Elegi Kesepian

By @adelliarosa @njiegerardini

Bicaralah, apa saja. Setidaknya aku bisa mendengar rinduku berdenting di balik suaramu..

Seperti malam-malam yang kedinginan, rindu menggigil sendirian. Sementara awan berarak perawan, hatiku mati tanpa tujuan

Sedang purnama melenguh perlahan, menantikan sempurnanya petang. melagukan bait-bait senyuman, dalam elegi bersahutan.

Denting-denting doa berjatuhan. Karam. Rindu menggelap, asa berhamburan. Seperti apa, Dia bersemayam?

Ia ada, tak pernah alpa melewati rapalan mantra doa. Membenamnya dlm rahasia bebatuan kaca, hingga masa menjamahnya.

Sementara getir terus merajami ingatanku hingga kelu. Seperti kutu-kutu busuk, menggerogotiku dari dalam. Diam-diam.

Perlahan. Melumat rindu di antara gurauan kunang2. Menanggalkan separuh kesepian. Hingga rindumu kembali berserakan.

@adelliarosa

Candu itu bernama, Kamu!

Aku mengejang membiru,
Menelanjangi ingatan,
Menyesap anggur di cangkirmu, mengepulkan bara rinduku
Aku menggigil mengingat malam-malam kita menggelinjang,
Seperti kehilangan udara di paru-paru
Aku megap-megap mengingat pelukmu yang candu. Aromamu. Nafasmu. Degup jantungmu. Kamu, canduku!

@adelliarosa

kau, membuatku tidak tidur semalaman

Aku larut dalam bayang-bayang. Mengaduk-aduk imaji, seperti apa dirimu saat ini? Seandainya. Ada. Di hadapanku.

Aku mengais remah-remah kenangan, melihatmu dalam potret yang bernama: ingatan. Bibir berpagutan, sepasang jemari berkait, lutut yang bergesekan, dan pelukan sepanjang malam.

“Kita, sepasang lengan. Salah satu tercerabut, tidak akan terganti”

Aku mengingat ampas kopi yang kusesap di balik bibirmu. Aku masih mengendapkannya di dalam dadaku.

Kau, membuatku tidak tidur semalaman. Dan sebelah lenganku tercerabut. Tidak terganti.

@adelliarosa

Seperti apa, kau sebut rindu?

Katamu, kau rindu?

Kusebut rindu, saat aku tak lagi mencuci kutangku selewat seminggu.

Menarik. Wanita termalas di seluruh jagat raya.

Memang. Aku malas menghapus jejakmu. Bahkan pada kutangku. Aku hanya menghapusnya dari celanaku.

Celana? Mengapa?

Aku benci aromamu disana. Mengingatkanku pada rindu yang terus menjerit untuk di setubuhi.

Mengapa berbeda dengan kutangmu?

Karena disana, ada dada yang menjaganya tetap merekah, hangat di musim beku sekalipun.

Dan celanamu membuat rindumu tak lagi merekah?

Rindu begitu menggelepar di sana, aku takut menurutinya. Setiap pria menawarkan rindu yang sama. Menggelepar di balik celana.

Aku tak punya kutang untuk kucuci selewat seminggu. Tapi rinduku menggeletar jauh lebih kuat di dada. Wangi verbenna tertanam disana. Rambutmu.

Aku tau. Itulah kenapa kutang yang menyimpan hangatmu tak kucuci seminggu. Kudekap terus di dadaku.

Sekarang, maukah kau melepas kutangmu? Biarkan bibirku menggantikannya..

by adelliarosa

Akasia Tua

Sebatang akasia tua, sepasang cinta saling meraba
Mewujud kecupan, pagutan yang menggelinjang

Sang akasia tua, dengan daun yang menguning diujung-ujungnya,
Sebuah cinta yang matang, dihiasi lenguh terbalut peluh
Seikat janji yang ranum, menantang sepasang jemari memetiknya

Satu musim berganti rupa, sang akasia menantang murka
Kepada siapa, kualamatkan duka, jika Cinta telah tiada?

adelliarosa

Denting Keseribu

Kepada lonceng yang selalu berdenting di ujung pintu,

Ingatkan aku akan rapuhnya tawa yang membungkus getir tepat di permukaan

Tentang manisnya rindu, yang terus bergemuruh di balik kepala, menjalar ke arah dada,

Biaskan kenangan dalam pendar keperakan bulan yang temaram, saat larut dalam kecupan..

Kepada lonceng yang setia bergemerincing saat kubanting pegangan pintu,

Ingatkan aku untuk mengerti betapa bodoh kita dipermainkan jarak per satuan waktu,

Denting pertama, denting kedua… Denting keseribu..

Aku masih serupa kanak yang terperangkap di balik gincu dewasa..

Nyanyian Tengah Malam

Hatiku lebam membiru
Sungguh apa yang mengalir di dalam, sudah memuntah keluar

Apa yang kita sebut luka,
Semakin menganga jauh, di dalam dada
Mengoyak hati yang dulunya berwarna merah muda

Sementara, nyanyian malaikat hitam mengoyak malam yang angkuh
Memaksa menelan getir bulat-bulat.
Dengan sekejap membuyarkan segala rasa.

Aku memilih mati.
Mati rasa. Mati asa.
Aku memilih diam.
Tanpa kata, tanpa isyarat

#np Morissey ~ You Have Killed Me