Eli, Lama Sabakhtani

Aku teringat saat sosok tubuh yang dipancang di kayu salib itu, saat darah mulai menetes-netes itu, saat suaranya berubah menjadi bisik-bisik yang menggetarkan pokok-pokok beserta daun yang bertumbuh itu,

Eli, eli, lama sabakhtani

Aku setengah berharap akan ada gemuruh atau bumi bergejolak membuat gaduh, aku berharap ada suara menggelegar, atau tiupan terompet, atau, pasukan legiun yang kelak melepaskan amarah, menghukum, membalas, memberi pengajaran, tapi, tidak.

Hanya hening. Hanya hening yang bahkan angin pun segan menggesekkan diri. Hanya ada hening.

Kudus, kudus, aku ingin bernyanyi, melihat kepala yang dipenuhi duri-duri itu perlahan bergolek, tak sanggup lagi. 

Eli, eli, lama sabakhtani…

Aku teringat, anyir yang meruap dari selembar kain yang digunakan untuk mengurapi kaki yang menetes-netes darah itu. Kain yang menguarkan duka yang terasa pahit itu, yang menguarkan amarah yang terasa getir itu. 

Eli, aku kembali menghirup aroma pekat duka tubuh yang tergolek itu, kenapa Ia tak marah, Eli? Kenapa Ia tak gusar, Eli, sedang aku, yang hanya membaui sakit itu merasa begitu marah dan pedih. Dan getir. Dan pahit.

Eli, lama sabakhatani… . 

Iklan

Ashoka dan Api yang Membakar Kepalanya

Perempuan itu memiliki rambut sewarna api, api paling membara bagi siapa saja yang telah meilhatnya. Api yang bisa menyulut hasrat paling dalam di dada manusia. Laki-laki. Perempuan. Bahkan yang berada di antaranya. Atau, yang bukan sama sekali di antara keduanya.
Perempuan itu membiarkan saja mahkota yang disungginya itu basah, mengkilat, dan terasa memanggil, terus menari-nari. Dan makhluk lain yang melihatnya akan menelan hasrat mereka yang mendadak membuncah, lalu tergesa-gesa untuk memadamkan gairah yang mendadak rekah. Susah payah mereka meredamnya. Karena, apa yang dibangkitkan api di dalam rambut perempuan itu adalah keinginan sejati mereka yang menapakkan kaki di dunia.
Ia meliukkan tubuhnya, bahunya berguncang seiring kakinya menapak langkah, ia membawa serta kunci yang bergemerincing di lengannya. Perempuan ini memiliki bahu melengkung khas perempuan yang tidak pernah berlatih beban. Tubuhnya kurus dengan tulang-tulang selangka yang menonjol. Sepasang matanya berbinar-binar meskipun ia tidak pernah mengerti kenapa mata itu terus berbinar, sementara api di hidupnya sudah padam, bahkan sebelum sempat bara itu menggeliat.
BUKA
Ia membalik tulisan yang telah lusuh dan coreng-moreng di dinding luar loket berwarna biru yang anak-anak kuncinya bergemerincing di lengannya. Orang-orang mulai mengedip padanya, berjejalan, berdesak-desakan, beringsut menuju ia yang kini duduk di ruangan loket yang sarat aroma besi dan tembakau. Panas. Panas sekali di dalam sini. Ia ingin mengikat api yang berkibar di rambutnya. Namun ia sedang sangat ingin bercumbu dengan sesuatu. Seseorang. Beberapa orang. Siapa saja.
Perlahan, ia menyulut rokok lintingan yang selalu terselip di telinganya.
“Lima ribu satu orang.”
Suara perempuan ini dalam dan serak. Sesekali ia terbatuk, namun asap masih zaja mengepul dari balik bibirnya.
“Anak-anak juga lima ribu. Sama.”
Keringat menetes di tengkuknya. Asap memenuhi pandangannya. Orang-orang masih berdesakan. Berjubel-jubel di hadapannya. Hari pertama sirkus itu buka di Kerta Maya. Hari pertama pula ia menjual sesuatu selain tubuhnya.
*
“Berapa?”
Hari sudah terlanjur jauh menuju larut, namun laki-laki di depannya masih terlihat rapi, dan aroma parfum segar tercium dari badannya yang atletis. Perempuan itu memain-mainkan ujung rambutnya. Memilinnya. Memuntirnya. Ada yang bergejolak di dirinya. Hasratnya membuncah. Hasrat yang mulai padam akibat keringat dan asap yang membelit tubuhnya seperti jaring laba-laba itu menggelegak, meletup-letup menuntut puas hingga tuntas.
“Lima ribu, tuan. Tapi hari sudah jauh malam. Sebentar lagi Gigir Perigi tutup.”
Laki-laki itu tersenyum, anehnya, terlihat begitu cemerlang di matanya.
“Ambil saja kembaliannya.”
Laki-laki itu berlalu.
Perempuan penjual karcis itu menggaruk pipinya. Tiga bekas luka melintang dari mata menuju dagunya, terasa gatal.
Siapa laki-laki itu?
Malam itu ia dipenuhi oleh hasrat yang terasa melimpah-limpah. Rambutnya basah oleh gairah. Jam di sakunya menunjukkan angka sebelas. Ada angin yang menggelitik tubuhnya, ia mengancingkan kemeja flanel merah yang dikenakannya. O, betapa ia ingin rapat. Betapa ingin ia hangat. Hari itu ia menggerai rambutnya, namun tidak seperti biasanya, di mana banyak mata yang melempar ingin ke dadanya, di mana banyak desah yang ingin mampir ke telinganya, hari itu tidak. Tidak ada yang meliriknya meski ia mengibarkan rambutnya yang sewarna api. Tidak ada yang menginginkannya sebesar ia menginginkan mereka semua. Hanya ada laki-laki terakhir yang membeli tiketnya.
Ia teringat sebelum malam itu, ia bermimpi, ia telah bercumbu dengan seekor singa. Tubuh binatang itu liat di dalam dekapannya. Geraman buas yang menyeruak dari dalam dada hewan itu membuatnya menggeliat, membuatnya melenguh menderu-deru. Ia bermimpi cakar itu merobeki tubuhnya, dan dengan senang hati ia menyerahkan tubuh telanjangnya. Ketika taring sang Raja terbenam ke dalam kulitnya, ia terbangun, tersengal-sengal, lalu air mata memenuhi wajahnya. Tidak ada singa. Tidak ada laki-laki. Tidak ada wanita di sisinya. Tidak ada yang di antara keduanya. Ia hanya merasa merana.
*
“Kau terlihat kacau, Non.”
Laki-laki itu datang lagi saat perempuan itu hendak mengunci bilik loketnya. Bersetelan rapi dan gaya. Menguarkan aroma yang membuatnya terpana. Mendadak ada yang menyala-nyala di dalam dirinya, padahal ia mengira bara di dalamnya sudah mati. Mati sejak tiga luka tertoreh di pipinya yang dulunya pualam. Mati sejak ia harus berpindah-pindah menghindari razia petugas moral. Ia hanya punya tubuh yang indah. Maka ia menjualnya.
Petugas-petugas itu beberapa pelanggannya. Mereka yang mengisikinya untuk segera pindah jika ia berdiam terlalu lama. Ia berpindah. Melompat dari satu sarang ke sarang lain. Sampai ia lelah, lalu menyerah. Perempuan itu lantas mendatangi rombongan pasar malam yang hendak membuka acara mereka. Mengemis kepada pemiliknya. Lagi-lagi ia bersiap harus menjual tubuhnya, namun, pemilik pasar malam itu berbudi. Laki-laki itu memberinya tumpangan, memberinya makan, memberinya atap untuk berlindung. Syaratnya, perempuan itu harus bekerja padanya. Menjual karcis saja. Jangan menjual yang lainnya. Perempuan itu patuh.
Ia tidak lagi menjual tubuhnya. Ia berhubungan dengan siapa saja yang ingin bercumbu dengannya. Tanpa harga.
“Non.”
Laki-laki itu masih di sana. Entah berapa lama benaknya berkelana. Melupakan laki-laki yang kedatangannya terlalu larut untuk bercengkrama.
“Sebentar lagi kami tutup, tuan.”
Dari kejauhan perempuan itu melihat lampu bianglala tak lagi menyala, sementara tenda-tenda mulai meredupkan cahayanya. Para pekerja mulai terlihat hilir mudik membongkari wahana. Kuda-kuda karusel terlihat muram tanpa penunggangnya, temaram cahaya membuat catnya yang mulai terkelupas berubah bersepuh kelam serupa malam.
Laki-laki itu mengulurkan rokoknya, rokok putih mint khas kaum borjuis. Perempuan itu menggeleng, ia lantas memantik api pada lintingan yang telah dikepitnya di antara telunjuk dan jari tengah.
“Sudah ada.”
Laki-laki itu megernyit memandangnya.
“Tembakau saja?”
Perempuan itu tertawa.
“Ditambah sejumput daun dari surga untuk sekeping tawa, tuan. Mau mencoba?”
Laki-laki itu tersenyum, mendekatkan wajahnya ke arah perempuan, melekatkan tubuhnya di box besi yang berfungsi sebagai loket. Mereka saling memandang, hanya terhalang sekat kaca. Hanya ada lubang setengah bundar tempat perempuan itu biasa mengangsurkan karcis kepada pembelinya.
“Sudah mau tutup, Non. Jalan denganku, sebentar?”
Perempuan itu melayang di sisi sang laki-laki. Malam itu bulan bundar sempurna.
*
Malam itu bulan bundar sempurna, tapi laki-laki itu hanya menyisakan satu pertanyaan yang menari di kepalanya.p
“Kamu mau itu, Non?”
“Itu?”
“Lebih baik dari lintingan ganjamu.”
Perempuan itu melepas kemejanya, beberapa pekerja yang masih sibuk hilir mudik membongkari wahana membelalak ke arah sepasang buah ranum yang menggantung di dadanya.
“Aku mau, ini.”
Perempuan itu menuntun lelaki itu menelusup tubuhnya, menekannya di tempat ia ingin disentuh, dan betapa herannya ia saat lelaki itu justru menepiskan tangannya.
“Bukan itu, Non. Ini, ambillah.”
Laki-laki itu memberinya sebungkus sesuatu. Ia bisa menghirupnya dan terbang sesudahnya. Terbang. Tanpa kendali.
Perempuan itu memungut kemejanya, lalu berlari menuju tenda tempat ia biasa rebah dan memejam mata. Ada yang retak di kedalaman dirinya. Ia belum pernah ditolak sebelumnya.
*.
“Bagaimana, non? Mau itu?”
Laki-laki itu ternyata mengejarnya. Berdiri di luar tenda dengan tangan terlipat di dada, dan kemeja yang digulung hingga siku.
“Tuan tahu betul apa yang saya mau.”
Laki-laki itu berlalu. Perempuan itu mengejarnya.
“Ya, Tuan. Kenapa bahkan tidak bertanya siapa nama saya?”
“Tidak perlu, semakin sedikit saling mengenal, semakin baik, Non. Mau berapa?”
“Saya cuma punya tubuh saya, tuan. Dan saya sudah punya ganja.”
“Ambil saja. Cuma-cuma.”
Laki-laki itu melempar bungkusan yang isinya bisa membuat perempuan itu gila. Atau bahagia.
Perempuan itu ternganga.
“Nama saya Shoka, tuan!”
Laki-laki itu hanya melambai dari kejauhan. Punggungnya menjauh, malam yang rakus dan penuh rahasia menelannya perlahan-lahan hingga hanya jejak kakinya yang tersisa.
Perempuan itu terduduk. Ada yang menyerbu kepalanya. Ada panas yang terasa membakar dirinya. Menggenangkan air mata hingga tumpauh, meruah mengaliri eajahnya.
Pernah ada perempuan lain dengan cakar besi menindih badannya, memaksa mencicip buah molek yang baru tumbuh di dadanya. Merobek-robek kembang yang baru saja mekar di selangkangannya. Rakus. Rakus. Ia menangis, menjerit melawan sekuat tenaga. Namun cakar itu lebih kuat. Dan tajam. Dan mencabik wajahnya. Menyisakan luka codet tiga baris dari pipi menuju ke bibirnya. Ia hina. Ia terhina. Ia lalu lari, sejauh-jauhnya dari perempuan bercakar besi yang menetap di tempat yang dulunya ia tinggali bersama kakak lelakinya yang lembut. Dan penyayang. Dan beristri perempuan dengan cakar besi di tangannya. Dari situ ia belajar, tubuhnya adalah harta yang berharga karena perempuan itu bahkan ingin menjarahnya.
Dari situ ia belajar menggunakan tubuhnya. Menjumput api dan menaruhnya di rambutnya. Menyulut hasrat siapa saja yang memandangnya. Dengan itu, ia memiliki dunia.
Perempuan itu tergugu, sebungkus penawar telah tergeletak di samping kakinya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak berharga, dan ia terlalu jauh, terlalu jauh ia telah terluka… .

Lelakon

Tirai-tirai mulai diturunkan dari tingkapnya, tidak ada tepuk tangan meriah, hanya ada tepukan malas-malasan dari sudut-sudut remang. Di atas panggung yang seharusnya mewah itu berdiri sesosok dewi, berlapis pupur dan berlapis gincu. Di kepalanya, tergerai surai sewarna tembaga yang molek. Saya ingin menelan ludah saya, tapi sepertinya gumpalan liur itu memilih tersangkut di batang tenggorok, lantas membuat saya tersedak. Lalu, sepertinya bukan lagi gravitasi yang menahan kaki-kaki saya tetap berdiri. Tatapan sepasang mata itu memaku saya hidup-hidup di tempat saya berdiri, hingga bernapaspun saya tidak berani.

Lalu sesuatu meledak.

Dan saya terbangun, kembali berkubang dalam genangan keringat dan kencing di atas kasur saya sendiri.

*

“Kupikir kau tidak merokok.”

Saya ingat saya terkekeh, dan hari itu hujan. Saya merapatkan syal hijau yang meliliti leher saya, sementara ia merapatkan tudung jaket ke kepalanya, menutupi surai indah yang membuat banyak laki-laki tergila-gila. Saya lalu menghirup rokok saya dalam-dalam.

“Kenapa saya harus tidak merokok?”

“Kenapa kamu harus merokok?”

Saya tidak pernah berhasil membalas pertanyaannya. Saya selalu terpojok di sudut loteng paling gelap dan berdebu, dengan benang laba-laba yang terjulur ke arah saya, memintal saya ke dalam kegelapan paling liat di dalam pekat. Lalu, saya hanya akan terpekur melihat sepasang boots yang sudah menjadi alas kaki saya selama dua tahun, membayangkan sepasang mata kenari itu membalas tatapan saya dari bawah sana, membayangkan lengkung senyum yang selalu terlukis di wajahnya. Senyum itu terlukis bukan untuk saya seorang, saya tahu. Ia harus senantiasa tersenyum agar orang-orang suka terhadapnya, ia harus tersenyum karena dia adalah pelakon. Karena dia adalah bintang yang harus bersinar paling terang di antara bintang-bintang lain yang senantiasa menyepuh diri mereka hingga berkilau di jajaran galaksi.
Lalu, saat saya menemukan suara saya lagi untuk menjawab pertanyaannya, dia sudah menghilang. Membaur di antara deretan para bintang yang berlomba-lomba menonjolkan kemilaunya, hingga langit dibuat resah.

*

Saya memiliki panggung paling mahal di dunia, saya harus membayar dengan hidup saya untuk memilikinya. Saya harus merelakan waktu saya, merelakan waktu berarti merelakan kebersamaan dengan keluarga. Merelakan waktu, berarti hanya malam-malam sepi yang tertinggal selain ampas kopi.
Saya hanya punya ponsel pintar yang bodoh, dan seekor kucing yang malas.
Saya ingin keluar, meliar, lalu menggeliat di bawah langit yang sama yang menaungi manusia normal lainnya. Manusia yang punya keluarga, kawan, saudara, rekan, pacar, dan lain sebagainya.

Saya mendengar sesuatu mendesis.

Cermin saya sedang sinis. Kemudian, getaran konstan dari ponsel saya memecah angan saya yang berkelana, layarnya berkedip, dia menelepon, dan saya tidak tahu harus menjawab apa.

Saya memukul cermin karena ia tidak mau berhenti mendesis.

Saya bermimpi, di atas panggung yang saya miliki, dewi itu melakonkan sandiwara dengan sempurna. Tubuhnya berkilat karena keringat, rambutnya basah, dan saya bermimpi saya sedang mengendus dengan rakus aromanya. Aroma itu, satu-satunya yang sanggup menentramkan gelisah saya sepanjang waktu. 

*
Kenapa kamu menghindari saya?

Saya tidak menghindar.

Kamu bersikap seolah tidak mengenal saya.

Saya manager, saya harus memastikan semua berjalan sesuai rencana. Semuanya bergantung pada saya, saya tidak ada waktu…

Tidak ada waktu untuk saya?

Dia lalu berpaling, menyembunyikan dua genangan air yang mulai terbentuk di kolam matanya. Saya benci airmata. Saya benci kenapa dia harus menangis sementara saya tidak ingin melihatnya menangis.

Saya memilih memarahi seseorang yang memasang tirai. Mencari-cari alasan dan menaikkan volume suara saya, hingga membuat pekerja serampangan berkepala botak itu gemetar tertahan. Menangis sana, saya tidak ada masalah jika kamu yang menangis, tapi laki-laki botak itu tidak menangis. Bintang saya yang sedang menangis, dan saya harus menawarkan bahu saya seperti seharusnya. Namun seperti biasanya, saya hanya berlalu dan membiarkan isakan itu menguap bersama angin. 

*
Dia tidak menjawab telepon saya, ponsel pintar saya yang bodoh ini bahkan tidak bisa membuat dia menjawab panggilan saya.

“Besok gladi resik. Jaga kesehatan.”

Pesan saya tidak berbalas.

***

Tirai-tirai mulai diturunkan dari tingkapnya, tidak ada tepuk tangan meriah, hanya ada tepukan malas-malasan dari sudut-sudut remang. Di atas panggung yang seharusnya mewah itu berdiri sesosok dewi, berlapis pupur dan berlapis gincu. Di kepalanya, tergerai surai sewarna tembaga yang molek. Saya ingin menelan ludah saya, tapi sepertinya gumpalan liur itu memilih tersangkut di batang tenggorok, lantas membuat saya tersedak. Lalu, sepertinya bukan lagi gravitasi yang menahan kaki-kaki saya tetap berdiri. Tatapan sepasang mata itu memaku saya hidup-hidup di tempat saya berdiri, hingga bernapaspun saya tidak berani.

Dewi itu menyunggingkan senyumnya perlahan, dan sebelum saya bergerak, sesuatu meledak.

Saya melihat genangan merah membasahi lantai kayu yang kini di atasnya, membujur tubuh dewi.

Saya tidak bisa berteriak seperti adik saya berteriak serak. 

“Ibu!”

Sepuluh tahun kemudian, saya kembali ke panggung Ibu, panggung paling mahal yang pernah saya miliki, karena saya membayarnya dengan waktu. Membayar dengan waktu, berarti merelakan kebersamaan dengan keluarga. Kebersamaan dengan keluarga berarti saya msminggalkan adik saya. Meninggalkan adik saya kepada paman yang ternyata adalah pembunuh Ibu yang diakuinya saat mabuk dan meniduri adik saya, bertahun-tahun yang lalu, sebelum menjualnya kepada mucikari. Ia berpindah-pindah mucikari dan tak pernah berhasil lari, sampai akhirnya, bos saya menjadikannya gundik, kemudian dia menjadi bintang di panggung saya.

Panggung ini adalah panggung paling mahal yang pernah saya punya. Dan dia sedang menangis, lagi-lagi, saya tahu dia menangis karena punggungnya bergetar menahan sesak yang menghimpit dadanya.

“Jangan menangis lagi.”

Saya menjulurkan kotak yang berisi rokok lintingan sendiri. Di dalamnya saya menambahkan sejumput fantasi.

“Saya tidak merokok.”

Dia mengusap matanya dengan punggung tangan sebelum melanjutkan dengan suara parau.

“Kamu sudah meninggalkan saya, dan sekarang kamu mengabaikan saya.”

“Saya harus minta maaf akan itu. Kamu boleh merokok. Usiamu sudah dua puluh.”

“Kenapa harus merokok?”

Saya siap terbelit jaring laba-laba dan terhimpit ke dalam gelap yang liat memadatkan pekat saat saya melihat bibir adik saya berubah menjadi bibir Ibu.

“Merokok sajalah, tidak perlu bertanya kenapa.”

Lalu ayah saya akan menamparnya. Saya ingat, saya mengoleskan alas bedak tebal-tebal untuk menutupi bekas merahnya, dan saya tahu, perih yang sebenarnya berada dalam hati ibu.

“Merokok sajalah, tidak perlu bertanya.”

Saya menjawab, dan adik perempuan saya itu mengambil sebatang hanya untuk dipatahkannya menjadi dua.

“Saya tidak ingin seperti Ibu.”

Saya ingin sekali menamparnya.

***

Saat itu Paman sedang mabuk dan ia mengacungkan senjata itu ke kepala adik saya.

Bagaimana saya tahu?

Saya memiliki panggung paling mahal sedunia. Panggung mahal yang saya beli dengan waktu. Dengan waktu berarti dengan segalanya. Saya pergi dari rumah bukan tanpa alasan. Saya mencari tahu di mana ayah saya saat ibu saya terbunuh.

Dia sedang menangisi mayat ibu, di atas gundukan tanah makam yang masih penuh bunga-bunga. Ibu sangat suka bunga, tapi ayah tak pernah memberikannya.

“Terlambat, yah.”

Saya ingat saya berkata, dan paman saya yang gila menghardik saya keluar dari pemakaman. Saya bilang saya mau pergi dan saya menitipkan Aliyha, dia mengiyakan tanpa menanyakan saya akan kemana.

Saya tidak berpikir Paman saya yang tampak berbudi adalah iblis paling keji. Segera setelah saya pergi, saya dengar kabar ayah saya gantung diri. Namun saya tidak mencari tahu kabar Aliyha, adik perempuan saya yang satu-satunya karena saya sibuk menata anak tangga demi panggung milik ibu. Selain itu, saya percaya ada paman yang menjaganya untuk saya. 

Saya menyusun anak-anak tangga, sepotong demi sepotong dengan tubuh dan keringat dan darah saya. Saya menghitung lebih dari tiga kali rahim saya berbuah dan tidak satupun saya biarkan tumbuh dan berkenalan dengan dunia.

Tidak. Tidak, satupun saya biarkan berkembang demi kelak memanggil saya, Ibu. 

Saya berkenalan dengan orang-orang Lelakon, ikut mementaskan lakon dari satu panggung ke panggung lain sembari melacur dari satu laki-laki, ke lelaki lain. Mabuk dari satu pentas ke pentas lain, hingga akhirnya saya ingin menciptakan panggung saya sendiri. Dan saya sadar, satu-satunya panggung yang saya inginkan adalah panggung Ibu.

Saya lalu memutar roda kendali, berpindah dari pelakon menjadi pengarah lakon, lalu menjadi penanggung jawab panggung, kemudian menjadi penyusun lakon, dan pada akhirnya, saya menjadi penguasa panggung. Semua darah dan keringat dan tangis yang sembunyi-sembunyi itu, pada akhirnya saya memetik hasilnya.

Saya banyak mengenal manusia, dan saya memanfaatkan mereka. Saya kembali ke kota saya, dan mereparasi panggung yang sudah saya beli. Lewat mereka, saya mencari tahu segalanya. Termasuk adik saya yang sudah dijual oleh paman saya yang gila.

Lalu dia muncul. Adik yang saya tinggalkan itu: Aliyha.

Dia menangis, dan saya tak sanggup untuk memeluknya.

Saya mendengarnya berteriak bahwa dia sedang mencari saya.

Saya meninggalkannya di depan panggung dan dia masih menangis.

***

Dia adalah bintang dan saya adalah tuhan pemilik panggung jagat raya. Saya menemukan laki-laki, yang dulu kepadanya saya titipi adik perempuan saya, dan dia malah menjualnya setelah sebelumnya menidurinya dengan paksa.

Dan dialah yang menembak ibu saya.

Saya bertanya kepadanya, mengapa?

Dia hanya memamerkan gigi geliginya yang menghitam karena tembakau.

“Anak sundal, sudah jadi sundal pula kau rupanya.”

Saya menendang mulutnya. Dia terikat seperti binatang buruan yang rusak dan hina. Dia pikir dia menyewa saya, tak mengenali keponakannya yang tertua. Ia pikir ia sedang asyik bersama pelacur ibukota yang sedang berlibur ke kotanya bersama rombokan pelakon yang akan memainkan Lelakon di panggung ibu. 

Kenapa, saya tanya lagi.

Dia semakin terkekeh-kekeh.

“Sundal itu mengataiku cebol tak tahu malu, aku cuma kepengen pegang susunya. Ha ha ha!”

Saya menembak, tepat di antara ke dua matanya, tempat di mana pelurunya dulu bersarang di kepala Ibu, tapi saya belum juga merasa lega. 

Ponsel pintar saya bergetar, alarmnya menyala. Lima menit lagi, pertunjukan bintang-bintang di jagat raya saya dimulai. Saya mengisi kembali peluru di pistol dan menyelipkannya di celana. Mayat cebol itu membelalak ke arah saya. Dan saya menginjak tepat kemaluannya.

***

Panggung usang itu mendadak gempita. Orang-orang bertepuk riuh, dan siulan bersahut-sahutan memekakkan telinga. Badan saya berkali-kali dipeluk, tangan saya berulang kali dijabat, dan rambut saya diacak-acak. Ucapan selamat terpantul-pantul di udara. Panggung saya sukses, dan pentas Lelakon di atasnya mengundang decak kagum penontonnya.

Tirai sebentar lagi diturunkan dari tingkap-tingkapnya, dan saya mendekat ke arah panggung, mencari bintang saya yang paling benderang, memanggilnya cukup keras hingga orang-orang menoleh, menonton.

“Aliyha!”

Dia tertawa begitu bahagia, sepasang lengannya terentang, setengah berlari menyongsong tubuh saya, kemudian saya menembak kepalanya.

Saya sudah bilang saya memiliki panggung paling mahal sedunia. Saya membelinya dengan segalanya. Segalanya berarti sudah tidak ada yang tersisa. Saya meledakkan kepala saya saat seseorang lain mulai menjerit di belakang saya.

Solo, 23 Januari 2016

keping enam menit

Silakan, jika memang kau begitu hebat. Lakukan saja.

Lalu koin itu meluncur dari genggaman tangan milikku. Berdenting memecah sepi yang mencabik-cabik jiwa hingga terasa kering. Ini tidak pernah mudah. Batinku mendesis. Aku tidak pernah hebat. Rasa sesal memenuhi tubuhku, berbuih-buih seperti aspal panas, membuatku melepuh, gosong, dan buruk. Tapi, seperti penyesalan pada umumnya, sesal itu hanya meninggalkan nyeri yang teramat dalam. Tanpa pernah bisa kau perbaiki dengan semestinya.

Koin itu berkilau samar di lantai kayu. Aku memandang berkeliling. Ada telepon yang hanya bisa digunakan jika nomornya diputar, ia membisu di ujung ruangan. Kebisuannya terasa angkuh, memamerkan warna merah yang menyala. Tepat di seberang telepon itu, ada ruangan yang pemiliknya akhir-akhir ini mengusik pikiranku. Pikiranku seakan bukan lagi milikku. Ada suara-suara yang terus menerus memekik. Menyalahkan. Menggerutu.

Aku membungkuk untuk mengambil keping koin, lalu rasa nyeri merambati punggungku. Punggung ini sudah terlalu lama digerogoti rematik, membungkuk tanpa mengernyit atau mengerang sakit adalah hal sepele yang kurindukan. Kemudian, dari balik bayang-bayang, aku merasakan ada sepasang mata lentik membakar punggungku dengan tatapannya.

“Hestia?”

Pemilik mata itu bungkam. Ia tidak pernah lagi menjawab panggilanku. Tidak menjerit saat kulayangkan tamparanku. Tidak menangis saat melihatku membawa Santya ke dalam kamar yang seharusnya menjadi altar suci tempat ritual penyatuan kami sebagai suami yang membutuhkan istri. Hestia. Hestia. Ke mana perginya semua nada yang merdu itu dari bibirmu?

Aku menatap mata itu. Langsung ke pusat yang dulunya adalah duniaku. Mata itu kosong. Hampa. Sehampa mata Santya yang sudah tak bernyawa. Santya. Santya. Sudah kularang ia, sudah kuperingatkan ia untuk berhenti. Berhenti mengeriting rambutnya. Atau mengecatnya menjadi merah menyala. Atau mengenakan legging warna neon dengan atasan yang hanya menutupi separuh badannya. Santya. Kularang kau pergi ke disko sambil menghisap ganja. Aku telah melarang engkau berpesta pora. Aku terlalu tua mengikuti pestamu, Santya. Ia hanya berjengit, lalu mengecup pipiku dengan lembut. Aku bisa mencium aroma parfum yang terlalu berlebihan di antara belahan dadanya. Kalau begitu, tinggal saja di rumah, Manis. Kau tidak bilang tua saat mengajakku kawin. Aku tidak tahan duduk-duduk seharian seperti Hestia. Lama-lama aku bisa keriput sebelum waktunya.
Ia berlalu. Tidak pernah kembali. Tubuh moleknya ditemukan dipenuhi tusukan pisau beberapa pekan kemudian, tidak jauh dari pub biasa ia melakukan pesta. Tidak ada barang yang hilang. Seolah pembunuhnya hanya ingin membunuhnya. Itu saja.

Saat Hestia mendengar Santya tewas, ia tidak menunjukkan perubahan apapun. Tidak raut wajah. Tidak pula sepatah kata. Ia tetap bisu. Dan datar. Dan kosong. Ia hanya menyeret kakinya kembali ke kamar utama. Ke altar penyatuan kami. Namun hanya punggungnya yang menjadi sisian untukku tidur. Lama-kelamaan, aku merasa jiwaku ikut kosong. Melompong.

Aku singguh rindu kehangatan rumah ini sebelum ada Santya.

***

“Alden!”

Ingatanku tak mungkin salah. Jeritan Hestia kala itu seperti kuku menggaruk papan tulis. Membuat sekujur tubuhku ngilu.

“Bawa dia kembali!”

Perempuan ayu berahang kokoh itu lalu melemparkan pandangannya yang setajam mata pedang ke arahku. Aku mengernyit. Hestia meraung.

“KAU MERASA BEGITU HEBAT! BAWA DIA PULANG! BEDEBAH TUA!”

Semenjak hari itu, perempuan ayu itu, tempatku mencurahkan segala hidup, menghilangkan suara dari dalam lehernya. Ia menolak bicara.

***
“Mungkin ada hubungannya koin itu dengan anakmu, Manis.”

Itu Santya. Ia menggelayut manja di leherku. Ia selalu memakai paefum di belahan dadanya. Kaosnya selalu menunjukkan pusar di perut ratanya. Celananya selalu ketat membalut panggul indah dengan lenggok sintren. Laki-laki mudah terperdaya. Aku. Terjebak dengan sukarela di dalamnya.

“Alden itu sudah besar. Besar pula kepalanya. Dipikirnya dengan minggat begini aku akan jadi lembek. Jangan harap!”

Santya mengelus-elus pahaku. Angin semilir di beranda mendadak terasa panas dan memabukkan.

“Santya, kita nikah saja.”

“Oho, sakit hati Alden tak akan terbayangkan, Bagya, Manisku.”

“Tapi kau cinta aku. Bukan Alden.”

“Memang begitu. Dunia kejam ya. Tidak punya bapak sejak lahir. Lalu ketemu Alden yang tergila-gila, tapi dia terlalu hijau. Kekanakan. Aku benci bocah.”

“Kau lebih suka yang tua seperti aku. Nikah saja denganku.”

Kami menikah sore itu, tanpa ijin Hestia, dan Alden, masih belum jelas entah di mana.
***
Dahulu kau pernah berjanji, sebelum perkawinan mengikat kita dengan kokoh di tiang rumah megahmu, sebelum anak laki-laki lahir dari rahimku, bahwa tidak ada apa pun di dunia yang akan memisahkan kita. Aku. Kamu. Anak kita kelak. Lalu kita tertawa. Saling berjanji, tapi janji hanyalah kata-kata manis yang membuat mabuk, lalu keesokannya kita akan bangun dengan bibir pahit dan sakit kepala. Silakan. Jika kamu memang begitu hebat, lakukan saja.”

Anak laki-laki di ujung ruangan menangis. Usianya baru genap tujuh belas. Ia menangis dengan mata yang mencerminkan jiwanya yang terkoyak-koyak.

Ia pergi. Melempar koin seratus rupiah itu ke arahku.

“Lima puluh rupiah untuk tiga menit. Itu yang di hadapanmu ada seratus. Enam menit, Pak Tua, enam menit waktumu menemukanku, Pak Tua.”

Anak laki-laki yang mewarisi kokoh rahang dan keras kepala ibunya itu lalu meludah. Entah kenapa aku merasa koyak. Lalu, aku ingat, selepas jeritan itu, saat Hestia memanggil Alden, Santya tetap duduk tenang tanpa kehilangan kendali, ia menyilangkan kakinya, dan sudut matanya mengikuti kepergian Alden. Tidak ada penyesalan di sana.

Sementara, buku pernikahan kami terbuka lebar-lebar di meja tempat Hestia meletakkan cangkir teh untuk Santya. Anak perempuan yang dianggapnya anak sendiri. Gadis muda pujaan anak laki-lakinya sendiri. Istri baru laki-laki yang dipanggilnya suami.

***

“Kenapa, pak?”

Sakrie, tukang sapu kuris ceking itu menghampiriku. Aku duduk di beranda yang sama, tempat Santya melingkarkan tangan jenjangnya ke leherku. Beranda yang sama, tempatku meminangnya. Beranda yang sama, yang letaknya tepat di bawah jendela kamar Hestia.

“Entahlah, Sakrie. Alden belum pulang juga. Sudah hampir tiga bulan. Aku kangen suara ibunya.”

“Lho, kangen Mas Alden apa kangen Ibu Hestia? Saya ndak ngerti, Pak.”

“Sudahlah. Pokoknya begitu.”

“Itu ada seratus rupiah bolehbsaya pinjem, pak? Saya mau nelepon Martini, anak saya sakit, pak.”

“Pakai telepon di dalam saja. Seratus ini kan cuma sebentar kalo dipake nelepon di sana.”

“Anu, pak, nomornya tetangga saya yang buat nyambungken Martini saya oret-oret di deket box telepon di ujung jalan itu, Pak.”

“Ya sudah sana. Ini saya ada seribu. Pakai saja.”

“Ndak usah, Pak. Seratus rupiah saja sudah cukup. Enam menit sudah cukup, pak. Saya ndak perlu ngobrol lama.”

Ada petir. Menyala. Tepat di kepala. Membakar dada.

“Sakrie, aku ikut.”

“Tapi, pak…”

Aku menegakkan tubuh, punggung rematikku membuatku kembali mengernyit. Kutepis tangan Sakrie yang hendak membimbingku.

Aku akan bawa Alden pulang, Hestia. Lalu kita bisa bercinta.

***

Sakrie mematung di tempatnya. Koin seratus rupiah meluncur dari genggamannya.

“Pak? Pak Bagya?”

Dari dalam gagang telepon, masih terdengar bisik-bisik yang licik, licin.

“Halo? HALO? SIAPA INI?”

Sakrie merebut gagang telepon boks itu dariku. Aku belum sanggup bergerak. Tulisan di box itu cukup menarik perhatianku. Tulisan tangan Alden. Menuliskan sederet nomor. Aku memencet nomor-nomor itu. Tanpa melihatnya. Aku mengenal nomor itu seoanjang usia. Telepon merah yang angkuh di ruang keluarga.

“Dalam enam menit ke depan, setelah kamu menghubungi nomor ini. Semua milikmu hilang. Hitung mundur, Pak Tua.”

***

Ia memeluk Alden dengan kedua lengannya yang terentang terbuka.

“Kemarilah, Mas! Lihat siapa yang sudah pulang!”

Alden tersenyum jahil, melirik arlojinya. Melambaikan tangan.

Lalu merah membumbung, melalap langit dengan amarahnya.

Sebelumnya, aku terpental dan sesuatu meledak dengan kerasnya.

Masih terngiang jeritan Hestia. Masih terukir senyum di wajahnya, lalu kulihat wajah itu kosong sejenak, lalu digantikan rasa sakit yang dirasakannya kurang dari sedetik, sebelum semuanya menyerpih. Menyerpih. Menjadi debu dan abu.

Hestia. Hestia.

****

“Benar. Setel saja enam menit, lalu aku hanya tinggal menunggu si tua itu menghubungiku. Aku akan datang pada ibu. Aku tidak pernah jauh, bu. Rumah itu terlalu banyak memiliki lorong tersembunyi. Si tua itu bahkan tidak menyadari. Tapi aku tahu, ibu. Aku tahu semua lubang, semua lorong, semua kamar rahasia di sini. Aku tahu sejak kakek mengenalkanku. Ia berkata ini rahasia. Bagya bahkan tidak pernah tahu.

Ibu, aku akan memelukmu, membawamu pergi.”

Lalu telepon di meja mulai berdering… .

Anak laki-laki itu yang telah merapal ucapannya berkali-kali, beranjak menuju meja telepon. Telepon yang utama, yang berwarna merah serupa darah, dengan kalender 1982 terpaku miring di atasnya, telah ia utak-atik hingga tak lagi mengeluarkan suara. Teleponnya sendiri di hadapannya, lusuh berwarna hijau tua. Telepon itu akses rahasia paralelnya, mulai menjerit keras di hadapannya.

Sudah kubilang, ruang kosong ini tersembunyi, Pak Tua. Enam menit, waktumu, mulai dari tiga… dua… satu… .

Sukoharjo, 17 Juni 2015.
Aku sudah menyelesaikan tantangan menulis kita, Rendra, Ade, Doroii, Andiana.

SONJA

Sejak dulu, perempuan ditakdirkan untuk menjadi makhluk yang kuat di balik sosoknya yang selalu dipandang rapuh. Saat rahimnya rekah karena tunas yang mekar di dalamnya, tubuhnya bukan lagi miliknya. Dan ia harus menanggungnya selama sembilan bulan. Lebih atau kurang. Saat tunas itu bertumbuh, dirasakannya tubuhnya menjadi gembur dan bertambah massa. Pijakan kakinya limbung menahan beban yang tidak seharusnya.

Ia tidak lagi merasakan tidur yang nyaman. Seiring perutnya yang membulat, setiap gerakan akan terasa nyeri. Ia hanya akan meringis-ringis menahan sakit. Tidak sekalipun katup bibirnya membuka untuk mengeluarkan keluhan, apalagi serapah, padahal tubuhnya dirasanya bukan lagi miliknya. Ada makhluk yang sedang bertumbuh di dalamnya. Dan makhluk itu berbagi tubuh bersamanya. Sebaliknya, bibirnya justru tersenyum, sehat-sehat kau ya, nak, di dalam sana, sampai tiba saatnya kita berjumpa.

Perempuan itu, ibu. Pada sepasang matanya, teduh lautan menyimpan segala rahasia, rahasia yang selalu bermuara pada senyum yang tersungging di bibirnya. Rahasia yang tak pernah ia lelehkan di sudut matanya melalui bening air mata. Di dalam dekapan dadanya, berpulang segala gundah dan luka. Bahkan duka larut saat sepasang tangannya membelai rambut di kepala.

Ibu, di mana ibu?

Aku pernah mengenal perempuan yang kupanggil ibu. Perempuan yang dari sepasang ranum dadanya dulu, aku pernah menyusu. Ia kini masih kukenal dengan nama Ibu, namun, sepasang mata yang dulu teduh membayang lautan, di mana anak-anak ombak berkejaran dengan gembira kini telah berubah batu hitam. Rahasia-rahasia yang biasanya ia sembunyikan dengan pandai lewat tawa dan canda, kini menguar lepas melalui deras airmata.

Ibu, kenapa, Ibu?

Pada jaman dulu, Sonja, pernah hidup perempuan dengan sepasang sayap yang terbuat dari kaca, (malam itu hujan, gelegar petir mengamuk tidak seperti biasa, ibu mendekap tubuhku yang meringkuk dan gemetar ketakutan), sepasang mata perempuan itu teduh membayang lautan luas, hingga siapa saja ingin menyelam di kedalamannya.

Perempuan itu pastilah peri, ibu. Aku melupakan gelegar guntur yang membuat ciut nyali, dan betapa herannya aku ketika ibu justru menggeleng.

Bukan, Sonja, perempuan itu adalah perempuan biasa.

Tapi, ibu, perempuan biasa tidak punya sayap kaca bukan?

Di dunia ini, semua perempuan itu luar biasa, Sonja, tidak pernah ada perempuan yang hanya menjadi sekadar perempuan biasa. Nah, apakah kau ingin dengar lanjutannya?

Aku mengangguk dan merapatkan tubuhku ke badan ibu, di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Guntur dan petir masih mengamuk dengan gelegarnya.

Perempuan bersayap kaca itu mematahkan sayapnya yang indah, Sonja, memberikannya pada laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta. Laki-laki itu telah mampu menyelami lautan teduh di sepasang matanya. Laki-laki itu telah menanamkan riak-riak gelombang yang membuatnya merasa bahagia di dalam hatinya. Ia mematahkan sayap itu, karena, sayap-sayapnya hanya akan membuatnya selalu menjauh dari laki-laki yang ia puja.

Sayap-sayap kaca itu berubah tajam saat ia mendekatkan tubuhnya pada sang laki-laki. Sayap-sayap itu menolak menguncup saat perempuan itu ingin melekatkan badannya pada lelakinya. Bagaimana mereka bisa berdekatan dengan lekat, jika sayap-sayap runcing itu terus mengembang, seakan, mengancam akan mengirisi kulit sang laki-laki?

Sungguhlah saat itu aku dibuat bingung oleh cerita Ibu. Usiaku masih jauh dari remaja, namun jika kuingat-ingat dongeng malam itu, tentulah itu bukan dongeng untuk anak-anak perempuan yang biasanya.

Akhirnya, Sonja (aku melamun saat itu, membayangkan jika aku punya sayap runcing di punggungku, pastilah tidak ada yang mau mendekat, dan suara ibu mengagetkanku), perempuan itu memotong kedua sayapnya demi bisa berdekatan dengan laki-lakinya.

Sakitkah? Tanyaku.

Ibu hanya tersenyum simpul, pernahkah jarimu teriris saat memotong wortel? Sakitkah? Ibu bertanya.

Aku membalas dengan anggukan.

Seperti itulah pedihnya, dikalikan sepuluh.

Aku meringis. Ibu tertawa. Tawa paling indah yang pernah kudengar. Aku menyimpannya baik-baik di sudut kepala. Tawa itu tak pernah terdengar lagi sesudahnya. Aku hanya bisa mengulangnya di dalam kepala.

Lalu, setelah itu, apa yang terjadi, bu?

Batu hitam itu kemudian muncul ke sepasang mata ibu, menutupi lautan yang biasanya teduh di dalamnya. Menjadikan kedua matanya keras, kelam, dan mati.

Seperti kebanyakan dongeng pada umumnya, keberuntungan tak pernah berpihak pada perempuan yang telah berkorban demi lelakinya. Lihat saja Cinderella, dia kehilangan keluarganya hanya demi sang pangeran.

Tapi, Bu, ibu tiri dan saudara tiri Cinderella itu jahat, mereka menyiksa Cinderella, mengurungnya agar tidak bisa datang ke pesta dansa.

Sekali lagi ibu tersenyum, manis, manis sekali.

Ibu tiri Cinderella mengurungnya karena ia tahu, Pangeran itu mata keranjang. Tak direlakannya Cinderella yang cantik jatuh ke rayuan laki-laki berhidung belang. Kedua anaknya buruk rupa, ia tidak khawatir Pangeran akan merayunya.

Aku ternganga, Ibu melanjutkan ceritanya.

Lalu lihat itu, si Duyung yang menukar ekornya dengan sepasang kaki, ia merelakan suaranya hilang asal bisa ke daratan bertemu laki-laki impiannya, namun apa yang ia dapat? Ia berakhir tanpa suara hanya untuk melihat Pangeran pujaannya melenggang mesra bersama Putri Raja yang mengaku telah menyelamatkannya.

Aku terdiam. Hujan telah reda, dan mata Ibu yang biasa teduh membayang lautan masih berupa sepasang batu hitam.

Perempuan itu kehilangan sayapnya, ia kehilangan kebebasannya. Ia terbiasa terbang sehingga melangkahkan kaki saja ia kesakitan. Ia terbiasa menari bersama udara sehingga tanah membuatnya lemah dan basah. Ia terbaring, lembek, dan tak berdaya. Ia begitu basah karena air mata tak pernah mengering dari sudut matanya.

Lalu di mana lelakinya? Setelah didapatinya perempuan itu menjadi lemah dan buruk karena tak terbiasa dengan tanah, laki-laki itu masih dengan besar hati merawatnya. Memapahnya berjalan dari hari ke hari hingga perempuan itu kembali kuat dan bercahaya. Perempuan itu, meski tak punya sepasang sayap kaca, kini memiliki sepasang kaki kuat yang bisa membuatnya berdansa bersama lelakinya. Hidup mereka bahagia. Sangat bahagia.

Kemudian lahirlah peri mungil dari rahim perempuan itu, peri yang sangat cantik, Sonja, cantik sekali. Dengan segera hidup mereka semakin berwarna. Perempuan ini, sekali lagi, ia jatuh cinta. Bukan pada lelakinya saja, tapi juga pada peri mungil yang keluar dari rahimnya.

Namun ingatlah, Sonja, laki-laki itu makhluk pencemburu, laki-laki itu cemburu perempuannya terlalu mengasihi peri mungil mereka. Peri itu mulai bertumbuh menjadi perempuan kecil jelita, namun laki-laki itu malah mulai menyibukkan dirinya sendiri. Berkubang membuang-buang waktu dengan tidak pulang. Berhari-hari. Bermalam-malam. Sampai akhirnya perempuan itu tidak tahan. Berbagai rahasia telah menyelinap ke dalam matanya, mengeraskan mata itu menjadi batu. Tidak ada lagi lautan di dalam sepasang mata peremluan itu, yang tertinggal hanya kekosongan yang gelap. Kekosongan yang terasa keras dan getir. Rahasia-rahasia mulai ia muarakan di bibirnya, berderai-derai tawa disungginya di depan perempuan kecilnya yang jelita. Namun, sesungguhnya, berdarah-darah hatinya mengurai rahasia.

Ibu menghela napas, panjang. Aku merasakan getirnya.

Aku teringat akan ayah, bu.

Ia menelengkan kepala, melihat jam dinding bundar di dinding di hadapan kami, lalu beranjak tanpa menyelesaikan ceritanya. Ada bening yang menggumpal di sudut matanya.

Benar, Sonja, aku juga teringat ayahmu.

Dari balik punggung ibu, aku melihat seberkas bening kaca tergurat menyembul bergerigi di balik pakaiannya.

Solo, 11 oktober 2015.

Burung-burung Hitam di Mata Mahla

Tidak ada yang pernah tahu bagaimana bisa sekelompok burung berbulu hitam muncul dari sepasang mata milik seorang perempuan.

“Aku melihatnya menangis di sudut jalan, dan saat aku mendekatinya untuk menanyakan apa yang salah, ia mengirimkan burung-burung dari dalam matanya untuk menyerang dan mematukiku. Aku hampir buta karenanya!” Yeesaac, perempuan tambun itu bercerita dengan suara yang menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Ia menjadi pusat perhatian di antara kerumunan orang yang mengelilinginya. Tangan gemuk pendeknya yang bergerak-gerak saat menggambarkan ceritanya, membuat beberapa orang menahan napas karena ngeri, beberapa bergidik takut, dan lebih sedikit lagi yang merasa iba kepada perempuan muda yang sedang dituturkan Yeesaac.

“Tapi, kenapa dia mengirimkan burung-burung hitam untuk menyerangmu, Yeesaac? Apa yang telah kau perbuat?”

Seseorang bertanya, dan kerumunan menggumam-gumam samar, saling mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Sedangkan Yeesaac, ia menghela napasnya dengan berat, lalu menghembuskannya perlahan.

“Entah, saudaraku. Aku sama tidak tahunya denganmu. Tetapi Mahla, nama perempuan itu kuanggap saudaraku, karena semua perempuan adalah bersaudara, dan aku berharap ia mau membagi kesedihannya padaku. Hari itu adalah hari kesembilan ia mengenakan pakaian berkabung meskipun kita semua tahu, ia tidak punya keluarga untuk ditangisi kepergiannya. Dia hanya menangis, dan aku mendekatinya. Lalu…”

Mereka semua bergidik saat Yeesaac menggerakkan tangan-tangan gemuknya membentuk sayap-sayap yang menyambar matanya.

*

Bisik-bisik berkembang menjadi desas-desus, yang, menjalari lembah hingga berubah menjadi cerita harian yang dituturkan burung-burung di pokok kenari, atau, dibicarakan diam-diam di beranda rumah yang dulunya lengang. Para wanita sibuk berprasangka, dan para pria ikut bercengkrama di antara mereka. Menceritakan cerita yang telah diulang-ulang dengan berbagai versi.

Perempuan itu bisa mengirim tulah lewat tatapan matanya, kabar itu awalnya terdengar. Lalu berubah, menjadi, perempuan itu membuat siapa saja yang ditatapnya kesakitan seperti dicakari dan dipatuki sekawanan burung hitam yang jumlahnya puluhan ribu. Kemudian menjadi kabar yang lebih aneh, perempuan itu menularkan kesedihan yang tampak dalam di matanya itu, menjalari seluruh lembah desa yang mereka huni, seakan-akan mereka tak bisa gembira lagi, seolah-olah pandangan mereka yang ceria berubah sekelam kepak sayap burung-burung yang bersarang di matanya.

Kabar-kabar yang beredar itu semakin berkelindan, saling jalin-menjalin, menutupi kabar satu dengan yang lain. Mengubah cerita satu dengan menambah cerita lain, hingga kebenaran menjadi hal yang sulit untuk ditemukan.

Sementara, perempuan di sudut jalan yang dikabarkan membawa petaka itu, tetap menundukkan pandangannya, siapapun tak berani mendekatinya untuk sekadar melihat atau menatapnya. Rasa iba yang pertama kali orang-orang rasakan kepadanya berubah menjadi rasa takut yang terasa menyengat, rasa takut yang aneh dan tidak masuk akal. Sedang mereka sendiri bertanya-tanya, akankah sepasang mata perempuan itu mengirimkan burung-burung hitam untuk menyerang mereka, jika mereka menatapnya sekali saja?

Karena sesungguhnya, mustahil rasanya memalingkan pandangan dari sosok perempuan elok yang bertudung hitam dan bertubuh sewarna pualam. Ia pucat, molek, perempuan itu menawan dengan sepasang mata gelap, yang, pastilah sang iblis bersarang di dalamnya. Begitulah mereka menyebutnya.

Namun, saat itu tidak ada yang menyadari, bahwa perempuan bernama Mahla itu telah hadir di antara mereka begitu saja, mereka mengabaikan kehadirannya seolah-olah perempuan itu memang tinggal di sana, di ujung jalan yang gelap itu, mereka merasa ia sudah bertahun-tahun lamanya seperti seharusnya memang di sanalah tempatnya tinggal, meskipun mereka tahu, bahwa di ujung jalan itu hanya ada sebuah lubang kosong menganga yang bahkan sebilah papanpun takkan sanggup bertahan di atasnya tanpa terperosok ke dalamnya.

*

Yeesaac memutuskan akan menemui Mahla, perempuan misterius yang hampir menyerangnya dengan burung-burung dari dalam matanya. Yeesaac, perempuan kita ini adalah perempuan keras kepala yang sok tahu dan tukang gosip, penyebar kabar keji, begitulah ia dikenal. Ia dulunya dihindari, ia sangat jarang diikutkan dalam pembicaraan-pembicaraan karena kebanyakan orang menghindari lidahnya yang lebih tajam dari pisau yang digunakan untuk membelah limau. Namun, kabar tentang dirinya yang telah diserang burung-burung gaib itu sedikit banyak telah mengubah pandangan orang-orang yang pada dasarnya memang mudah melupakan apa yang seharusnya mereka ingat.

Mereka jadi iba padanya, orang-orang mulai mempercayai perkataannya yang berubah-ubah tiap kali ia menceritakan kembali, dan seperti naifnya para kanak-kanak saat mendengar dongeng, orang-orang malah terpana setiap kali ia kembali bercerita, dan mereka percaya padanya lebih daripada seharusnya.

Maka, untuk mempertahankan harga diri yang telah diperolehnya kembali, Yeesaac melangkahkan kaki gempalnya, menuju pondokan yang letaknya di barat daya, tempat perempuan bernama Mahla yang menjadi pokok beritanya berada, tepat seperti dugaannya, pondokan itu tidak berada di sana, hanya tersisa lubang menganga yang siap menelan tubuh gempalnya.

“Perempuan bernama Mahla itu pasti tak pernah ada, aku pasti bermimpi saja.”

Yeesaac menggumam sambil menolehkan kepalanya, rambut keritingnya bergoyang-goyang tertiup angin yang mendadak semakin dingin, di atas kepalanya, mendung mendadak berkumpul seakan menggulung langit dalam kelamnya. Ia lalu berbalik, bersiap-siap pergi ketika dilihatnya perempuan yang bertudung hitam itu menunduk di hadapannya. Ia gemetar, tak sanggup menatap wajah yang sedang menunduk itu, ia gentar membayangkan kawanan burung yang akan mencakar matanya, namun ia membutuhkan lebih banyak simpati untuk hidupnya yang sepi dan menyedihkan. Ia butuh kisah untuk bisa dibagi kembali, dengan itu Yeesaac bisa selalu diterima dalam kerumunan orang yang biasanya abai.

Yeesaac melangkahkan kakinya, pelan, sangat pelan, ketika tiba waktunya ia berada tepat di hadapan Mahla, ditengadahkannya wajah perempuan yang sedang menunduk dan tertutup tudung itu, dilihatnya di sana, di lubang yang seharusnya berada sepasang bola mata, hanya ada hitam. Kelam yang terlalu pekat, dan ada kesedihan tiba-tiba membungkusnya sedemikian rapat, kelepak sayap burung-burung bergesekan di telinganya. Yeesaac ingin menjerit, namun bibirnya kehilangan daya untuk membuka, lidahnya menempel ketat ke langit-langit mulutnya, lalu perempuan terkutuk yang bertudung itu tersenyum padanya, senyum yang getir. Senyum yang sungguh keji.

Jadi Yeesaac, cerita apa yang akan kau kabarkan kali ini?

Sementara, burung-burung masih saja menghambur keluar dari mata Mahla.

Jalan Magnolia No. 27

image

1/ Bisik-bisik berlumur tawa yang entah.

Aku mengintip ke dalam jendela yang bingkai kayu tuanya telah diselimuti lumut, dan rasanya empuk saat telapak tanganku menyentuhnya. Hidungku berdebu saat menempel di kacanya. Rumah itu telah lama ditinggalkan penghuninya, ibuku pernah bercerita. Jangan dekat-dekat ke sana, Feli, kau bisa ditahan karena memasuki properti orang lain tanpa ijin, ayahku dengan serius memperingati. Waktu itu aku yakin seratus juta persen, bahwa aku mendengar suara-suara tawa dari dalam sana saat melewati rumah itu. Jangan coba-coba, Felicia! Ibuku murka saat aku mengatakan hendak mengintip ke dalam sana.

Namun, rumah besar berdinding bata cokelat, dengan atap miring dan cerobong asap bulat itu, selalu punya cara untuk memancingku untuk sekadar mengintip. Lagipula rumah itu hanya satu blok saja jauhnya dari tempat tinggalku. Apa salahnya mengintip sebentar?

2/ Bayangan-bayangan yang terekam jauh dari sempurna.

Dinding-dindingnya kusam. Lantainya berdecit saat diinjak. Jam kayu di atas perapian tidak menunjukkan perubahan pada jarum yang bersejajaran di angka sepuluh. Sofa-sofa merah telah mengelupas kulitnya. Perutnya menganga berhamburan busa-busa yang sudah berubah warna menjadi hijau tua.

Di seluruh ruangan, terpampang potret yang membuatku gemetar hingga ke tulang-tulang. Jika bukan karena rasa penasaran yang berapi-api, aku pasti sudah lari. Kuperingatkan diriku berkali-kali, usahaku bersusah-payah mengungkit, dan memanjati jendela lapuk itu akan sia-sia kalau aku menjadi pengecut yang melarikan diri hanya karena foto-foto konyol di dindingnya.

Tapi foto-foto itu sama sekali tidak konyol.

Badut, di dalam foto tidak terlalu menakutkan, namun tetap saja, seringainya seram!

Bayangkan, apa yang disembunyikan para badut, dibalik senyum yang dipulas pemerah bibir yang keterlaluan, dan bedak putih  yang mirip sekali dengan abu orang mati?

3/ Jerat Pemburu

Selain udara kosong yang hanya meniupkan debu ke mataku hingga pedih, rumah ini kosong. Benar-benar kosong. Aku sudah menjelajah ke seluruh ruangan. Hanya ada tiga ruangan, kamar tidur, dapur yang menyatu dengan ruang tamu dan ruang makan, lalu kamar mandi di dalam kamar tidur.Kamar tidurnya  sempit, kamar mandinya –yang demi Yesus aku tidak mau memasukinya karena pasti jauh lebih kotor, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang mendiami kamar mandi yang sudah lama tidak dibersihkan. Di dalam kamar itu, ada lebih banyak foto badut, dan tempat tidurnya sudah bobrok sama sekali (ada banyak tali-tali dari lilitan tembaga diikatkan di sisi ranjang.) Lalu dapur, di dekat pintu belakang yang mengarah ke hutan kecil, pintunya terkunci, dapurnya mengerikan. Banyak noda-noda menghitam di lantai dan mejanya. Aku terus mengenyahkan pikiran bahwa noda hitam itu darah, mungkin saja dahulu pemilik rumah memasak kaldu lalu gosong atau apalah.

Lalu ada sesuatu yang menghentikan langkahku yang tinggal beberapa meter dari jendela tempatku menyelinap. 

Suara-suara tawa menggema. Mengganggu dan terasa mengancam.

“Mengapa terburu-buru? Bermainlah dulu.”

Perwujudan sosok di hadapanku lebih menyerupai mimpi buruk ketimbang nyata. Sebuah kamera video menyala di tangannya. Suara-suara yang kudengar berkali-kali saat melewati rumah ini mengalun dari dalamnya.

“Gadis kecil, apa kau takut?”

Aku menyesal tidak memeriksa kamar mandi. Lebih menyesal lagi saat aku menyadari bahwa aku tidak membawa semprotan merica di saku celana.

4/ Kabar yang berulang

“Jed, ke mana Felicia? Sudah hampir tengah malam!”

Meridia berteriak panik mendapati kamar anak perempuannya kosong, dan Jed, suaminya memberi tatapan yang sama bingungnya.

“Dari tadi sore aku belum melihatnya, sayang!”

“Dan kau tidak curiga?”

Suara Merida melengking karena marah sekaligus khawatir.

“Kupikir ia sudah pulang!”

warga diminta untuk selalu berhati-hati seiring meningkatnya laporan tentang kasus anak hilang. Kebanyakan yang dilaporkan menghilang adalah anak perempuan berusia tiga belas sampai delapan belas tahun. Kepolisian telah bergerak untuk menyelidiki apakah kasus anak-anak hilang ini seperti kasus yang pernah terjadi tujuh belas tahun yang lalu, di mana pelakunya sampai sekarang belum terungkap. Semua korban juga belum ditemukan hingga kini. Hanya ada beberapa asumsi bahwa pelaku melakukan penyamaran saat melakukan kejahatannya. Beberapa laporan yang masuk saat teror menyerang tujuh belas tahun yang lalu menyebutkan, bahwa ada sesosok badut asing yang berkeliaran di sekitar rumah kosong di jalan magnolia nomor dua puluh tujuh…

“Demi Tuhan, Jed. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Feli… .”

Mereka berpandangan ke arah televisi yang menyala di ruang tamu, kemudian saling terisak-isak.

*

Gadis kecil, mau bermain?

Kamera videonya berkerlip ke arahku. Sosok gendut berpakaian polkadot dengan pemulas bibir yang keterlaluan, dan bedak putih seperti abu orang mati itu, menyeringai. Aroma bibirnya masih melekat di badanku yang babak belur.

Sambil tertawa-tawa, ia mengayunkan parang berkarat yang dipenuhi bercak gelap. Sementara tubuhku menggelepar-gelepar, sebelah lenganku lunglai, tergantung berayun-ayun di sisi ranjang yang diikat tali-temali sewarna tembaga… .

Suatu Masa: Ketika Ellia bertemu Abiram

Ellia seakan ingin meledak dalam kumparan cahaya yang mengungkungnya. Di barisan semak lili merah jambu yang menari-nari, dadanya ingin meledak karena rasa senang yang muncul tanpa terduga-duga. Pagi tadi, saat ia memanen kuntum-kuntum embun di barisan para lili (bunga-bunga cantik merah jambu itu merona di bawah sentuhan tangan beledunya yang mungil), ia mendengar Sang Kenari bernyanyi:

Terselip di antara kabar angin,
Yang lama hilang akan kembali,
Rumah-rumah akan berseri,
Perapian dipenuhi nyala api,
Hangat hanya hangat yang mengusir sepi,
Tunas-tunas lalu bersemi,
Dia kembali.
Dia kembali.

Ellia sampai menjatuhkan keranjang embunnya yang berharga, embun itu sama berkhasiatnya dengan nektar para mawar, menghidupkan hidup yang beranjak layu karena matahari, mengembangkan sayap para peri, serta melukiskan pelangi di kulit-kulit pohon yang kisut.

Namun Ellia tidak peduli. Ia segera mengembangkan sayap yang menggantung lemas di bahunya, secepat kilat ia menuju petak matahari –sebentuk tanah yang diselimuti rumput berwarna ungu yang bermandikan matahari, di sana, tempatnya biasa berdiam, diam-diam merindukan peri yang lama tidak dilihatnya lagi. Peri yang lalu menghilang tanpa menyisakan kabar kecuali hanya berupa sepotong kisikan angin.

Aku pergi sementara saja.

Abiram.

Ia terbahak-bahak teringat buntut serupa buntut tikus yang menempel di tubuh Abiram. Cahaya matahari membuatnya sangat bersemangat. Bukan. Namun kabar dari Sang Kenari yang menyalakan hidup yang hampir lesap dari dalam dirinya.

*

Taman Para Peri. Begitu Abiram pernah menyebut hutan kecil tempat mereka tinggal, dan bersembunyi. Mereka adalah sekumpulan peri –kebanyakan dari mereka adalah peri pohon dan peri bunga, beberapa diantaranya  kelinci yang ternyata pesulap ulung, sekelompok marmut pencuri kenari, bergerombol-gerombol mawar pongah dengan duri berbisa, sebarisan lili merah muda tukang merona, sekumpulan pohon tua yang tidak mau menyebutkan nama, sepasukan belalang tanpa bulu mata, serta seekor burung kenari buta.

Abiram adalah Kepala Suku, para peri penari yang genit (peri-peri ini datang sesuka hati mereka, tinggal di kastil-kastil yang terletak di utara), menyebut Abiram adalah Maha Raja. Ellia terkikik-kikik geli saat peri-peri penari itu dengan genit mencolek-colek buntut Abiram dengan sikap menggoda. Abiram yang kehilangan kata-kata hanya menanggapi mereka dengan memberi mereka sekeranjang penuh nektar mawar yang mereka panen dengan susah payah. Peri-peri genit itu lalu pergi dengan mendaratkan kecupan masing-masing di pipi Abiram, dua kali untuk setiap peri.

Ellia sendiri adalah peri bunga biasa yang tidak memiliki keahlian apapun selain memanen embun dan membuat  lili-lili merah jambu menjadi lebih merona. Namun berkat keberanian Ellia di suatu pagi, saat melihat Abiram tersengat laba-laba raksasa yang entah berasal dari kutukan negeri yang mana, peri bunga itu mengisap racun itu sendiri melalui bibirnya. Akibatnya, Ellia kejang-kejang dan muntah-muntah lebih dari tiga putaran matahari. Abiram menaruh hormat tinggi-tinggi untuk itu.

Selain itu, Ellia adalah peri pemberani. Ia pernah mengusir sekumpulan lebah bodoh, menimpuki mereka dengan kotoran kelinci, saat kawanan itu memyerbu semak mawar pongah mereka yang berharga. Dan untuk itu, mawar-mawar berbisa telah berbaik hati memberikan nektar mereka tanpa menyengat Ellia sama sekali.

*

“Abiram, kau tidak penasaran?”

“Tentang apa?”

“Dunia.”

“Memangnya dunia kenapa?”

(Ellia melemparkan setangkup embun ke wajah Abiram yang terkaget-kaget hingga tak mampu menghindar. Sekumpulan peri bunga yang lain berdeham-deham.)

“Dunia kan tidak hanya di sini.”

“Aku tahu. Lalu kenapa?”

“Tidak inginkah kau melihatnya?”

(Abiram mencolek nektar dari toples kaca yang telah diisi penuh-penuh oleh Ellia, sebarisan belalang melolong protes –jangan sampai jatah kami berkurang karena kau licik menjilat duluan, Abiram!)

“Baik. Aku akan melihatnya. Dunia yang mana yang ingin kau ketahui?”

“Maksudku, aku ingin melihatnya!”

(Ellia gusar. Ia menutup toples dengan asal-asalan, lalu melemparkannya pada peri lainyang terlihat putus asa — peri itu telah bersusah payah memanen nektar sepanjang pagi, dan ia belum mendapatkan setetespun, para mawar meruncingkan duri-durinya yang berbisa.)

“Tidak bisa, Elli. Kalau kau pergi, siapa yang memanen nektar dan menjaga petak matahari? Bayi-bayi peri harus dibaringkan di sana setiap satu putaran matahari. Dan hanya kau yang bisa ke sana tanpa dilukai barisan semak mawar-mawar jahanam itu.”

(Ellia terdiam, ia tahu petak matahari dipagari barisan mawar karena kesakralan tempat itu. Namun ia baru sadar hanya ia yang bisa ke sana. Bahkan Abiram yang Kepala Suku pun akan tersengat dan mati jika terkena duri-duri itu.)

“dan, Elli, jika para bayi tidak dibaringkan di sana, mereka akan kisut. Layu. Seperti masa-masa gelap saat kita belum menemukan petak matahari. Hanya akan ada tangisan dan pemakaman. Semua berkabung. Semua beranjak tua. Mati.”

(Ellia mengangguk.)

“Biar aku yang pergi.”

Setelah percakapan pagi itu, Abiram menghilang. Tujuh putaran purnama penuh. Ia tak kunjung kembali. Taman Para Peri perlahan-lahan berkabung. Bagi mereka, sang Kepala Suku adalah jiwa yang menghidupi semangat mereka semua. Tanpa terkecuali.

*
Ellia menangkupkan sebentuk cawan kaca di antara bibir-bibir mawar yang merekah, rona pongah itu perlahan luruh, menetes di cangkirnya. Nektar-nektar madu berlelehan di dalamnya, berkilau-kilau penuh nyala hidup. Sejenak setelah kelopak-kelopak itu tertidur layu, Ellia menjentikkan embun di atas mereka, menjadikan kuntum-kuntum mati itu terlahir kembali. Ellia mengusap-usap mereka dengan lembut. Hatinya merasa sendu. Dua putaran matahari setelah Sang Kenari bernyanyi, Abiram belum kembali.

Elli beringsut ke maple tua yang batangnya mulai menghitam, menyembunyikan tangisnya di sana.

Lalu, dari balik bayang-bayang pohon-pohon yang terlihat berkilau-kilau karena mereka serentak tersenyum hormat, Abiram, tersenyum lebih cerah dari matahari.

“Aku tidak pergi dalam waktu yang terlalu lama, bukan?”

Di sepasang mata peri pohon yang sewarna tembaga itu, Ellia melihat: dunia.

Api

Ia melihat perempuan itu begitu saja. Bintang-bintang bergayut di ujung rambut sang perempuan saat ia mengibaskannya. Hanya merah yang memenuhi matanya. Merah yang hangat. Merah yang rekah. Merah yang damba.

Perempuan itu mengerling, sejenak. Menancapkan pandangan ke sepasang mata miliknya sendiri.

*
Ia teringat pada cerita usang yang didongengkan padanya saat matanya terbenam pada malam yang lelap. Pada malam yang pekat. Pada malam yang sembap. Karena pada malam yang sama, ia akan terbangun kembali, menggigil dingin saat udara menyengat panas, dan dari pipinya, bergurat-gurat air meleleh dari matanya.

Ia merasa perih yang entah. Seolah-olah sang mimpi sendiri yang membuatnya jeri. Ia tidak pernah ingat mimpinya. Namun di kepalanya selalu mendengung dongeng dari bibir keriput nenek buyutnya yang beraroma kayu lapuk.

Hati-hatilah pada nyalang api yang menjilat-jilat rongga di tubuhmu. Karena saat panas itu membakarmu dari dalam, dia akan datang.

Peri bergigi runcing dan berjubah api. Ia hanya akan mengabukanmu tanpa engkau bisa menyadari.

Hati-hati.

Sejak saat itu, hatinya diliputi panas yang menggeliat-geliat. Dan ia tidak berhenti mencari-cari peri berjubah api.

*

Ia pernah bertanya, suatu ketika. Kepada ibu yang memeluknya suatu malam saat ia terbangun dan kembali berteriak.

“Siapa peri bergigi runcing dan berjubah api itu? Apakah ia ada?”

Ibunya hanya tersenyum, lalu menjelaskan bahwa itu hanya dongeng sang nenek buyut untuk menakutinya. Sebab, menurut ibunya, setiap manusia selalu memiliki api di dalam dadanya. Itulah yang membuat mereka semua hidup, dan bersemangat. Ibunya menutup cerita dengan menarik selimut hingga batas dagunya.

Malam itu, ia kembali bermimpi. Kali itu, ia terbakar di pasungan yang dilalap api. Namun aneh, ia justru mencengkeram sang api. Di sudut matanya, sang peri mengerling, menatapnya dengan sepasang mata merah yang merekah. Menyala-nyala.

*

Ia memiliki api. Ia membakar apa saja. Ia menghanguskan manusia. Ia mengabukan laki-laki. Memanggang perempuan. Mengganyang yang bukan keduanya.

Api disungginya tinggi-tinggi. Kali itu ia tidak lagi bermimpi pekat yang membuatnya kalut, dan ia tak lagi menggigil di saat udara menyengat dengan sangat. Ia melupakan mimpi yang membuatnya jeri.

Ia memiliki api. Api di dada. Api di kepala. Api di selangkangan.

Ia berjengit menatap sebaris gigi runcing dan jubah api berpendar di pundak perempuan. Bintang-bintang berdenyar di ujung rambutnya. Perempuan itu mengerling dari balik cermin. Menatap wajah yang menatapnya balik dengan jengah.

Hati-hati dengan api yang nyalang yang membakarmu dari dalam,
Sebab saat api itu kau pelihara, ia akan datang
Peri bergigi runcing, bermata darah, dan berjubah api

Hati-hati dengan api,
Sebab ia akan menjelma engkau
Dan engkau adalah satu.

Perempuan yang Menunggu Mati

Aku hidup dari menelan kepahitan, lalu memuntahkannya, empat puluh tujuh kali banyaknya, sepanjang usia lupa milik ibu.

**

Tidak ada yang lebih kelam, selain sepasang ceruk yang menganga di wajahnya.  Ceruk itu kelam, pekat, dan anyir. Mengingatkan aku tentang cerita-cerita seram tentang adanya sebuah lubang tempat ditimbunnya tubuh-tubuh yang dikoyak, dan ditorehkan luka-luka menjelang ajalnya. Cerita-cerita seram yang sering diteriakkan dari lidah yang biasanya beku dari dalam bibir ibu. Bibir yang biasanya hanya bergumam-gumam muram, merutuk, lalu bungkam itu mendadak buas, mendadak melengking tawa getir yang keji saat mimpi mulai menari, di saat sepasang kelopaknya bahkan belum terpejam. 

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Sayup-sayup suara ibu mengalun dari dalam bilik tempatnya bersembunyi. Di dalam kamar itu hanya ada sebilah cermin, sehelai kasur tipis, dan tubuh ibu yang ringkih. Teramat ringkih untuk bisa memeluk dirinya sendiri. Segera setelah kakiku melewati ambang pintu, yang tersisa dari dirinya hanya ceruk menganga yang dulunya tempat sepasang mata. Semakin lama aku memandangnya, semakin dalam aku tersedot kepedihan di dalamnya.

**

Mereka datang!
Mereka datang membawa klewang, dan bengis menjadi sekutu mereka. Tangan-tangan mereka telah penuh dengan daging-daging yang mereka cabik dari kawanan perempuan yang ditengarai sebagai perempuan sayap kiri. Padahal perempuan-perempuan itu hanya memiliki bakat dan nurani yang senang mereka bagi. Kepintaran mereka terlalu menakutkan. Kecedasan mereka terlalu mengancam!

Merekapun lalu dibungkam, dikotorilah tangan mereka dengan darah yang tak pernah setitikpun mereka tumpahkan, jari-jemari mereka dipasung, didera dakwa telah memotong-motong satu legiun Jendral dengan keji! Benang yang pernah terjalin dengan kawanan perempuan itu akan segera dikoyak dengan keji. Benang-benang itu akan dipotong-potong tanpa kompromi. seperti yang mereka lakukan pada kawanan Perempuan Kami. Larilah!

Larilah! Lari!

Ia adalah Wanita, yang meneriakkan peringatan. Ia adalah satu kawanan perempuan dengan. satu sayap yang menempel di punggungnya. Sayap kiri. Dadanya serasa meledak dengan geraman amarah yang dibalut duka, mata miliknya tak henti menumpahkan curah air yang mengirisi pipinya. Ia lari, ia berhasil lari, mengendap-endap seperti pencuri, lalu menyiarkan kabar kepada mereka yang pernah disinggahi perempuan-perempuan sayap kiri. Kabar itu hanya berisi satu seruan; Lari! Selamatkan diri!

Ia lalu menangkap lenganku yang gemetar, sebelum kemudian kembali berlari. meneriakkan peringatan-peringatan untuk saudari-saudari kawanan yang lain.

Lari, nak. Sembunyi. Jangan katakan apapun pada yang kau singgahi.

Ia berbisik, suaranya seakan berasal dari liang kubur saat aku menatap sepasang matanya.

**

Perempuan itu baru menginjak sembilan belas. Terlalu ranum untuk bertelanjang kaki,
terlalu mengundang untuk meringkuk di bawah malam yang berbayang-bayang. Kakinya telah lelah untuk menyeretnya agar terus bersembunyi, padahal hari baru berganti satu kali putaran matahari, sementara lengannya terus gemetar.

Peringatan Wanita terus berkumandang dari dalam kepalanya. Membuatnya seketika merasa renta. Ibu dan saudara-saudara perempuannya telah dijarah dan ditangkapi… . Ia tak sanggup, bahkan hanya sekadar untuk menangisi.

Ia meringkuk di sudut jalan yang ternyata masih liar. Aroma perempuannya yang baru mekar, terendus sekumpulan serigala, mereka menerjang dengan mata nyalang berahi yang rakus. Mereka menyeretnya ke dalam liang, lubang yang dijadikan sarang. Dan taring-taring mereka seketika berubah kemaluan, menusukinya hingga jeri. Jengkal demi jengkal tiap-tiap bagian tubuhnya. Ia menangis… ia terus menangis.Sungguh sekali ini ia ingin mati.

**

Lari!

Ibu berbisik di telingaku saat usiaku lima belas. Mata yang biasanya hanya berupa ceruk tanpa cahaya itu mendadak menyala-nyala. Ia menggamit lenganku erat, lalu bersimpuh di kakiku dan membuatku bersumpah.

Larilah, dan jangan kembali!

Namun kakiku telah terbenam ke dalam rawa-rawa genangan masa lalu yang menghisap daya hidupnya hingga hampir tuntas. Aku bersumpah tidak akan lari dan mengakibatkan ia seorang diri.

“Laila, mana tehnya?”

Dari balik pintu, suara Serigala satu menggelegar. Ibu memberitahuku, bahwa laki-laki itu adalah Serigala, di malam-malam saat ia bisa menemukan suara yang tersangkut di tenggorokannya, dan ceruk matanya hidup. Di sela-sela ceritanya, ibu menggumam-gumam tanpa arti, menangis, meratap-ratap, lalu kembali fokus. Lalu bergumam lagi. Fokus lagi. Begitu seterusnya.

Hati-hatilah pada Serigala satu. Dia bisa memangsamu.

Serigala yang mana, Bu?

Ibu melirik ke kanan dan ke kiri, lalu bergumam lagi, kemudian suaranya beralih, berubah jernih, seperti genta angin.

a yang menempati sebelah kamarmu.

Ayah?

Aku terkejut dengan mulut menganga, ibu bergumam-gumam lagi, sesekali melantunkan lagu yang menjadi salah satu bagian cerita-cerita seramnya tentang lubang dan tubuh-tubuh koyak sebelum dijemput ajal.

Ia Serigala Satu. Ia yang mengoyakku di paling awal sebelum kumpulan lainnya melakukan hal yang sama, lalu ia memasungku lebih dari empat puluh hari. Rahangnya melengkung senyum saat benih itu mekar di dalam rahimku. Ia tidak peduli benih siapa. Ia bujang tua bajingan yang kesepian. Mendamba putra. sekarang, pergilah, pergi!

Malam jahanam, sekawanan perempuan menari dengan iblis mendiami liang-liang yang mereka biarkan terbuka. Mengalun dari bibir-bibir tipis mereka lagu-lagu agar iblis tetap menyalakan dian di tubuh mereka. Menyalalah mereka karena keringat dan gairah. Dirajangilah para jenderal laki-laki dengan belati-belati perak. Dari ujung.. dari ujung..

Ia lalu kejang-kejang, dan aku selalu muntah-muntah mendengarkan cerita yang selalu ia sebut cerita-cerita seram.

“Laila, mana tehnya!”

Suara Serigala satu terasa mendesak. Aku meninggalkan ibu yang kejang-kejang, dengan bola mata terbalik dan tangis yang menenggelamkannya. Dari balik pintu, aku menemukan Serigala Satu, dengan mata merah dan taring memanjang ya g bersiap menerjang. Cangkir teh yang telah kosong pecah di lantai. Serpihannya menyebar, menyebar seperti ibu yang koyak dan berserak. Malam itu kali pertama aku melihat taring Sang Serigala berubah kemaluan saat ia menusuki tiap jengkal. Tiap liang. Tiap lipatan yang tersembunyi. Dikoyakkan aku hingga tercabik. Aku ingin mati. Matikan aku kali ini… .

Malam jahanam, sekawanan perempuan menari dengan iblis mendiami liang-liang yang mereka biarkan terbuka. Mengalun dari bibir-bibir tipis mereka lagu-lagu agar iblis tetap menyalakan dian di tubuh mereka. Harum mawar mekar setiap satu tetes darah ditumpahkan dari tubuh para Jenderal.. Menyalalah mereka karena keringat dan gairah. Dirajangilah para jenderal laki-laki dengan belati-belati perak. Dari ujung.. dari ujung rambut turun ke dada.. lalu pusar.. lalu kemaluan.. dirajangi mereka.. dirajangi mereka hingga telapak kaki tak luput dari bilah belati… . Perempuan-perempuan sayap kiri, sayap kiri satu-satunya sayap yang paling ditakuti. Dikutuklah mereka dan liang-liang yang mereka miliki, dengan keji. Dengan keji merekalah korban yang dikoyaki sepanjang ingatan, tidak satupun darah tertumpah dari tangan-tangan lentik para perempuan yang senang berbagi nurani.. .

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler… .

**

Dari dalam bilik tempatnya bersembunyi, ibu menceritakan cerita-cerita seram, empat puluh enam tahun lamanya. Di tahun ke empat puluh tujuh, kami masih menunggu…

*tulisan ini diikutkan dalam Lomba: Gerwani, Sundal Perkasa yang Menolak Mati, melalui Lembaga Lingkar Puisi dan Prosa, dan mendapatkan peringkat ketiga