Perjalanan Setengah Tahun

Anak lanang yang dulu menghuni rahimku itu kini genap setengah tahun. Mikhael, sang malaikat pengayom pembawa terang, begitulah aku menamainya. Dagna, sang cahaya, aku memanggilnya. Aku mendoakan segala terang untuknya, dan gelap pasti tetap menjadi bayangannya, tapi aku tetap berdoa, segala kebaikan selalu kudaraskan untuk anak lanangku.

Sang Halomoan, sang kesayangan, Nababan, si batak nomor dua puluh satu. Siabangan bagi opung Nababan sekeluarga. Dia dicintai, dan aku berterima kasih pada alam raya atas berkat yang luar biasa ini.

Hari ini, genap perjalanannya setengah tahun, setelah kami berbagi tubuh lebih dari empat puluh minggu. Kami tidak lulus asi esklusif. Anak lanangku menolak menyusu langsung. Batak cilikku sudah merasakan manisnya buah apel dan pear di usianya yang baru setengah tahun kurang dua minggu.

Tidak apa-apa.

(Aku tidak akan menuliskan alasannya, aku hanya akan menuliskan alasanku ada hanyalah karena dia ada.)

Seperti yang telah kutulis, kami berbagi tubuh lebih dari empat puluh minggu. Di waktu seharusnya ia sudah menyundulkan kepalanya untuk merobek jalan lahir, ia memilih tenang, meringkuk diam-diam di dalam sana. Nyaman sekali, ya nak, di sana?

(Iya, ingin kukatakan dunia kejam, tapi biarlah ia akan mencicipinya sendiri, nanti. Seperti kata pepatah, tempat ternyaman adalah rahim ibu, namun tentu saja, kau tidak akan bisa meringkuk di sana selamanya! Hidup bukan hanya cari nyaman, nak! Hidup akan menempamu menjadi kuat dan tegar. Aku, tidak akan menuliskan bahwa kau harus kuat, kau harus tegar, tidak! Kau akan menjadi kuat karena Sang Hidup itu sendiri yang akan membuatmu kuat.)

Lalu akhirnya, karena tidak ada tanda-tanda kontraksi alami, dan air ketuban sudah menyusut habis, kami harus berjuang di meja operasi tanpa persiapan. Sama sekali. Tetapi Tuhan berkehendak semua lancar, meskipun sebelum pisau-pisau bedah itu mengiris perut dan dagingku, aku sempat was-was. Denyut jantung anak lanangku itu terlalu bekerja keras akibat asupan oksigen yang minim karena air ketuban yang sudah hampir habis.

Tapi sekali lagi, Haleluya! Kuasa Tuhan tidak ada yang menyangka. Syukur kepada Allah!

Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, tangisan itu merobek malam hening. Aku menangis. Bahagia. Haru. Tidak siap. Grogi. Waswas. Campur aduk… .

Lalu bayi merah yang masih penuh darah dan sisa ketuban itu didekatkan padaku. Aku ingin merangkul, mendekap ia erat, ingin kelekatkan tubuh mungil itu hangat di dada, dan menciumi pipinya yang bulat.

Namun aku tidak kuasa. Sepasang kakiku masih mati rasa. Sepasang tanganku diikat tali longgar, masih ditancapi infus dan sebagainya. Aku hanya bisa mencium kening anak lanang itu, dan berujar “Selamat datang, nak. Ini mama,”

Selanjutnya, Bapa Kami dan Salam Maria menjadi daras ujaran pertama dari bapaknya. Aku tahu, bapaknya pasti menangis. Sama merasakan hal yang aku rasa.

(Terima kasih, aku tahu kamu ayah yang baik untuk anak lanang yang sekarang sudah genap enam bulan dan sedang senang-senangnya berguling-guling di kasur. Dia selalu membuat kita waswas karena sewaktu-waktu bisa saja ia terguling, dan hanya lantai keras yang akan menangkapnya. Yang paling kencang menangis kesakitan setelah tangisan anak itu, tentu saja aku.)

Kami bukan orang tua yang sempurna, nak! Aku masih suka mengeluh: lelah, menjaga anak lanang itu seharian. (Padahal, konon hal itu adalah terlarang. Ibu tidak boleh bilang capek buat anaknya. Masa bodo, nak! Aku kalau tidak mengeluh, pasti sudah jadi bidadari. Atau, malah sudah mati. Tapi aku tidak akan mengeluh terus-menerus. Janji!)

Nak, maaf, ucapan selamat setengah tahunmu ini jika kau baca suatu hari nanti (dan saat kau sudah bisa membaca, kau pasti sudah mengenal betapa ruwetnya isi kepala mamakmu ini), jangan heran ya! Tertawa saja, dan jambak mamakmu seperti yang biasanya kau lakukan. Atau, guling-guling saja dari ujung kasur ke tempat mamakmu rebah, minta cium lalu nyengir seperti saat gigimu masih ompong.

Bertumbuhlah seperti semestinya, Dagna. Aku, ibumu, mamak ikan pausmu, tidak akan memaksa, apalagi menghalangi jalan yang mana saja yang hendak kau pilih, yang paling terjal sekalipun. Aku hanya akan berpesan, hati-hati, sejauh apapun kakimu membawamu jauh, pergi dari ibumu, selalu, ingatlah pulang, ke rumah di mana ada ibu yang mendekapmu, di mana ada ayah, yang mendoakanmu.

Saat di persimpangan, kenanglah rumah, ingatlah bagaimana ayah dan ibumu pernah memberitahumu akan sesuatu,dan jika ingatanmu tidak terlalu sempurna, ikuti saja terang yang selalu ada dalam hatimu. 

Selamat ulang bulan yang keenam, nak!

Selamat bertumbuh, Mikhael Dagna Halomoan Nababan!

Requiem Piano

Lukisan itu besar, muram, menggantung terabaikan di sudut dinding yang bersarang laba-laba. Masih sama menakutkannya dengan apa yang telah lama kuingat.

Tepat di bawahnya sebuah piano kusam, badannya tidak lagi mengkilat hitam, debu telah melapisinya sedemikan rupa hingga warnanya berubah kelabu. Namun, piano itu masih terlihat kokoh, dan debu-debu yang melekat padanya membuatnya terlihat semakin misterius. Segala sesuatu di ruangan ini tampak kuno, satu-satunya penerangan hanyalah seberkas sinar matahari yang menembus tirai tipis korden di jendela.

Aku melangkah ragu, mendekati piano yang bangkunya mengundangku dalam hening. Dengan lembut, aku menyentuhkan ujung jemariku ke arah tuts-tutsnya, dan mengejutkan, tutsnya masih berfungsi dengan baik! Suara yang dihasilkan juga masih jernih, walaupun tampaknya sudah tidak ada yang menghiraukannya lebih dari satu dekade. Aku mencoba beberapa nada yang kukenal –ciptaanku sendiri. Kemudian sesaat setelah hanya denting piano yang memenuhi ruangan, degup jantungku mendadak aneh. Gugup.

Aku merasa sedang diawasi.

Aku memandang sekitar. Hening. Tidak ada siapa-siapa. Pandanganku terpaku pada lukisan itu, sesuatu bergerak di dalamnya. Kupikir, memang ada yang bergerak di sana. Entah. Keluar! Sekarang juga! Aku memerintah diriku sendiri, suara sepatuku bergema di penjuru ruangan dengan nyaring.

**

Aku membalik halaman peta yang sejak tadi kulihat dengan kaca pembesar. Dupa masih memenuhi penciumanku, dan koor kematian itu masih mendengung di telingaku. Berbekalkan sebuah peta dan sedikit uang di dompet, aku mengepak kenangan dan masa depan dalam sebuah koper.

Ke sebuah kota asing, untuk pulang

“Anda benar akan ke sana?”

Lelaki tua itu duduk di depanku, menyajikan segelas cokelat hangat dengan uap yang masih mengepul.

“Hanya untuk beberapa saat, Phillip.”

Aku menghirup aroma cokelat dengan khidmat. Aroma ini akan kurindukan.

Jemari Phillip bergetar, membelai punggungku dengan lembut, menenangkan.

“Kapanpun anda merasa siap, rumah ini selalu menyambut anda kembali.”

Aku hanya sedang menuntaskan sebuah janji, Phillip.

**

Gadis itu membelalak saat aku menyebutkan namaku, dan menanyakan arah di mana aku bisa menemukan rumah yang kucari. Dengan mulut terkatup dan sebelah tangan yang mengepal, ia menunjukkan arahnya dengan ujung jari.

“Hati-hati.”

Hanya itu yang ia lontarkan saat aku mengucapkan terima kasih. Ia bahkan kembali membisu, dan tidak mau menjawab lagi saat aku bertanya apakah akan ada kendaraan umum yang bisa mengantarkanku ke sana. Gadis itu lalu berlari, tanpa menengok lagi.

Kemudian selain gadis penunjuk jalan itu, satu-satunya yang berpapasan denganku saat aku menyusuri jalan adalah seorang pria yang sedang berjalan kaki, nampak seusiaku, sekitar pertengahan 20-an. Ia berbadan gempal, namun memiliki mata yang berbinar-binar, serta tampak sangat senang saat aku menyebutkan tujuanku.

“Kuantar ke sana, Miss.”

Aku mengangguk. Hari sudah beranjak terik dan aku masih belum tahu arah. Panasyang menyengat hampir saja meluluhkan niatku untuk melanjutkan perjalanan, dan membuatku ingin kembali ke rumah di mana ada Philip, sup dingin, serta kamar mandi yang nyaman untuk berendam. Aku jelas-jelas sangat butuh ditemani untuk bisa sampai ke tujuanku.

“Miss, kau tidak takut tinggal di sana?”

Ia bertanya setelah kami berjalan beberapa meter, matanya masih bersinar-sinar. Tampak sangat gembira, serta polos. Aku terpana sejenak melihat mata yang demikian murni, kemudian menggeleng letih. Panas itu benar-benar telah menguapkan semangat, belum pernah aku berkeringat dan kepanasan separah ini.

“Tidak. Rumah itu milik keluargaku, dan aku satu-satunya ahli waris. Aku hanya ingin melihat, dan tinggal sementara di sana.”

Aku mempercepat langkah. Pria itu tersenyum melihatku kepayahan, sebelumnya ia telah berbaik hati untuk membawakan koper milikku, dan menawarkan kami untuk berhenti sekedar menyelaraskan kaki. Aku menolak, lebih cepat sampai lebih baik.

“Sudah lama sekali tidak ada yang mengunjungi rumah itu, Miss.”

Katanya, mencoba kembali membuka percakapan. Pria ini benar-benar suka mengajak bicara. Aku hanya mengedikkan bahu. Sejak ibuku terlalu sibuk mengurusi usahnya, rumah dan segala kenangan yang tersulam di dinding-dindingnya itu menjadi terlupakan. Mendadak requiem tu kembali menyalak di dalam kepala. Seperti alarm yang membangunkan kepedihan, membuat kedua mataku berbayang -tak ada hubungannya dengan panas yang menyengat.

“Masih jauhkah?” Tanyaku, hampir menyerah. Kedua kakiku seperti digayuti batu-batu sebesar kepala. Pria itu menggeleng, jemarinya menunjuk rumah berdinding bata yang beratap miring di ujung jalan. Sesuatu melintas di kepalaku.

“Sst.. Jangan berisik, nanti ayahmu tahu kita datang.” Ibu menempelkan telunjuknya di bibirku. Kami berdua mengendap-endap seperti pencuri di balik dinding bata yang berwarna merah. Scottie, anjing berbulu emas itu menggoyang-goyangkan ekornya dengan bahagia. Sadar betul dirinya ikut dalam sebuah misi rahasia yang tidak boleh diketahui.
Dari dalam terdengar sayup-sayup denting piano yang iramanya sedih. Dari depan pintu, aroma tembakau yang baru terbakar menyeruak memenuhi rongga penciumanku. Dahi ibu mengernyit, ia tidak suka jika ayah menghisap tembakau. Apapun alasannya. Jemarinya masih menempel di bibirku, kami akan segera membuka pintu..

..pintu terbuka. Aku menjerit, ayah berdansa dengan seorang perempuan berambut emas dan bergaun hitam. Pianonya berdenting tanpa ada jemari yang memainkan..

..tujuh hari kemudian, terpisah beberapa ratus kilometer jauhnya dari rumah itu, kabar kematian ayah menyeruak, melubagi dada ibuku, bahkan hingga berthun-tahun sesudahnya… .

“Miss.” Ia mengguncang bahuku perlahan. Aku sudah berdiri di depan pintunya. Kedua kakiku melemas, tubuhku merosot hampir membentur lantai. Pria gempal itu menangkapku tepat saat kepalaku hendak terbentur daun pintu. Wajahnya mengerut khawatir.

“Duduklah dulu, Miss. Kupanggilkan pengurus rumah ini.” Ia mendudukkanku pada tangga kayu di depan pintu. Angin terasa sejuk membelai wajahku. Aku hanya mengangguk lunglai. Kepalaku penuh oleh hantu-hantu dari masa lalu.

“Silakan, ini kuncinya.” Pria gempal itu kembali membawa serangkaian anak kunci yang berkarat. Pengurus rumah yang ia sebut-sebut tidak tampak di mana-mana. Seingatku, memang tidak pernah ada pengurus rumah. Dulu sekali, hanya ayah dan ibuku yang mengurus rumah mungil ini sendirian. Pria itu menatapku, mengulurkan kunci-kunci yang ia bawa. Aku hanya menatapnya, bergeming. Ia menyerah, menyurukkan kunci di dekat tubuhku.

“Kalau perlu apa-apa, pengurus rumah ini tinggal di seberang, hanya saja dia sekarang lumpuh, jadi kau bisa mencariku saja. Aku juga tinggal di sana.” Cengirannya melebar, kemudian ia berbalik menuju rumah di seberang. Baiklah, orang asing. Terima kasih.

Aku beringsut memungut kunci-kuci itu, mencoba membuka pintu kayu yang mulai lapuk. Udara pengap menyambutku. Jelas sekali pengurus rumah itu menjalankan tugasnya dengan baik. Debu-debu menggunung di perabotan yang tanpa penutup. Lampu-lampu menolak dinyalakan.

Sempurna untuk sebuah penebusan janji yang muram.

**

“Siapa perempuan itu, Bu?’

Suaraku tercekat, dan mata ibuku kembali memerah. Entah berapa lama ia tidak tidur. Kami, duduk berdekapan dalam gelap. Rumah ini terasa besar dan asing. Ia membawaku segera setelah kejutan musim panas yang ia rancang hancur berantakan. Faktanya adalah bukan ayah yang terkejut, melainkan kami yang hampir terkena serangan jantung.

Siang itu juga ibuku menyeretku, meninggalkan Scottie yang menyalak di belakang kereta kuda sewaan. Meninggalkan ayah yang terbungkus pelukan wanita bergaun hitam. Siang itu, kami menangis sendiri-sendiri.

Ibuku hanya menggelengkan kepala berulang-ulang.

“Kupikir hal itu tidak benar-benar nyata..” Suaranya bergema berulang-ulang.

“Seharusnya kita tidak pulang, Bu.” Bujukku lagi. Tangan mungilku membelai pipinya yang basah air mata.

“Kupikir, sebaiknya kita tetap berada di asrama. Ibu tidak perlu menjemputku, tidak perlu mengejutkan ayah.. kita bisa liburan di asrama..” Suaraku memelan, tangisnya yang meninggi.

Tercetak jelas di ingatanku pagi itu, ibuku berpamitan ingin menjengukku di asrama sekolah putri. Ia tidak menyampaikan pada ayah jika liburan tiba lebih awal. Ayah bilang ia rindu pada putrinya, maka ibu berencana akan mengejutkannya dengan membawaku pulang lebih awal. Dan kejutan itu benar-benar meledak di siang harinya. Ayahku.. entah sedang berdansa dengan setan dari mana.

**

Lukisan itu masih sama angker dan menakutkannya seperti yang tertanam di ingatan. Berlatar belakang gelap dan gambarnya berbentuk absurd yang tidak kuketahui. Piano itu juga masih sama megahnya seperti saat kami tinggalkan dulu, hanya tertutup debu-debu yang mengubah warnanya menjadi kelabu. Tengkukku meremang menyadari kedua belak kakiku berpijak.

Di lantai ini, dua puluh tahun yang lalu, sebuah kejadian aneh memisahkan aku dan ayah. Kejadian yang mengusikku seumur hidup.

“Bu, kenapa tidak kembali ke rumah saja? Aku benci kota besar.”

Ibuku menatapku di balik kedua manik matanya yang gelap. Tangannya yang sedang sibuk mengepak souvenir gerabah buatannya, mendadak kaku.

“Rumahmu di sini, Ann. Mau kemana lagi memangnya?” Ia menyahut tajam, kemudian melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

“Rumah kita, Bu. Di mana ada ayah, Scottie..”

Ibuku mendadak beranjak dan enggan memberi komentar. Di kedua matanya aku melihat lubang di hatinya masih menganga.

Aku ingat, aku pernah merongrong Phillip, kepala pembantu di rumah kami yang baru, yang kepalanya sudah dipenuhi dengan lembar-lembar uban itu untuk memberikanku alamat rumah yang pernah kutinggali. Hasilnya nihil. Phillip hanya terus menghindar, dan sekali aku pernah menangkap basahnya sedang membicarakan rumah ini dengan ibuku. Mereka berdua bertengkar. Ibuku benar-benar keras kepala untuk melarangku kembali ke sana.

Aku menyapukan jemariku dengan lembut ke tuts-tuts yang kembali mengkilap setelah kubersihkan seharian. Setelah bebas dari debu dan sarang laba-laba, serta lampu-lampu kembali bisa menyala, keadaan rumah menjadi sedikit lebih baik. Meski kudukku tak berhenti berdiri saat aku menyusuri sudut-sudut rumah yang menyimpan masa-masa kebersamaan kami sekeluarga.

Potret kami bertiga masih berada di tempatnya. Menggantung di ruang utama. Betapa tampan ayah di sana. Dan begitu hidup ibu kelihatannya. Sedangkan aku, terlihat tolol dalam gaun musim panas berwarna kuning terang, menggelayuti lengan ayah. Aku tersenyum sendu. Rindu hanyalah satu dari sekian banyak perasaan yang bisa kuterjemahkan saat melihat potret itu.

Secara magis, langkahku kembali terseret ke sudut di mana ada piano dan lukisan muram yang meggantung di atasnya. Aku kembali memainkan jemariku di ujung-ujung tutsnya. Jemariku bergerak tanpa kuperintah. Rasanya.. hanya bergerak secara natural.. Seperti kebutuhan untuk bernapas. Samar-samar gambar dalam lukisan itu berpusar, membentuk gambar baru yang kukenali. Perempuan berambut emas itu.

Aku tersungkur.

**

“Kalau jadi kau, tak akan kusentuh piano itu, Miss.” Ucap pria gempal itu saat aku menceritakan gambar di lukisan yang mendadak hidup. Dan aku senang ia datang mengantarkanku semangkuk sup buatannya, karena aku masih belum juga memasak atau memesan makanan. Setelah aku menyesap sendok yang pertama, kehangatan menjalari perutku.

“Piano itu, apa yang terjadi sebenarnya?”

Tuntutku setelah menghabiskan satu mangkuk penuh sup yang ia bawakan. Matanya tak lepas memandang piano yang letaknya di belakangku persis. Kami duduk bersila di lantai yang tanpa alas. Dapur dan ruang makan jelas masih harus kubersihkan esok hari.

“Entahlah, Miss..”

Ia tersadar sembari mengerjapkan mata, aku menjawil lengannya menyela kata-kata yang hendak meluncur dari bibirnya. Perhatiannya kembali kepadaku setelah pandanganya kosong ke arah piano. Ia menatapku dengan mata bulatnya yang polos seperti mata kanak-kanak. Giliranku yang terpaku menatapi senyumnya yang juga selalu ceria, seperti tidak ada satupun hal di dunia yang bisa merisaukannya.

“Panggil aku Ann.” Ujarku menginterupsi. Ia mengangguk, kemudian melanjutkan ucapannya.

“Entahlah, Ann. Selalu ada hal buruk jika piano itu dimainkan.” Jawabnya sambil mengedikkan bahu. Aku mengangguk. Perasaan kosong dan kebas saat memainkan piano itu begitu nyata tercetak di dalam kepalaku. Bagaimana jemariku bisa menari tanpa kutahu nadanya, dan lukisan yang mendadak berpusar membentuk gambar perempuan.. Aku bergidik.

“Apa yang membawamu kembali, Ann?”

Aku terkejut. Pria ini sudah mengenalku? Aku memandangnya sekali lagi, mengingat-ingat mungkin dia adalah salah satu teman bermain sebelum pindah ke asrama. Mungkin.

“Apa aku mengenalmu, Noah?” Aku bertanya sangsi. Ia hanya tergelak, kemudian mendadak muram. Tangannya dengan cekatan membersihkan sisa-sisa sup yang berleleran di lantai. Sup buatannya membuatku merindukan Phillip. Seharusnya kuajak dia ke sini.

“Tidak, Ann. Tapi aku mengenalmu. Dua puluh tahun lalu saat kau pergi bersama ibumu, aku yang mengejar Scottie dan merawatnya sampai ia mati. Seandainya aku bisa merawat ayahmu juga.. Sejak kejadian itu, ayahku yang ikut menyaksikannya secara tidak sengaja, karena kebetulan pagi itu ia juga hendak berkunjung, menjadi tidak bisa lagi menggerakkan kakinya. Ia terpukul hingga ke dalam jiwanya. Ia.. Tidak mau bicara apapun lagi sekarang. Ayahku adalah sahabat keluarga kalian, kami dulu tinggal dua blok dari sini..” Suaranya menggantung rendah, kedua bola matanya tampak suram seolah mengusir kejadian buruk yang mengendap di kepalanya.

“Noah, apa yang terjadi.. Pada ayahku setelah kami pergi?” Aku berbisik, lantai yang kami duduki mulai berputar. Kepalaku pening dibanjiri ingatan.

“Tidak ada yang terjadi. Setelah kalian pergi, pintunya menutup, lalu ayahmu tidak pernah keluar lagi. Beberapa hari kemudian ia ditemukan meninggal di bawah kursi pianonya. Kau mendengar kabar kematiannya bukan?”

Aku mengangguk dalam hati. Terpisah ratusan kilometer darinya, kabar kematian itu justru lantang berteriak. Meninggalkan bekas luka masing-masing satu. Satu di hatiku dan satu lagi melubangi hati ibuku, hingga tak bersisa apa-apa lagi di dalamnya. Hingga pada kematiannya beberapa saat lalu, kurasa ibu tak sepenuhnya bisa memaafkan dirinya sendiri karena memilih pergi.

“Kabarnya, lukisan dan pianonya itu terkutuk, Ann. Ayahmu membelinya dari penipu yang mencurinya dari rumah bangsawan di Kota Tua. Entahlah, Ann. Jangan dekati piano itu. Kubantu kau memindahkannya besok..”

Gumaman rendah suara Noah mendengung di kepalaku tanpa henti.

Lukisan. Piano. Terkutuk.

**

“Berjanjilah, berjanjilah kamu akan menemukan jalan kembali dan mengetahui apa yang terjadi.”

Ibuku berbisik tersengal-sengal. Napasnya pendek-pendek, dan setiap ia selesai berbicara, suaranya serak dan ia terbatuk-batuk darah. Radang paru-paru itu membunuhnya setelah sebuah peta usang ia selipkan di jemariku. Hanya Phillip tua yang menghiburku dengan lelucon kering, bahwa keinginanku untuk kembali akan segera terlaksana.

Bahkan sampai kuburnya, ibuku juga tidak tahu apa yang terjadi hari itu. Kekalutan membuatnya lari meninggalkan semua yang ada di dirinya di rumah, saat menemukan ayah siang itu. Mungkin ketakutan yang menutup matanya kala itu.

Ia memilih mengasingkan diri, sejauh mungkin. Lalu tujuh hari setelah pelarian kami, ayah meninggal. Membawa sebagian jiwa ibuku bersamanya. Sejak itu, aku kehilangan ibuku juga.

Ia berubah menjadi sosok asing yang pemuram, yang lebih suka menenggelamkan diri di antara gerabah-gerabah yang dengan telaten ia bentuk menjadi souvenir-souvenir yang menghidupi kami dengan layak.

Ia menolak kusentuh, menolak kudekati. Hanya beberapa kali kami terlibat komunikasi yang berarti. Kemudian penyakit paru-paru itu merenggutnya. Requiem kematiannya terdengar seperti lagu kematianku sendiri.

Dan di sinilah aku. Kembali untuk mencari jejak-jejak masa lalu yang bahkan tidak kumengerti.

**

Lukisan itu kembali ke bentuk-bentuk abstrak yang tidak kumengerti. Aku kembali menduduki kursi piano. Ragu-ragu menyentuh piano. Kemudian himne asing itu muncul kembali, aku mewujudkanya di melalui tuts-tuts yanb terasa lembut saat kutekan nadanya. Lukisan kembali berpusar, wanita berambut emas itu tersenyum, dan membentuk nyata.

Aku menarik jemariku. Tapi lagu itu masih berkumandang. Lamat-lamat aku mengenali nadanya. Lagu itu adalah nyanyian kematian. Requiem. Perempuan berambut emas itu menyeringai. Aku tersuruk di kakinya.

Jangan sentuh pianonya!!

Noah membelalak, di wajahnya bermain sekelumit horor. Aku masih berdansa dengan perempuan berambut emas, dan piano itu masih mengalunkan requiem.

Perempuan yang berdiam di dalam lukisan itu adalah malaikat yang memiliki kuasa untuk mencabut nyawa, piano itulah jalan kebangkitannya.

Hanya tinggal menghitung tujuh hari sebelum kabar kematian itu beredar..