuat perempuan itu ingat pada matahari sore, yang membuatnya jatuh cinta pada lelaki yang memiliki hangat yang sama.

Perempuan itu bodoh. Buih-buih rum yang mendidihkan kepalanya lesap saat kedua tangan kekar itu mengusap tubuhnya.

Hangat. Ia merasa hangat.

**

Mataku tidak berhenti berair dan ujung jariku serasa teraliri listrik saat menyentuhnya. Ruangan masih dipenuhi aroma madu dan susu. Aku kembali menggali dalam benak, seingatku mama hanya berbau kamper dan memasang muka muram sepanjang hari. Madu dan susu sempat tercium dari tubuhnya kala ia bahagia. Atau setelah ia memanggang Madeline. Aktivitas yang tidak pernah dilakukannya lagi semenjak… Ah! Semenjak ia membentakku, dan berjalan dengan linglung pada saat usiaku lima tahun.

Aroma madu dan susu semakin pekat, matahari menggantung seperti jeruk. Bundar, dan oranye. Ranting-ranting oak tua yang terlihat dari jendela kamar terlihat seperti cakar. Ada wajah yang muram di dalam awan. Langit berwarna oranye terang. Cakar ranting oak terlihat hitam, mengancam. Aku melompati jendela, menggenggam almanak, mendekapnya. Berkali-kali kakiku terantuk batu-batu di halaman berumput yang kasar. Jalanan sudah berupa aspal yang terasa keras di kakiku yang telanjang. Udara sarat aroma masa lalu. Berat. Sangat berat. Aku bisa melihat diriku berusia lima tahun sedang melompat-lompat mengejar kelinci. Dan aku melihat Mama dengan rambut hitam yang berkibar dan gaun yang keliman di ujungnya terkena noda lumpur. Ia berjalan dengan linglung. Menengadah, menengok ke kanan lalu ke kiri. Lalu kembali ke kanan. Lalu ia berjalan lurus.

Almanaknya terjatuh. Angin membuka lembarannya. Mataku terpaku.

17 September 1955.
Negeri Oranye

Perempuan itu tiba di sebuah negeri berwarna oranye setelah pekat membutakan matanya. Kedua kakinya terasa kisut karena terendam lumpur. Ia tidaj tahu sudah berjalan seberapa lama. Intuisinya hanya menuntutnya untuk terus bergerak. Sementara bayangan-bayangan terus menggeliat-geliat di bawah pancaran mulam rembulan.

Negeri itu hanya berupa sebuah padang dengab banyak lentera yang tersangkut di dahan-dahan. Bahkan bulan yang biasanya angkuh kepucatan terlihat begitu semarak dan hangat. Ia menari-nari, berputar dari satu pohon ke pohon lain. Menyentuh batangnya yang empuk, dan dengan iseng menjilatnya. Rasa madu memenuhi rongga mulutnya membuatnya terbelalak.

Oh sungguh negeri yang menyenangkan. Bolehkah aku mengajak seseorang?

Ia mendengarkan dengan takzim dan tidak ada yang menyahuti suaranya.

Ia menjawili lentera-lentera yang memancar cahaya oranye lembut. Sudah sejak lama ia menyukai warna oranye. Senja. Jeruk. Madu. Kue madeline.

Ia merasa kembali ke kanak-kanaknya yang terasa surga. Saat sore, selalu, ayahnya yang mencangklong pipa tembakau di bibirnya akan mendongengkannya tentang raja-raja, dan ibunya yang bertahi lalat di bawah bibir membuatkan mereka sekeranjang kue madeline yang hangat. Sorenya selalu hangat. Sorenya selalu bahagia.

Di sebuah sore yang hangat, ia juga bertemu Jedediah Amzi. Lelaki berlesung pipi yang hangat seperti matahari oranye di senja yang tidak pernah buruk.

Ia teringat Jedediah. Suaminya yang penyayang. Namun sesuatu mencubit hatinya, membuatnya berhenti menari dan mencelup jemarinya ke dalam pohon-pohon madu. Sesuatu itu mengepak di dalam hatinya. Intuisi yang selama ini disingkirkannya hingga hanya menjadi sebuah ilusi.

Di negeri oranye yang penuh lentera itu ia mendengar mendiang ibunya.

Marie, kita para perempuan Absalome terlahir dengan bakat bisa mengetahui isi hati. Kau akan selalu menemukannya jika ada yang menutupi.

Lalu negeri itu terjungkir balik. Ia terhisap ke dalam kumparan pekat yang menyesakkan dadanya. Malam kembali kelam dan abu-abu membutakan mata.

Di ujung jalan yang entah di mana, ia melihay sesosok bocah laki-laki mendengkur di dalam gendongan Jedediah. Dan perempuan yang tidak pantas itu meringkik di samping suaminya.

Mama. Kau bilang papa terkena serangan jantung? Mungkin malam saat aku mendengar kalian saling berteriak itu, kau mengatakan bahwa kau tahu?

Mama, bisakah kau percaya? Aku tiba di sebuah negeri oranye dengan bulan bersinar semarak dan lentera tergantung di dahan-dahan?

Aku melangkah, negeri itu berpendar oranye. Kayu-kayunya menguarkan aroma madu.

Kita perempuan-perempuan Absalome terlahir dengan bakat bisa mengetahui isi hati.

Suara itu terasa kering, seakan terpahat di udara yang terus mengambang aroma pekat madeline.

Lalu negeri itu terjungkir. Kakiku tergores-gores tanpa alas.

Malam kembali menyepuhkan abu-abu yang berbayang-bayang. Di sudut bar murahan, sesosok laki-laki mendengkur puas di atas dada perempuan yang tidak pantas.

Di kaki langit yang tidak memiliki warna selain kelam, ada sesosok perempuan. Di tangannya tergenggam sebuah jarum, dan segumpal benang telah ia hamparkan.

Di tangannya yang lain, sebuah gunting telah ia gerakkan, lalu terpotonglah kelopak itu. Kelopak yang seharusnya memekarkan kembang, memabukkan kumbang. Lalu terbukalah, tanpa penghalang suatu apa, sebuah pusat yang berbinar –dulunya.

Sepasang mata, ia berujar lirih, sepasang mata, terbukalah kini engkau.

Ia hirau akan pekat yang memerciki tubuhnya dengan anyir yang amis. Ia membendung badai yang bersiap menelannya, menguncinya di pangkal leher.

Sesungguhnya kesedihan tidaklah berarti apa-apa. Begitulah ia menggumamkan himnenya ketika gunting di tangannya memecah hening dengan suara melenting. Tangannya tidak bergetar saat mengumpulkan potongan-potongan kelopaknya yang terserak di lantai.

Namun hatinya remuk.

Hatinya remuk.

*

Jarum telah tergenggam di tangan kirinya, dan segulung benang telah ia hamparkan menutupi separuh lantainya.

Aku akan mulai menjahit.

Menjahit apa saja yang telah terbuka.

Ia mulai dengan katup yang bisa membuka – menutup – dan bersuara di wajahnya. Lalu ia menyasar lubang-lubang di tubuhnya.

Kepala. Dada. Selangkangan.

Kepala. Dada. Selangkangan.

Ia menusukkannya pelan-pelan. Menjahitnya rapat-rapat hingga lekat.

Badai hampir mencapai matanya. Mata yang kini terasa perih, karena tidak lagi mengenal gelap yang menentramkan. Ia tertawa melihat serpih-serpih kelopaknya.

Ini aku. Ini mataku. Ini tubuhku.

Sanggupkah kamu mengenalinya?

Perempuan Api

Sesuatu itu menggeliat dari dalam dada, merayap -merambat, perlahan namun pasti. Menghanguskan setiap yang dilewatinya. Dari dada hingga ke mata kaki. Dari dada hingga ke kepala. Meluluh-lantakkan segala rasa. Membakar logika. Membuat kepayang -lalu lupa. Sesuatu itu hanya meninggalkan sejumput arang yang kemudian mengabu di dada, membuatku mati rasa. Sesuatu itu… .

Ah, aku harus menceritakan padamu semuanya, terlebih dulu.  

Seperti dongeng, semuanya berawal dari suatu ketika. Ketika yang menandai suatu masa, ketika yang -entah, ditandai dengan angka-angka yang menjadi penanda. Waktu. Namun, kutegaskan padamu, dari aku yang telah kehilangan bentuk, makna, serta rasa, sehingga sebuah masa menjadi tidak terlalu penting untuk diingat kapan persisnya.

Sesuatu itu telah membakar segala penanda yang membuatku terikat dengan dunia. Aku melupakan sebutan angka penanda yang menyebutkan masa ketika itu.  Ketika itu, aku masih utuh. Belum tergenapi. Dan aku naif. Sangat naif.

Aku percaya aku adalah bagian dari semesta. Hamba dari semesta. Ketika itu adalah masa sebelum aku mengenal Ular. Benar, Ular adalah elemen lain dalam dongeng yang hendak kusampaikan kali ini. Bukan sebuah dongeng yang indah yang hendak kuceritakan, yang membuatmu terhanyut, hingga kau bersumpah ingin menjadi salah satu tokoh di dalamnya.

Namun, kisah ini hanya berupa sebuah dongeng penuh omong kosong yang mengubah Perempuan menjadi Penyihir Keji.  

Pada masa itu, aku bertemu dengan Ular, mungkin hanya berupa kebetulan. Mungkin memang jalan nasib yang tergenapi sendiri. Aku pada awalnya menanggapi derik -desisan Ular itu dengan setengah hati. Ia melata, bersisik, serta meninggalkan jejak meliuk-liuk di atas pasir. Jejak-jejak itu secara lantang mengungkapkan makna yang ingin ditinggalkan Sang Ular.  

“Ikuti, jika kau ingin mengetahui.”  

Sudah kukatakan bahwa saat itu aku naif bukan? Maka, aku dengan segala keingintahuan yang mungkin bersumber dari neraka itu sendiri, mulai melangkahkan kedua kaki bodohku, mengikuti jejak yang berulir-ulir itu. Jejak yang selalu abadi di atas pasir. Angin dan hujan tidak akan mampu menghapus jejak itu, Ular telah memantrainya, agar para manusia -aku, terpikat, dan mengikutinya. Terbukti, aku yang awalnya hanya ingin mengetahui, tergerak untuk mengikuti, kemudian menjadi abdi. Di dalam perjalananku mengikuti, aku berulang kali tersesat, menemukan, lalu kemudian tersesat sama sekali.  

Ular itu mendesis ke arahku, dan ia memberiku sebuah terang. Terang yang awalnya menyejukkan. Ia menjumputnya dari binar benderang matahari, lalu meletakkannya di dadaku. Saat aku tidak bisa menemukan ulir-uliran bekas badannya di jalan -entah pasir entah tanah, suaranya yang serak dan kering menyala di dalam kepalaku.  

“Nyalakan terang di dalammu. Engkau akau menemukan aku.”  

Namun aku melupakan bait lain dalam syair yang ia tinggalkan di kepalaku. Akibatnya, aku terbakar dalam jeda hening yang panjang. Aku terbakar, sesat, dan kegelapan semesta mengutukku hingga akhir -yang entah kapan.  

**

Ular memanggilku Perempuan Api, setelah meletakkan berkat -atau justru kutukan itu, di dalam dadaku. Berkat yang berupa terang dari benderang matahari. Kemudian setelah memberikannya, ia menghilang. Aku curiga ia lebur -luluh di kedalamanku, karena sesekali aku bisa mendengar suaranya yang kering di dalam kepalaku. Ia hanya akan muncul sesekali, saat aku menyalakan terang di dada, lalu meninggalkan goresan-goresan jejak berikutnya yang harus kuikuti.  

Aku berjalan dengan hati yang terus menyala-nyala, mencari satu jejak ke jejak berikutnya. Di dalam perjalananku, aku menemukan beberapa persinggahan. Persinggahan satu dengan yang lainnya tidak pernah berbeda. Semuanya memiliki pemantik yang dengan segera bisa menyalakan terang di dalam dada. Terang yang kemudian tak terkendali. Menjadi kobaran api yang hanya menyisakan abu pada akhirnya.

Aku tidak pernah tersadar, terang -sejumput api yang diberikan ular itu, kelak akan mengubahku menjadi sesuatu yang asing, menjadi penyihir. Penyihir yang bisa membakar apa saja yang dilewatinya, penyihir yang hanya meninggalkan Pencobaan  bagi yang disinggahinya.  

“Ikutilah iramaku, menari, dan terbakarlah bersamaku.”  

Syair bait itulah yang menjadi umpan di mata kail yang purba -ucapan manis dengan tubuh yang molek. Kemudian, persinggahan-persinggahan itu datang silih berganti kepadaku. Memagut, menelanjangi, meningkahi, saling silang. Membujur. Menjungkir balik. Tubuh koyak. Badan tercabik. Bibir berdarah. Bintang-bintang meledak. Dada berkobar. Nikmat. Nikmat yang entah.  

“Mari datang, cicipi aku. Akulah anggur di dasar cawanmu. Akulah perempuan, dengan api yang takkan pernah padam untuk membakar gelora di hatimu.”  

Aku tidak pernah menghitung berapa banyak yang telah singgah di badanku. Atau berapa banyak badan yang kusinggahi. Aku hanya tahu, Ular itu meninggalkan jejak-jejak di tempat-tempat yang kudatangi. Dan semuanya memiliki pemantik api. Semuanya mengobarkan terang di dada, semuanya bisa membakar logika. Kemudian aku mendengar Ular bersorak dari dalam kepala.  
“Nyalakan terang, nyalakan terang di dada. Engkau akan menemukan aku.”  

**

Aku tidak akan melupakan daging mereka yang setengah membusuk, saat kutinggalkan  Percobaan pada mereka. Mereka -para persinggahan itu, akan memohon kepadaku. Menyembah. Bersujud. Menekuk muka mereka untuk mencium bumi yang kujejaki. Memohon pengampunan. Pembebasan.

Mereka membutuhkan api, agar terang ikut menyala di dada mereka. Mereka mengatakan mereka telah lama mati. Mereka mengisahkan, bahwa aku datang lalu menyihir mereka hingga bangkit lagi. Mereka lelaki. Beberapa perempuan. Beberapa bukan keduanya. Dan mereka semua mencintai terang -panas nyala api, yang kupelihara dari berkah Sang Ular.  

Pada masa itu, bukan saja aku telah tergenapi. Aku bukan perawan suci, namun tetap terberkahi. Api menyala terang di kepala. Membuat setiap yang memandang ingin lebur -mengabu bersamaku. Menari bersamaku. Meliat. Melata hingga luluh lantak. Mereka semua memuja, sementara aku mendesis dan mulai berbisa.  

Kemudian aku sadar sepenuhnya bahwa aku telah menjadi Penyihir.

Aku mulai bisa mengatur semesta. Aku bisa mengirim hujan -badai di setiap mata yang kusinggahi. Aku bisa mencipta kemarau di hati mereka yang kosong. Aku bisa menghidupkan – mematikan – menghidupkan – lalu membunuhnya berkali-kali. Semudah menekan klik-klik-klik pada saklar lampu.  

Akulah Penyihir.

Mengendalikan semesta. Menjadi pusat gravitasi. Menarik mereka untuk berotasi, mengelilingi aku. Akulah matahari. Akulah pemilik segala terang, panas, dan api. Segala yang berdekatan denganku akan merasakan gelora tiada tara, panas -menghebat, lalu luluh lantak! Mengabu! Yang tersisa hanya residu pembakaran.
Aku tertawa.

Memberikan Pencobaan, membebaskan Pengampunan. Dan aku terus menari, satu-satunya yang kulihat hanyalah merah. Api. Akulah merah. Akulah api. Ular tidak terlihat, namun jejak-jejak itu masih menyala di kepala.  

Kemudian. Masa itu datang.  

**

Ular mewujud kembali. Setengah berbisik, ia menelisik. Ragaku sempurna. Tawaku lengkung pelangi. Api masih menyala di dada. Namun, kemudian Ular hanya bertanya.  

“Siapa namamu?”  

Suaraku hanya tinggal tergelincir dari lidahku. Kata itu hendak melompat keluar. Namun kemudian aku lupa. Aku pernah ingat ia memanggilku Perempuan Api. Kemudian mereka memanggilku Penyihir. Namun aku tetap saja tidak bisa mengingat.  

Siapa namaku?  

Aku menyentuh Ular. Wujudnya sedingin es. Permukaannya semulus porselen. Wujudnya sedatar bidang persegi. Api berkobar di tubuhnya. Di dadanya sebentuk lubang meghitam, menyala-nyala. Sebentuk daging menghitam, berkerut, berubah menjadi arang. Sepersekian detik kemudian aku tersadar. Api itu memakan hati! Menyerakkannya menjadi abu! Aku menatap matanya yang ganjil, dengan api yang masih berkobar. Api itu menyala dengan aneh, api yang berkobar di mata itu mewujud sosok yang kukenali, dan ular menggeliat di dalamnya. Aku.  

Ular itu menggeliat di dalam aku.  

Siapa aku?   Kemudian Ular itu pecah. Berserakan. Pecahannya mengenai buku jariku. Pecahannya tersangkut di kakiku.  

“Nyalakan terang di dalammu. Engkau akan menemukan aku.  
Nyalakan terang di dalammu, api itulah aku..”

Ramalan, Mimpi, dan Pertanda

Pemuda itu mengernyitkan dahinya saat memasuki tenda yang kugelar di pasar malam. Penampilannya kontras dengan apa yang ada di bilikku, seperti pemuda modern yang tersesat di dalam bilik takhyul. Aku mengawasi kedua matanya yang bulat, hitam, bergerak liar ke penjuru ruangan bongkar pasang yang menjadi rumah keduaku.

“Saya hanya ingin tahu jodoh saya.”

Ia berujar sambil beringsut mendekatiku, kemudian duduk di bantal bundar berwarna ungu yang memang sengaja kuletakkan sebagai alas duduk para tamu.  Aku menyilangkan kaki, kemudian mulai mengaduk teh di dalam cangkir keramik. Gelang-gelangku bergemerincing sesuai dengan gerakan yang kulakukan, aku melihatnya mengawasiku.

Ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak nyaman. Nyata di dalam matanya keingintahuan yang besar terpancar, namun di detik yang sama, kilau keraguan berpendar-pendar di sana.  Ia terlalu muda dan tampan untuk percaya ramalan. Pandanganku berlaih ke  dalam pola-pola dari cangkir teh yang telah kubalikkan. Daun-daun teh yang mengering itu menceritakan tabir takdir yang akan mengikuti sang pemuda.

Aku menatap daun-daun itu dengan cermat, mendengarkan bisik-bisik lirih yang mendesis dari dalam cangkir. Dari sudut mataku, aku melihat tamuku bergerak-gerak dalam duduknya. Penasaran.  

“Apa yang anda lihat?”  

Aku menggerakkan jariku ke arahnya, mengisyaratkannya untuk sabar sebentar. Konsentrasiku tidak boleh terpecah. Suara-suara lirih itu tidak boleh terusik oleh interupsi apapun. Ia mengedikkan bahunya dengan tidak sabaran.

“Agak aneh. Aku tidak melihat adanya visi tentang pasangan anda dalam waktu dekat ini.”

Aku berujar kemudian setelah jeda beberapa lama. Ia mengernyit ke arahku, tatapannya bingung bercampur tidak percaya.  

“Memangnya apa yang kurang dariku?”

Tuntutnya masam. Aku berjuang menahan tawa, justru karena dia terlihat terlalu sempurna. Sebagai balasannya aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tahu apa-apa.

Daun tehku tidak menggambarkan apa-apa, suara-suara di cangkirku juga tidak bercerita apa-apa.

Ia bangkit dengan muram, meninggalkan sejumlah uang di meja kaca, dan berkata dengan muram.  

“Bahkan kakekku yang pembaca tarot juga hanya bisa berteka-teki tentang jodohku.”  

Dalam nyaring suaraku sendiri di kepalaku, aku menjawabnya.  

Mungkin anda harus berhenti mendatangi para peramal dan mulai mencari sendiri perempuan itu.

Sedetik kemudian, aku melongokkan kepalaku kembali ke dalam cangkir keramik. Sebuah desiran yang aneh menuntut kepalaku untuk melihatnya sekali lagi. Di dasar cangkir, sesuatu terpampang, bentuk yang tidak kulihat sebelumnya. Sesuatu yang terbentuk dari sisa-sisa lembar daun teh yang tertinggal. Bentuknya menyerupai mawar.

**  

Aku menyesap coklat yang sengaja kupesan untuk mengusir penat. Di luar tenda, semua kabut mistik menyingkap hilang, kehidupan terasa normal dan menyenangkan. Di dalam sana, segalanya begitu misterius dan memualkan. Kebanyakan hanya terdengar desisan suara dan potongan-potongan gambar yang bergerak terlalu cepat sehingga sulit kutangkap maknanya.  

Gambar mawar di dalam dasar cangkir keramik itu sungguh-sungguh mengusik pikiranku. Sulit kuuraikan menjadi sebuah pertanda, atau visi masa depan. Tentang apapun. Sebuah geletar yang aneh membanjiri tubuhku. Belum pernah aku merasa serisau ini.

Gambar di dalam cangkir itu seakan mengisyaratkan, bukan hanya takdir pemuda itu yang sedang kuterawang, melainkan aku akan ikut tersulam bersamanya. Sungguh perasaan yang aneh. Dan sedikit menakutkan.

Aku jarang sekali menangkap gambaran masa depan milikku sendiri. Semua yang kubaca -melalui garis tangan, kartu tarot, atau daun teh- hanya sebatas permintaan pelanggan yang membayarku untuk melakukannya. Kemampuanku hanya berlaku bagi orang lain.   Aku tidak pernah bisa membaca nasibku sendiri.  

Mataku menangkap barisan penjual di pasar malam mulai menyemut untuk merapikan dagangan mereka, bersiap meninggalkan tenda-tenda mereka. Aku masih enggan beranjak. Tidak ada apa-apa yang menungguku pulang. Tidak ada siapa-siapa yang akan kutemui di rumah.

Aku kembali menyejajarkan kakiku, duduk tanpa alas di rumput lapangan yang terasa tajam menggores-gores kaki. Cokelat panas yang kubeli dari stand di ujung tendaku menguarkan aroma yang menyenangkan. Aku menyesapnya, dan kembali mencoba menguraikan semua pertanda.  

Gambaran-gambaran itu kembali berkelebat. Ah! Aku melihat pemuda itu duduk bersama kakeknya, berdebat mengenai apa yang dilihat lelaki tua itu di antara tumpukan tarot yang tersebar di mejanya. Suara kakeknya berulang-ulang menggemakan tentang mawar. Aku kembali terkesiap. Gambaran itu berarti masa lalu!

Aku tidak bisa melihat masa lalu.. atau setidaknya aku merasa begitu. Belum pernah aku merasa perlu untuk mengawasi masa lalu seseorang. Bagi kebanyakan orang, masa depan adalah yang terpenting.  

“Boleh saya duduk di sini?”

Suara itu membuat jantungku berhenti. Kemudian berdenyut dengan lebih cepat. Gelagapan. Dengan tolol, aku hanya bisa mengangguk dan beringsut memberikan ruang pada sosok yang tiba-tiba menjulang di depanku.  

“Kupikir anda tidak akan kembali ke sini.”

Gumamku saat ia mendudukkan dirinya di sebelahku. Aroma musk  segar memenuhi rongga penciumanku, membuatku tergelitik.   Ia benar-benar pemuda modern yang tersesat di dunia takhyul.  

“Namaku Jess.”

Sebuah tato salib di pergelangan tangannya menyembul saat ia mengulurkan tangannya padaku. Aku terpaku sesaat sebelum menyambut tangannya, melihat uliran mawar di sekitar lengkung salibnya yang berwarna ungu. Mawar itu muncul lagi.  

Pertanda macam apa ini? Seminggu yang lalu, ia muncul dan menyisakan tanda mawar di cangkirku, kemudian ia datang dan menampakkan gambar mawar di pergelangannya?

“Jadi namamu?”

Desaknya mendapatiku melamun melihat gambar di tangannya.  

“Ross.”

Sahutku pendek.  

“Aneh.” Ucapnya menyahut perkenalan kami, dan ia tidak juga melepaskan genggamannya. Gelenyar aneh merambati tubuhku. Getaran ini sudah lama tidak kurasakan… .

“Aku yakin kamu adalah jodohku.”

Suaranya bergemerincing menyapu telingaku. Sengatan listrik menyentakku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Namun anehnya terasa menyenangkan, membuat perutku tergelitik. Ia membelai-belai wajahku dengan lembut, menyenandungkan melodi lagu cinta yang tidak kukenali.

Aku membeku di tempat tidurku, mendapati wajahnya yang berbayang-bayang, sulit untuk menangkap rupanya. Namun jauh di dalam hati, aku yakin pria tanpa wajah yang sedang merengkuhku ini adalah pasangan yang memang diciptakan untukku.  

“Bagaimana mungkin, sedangkan aku bahkan tidak bisa melihat wajahmu.”

Tukasku menepiskan lengannya yang masih memeluk tubuhku. Kami berbaring berdampingan, cahaya bersinar-sinar di wajahnya. Membutakan mataku.  

“Ada masanya saat kita akan bertemu. Lihatlah pertanda-pertanda di sekitarmu.”  

Kemudian mimpiku lenyap. Aku terbangun bersimbah peluh dan gemetaran.

Itulah satu-satunya gambaran yang kutangkap untuk diriku sendiri. Jauh beberapa tahun yang lalu saat aku masih berusia dua belas tahun. Saat aku masih memiliki keluarga yang menerimaku. Jauh sebelum visiku menghancurkan keluargaku sendiri.  

Jauh sebelum orangtuaku mengusirku karena dianggap penyihir, serta pembawa sial hanya karena bisa melihat masa depan. Karena bisa melihat kebakaran itu merenggut hampir separuh keluarga. Nenek, kakek, adikku yang masih bayi.. Bukan berarti aku tidak memperingati mereka, namun m

ereka menganggap visikulah yang menyebabkan semua petaka..   Aku menggelengkan kepalaku, mengusir kenangan yang mendadak membanjir, menyakitkan rasanya melihat kedua mata orangtua itu membelalak -penuh air mata dan kebencian- saat mengusirku. Lima tahun ini aku menyendiri, menjauh, mengabaikan permintaan maaf mereka untuk merengkuhku kembali.

Sejak saat itu, aku memfokuskan diri untuk melihat sesuatu hanya saat diminta. Dan mengabaikan gambaran-gambaran lain yang singgah di kepalaku. Terutama gambaran tentang kedua orangtua itu. Ayah.. Ibu.. Perasaan rindu yang aneh berpusar menyelimutiku.  

“Melamun?”

Suaranya menyeretku ke masa sekarang, dan tangan kami masih bertautan. Aku menggeleng tanpa suara, tanpa berupaya menarik tanganku kembali dari jemarinya. Rasa hangat masih merambati diriku. Barulah aku tersadar, suaranya mirip betul dengan lelaki yang memelukku di dalam mimpi itu.  

“Rasanya sangat aneh.”

Bisikku kemudian. Ia menatapku dengan kedua manik mata hitamnya, rasanya tubuhku terpaku di tempat. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas.  

“Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya. Merasakanmu, lebih tepatnya. Saat itu, aku hanya bisa mendengar suaramu. Kemudian aku bisa melihat perdebatanmu dengan kakekmu. Sungguh aneh, aku tidak bisa melihat masa lalu. Entahlah.”  

Ia mengangguk. Masih belum melepaskan genggamannya di tanganku. Kedua matanya masih menancap di mataku. Dunia sedang terjungkir balik. Kilas kelebatan gambar-gambar memenuhi kepalaku. Bahkan sekarang aku kembali bisa mengawasi masa depan tanpa konsentrasi berarti. Tanpa tarot. Tanpa garis tangan. Tanpa daun teh. Segalanya terasa memusingkan.

Seperti melihat film bisu yang bergerak kabur. Kebanyakan hanya tentang dia dan seorang perempuan yang berada di rengkuhannya. Persis seperti mimpiku saat itu.  

“Aku juga merasa aneh. Aku juga pernah memimpikanmu jauh sebelum saat ini. Kau tahu, kakekku juga bisa membaca masa depan. Ia berkata, jodohku akan datang dengan sendirinya. Ha! Tidak heran, setiap hubunganku dengan wanita, selalu berakhir dengan tiba-tiba di tengah jalan. Kupikir kakek tua itulah yang menyebabkannya. Entah apa ini ada hubungannya denganmu. Tapi ia menyuruhku mencari pertanda.”  

“Sudah lama sekali aku mencari perempuan ini -dengan segala omong kosong kakekku- yang diceritakannya memang ditakdirkan untukku. Yang akan menggenapi rusukku. Yang akan merawatku hingga mati.”  

Ia menelisik wajahku, kemudian memainkan jemariku.  

“Kupikir.. kupikir mungkin kamulah perempuan itu.”  

Ia berujar kemudian, malu-malu. Aku terbahak. Konyol sekali rasanya, percaya pada ramalan, takhyul, dan hal-hal mistik macam itu. Bahkan kami belum saling mengenal, tapi geletar aneh saat ia menyentuh, menatap dan berbicara melalui suaranya yang bergemerincing, benar-benar memasung hati dan pikiranku dalam sekejap.  

“Namamu Ross. Mawar, bukan? Dan aku memang sengaja mengukir mawar di tanganku. Kakekku yang mewanti-wanti aku harus mencari pertanda tentang mawar..”  

“Aku juga melihat mawar di cangkirmu, saat kau datang..”

Bisikku lirih, tidak berani mengangkat wajahku yang merah padam. Aku belum pernah jatuh cinta.  

Ia terpana, menjatuhkan tanganku dari genggamannya. Kemudian ia memungutnya lagi dengan kedua belah tangan. Hangat. Hangat sekali.  
“Kenapa kau tidak mengatakannya?”

Bisiknya di telingaku.  

“Aku melihatnya saat kau sudah beranjak dari tendaku.”  

“Sulit dijelaskan, tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta saat pertama melihatmu.”

Bisiknya lagi. Membuatku mematung.  

“Tapi hanya karena pertanda lalu kita bisa jatuh cinta?”

Usikku, kemudian menempelkan kepalaku di kepalanya.  

“Pertanda itu sudah ada bertahun yang lalu, kita hanya belum saling menemukan.”

Kemudian ia mengecup bibirku. Rasanya ada ribuan permen coklat meleleh di sana.  

“Menemukan hanya perkara waktu, dan kita sudah saling memiliki, jauh sebelum bertemu..”