Suatu Masa: Ketika Ellia bertemu Abiram

Ellia seakan ingin meledak dalam kumparan cahaya yang mengungkungnya. Di barisan semak lili merah jambu yang menari-nari, dadanya ingin meledak karena rasa senang yang muncul tanpa terduga-duga. Pagi tadi, saat ia memanen kuntum-kuntum embun di barisan para lili (bunga-bunga cantik merah jambu itu merona di bawah sentuhan tangan beledunya yang mungil), ia mendengar Sang Kenari bernyanyi:

Terselip di antara kabar angin,
Yang lama hilang akan kembali,
Rumah-rumah akan berseri,
Perapian dipenuhi nyala api,
Hangat hanya hangat yang mengusir sepi,
Tunas-tunas lalu bersemi,
Dia kembali.
Dia kembali.

Ellia sampai menjatuhkan keranjang embunnya yang berharga, embun itu sama berkhasiatnya dengan nektar para mawar, menghidupkan hidup yang beranjak layu karena matahari, mengembangkan sayap para peri, serta melukiskan pelangi di kulit-kulit pohon yang kisut.

Namun Ellia tidak peduli. Ia segera mengembangkan sayap yang menggantung lemas di bahunya, secepat kilat ia menuju petak matahari –sebentuk tanah yang diselimuti rumput berwarna ungu yang bermandikan matahari, di sana, tempatnya biasa berdiam, diam-diam merindukan peri yang lama tidak dilihatnya lagi. Peri yang lalu menghilang tanpa menyisakan kabar kecuali hanya berupa sepotong kisikan angin.

Aku pergi sementara saja.

Abiram.

Ia terbahak-bahak teringat buntut serupa buntut tikus yang menempel di tubuh Abiram. Cahaya matahari membuatnya sangat bersemangat. Bukan. Namun kabar dari Sang Kenari yang menyalakan hidup yang hampir lesap dari dalam dirinya.

*

Taman Para Peri. Begitu Abiram pernah menyebut hutan kecil tempat mereka tinggal, dan bersembunyi. Mereka adalah sekumpulan peri –kebanyakan dari mereka adalah peri pohon dan peri bunga, beberapa diantaranya  kelinci yang ternyata pesulap ulung, sekelompok marmut pencuri kenari, bergerombol-gerombol mawar pongah dengan duri berbisa, sebarisan lili merah muda tukang merona, sekumpulan pohon tua yang tidak mau menyebutkan nama, sepasukan belalang tanpa bulu mata, serta seekor burung kenari buta.

Abiram adalah Kepala Suku, para peri penari yang genit (peri-peri ini datang sesuka hati mereka, tinggal di kastil-kastil yang terletak di utara), menyebut Abiram adalah Maha Raja. Ellia terkikik-kikik geli saat peri-peri penari itu dengan genit mencolek-colek buntut Abiram dengan sikap menggoda. Abiram yang kehilangan kata-kata hanya menanggapi mereka dengan memberi mereka sekeranjang penuh nektar mawar yang mereka panen dengan susah payah. Peri-peri genit itu lalu pergi dengan mendaratkan kecupan masing-masing di pipi Abiram, dua kali untuk setiap peri.

Ellia sendiri adalah peri bunga biasa yang tidak memiliki keahlian apapun selain memanen embun dan membuat  lili-lili merah jambu menjadi lebih merona. Namun berkat keberanian Ellia di suatu pagi, saat melihat Abiram tersengat laba-laba raksasa yang entah berasal dari kutukan negeri yang mana, peri bunga itu mengisap racun itu sendiri melalui bibirnya. Akibatnya, Ellia kejang-kejang dan muntah-muntah lebih dari tiga putaran matahari. Abiram menaruh hormat tinggi-tinggi untuk itu.

Selain itu, Ellia adalah peri pemberani. Ia pernah mengusir sekumpulan lebah bodoh, menimpuki mereka dengan kotoran kelinci, saat kawanan itu memyerbu semak mawar pongah mereka yang berharga. Dan untuk itu, mawar-mawar berbisa telah berbaik hati memberikan nektar mereka tanpa menyengat Ellia sama sekali.

*

“Abiram, kau tidak penasaran?”

“Tentang apa?”

“Dunia.”

“Memangnya dunia kenapa?”

(Ellia melemparkan setangkup embun ke wajah Abiram yang terkaget-kaget hingga tak mampu menghindar. Sekumpulan peri bunga yang lain berdeham-deham.)

“Dunia kan tidak hanya di sini.”

“Aku tahu. Lalu kenapa?”

“Tidak inginkah kau melihatnya?”

(Abiram mencolek nektar dari toples kaca yang telah diisi penuh-penuh oleh Ellia, sebarisan belalang melolong protes –jangan sampai jatah kami berkurang karena kau licik menjilat duluan, Abiram!)

“Baik. Aku akan melihatnya. Dunia yang mana yang ingin kau ketahui?”

“Maksudku, aku ingin melihatnya!”

(Ellia gusar. Ia menutup toples dengan asal-asalan, lalu melemparkannya pada peri lainyang terlihat putus asa — peri itu telah bersusah payah memanen nektar sepanjang pagi, dan ia belum mendapatkan setetespun, para mawar meruncingkan duri-durinya yang berbisa.)

“Tidak bisa, Elli. Kalau kau pergi, siapa yang memanen nektar dan menjaga petak matahari? Bayi-bayi peri harus dibaringkan di sana setiap satu putaran matahari. Dan hanya kau yang bisa ke sana tanpa dilukai barisan semak mawar-mawar jahanam itu.”

(Ellia terdiam, ia tahu petak matahari dipagari barisan mawar karena kesakralan tempat itu. Namun ia baru sadar hanya ia yang bisa ke sana. Bahkan Abiram yang Kepala Suku pun akan tersengat dan mati jika terkena duri-duri itu.)

“dan, Elli, jika para bayi tidak dibaringkan di sana, mereka akan kisut. Layu. Seperti masa-masa gelap saat kita belum menemukan petak matahari. Hanya akan ada tangisan dan pemakaman. Semua berkabung. Semua beranjak tua. Mati.”

(Ellia mengangguk.)

“Biar aku yang pergi.”

Setelah percakapan pagi itu, Abiram menghilang. Tujuh putaran purnama penuh. Ia tak kunjung kembali. Taman Para Peri perlahan-lahan berkabung. Bagi mereka, sang Kepala Suku adalah jiwa yang menghidupi semangat mereka semua. Tanpa terkecuali.

*
Ellia menangkupkan sebentuk cawan kaca di antara bibir-bibir mawar yang merekah, rona pongah itu perlahan luruh, menetes di cangkirnya. Nektar-nektar madu berlelehan di dalamnya, berkilau-kilau penuh nyala hidup. Sejenak setelah kelopak-kelopak itu tertidur layu, Ellia menjentikkan embun di atas mereka, menjadikan kuntum-kuntum mati itu terlahir kembali. Ellia mengusap-usap mereka dengan lembut. Hatinya merasa sendu. Dua putaran matahari setelah Sang Kenari bernyanyi, Abiram belum kembali.

Elli beringsut ke maple tua yang batangnya mulai menghitam, menyembunyikan tangisnya di sana.

Lalu, dari balik bayang-bayang pohon-pohon yang terlihat berkilau-kilau karena mereka serentak tersenyum hormat, Abiram, tersenyum lebih cerah dari matahari.

“Aku tidak pergi dalam waktu yang terlalu lama, bukan?”

Di sepasang mata peri pohon yang sewarna tembaga itu, Ellia melihat: dunia.

Api

Ia melihat perempuan itu begitu saja. Bintang-bintang bergayut di ujung rambut sang perempuan saat ia mengibaskannya. Hanya merah yang memenuhi matanya. Merah yang hangat. Merah yang rekah. Merah yang damba.

Perempuan itu mengerling, sejenak. Menancapkan pandangan ke sepasang mata miliknya sendiri.

*
Ia teringat pada cerita usang yang didongengkan padanya saat matanya terbenam pada malam yang lelap. Pada malam yang pekat. Pada malam yang sembap. Karena pada malam yang sama, ia akan terbangun kembali, menggigil dingin saat udara menyengat panas, dan dari pipinya, bergurat-gurat air meleleh dari matanya.

Ia merasa perih yang entah. Seolah-olah sang mimpi sendiri yang membuatnya jeri. Ia tidak pernah ingat mimpinya. Namun di kepalanya selalu mendengung dongeng dari bibir keriput nenek buyutnya yang beraroma kayu lapuk.

Hati-hatilah pada nyalang api yang menjilat-jilat rongga di tubuhmu. Karena saat panas itu membakarmu dari dalam, dia akan datang.

Peri bergigi runcing dan berjubah api. Ia hanya akan mengabukanmu tanpa engkau bisa menyadari.

Hati-hati.

Sejak saat itu, hatinya diliputi panas yang menggeliat-geliat. Dan ia tidak berhenti mencari-cari peri berjubah api.

*

Ia pernah bertanya, suatu ketika. Kepada ibu yang memeluknya suatu malam saat ia terbangun dan kembali berteriak.

“Siapa peri bergigi runcing dan berjubah api itu? Apakah ia ada?”

Ibunya hanya tersenyum, lalu menjelaskan bahwa itu hanya dongeng sang nenek buyut untuk menakutinya. Sebab, menurut ibunya, setiap manusia selalu memiliki api di dalam dadanya. Itulah yang membuat mereka semua hidup, dan bersemangat. Ibunya menutup cerita dengan menarik selimut hingga batas dagunya.

Malam itu, ia kembali bermimpi. Kali itu, ia terbakar di pasungan yang dilalap api. Namun aneh, ia justru mencengkeram sang api. Di sudut matanya, sang peri mengerling, menatapnya dengan sepasang mata merah yang merekah. Menyala-nyala.

*

Ia memiliki api. Ia membakar apa saja. Ia menghanguskan manusia. Ia mengabukan laki-laki. Memanggang perempuan. Mengganyang yang bukan keduanya.

Api disungginya tinggi-tinggi. Kali itu ia tidak lagi bermimpi pekat yang membuatnya kalut, dan ia tak lagi menggigil di saat udara menyengat dengan sangat. Ia melupakan mimpi yang membuatnya jeri.

Ia memiliki api. Api di dada. Api di kepala. Api di selangkangan.

Ia berjengit menatap sebaris gigi runcing dan jubah api berpendar di pundak perempuan. Bintang-bintang berdenyar di ujung rambutnya. Perempuan itu mengerling dari balik cermin. Menatap wajah yang menatapnya balik dengan jengah.

Hati-hati dengan api yang nyalang yang membakarmu dari dalam,
Sebab saat api itu kau pelihara, ia akan datang
Peri bergigi runcing, bermata darah, dan berjubah api

Hati-hati dengan api,
Sebab ia akan menjelma engkau
Dan engkau adalah satu.

Penyampai Kabar Kematian

Rosemarie! Rosemarie!

Aku mendengar suara itu tajam, melengking dari balik jendela kayu melengkung yang menempel di dinding. Suara itu penuh jeritan marah dan kebencian yang dalam, namun kering seperti kertas tua yang rapuh. Aku melongokkan kepalaku ke arah sumber suara. Gelap. Tidak ada apa-apa di luar sana. Suara itu kembali berdesis, tajam. Kearahku. Rosemarie?
Aku bergegas ke kamar yang terletak berhadapan dengan kamarku, dan menemukan Rosemarie berbaring meringkuk dengan kedua tangan yang di dekapnya di dada. Wajahnya mengernyit kesakitan. Aku meraba keningnya yang ditutupi titik-titik peluh berkilauan. Panas. Aku menyelubungkan selimut ke tubuhnya, bergegas mengambil handuk untuk mengompresnya. Suara itu kembali berdesis dan kebencian terasa begitu kental di udara.

Rosemarie!
**

“Aku tidak percaya!” Suaraku melengking tinggi saat wanita tua yang bekerja sebagai juru masak di rumah ini, menceritakan sebuah takhayul yang berhubungan dengan kejadian semalam.
Rosemarie tampak tertidur pulas setelah dokter dari kota menyuntikkan sesuatu padanya. Demam malaria, adalah dugaan sementara dari penyakit yang di derita Rosemarie. Sementara itu, Sarah, sang juru masak, menggumamkan cerita-cerita mistik atas suara-suara yang kudengar semalam.
“Dulu, Tuan Lionel Tua pernah mendengar suara semacam itu, Tuan. Dan beberapa hari kemudian, Lady Rachel, ibumu meninggal karena melahirkan Rosemarie. Saat itu umurmu 5 tahun, dan mungkin kau tidak menyadari suara-suara itu. Banshee, sang arwah penyampai pesan kematian yang meratap semalam. Pada saat mejelang kematian Tuan Lionel Tua, Tuan juga mendengar ratapan yang memanggil-manggil beliau kan?”

“Oh, Tuanku.. Lionel.. Tuanku..”
Suara itu berasal dari balik jendela lengkung kayu yang membatasi dinding batu dengan taman mawar di luar. Suara itu begitu pedih, terluka, dan sarat kepedihan. Aku menajamkan telinga, melihat orang-orang di sekitarku tidak bereaksi atas suara yang kudengar.
“Mungkin aku berhalusinasi.” Aku mendengar suaraku sendiri berulang-ulang di dalam kepalaku. Di ranjang besar di ruang utama, ayahku menggigil meskipun pemanas telah dinyalakan, dan berlembar-lembar selimut telah di selubungkan ke tubuhnya. Saudara perempuanku, Rosemarie yang masih berusia 7 tahun ketakutan, matanya melebar menatap ke arahku.
“Kau mendengarnya, Lionel? Kau mendengar suara yang menyeramkan itu?” Bisiknya, merapatkan tubuhya ke arahku. Suasana begitu hening dan menakutkan, yang terdengar haya deru napas ayahku yag tersengal-sengal, melemah, kemudian tersengal-sengal lagi. Lalu tidak ada deru napas. Yang ada hanya suara terkesiap para pengasuh dan beberapa pelayan yang mengerubungi ranjang utama. Sang dokter yang juga sahabat ayah menitikkan air mata di ujung matanya. Aku memeluk Rosemarie, dan berusaha mengenyahkan suara-suara yang terus meratap-ratap memanggil ayahku.

“Kenapa hanya aku dan Rosemarie yang bisa mendengarnya?” Tanyaku, setengah tersentak dari kenangan yang membanjir. Aku melayangkan pandangan cemas pada Rosemarie yang kembali mengerang kesakitan. Sarah meletakkan kedua jemarinya yang keriput di pundakku, memandangku dengan mata birunya yang teduh.
“Karena hanya dengan keturunan Lionel-lah, Banshee itu mengabdi.” Jawabnya lembut, seraya berbalik memunggungiku untuk mengompres Rosemarie yang terus menggigil dan mengerang kesakitan. Aku merasakan bulu-bulu halus di tengkukku meremang, saat mendengar suara jeritan yang kering dan sarat kebencian itu kembali bergaung, meneriakkan nama Rosemarie. Aku menggenggam tangan Rosemarie, sesuatu yang janggal telah terjadi.
Ia meratap dengan kebencian, bukan ratapan kehilangan dan memuja seperti saat ayah sekarat dulu.

**

“Mungkin ia bukan penyampai pesan kematian. Tapi yang memanggil kematian itu sendiri.” Suaraku parau, serak dan kering. Tujuh hari aku mendengar jeritan yang meneriakkan nama Rosemarie, dan di pagi saat suara itu menghilang, Rosemarie meninggal. Gejala yang sama, demam yang sama seperti ayah. Wabah malaria. Berulang-ulang dokter menjelaskan penyebab kematian Rosemarie, dan aku tidak percaya. Setan wanita yang menjerit itulah yang menyebabkan semuanya.
“Rosemarie yang malang..” Sarah menahan isakannya di depan peti jenazah Rosemarie, wajahnya kuyu, dan ia mengusap-usap punggungku dengan tangannya. “Setan wanita, banshee ini, siapa dia sebenarnya?” Suaraku menggantung di udara saat aku mendengar jeritan yang sama.

“Lionel! Lionel!”

Darahku berdesir membeku, suara kebencian yang sama, kegetiran yang sama menakutkannya seperti saat ia memanggil Rosemarie.
“Giliranku, Sarah.” Aku berbisik, kemudian mengecup Rosemarie untuk terakhir kali. Pendeta mulai mengurapinya dengan dupa, dan requiem mulai melantun di ruangan. Beberapa tetangga dan jemaat gereja tampak membuat tanda salib dan mulai berdoa. Suara itu kembali terdengar meneriakkan namaku, sayup-sayup, menakutkan.
“Tidak mungkin, Tuan! Dia memanggil nama anda? Oh Tuhan!” Sarah menangkupkan kedua tangannya ke bibir dengan sangat terpukul. Aku menepuk-nepuk pundaknya. “Tidak, Sarah, kali ini aku tidak akan kalah.” Aku menatap mata bundar Sarah yang berkilau-kilau karena air mata. Suara banshee itu masih menjerit-jerit memanggil namaku.
**
Malam kedua aku mendengar suara-suara menjerit itu, kemudian secara mendadak merasa muak. Suara itu masih sama, sarat kebencian dan menjerit-jerit meneriakkan namaku berulang-ulang. Aku mulai meyusuri taman mawar di bawah lengkung jendela kayu. Sesosok wanita dengan rambut perak dan mata berkilauan memandangku garang di ujung taman.
“Kau pembunuh.” Celaku, gelombang ketakutan menyusupiku perlahan-lahan. Sosok itu berdenyar-denyar keperakan dan mengambang mendekatiku.

“Lionel!”

Kebencian merobek udara malam yang pekat dan dingin, dalam gelombang suaranya yang bergema.

“Kau. Siapa?” Tuntutku,mengabaikan insting berlari dan meyelamatkan diri. Sesuatu terasa bergolak di dadaku, dingin dan panas yang merayap bergantian. Wanita itu tersenyum keji, menabrakku dengan kepulan kabut keperakan. Aku mendengar jeritannya saat kurasakan tubuhku berpusar-pusar di tengah kumparan kabut perak.

Udara sarat dendam yang menggantung di sisi-sisi angin

**

Wanita itu bernama Mauveen. Sangat cantik. Berkulit pucat dan berambut oranye terang. Matanya hitam bagikan kedalaman danau yang tenang saat malam. Mata itu berseri-seri saat sepasang jemari bertaut di atas jemarinya. Sepasang cincin perak melingkar di jemari keduanya. Aku menengadah menatap pasangannya, dan terkesiap.
Lionel.
Ayah.
Tubuhnya tegap dan atletis. Berkulit sawo matang dan rambut legam acak-acakan. Hidungnya menjulang di antara kedua matanya yang menjorok ke dalam. Mata itu kelabu, yang diwariskan kepadaku dan Rosemarie. Aku mengernyit, melihat kedua tangan mereka yang saling merengkuh. Mauveen berpendar perak, kabut magis menyelubungi mereka berdua saat Lionel menyapukan kecupan padanya.
Mendadak gumpalan kabut itu pecah, Mauveen berubah menjadi sosok wanita seram yang kutemui di halaman.

Pengkhianatan

Ia melolong, merobek kesadaranku hingga aku terjerembab. Sesuatu membentur kepalaku.

**
Sarah mengompresku dengan air hangat, tangan keriputnya mengusap dahiku dengan lembut. Ia menggumamkan sejumlah doa-doa dalam bahasa kuno yang tidak kumengerti. Aku menatap mata tuanya yang tampak letih, dan bibirnya yang berkeriput di sudut-sudutnya terus menerus menggumam lirih. Ia melakukan semacam pemberkatan dengan memegangi keningku. Sesuatu merayapi diriku dari kepala hingga ujung kaki. Hangat.
“Sarah..” Ia menatapku dengan teduh, aku bergerak-gerak tidak nyaman di kasur.
“Semalam aku..” Ia berdiri mendadak, membuatku terlonjak. Ia tampak bimbang sejenak, kemudian kembali bersimpuh di kasur, sebelah tangannya terulur untuk memeriksa luka di kepalaku. Kehangatan itu kembali menyebar.
“Aku tahu, kau bertemu Mauveen semalam.” Sarah menyahut parau. Ia mengucapkan nama Mauveen dengan penuh kebencian.
“Siapa Mauveen? Kau menyebutnya banshee saat menceritakan kisah-kisah seram itu padaku.” Jawabku penuh rasa ingin tahu.
“Ceritakan apa yang kau tahu, Sarah.” Ucapku tegas saat juru masak tua itu memancarkan keraguan dari kedua bola mata letihnya. Ia menghela napas, seolah ada seribu ton beban yang menggunung di benaknya.
“Sejak dahulu aku tidak pernah mempercayai hal ini.” Tukasnya lirih. Aku mengejang kaku, menunggu cerita yang melekat di ingatannya lebih dari tiga puluh tahun yang lalu.
“Aku bekerja di sini menggantikan juru masak terdahulu yang sudah sangat tua. Bernama Lyla. Lyla sangat percaya hal-hal yang berbau supranatural. Ia mengajariku mantra-mantra yang rumit dan membuatku berjanji untuk menghapalnya. Saat itu aku hanya berjanji dan tidak pernah tahu, kapankah aku akan menggunakannya.”
Sarah menegakkan bahunya yang lunglai, sorot kepedihan terpilin di wajah tuanya.
“Lionel separuh hantu, kau tahu.”
Aku bergidik. Berarti aku juga separuh hantu.
“Ayah Lionel memiliki semacam arwah yang bertindak sebagai penyampai kabar kematian. Mauveen. Sang banshee.”
“Darimana kakek memilikinya?” Aku beringsut, berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir.
“Entahlah. Sepertinya ia mewarisinya. Saat belum genap lima belas tahun, Lionel jatuh sakit. Persis seperti Rosemarie. Demam tinggi. Tidak sadarkan diri. Kakekmu yang saat itu seorang diri membesarkan Lionel, tidak sampai hati melihat putranya sekarat. Dan dengan Mauveen memanggi namanya setiap malam, kakekmu tahu, Lionel tidak akan berumur panjang.”
Aku menunggu setiap kata yang meluncur dari bibir Sarah. Lebih menyerupai dongeng dibandingkan sejarah.
“Singkat cerita, kakekmu mendatangi Mauveen. Sebuah pelanggaran, seharusnya Mauveen tidak boleh ditemui. Karena ia adalah arwah, dan ia diam-diam tengah memuja ayahmu. Saat kakekmu bertanya pada Mauveen, kenapa kematian begitu cepat hendak mendatangi Lionel, Mauveen menyeringai dan mengatakan, bahwa ia meminta kepada kematian itu sendiri untuk segera menjemput Lionel.”
Darah surut dari wajah Sarah, ia sepucat tulang sekarang. Bisa kulihat, ia sama berjuangnya denganku, untuk tidak mempercayai cerita-cerita hantu.
“Kakekmu memohon, dan Mauveen iba. Bagaimanapun kakekmu adalah tuannya, tempatnya mengabdi. Mauveen meluluskan permintaan kakekmu, tapi tetap meminta Lionel menjadi miliknya. Maka, dengan segala kekuatan arwah –terkutuklah ia- Lionel sembuh. Namun separuh jiwanya adalah milik Mauveen.”
“Lyla yang mengetahui hal itu, tidak mau hal itu terjadi. Maka, ia menempa sendiri sepasang cincin perak yang telah ia mantrai, dan memberikannya pada kakekmu. Lyla mengatakan, Lionel dan pasangannya kelak harus terus mengenakan cincin itu agar terhindar dari Mauveen.”
“Tapi, Mauveen bukanlah iblis yang bodoh. Ia telah terjerat dengan kehidupan manusiawi. Ia melihat sendiri bagaimana Lionel dilahirkan dan ibunya meninggal saat melahirkannya. Dan bagaimana kakekmu mengasihi Lionel dengan segenap hidupnya. Sesungguhnya ia merasa terluka, dan terbuang. Kakekmu tidak punya siapa-siapa untuk dikabari tentang kematian keluarganya, dan itu membuat Mauveen terabai, hampir menguap hilang.”
Aku menyesap cangkir teh yang telah lama dingin, mencerna setiap informasi yang Sarah beberkan.
“Mauveen mengelabui ayah dengan menjelma gadis yang menaklukkan hatinya.” Aku melanjutkan cerita Sarah. Ia mengangguk.
“Ayahmu memberikan cincin itu kepada Mauveen, ia juga mengenakannya sendiri. Tidak terbayangkan betapa terkejutnya Lyla dan kakekmu saat ayahmu mengenalkan Mauveen kepada mereka berdua. Untuk kau tahu, posisi Lyla saat itu kurang lebih sama denganku, kami sangat dekat dengan keluarga kalian.”
Aku mengangguk. Ayah pernah menceritakan tentang Lyla sekilas, dan membandingkannya dengan Sarah. Menurutnya, mereka berdua sama-sama kuno.
“Lyla, memperingati kakekmu, yang ternyata juga telah menyadari bahwa banshee yang seharusnya mengabdi padanya, telah mencoba merenggut kehidupan putranya. Maka, mereka berdua mengutuk Mauveen dengan mantra-mantra kuno yang sama yang kugumamkan tadi untukmu.”
“Berhasil?” Pancingku.
“Sementara, iya. Mauveen menghilang. Kepedihan ayahmu tak tertahankan, ia juga jatuh cinta – setidaknya ia merasa begitu. Kemudian, ibumu memasuki dunia ayahmu. Ibumu periang dan baik hati. Segala berkat malaikat terpancar dari tubuhnya. Ia yatim piatu, kakekmu yang merawatnya, ia keponakan jauh dari Lyla.”
Sarah tersenyum muram. Aku tercekat, darah berdesir cepat di nadiku. Dongeng yang menakjubkan. Sekaligus mengerikan.
“Akhirnya mereka menikah, setahun setelah kau lahir, kakekmu sakit parah, dan aku yang saat itu mulai bekerja bersama Lyla, mulai mendengar Mauveen mendengkingkan nama kakekmu di udara. Mimpi buruk itu kembali.”
Aku membayangkan atmosfer rumah saat itu pastilah sarat mistis. Bola-bola keperakan menyebar, memenuhi rumah dengan gaung suara Mauveen di mana-mana. Ayah yang merana mendengar ratapan cinta pertamanya.. Ibu yang meringkuk ketakutan karena tidak mengerti, Lyla serta Sarah yang membelalak ngeri..
“Lalu setelah beberapa lama, setan itu menghilang, dan rumah ini menemukan keceriannya lagi. Lyla semakin tua dan terus mengajariku beberapa mantra, aku merasa berbeda dan takut karenanya. Aku tidak bisa menjaga kalian sebaik Lyla.”
Ia mengusap-usap punggung tangannya yang mulai renta, butir-butir bening air mata mulai melelehi pipinya.
“Kemudian Rosemarie lahir, mewarisi kecantikan dan kebaikan hati ibunya. Saat itulah Mauveen kembali. Ia menjerit memanggil nama ibumu tanpa henti. Dan meninggallah ia.”
Aku berjengit, kebencian meledak di sekujur tubuhku.
“Mauveen ini bukan penyampai kabar kematian. Ia memanggil nama yang ia inginkan untuk mati.”
Semburku tajam. Sarah mengangguk lunglai.
Dongeng ini akan kuakhiri.
**
Aku tertidur dengan sangat gelisah. Berkali-kali terbangun dan menemukan mata perak itu mengawasiku di balik jendela. Bibirnya berkedut-kedut dan sedetik kemudian ia melolong, namaku menggema di udara. Aku melompat, menerjang jendela. Luka di kepalaku kembali melebar. Kepulan kabut itu terburai di tempatnya, namun terbentuk lagi sedetik kemudian.
“Pergilah sejauh mungkin ke neraka!”
Aku mengutuk iblis perempuan yang menatapku dengan matanya yang tak henti-henti berdenyar perak. Ia menabrakku, membuatku limbung…
“Pengkhianatan kalian membuatku menjadi pengkhianat”
Suaranya ringan seperti genta angin.
“Kakekmu hampir mengubahku jadi abu karena tidak berfungsi. Mengabaikanku. Dan membuatku merana karena putranya yang bermata jernih selalu mengawasiku. Aku hanya jatuh cinta, dan itu membuatku terkutuk selamanya..”
“Kenapa kau menunggu selama ini untuk membalas sakit hatimu?” tantangku. Ia menyeringai.
“Waktu bukanlah masalah buatmu.”
Aku menarik kesimpulanku sendiri.
“Karena aku menunggu usiamu sama seperti usia ayahmu saat jatuh hati padaku. Kau milikku.”
Aku mendadak mengerti, Rosemarie hanya sebagai sebuah peringatan. Teror ini akan ku akhiri.
“Dalam mimpimu yang paling liar sekalipun, kau tidak akan pernah memiliki kami”
Aku melompat menerjangnya, ia berpusar membentuk kabut. Ia menginginkan jiwaku untuknya, aku tidak akan memberikannya. Di seberang aku melihat tiga cahaya keemasan berpendar di atas sebuah jembatan. Air terlihat dalam dan mematikan, kabut perak itu mulai mencengkeram kakiku, aku melihat salah satu dari pendar emas itu mengulurkan tangannya, tanpa berpikir aku menyeberang. Dadaku hangat meemukan Rosemarie di rengkuhanku.
Selamat datang..

Banshee itu masih meratap memanggil namaku..

Gadis Penjual Korek Api

Hari ini korek apiku masih belum terjual satupun. Aku tak berani pulang, ayah pasti memarahiku. Aku melewati sebuah rumah yang terang benderang dan ramai. Aku mengintip apa yang terjadi di dalamnya. Rupanya ada pesta ulang tahun, sekaligus merayakan malam Natal. Waktu ibuku ada, aku juga selalu merayakan pesta ulang tahun. Sudah lama ibuku meninggal karena sakit. Aku terduduk di sebuah dinding batu di ujung jalan. Dingin sekali, aku juga sangat lapar. Sudah dua hari ini aku tidak diberi makan oleh ayahku, karena aku belum berhasil menjual korek api. Kunyalakan sebatang korek apiku, berharap mendapat sedikit kehangatan dari apinya. Api berpendar-pendar dalam genggamanku, aku melihat sebuah ayam panggang tersaji di hadapanku, belum sempat kusentuh, ayam itu menghilang seiring apiku yang mulai padam. Aku harus membuat sebuah api yang besar, pikirku. Agar aku bisa menyentuh dan memakan ayam tadi, aku sungguh lapar. Aku mulai mengumpulkan ranting-ranting cemara di sekitarku, kunyalakan lagi korekku, berhasil! Aku kembali melihat ayam panggang berukuran besar. Aku mencoba meraihnya, namun kotak ayam itu berontak! Dia meronta-ronta dalam genggamanku. Ini aneh sekali, ayam panggang ini bisa bergerak! Kurasakan panas api membakar tanganku. Aku melepaskan kotak ayam itu. Mendadak, apiku padam, dan dihadapanku ada sosok wanita berambut hitam, terkapar di dalam api. Bau daging terbakar menguar dari tubuhnya. Aku menggigil, lalu pingsan karena lapar dan ketakutan. ** Aku melihat sesosok gadis kecil berusia 10 tahun menjajakan korek apinya dari satu orang ke orang lain. Gadis itu sangat kurus, bola matanya menonjol keluar. Dia mengenakan sepatu bots yang sudah usang, dan mantel yang bertambal di sana-sini. Aku ingin memberinya kotak makananku yang belum kusentuh siang ini. Pekerjaanku terlalu menyita waktuku sampai aku tak sempat makan. “Hei, ini makanlah. Aku punya makanan untukmu” ujarku pada gadis kecil itu. Aneh, gadis itu mengacuhkan kotak makan yang kusodorkan padanya. Matanya bersinar-sinar memandang api yang menyala di batang korek api yang di genggamnya. Aku mengguncang bahu anak itu perlahan, angin bertiup memadamkan api di tangan gadis itu. Gadis itu terlihat kecewa, lalu beranjak mencari ranting-ranting cemara. Sepertinya dia begitu kedinginan, dan bermaksud membuat api. Aku memutuskan menungguinya. Gadis kecil itu berhasil membuat api unggung yang lumayan besar. Panasnya mampu menghangatkan badanku yang membeku seharian ini, karena salju turun begitu lebat. Aku berdiri di hadapannya, api berkobar diantara badan kami. Gadis itu kembali menatap api dengan wajah yang ceria. Aku kembali menyorongkan kotak makanku padanya. Kujulurkan tanganku di melewati ujung api ke arahnya. Gadis itu masih bergeming, namun sepertinya dia melihat kotak makanku. Aku tersenyum “ini, makanlah..” Entah apa yang terjadi, sepertinya gadis itu menarik tanganku terlalu keras, aku tergelincir dan menghantam api di hadapanku. Aku hanya mampu menjerit, kulihat sekilas orang-orang ikut menjerit dan berhamburan datang mengelilingi api yang menjilati badanku dengan garang.