Suatu Masa: Ketika Ellia bertemu Abiram

Ellia seakan ingin meledak dalam kumparan cahaya yang mengungkungnya. Di barisan semak lili merah jambu yang menari-nari, dadanya ingin meledak karena rasa senang yang muncul tanpa terduga-duga. Pagi tadi, saat ia memanen kuntum-kuntum embun di barisan para lili (bunga-bunga cantik merah jambu itu merona di bawah sentuhan tangan beledunya yang mungil), ia mendengar Sang Kenari bernyanyi:

Terselip di antara kabar angin,
Yang lama hilang akan kembali,
Rumah-rumah akan berseri,
Perapian dipenuhi nyala api,
Hangat hanya hangat yang mengusir sepi,
Tunas-tunas lalu bersemi,
Dia kembali.
Dia kembali.

Ellia sampai menjatuhkan keranjang embunnya yang berharga, embun itu sama berkhasiatnya dengan nektar para mawar, menghidupkan hidup yang beranjak layu karena matahari, mengembangkan sayap para peri, serta melukiskan pelangi di kulit-kulit pohon yang kisut.

Namun Ellia tidak peduli. Ia segera mengembangkan sayap yang menggantung lemas di bahunya, secepat kilat ia menuju petak matahari –sebentuk tanah yang diselimuti rumput berwarna ungu yang bermandikan matahari, di sana, tempatnya biasa berdiam, diam-diam merindukan peri yang lama tidak dilihatnya lagi. Peri yang lalu menghilang tanpa menyisakan kabar kecuali hanya berupa sepotong kisikan angin.

Aku pergi sementara saja.

Abiram.

Ia terbahak-bahak teringat buntut serupa buntut tikus yang menempel di tubuh Abiram. Cahaya matahari membuatnya sangat bersemangat. Bukan. Namun kabar dari Sang Kenari yang menyalakan hidup yang hampir lesap dari dalam dirinya.

*

Taman Para Peri. Begitu Abiram pernah menyebut hutan kecil tempat mereka tinggal, dan bersembunyi. Mereka adalah sekumpulan peri –kebanyakan dari mereka adalah peri pohon dan peri bunga, beberapa diantaranyaΒ  kelinci yang ternyata pesulap ulung, sekelompok marmut pencuri kenari, bergerombol-gerombol mawar pongah dengan duri berbisa, sebarisan lili merah muda tukang merona, sekumpulan pohon tua yang tidak mau menyebutkan nama, sepasukan belalang tanpa bulu mata, serta seekor burung kenari buta.

Abiram adalah Kepala Suku, para peri penari yang genit (peri-peri ini datang sesuka hati mereka, tinggal di kastil-kastil yang terletak di utara), menyebut Abiram adalah Maha Raja. Ellia terkikik-kikik geli saat peri-peri penari itu dengan genit mencolek-colek buntut Abiram dengan sikap menggoda. Abiram yang kehilangan kata-kata hanya menanggapi mereka dengan memberi mereka sekeranjang penuh nektar mawar yang mereka panen dengan susah payah. Peri-peri genit itu lalu pergi dengan mendaratkan kecupan masing-masing di pipi Abiram, dua kali untuk setiap peri.

Ellia sendiri adalah peri bunga biasa yang tidak memiliki keahlian apapun selain memanen embun dan membuatΒ  lili-lili merah jambu menjadi lebih merona. Namun berkat keberanian Ellia di suatu pagi, saat melihat Abiram tersengat laba-laba raksasa yang entah berasal dari kutukan negeri yang mana, peri bunga itu mengisap racun itu sendiri melalui bibirnya. Akibatnya, Ellia kejang-kejang dan muntah-muntah lebih dari tiga putaran matahari. Abiram menaruh hormat tinggi-tinggi untuk itu.

Selain itu, Ellia adalah peri pemberani. Ia pernah mengusir sekumpulan lebah bodoh, menimpuki mereka dengan kotoran kelinci, saat kawanan itu memyerbu semak mawar pongah mereka yang berharga. Dan untuk itu, mawar-mawar berbisa telah berbaik hati memberikan nektar mereka tanpa menyengat Ellia sama sekali.

*

“Abiram, kau tidak penasaran?”

“Tentang apa?”

“Dunia.”

“Memangnya dunia kenapa?”

(Ellia melemparkan setangkup embun ke wajah Abiram yang terkaget-kaget hingga tak mampu menghindar. Sekumpulan peri bunga yang lain berdeham-deham.)

“Dunia kan tidak hanya di sini.”

“Aku tahu. Lalu kenapa?”

“Tidak inginkah kau melihatnya?”

(Abiram mencolek nektar dari toples kaca yang telah diisi penuh-penuh oleh Ellia, sebarisan belalang melolong protes –jangan sampai jatah kami berkurang karena kau licik menjilat duluan, Abiram!)

“Baik. Aku akan melihatnya. Dunia yang mana yang ingin kau ketahui?”

“Maksudku, aku ingin melihatnya!”

(Ellia gusar. Ia menutup toples dengan asal-asalan, lalu melemparkannya pada peri lainyang terlihat putus asa — peri itu telah bersusah payah memanen nektar sepanjang pagi, dan ia belum mendapatkan setetespun, para mawar meruncingkan duri-durinya yang berbisa.)

“Tidak bisa, Elli. Kalau kau pergi, siapa yang memanen nektar dan menjaga petak matahari? Bayi-bayi peri harus dibaringkan di sana setiap satu putaran matahari. Dan hanya kau yang bisa ke sana tanpa dilukai barisan semak mawar-mawar jahanam itu.”

(Ellia terdiam, ia tahu petak matahari dipagari barisan mawar karena kesakralan tempat itu. Namun ia baru sadar hanya ia yang bisa ke sana. Bahkan Abiram yang Kepala Suku pun akan tersengat dan mati jika terkena duri-duri itu.)

“dan, Elli, jika para bayi tidak dibaringkan di sana, mereka akan kisut. Layu. Seperti masa-masa gelap saat kita belum menemukan petak matahari. Hanya akan ada tangisan dan pemakaman. Semua berkabung. Semua beranjak tua. Mati.”

(Ellia mengangguk.)

“Biar aku yang pergi.”

Setelah percakapan pagi itu, Abiram menghilang. Tujuh putaran purnama penuh. Ia tak kunjung kembali. Taman Para Peri perlahan-lahan berkabung. Bagi mereka, sang Kepala Suku adalah jiwa yang menghidupi semangat mereka semua. Tanpa terkecuali.

*
Ellia menangkupkan sebentuk cawan kaca di antara bibir-bibir mawar yang merekah, rona pongah itu perlahan luruh, menetes di cangkirnya. Nektar-nektar madu berlelehan di dalamnya, berkilau-kilau penuh nyala hidup. Sejenak setelah kelopak-kelopak itu tertidur layu, Ellia menjentikkan embun di atas mereka, menjadikan kuntum-kuntum mati itu terlahir kembali. Ellia mengusap-usap mereka dengan lembut. Hatinya merasa sendu. Dua putaran matahari setelah Sang Kenari bernyanyi, Abiram belum kembali.

Elli beringsut ke maple tua yang batangnya mulai menghitam, menyembunyikan tangisnya di sana.

Lalu, dari balik bayang-bayang pohon-pohon yang terlihat berkilau-kilau karena mereka serentak tersenyum hormat, Abiram, tersenyum lebih cerah dari matahari.

“Aku tidak pergi dalam waktu yang terlalu lama, bukan?”

Di sepasang mata peri pohon yang sewarna tembaga itu, Ellia melihat: dunia.