Sri Wedari

Wajahnya molek berlapis pupur, ia telah melukisnya serupa dewi. Di kepalanya, tersunggi tinggi-tinggi sebuah mahkota yang berpura-pura, dan setiap kibasan selendangnya, memercikkan wangi srimpi yang menari-nari…

*

Sri Wedari, begitu nama perempuan yang digandrunginya setengah mati. Perempuan itu lelakon, temannya pernah berkata suatu hari. Tidak ada yang tahu pentas apa yang sedang mereka perankan sebenarnya. Temannya yang lain menambahi. Ia hanya mengangguk-angguk tak peduli mengingat percakapan usang yang usianya lebih dari dua dekade. Ia lantas mengedarkan pandangannya ke bangku-bangku penikmat lelakon yang sebagian besarnya hanya berisi udara kosong.

Kemudian, di hadapannya, di sebuah panggung yang jauh dari megah, lelakon mulai dimainkan. Para perempuan, sebagian laki-laki, mulai memainkan peran yang sudah seharusnya, sesuai dengan arahan dalang yang tersembunyi di balik selambu merah jambu.

Namun di matanya, hanya ada satu lelakon yang dimainkan, hanya ada satu wayang yang bermain peran.

Wedhar.

Ia mengecup nama yang diguratkannya lekat-lekat di pergelangan tangan kirinya.

*

Kebon Rojo atau Kebun milik Raja, begitu Wedhar pernah menyebut kawasan taman yang kini mulai kehilangan pesonanya. Entah karena usia atau karena ketidakhadirannya. Laki-laki itu

“Dahulu, di kawasan ini, beribu-ribu gulden dihabiskan untuk membangun Kebon Rojo lantaran ada beraneka hewan-hewan buruan beraneka warna yang dipisah-pisah sesuai jenisnya.

Mereka membangun museum lengkap dengan telaga buatan yang disebut segaran, meletakkan arca-arca andesit sebagai penjaga, bagian tengah dibuatkan ebuah taman hiburan rakyat yang menawarkan pasar malam, bioskop, dan gedung wayang wong. ”

Wedhar menyampirkan selendang yang digunakannya untuk pementasan lelakon di bahunya, aroma srimpi menguar dari tubuhnya yang berkilau-kilau terkena sinar matahari. Laki-laki yang duduk di sebelahnya seakan tersihir melihat sosok perempuan elok yang membuatnya gandrung. Laki-laki itu mengisap rokoknya sembari mendengarkan kisah dari bibir Wedhar, sambil tak henti-hentinya mencuri pandang kearahnya.

Iklan

Lantrak-lintrik

Perempuan itu mengenakan kain penutup kepala yang melindungi surainya yang sewarna tembaga, lalu dengan gerakan yang halus lagi samar-samar, ia melepas penutup yang melekati tubuhnya. Selapis demi selapis, dari kepala sampai mata kaki, hingga hanya polos yang tersisa.

Kemudian dengan gerakan yang lebih ringan dari genta angin, ia melangkah mundur, selangkah demi selangkah, menuju pekuburan yang terletak selemparan batu dari rumahnya. Matanya memejam, kartu remi yang telah dibebatnya dengan mori di tangan kiri, berayun ringan, seirama lengannya yang bergoyang-goyang.

Hanya ada satu perempuan yang mendadak memenuhi kepalanya dengan bayang-bayang yang kadang-kadang teramat keterlaluan hingga ia tidak bisa menahan hasrat yang menuntut pembebasan. Ia berharap bisa mengusir bayang-bayang perempuan yang molek itu dengan membakar habis isi kepalanya dengan meminum arak api. Namun, arak api itu hanya membakar habis kesadarannya tanpa kuasa mengusir perempuan yang menari-nari di benaknya itu (laki-laki itu mulai merasa seharusnya ia tidak pernah berurusan dengan perempuan yang bayangannya kini melekat di kepalanya dengan terus menari-nari itu, tarian itu membuatnya menggeliut-geliut akibat rasa salah yang makin terasa menyengat.)

Aku menjadi gila sepertinya, ia berbisik pada cermin kokoh yang tergantung pasrah di dinding kamarnya yang telanjang. Sementara, lantai marmer di kakinya terasa lebih dingin ribuan kali. Ia menatap bayangan yang memantul di dalamnya, ia seketika gemetar saat perempuan yang hidup di dalam kepalanya itu mengedip genit ke arahnya.

“Pergi saja, kau!”

Ia meninju cermin, suara benturannya membuat ibunya datang menengok, sementara buku-buku jarinya tidak merasakan nyeri saat merah lalu menyeruak, mengalir bebas di ujung-ujung jarinya.

“Astaghfirullah, Agung! Ada apa, nak?”

Ia menggeleng, menatap ibunya yang mengernyit, kemudian berpaling saat sepasang mata itu berubah menjadi sepasang mata perempuan bayang-bayang yang terus menerus mengganggunya, menerornya tanpa mengenal kata berhenti.

Perempuan kita yang tanpa penutup suatu apa itu merasakan udara berubah, menusuki kulitnya, jari-jarinya mengatup kaku, mendadak kartu yang digenggamnya terasa lebih berat, dan ia mendengar tawa samar-samar menggelitiki kupingnya. Tawa dingin yang tidak menyenangkan. Tawa bengis yang lebih mirip ancaman ketimbang tawa hangat seorang kawan.

Ia merasakan kuduknya berdiri saat kakinya menapak tanah lembek yang bertaburan kamboja kering di sana-sini. Ia masih memejam mata, menajamkan telinga. Tawa dingin yang kering itu menyergapnya dengan tiba-tiba, memaksanya membuka mata, ia hampir muntah saat melihat sosok di hadapannya.

Perempuan di hadapannya itu, memiliki bola mata menggantung yang seolah menuntut keluar dari liangnya, tubuhnya bersisik warna lumut dari pinggang hingga sebatas leher, ia tidak sanggup memandang sosok di hadapannya. Ia mencengkeram kartunya erat-erat, tangannya memutih saking kuatnya ia menggenggam, dan ia terus-menerus menahan gejolak untuk muntah karena rasa ngeri telah mencengkeram perutnya sekencang besi.

Ia mematung, entah untuk berapa lama, bersitatap dengan setan perempuan di hadapannya, saat ia menatap bola mata yang bernanah itu, rasa takutnya malah mulai luruh, sadarlah ia apa yang membawanya ke pekuburan angker itu. Sadarlah ia apa yang ingin dituntutnya ke sana dengan membawa serta -menggenggam erat kartu remi dan bertelanjang tanpa busana.

Ia lalu meneruskan lelakunya, mengabaikan kakinya yang terasa melesak tanah semakin dalam, dan aroma kamboja berpadu wangi melati semakin kuat, ia melangkah dengan mantap. Melalui batin yang semakin peka, ia tahu ia sedang diiringi lusinan makhluk yang bermacam-macam wujudnya. Kesemuanya buruk, berkeropeng, busuk, penuh nanah dan koreng, tidak ada yang cukup pantas untuk dilihat. Ia terus melangkah mundur ke tengah-tengah pekuburan, lalu bersimpuh di atas tanah, mengais-ngais, meletakkan kartu remi di dalam lubang yang dikaisnya, kemudian setelah menutup lubang itu kembali, ia melenggang ringan. Pulang. Makhluk-makhluk buruk nan seram yang mengikutinya, membiarkannya pergi, sendirian.

Belum selesai, angin dingin berbisik menyapa tengkuknya, tiga puluh hari lagi, lalu bukalah, bebaskan apa yang hendak kau tuntut.

Perempuan itu lalu tersenyum keji.

Sukesi menahan getir yang tidak mengenal belas kasihan itu kembali melesaki ulu hatinya. Getir itu menyengatnya berkali-kali, menancapinya berulang kali hingga ia merasa nyeri, dan babak belur. Ia menggigit bibir menahan air yang telah berbayang-bayang di sepasang matanya. Ia meringkuk di sudut kamarnya, di bawah bayang-bayang lemari jati yang menjulang di belakang punggungnya.

Ia merasakan ada yang bergerak-gerak di atas kulitnya, berbonggol-bonggol tangan yang kasar, dan ia merasa mual saat teringat aroma tengik arak murahan menjelajah paksa di dalam rongga mulutnya. Ia dipuntir. Diremasi. Digerayangi. Kemudian yang paling menyakitkan di antara semuanya, ia masih merasakan ada yang menumbuk-numbuk di antara belah pahanya. Ia telah dihunjami, ia telah dilesaki berulang kali. Berkali-kali hingga rasanya ia ingin mati.

Sukesi menjerit semakin menjadi-jadi, air mata seakan menenggelamkan kedua bola matanya sendiri. Ia menampari tubuhnya. Ia menjambak. Ia meludah. Ia membanting. Ia menjerit hingga pekikannya membuat pekak telinga, ia ingin mati. Ia harus mati karena ia bukan siapa-siapa lagi.

Laki-laki Agung itu telah membuatnya sedemikian hina, ia ingin membunuh laki-laki itu lalu membunuh dirinya sendiri. Ia ingin laki-laki itu menderita seribu kali, dendam. Balas dendam. Sukesi berbisik. Lalu satu kata yang telah lama terlupakan itu mengambang, melayang begitu saja di benak Sukesi.

Lintrik.

Sukesi mengejanya dengan hati-hati. Ritual kuno itu menjanjikan pembalasan beribu kali lebih dahsyat dibanding sakit yang telah ia rasa.

Iya, Lintrik.

Sebentuk senyum mulai terukir di wajah Sukesi.

***

Tiga puluh hari telah berlalu, desa yang dulunya tentram itu digegerkan dengan sosok yang dikenal dulunya sebagai laki-laki Agung, berkeliaran layaknya orang yang kehilangan akalnya. Ia menjerit-jerit mencucuki kedua bola matanya dengan telunjuknya sendiri, memohon ampun, meraung-raung. Mendatangi setiap perempuan, memanggilnya Sukesi, dan menyembah-nyembah kakinya. Sementara perempuan yang dicarinya, yang bernama Sukesi, tidak diketahui perginya. Tempat yang dulu ditinggalinya telah kosong, hanya ada bau dupa yang samar-samar masih mengambang di udara. Tidak pernah ada yang tahu, bahwa tepat di bawah selapis papan yang menjadi lantai di kamar tidurnya, ada selembar baju yang telah dicuri perempuan itu dari kediaman Agung, dan di atasnya tergolek kartu remi berlumur tanah pekuburan, di mana nama laki-laki itu tertoreh di badannya… .

Solo, bertahun-tahun yang lalu

Dewi

Saat ia marah, sulur-sulur ular mencuat dari sepasang telinganya. Berbulu tipis namun tajam, sulur-sulur itu liat, lekuk-lekuk pejal yang siap memangsa apa yang ada di hadapannya.

Sementara, benaknya hanya menggeletarkan warna pekat yang berbau asam, sepenuhnya gelap hingga hampir-hampir tidak lagi mengenal cahaya.

Pada hari-hari terbaiknya, ia hanyalah seseorang. Seseorang yang biasa, seperti seseorang yang bisa kau temui di jalan, di persimpangan, di pusat perbelanjaan. Perempuan biasa dengan penampilan yang sangat biasa.

Sekuat tenaga, pada hari-hari yang badai dan buruk dan busuk, ia menahan segala rasa. Amarah. Sedih. Dendam. Sakit. Sakit. Selalu hanya sakit yang hadir di sana. Di dalam benaknya yang sepi. Di dalam benaknya di mana ia mengunci diri. Ia meringkuk dalam-dalam, seperti anak kucing yang kehilangan induknya. Hanya bergelung disana, menunggu. Entah apa lagi selain hanya ada jeri. Dan sakit. Dan sakit lagi.

Di atas, di permukaannya yang biasa-biasa, ia menutup wajahnya yang berkeriut jeri, menyunggingkan senyum. Menjadi orang baik. Menolong orang lain. Memelihara kucing. Merawat anak-anak burung.

Hari itu lain, rasa marah mendidih di setiap jengkal yang ada di tubuhnya. Sakit itu datang lagi. Sakit itu baik. IA berkata. Sakit itu baik, penebusan dosa, melatih peka. Persetan, akhirnya perempuan itu nyaring bersuara.

Aku tidak pernah baik, katanya, aku lahir dari rahim perempuan busuk. Sudah lama aku menyangkal aku. Sekali ini, biar saja aku buruk. Biar saja aku busuk.

Lalu menggeriaplah wajahnya. Geletar-geletar sakit yang disimpannya dalam-dalam. Sakit. Sakit. Sungguh memang sakit. Aku memang tidak pernah baik. Lalu sulur-sulur ular itu mulai bernapas api, menyerang apa saja. Menyambar siapa saja. Menyembur-nyembur dan tidak peduli dengan teriakan jeri.

Pic taken from here

karena proses -hidup tidak selamanya manis

image

Tato.

Tabu bagi sebagian orang. Sebagian mengenakannya hanya sebagai ornamen -hiasan tubuh. Tren. Perwujudan seni. Aktualisasi diri.

Saya bilang : omong kosong.

image

Saya memiliki tato pertama -konyol karena awalnya hanya ingin tahu seberapa sakitnya. Dan ya, jangan main-main karena sakit sekali. Bagian tubuh yang diperawani oleh jarum tato itu adalah leher. Berbentuk lebah. Kenapa lebah?

Karena saya gemar menyengat (kata-kata).

Bullshit lagi.

Waktu itu saat pertama kali saya tato dan memilih gambar lebah, hanya satu alasannya : gambarnya bagus.

image

Lalu kemudian bertahap, berulirlah gambar-gambar itu di punggung. Di bahu.

Sakit?

Sangat.

Lalu kenapa masih dilakukan?

Kenapa?

Karena sakit itu baik.

Sakit adalah penanda bahwa saya hanyalah manusia biasa. Dan saya bersyukur karena masih bisa merasa. Sakit.

image

Saya membuat dua simbol Tuhan di tangan.

One seeing eye dan hexagram.

Saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri. Bahwa Tuhan itu ada, dekat, dan Dia tidak hidup dalam Alkitab.

Ia ada. Dan saya tidak percaya agama. Itulah mengapa saya melekatkan kedua simbol dari berbagai kepercayaan itu di tangan saya.

image

Kenapa saya membuat semua gambar ini dengan proses yang menyakitkan untuk dilekatkan di tubuh saya?

Karena bagi saya, hidup adalah sebuah proses yang harus dilewati -terkadang dengan kesakitan panjang dan pengorbanan, namun kita akan bersorak pada akhirnya.

PS. Saya tidak peduli saat mata-mata dengan tembok yang mengungkung di kepalanya itu saat memandang saya dengan ekspresi prihatin, meremehkan, takjub, atau terheran-heran.

image

Hari Kedua Bulan Pertama, Tahun Ular : Requiem Nyaring Menyalak di Kepala

Requiem æternam dona eis, Domine,

et lux perpetua luceat eis

Te decet hymnus Deus, in Sion,

Tibi reddetur votum in Jerusalem

Pagi itu, aku melihat matahari merah datang bersama bintang timur, keduanya mengerjap molek.

Aku mencoba meraih matahari itu dalam genggaman, tentu, tentu tanganku terbakar.

Dan bintang timur memucat, menatap lenganku yang hendak kembali menjawil.

“Katakan, katakan apa yang salah.”

Ia adalah matahari. Ia adalah pusat. Pusat yang dikelilingi api.

Ia tidak pernah memberi jawabannya.

Ia hanya menjumput api,dan menaruhnya lekat-lekat.

Kuulangi

Ia menaruhnya lekat-lekat, letaknya di dada sebelah kiri.

Tentu, tentu aku hangus mengabu setelahnya.

Bintang itu mengerling sekali. Dadaku terbakar berkali-kali.

     Exaudi orationem meam;

      ad te omnis caro veniet.

      Requiem æternam dona eis, Domine.

Ia kembali menari-nari. Membuat buta. Kali ini bintang timur tidak ada di sisinya.

Tanganku telah melepuh, dadaku masih berupa abu.

“Katakan, dengan apa aku bisa menggenggammu?”

Ia mengirim lautan datang menemui mataku. Lengkap dengan gemuruh bernama cemburu.

Seharusnya aku mati dengan semesta yang memusuhiku karena mencintai matahari.

Exaudi orationem meam;

ad te omnis caro veniet.

Requiem æternam dona eis, Domine.

Siapakah yang sedang menyanyi?

Dari jauh aku melihat bayangan sirens, dengan tubuh separuh duyung dan kepala serupa dewi.

Bintang timur bersiul nyaring di belakangnya.

Siapakah yang bernyanyi?

Kuulangi.

Siapakah yang telah mati?

Hari itu, aku melihat matahari merah,

Bintang timur meringkuk di sudut,

Hari itu, aku jatuh.

Lalu mati.

Kyrie eleison;

Christe eleison;

Kyrie eleison.

Hari itu, aku mati. Hari itu aku mencintai matahari.

kyrie elesion

PS. Hari kedua, bulan pertama, tahun ular. Aku belum pernah semati ini.

well, silakan ikut jika berminat.

dan tetaplah tersesat di rimba aksara. bersamaku.

beranikah, kamu?

Titik Koma

Kabar Budaya – RetakanKata

festival blog sastra indonesiaMendasarkan pemikiran yang ada di sini dan menyadari bahwa setiap pemikiran dalam upaya menumbuhkembangkan seni dan sastra Indonesia adalah berharga maka RetakanKata menyelenggarakan Festival Blog Sastra Indonesia.  Untuk FBSI kali ini khusus diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan terhadap pelajar dan mahasiswa yang secara mandiri menuliskan karya-karyanya di blog. Untuk FBSI yang bersifat umum, kami menunggu kalau sudah ada sponsornya. Yang berminat menjadi sponsor FBSI untuk umum, silakan menghubungi Redaksi RetakanKata.

Untuk mengikuti festival ini, simak ketentuan-ketentuan berikut:

Kriteria Peserta

  • Pelajar dan atau Mahasiswa warga negara Indonesia yang berdomisili di Indonesia.
  • Usia peserta antara 17 – 30 tahun.
  • Memiliki blog pribadi yang berusia minimal 3 bulan.
  • Sudah menjadi follower RetakanKata. Jika belum, sila daftarkan dulu blog atau user email pemilik blog sebagai follower blog yang ada di sidebar blog RetakanKata. (Perhatikan: follower blog bukan follower di facebook atau twitter)

Kriteria Blog

  • Blog mengandung unsur tema seni dan budaya…

Lihat pos aslinya 405 kata lagi

Sesaat Sesat

Ia tidak bisa (lagi) membedakan bentuk maupun warna. Telinganya menolak menangkap bunyi. Ia terpenjara sendiri. Buta untuk mengenali. Tuli untuk memaknai.

Ia mencoba menyusun keping-keping paham yang masih tersisa, di otaknya. Di sudut sebelah kiri. Bermacam warna, dan aneka gambar abstrak, terlalu absurd untuk diterjemahkan kembali. Ia sedang tersesat, tersesat di dalam dirinya sendiri.

Ia hanya bisa mengenali merah atau hitam. Terang dan pekat. Ia hanya bisa mengeja marah dan dendam. Ia merasa dirinya diliputi biru yang haru, namun ia kembali tersesat. Yang manakah warna biru? Sementara matanya hanya menangkup merah, dan hatinya hitam berkubang dendam.

Tersesat. Ia membayangkan matahari. Matahari yang benderang di matanya, lagi-lagi hanya berwarna merah, dengan latar langit kelam, hitam. Ke manakah semua warna?

Ia mencoba mengenali bentuk. Semua berubah berbayang-bayang, berbisik-bisik kecam. Menggores-gores di belakang punggungnya. Ia lupa bentuk-bentuk yang harus ia kenali. Dunianya terjungkir balik. Ia tersesat. Sesaat sesat.

Matanya (masih) menolak mengenali..

Telinganya (kemudian) menolak memaknai..

Cerita Kosong -Ketiadaan

Jantungnya sesak. Dipaksa memacu begitu cepat –liar tak tahu malu. Punggung yang semula melengkung itu menegak, kedua bola matanya liar menari-nari. Melahap rakus pemandangan yang berlalu dihadapannya. Pemandangannya sederhana : sosok yang terbalut dalam berkat surgawi –elok, itu berjalan melewatinya, dan meninggalkan aroma yang ia candui sepanjang usia.

Pada awalnya ia menggenggam sesuatu yang akan meregangkan nyawanya. Sebotol penuh pil-pil kecil anti depresi yang dibelinya secara sembunyi-sembunyi. Pada awalnya, ia telah memejamkan mata, dan kerongkongannya bersiap membuka -menelan, dan sebotol kecil air mineral dijinjingnya di lengan kiri. Ia berdiri dengan punggungnya yang melengkung –terlalu bongkok untuk usianya, dan napasnya yang pendek-pendek selalu membuatnya  gagap. Ia memegang erat butir-butir anti depresi itu dan berkomat-kamit. Merapal mantra-mantra yang akan menguatkan dirinya untuk membuka tutup botol, dan sekalian habis menenggak isinya. Kemudian jantungnya bergetar aneh, memaksanya membuka mata. Dan aroma yang mengambang di udara itu begitu pekat di dalam kepalanya yang bebal –bodoh.

Bukan salah siapa-siapa jika ia memilih sudut jalan yang berdinding bata merah tua. Di sanalah ia menemukan kaitan yang mencengkeram ulu hatinya, sedemikian kencang hingga bernapaspun terasa berat, dan asam telah membuat mulutnya berkarat. Ia tidak bisa menyampaikannya. Maka disanalah dia, mencengkeram sebotol pil bersama airnya, hendak mengakhiri jantungnya yang berdetak tak tahu malu dan kurang ajar.

Lalu juga bukan salah siapa-siapa jika punggungnya yang biasanya melengkung itu mendadak tegak saat suara langkah-langkah yang samar itu teraba indra pendengarannya. Ia menyembunyukan botol pil di dalam genggamannya, menyusul kedua matanya membulat menangkap bayangan yang memenjarakannya seperti selamanya.

Ia hidup di dalam bayang-bayang, seperti hantu tak kasat mata. Tidak dikenali. Tidak penting untuk diketahui. Ia hidup seorang diri. Tidak ada yang bersedia menyambut tangannya yang keriput dan lusuh di usia belia. Ia berkelana, dari satu kota ke kota lainnya. Namun ia selalu kembali, ke sudut jalan yang berdinding bata merah tua. Menunggu sosok yang membuat jantungnya liar tak terkendali. Memburu aroma yang membuatnya birahi, dan nafsunya terpenuhi hanya dengan menciumnya lebih dekat. Ia menyetubuhi aroma itu di dalam pikirannya, dan matanya memutar kilas sosok –tubuh yang ia damba hingga merana.

Kaitan di dadanya itu menancap, mengakar hingga hatinya menghitam. Sementara mulutnya masih saja terasa asam, membakar lidahnya saat ia berusaha menyampaikan. Ia melemparkan lidahnya pada api nerakanya sendiri, yang menghanguskannya menjadi seonggok daging –mengkerut dan berwarna abu. Api itu tinggal di dalam dirinya. Selalu membakar habis apa yang ia lalui. Api itu –gabungan nafsu dan mimpinya yang paling membara

Ia mulai menghitung, berapa lama tidak bersuara saat karat-karat itu mulai merambat mulutnya. Ia menghitung, dan terus menghitung, kemudian mendadak tersadar. Ia lupa berapa lama ia tidak bersuara. Ia lupa usianya. Ia lupa, siapa dirinya.

Ia telah gelisah sepanjang usia waktu, waktu yang tidak bisa ditentukan berapa lama. Karena ia sibuk mengingat dan waktu telah kembali berjalan, sementara ia masih saja mengingat-ingat lupa. Punggungnya kembali melengkung dan dinding bata di belakangnya terasa dingin, menusuknya hingga menggigil. Ia roboh, pil-pilnya masih tergenggam di tangannya, dan matanya menggeletar, tertumpah airmata yang selalu disembunyikannya.  Ia berbaring dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Menangis meratap-ratap. Tidak ada yang pasti dalam ratapannya. Awalnya ia meratapi punggungnya yang bongkok, napasnya yang membuatnya gagap, serta lidahnya yang terbakar habis hingga tidak bisa bicara. Api itu masih ada di kedalaman dirinya, bersiap berkobar, menghancurkan. Kemudian ia meratapi sosok yang ia gilai dan aroma yang membuatnya terpenjara, aroma yang telah ia setubuhi berkali-kali. Namun hatinya hampa, ia tidak bisa merasa. Rasa miliknya ikut mati bersama lidah yang telah ia bakar agar tidak lagi bisa berkata-kata. Ia hidup di dalam bayang-bayang, tidak ada yang repot-repot mengindahkan tubuhnya yang bongkok saat mengejang berteriak-teriak dalam hampa. Tidak ada yang bersedia berhenti sekedar menanyakan bagaimana keadannya.

Kemudian ia tertawa, berguncang-guncang, hingga membuatnya tersedak. Ia duduk menempelkan punggungnya. Di sudut jalan itu, di tempat yang tidak berada di mana-mana, tempatnya hilang dan menemukan. Dinding bata itu tempatnya meluruskan punggung dan mengisap pipa yang membuat mulutnya asam, dinding bata itu penjaranya yang membuatnya tidak bisa bergerak, bicara, maupun mengingat. Dan kunci penjaranya ada pada sosok yang aromanya telah membuatnya lupa.

Ia ingat, ia pernah berusaha terlihat. Menggumamkan suara yang tergagap-gagap, dan tangannya terulur, memegang bahu sosok yang ia puja. Namun sosok itu menembus tangannya, bersikap seolah-olah tangan keriput itu tidak pernah menyentuh bahunya. Dan aromanya tetap saja memekatkan mimpi-mimpinya menjadi nyata. Ia mabuk. Tanpa anggur yang menyinggahi lidahnya. Ia merasa bebal dan bodoh, memutuskan berkelana. Singgah ke kota-kota yang banyak penghuninya. Di sana ia tak lebih dari bayang-bayang. Tidak penting. Tidak disangka ada. Dan jubah kumalnya membungkus badannya yang bongkok, semakin mengisolasikan dirinya. Ia hanya bicara pada dirinya sendiri, dan api di dalam tubuhnya itu yang telah mengkerutkan lidahnya menjadi sewarna abu, mulai menggerogoti hatinya. Ia serupa patung tanpa rasa. Patung bongkok buruk rupa. Ia kembali menjadi hantu.

Kota-kota yang disinggahinya hanya berupa ingatan kabur yang terus berlari menjauhi dirinya. Kota-kota yang ia singgahi hanya makin memekatkan aroma yang ia setubuhi di dalam pikirannya. Maka, ia kembali ke penjaranya, berkali-kali. Ia tidak pernah menghitung waktunya. Dan sosok itu, masih berjalan melewatinya, mengabaikannya. Ia mengembara, berjalan, berlari, namun selalu kembali.. Dinding bata itu memanggilnya, dan punggungnya hanya tahu satu tempat untuknya melekat, hidungnya hanya menangkap aroma yang memekat. Api itu berkeretak di dalam dadanya, melahap satu tempat lagi yang masih tersisa. Jantungnya.. Jantungnya melompat-lompat –berdetak penuh gairah, dadanya meledak! Botol-botolnya telah kosong. Ia meraung-raung, masih saja tidak ada yang mau mendengarnya..