Eli, Lama Sabakhtani

Aku teringat saat sosok tubuh yang dipancang di kayu salib itu, saat darah mulai menetes-netes itu, saat suaranya berubah menjadi bisik-bisik yang menggetarkan pokok-pokok beserta daun yang bertumbuh itu,

Eli, eli, lama sabakhtani

Aku setengah berharap akan ada gemuruh atau bumi bergejolak membuat gaduh, aku berharap ada suara menggelegar, atau tiupan terompet, atau, pasukan legiun yang kelak melepaskan amarah, menghukum, membalas, memberi pengajaran, tapi, tidak.

Hanya hening. Hanya hening yang bahkan angin pun segan menggesekkan diri. Hanya ada hening.

Kudus, kudus, aku ingin bernyanyi, melihat kepala yang dipenuhi duri-duri itu perlahan bergolek, tak sanggup lagi. 

Eli, eli, lama sabakhtani…

Aku teringat, anyir yang meruap dari selembar kain yang digunakan untuk mengurapi kaki yang menetes-netes darah itu. Kain yang menguarkan duka yang terasa pahit itu, yang menguarkan amarah yang terasa getir itu. 

Eli, aku kembali menghirup aroma pekat duka tubuh yang tergolek itu, kenapa Ia tak marah, Eli? Kenapa Ia tak gusar, Eli, sedang aku, yang hanya membaui sakit itu merasa begitu marah dan pedih. Dan getir. Dan pahit.

Eli, lama sabakhatani… . 

Iklan

Ashoka dan Api yang Membakar Kepalanya

Perempuan itu memiliki rambut sewarna api, api paling membara bagi siapa saja yang telah meilhatnya. Api yang bisa menyulut hasrat paling dalam di dada manusia. Laki-laki. Perempuan. Bahkan yang berada di antaranya. Atau, yang bukan sama sekali di antara keduanya.
Perempuan itu membiarkan saja mahkota yang disungginya itu basah, mengkilat, dan terasa memanggil, terus menari-nari. Dan makhluk lain yang melihatnya akan menelan hasrat mereka yang mendadak membuncah, lalu tergesa-gesa untuk memadamkan gairah yang mendadak rekah. Susah payah mereka meredamnya. Karena, apa yang dibangkitkan api di dalam rambut perempuan itu adalah keinginan sejati mereka yang menapakkan kaki di dunia.
Ia meliukkan tubuhnya, bahunya berguncang seiring kakinya menapak langkah, ia membawa serta kunci yang bergemerincing di lengannya. Perempuan ini memiliki bahu melengkung khas perempuan yang tidak pernah berlatih beban. Tubuhnya kurus dengan tulang-tulang selangka yang menonjol. Sepasang matanya berbinar-binar meskipun ia tidak pernah mengerti kenapa mata itu terus berbinar, sementara api di hidupnya sudah padam, bahkan sebelum sempat bara itu menggeliat.
BUKA
Ia membalik tulisan yang telah lusuh dan coreng-moreng di dinding luar loket berwarna biru yang anak-anak kuncinya bergemerincing di lengannya. Orang-orang mulai mengedip padanya, berjejalan, berdesak-desakan, beringsut menuju ia yang kini duduk di ruangan loket yang sarat aroma besi dan tembakau. Panas. Panas sekali di dalam sini. Ia ingin mengikat api yang berkibar di rambutnya. Namun ia sedang sangat ingin bercumbu dengan sesuatu. Seseorang. Beberapa orang. Siapa saja.
Perlahan, ia menyulut rokok lintingan yang selalu terselip di telinganya.
“Lima ribu satu orang.”
Suara perempuan ini dalam dan serak. Sesekali ia terbatuk, namun asap masih zaja mengepul dari balik bibirnya.
“Anak-anak juga lima ribu. Sama.”
Keringat menetes di tengkuknya. Asap memenuhi pandangannya. Orang-orang masih berdesakan. Berjubel-jubel di hadapannya. Hari pertama sirkus itu buka di Kerta Maya. Hari pertama pula ia menjual sesuatu selain tubuhnya.
*
“Berapa?”
Hari sudah terlanjur jauh menuju larut, namun laki-laki di depannya masih terlihat rapi, dan aroma parfum segar tercium dari badannya yang atletis. Perempuan itu memain-mainkan ujung rambutnya. Memilinnya. Memuntirnya. Ada yang bergejolak di dirinya. Hasratnya membuncah. Hasrat yang mulai padam akibat keringat dan asap yang membelit tubuhnya seperti jaring laba-laba itu menggelegak, meletup-letup menuntut puas hingga tuntas.
“Lima ribu, tuan. Tapi hari sudah jauh malam. Sebentar lagi Gigir Perigi tutup.”
Laki-laki itu tersenyum, anehnya, terlihat begitu cemerlang di matanya.
“Ambil saja kembaliannya.”
Laki-laki itu berlalu.
Perempuan penjual karcis itu menggaruk pipinya. Tiga bekas luka melintang dari mata menuju dagunya, terasa gatal.
Siapa laki-laki itu?
Malam itu ia dipenuhi oleh hasrat yang terasa melimpah-limpah. Rambutnya basah oleh gairah. Jam di sakunya menunjukkan angka sebelas. Ada angin yang menggelitik tubuhnya, ia mengancingkan kemeja flanel merah yang dikenakannya. O, betapa ia ingin rapat. Betapa ingin ia hangat. Hari itu ia menggerai rambutnya, namun tidak seperti biasanya, di mana banyak mata yang melempar ingin ke dadanya, di mana banyak desah yang ingin mampir ke telinganya, hari itu tidak. Tidak ada yang meliriknya meski ia mengibarkan rambutnya yang sewarna api. Tidak ada yang menginginkannya sebesar ia menginginkan mereka semua. Hanya ada laki-laki terakhir yang membeli tiketnya.
Ia teringat sebelum malam itu, ia bermimpi, ia telah bercumbu dengan seekor singa. Tubuh binatang itu liat di dalam dekapannya. Geraman buas yang menyeruak dari dalam dada hewan itu membuatnya menggeliat, membuatnya melenguh menderu-deru. Ia bermimpi cakar itu merobeki tubuhnya, dan dengan senang hati ia menyerahkan tubuh telanjangnya. Ketika taring sang Raja terbenam ke dalam kulitnya, ia terbangun, tersengal-sengal, lalu air mata memenuhi wajahnya. Tidak ada singa. Tidak ada laki-laki. Tidak ada wanita di sisinya. Tidak ada yang di antara keduanya. Ia hanya merasa merana.
*
“Kau terlihat kacau, Non.”
Laki-laki itu datang lagi saat perempuan itu hendak mengunci bilik loketnya. Bersetelan rapi dan gaya. Menguarkan aroma yang membuatnya terpana. Mendadak ada yang menyala-nyala di dalam dirinya, padahal ia mengira bara di dalamnya sudah mati. Mati sejak tiga luka tertoreh di pipinya yang dulunya pualam. Mati sejak ia harus berpindah-pindah menghindari razia petugas moral. Ia hanya punya tubuh yang indah. Maka ia menjualnya.
Petugas-petugas itu beberapa pelanggannya. Mereka yang mengisikinya untuk segera pindah jika ia berdiam terlalu lama. Ia berpindah. Melompat dari satu sarang ke sarang lain. Sampai ia lelah, lalu menyerah. Perempuan itu lantas mendatangi rombongan pasar malam yang hendak membuka acara mereka. Mengemis kepada pemiliknya. Lagi-lagi ia bersiap harus menjual tubuhnya, namun, pemilik pasar malam itu berbudi. Laki-laki itu memberinya tumpangan, memberinya makan, memberinya atap untuk berlindung. Syaratnya, perempuan itu harus bekerja padanya. Menjual karcis saja. Jangan menjual yang lainnya. Perempuan itu patuh.
Ia tidak lagi menjual tubuhnya. Ia berhubungan dengan siapa saja yang ingin bercumbu dengannya. Tanpa harga.
“Non.”
Laki-laki itu masih di sana. Entah berapa lama benaknya berkelana. Melupakan laki-laki yang kedatangannya terlalu larut untuk bercengkrama.
“Sebentar lagi kami tutup, tuan.”
Dari kejauhan perempuan itu melihat lampu bianglala tak lagi menyala, sementara tenda-tenda mulai meredupkan cahayanya. Para pekerja mulai terlihat hilir mudik membongkari wahana. Kuda-kuda karusel terlihat muram tanpa penunggangnya, temaram cahaya membuat catnya yang mulai terkelupas berubah bersepuh kelam serupa malam.
Laki-laki itu mengulurkan rokoknya, rokok putih mint khas kaum borjuis. Perempuan itu menggeleng, ia lantas memantik api pada lintingan yang telah dikepitnya di antara telunjuk dan jari tengah.
“Sudah ada.”
Laki-laki itu megernyit memandangnya.
“Tembakau saja?”
Perempuan itu tertawa.
“Ditambah sejumput daun dari surga untuk sekeping tawa, tuan. Mau mencoba?”
Laki-laki itu tersenyum, mendekatkan wajahnya ke arah perempuan, melekatkan tubuhnya di box besi yang berfungsi sebagai loket. Mereka saling memandang, hanya terhalang sekat kaca. Hanya ada lubang setengah bundar tempat perempuan itu biasa mengangsurkan karcis kepada pembelinya.
“Sudah mau tutup, Non. Jalan denganku, sebentar?”
Perempuan itu melayang di sisi sang laki-laki. Malam itu bulan bundar sempurna.
*
Malam itu bulan bundar sempurna, tapi laki-laki itu hanya menyisakan satu pertanyaan yang menari di kepalanya.p
“Kamu mau itu, Non?”
“Itu?”
“Lebih baik dari lintingan ganjamu.”
Perempuan itu melepas kemejanya, beberapa pekerja yang masih sibuk hilir mudik membongkari wahana membelalak ke arah sepasang buah ranum yang menggantung di dadanya.
“Aku mau, ini.”
Perempuan itu menuntun lelaki itu menelusup tubuhnya, menekannya di tempat ia ingin disentuh, dan betapa herannya ia saat lelaki itu justru menepiskan tangannya.
“Bukan itu, Non. Ini, ambillah.”
Laki-laki itu memberinya sebungkus sesuatu. Ia bisa menghirupnya dan terbang sesudahnya. Terbang. Tanpa kendali.
Perempuan itu memungut kemejanya, lalu berlari menuju tenda tempat ia biasa rebah dan memejam mata. Ada yang retak di kedalaman dirinya. Ia belum pernah ditolak sebelumnya.
*.
“Bagaimana, non? Mau itu?”
Laki-laki itu ternyata mengejarnya. Berdiri di luar tenda dengan tangan terlipat di dada, dan kemeja yang digulung hingga siku.
“Tuan tahu betul apa yang saya mau.”
Laki-laki itu berlalu. Perempuan itu mengejarnya.
“Ya, Tuan. Kenapa bahkan tidak bertanya siapa nama saya?”
“Tidak perlu, semakin sedikit saling mengenal, semakin baik, Non. Mau berapa?”
“Saya cuma punya tubuh saya, tuan. Dan saya sudah punya ganja.”
“Ambil saja. Cuma-cuma.”
Laki-laki itu melempar bungkusan yang isinya bisa membuat perempuan itu gila. Atau bahagia.
Perempuan itu ternganga.
“Nama saya Shoka, tuan!”
Laki-laki itu hanya melambai dari kejauhan. Punggungnya menjauh, malam yang rakus dan penuh rahasia menelannya perlahan-lahan hingga hanya jejak kakinya yang tersisa.
Perempuan itu terduduk. Ada yang menyerbu kepalanya. Ada panas yang terasa membakar dirinya. Menggenangkan air mata hingga tumpauh, meruah mengaliri eajahnya.
Pernah ada perempuan lain dengan cakar besi menindih badannya, memaksa mencicip buah molek yang baru tumbuh di dadanya. Merobek-robek kembang yang baru saja mekar di selangkangannya. Rakus. Rakus. Ia menangis, menjerit melawan sekuat tenaga. Namun cakar itu lebih kuat. Dan tajam. Dan mencabik wajahnya. Menyisakan luka codet tiga baris dari pipi menuju ke bibirnya. Ia hina. Ia terhina. Ia lalu lari, sejauh-jauhnya dari perempuan bercakar besi yang menetap di tempat yang dulunya ia tinggali bersama kakak lelakinya yang lembut. Dan penyayang. Dan beristri perempuan dengan cakar besi di tangannya. Dari situ ia belajar, tubuhnya adalah harta yang berharga karena perempuan itu bahkan ingin menjarahnya.
Dari situ ia belajar menggunakan tubuhnya. Menjumput api dan menaruhnya di rambutnya. Menyulut hasrat siapa saja yang memandangnya. Dengan itu, ia memiliki dunia.
Perempuan itu tergugu, sebungkus penawar telah tergeletak di samping kakinya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak berharga, dan ia terlalu jauh, terlalu jauh ia telah terluka… .

Lelakon

Tirai-tirai mulai diturunkan dari tingkapnya, tidak ada tepuk tangan meriah, hanya ada tepukan malas-malasan dari sudut-sudut remang. Di atas panggung yang seharusnya mewah itu berdiri sesosok dewi, berlapis pupur dan berlapis gincu. Di kepalanya, tergerai surai sewarna tembaga yang molek. Saya ingin menelan ludah saya, tapi sepertinya gumpalan liur itu memilih tersangkut di batang tenggorok, lantas membuat saya tersedak. Lalu, sepertinya bukan lagi gravitasi yang menahan kaki-kaki saya tetap berdiri. Tatapan sepasang mata itu memaku saya hidup-hidup di tempat saya berdiri, hingga bernapaspun saya tidak berani.

Lalu sesuatu meledak.

Dan saya terbangun, kembali berkubang dalam genangan keringat dan kencing di atas kasur saya sendiri.

*

“Kupikir kau tidak merokok.”

Saya ingat saya terkekeh, dan hari itu hujan. Saya merapatkan syal hijau yang meliliti leher saya, sementara ia merapatkan tudung jaket ke kepalanya, menutupi surai indah yang membuat banyak laki-laki tergila-gila. Saya lalu menghirup rokok saya dalam-dalam.

“Kenapa saya harus tidak merokok?”

“Kenapa kamu harus merokok?”

Saya tidak pernah berhasil membalas pertanyaannya. Saya selalu terpojok di sudut loteng paling gelap dan berdebu, dengan benang laba-laba yang terjulur ke arah saya, memintal saya ke dalam kegelapan paling liat di dalam pekat. Lalu, saya hanya akan terpekur melihat sepasang boots yang sudah menjadi alas kaki saya selama dua tahun, membayangkan sepasang mata kenari itu membalas tatapan saya dari bawah sana, membayangkan lengkung senyum yang selalu terlukis di wajahnya. Senyum itu terlukis bukan untuk saya seorang, saya tahu. Ia harus senantiasa tersenyum agar orang-orang suka terhadapnya, ia harus tersenyum karena dia adalah pelakon. Karena dia adalah bintang yang harus bersinar paling terang di antara bintang-bintang lain yang senantiasa menyepuh diri mereka hingga berkilau di jajaran galaksi.
Lalu, saat saya menemukan suara saya lagi untuk menjawab pertanyaannya, dia sudah menghilang. Membaur di antara deretan para bintang yang berlomba-lomba menonjolkan kemilaunya, hingga langit dibuat resah.

*

Saya memiliki panggung paling mahal di dunia, saya harus membayar dengan hidup saya untuk memilikinya. Saya harus merelakan waktu saya, merelakan waktu berarti merelakan kebersamaan dengan keluarga. Merelakan waktu, berarti hanya malam-malam sepi yang tertinggal selain ampas kopi.
Saya hanya punya ponsel pintar yang bodoh, dan seekor kucing yang malas.
Saya ingin keluar, meliar, lalu menggeliat di bawah langit yang sama yang menaungi manusia normal lainnya. Manusia yang punya keluarga, kawan, saudara, rekan, pacar, dan lain sebagainya.

Saya mendengar sesuatu mendesis.

Cermin saya sedang sinis. Kemudian, getaran konstan dari ponsel saya memecah angan saya yang berkelana, layarnya berkedip, dia menelepon, dan saya tidak tahu harus menjawab apa.

Saya memukul cermin karena ia tidak mau berhenti mendesis.

Saya bermimpi, di atas panggung yang saya miliki, dewi itu melakonkan sandiwara dengan sempurna. Tubuhnya berkilat karena keringat, rambutnya basah, dan saya bermimpi saya sedang mengendus dengan rakus aromanya. Aroma itu, satu-satunya yang sanggup menentramkan gelisah saya sepanjang waktu. 

*
Kenapa kamu menghindari saya?

Saya tidak menghindar.

Kamu bersikap seolah tidak mengenal saya.

Saya manager, saya harus memastikan semua berjalan sesuai rencana. Semuanya bergantung pada saya, saya tidak ada waktu…

Tidak ada waktu untuk saya?

Dia lalu berpaling, menyembunyikan dua genangan air yang mulai terbentuk di kolam matanya. Saya benci airmata. Saya benci kenapa dia harus menangis sementara saya tidak ingin melihatnya menangis.

Saya memilih memarahi seseorang yang memasang tirai. Mencari-cari alasan dan menaikkan volume suara saya, hingga membuat pekerja serampangan berkepala botak itu gemetar tertahan. Menangis sana, saya tidak ada masalah jika kamu yang menangis, tapi laki-laki botak itu tidak menangis. Bintang saya yang sedang menangis, dan saya harus menawarkan bahu saya seperti seharusnya. Namun seperti biasanya, saya hanya berlalu dan membiarkan isakan itu menguap bersama angin. 

*
Dia tidak menjawab telepon saya, ponsel pintar saya yang bodoh ini bahkan tidak bisa membuat dia menjawab panggilan saya.

“Besok gladi resik. Jaga kesehatan.”

Pesan saya tidak berbalas.

***

Tirai-tirai mulai diturunkan dari tingkapnya, tidak ada tepuk tangan meriah, hanya ada tepukan malas-malasan dari sudut-sudut remang. Di atas panggung yang seharusnya mewah itu berdiri sesosok dewi, berlapis pupur dan berlapis gincu. Di kepalanya, tergerai surai sewarna tembaga yang molek. Saya ingin menelan ludah saya, tapi sepertinya gumpalan liur itu memilih tersangkut di batang tenggorok, lantas membuat saya tersedak. Lalu, sepertinya bukan lagi gravitasi yang menahan kaki-kaki saya tetap berdiri. Tatapan sepasang mata itu memaku saya hidup-hidup di tempat saya berdiri, hingga bernapaspun saya tidak berani.

Dewi itu menyunggingkan senyumnya perlahan, dan sebelum saya bergerak, sesuatu meledak.

Saya melihat genangan merah membasahi lantai kayu yang kini di atasnya, membujur tubuh dewi.

Saya tidak bisa berteriak seperti adik saya berteriak serak. 

“Ibu!”

Sepuluh tahun kemudian, saya kembali ke panggung Ibu, panggung paling mahal yang pernah saya miliki, karena saya membayarnya dengan waktu. Membayar dengan waktu, berarti merelakan kebersamaan dengan keluarga. Kebersamaan dengan keluarga berarti saya msminggalkan adik saya. Meninggalkan adik saya kepada paman yang ternyata adalah pembunuh Ibu yang diakuinya saat mabuk dan meniduri adik saya, bertahun-tahun yang lalu, sebelum menjualnya kepada mucikari. Ia berpindah-pindah mucikari dan tak pernah berhasil lari, sampai akhirnya, bos saya menjadikannya gundik, kemudian dia menjadi bintang di panggung saya.

Panggung ini adalah panggung paling mahal yang pernah saya punya. Dan dia sedang menangis, lagi-lagi, saya tahu dia menangis karena punggungnya bergetar menahan sesak yang menghimpit dadanya.

“Jangan menangis lagi.”

Saya menjulurkan kotak yang berisi rokok lintingan sendiri. Di dalamnya saya menambahkan sejumput fantasi.

“Saya tidak merokok.”

Dia mengusap matanya dengan punggung tangan sebelum melanjutkan dengan suara parau.

“Kamu sudah meninggalkan saya, dan sekarang kamu mengabaikan saya.”

“Saya harus minta maaf akan itu. Kamu boleh merokok. Usiamu sudah dua puluh.”

“Kenapa harus merokok?”

Saya siap terbelit jaring laba-laba dan terhimpit ke dalam gelap yang liat memadatkan pekat saat saya melihat bibir adik saya berubah menjadi bibir Ibu.

“Merokok sajalah, tidak perlu bertanya kenapa.”

Lalu ayah saya akan menamparnya. Saya ingat, saya mengoleskan alas bedak tebal-tebal untuk menutupi bekas merahnya, dan saya tahu, perih yang sebenarnya berada dalam hati ibu.

“Merokok sajalah, tidak perlu bertanya.”

Saya menjawab, dan adik perempuan saya itu mengambil sebatang hanya untuk dipatahkannya menjadi dua.

“Saya tidak ingin seperti Ibu.”

Saya ingin sekali menamparnya.

***

Saat itu Paman sedang mabuk dan ia mengacungkan senjata itu ke kepala adik saya.

Bagaimana saya tahu?

Saya memiliki panggung paling mahal sedunia. Panggung mahal yang saya beli dengan waktu. Dengan waktu berarti dengan segalanya. Saya pergi dari rumah bukan tanpa alasan. Saya mencari tahu di mana ayah saya saat ibu saya terbunuh.

Dia sedang menangisi mayat ibu, di atas gundukan tanah makam yang masih penuh bunga-bunga. Ibu sangat suka bunga, tapi ayah tak pernah memberikannya.

“Terlambat, yah.”

Saya ingat saya berkata, dan paman saya yang gila menghardik saya keluar dari pemakaman. Saya bilang saya mau pergi dan saya menitipkan Aliyha, dia mengiyakan tanpa menanyakan saya akan kemana.

Saya tidak berpikir Paman saya yang tampak berbudi adalah iblis paling keji. Segera setelah saya pergi, saya dengar kabar ayah saya gantung diri. Namun saya tidak mencari tahu kabar Aliyha, adik perempuan saya yang satu-satunya karena saya sibuk menata anak tangga demi panggung milik ibu. Selain itu, saya percaya ada paman yang menjaganya untuk saya. 

Saya menyusun anak-anak tangga, sepotong demi sepotong dengan tubuh dan keringat dan darah saya. Saya menghitung lebih dari tiga kali rahim saya berbuah dan tidak satupun saya biarkan tumbuh dan berkenalan dengan dunia.

Tidak. Tidak, satupun saya biarkan berkembang demi kelak memanggil saya, Ibu. 

Saya berkenalan dengan orang-orang Lelakon, ikut mementaskan lakon dari satu panggung ke panggung lain sembari melacur dari satu laki-laki, ke lelaki lain. Mabuk dari satu pentas ke pentas lain, hingga akhirnya saya ingin menciptakan panggung saya sendiri. Dan saya sadar, satu-satunya panggung yang saya inginkan adalah panggung Ibu.

Saya lalu memutar roda kendali, berpindah dari pelakon menjadi pengarah lakon, lalu menjadi penanggung jawab panggung, kemudian menjadi penyusun lakon, dan pada akhirnya, saya menjadi penguasa panggung. Semua darah dan keringat dan tangis yang sembunyi-sembunyi itu, pada akhirnya saya memetik hasilnya.

Saya banyak mengenal manusia, dan saya memanfaatkan mereka. Saya kembali ke kota saya, dan mereparasi panggung yang sudah saya beli. Lewat mereka, saya mencari tahu segalanya. Termasuk adik saya yang sudah dijual oleh paman saya yang gila.

Lalu dia muncul. Adik yang saya tinggalkan itu: Aliyha.

Dia menangis, dan saya tak sanggup untuk memeluknya.

Saya mendengarnya berteriak bahwa dia sedang mencari saya.

Saya meninggalkannya di depan panggung dan dia masih menangis.

***

Dia adalah bintang dan saya adalah tuhan pemilik panggung jagat raya. Saya menemukan laki-laki, yang dulu kepadanya saya titipi adik perempuan saya, dan dia malah menjualnya setelah sebelumnya menidurinya dengan paksa.

Dan dialah yang menembak ibu saya.

Saya bertanya kepadanya, mengapa?

Dia hanya memamerkan gigi geliginya yang menghitam karena tembakau.

“Anak sundal, sudah jadi sundal pula kau rupanya.”

Saya menendang mulutnya. Dia terikat seperti binatang buruan yang rusak dan hina. Dia pikir dia menyewa saya, tak mengenali keponakannya yang tertua. Ia pikir ia sedang asyik bersama pelacur ibukota yang sedang berlibur ke kotanya bersama rombokan pelakon yang akan memainkan Lelakon di panggung ibu. 

Kenapa, saya tanya lagi.

Dia semakin terkekeh-kekeh.

“Sundal itu mengataiku cebol tak tahu malu, aku cuma kepengen pegang susunya. Ha ha ha!”

Saya menembak, tepat di antara ke dua matanya, tempat di mana pelurunya dulu bersarang di kepala Ibu, tapi saya belum juga merasa lega. 

Ponsel pintar saya bergetar, alarmnya menyala. Lima menit lagi, pertunjukan bintang-bintang di jagat raya saya dimulai. Saya mengisi kembali peluru di pistol dan menyelipkannya di celana. Mayat cebol itu membelalak ke arah saya. Dan saya menginjak tepat kemaluannya.

***

Panggung usang itu mendadak gempita. Orang-orang bertepuk riuh, dan siulan bersahut-sahutan memekakkan telinga. Badan saya berkali-kali dipeluk, tangan saya berulang kali dijabat, dan rambut saya diacak-acak. Ucapan selamat terpantul-pantul di udara. Panggung saya sukses, dan pentas Lelakon di atasnya mengundang decak kagum penontonnya.

Tirai sebentar lagi diturunkan dari tingkap-tingkapnya, dan saya mendekat ke arah panggung, mencari bintang saya yang paling benderang, memanggilnya cukup keras hingga orang-orang menoleh, menonton.

“Aliyha!”

Dia tertawa begitu bahagia, sepasang lengannya terentang, setengah berlari menyongsong tubuh saya, kemudian saya menembak kepalanya.

Saya sudah bilang saya memiliki panggung paling mahal sedunia. Saya membelinya dengan segalanya. Segalanya berarti sudah tidak ada yang tersisa. Saya meledakkan kepala saya saat seseorang lain mulai menjerit di belakang saya.

Solo, 23 Januari 2016

SONJA

Sejak dulu, perempuan ditakdirkan untuk menjadi makhluk yang kuat di balik sosoknya yang selalu dipandang rapuh. Saat rahimnya rekah karena tunas yang mekar di dalamnya, tubuhnya bukan lagi miliknya. Dan ia harus menanggungnya selama sembilan bulan. Lebih atau kurang. Saat tunas itu bertumbuh, dirasakannya tubuhnya menjadi gembur dan bertambah massa. Pijakan kakinya limbung menahan beban yang tidak seharusnya.

Ia tidak lagi merasakan tidur yang nyaman. Seiring perutnya yang membulat, setiap gerakan akan terasa nyeri. Ia hanya akan meringis-ringis menahan sakit. Tidak sekalipun katup bibirnya membuka untuk mengeluarkan keluhan, apalagi serapah, padahal tubuhnya dirasanya bukan lagi miliknya. Ada makhluk yang sedang bertumbuh di dalamnya. Dan makhluk itu berbagi tubuh bersamanya. Sebaliknya, bibirnya justru tersenyum, sehat-sehat kau ya, nak, di dalam sana, sampai tiba saatnya kita berjumpa.

Perempuan itu, ibu. Pada sepasang matanya, teduh lautan menyimpan segala rahasia, rahasia yang selalu bermuara pada senyum yang tersungging di bibirnya. Rahasia yang tak pernah ia lelehkan di sudut matanya melalui bening air mata. Di dalam dekapan dadanya, berpulang segala gundah dan luka. Bahkan duka larut saat sepasang tangannya membelai rambut di kepala.

Ibu, di mana ibu?

Aku pernah mengenal perempuan yang kupanggil ibu. Perempuan yang dari sepasang ranum dadanya dulu, aku pernah menyusu. Ia kini masih kukenal dengan nama Ibu, namun, sepasang mata yang dulu teduh membayang lautan, di mana anak-anak ombak berkejaran dengan gembira kini telah berubah batu hitam. Rahasia-rahasia yang biasanya ia sembunyikan dengan pandai lewat tawa dan canda, kini menguar lepas melalui deras airmata.

Ibu, kenapa, Ibu?

Pada jaman dulu, Sonja, pernah hidup perempuan dengan sepasang sayap yang terbuat dari kaca, (malam itu hujan, gelegar petir mengamuk tidak seperti biasa, ibu mendekap tubuhku yang meringkuk dan gemetar ketakutan), sepasang mata perempuan itu teduh membayang lautan luas, hingga siapa saja ingin menyelam di kedalamannya.

Perempuan itu pastilah peri, ibu. Aku melupakan gelegar guntur yang membuat ciut nyali, dan betapa herannya aku ketika ibu justru menggeleng.

Bukan, Sonja, perempuan itu adalah perempuan biasa.

Tapi, ibu, perempuan biasa tidak punya sayap kaca bukan?

Di dunia ini, semua perempuan itu luar biasa, Sonja, tidak pernah ada perempuan yang hanya menjadi sekadar perempuan biasa. Nah, apakah kau ingin dengar lanjutannya?

Aku mengangguk dan merapatkan tubuhku ke badan ibu, di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Guntur dan petir masih mengamuk dengan gelegarnya.

Perempuan bersayap kaca itu mematahkan sayapnya yang indah, Sonja, memberikannya pada laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta. Laki-laki itu telah mampu menyelami lautan teduh di sepasang matanya. Laki-laki itu telah menanamkan riak-riak gelombang yang membuatnya merasa bahagia di dalam hatinya. Ia mematahkan sayap itu, karena, sayap-sayapnya hanya akan membuatnya selalu menjauh dari laki-laki yang ia puja.

Sayap-sayap kaca itu berubah tajam saat ia mendekatkan tubuhnya pada sang laki-laki. Sayap-sayap itu menolak menguncup saat perempuan itu ingin melekatkan badannya pada lelakinya. Bagaimana mereka bisa berdekatan dengan lekat, jika sayap-sayap runcing itu terus mengembang, seakan, mengancam akan mengirisi kulit sang laki-laki?

Sungguhlah saat itu aku dibuat bingung oleh cerita Ibu. Usiaku masih jauh dari remaja, namun jika kuingat-ingat dongeng malam itu, tentulah itu bukan dongeng untuk anak-anak perempuan yang biasanya.

Akhirnya, Sonja (aku melamun saat itu, membayangkan jika aku punya sayap runcing di punggungku, pastilah tidak ada yang mau mendekat, dan suara ibu mengagetkanku), perempuan itu memotong kedua sayapnya demi bisa berdekatan dengan laki-lakinya.

Sakitkah? Tanyaku.

Ibu hanya tersenyum simpul, pernahkah jarimu teriris saat memotong wortel? Sakitkah? Ibu bertanya.

Aku membalas dengan anggukan.

Seperti itulah pedihnya, dikalikan sepuluh.

Aku meringis. Ibu tertawa. Tawa paling indah yang pernah kudengar. Aku menyimpannya baik-baik di sudut kepala. Tawa itu tak pernah terdengar lagi sesudahnya. Aku hanya bisa mengulangnya di dalam kepala.

Lalu, setelah itu, apa yang terjadi, bu?

Batu hitam itu kemudian muncul ke sepasang mata ibu, menutupi lautan yang biasanya teduh di dalamnya. Menjadikan kedua matanya keras, kelam, dan mati.

Seperti kebanyakan dongeng pada umumnya, keberuntungan tak pernah berpihak pada perempuan yang telah berkorban demi lelakinya. Lihat saja Cinderella, dia kehilangan keluarganya hanya demi sang pangeran.

Tapi, Bu, ibu tiri dan saudara tiri Cinderella itu jahat, mereka menyiksa Cinderella, mengurungnya agar tidak bisa datang ke pesta dansa.

Sekali lagi ibu tersenyum, manis, manis sekali.

Ibu tiri Cinderella mengurungnya karena ia tahu, Pangeran itu mata keranjang. Tak direlakannya Cinderella yang cantik jatuh ke rayuan laki-laki berhidung belang. Kedua anaknya buruk rupa, ia tidak khawatir Pangeran akan merayunya.

Aku ternganga, Ibu melanjutkan ceritanya.

Lalu lihat itu, si Duyung yang menukar ekornya dengan sepasang kaki, ia merelakan suaranya hilang asal bisa ke daratan bertemu laki-laki impiannya, namun apa yang ia dapat? Ia berakhir tanpa suara hanya untuk melihat Pangeran pujaannya melenggang mesra bersama Putri Raja yang mengaku telah menyelamatkannya.

Aku terdiam. Hujan telah reda, dan mata Ibu yang biasa teduh membayang lautan masih berupa sepasang batu hitam.

Perempuan itu kehilangan sayapnya, ia kehilangan kebebasannya. Ia terbiasa terbang sehingga melangkahkan kaki saja ia kesakitan. Ia terbiasa menari bersama udara sehingga tanah membuatnya lemah dan basah. Ia terbaring, lembek, dan tak berdaya. Ia begitu basah karena air mata tak pernah mengering dari sudut matanya.

Lalu di mana lelakinya? Setelah didapatinya perempuan itu menjadi lemah dan buruk karena tak terbiasa dengan tanah, laki-laki itu masih dengan besar hati merawatnya. Memapahnya berjalan dari hari ke hari hingga perempuan itu kembali kuat dan bercahaya. Perempuan itu, meski tak punya sepasang sayap kaca, kini memiliki sepasang kaki kuat yang bisa membuatnya berdansa bersama lelakinya. Hidup mereka bahagia. Sangat bahagia.

Kemudian lahirlah peri mungil dari rahim perempuan itu, peri yang sangat cantik, Sonja, cantik sekali. Dengan segera hidup mereka semakin berwarna. Perempuan ini, sekali lagi, ia jatuh cinta. Bukan pada lelakinya saja, tapi juga pada peri mungil yang keluar dari rahimnya.

Namun ingatlah, Sonja, laki-laki itu makhluk pencemburu, laki-laki itu cemburu perempuannya terlalu mengasihi peri mungil mereka. Peri itu mulai bertumbuh menjadi perempuan kecil jelita, namun laki-laki itu malah mulai menyibukkan dirinya sendiri. Berkubang membuang-buang waktu dengan tidak pulang. Berhari-hari. Bermalam-malam. Sampai akhirnya perempuan itu tidak tahan. Berbagai rahasia telah menyelinap ke dalam matanya, mengeraskan mata itu menjadi batu. Tidak ada lagi lautan di dalam sepasang mata peremluan itu, yang tertinggal hanya kekosongan yang gelap. Kekosongan yang terasa keras dan getir. Rahasia-rahasia mulai ia muarakan di bibirnya, berderai-derai tawa disungginya di depan perempuan kecilnya yang jelita. Namun, sesungguhnya, berdarah-darah hatinya mengurai rahasia.

Ibu menghela napas, panjang. Aku merasakan getirnya.

Aku teringat akan ayah, bu.

Ia menelengkan kepala, melihat jam dinding bundar di dinding di hadapan kami, lalu beranjak tanpa menyelesaikan ceritanya. Ada bening yang menggumpal di sudut matanya.

Benar, Sonja, aku juga teringat ayahmu.

Dari balik punggung ibu, aku melihat seberkas bening kaca tergurat menyembul bergerigi di balik pakaiannya.

Solo, 11 oktober 2015.

Burung-burung Hitam di Mata Mahla

Tidak ada yang pernah tahu bagaimana bisa sekelompok burung berbulu hitam muncul dari sepasang mata milik seorang perempuan.

“Aku melihatnya menangis di sudut jalan, dan saat aku mendekatinya untuk menanyakan apa yang salah, ia mengirimkan burung-burung dari dalam matanya untuk menyerang dan mematukiku. Aku hampir buta karenanya!” Yeesaac, perempuan tambun itu bercerita dengan suara yang menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Ia menjadi pusat perhatian di antara kerumunan orang yang mengelilinginya. Tangan gemuk pendeknya yang bergerak-gerak saat menggambarkan ceritanya, membuat beberapa orang menahan napas karena ngeri, beberapa bergidik takut, dan lebih sedikit lagi yang merasa iba kepada perempuan muda yang sedang dituturkan Yeesaac.

“Tapi, kenapa dia mengirimkan burung-burung hitam untuk menyerangmu, Yeesaac? Apa yang telah kau perbuat?”

Seseorang bertanya, dan kerumunan menggumam-gumam samar, saling mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Sedangkan Yeesaac, ia menghela napasnya dengan berat, lalu menghembuskannya perlahan.

“Entah, saudaraku. Aku sama tidak tahunya denganmu. Tetapi Mahla, nama perempuan itu kuanggap saudaraku, karena semua perempuan adalah bersaudara, dan aku berharap ia mau membagi kesedihannya padaku. Hari itu adalah hari kesembilan ia mengenakan pakaian berkabung meskipun kita semua tahu, ia tidak punya keluarga untuk ditangisi kepergiannya. Dia hanya menangis, dan aku mendekatinya. Lalu…”

Mereka semua bergidik saat Yeesaac menggerakkan tangan-tangan gemuknya membentuk sayap-sayap yang menyambar matanya.

*

Bisik-bisik berkembang menjadi desas-desus, yang, menjalari lembah hingga berubah menjadi cerita harian yang dituturkan burung-burung di pokok kenari, atau, dibicarakan diam-diam di beranda rumah yang dulunya lengang. Para wanita sibuk berprasangka, dan para pria ikut bercengkrama di antara mereka. Menceritakan cerita yang telah diulang-ulang dengan berbagai versi.

Perempuan itu bisa mengirim tulah lewat tatapan matanya, kabar itu awalnya terdengar. Lalu berubah, menjadi, perempuan itu membuat siapa saja yang ditatapnya kesakitan seperti dicakari dan dipatuki sekawanan burung hitam yang jumlahnya puluhan ribu. Kemudian menjadi kabar yang lebih aneh, perempuan itu menularkan kesedihan yang tampak dalam di matanya itu, menjalari seluruh lembah desa yang mereka huni, seakan-akan mereka tak bisa gembira lagi, seolah-olah pandangan mereka yang ceria berubah sekelam kepak sayap burung-burung yang bersarang di matanya.

Kabar-kabar yang beredar itu semakin berkelindan, saling jalin-menjalin, menutupi kabar satu dengan yang lain. Mengubah cerita satu dengan menambah cerita lain, hingga kebenaran menjadi hal yang sulit untuk ditemukan.

Sementara, perempuan di sudut jalan yang dikabarkan membawa petaka itu, tetap menundukkan pandangannya, siapapun tak berani mendekatinya untuk sekadar melihat atau menatapnya. Rasa iba yang pertama kali orang-orang rasakan kepadanya berubah menjadi rasa takut yang terasa menyengat, rasa takut yang aneh dan tidak masuk akal. Sedang mereka sendiri bertanya-tanya, akankah sepasang mata perempuan itu mengirimkan burung-burung hitam untuk menyerang mereka, jika mereka menatapnya sekali saja?

Karena sesungguhnya, mustahil rasanya memalingkan pandangan dari sosok perempuan elok yang bertudung hitam dan bertubuh sewarna pualam. Ia pucat, molek, perempuan itu menawan dengan sepasang mata gelap, yang, pastilah sang iblis bersarang di dalamnya. Begitulah mereka menyebutnya.

Namun, saat itu tidak ada yang menyadari, bahwa perempuan bernama Mahla itu telah hadir di antara mereka begitu saja, mereka mengabaikan kehadirannya seolah-olah perempuan itu memang tinggal di sana, di ujung jalan yang gelap itu, mereka merasa ia sudah bertahun-tahun lamanya seperti seharusnya memang di sanalah tempatnya tinggal, meskipun mereka tahu, bahwa di ujung jalan itu hanya ada sebuah lubang kosong menganga yang bahkan sebilah papanpun takkan sanggup bertahan di atasnya tanpa terperosok ke dalamnya.

*

Yeesaac memutuskan akan menemui Mahla, perempuan misterius yang hampir menyerangnya dengan burung-burung dari dalam matanya. Yeesaac, perempuan kita ini adalah perempuan keras kepala yang sok tahu dan tukang gosip, penyebar kabar keji, begitulah ia dikenal. Ia dulunya dihindari, ia sangat jarang diikutkan dalam pembicaraan-pembicaraan karena kebanyakan orang menghindari lidahnya yang lebih tajam dari pisau yang digunakan untuk membelah limau. Namun, kabar tentang dirinya yang telah diserang burung-burung gaib itu sedikit banyak telah mengubah pandangan orang-orang yang pada dasarnya memang mudah melupakan apa yang seharusnya mereka ingat.

Mereka jadi iba padanya, orang-orang mulai mempercayai perkataannya yang berubah-ubah tiap kali ia menceritakan kembali, dan seperti naifnya para kanak-kanak saat mendengar dongeng, orang-orang malah terpana setiap kali ia kembali bercerita, dan mereka percaya padanya lebih daripada seharusnya.

Maka, untuk mempertahankan harga diri yang telah diperolehnya kembali, Yeesaac melangkahkan kaki gempalnya, menuju pondokan yang letaknya di barat daya, tempat perempuan bernama Mahla yang menjadi pokok beritanya berada, tepat seperti dugaannya, pondokan itu tidak berada di sana, hanya tersisa lubang menganga yang siap menelan tubuh gempalnya.

“Perempuan bernama Mahla itu pasti tak pernah ada, aku pasti bermimpi saja.”

Yeesaac menggumam sambil menolehkan kepalanya, rambut keritingnya bergoyang-goyang tertiup angin yang mendadak semakin dingin, di atas kepalanya, mendung mendadak berkumpul seakan menggulung langit dalam kelamnya. Ia lalu berbalik, bersiap-siap pergi ketika dilihatnya perempuan yang bertudung hitam itu menunduk di hadapannya. Ia gemetar, tak sanggup menatap wajah yang sedang menunduk itu, ia gentar membayangkan kawanan burung yang akan mencakar matanya, namun ia membutuhkan lebih banyak simpati untuk hidupnya yang sepi dan menyedihkan. Ia butuh kisah untuk bisa dibagi kembali, dengan itu Yeesaac bisa selalu diterima dalam kerumunan orang yang biasanya abai.

Yeesaac melangkahkan kakinya, pelan, sangat pelan, ketika tiba waktunya ia berada tepat di hadapan Mahla, ditengadahkannya wajah perempuan yang sedang menunduk dan tertutup tudung itu, dilihatnya di sana, di lubang yang seharusnya berada sepasang bola mata, hanya ada hitam. Kelam yang terlalu pekat, dan ada kesedihan tiba-tiba membungkusnya sedemikian rapat, kelepak sayap burung-burung bergesekan di telinganya. Yeesaac ingin menjerit, namun bibirnya kehilangan daya untuk membuka, lidahnya menempel ketat ke langit-langit mulutnya, lalu perempuan terkutuk yang bertudung itu tersenyum padanya, senyum yang getir. Senyum yang sungguh keji.

Jadi Yeesaac, cerita apa yang akan kau kabarkan kali ini?

Sementara, burung-burung masih saja menghambur keluar dari mata Mahla.

Jalan Magnolia No. 27

image

1/ Bisik-bisik berlumur tawa yang entah.

Aku mengintip ke dalam jendela yang bingkai kayu tuanya telah diselimuti lumut, dan rasanya empuk saat telapak tanganku menyentuhnya. Hidungku berdebu saat menempel di kacanya. Rumah itu telah lama ditinggalkan penghuninya, ibuku pernah bercerita. Jangan dekat-dekat ke sana, Feli, kau bisa ditahan karena memasuki properti orang lain tanpa ijin, ayahku dengan serius memperingati. Waktu itu aku yakin seratus juta persen, bahwa aku mendengar suara-suara tawa dari dalam sana saat melewati rumah itu. Jangan coba-coba, Felicia! Ibuku murka saat aku mengatakan hendak mengintip ke dalam sana.

Namun, rumah besar berdinding bata cokelat, dengan atap miring dan cerobong asap bulat itu, selalu punya cara untuk memancingku untuk sekadar mengintip. Lagipula rumah itu hanya satu blok saja jauhnya dari tempat tinggalku. Apa salahnya mengintip sebentar?

2/ Bayangan-bayangan yang terekam jauh dari sempurna.

Dinding-dindingnya kusam. Lantainya berdecit saat diinjak. Jam kayu di atas perapian tidak menunjukkan perubahan pada jarum yang bersejajaran di angka sepuluh. Sofa-sofa merah telah mengelupas kulitnya. Perutnya menganga berhamburan busa-busa yang sudah berubah warna menjadi hijau tua.

Di seluruh ruangan, terpampang potret yang membuatku gemetar hingga ke tulang-tulang. Jika bukan karena rasa penasaran yang berapi-api, aku pasti sudah lari. Kuperingatkan diriku berkali-kali, usahaku bersusah-payah mengungkit, dan memanjati jendela lapuk itu akan sia-sia kalau aku menjadi pengecut yang melarikan diri hanya karena foto-foto konyol di dindingnya.

Tapi foto-foto itu sama sekali tidak konyol.

Badut, di dalam foto tidak terlalu menakutkan, namun tetap saja, seringainya seram!

Bayangkan, apa yang disembunyikan para badut, dibalik senyum yang dipulas pemerah bibir yang keterlaluan, dan bedak putih  yang mirip sekali dengan abu orang mati?

3/ Jerat Pemburu

Selain udara kosong yang hanya meniupkan debu ke mataku hingga pedih, rumah ini kosong. Benar-benar kosong. Aku sudah menjelajah ke seluruh ruangan. Hanya ada tiga ruangan, kamar tidur, dapur yang menyatu dengan ruang tamu dan ruang makan, lalu kamar mandi di dalam kamar tidur.Kamar tidurnya  sempit, kamar mandinya –yang demi Yesus aku tidak mau memasukinya karena pasti jauh lebih kotor, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang mendiami kamar mandi yang sudah lama tidak dibersihkan. Di dalam kamar itu, ada lebih banyak foto badut, dan tempat tidurnya sudah bobrok sama sekali (ada banyak tali-tali dari lilitan tembaga diikatkan di sisi ranjang.) Lalu dapur, di dekat pintu belakang yang mengarah ke hutan kecil, pintunya terkunci, dapurnya mengerikan. Banyak noda-noda menghitam di lantai dan mejanya. Aku terus mengenyahkan pikiran bahwa noda hitam itu darah, mungkin saja dahulu pemilik rumah memasak kaldu lalu gosong atau apalah.

Lalu ada sesuatu yang menghentikan langkahku yang tinggal beberapa meter dari jendela tempatku menyelinap. 

Suara-suara tawa menggema. Mengganggu dan terasa mengancam.

“Mengapa terburu-buru? Bermainlah dulu.”

Perwujudan sosok di hadapanku lebih menyerupai mimpi buruk ketimbang nyata. Sebuah kamera video menyala di tangannya. Suara-suara yang kudengar berkali-kali saat melewati rumah ini mengalun dari dalamnya.

“Gadis kecil, apa kau takut?”

Aku menyesal tidak memeriksa kamar mandi. Lebih menyesal lagi saat aku menyadari bahwa aku tidak membawa semprotan merica di saku celana.

4/ Kabar yang berulang

“Jed, ke mana Felicia? Sudah hampir tengah malam!”

Meridia berteriak panik mendapati kamar anak perempuannya kosong, dan Jed, suaminya memberi tatapan yang sama bingungnya.

“Dari tadi sore aku belum melihatnya, sayang!”

“Dan kau tidak curiga?”

Suara Merida melengking karena marah sekaligus khawatir.

“Kupikir ia sudah pulang!”

warga diminta untuk selalu berhati-hati seiring meningkatnya laporan tentang kasus anak hilang. Kebanyakan yang dilaporkan menghilang adalah anak perempuan berusia tiga belas sampai delapan belas tahun. Kepolisian telah bergerak untuk menyelidiki apakah kasus anak-anak hilang ini seperti kasus yang pernah terjadi tujuh belas tahun yang lalu, di mana pelakunya sampai sekarang belum terungkap. Semua korban juga belum ditemukan hingga kini. Hanya ada beberapa asumsi bahwa pelaku melakukan penyamaran saat melakukan kejahatannya. Beberapa laporan yang masuk saat teror menyerang tujuh belas tahun yang lalu menyebutkan, bahwa ada sesosok badut asing yang berkeliaran di sekitar rumah kosong di jalan magnolia nomor dua puluh tujuh…

“Demi Tuhan, Jed. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Feli… .”

Mereka berpandangan ke arah televisi yang menyala di ruang tamu, kemudian saling terisak-isak.

*

Gadis kecil, mau bermain?

Kamera videonya berkerlip ke arahku. Sosok gendut berpakaian polkadot dengan pemulas bibir yang keterlaluan, dan bedak putih seperti abu orang mati itu, menyeringai. Aroma bibirnya masih melekat di badanku yang babak belur.

Sambil tertawa-tawa, ia mengayunkan parang berkarat yang dipenuhi bercak gelap. Sementara tubuhku menggelepar-gelepar, sebelah lenganku lunglai, tergantung berayun-ayun di sisi ranjang yang diikat tali-temali sewarna tembaga… .

Api

Ia melihat perempuan itu begitu saja. Bintang-bintang bergayut di ujung rambut sang perempuan saat ia mengibaskannya. Hanya merah yang memenuhi matanya. Merah yang hangat. Merah yang rekah. Merah yang damba.

Perempuan itu mengerling, sejenak. Menancapkan pandangan ke sepasang mata miliknya sendiri.

*
Ia teringat pada cerita usang yang didongengkan padanya saat matanya terbenam pada malam yang lelap. Pada malam yang pekat. Pada malam yang sembap. Karena pada malam yang sama, ia akan terbangun kembali, menggigil dingin saat udara menyengat panas, dan dari pipinya, bergurat-gurat air meleleh dari matanya.

Ia merasa perih yang entah. Seolah-olah sang mimpi sendiri yang membuatnya jeri. Ia tidak pernah ingat mimpinya. Namun di kepalanya selalu mendengung dongeng dari bibir keriput nenek buyutnya yang beraroma kayu lapuk.

Hati-hatilah pada nyalang api yang menjilat-jilat rongga di tubuhmu. Karena saat panas itu membakarmu dari dalam, dia akan datang.

Peri bergigi runcing dan berjubah api. Ia hanya akan mengabukanmu tanpa engkau bisa menyadari.

Hati-hati.

Sejak saat itu, hatinya diliputi panas yang menggeliat-geliat. Dan ia tidak berhenti mencari-cari peri berjubah api.

*

Ia pernah bertanya, suatu ketika. Kepada ibu yang memeluknya suatu malam saat ia terbangun dan kembali berteriak.

“Siapa peri bergigi runcing dan berjubah api itu? Apakah ia ada?”

Ibunya hanya tersenyum, lalu menjelaskan bahwa itu hanya dongeng sang nenek buyut untuk menakutinya. Sebab, menurut ibunya, setiap manusia selalu memiliki api di dalam dadanya. Itulah yang membuat mereka semua hidup, dan bersemangat. Ibunya menutup cerita dengan menarik selimut hingga batas dagunya.

Malam itu, ia kembali bermimpi. Kali itu, ia terbakar di pasungan yang dilalap api. Namun aneh, ia justru mencengkeram sang api. Di sudut matanya, sang peri mengerling, menatapnya dengan sepasang mata merah yang merekah. Menyala-nyala.

*

Ia memiliki api. Ia membakar apa saja. Ia menghanguskan manusia. Ia mengabukan laki-laki. Memanggang perempuan. Mengganyang yang bukan keduanya.

Api disungginya tinggi-tinggi. Kali itu ia tidak lagi bermimpi pekat yang membuatnya kalut, dan ia tak lagi menggigil di saat udara menyengat dengan sangat. Ia melupakan mimpi yang membuatnya jeri.

Ia memiliki api. Api di dada. Api di kepala. Api di selangkangan.

Ia berjengit menatap sebaris gigi runcing dan jubah api berpendar di pundak perempuan. Bintang-bintang berdenyar di ujung rambutnya. Perempuan itu mengerling dari balik cermin. Menatap wajah yang menatapnya balik dengan jengah.

Hati-hati dengan api yang nyalang yang membakarmu dari dalam,
Sebab saat api itu kau pelihara, ia akan datang
Peri bergigi runcing, bermata darah, dan berjubah api

Hati-hati dengan api,
Sebab ia akan menjelma engkau
Dan engkau adalah satu.

SEPEREMPAT: Tentang Suatu Masa

Suatu masa yang telah mati karena laju waktu tidak pernah mengenal mati.

Masa itu datang seperti hantu. Mengendap-endap tanpa suara, lesap di dasar kepala. Menggumpal abu-abu, lalu beranjak terang. Terang yang justru menjadikannya lebih gelap daripada abu-abu. Gaungnya selalu memenuhi gendang telingamu hingga mendengung. Hingga berdenging. Hingga kau tak tahan lagi.

Lalu kau muntah.

Muntah serapah.

Aku tidak percaya lagi padamu!

Kau tahu, mendung telah berpindah ke dalam mataku?

Hantu-hantu yang mencengkerammu dengan cakar yang melengkung dan berbulu

Suatu hari, aku mendengar gemuruh dari dalam kepalamu. Gemuruh itu, melompati sepasang matamu dengan kilat yang membuatku buta seketika.

Kilat itu terlalu tajam.

(Membuat aku ingat pada cakar yang masih mencengkeram isi kepalamu.)

Gemuruh itu, berdentum-dentum saat aku melihat mata –milikmu, yang sedang menatap aku.

Apa yang kau lihat dari dalam sana?

Aku melihat semesta di dalam mata itu –mata milikmu.

Semesta yang sama, yang telah lama kuberikan padamu. Semesta yang benderang sebelum masa Kejatuhan.

(Aku akan menceritakan Kejatuhan setelah ini. Jangan terperangkap garis waktu ceritaku.)

Aku masih melihat semesta itu di sana. Setidaknya, aku berharap semesta itu ada, dan aku akan menetap selamanya.

Namun, goresan cakar-cakar hantu di kepalamu itu, terus mengoyakkan aku di malam-malam hening. Cakar-cakar itu, ingatlah, mereka melengkung, dan berbulu. Mereka menangkap ingatan-ingatanmu. Memenjarakannya di bawah cengkeraman para hantu.

Ingatlah sesuatu, para hantu tidak mengenal usai. Apa yang kau lihat dari sepasang mata milikmu?

Kejatuhan yang Membusukkan Waktu (setiap mengingat ini, aku harus kembali menambali lubang-lubang di dalam dada)

Meminjam tangan waktu, aku kembali membawamu ke dalam Kejatuhan. Bintang timur menggoda engkau sedemikian -pijarnya, sungguh menyesatkan!

Aku kehilangan engkau. Engkau, menghilangkan aku. Lalu aku membusukkan waktu. Membuatnya terengah-engah. Mencekiknya hingga habis pongah.

Saat itu, ada satu jangkrik yang terus melubangi telingaku. Membuatku beralih dari jalan, yang saat menitinya hanya membuatku pedih. Dan aroma waktu saat itu, begitu amis. Nanah memancur dari liang-liang kepedihan yang kupancung. Seharusnya mereka mati saat aku memenggalnya.

Aku lupa, aku tidak mendaraskan mantra agar kepedihan tetap bersemayam dengan tenang di alam baka.

Akibatnya, aku harus menutup kedua mata, dan hidung, dan telinga, dan, lidahku mengikuti suara jangkrik.

Krik.

Kamu tidak berguna.

Krik.

Kamu tidak cukup berharga.

Krik.

Aku memelihara jangkrik itu. Mengikuti suaranya. Namun, aku telah membusukkan waktu, bukan? Saat aku memberikan racun kepada waktu, cairan itu memercik ke dalam dadaku. Membusukkan isi di dalamnya. Aku hampir bukan manusia. Aku tumpul. Tanpa rasa.

Kurasa, kamupun terpercik racun itu. Kamupun membusuk di dalamnya.

Lalu, krik.

Jangkrik itu menikamku di hadapanmu, tepat saat engkau kembali menemukan aku.

Memotong-motong tubuhku hingga kaku.

Dan, krik.

Siulan terakhirnya, memenjarakan aku di dalam lubang yang lebih buruk. Lebih busuk.

Namun, kamu telah menemukan aku, yang sedang mencari kamu.

Ini tanganku, mari kita makamkan Kejatuhan. Aku telah memesankan nisan berulir untuknya. Namun kali ini, jangan lepaskan tanganku.

Prasangka-prasangka yang tertinggal dan membikin huru-hara

Para hantu bahkan masih berdiam dan menancapkan cakarnya di dalam sana. Lalu ada asap di kepalamu. Membuatmu tersedak hingga batuk-batuk tiap mengingatku. Para hantu, dengan setia masih membisikkan ingatanmu lewat cakar-cakar mereka.

Tubuhmu terpancang. Kepalamu dicincang. Asap dan hantu bekerjasama mengoyakkan kamu. Kaki-kakimu terasa seperti dilumuri timah, lengket dan berat. Bibirmu disulamkan sedemikian rapat, dan siapapun yang menyulamnya -entah hantu entah asap entah dirimu- meninggalkan jarumnya menggantung begitu saja.

Jarum yang akan menusuk aku setiap engkau mengeluarkan satu suara. Suara yang berhubungan dengan Kejatuhan. Suara yang ditajamkan para hantu yang menggasak kepalamu. Suara yang digelapkan asap-asap yang bernama prasangka.

Namun, tahukah engkau, bahwa aku telah menanggung pedih yang lebih, selain suara yang memiliki ujung jarum yang menusuki aku?

Atau suara-suara gelap yang hampir membuatku kehilangan aku, karena tidak mampu kehilangan kamu?

Benar. Aku akan menanggung semuanya hingga habis. Hingga para hantu melepaskan cakar mereka pada ingatanmu. Hingga para asap memudar di dalam kepalamu.

Seperempat Abad Menghidu Udara, Selamat Merayakannya

Tidak seperti kisah kebanyakan yang manis, dan hanya membuat gigimu terkikis, aku menuliskannya dalam gelap yang meraba-raba.

Aku menuliskannya dengan gemetar, karena dari sekian masa yang pernah terhampar, aku memilih masa paling paceklik, paling krisis, masa di mana seperempat perjalananmu meniti usia.

Namun di tahun ke delapan tangan kita bergandengan, terang melingkupi kita dari segala penjuru. Hangat memancar dari orang-perorang-seseorang-banyak orang, mengikat kita dari simpul mati, menjadi simpul sangat mati. Tidak akan terpisah, sekuat apapun ikatan itu hendak diburai.

Aku tersenyum memandang jemari kiriku. Jari manis, tepatnya. Lihatlah ke sana, ke arah jari milikmu. Jari manis sebelah kiri, masihkah para hantu, dan para asap mengerubungimu?

Jika masih, adalah jawabannya, aku tidak akan mengatakan apapun lagi.

“Jangan biarkan mereka mengusikmu. Percayalah pada… .”

Isilah sendiri sesukamu.

Kamar Sepi, 6 Juni 2013,

PS. Aku sengaja menuliskannya di tempat terbuka. Kulengkapi dengan aksara melintang-lintang, tidak terbaca, dan terkunci. Tidak ada yang bisa membaca “aku” seperti kamu. Selamat merayakan kelahiran, Semestaku.

Negeri Oranye

Aku menemukannya dengan tidak sengaja. Almanak itu tergeletak dengan debu yang menutupi permukaan sampulnya yabg terbuat dari kulit berwarna cokelat yang terlihat lusuh, bahkan ujung-ujungnya bolong-bolong, pertanda telah termakan ngengat. Sepertinya ia tergolek bisu di dalam laci ketiga lemari tua peninggalan Mama ini sudah cukup lama. Lama sekali, barangkali. Sejak almarhumah dikebumikan  bertahun yang lalu, aku tidak pernah menjamah kamar beliau. Aku membiarkan kamarnya menjadi museum yang tidak pernah terjamah. Bahkan aku tidak pernah memasukinya sekedar untuk membuka jendelanya. Namun, hari ini terpaksa aku harus membersihkan kamarnya yang terasa angker, karena begitu gelap, pengap, dan dipenuhi debu serta sarang laba-laba akibat bertahun-tahun dalam pembiaran
Begitupun bertahun sebelumnya saat beliau masih bugar, dan bukan merupakan mayat perempuan yang kisut dengan bibir yang tertekuk ke bagian bawah. Astaga, bahkan saat mangkat pun beliau masih terlihat begitu pemarah.

Namun, sepuluh tahun kemudian setelah beliau wafat, aku membuka kenop pintu yang terasa dingin di tanganku. Menyalakan lampu, dan terhenyak. Mama, maaf. Aku menuju ke arah lemari, membukanya. Menemukan pakaian-pakaian Mama yang telah menguning karena jamur, lalu di laci yang letaknya tiga tingkat di bawah tumpukan pakaiannya, rahasia Mama itu menampakkan dirinya. Mama tidak suka lemari yang mengharuskannya menggantung baju-baju, ia memilih lemari dengan tingkap-tingkap kayu sebagai penyekat dan dipenuhi dengan laci-laci yang terkunci. Ada tiga laci, aku menghitung. Satu, kosong. Dua, berisi akte-akte dan surat penting lainnya. Tiga, almanak yang terasa berat.

Ujung-ujung jemariku terasa tersengat listrik saat membuka lembar-lembar halaman almanak yang berbau apak itu, lengkap dengan kertas yang menguning dan terlalu rapuh. Tulisan tangan Mama terlihat bersilang-silang di atas penanggalan yang telah dibuatnya sendiri dengan rapi.

20 Maret 1923.
Jedediah Amzi. Suami yang menyenangkan. Seharusnya aku bahagia.

18 April 1924.
Marie Absalome.
Aku harus memanggilnya istri Jedediah. Ah. Akulah Marie Absalome. Nama yang aneh.

27 Mei 1950.
Miriam Amzi. Anak perempuan pertama. Mata biru lautnya membuat siapa saja ingin berenang di kedalaman matanya.

17 September 1955.
Negeri Oranye. Sungguh sebuah negeri yang membuat lupa siapa saja yang memasukinya.

Dahiku mengerut membaca tulisan tangannya. Sudah lama aku tahu bahwa Mama telah membuat kalendernya sendiri, meskipun aku tidak pernah diijinkan membaca isinya selain lembar pertama seperti yang baru saja kubaca. Kalender Mama hanya berisi tahun-tahun kelahiran orang-orang terdekatnya. Papa menertawai Mama dengan alamanak yang terus menerus dibawanya di dalam tas kulit imitasinya yang berwarna cokelat, sementara Mama yang memang pemarah, hanya akan menekuk bibirnya ke bawah sambil menggerutu. Kedua orang tua itu memang tidak pernah berhenti saling menertawai. Tunggu, Negeri Oranye?

**

Ia merasakan panas yang membakar bola matanya. Jemarinya bergetar saat menggoreskan pena ke buku tebalnya yang bersampul kulit. Banyak penanggalan yang telah ia tuliskan di sini. Kelahiran suaminya, kelahiran dirinya sendiri, kelahiran putrinya, dan kemunculan sebuah negeri yang ingin benar ia tinggal di dalamnya.

Sore itu matahari berwarna jeruk, berwarna oranye, terang sekaligus hangat. Ia memeluk dadanya yang ringkih, mengawasi putrinya yang baru berusia lima tahun, yang sedang mengejar kelinci di halamannya yang berumput. Ranting-ranting pohon oak yang menghitam membentuk cakar, menjulang dengan latar belakang langit yang oranye. Ia merasakan matanya panas, dan berair. Ia melihat lengkung cakar di ranting pohon, lalu awan membentuk segurat wajah yang muram, namun langit sangat cerah. Ia merasakan ada yang ingin disampaikan semesta kepadanya. Darah di dalam dirinya bergolak, sesuatu yang telah lama dikurungnya melesak, membuncah, menuntut keluar.

Tanpa berpikir ia melangkahkan kedua kakinya yang putih, mengindahkan bahwa ia sedang bertelanjang kaki, dan keliman di ujung gaun birunya mulai ternoda lumpur di jalanan yang masih berupa tanah lumpur.

Miriam. Masuk. Tunggu mama di dalam.

Gadisnya menoleh dengan pandangan ingin tahu, kaki-kali kecilnya bersiap berlari untuk mengejarnya yang sudah berada di luar pagar.

Miriam. Masuk!

Gadis kecil itu hanya menatap dengan pandangan ingin tahu, namun perintah ibunya membuatnya menjadi kerdil, ia pun berlari, lalu membanting pintu. Tanpa menoleh ke arah ibunya yang telah kembali berjalan seperti orang linglung.

Perempuan itu menelengkan kepalanya, menangkap suara-suara yang bergema di dalam kepalanya. Sementara langit berangsur memadamkan warna oranye yang hangat, perlahan menggantinya dengan hitam yang menyepuh semua warna menjadi abu-abu.

Ia merasa sangat aneh, bahwa sore tidak terasa seperti biasanya, dan malam lebih dingin daripada seharusnya. Ia melihat banyak yang bergerak di bawah bayang-bayang pohon palem, ada yang melata di atas batang akasia, dan jalan lumpur yang mengotori keliman gaunnya terasa semakin membenamkan kakinya.

Aneh.

Seharusnya jalanan tidak terasa lembek karena mataharu musim panas mengeringkan air di dalam lumpur.

Aneh.

Aneh.

Ia terus berjalan, dengan riuh yang hampir memekakkan kedua telinganya, hatinya terus bertanya-tanya. Sudah lama kepalaku sepi. Mengapa hari ini muncul riuh di dalam sini. Mengapa sore ini intuisi muncul kembali.

Ia mencengkeram erat almanak yang masih dipegangnya, dan penanya telah lama terjatuh. Entah.

**

20 Maret 1923 – 20 Sep 1955.
Requiem in Peace. Jedediah Amzi.

Negeri itu hanya berwarna oranye jeruk, serupa sore yang aneh saat intusiku kembali berteriak. Untuk pertama kalinya aku berteriak kepada Miriam, gadis kecil yang malang. Kedua kakiku terasa kisut akibat terendam lumpur begitu lama. Sore yang aneh. Sangat aneh. Lebih aneh karena tepat tiga hari selanjutnya Jedediah meninggal. Dia hanya.. meninggal begitu saja. Negeri Oranye, ah Negeri Oranye!

Aku masih bisa membayangkan aroma kamperfuli yang menyenangkan berpadu dengan aroma lembut verbenna di Negeri Oranye. Dan sore itu aroma madu bercampur susu dari kue-kue madeleine mengambang di udara. Surga yang menyenangkan. Surga yang entah… .

Mama menyukai aroma kamperfuli, dan mengoleksi ratusan pot verbenna di bawah jendela kamarnya. Ingatanku menerawang, sudah lama ia tidak memasak kue madeline, seketika harum madu bercampur susu mengambang di kamar yang pengap itu. Aku menarik kait jendelanya yang terbuat dari kayu, membiarkan udara masuk dan mengusir segala macam aroma masa lalu yang selalu membuatku tersengat. Almanak Mama lebih dari sekedar penanggalan, lebih dari sekedar yang ia ceritakan padaku saat aku bertanya.

Mama, ceritakan padaku lagi, semuanya.

Sore itu langit berwarna oranye jeruk, harum madu bercampur susu lamat-lamat mengambang, bercampur aroma verbenna yang telah lama kering dan busuk di bawah lengkung jendelanya.

**

Berhati-hatilah karena hidup bisa sangat kejam. Ia menggoreskan penanya ke atas almanaknya yang bersamlul kulit. Ia berkeras bahwa buku yang selalu dibawanya adalah sebuah jurnal kejadian. Bukan berupa diary yang berisi keluh-kesah segala sesuatu seperti perempuan tua. Ia melirik suaminya yang tampak kekenyangan di kursi makan, saus mentega masih meninggalkan jejak di bibirnya hingga membuatnya berkilat. Putri mereka mendengkur halus di sofa bundar tak jauh dari tempatnya menulis.

Masakanmu enak, Marie. Sayang Miriam masih terlalu kecil untuk bisa mengunyah daging kalkun saus mentegamu yang terasa alot.

Perempuan itu hanya mendongak sekilas dari almanaknya, lalu tersenyum. Namun ia menggeleng saat Jedediah memberinya isyarat untuk mengikutinya ke arah kamar.

Marie, ayolah.

Perempuan itu menggeleng. Lalu ia beranjak untuk menggendong Miriam di satu lengannya, lengan lainnya memeluk almanaknya yang berharga.

Tidurlah, Jedediah. Aku akan menemani Miriam.

Laki-laki itu menggelengkan kepalanya yang berambut sewarna tembaga lalu menggumam.

Kau lebih sayang almanakmu rupanya.

Marie Absalome menutup pintu kamar Miriam perlahan. Sepelan ia menutup pintu hatinya kepada Jedediah.

**
1 Juli 1950.
Suara-suara.

Perempuan itu bodoh, laki-laki itu berujar kepada satu rekannya di bar murahan di ujung jalan. Wajahnya memerah dan titik-titik keringat bermain di dahinya.

Bodoh, karena ia melahirkan perempuan lainnya yang pasti juga sama bodoh dengannya.

Tapi bukankah sama saja perempuan dan laki-laki. Rekannya yang ternyata perempuan itu menanggapi dengan mata yang berkedip licik. Perempuan yang itu mengenakan celana panjang ketat yang tidak pantas dan atasan dengan belahan dada yang terlalu rendah.

Kau tidak mengerti adat bangsawan, ya? Harus ada anak laki-laki di dalam sebuah keluarga.

Laki-laki itu kembali menenggak rum yang berbuih di gelasnya dengan pandangan yang tidak beralih dari wajah rekannya. Lalu satu tangannya merambat di tubuh rekannya yang perempuan yang tidak pantas itu. Dari paha. Lalu naik ke pangkal paha. Menggeseknya pelan. Lalu ke atas perut, mengusapnya. Kemudian dada. Meremasnya.

Buih di dalam rum itu berpindah ke dalam kepalaku. Mendidihkannya. Bar terkutuk. Laki-laki bajingan.

18 April 1951.
Kelahiran yang berulang.

Selamat berulang tahun yang ke dua puluh tujuh.

Suaminya membelikannya sebuah pot berisi verbenna, sama seperti tahun-tahun yang sebelumnya. Ditambah dengan pelukan yang segarusnya sama hangat, namun ciumannya kini terasa anyir berbau kebohongan.

Kenapa kau tidak tersenyum, Marie? Ini ulang tahunmu bukan? Kita rayakan dengan.. misalnya.. hmm.. bagaimana dengan memanggang kue? Madeleine? Kita berdua menyukai kue madu itu.

Perempuan itu menggeleng.

Bukannya aku bodoh karena melahirkan anak perempuan yang juga akan menjadi bodoh seperti aku?

Astaga dari mana kau bisa berpikiran seperti itu?

Suara suaminya terasa menusuk kedua lubang di telinganya. Mrnghunjam bebas ke dalam hatinya.

Aku mendamba anak lelaki, benar. Kita bisa mencobanya, bukan?

Lalu senyum lelaki itu mengembang, membuat perempuan itu ingat pada matahari sore, yang membuatnya jatuh cinta pada lelaki yang memiliki hangat yang sama.

Perempuan itu bodoh. Buih-buih rum yang mendidihkan kepalanya lesap saat kedua tangan kekar itu mengusap tubuhnya.

Hangat. Ia merasa hangat.

**

Mataku tidak berhenti berair dan ujung jariku serasa teraliri listrik saat menyentuhnya. Ruangan masih dipenuhi aroma madu dan susu. Aku kembali menggali dalam benak, seingatku mama hanya berbau kamper dan memasang muka muram sepanjang hari. Madu dan susu sempat tercium dari tubuhnya kala ia bahagia. Atau setelah ia memanggang Madeline. Aktivitas yang tidak pernah dilakukannya lagi semenjak… Ah! Semenjak ia membentakku, dan berjalan dengan linglung pada saat usiaku lima tahun.

Aroma madu dan susu semakin pekat, matahari menggantung seperti jeruk. Bundar, dan oranye. Ranting-ranting oak tua yang terlihat dari jendela kamar terlihat seperti cakar. Ada wajah yang muram di dalam awan. Langit berwarna oranye terang. Cakar ranting oak terlihat hitam, mengancam. Aku melompati jendela, menggenggam almanak, mendekapnya. Berkali-kali kakiku terantuk batu-batu di halaman berumput yang kasar. Jalanan sudah berupa aspal yang terasa keras di kakiku yang telanjang. Udara sarat aroma masa lalu. Berat. Sangat berat. Aku bisa melihat diriku berusia lima tahun sedang melompat-lompat mengejar kelinci. Dan aku melihat Mama dengan rambut hitam yang berkibar dan gaun yang keliman di ujungnya terkena noda lumpur. Ia berjalan dengan linglung. Menengadah, menengok ke kanan lalu ke kiri. Lalu kembali ke kanan. Lalu ia berjalan lurus.

Almanaknya terjatuh. Angin membuka lembarannya. Mataku terpaku.

17 September 1955.
Negeri Oranye

Perempuan itu tiba di sebuah negeri berwarna oranye setelah pekat membutakan matanya. Kedua kakinya terasa kisut karena terendam lumpur. Ia tidaj tahu sudah berjalan seberapa lama. Intuisinya hanya menuntutnya untuk terus bergerak. Sementara bayangan-bayangan terus menggeliat-geliat di bawah pancaran mulam rembulan.

Negeri itu hanya berupa sebuah padang dengab banyak lentera yang tersangkut di dahan-dahan. Bahkan bulan yang biasanya angkuh kepucatan terlihat begitu semarak dan hangat. Ia menari-nari, berputar dari satu pohon ke pohon lain. Menyentuh batangnya yang empuk, dan dengan iseng menjilatnya. Rasa madu memenuhi rongga mulutnya membuatnya terbelalak.

Oh sungguh negeri yang menyenangkan. Bolehkah aku mengajak seseorang?

Ia mendengarkan dengan takzim dan tidak ada yang menyahuti suaranya.

Ia menjawili lentera-lentera yang memancar cahaya oranye lembut. Sudah sejak lama ia menyukai warna oranye. Senja. Jeruk. Madu. Kue madeline.

Ia merasa kembali ke kanak-kanaknya yang terasa surga. Saat sore, selalu, ayahnya yang mencangklong pipa tembakau di bibirnya akan mendongengkannya tentang raja-raja, dan ibunya yang bertahi lalat di bawah bibir membuatkan mereka sekeranjang kue madeline yang hangat. Sorenya selalu hangat. Sorenya selalu bahagia.

Di sebuah sore yang hangat, ia juga bertemu Jedediah Amzi. Lelaki berlesung pipi yang hangat seperti matahari oranye di senja yang tidak pernah buruk.

Ia teringat Jedediah. Suaminya yang penyayang. Namun sesuatu mencubit hatinya, membuatnya berhenti menari dan mencelup jemarinya ke dalam pohon-pohon madu. Sesuatu itu mengepak di dalam hatinya. Intuisi yang selama ini disingkirkannya hingga hanya menjadi sebuah ilusi.

Di negeri oranye yang penuh lentera itu ia mendengar mendiang ibunya.

Marie, kita para perempuan Absalome terlahir dengan bakat bisa mengetahui isi hati. Kau akan selalu menemukannya jika ada yang menutupi.

Lalu negeri itu terjungkir balik. Ia terhisap ke dalam kumparan pekat yang menyesakkan dadanya. Malam kembali kelam dan abu-abu membutakan mata.

Di ujung jalan yang entah di mana, ia melihay sesosok bocah laki-laki mendengkur di dalam gendongan Jedediah. Dan perempuan yang tidak pantas itu meringkik di samping suaminya.

Mama. Kau bilang papa terkena serangan jantung? Mungkin malam saat aku mendengar kalian saling berteriak itu, kau mengatakan bahwa kau tahu?

Mama, bisakah kau percaya? Aku tiba di sebuah negeri oranye dengan bulan bersinar semarak dan lentera tergantung di dahan-dahan?

Aku melangkah, negeri itu berpendar oranye. Kayu-kayunya menguarkan aroma madu.

Kita perempuan-perempuan Absalome terlahir dengan bakat bisa mengetahui isi hati.

Suara itu terasa kering, seakan terpahat di udara yang terus mengambang aroma pekat madeline.

Lalu negeri itu terjungkir. Kakiku tergores-gores tanpa alas.

Malam kembali menyepuhkan abu-abu yang berbayang-bayang. Di sudut bar murahan, sesosok laki-laki mendengkur puas di atas dada perempuan yang tidak pantas.

Di kaki langit yang tidak memiliki warna selain kelam, ada sesosok perempuan. Di tangannya tergenggam sebuah jarum, dan segumpal benang telah ia hamparkan.

Di tangannya yang lain, sebuah gunting telah ia gerakkan, lalu terpotonglah kelopak itu. Kelopak yang seharusnya memekarkan kembang, memabukkan kumbang. Lalu terbukalah, tanpa penghalang suatu apa, sebuah pusat yang berbinar –dulunya.

Sepasang mata, ia berujar lirih, sepasang mata, terbukalah kini engkau.

Ia hirau akan pekat yang memerciki tubuhnya dengan anyir yang amis. Ia membendung badai yang bersiap menelannya, menguncinya di pangkal leher.

Sesungguhnya kesedihan tidaklah berarti apa-apa. Begitulah ia menggumamkan himnenya ketika gunting di tangannya memecah hening dengan suara melenting. Tangannya tidak bergetar saat mengumpulkan potongan-potongan kelopaknya yang terserak di lantai.

Namun hatinya remuk.

Hatinya remuk.

*

Jarum telah tergenggam di tangan kirinya, dan segulung benang telah ia hamparkan menutupi separuh lantainya.

Aku akan mulai menjahit.

Menjahit apa saja yang telah terbuka.

Ia mulai dengan katup yang bisa membuka – menutup – dan bersuara di wajahnya. Lalu ia menyasar lubang-lubang di tubuhnya.

Kepala. Dada. Selangkangan.

Kepala. Dada. Selangkangan.

Ia menusukkannya pelan-pelan. Menjahitnya rapat-rapat hingga lekat.

Badai hampir mencapai matanya. Mata yang kini terasa perih, karena tidak lagi mengenal gelap yang menentramkan. Ia tertawa melihat serpih-serpih kelopaknya.

Ini aku. Ini mataku. Ini tubuhku.

Sanggupkah kamu mengenalinya?