Eli, Lama Sabakhtani

​Aku teringat saat sosok tubuh yang dipancang di kayu salib itu, saat darah mulai menetes-netes itu, saat suaranya berubah menjadi bisik-bisik yang menggetarkan pokok-pokok beserta daun yang bertumbuh itu,

Eli, eli, lama sabakhtani

Aku setengah berharap akan ada gemuruh atau bumi bergejolak membuat gaduh, aku berharap ada suara menggelegar, atau tiupan terompet, atau, pasukan legiun yang kelak melepaskan amarah, menghukum, membalas, memberi pengajaran, tapi, tidak.

Hanya hening. Hanya hening yang bahkan angin pun segan menggesekkan diri. Hanya ada hening.

Kudus, kudus, aku ingin bernyanyi, melihat kepala yang dipenuhi duri-duri itu perlahan bergolek, tak sanggup lagi. 

Eli, eli, lama sabakhtani…

Aku teringat, anyir yang meruap dari selembar kain yang digunakan untuk mengurapi kaki yang menetes-netes darah itu. Kain yang menguarkan duka yang terasa pahit itu, yang menguarkan amarah yang terasa getir itu. 

Eli, aku kembali menghirup aroma pekat duka tubuh yang tergolek itu, kenapa Ia tak marah, Eli? Kenapa Ia tak gusar, Eli, sedang aku, yang hanya membaui sakit itu merasa begitu marah dan pedih. Dan getir. Dan pahit.

Eli, lama sabakhatani… . 

Iklan