SONJA

Sejak dulu, perempuan ditakdirkan untuk menjadi makhluk yang kuat di balik sosoknya yang selalu dipandang rapuh. Saat rahimnya rekah karena tunas yang mekar di dalamnya, tubuhnya bukan lagi miliknya. Dan ia harus menanggungnya selama sembilan bulan. Lebih atau kurang. Saat tunas itu bertumbuh, dirasakannya tubuhnya menjadi gembur dan bertambah massa. Pijakan kakinya limbung menahan beban yang tidak seharusnya.

Ia tidak lagi merasakan tidur yang nyaman. Seiring perutnya yang membulat, setiap gerakan akan terasa nyeri. Ia hanya akan meringis-ringis menahan sakit. Tidak sekalipun katup bibirnya membuka untuk mengeluarkan keluhan, apalagi serapah, padahal tubuhnya dirasanya bukan lagi miliknya. Ada makhluk yang sedang bertumbuh di dalamnya. Dan makhluk itu berbagi tubuh bersamanya. Sebaliknya, bibirnya justru tersenyum, sehat-sehat kau ya, nak, di dalam sana, sampai tiba saatnya kita berjumpa.

Perempuan itu, ibu. Pada sepasang matanya, teduh lautan menyimpan segala rahasia, rahasia yang selalu bermuara pada senyum yang tersungging di bibirnya. Rahasia yang tak pernah ia lelehkan di sudut matanya melalui bening air mata. Di dalam dekapan dadanya, berpulang segala gundah dan luka. Bahkan duka larut saat sepasang tangannya membelai rambut di kepala.

Ibu, di mana ibu?

Aku pernah mengenal perempuan yang kupanggil ibu. Perempuan yang dari sepasang ranum dadanya dulu, aku pernah menyusu. Ia kini masih kukenal dengan nama Ibu, namun, sepasang mata yang dulu teduh membayang lautan, di mana anak-anak ombak berkejaran dengan gembira kini telah berubah batu hitam. Rahasia-rahasia yang biasanya ia sembunyikan dengan pandai lewat tawa dan canda, kini menguar lepas melalui deras airmata.

Ibu, kenapa, Ibu?

Pada jaman dulu, Sonja, pernah hidup perempuan dengan sepasang sayap yang terbuat dari kaca, (malam itu hujan, gelegar petir mengamuk tidak seperti biasa, ibu mendekap tubuhku yang meringkuk dan gemetar ketakutan), sepasang mata perempuan itu teduh membayang lautan luas, hingga siapa saja ingin menyelam di kedalamannya.

Perempuan itu pastilah peri, ibu. Aku melupakan gelegar guntur yang membuat ciut nyali, dan betapa herannya aku ketika ibu justru menggeleng.

Bukan, Sonja, perempuan itu adalah perempuan biasa.

Tapi, ibu, perempuan biasa tidak punya sayap kaca bukan?

Di dunia ini, semua perempuan itu luar biasa, Sonja, tidak pernah ada perempuan yang hanya menjadi sekadar perempuan biasa. Nah, apakah kau ingin dengar lanjutannya?

Aku mengangguk dan merapatkan tubuhku ke badan ibu, di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Guntur dan petir masih mengamuk dengan gelegarnya.

Perempuan bersayap kaca itu mematahkan sayapnya yang indah, Sonja, memberikannya pada laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta. Laki-laki itu telah mampu menyelami lautan teduh di sepasang matanya. Laki-laki itu telah menanamkan riak-riak gelombang yang membuatnya merasa bahagia di dalam hatinya. Ia mematahkan sayap itu, karena, sayap-sayapnya hanya akan membuatnya selalu menjauh dari laki-laki yang ia puja.

Sayap-sayap kaca itu berubah tajam saat ia mendekatkan tubuhnya pada sang laki-laki. Sayap-sayap itu menolak menguncup saat perempuan itu ingin melekatkan badannya pada lelakinya. Bagaimana mereka bisa berdekatan dengan lekat, jika sayap-sayap runcing itu terus mengembang, seakan, mengancam akan mengirisi kulit sang laki-laki?

Sungguhlah saat itu aku dibuat bingung oleh cerita Ibu. Usiaku masih jauh dari remaja, namun jika kuingat-ingat dongeng malam itu, tentulah itu bukan dongeng untuk anak-anak perempuan yang biasanya.

Akhirnya, Sonja (aku melamun saat itu, membayangkan jika aku punya sayap runcing di punggungku, pastilah tidak ada yang mau mendekat, dan suara ibu mengagetkanku), perempuan itu memotong kedua sayapnya demi bisa berdekatan dengan laki-lakinya.

Sakitkah? Tanyaku.

Ibu hanya tersenyum simpul, pernahkah jarimu teriris saat memotong wortel? Sakitkah? Ibu bertanya.

Aku membalas dengan anggukan.

Seperti itulah pedihnya, dikalikan sepuluh.

Aku meringis. Ibu tertawa. Tawa paling indah yang pernah kudengar. Aku menyimpannya baik-baik di sudut kepala. Tawa itu tak pernah terdengar lagi sesudahnya. Aku hanya bisa mengulangnya di dalam kepala.

Lalu, setelah itu, apa yang terjadi, bu?

Batu hitam itu kemudian muncul ke sepasang mata ibu, menutupi lautan yang biasanya teduh di dalamnya. Menjadikan kedua matanya keras, kelam, dan mati.

Seperti kebanyakan dongeng pada umumnya, keberuntungan tak pernah berpihak pada perempuan yang telah berkorban demi lelakinya. Lihat saja Cinderella, dia kehilangan keluarganya hanya demi sang pangeran.

Tapi, Bu, ibu tiri dan saudara tiri Cinderella itu jahat, mereka menyiksa Cinderella, mengurungnya agar tidak bisa datang ke pesta dansa.

Sekali lagi ibu tersenyum, manis, manis sekali.

Ibu tiri Cinderella mengurungnya karena ia tahu, Pangeran itu mata keranjang. Tak direlakannya Cinderella yang cantik jatuh ke rayuan laki-laki berhidung belang. Kedua anaknya buruk rupa, ia tidak khawatir Pangeran akan merayunya.

Aku ternganga, Ibu melanjutkan ceritanya.

Lalu lihat itu, si Duyung yang menukar ekornya dengan sepasang kaki, ia merelakan suaranya hilang asal bisa ke daratan bertemu laki-laki impiannya, namun apa yang ia dapat? Ia berakhir tanpa suara hanya untuk melihat Pangeran pujaannya melenggang mesra bersama Putri Raja yang mengaku telah menyelamatkannya.

Aku terdiam. Hujan telah reda, dan mata Ibu yang biasa teduh membayang lautan masih berupa sepasang batu hitam.

Perempuan itu kehilangan sayapnya, ia kehilangan kebebasannya. Ia terbiasa terbang sehingga melangkahkan kaki saja ia kesakitan. Ia terbiasa menari bersama udara sehingga tanah membuatnya lemah dan basah. Ia terbaring, lembek, dan tak berdaya. Ia begitu basah karena air mata tak pernah mengering dari sudut matanya.

Lalu di mana lelakinya? Setelah didapatinya perempuan itu menjadi lemah dan buruk karena tak terbiasa dengan tanah, laki-laki itu masih dengan besar hati merawatnya. Memapahnya berjalan dari hari ke hari hingga perempuan itu kembali kuat dan bercahaya. Perempuan itu, meski tak punya sepasang sayap kaca, kini memiliki sepasang kaki kuat yang bisa membuatnya berdansa bersama lelakinya. Hidup mereka bahagia. Sangat bahagia.

Kemudian lahirlah peri mungil dari rahim perempuan itu, peri yang sangat cantik, Sonja, cantik sekali. Dengan segera hidup mereka semakin berwarna. Perempuan ini, sekali lagi, ia jatuh cinta. Bukan pada lelakinya saja, tapi juga pada peri mungil yang keluar dari rahimnya.

Namun ingatlah, Sonja, laki-laki itu makhluk pencemburu, laki-laki itu cemburu perempuannya terlalu mengasihi peri mungil mereka. Peri itu mulai bertumbuh menjadi perempuan kecil jelita, namun laki-laki itu malah mulai menyibukkan dirinya sendiri. Berkubang membuang-buang waktu dengan tidak pulang. Berhari-hari. Bermalam-malam. Sampai akhirnya perempuan itu tidak tahan. Berbagai rahasia telah menyelinap ke dalam matanya, mengeraskan mata itu menjadi batu. Tidak ada lagi lautan di dalam sepasang mata peremluan itu, yang tertinggal hanya kekosongan yang gelap. Kekosongan yang terasa keras dan getir. Rahasia-rahasia mulai ia muarakan di bibirnya, berderai-derai tawa disungginya di depan perempuan kecilnya yang jelita. Namun, sesungguhnya, berdarah-darah hatinya mengurai rahasia.

Ibu menghela napas, panjang. Aku merasakan getirnya.

Aku teringat akan ayah, bu.

Ia menelengkan kepala, melihat jam dinding bundar di dinding di hadapan kami, lalu beranjak tanpa menyelesaikan ceritanya. Ada bening yang menggumpal di sudut matanya.

Benar, Sonja, aku juga teringat ayahmu.

Dari balik punggung ibu, aku melihat seberkas bening kaca tergurat menyembul bergerigi di balik pakaiannya.

Solo, 11 oktober 2015.

Perempuan Api

Sesuatu itu menggeliat dari dalam dada, merayap -merambat, perlahan namun pasti. Menghanguskan setiap yang dilewatinya. Dari dada hingga ke mata kaki. Dari dada hingga ke kepala. Meluluh-lantakkan segala rasa. Membakar logika. Membuat kepayang -lalu lupa. Sesuatu itu hanya meninggalkan sejumput arang yang kemudian mengabu di dada, membuatku mati rasa. Sesuatu itu… .

Ah, aku harus menceritakan padamu semuanya, terlebih dulu.  

Seperti dongeng, semuanya berawal dari suatu ketika. Ketika yang menandai suatu masa, ketika yang -entah, ditandai dengan angka-angka yang menjadi penanda. Waktu. Namun, kutegaskan padamu, dari aku yang telah kehilangan bentuk, makna, serta rasa, sehingga sebuah masa menjadi tidak terlalu penting untuk diingat kapan persisnya.

Sesuatu itu telah membakar segala penanda yang membuatku terikat dengan dunia. Aku melupakan sebutan angka penanda yang menyebutkan masa ketika itu.  Ketika itu, aku masih utuh. Belum tergenapi. Dan aku naif. Sangat naif.

Aku percaya aku adalah bagian dari semesta. Hamba dari semesta. Ketika itu adalah masa sebelum aku mengenal Ular. Benar, Ular adalah elemen lain dalam dongeng yang hendak kusampaikan kali ini. Bukan sebuah dongeng yang indah yang hendak kuceritakan, yang membuatmu terhanyut, hingga kau bersumpah ingin menjadi salah satu tokoh di dalamnya.

Namun, kisah ini hanya berupa sebuah dongeng penuh omong kosong yang mengubah Perempuan menjadi Penyihir Keji.  

Pada masa itu, aku bertemu dengan Ular, mungkin hanya berupa kebetulan. Mungkin memang jalan nasib yang tergenapi sendiri. Aku pada awalnya menanggapi derik -desisan Ular itu dengan setengah hati. Ia melata, bersisik, serta meninggalkan jejak meliuk-liuk di atas pasir. Jejak-jejak itu secara lantang mengungkapkan makna yang ingin ditinggalkan Sang Ular.  

“Ikuti, jika kau ingin mengetahui.”  

Sudah kukatakan bahwa saat itu aku naif bukan? Maka, aku dengan segala keingintahuan yang mungkin bersumber dari neraka itu sendiri, mulai melangkahkan kedua kaki bodohku, mengikuti jejak yang berulir-ulir itu. Jejak yang selalu abadi di atas pasir. Angin dan hujan tidak akan mampu menghapus jejak itu, Ular telah memantrainya, agar para manusia -aku, terpikat, dan mengikutinya. Terbukti, aku yang awalnya hanya ingin mengetahui, tergerak untuk mengikuti, kemudian menjadi abdi. Di dalam perjalananku mengikuti, aku berulang kali tersesat, menemukan, lalu kemudian tersesat sama sekali.  

Ular itu mendesis ke arahku, dan ia memberiku sebuah terang. Terang yang awalnya menyejukkan. Ia menjumputnya dari binar benderang matahari, lalu meletakkannya di dadaku. Saat aku tidak bisa menemukan ulir-uliran bekas badannya di jalan -entah pasir entah tanah, suaranya yang serak dan kering menyala di dalam kepalaku.  

“Nyalakan terang di dalammu. Engkau akau menemukan aku.”  

Namun aku melupakan bait lain dalam syair yang ia tinggalkan di kepalaku. Akibatnya, aku terbakar dalam jeda hening yang panjang. Aku terbakar, sesat, dan kegelapan semesta mengutukku hingga akhir -yang entah kapan.  

**

Ular memanggilku Perempuan Api, setelah meletakkan berkat -atau justru kutukan itu, di dalam dadaku. Berkat yang berupa terang dari benderang matahari. Kemudian setelah memberikannya, ia menghilang. Aku curiga ia lebur -luluh di kedalamanku, karena sesekali aku bisa mendengar suaranya yang kering di dalam kepalaku. Ia hanya akan muncul sesekali, saat aku menyalakan terang di dada, lalu meninggalkan goresan-goresan jejak berikutnya yang harus kuikuti.  

Aku berjalan dengan hati yang terus menyala-nyala, mencari satu jejak ke jejak berikutnya. Di dalam perjalananku, aku menemukan beberapa persinggahan. Persinggahan satu dengan yang lainnya tidak pernah berbeda. Semuanya memiliki pemantik yang dengan segera bisa menyalakan terang di dalam dada. Terang yang kemudian tak terkendali. Menjadi kobaran api yang hanya menyisakan abu pada akhirnya.

Aku tidak pernah tersadar, terang -sejumput api yang diberikan ular itu, kelak akan mengubahku menjadi sesuatu yang asing, menjadi penyihir. Penyihir yang bisa membakar apa saja yang dilewatinya, penyihir yang hanya meninggalkan Pencobaan  bagi yang disinggahinya.  

“Ikutilah iramaku, menari, dan terbakarlah bersamaku.”  

Syair bait itulah yang menjadi umpan di mata kail yang purba -ucapan manis dengan tubuh yang molek. Kemudian, persinggahan-persinggahan itu datang silih berganti kepadaku. Memagut, menelanjangi, meningkahi, saling silang. Membujur. Menjungkir balik. Tubuh koyak. Badan tercabik. Bibir berdarah. Bintang-bintang meledak. Dada berkobar. Nikmat. Nikmat yang entah.  

“Mari datang, cicipi aku. Akulah anggur di dasar cawanmu. Akulah perempuan, dengan api yang takkan pernah padam untuk membakar gelora di hatimu.”  

Aku tidak pernah menghitung berapa banyak yang telah singgah di badanku. Atau berapa banyak badan yang kusinggahi. Aku hanya tahu, Ular itu meninggalkan jejak-jejak di tempat-tempat yang kudatangi. Dan semuanya memiliki pemantik api. Semuanya mengobarkan terang di dada, semuanya bisa membakar logika. Kemudian aku mendengar Ular bersorak dari dalam kepala.  
“Nyalakan terang, nyalakan terang di dada. Engkau akan menemukan aku.”  

**

Aku tidak akan melupakan daging mereka yang setengah membusuk, saat kutinggalkan  Percobaan pada mereka. Mereka -para persinggahan itu, akan memohon kepadaku. Menyembah. Bersujud. Menekuk muka mereka untuk mencium bumi yang kujejaki. Memohon pengampunan. Pembebasan.

Mereka membutuhkan api, agar terang ikut menyala di dada mereka. Mereka mengatakan mereka telah lama mati. Mereka mengisahkan, bahwa aku datang lalu menyihir mereka hingga bangkit lagi. Mereka lelaki. Beberapa perempuan. Beberapa bukan keduanya. Dan mereka semua mencintai terang -panas nyala api, yang kupelihara dari berkah Sang Ular.  

Pada masa itu, bukan saja aku telah tergenapi. Aku bukan perawan suci, namun tetap terberkahi. Api menyala terang di kepala. Membuat setiap yang memandang ingin lebur -mengabu bersamaku. Menari bersamaku. Meliat. Melata hingga luluh lantak. Mereka semua memuja, sementara aku mendesis dan mulai berbisa.  

Kemudian aku sadar sepenuhnya bahwa aku telah menjadi Penyihir.

Aku mulai bisa mengatur semesta. Aku bisa mengirim hujan -badai di setiap mata yang kusinggahi. Aku bisa mencipta kemarau di hati mereka yang kosong. Aku bisa menghidupkan – mematikan – menghidupkan – lalu membunuhnya berkali-kali. Semudah menekan klik-klik-klik pada saklar lampu.  

Akulah Penyihir.

Mengendalikan semesta. Menjadi pusat gravitasi. Menarik mereka untuk berotasi, mengelilingi aku. Akulah matahari. Akulah pemilik segala terang, panas, dan api. Segala yang berdekatan denganku akan merasakan gelora tiada tara, panas -menghebat, lalu luluh lantak! Mengabu! Yang tersisa hanya residu pembakaran.
Aku tertawa.

Memberikan Pencobaan, membebaskan Pengampunan. Dan aku terus menari, satu-satunya yang kulihat hanyalah merah. Api. Akulah merah. Akulah api. Ular tidak terlihat, namun jejak-jejak itu masih menyala di kepala.  

Kemudian. Masa itu datang.  

**

Ular mewujud kembali. Setengah berbisik, ia menelisik. Ragaku sempurna. Tawaku lengkung pelangi. Api masih menyala di dada. Namun, kemudian Ular hanya bertanya.  

“Siapa namamu?”  

Suaraku hanya tinggal tergelincir dari lidahku. Kata itu hendak melompat keluar. Namun kemudian aku lupa. Aku pernah ingat ia memanggilku Perempuan Api. Kemudian mereka memanggilku Penyihir. Namun aku tetap saja tidak bisa mengingat.  

Siapa namaku?  

Aku menyentuh Ular. Wujudnya sedingin es. Permukaannya semulus porselen. Wujudnya sedatar bidang persegi. Api berkobar di tubuhnya. Di dadanya sebentuk lubang meghitam, menyala-nyala. Sebentuk daging menghitam, berkerut, berubah menjadi arang. Sepersekian detik kemudian aku tersadar. Api itu memakan hati! Menyerakkannya menjadi abu! Aku menatap matanya yang ganjil, dengan api yang masih berkobar. Api itu menyala dengan aneh, api yang berkobar di mata itu mewujud sosok yang kukenali, dan ular menggeliat di dalamnya. Aku.  

Ular itu menggeliat di dalam aku.  

Siapa aku?   Kemudian Ular itu pecah. Berserakan. Pecahannya mengenai buku jariku. Pecahannya tersangkut di kakiku.  

“Nyalakan terang di dalammu. Engkau akan menemukan aku.  
Nyalakan terang di dalammu, api itulah aku..”

Constance

Aku berada di sebuah ruangan tanpa jendela, dan sebuah tangan membekap mulutku. “Jangan bersuara..” Bisiknya. “Kau tidak ingin membuat Tuhan murka, kan?” Gemetar, aku menatap patungNya di ujung ruangan.

Ruangan ini, kamarku. Penjaraku yang hina, berubah menjadi bilik penyucian dosa, segera setelah pria itu datang berkunjung. Akulah domba yang dipungutnya dari jalanan, dipelihara, dan disucikan dosa-dosanya.

“Kehendakku, adalah perintahNya.” Ia berucap, kemudian, tangan besar berbonggol-bonggol itu merayapi tubuhku. Bau dupa masih tercium di telapaknya. Aku mencoba meronta. Gagal. Kakiku terlalu lemah untuk digerakkan.

“Penyucian selesai, kau akan diampuni.” Dia mendesah, melumat bibirku. Bibirnya getir tembakau. Cairan amis menyebar di perutku. Pangkal pahaku membara.

**

“Jangan menangis.” Suaraku tajam, merobek cermin hingga bayangannya berkeping-keping.

“Tuhan membenciku, padahal Dia Maha Pengasih, Constance.” Bisikku kemudian, kepada diri sendiri.

“Kau membangkitkan amarah Tuhan, Constance. Aku yang akan menghapusnya dengan ritual penebusan dosa.”

Suara pria itu mendesis di kepalaku, lecut gespernya membekas bilur-bilur ungu di tubuhku.

Apa yang kulakukan sehingga Ia begitu marah dan mengutus pendeta itu menghukumku?

**

“Kenapa Dia marah padaku?” Tangisku saat ia mulai melucuti pakaianku.

“Semua anak wanita berdosa.” Bisiknya, diantara desah-desah mengerikan yang terlontar dari dalam dadanya.

“Dosa asal, dari Hawa, harus ditanggung semua wanita. Aku harus memberikan penyucian dosa padamu.” Ucapannya terengah-engah sambil terus melumat tubuhku. Aku domba yang diumpankan kepada singa.

**

“Mimpi buruk yang terus berulang.” Ucapku parau. Aku bangkit menuju cermin besar yang terpampang di dinding. Kulilitkan handuk di pinggangku, membiarkan dadaku menjuntai,

“Inilah aku, tubuh pendosa, yang selalu Kau murkai.” Bisikku sinis melihat bayangan di cermin.

“Kau selalu marah padaku. Di jalanan, mereka melumatku seperti serigala hanya karena aku berdaging ranum, dan segar. Di sini, aku harus menanggung dosa asal yang tidak kuketahui asalnya.” Aku menelusuri luka-luka permanen di perutku. Bekas bara rokok. Bilur-bilur cambuk.

“Aku harus melakukan ritual penyucian setiap hari. Dan Pendeta –yang mengaku menjadi pemelihara itu- melumatku seperti singa tamak. Jahat. Rakus.” Aku kembali tertawa muram, menatap cermin yang berkilat-kilat.

“Aku harus menanggung dosa asal, kecuali..” Bisikku menatap kedua tonjolan di dada. Pisauku mulai menari, handukku memerah darah.

“..kecuali aku tidak lagi menjadi wanita..”