Ashoka dan Api yang Membakar Kepalanya

Perempuan itu memiliki rambut sewarna api, api paling membara bagi siapa saja yang telah meilhatnya. Api yang bisa menyulut hasrat paling dalam di dada manusia. Laki-laki. Perempuan. Bahkan yang berada di antaranya. Atau, yang bukan sama sekali di antara keduanya.
Perempuan itu membiarkan saja mahkota yang disungginya itu basah, mengkilat, dan terasa memanggil, terus menari-nari. Dan makhluk lain yang melihatnya akan menelan hasrat mereka yang mendadak membuncah, lalu tergesa-gesa untuk memadamkan gairah yang mendadak rekah. Susah payah mereka meredamnya. Karena, apa yang dibangkitkan api di dalam rambut perempuan itu adalah keinginan sejati mereka yang menapakkan kaki di dunia.
Ia meliukkan tubuhnya, bahunya berguncang seiring kakinya menapak langkah, ia membawa serta kunci yang bergemerincing di lengannya. Perempuan ini memiliki bahu melengkung khas perempuan yang tidak pernah berlatih beban. Tubuhnya kurus dengan tulang-tulang selangka yang menonjol. Sepasang matanya berbinar-binar meskipun ia tidak pernah mengerti kenapa mata itu terus berbinar, sementara api di hidupnya sudah padam, bahkan sebelum sempat bara itu menggeliat.
BUKA
Ia membalik tulisan yang telah lusuh dan coreng-moreng di dinding luar loket berwarna biru yang anak-anak kuncinya bergemerincing di lengannya. Orang-orang mulai mengedip padanya, berjejalan, berdesak-desakan, beringsut menuju ia yang kini duduk di ruangan loket yang sarat aroma besi dan tembakau. Panas. Panas sekali di dalam sini. Ia ingin mengikat api yang berkibar di rambutnya. Namun ia sedang sangat ingin bercumbu dengan sesuatu. Seseorang. Beberapa orang. Siapa saja.
Perlahan, ia menyulut rokok lintingan yang selalu terselip di telinganya.
“Lima ribu satu orang.”
Suara perempuan ini dalam dan serak. Sesekali ia terbatuk, namun asap masih zaja mengepul dari balik bibirnya.
“Anak-anak juga lima ribu. Sama.”
Keringat menetes di tengkuknya. Asap memenuhi pandangannya. Orang-orang masih berdesakan. Berjubel-jubel di hadapannya. Hari pertama sirkus itu buka di Kerta Maya. Hari pertama pula ia menjual sesuatu selain tubuhnya.
*
“Berapa?”
Hari sudah terlanjur jauh menuju larut, namun laki-laki di depannya masih terlihat rapi, dan aroma parfum segar tercium dari badannya yang atletis. Perempuan itu memain-mainkan ujung rambutnya. Memilinnya. Memuntirnya. Ada yang bergejolak di dirinya. Hasratnya membuncah. Hasrat yang mulai padam akibat keringat dan asap yang membelit tubuhnya seperti jaring laba-laba itu menggelegak, meletup-letup menuntut puas hingga tuntas.
“Lima ribu, tuan. Tapi hari sudah jauh malam. Sebentar lagi Gigir Perigi tutup.”
Laki-laki itu tersenyum, anehnya, terlihat begitu cemerlang di matanya.
“Ambil saja kembaliannya.”
Laki-laki itu berlalu.
Perempuan penjual karcis itu menggaruk pipinya. Tiga bekas luka melintang dari mata menuju dagunya, terasa gatal.
Siapa laki-laki itu?
Malam itu ia dipenuhi oleh hasrat yang terasa melimpah-limpah. Rambutnya basah oleh gairah. Jam di sakunya menunjukkan angka sebelas. Ada angin yang menggelitik tubuhnya, ia mengancingkan kemeja flanel merah yang dikenakannya. O, betapa ia ingin rapat. Betapa ingin ia hangat. Hari itu ia menggerai rambutnya, namun tidak seperti biasanya, di mana banyak mata yang melempar ingin ke dadanya, di mana banyak desah yang ingin mampir ke telinganya, hari itu tidak. Tidak ada yang meliriknya meski ia mengibarkan rambutnya yang sewarna api. Tidak ada yang menginginkannya sebesar ia menginginkan mereka semua. Hanya ada laki-laki terakhir yang membeli tiketnya.
Ia teringat sebelum malam itu, ia bermimpi, ia telah bercumbu dengan seekor singa. Tubuh binatang itu liat di dalam dekapannya. Geraman buas yang menyeruak dari dalam dada hewan itu membuatnya menggeliat, membuatnya melenguh menderu-deru. Ia bermimpi cakar itu merobeki tubuhnya, dan dengan senang hati ia menyerahkan tubuh telanjangnya. Ketika taring sang Raja terbenam ke dalam kulitnya, ia terbangun, tersengal-sengal, lalu air mata memenuhi wajahnya. Tidak ada singa. Tidak ada laki-laki. Tidak ada wanita di sisinya. Tidak ada yang di antara keduanya. Ia hanya merasa merana.
*
“Kau terlihat kacau, Non.”
Laki-laki itu datang lagi saat perempuan itu hendak mengunci bilik loketnya. Bersetelan rapi dan gaya. Menguarkan aroma yang membuatnya terpana. Mendadak ada yang menyala-nyala di dalam dirinya, padahal ia mengira bara di dalamnya sudah mati. Mati sejak tiga luka tertoreh di pipinya yang dulunya pualam. Mati sejak ia harus berpindah-pindah menghindari razia petugas moral. Ia hanya punya tubuh yang indah. Maka ia menjualnya.
Petugas-petugas itu beberapa pelanggannya. Mereka yang mengisikinya untuk segera pindah jika ia berdiam terlalu lama. Ia berpindah. Melompat dari satu sarang ke sarang lain. Sampai ia lelah, lalu menyerah. Perempuan itu lantas mendatangi rombongan pasar malam yang hendak membuka acara mereka. Mengemis kepada pemiliknya. Lagi-lagi ia bersiap harus menjual tubuhnya, namun, pemilik pasar malam itu berbudi. Laki-laki itu memberinya tumpangan, memberinya makan, memberinya atap untuk berlindung. Syaratnya, perempuan itu harus bekerja padanya. Menjual karcis saja. Jangan menjual yang lainnya. Perempuan itu patuh.
Ia tidak lagi menjual tubuhnya. Ia berhubungan dengan siapa saja yang ingin bercumbu dengannya. Tanpa harga.
“Non.”
Laki-laki itu masih di sana. Entah berapa lama benaknya berkelana. Melupakan laki-laki yang kedatangannya terlalu larut untuk bercengkrama.
“Sebentar lagi kami tutup, tuan.”
Dari kejauhan perempuan itu melihat lampu bianglala tak lagi menyala, sementara tenda-tenda mulai meredupkan cahayanya. Para pekerja mulai terlihat hilir mudik membongkari wahana. Kuda-kuda karusel terlihat muram tanpa penunggangnya, temaram cahaya membuat catnya yang mulai terkelupas berubah bersepuh kelam serupa malam.
Laki-laki itu mengulurkan rokoknya, rokok putih mint khas kaum borjuis. Perempuan itu menggeleng, ia lantas memantik api pada lintingan yang telah dikepitnya di antara telunjuk dan jari tengah.
“Sudah ada.”
Laki-laki itu megernyit memandangnya.
“Tembakau saja?”
Perempuan itu tertawa.
“Ditambah sejumput daun dari surga untuk sekeping tawa, tuan. Mau mencoba?”
Laki-laki itu tersenyum, mendekatkan wajahnya ke arah perempuan, melekatkan tubuhnya di box besi yang berfungsi sebagai loket. Mereka saling memandang, hanya terhalang sekat kaca. Hanya ada lubang setengah bundar tempat perempuan itu biasa mengangsurkan karcis kepada pembelinya.
“Sudah mau tutup, Non. Jalan denganku, sebentar?”
Perempuan itu melayang di sisi sang laki-laki. Malam itu bulan bundar sempurna.
*
Malam itu bulan bundar sempurna, tapi laki-laki itu hanya menyisakan satu pertanyaan yang menari di kepalanya.p
“Kamu mau itu, Non?”
“Itu?”
“Lebih baik dari lintingan ganjamu.”
Perempuan itu melepas kemejanya, beberapa pekerja yang masih sibuk hilir mudik membongkari wahana membelalak ke arah sepasang buah ranum yang menggantung di dadanya.
“Aku mau, ini.”
Perempuan itu menuntun lelaki itu menelusup tubuhnya, menekannya di tempat ia ingin disentuh, dan betapa herannya ia saat lelaki itu justru menepiskan tangannya.
“Bukan itu, Non. Ini, ambillah.”
Laki-laki itu memberinya sebungkus sesuatu. Ia bisa menghirupnya dan terbang sesudahnya. Terbang. Tanpa kendali.
Perempuan itu memungut kemejanya, lalu berlari menuju tenda tempat ia biasa rebah dan memejam mata. Ada yang retak di kedalaman dirinya. Ia belum pernah ditolak sebelumnya.
*.
“Bagaimana, non? Mau itu?”
Laki-laki itu ternyata mengejarnya. Berdiri di luar tenda dengan tangan terlipat di dada, dan kemeja yang digulung hingga siku.
“Tuan tahu betul apa yang saya mau.”
Laki-laki itu berlalu. Perempuan itu mengejarnya.
“Ya, Tuan. Kenapa bahkan tidak bertanya siapa nama saya?”
“Tidak perlu, semakin sedikit saling mengenal, semakin baik, Non. Mau berapa?”
“Saya cuma punya tubuh saya, tuan. Dan saya sudah punya ganja.”
“Ambil saja. Cuma-cuma.”
Laki-laki itu melempar bungkusan yang isinya bisa membuat perempuan itu gila. Atau bahagia.
Perempuan itu ternganga.
“Nama saya Shoka, tuan!”
Laki-laki itu hanya melambai dari kejauhan. Punggungnya menjauh, malam yang rakus dan penuh rahasia menelannya perlahan-lahan hingga hanya jejak kakinya yang tersisa.
Perempuan itu terduduk. Ada yang menyerbu kepalanya. Ada panas yang terasa membakar dirinya. Menggenangkan air mata hingga tumpauh, meruah mengaliri eajahnya.
Pernah ada perempuan lain dengan cakar besi menindih badannya, memaksa mencicip buah molek yang baru tumbuh di dadanya. Merobek-robek kembang yang baru saja mekar di selangkangannya. Rakus. Rakus. Ia menangis, menjerit melawan sekuat tenaga. Namun cakar itu lebih kuat. Dan tajam. Dan mencabik wajahnya. Menyisakan luka codet tiga baris dari pipi menuju ke bibirnya. Ia hina. Ia terhina. Ia lalu lari, sejauh-jauhnya dari perempuan bercakar besi yang menetap di tempat yang dulunya ia tinggali bersama kakak lelakinya yang lembut. Dan penyayang. Dan beristri perempuan dengan cakar besi di tangannya. Dari situ ia belajar, tubuhnya adalah harta yang berharga karena perempuan itu bahkan ingin menjarahnya.
Dari situ ia belajar menggunakan tubuhnya. Menjumput api dan menaruhnya di rambutnya. Menyulut hasrat siapa saja yang memandangnya. Dengan itu, ia memiliki dunia.
Perempuan itu tergugu, sebungkus penawar telah tergeletak di samping kakinya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak berharga, dan ia terlalu jauh, terlalu jauh ia telah terluka… .

Negeri Oranye

Aku menemukannya dengan tidak sengaja. Almanak itu tergeletak dengan debu yang menutupi permukaan sampulnya yabg terbuat dari kulit berwarna cokelat yang terlihat lusuh, bahkan ujung-ujungnya bolong-bolong, pertanda telah termakan ngengat. Sepertinya ia tergolek bisu di dalam laci ketiga lemari tua peninggalan Mama ini sudah cukup lama. Lama sekali, barangkali. Sejak almarhumah dikebumikan  bertahun yang lalu, aku tidak pernah menjamah kamar beliau. Aku membiarkan kamarnya menjadi museum yang tidak pernah terjamah. Bahkan aku tidak pernah memasukinya sekedar untuk membuka jendelanya. Namun, hari ini terpaksa aku harus membersihkan kamarnya yang terasa angker, karena begitu gelap, pengap, dan dipenuhi debu serta sarang laba-laba akibat bertahun-tahun dalam pembiaran
Begitupun bertahun sebelumnya saat beliau masih bugar, dan bukan merupakan mayat perempuan yang kisut dengan bibir yang tertekuk ke bagian bawah. Astaga, bahkan saat mangkat pun beliau masih terlihat begitu pemarah.

Namun, sepuluh tahun kemudian setelah beliau wafat, aku membuka kenop pintu yang terasa dingin di tanganku. Menyalakan lampu, dan terhenyak. Mama, maaf. Aku menuju ke arah lemari, membukanya. Menemukan pakaian-pakaian Mama yang telah menguning karena jamur, lalu di laci yang letaknya tiga tingkat di bawah tumpukan pakaiannya, rahasia Mama itu menampakkan dirinya. Mama tidak suka lemari yang mengharuskannya menggantung baju-baju, ia memilih lemari dengan tingkap-tingkap kayu sebagai penyekat dan dipenuhi dengan laci-laci yang terkunci. Ada tiga laci, aku menghitung. Satu, kosong. Dua, berisi akte-akte dan surat penting lainnya. Tiga, almanak yang terasa berat.

Ujung-ujung jemariku terasa tersengat listrik saat membuka lembar-lembar halaman almanak yang berbau apak itu, lengkap dengan kertas yang menguning dan terlalu rapuh. Tulisan tangan Mama terlihat bersilang-silang di atas penanggalan yang telah dibuatnya sendiri dengan rapi.

20 Maret 1923.
Jedediah Amzi. Suami yang menyenangkan. Seharusnya aku bahagia.

18 April 1924.
Marie Absalome.
Aku harus memanggilnya istri Jedediah. Ah. Akulah Marie Absalome. Nama yang aneh.

27 Mei 1950.
Miriam Amzi. Anak perempuan pertama. Mata biru lautnya membuat siapa saja ingin berenang di kedalaman matanya.

17 September 1955.
Negeri Oranye. Sungguh sebuah negeri yang membuat lupa siapa saja yang memasukinya.

Dahiku mengerut membaca tulisan tangannya. Sudah lama aku tahu bahwa Mama telah membuat kalendernya sendiri, meskipun aku tidak pernah diijinkan membaca isinya selain lembar pertama seperti yang baru saja kubaca. Kalender Mama hanya berisi tahun-tahun kelahiran orang-orang terdekatnya. Papa menertawai Mama dengan alamanak yang terus menerus dibawanya di dalam tas kulit imitasinya yang berwarna cokelat, sementara Mama yang memang pemarah, hanya akan menekuk bibirnya ke bawah sambil menggerutu. Kedua orang tua itu memang tidak pernah berhenti saling menertawai. Tunggu, Negeri Oranye?

**

Ia merasakan panas yang membakar bola matanya. Jemarinya bergetar saat menggoreskan pena ke buku tebalnya yang bersampul kulit. Banyak penanggalan yang telah ia tuliskan di sini. Kelahiran suaminya, kelahiran dirinya sendiri, kelahiran putrinya, dan kemunculan sebuah negeri yang ingin benar ia tinggal di dalamnya.

Sore itu matahari berwarna jeruk, berwarna oranye, terang sekaligus hangat. Ia memeluk dadanya yang ringkih, mengawasi putrinya yang baru berusia lima tahun, yang sedang mengejar kelinci di halamannya yang berumput. Ranting-ranting pohon oak yang menghitam membentuk cakar, menjulang dengan latar belakang langit yang oranye. Ia merasakan matanya panas, dan berair. Ia melihat lengkung cakar di ranting pohon, lalu awan membentuk segurat wajah yang muram, namun langit sangat cerah. Ia merasakan ada yang ingin disampaikan semesta kepadanya. Darah di dalam dirinya bergolak, sesuatu yang telah lama dikurungnya melesak, membuncah, menuntut keluar.

Tanpa berpikir ia melangkahkan kedua kakinya yang putih, mengindahkan bahwa ia sedang bertelanjang kaki, dan keliman di ujung gaun birunya mulai ternoda lumpur di jalanan yang masih berupa tanah lumpur.

Miriam. Masuk. Tunggu mama di dalam.

Gadisnya menoleh dengan pandangan ingin tahu, kaki-kali kecilnya bersiap berlari untuk mengejarnya yang sudah berada di luar pagar.

Miriam. Masuk!

Gadis kecil itu hanya menatap dengan pandangan ingin tahu, namun perintah ibunya membuatnya menjadi kerdil, ia pun berlari, lalu membanting pintu. Tanpa menoleh ke arah ibunya yang telah kembali berjalan seperti orang linglung.

Perempuan itu menelengkan kepalanya, menangkap suara-suara yang bergema di dalam kepalanya. Sementara langit berangsur memadamkan warna oranye yang hangat, perlahan menggantinya dengan hitam yang menyepuh semua warna menjadi abu-abu.

Ia merasa sangat aneh, bahwa sore tidak terasa seperti biasanya, dan malam lebih dingin daripada seharusnya. Ia melihat banyak yang bergerak di bawah bayang-bayang pohon palem, ada yang melata di atas batang akasia, dan jalan lumpur yang mengotori keliman gaunnya terasa semakin membenamkan kakinya.

Aneh.

Seharusnya jalanan tidak terasa lembek karena mataharu musim panas mengeringkan air di dalam lumpur.

Aneh.

Aneh.

Ia terus berjalan, dengan riuh yang hampir memekakkan kedua telinganya, hatinya terus bertanya-tanya. Sudah lama kepalaku sepi. Mengapa hari ini muncul riuh di dalam sini. Mengapa sore ini intuisi muncul kembali.

Ia mencengkeram erat almanak yang masih dipegangnya, dan penanya telah lama terjatuh. Entah.

**

20 Maret 1923 – 20 Sep 1955.
Requiem in Peace. Jedediah Amzi.

Negeri itu hanya berwarna oranye jeruk, serupa sore yang aneh saat intusiku kembali berteriak. Untuk pertama kalinya aku berteriak kepada Miriam, gadis kecil yang malang. Kedua kakiku terasa kisut akibat terendam lumpur begitu lama. Sore yang aneh. Sangat aneh. Lebih aneh karena tepat tiga hari selanjutnya Jedediah meninggal. Dia hanya.. meninggal begitu saja. Negeri Oranye, ah Negeri Oranye!

Aku masih bisa membayangkan aroma kamperfuli yang menyenangkan berpadu dengan aroma lembut verbenna di Negeri Oranye. Dan sore itu aroma madu bercampur susu dari kue-kue madeleine mengambang di udara. Surga yang menyenangkan. Surga yang entah… .

Mama menyukai aroma kamperfuli, dan mengoleksi ratusan pot verbenna di bawah jendela kamarnya. Ingatanku menerawang, sudah lama ia tidak memasak kue madeline, seketika harum madu bercampur susu mengambang di kamar yang pengap itu. Aku menarik kait jendelanya yang terbuat dari kayu, membiarkan udara masuk dan mengusir segala macam aroma masa lalu yang selalu membuatku tersengat. Almanak Mama lebih dari sekedar penanggalan, lebih dari sekedar yang ia ceritakan padaku saat aku bertanya.

Mama, ceritakan padaku lagi, semuanya.

Sore itu langit berwarna oranye jeruk, harum madu bercampur susu lamat-lamat mengambang, bercampur aroma verbenna yang telah lama kering dan busuk di bawah lengkung jendelanya.

**

Berhati-hatilah karena hidup bisa sangat kejam. Ia menggoreskan penanya ke atas almanaknya yang bersamlul kulit. Ia berkeras bahwa buku yang selalu dibawanya adalah sebuah jurnal kejadian. Bukan berupa diary yang berisi keluh-kesah segala sesuatu seperti perempuan tua. Ia melirik suaminya yang tampak kekenyangan di kursi makan, saus mentega masih meninggalkan jejak di bibirnya hingga membuatnya berkilat. Putri mereka mendengkur halus di sofa bundar tak jauh dari tempatnya menulis.

Masakanmu enak, Marie. Sayang Miriam masih terlalu kecil untuk bisa mengunyah daging kalkun saus mentegamu yang terasa alot.

Perempuan itu hanya mendongak sekilas dari almanaknya, lalu tersenyum. Namun ia menggeleng saat Jedediah memberinya isyarat untuk mengikutinya ke arah kamar.

Marie, ayolah.

Perempuan itu menggeleng. Lalu ia beranjak untuk menggendong Miriam di satu lengannya, lengan lainnya memeluk almanaknya yang berharga.

Tidurlah, Jedediah. Aku akan menemani Miriam.

Laki-laki itu menggelengkan kepalanya yang berambut sewarna tembaga lalu menggumam.

Kau lebih sayang almanakmu rupanya.

Marie Absalome menutup pintu kamar Miriam perlahan. Sepelan ia menutup pintu hatinya kepada Jedediah.

**
1 Juli 1950.
Suara-suara.

Perempuan itu bodoh, laki-laki itu berujar kepada satu rekannya di bar murahan di ujung jalan. Wajahnya memerah dan titik-titik keringat bermain di dahinya.

Bodoh, karena ia melahirkan perempuan lainnya yang pasti juga sama bodoh dengannya.

Tapi bukankah sama saja perempuan dan laki-laki. Rekannya yang ternyata perempuan itu menanggapi dengan mata yang berkedip licik. Perempuan yang itu mengenakan celana panjang ketat yang tidak pantas dan atasan dengan belahan dada yang terlalu rendah.

Kau tidak mengerti adat bangsawan, ya? Harus ada anak laki-laki di dalam sebuah keluarga.

Laki-laki itu kembali menenggak rum yang berbuih di gelasnya dengan pandangan yang tidak beralih dari wajah rekannya. Lalu satu tangannya merambat di tubuh rekannya yang perempuan yang tidak pantas itu. Dari paha. Lalu naik ke pangkal paha. Menggeseknya pelan. Lalu ke atas perut, mengusapnya. Kemudian dada. Meremasnya.

Buih di dalam rum itu berpindah ke dalam kepalaku. Mendidihkannya. Bar terkutuk. Laki-laki bajingan.

18 April 1951.
Kelahiran yang berulang.

Selamat berulang tahun yang ke dua puluh tujuh.

Suaminya membelikannya sebuah pot berisi verbenna, sama seperti tahun-tahun yang sebelumnya. Ditambah dengan pelukan yang segarusnya sama hangat, namun ciumannya kini terasa anyir berbau kebohongan.

Kenapa kau tidak tersenyum, Marie? Ini ulang tahunmu bukan? Kita rayakan dengan.. misalnya.. hmm.. bagaimana dengan memanggang kue? Madeleine? Kita berdua menyukai kue madu itu.

Perempuan itu menggeleng.

Bukannya aku bodoh karena melahirkan anak perempuan yang juga akan menjadi bodoh seperti aku?

Astaga dari mana kau bisa berpikiran seperti itu?

Suara suaminya terasa menusuk kedua lubang di telinganya. Mrnghunjam bebas ke dalam hatinya.

Aku mendamba anak lelaki, benar. Kita bisa mencobanya, bukan?

Lalu senyum lelaki itu mengembang, membuat perempuan itu ingat pada matahari sore, yang membuatnya jatuh cinta pada lelaki yang memiliki hangat yang sama.

Perempuan itu bodoh. Buih-buih rum yang mendidihkan kepalanya lesap saat kedua tangan kekar itu mengusap tubuhnya.

Hangat. Ia merasa hangat.

**

Mataku tidak berhenti berair dan ujung jariku serasa teraliri listrik saat menyentuhnya. Ruangan masih dipenuhi aroma madu dan susu. Aku kembali menggali dalam benak, seingatku mama hanya berbau kamper dan memasang muka muram sepanjang hari. Madu dan susu sempat tercium dari tubuhnya kala ia bahagia. Atau setelah ia memanggang Madeline. Aktivitas yang tidak pernah dilakukannya lagi semenjak… Ah! Semenjak ia membentakku, dan berjalan dengan linglung pada saat usiaku lima tahun.

Aroma madu dan susu semakin pekat, matahari menggantung seperti jeruk. Bundar, dan oranye. Ranting-ranting oak tua yang terlihat dari jendela kamar terlihat seperti cakar. Ada wajah yang muram di dalam awan. Langit berwarna oranye terang. Cakar ranting oak terlihat hitam, mengancam. Aku melompati jendela, menggenggam almanak, mendekapnya. Berkali-kali kakiku terantuk batu-batu di halaman berumput yang kasar. Jalanan sudah berupa aspal yang terasa keras di kakiku yang telanjang. Udara sarat aroma masa lalu. Berat. Sangat berat. Aku bisa melihat diriku berusia lima tahun sedang melompat-lompat mengejar kelinci. Dan aku melihat Mama dengan rambut hitam yang berkibar dan gaun yang keliman di ujungnya terkena noda lumpur. Ia berjalan dengan linglung. Menengadah, menengok ke kanan lalu ke kiri. Lalu kembali ke kanan. Lalu ia berjalan lurus.

Almanaknya terjatuh. Angin membuka lembarannya. Mataku terpaku.

17 September 1955.
Negeri Oranye

Perempuan itu tiba di sebuah negeri berwarna oranye setelah pekat membutakan matanya. Kedua kakinya terasa kisut karena terendam lumpur. Ia tidaj tahu sudah berjalan seberapa lama. Intuisinya hanya menuntutnya untuk terus bergerak. Sementara bayangan-bayangan terus menggeliat-geliat di bawah pancaran mulam rembulan.

Negeri itu hanya berupa sebuah padang dengab banyak lentera yang tersangkut di dahan-dahan. Bahkan bulan yang biasanya angkuh kepucatan terlihat begitu semarak dan hangat. Ia menari-nari, berputar dari satu pohon ke pohon lain. Menyentuh batangnya yang empuk, dan dengan iseng menjilatnya. Rasa madu memenuhi rongga mulutnya membuatnya terbelalak.

Oh sungguh negeri yang menyenangkan. Bolehkah aku mengajak seseorang?

Ia mendengarkan dengan takzim dan tidak ada yang menyahuti suaranya.

Ia menjawili lentera-lentera yang memancar cahaya oranye lembut. Sudah sejak lama ia menyukai warna oranye. Senja. Jeruk. Madu. Kue madeline.

Ia merasa kembali ke kanak-kanaknya yang terasa surga. Saat sore, selalu, ayahnya yang mencangklong pipa tembakau di bibirnya akan mendongengkannya tentang raja-raja, dan ibunya yang bertahi lalat di bawah bibir membuatkan mereka sekeranjang kue madeline yang hangat. Sorenya selalu hangat. Sorenya selalu bahagia.

Di sebuah sore yang hangat, ia juga bertemu Jedediah Amzi. Lelaki berlesung pipi yang hangat seperti matahari oranye di senja yang tidak pernah buruk.

Ia teringat Jedediah. Suaminya yang penyayang. Namun sesuatu mencubit hatinya, membuatnya berhenti menari dan mencelup jemarinya ke dalam pohon-pohon madu. Sesuatu itu mengepak di dalam hatinya. Intuisi yang selama ini disingkirkannya hingga hanya menjadi sebuah ilusi.

Di negeri oranye yang penuh lentera itu ia mendengar mendiang ibunya.

Marie, kita para perempuan Absalome terlahir dengan bakat bisa mengetahui isi hati. Kau akan selalu menemukannya jika ada yang menutupi.

Lalu negeri itu terjungkir balik. Ia terhisap ke dalam kumparan pekat yang menyesakkan dadanya. Malam kembali kelam dan abu-abu membutakan mata.

Di ujung jalan yang entah di mana, ia melihay sesosok bocah laki-laki mendengkur di dalam gendongan Jedediah. Dan perempuan yang tidak pantas itu meringkik di samping suaminya.

Mama. Kau bilang papa terkena serangan jantung? Mungkin malam saat aku mendengar kalian saling berteriak itu, kau mengatakan bahwa kau tahu?

Mama, bisakah kau percaya? Aku tiba di sebuah negeri oranye dengan bulan bersinar semarak dan lentera tergantung di dahan-dahan?

Aku melangkah, negeri itu berpendar oranye. Kayu-kayunya menguarkan aroma madu.

Kita perempuan-perempuan Absalome terlahir dengan bakat bisa mengetahui isi hati.

Suara itu terasa kering, seakan terpahat di udara yang terus mengambang aroma pekat madeline.

Lalu negeri itu terjungkir. Kakiku tergores-gores tanpa alas.

Malam kembali menyepuhkan abu-abu yang berbayang-bayang. Di sudut bar murahan, sesosok laki-laki mendengkur puas di atas dada perempuan yang tidak pantas.

Perempuan Api

Sesuatu itu menggeliat dari dalam dada, merayap -merambat, perlahan namun pasti. Menghanguskan setiap yang dilewatinya. Dari dada hingga ke mata kaki. Dari dada hingga ke kepala. Meluluh-lantakkan segala rasa. Membakar logika. Membuat kepayang -lalu lupa. Sesuatu itu hanya meninggalkan sejumput arang yang kemudian mengabu di dada, membuatku mati rasa. Sesuatu itu… .

Ah, aku harus menceritakan padamu semuanya, terlebih dulu.  

Seperti dongeng, semuanya berawal dari suatu ketika. Ketika yang menandai suatu masa, ketika yang -entah, ditandai dengan angka-angka yang menjadi penanda. Waktu. Namun, kutegaskan padamu, dari aku yang telah kehilangan bentuk, makna, serta rasa, sehingga sebuah masa menjadi tidak terlalu penting untuk diingat kapan persisnya.

Sesuatu itu telah membakar segala penanda yang membuatku terikat dengan dunia. Aku melupakan sebutan angka penanda yang menyebutkan masa ketika itu.  Ketika itu, aku masih utuh. Belum tergenapi. Dan aku naif. Sangat naif.

Aku percaya aku adalah bagian dari semesta. Hamba dari semesta. Ketika itu adalah masa sebelum aku mengenal Ular. Benar, Ular adalah elemen lain dalam dongeng yang hendak kusampaikan kali ini. Bukan sebuah dongeng yang indah yang hendak kuceritakan, yang membuatmu terhanyut, hingga kau bersumpah ingin menjadi salah satu tokoh di dalamnya.

Namun, kisah ini hanya berupa sebuah dongeng penuh omong kosong yang mengubah Perempuan menjadi Penyihir Keji.  

Pada masa itu, aku bertemu dengan Ular, mungkin hanya berupa kebetulan. Mungkin memang jalan nasib yang tergenapi sendiri. Aku pada awalnya menanggapi derik -desisan Ular itu dengan setengah hati. Ia melata, bersisik, serta meninggalkan jejak meliuk-liuk di atas pasir. Jejak-jejak itu secara lantang mengungkapkan makna yang ingin ditinggalkan Sang Ular.  

“Ikuti, jika kau ingin mengetahui.”  

Sudah kukatakan bahwa saat itu aku naif bukan? Maka, aku dengan segala keingintahuan yang mungkin bersumber dari neraka itu sendiri, mulai melangkahkan kedua kaki bodohku, mengikuti jejak yang berulir-ulir itu. Jejak yang selalu abadi di atas pasir. Angin dan hujan tidak akan mampu menghapus jejak itu, Ular telah memantrainya, agar para manusia -aku, terpikat, dan mengikutinya. Terbukti, aku yang awalnya hanya ingin mengetahui, tergerak untuk mengikuti, kemudian menjadi abdi. Di dalam perjalananku mengikuti, aku berulang kali tersesat, menemukan, lalu kemudian tersesat sama sekali.  

Ular itu mendesis ke arahku, dan ia memberiku sebuah terang. Terang yang awalnya menyejukkan. Ia menjumputnya dari binar benderang matahari, lalu meletakkannya di dadaku. Saat aku tidak bisa menemukan ulir-uliran bekas badannya di jalan -entah pasir entah tanah, suaranya yang serak dan kering menyala di dalam kepalaku.  

“Nyalakan terang di dalammu. Engkau akau menemukan aku.”  

Namun aku melupakan bait lain dalam syair yang ia tinggalkan di kepalaku. Akibatnya, aku terbakar dalam jeda hening yang panjang. Aku terbakar, sesat, dan kegelapan semesta mengutukku hingga akhir -yang entah kapan.  

**

Ular memanggilku Perempuan Api, setelah meletakkan berkat -atau justru kutukan itu, di dalam dadaku. Berkat yang berupa terang dari benderang matahari. Kemudian setelah memberikannya, ia menghilang. Aku curiga ia lebur -luluh di kedalamanku, karena sesekali aku bisa mendengar suaranya yang kering di dalam kepalaku. Ia hanya akan muncul sesekali, saat aku menyalakan terang di dada, lalu meninggalkan goresan-goresan jejak berikutnya yang harus kuikuti.  

Aku berjalan dengan hati yang terus menyala-nyala, mencari satu jejak ke jejak berikutnya. Di dalam perjalananku, aku menemukan beberapa persinggahan. Persinggahan satu dengan yang lainnya tidak pernah berbeda. Semuanya memiliki pemantik yang dengan segera bisa menyalakan terang di dalam dada. Terang yang kemudian tak terkendali. Menjadi kobaran api yang hanya menyisakan abu pada akhirnya.

Aku tidak pernah tersadar, terang -sejumput api yang diberikan ular itu, kelak akan mengubahku menjadi sesuatu yang asing, menjadi penyihir. Penyihir yang bisa membakar apa saja yang dilewatinya, penyihir yang hanya meninggalkan Pencobaan  bagi yang disinggahinya.  

“Ikutilah iramaku, menari, dan terbakarlah bersamaku.”  

Syair bait itulah yang menjadi umpan di mata kail yang purba -ucapan manis dengan tubuh yang molek. Kemudian, persinggahan-persinggahan itu datang silih berganti kepadaku. Memagut, menelanjangi, meningkahi, saling silang. Membujur. Menjungkir balik. Tubuh koyak. Badan tercabik. Bibir berdarah. Bintang-bintang meledak. Dada berkobar. Nikmat. Nikmat yang entah.  

“Mari datang, cicipi aku. Akulah anggur di dasar cawanmu. Akulah perempuan, dengan api yang takkan pernah padam untuk membakar gelora di hatimu.”  

Aku tidak pernah menghitung berapa banyak yang telah singgah di badanku. Atau berapa banyak badan yang kusinggahi. Aku hanya tahu, Ular itu meninggalkan jejak-jejak di tempat-tempat yang kudatangi. Dan semuanya memiliki pemantik api. Semuanya mengobarkan terang di dada, semuanya bisa membakar logika. Kemudian aku mendengar Ular bersorak dari dalam kepala.  
“Nyalakan terang, nyalakan terang di dada. Engkau akan menemukan aku.”  

**

Aku tidak akan melupakan daging mereka yang setengah membusuk, saat kutinggalkan  Percobaan pada mereka. Mereka -para persinggahan itu, akan memohon kepadaku. Menyembah. Bersujud. Menekuk muka mereka untuk mencium bumi yang kujejaki. Memohon pengampunan. Pembebasan.

Mereka membutuhkan api, agar terang ikut menyala di dada mereka. Mereka mengatakan mereka telah lama mati. Mereka mengisahkan, bahwa aku datang lalu menyihir mereka hingga bangkit lagi. Mereka lelaki. Beberapa perempuan. Beberapa bukan keduanya. Dan mereka semua mencintai terang -panas nyala api, yang kupelihara dari berkah Sang Ular.  

Pada masa itu, bukan saja aku telah tergenapi. Aku bukan perawan suci, namun tetap terberkahi. Api menyala terang di kepala. Membuat setiap yang memandang ingin lebur -mengabu bersamaku. Menari bersamaku. Meliat. Melata hingga luluh lantak. Mereka semua memuja, sementara aku mendesis dan mulai berbisa.  

Kemudian aku sadar sepenuhnya bahwa aku telah menjadi Penyihir.

Aku mulai bisa mengatur semesta. Aku bisa mengirim hujan -badai di setiap mata yang kusinggahi. Aku bisa mencipta kemarau di hati mereka yang kosong. Aku bisa menghidupkan – mematikan – menghidupkan – lalu membunuhnya berkali-kali. Semudah menekan klik-klik-klik pada saklar lampu.  

Akulah Penyihir.

Mengendalikan semesta. Menjadi pusat gravitasi. Menarik mereka untuk berotasi, mengelilingi aku. Akulah matahari. Akulah pemilik segala terang, panas, dan api. Segala yang berdekatan denganku akan merasakan gelora tiada tara, panas -menghebat, lalu luluh lantak! Mengabu! Yang tersisa hanya residu pembakaran.
Aku tertawa.

Memberikan Pencobaan, membebaskan Pengampunan. Dan aku terus menari, satu-satunya yang kulihat hanyalah merah. Api. Akulah merah. Akulah api. Ular tidak terlihat, namun jejak-jejak itu masih menyala di kepala.  

Kemudian. Masa itu datang.  

**

Ular mewujud kembali. Setengah berbisik, ia menelisik. Ragaku sempurna. Tawaku lengkung pelangi. Api masih menyala di dada. Namun, kemudian Ular hanya bertanya.  

“Siapa namamu?”  

Suaraku hanya tinggal tergelincir dari lidahku. Kata itu hendak melompat keluar. Namun kemudian aku lupa. Aku pernah ingat ia memanggilku Perempuan Api. Kemudian mereka memanggilku Penyihir. Namun aku tetap saja tidak bisa mengingat.  

Siapa namaku?  

Aku menyentuh Ular. Wujudnya sedingin es. Permukaannya semulus porselen. Wujudnya sedatar bidang persegi. Api berkobar di tubuhnya. Di dadanya sebentuk lubang meghitam, menyala-nyala. Sebentuk daging menghitam, berkerut, berubah menjadi arang. Sepersekian detik kemudian aku tersadar. Api itu memakan hati! Menyerakkannya menjadi abu! Aku menatap matanya yang ganjil, dengan api yang masih berkobar. Api itu menyala dengan aneh, api yang berkobar di mata itu mewujud sosok yang kukenali, dan ular menggeliat di dalamnya. Aku.  

Ular itu menggeliat di dalam aku.  

Siapa aku?   Kemudian Ular itu pecah. Berserakan. Pecahannya mengenai buku jariku. Pecahannya tersangkut di kakiku.  

“Nyalakan terang di dalammu. Engkau akan menemukan aku.  
Nyalakan terang di dalammu, api itulah aku..”

Ramalan, Mimpi, dan Pertanda

Pemuda itu mengernyitkan dahinya saat memasuki tenda yang kugelar di pasar malam. Penampilannya kontras dengan apa yang ada di bilikku, seperti pemuda modern yang tersesat di dalam bilik takhyul. Aku mengawasi kedua matanya yang bulat, hitam, bergerak liar ke penjuru ruangan bongkar pasang yang menjadi rumah keduaku.

“Saya hanya ingin tahu jodoh saya.”

Ia berujar sambil beringsut mendekatiku, kemudian duduk di bantal bundar berwarna ungu yang memang sengaja kuletakkan sebagai alas duduk para tamu.  Aku menyilangkan kaki, kemudian mulai mengaduk teh di dalam cangkir keramik. Gelang-gelangku bergemerincing sesuai dengan gerakan yang kulakukan, aku melihatnya mengawasiku.

Ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak nyaman. Nyata di dalam matanya keingintahuan yang besar terpancar, namun di detik yang sama, kilau keraguan berpendar-pendar di sana.  Ia terlalu muda dan tampan untuk percaya ramalan. Pandanganku berlaih ke  dalam pola-pola dari cangkir teh yang telah kubalikkan. Daun-daun teh yang mengering itu menceritakan tabir takdir yang akan mengikuti sang pemuda.

Aku menatap daun-daun itu dengan cermat, mendengarkan bisik-bisik lirih yang mendesis dari dalam cangkir. Dari sudut mataku, aku melihat tamuku bergerak-gerak dalam duduknya. Penasaran.  

“Apa yang anda lihat?”  

Aku menggerakkan jariku ke arahnya, mengisyaratkannya untuk sabar sebentar. Konsentrasiku tidak boleh terpecah. Suara-suara lirih itu tidak boleh terusik oleh interupsi apapun. Ia mengedikkan bahunya dengan tidak sabaran.

“Agak aneh. Aku tidak melihat adanya visi tentang pasangan anda dalam waktu dekat ini.”

Aku berujar kemudian setelah jeda beberapa lama. Ia mengernyit ke arahku, tatapannya bingung bercampur tidak percaya.  

“Memangnya apa yang kurang dariku?”

Tuntutnya masam. Aku berjuang menahan tawa, justru karena dia terlihat terlalu sempurna. Sebagai balasannya aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tahu apa-apa.

Daun tehku tidak menggambarkan apa-apa, suara-suara di cangkirku juga tidak bercerita apa-apa.

Ia bangkit dengan muram, meninggalkan sejumlah uang di meja kaca, dan berkata dengan muram.  

“Bahkan kakekku yang pembaca tarot juga hanya bisa berteka-teki tentang jodohku.”  

Dalam nyaring suaraku sendiri di kepalaku, aku menjawabnya.  

Mungkin anda harus berhenti mendatangi para peramal dan mulai mencari sendiri perempuan itu.

Sedetik kemudian, aku melongokkan kepalaku kembali ke dalam cangkir keramik. Sebuah desiran yang aneh menuntut kepalaku untuk melihatnya sekali lagi. Di dasar cangkir, sesuatu terpampang, bentuk yang tidak kulihat sebelumnya. Sesuatu yang terbentuk dari sisa-sisa lembar daun teh yang tertinggal. Bentuknya menyerupai mawar.

**  

Aku menyesap coklat yang sengaja kupesan untuk mengusir penat. Di luar tenda, semua kabut mistik menyingkap hilang, kehidupan terasa normal dan menyenangkan. Di dalam sana, segalanya begitu misterius dan memualkan. Kebanyakan hanya terdengar desisan suara dan potongan-potongan gambar yang bergerak terlalu cepat sehingga sulit kutangkap maknanya.  

Gambar mawar di dalam dasar cangkir keramik itu sungguh-sungguh mengusik pikiranku. Sulit kuuraikan menjadi sebuah pertanda, atau visi masa depan. Tentang apapun. Sebuah geletar yang aneh membanjiri tubuhku. Belum pernah aku merasa serisau ini.

Gambar di dalam cangkir itu seakan mengisyaratkan, bukan hanya takdir pemuda itu yang sedang kuterawang, melainkan aku akan ikut tersulam bersamanya. Sungguh perasaan yang aneh. Dan sedikit menakutkan.

Aku jarang sekali menangkap gambaran masa depan milikku sendiri. Semua yang kubaca -melalui garis tangan, kartu tarot, atau daun teh- hanya sebatas permintaan pelanggan yang membayarku untuk melakukannya. Kemampuanku hanya berlaku bagi orang lain.   Aku tidak pernah bisa membaca nasibku sendiri.  

Mataku menangkap barisan penjual di pasar malam mulai menyemut untuk merapikan dagangan mereka, bersiap meninggalkan tenda-tenda mereka. Aku masih enggan beranjak. Tidak ada apa-apa yang menungguku pulang. Tidak ada siapa-siapa yang akan kutemui di rumah.

Aku kembali menyejajarkan kakiku, duduk tanpa alas di rumput lapangan yang terasa tajam menggores-gores kaki. Cokelat panas yang kubeli dari stand di ujung tendaku menguarkan aroma yang menyenangkan. Aku menyesapnya, dan kembali mencoba menguraikan semua pertanda.  

Gambaran-gambaran itu kembali berkelebat. Ah! Aku melihat pemuda itu duduk bersama kakeknya, berdebat mengenai apa yang dilihat lelaki tua itu di antara tumpukan tarot yang tersebar di mejanya. Suara kakeknya berulang-ulang menggemakan tentang mawar. Aku kembali terkesiap. Gambaran itu berarti masa lalu!

Aku tidak bisa melihat masa lalu.. atau setidaknya aku merasa begitu. Belum pernah aku merasa perlu untuk mengawasi masa lalu seseorang. Bagi kebanyakan orang, masa depan adalah yang terpenting.  

“Boleh saya duduk di sini?”

Suara itu membuat jantungku berhenti. Kemudian berdenyut dengan lebih cepat. Gelagapan. Dengan tolol, aku hanya bisa mengangguk dan beringsut memberikan ruang pada sosok yang tiba-tiba menjulang di depanku.  

“Kupikir anda tidak akan kembali ke sini.”

Gumamku saat ia mendudukkan dirinya di sebelahku. Aroma musk  segar memenuhi rongga penciumanku, membuatku tergelitik.   Ia benar-benar pemuda modern yang tersesat di dunia takhyul.  

“Namaku Jess.”

Sebuah tato salib di pergelangan tangannya menyembul saat ia mengulurkan tangannya padaku. Aku terpaku sesaat sebelum menyambut tangannya, melihat uliran mawar di sekitar lengkung salibnya yang berwarna ungu. Mawar itu muncul lagi.  

Pertanda macam apa ini? Seminggu yang lalu, ia muncul dan menyisakan tanda mawar di cangkirku, kemudian ia datang dan menampakkan gambar mawar di pergelangannya?

“Jadi namamu?”

Desaknya mendapatiku melamun melihat gambar di tangannya.  

“Ross.”

Sahutku pendek.  

“Aneh.” Ucapnya menyahut perkenalan kami, dan ia tidak juga melepaskan genggamannya. Gelenyar aneh merambati tubuhku. Getaran ini sudah lama tidak kurasakan… .

“Aku yakin kamu adalah jodohku.”

Suaranya bergemerincing menyapu telingaku. Sengatan listrik menyentakku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Namun anehnya terasa menyenangkan, membuat perutku tergelitik. Ia membelai-belai wajahku dengan lembut, menyenandungkan melodi lagu cinta yang tidak kukenali.

Aku membeku di tempat tidurku, mendapati wajahnya yang berbayang-bayang, sulit untuk menangkap rupanya. Namun jauh di dalam hati, aku yakin pria tanpa wajah yang sedang merengkuhku ini adalah pasangan yang memang diciptakan untukku.  

“Bagaimana mungkin, sedangkan aku bahkan tidak bisa melihat wajahmu.”

Tukasku menepiskan lengannya yang masih memeluk tubuhku. Kami berbaring berdampingan, cahaya bersinar-sinar di wajahnya. Membutakan mataku.  

“Ada masanya saat kita akan bertemu. Lihatlah pertanda-pertanda di sekitarmu.”  

Kemudian mimpiku lenyap. Aku terbangun bersimbah peluh dan gemetaran.

Itulah satu-satunya gambaran yang kutangkap untuk diriku sendiri. Jauh beberapa tahun yang lalu saat aku masih berusia dua belas tahun. Saat aku masih memiliki keluarga yang menerimaku. Jauh sebelum visiku menghancurkan keluargaku sendiri.  

Jauh sebelum orangtuaku mengusirku karena dianggap penyihir, serta pembawa sial hanya karena bisa melihat masa depan. Karena bisa melihat kebakaran itu merenggut hampir separuh keluarga. Nenek, kakek, adikku yang masih bayi.. Bukan berarti aku tidak memperingati mereka, namun m

ereka menganggap visikulah yang menyebabkan semua petaka..   Aku menggelengkan kepalaku, mengusir kenangan yang mendadak membanjir, menyakitkan rasanya melihat kedua mata orangtua itu membelalak -penuh air mata dan kebencian- saat mengusirku. Lima tahun ini aku menyendiri, menjauh, mengabaikan permintaan maaf mereka untuk merengkuhku kembali.

Sejak saat itu, aku memfokuskan diri untuk melihat sesuatu hanya saat diminta. Dan mengabaikan gambaran-gambaran lain yang singgah di kepalaku. Terutama gambaran tentang kedua orangtua itu. Ayah.. Ibu.. Perasaan rindu yang aneh berpusar menyelimutiku.  

“Melamun?”

Suaranya menyeretku ke masa sekarang, dan tangan kami masih bertautan. Aku menggeleng tanpa suara, tanpa berupaya menarik tanganku kembali dari jemarinya. Rasa hangat masih merambati diriku. Barulah aku tersadar, suaranya mirip betul dengan lelaki yang memelukku di dalam mimpi itu.  

“Rasanya sangat aneh.”

Bisikku kemudian. Ia menatapku dengan kedua manik mata hitamnya, rasanya tubuhku terpaku di tempat. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas.  

“Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya. Merasakanmu, lebih tepatnya. Saat itu, aku hanya bisa mendengar suaramu. Kemudian aku bisa melihat perdebatanmu dengan kakekmu. Sungguh aneh, aku tidak bisa melihat masa lalu. Entahlah.”  

Ia mengangguk. Masih belum melepaskan genggamannya di tanganku. Kedua matanya masih menancap di mataku. Dunia sedang terjungkir balik. Kilas kelebatan gambar-gambar memenuhi kepalaku. Bahkan sekarang aku kembali bisa mengawasi masa depan tanpa konsentrasi berarti. Tanpa tarot. Tanpa garis tangan. Tanpa daun teh. Segalanya terasa memusingkan.

Seperti melihat film bisu yang bergerak kabur. Kebanyakan hanya tentang dia dan seorang perempuan yang berada di rengkuhannya. Persis seperti mimpiku saat itu.  

“Aku juga merasa aneh. Aku juga pernah memimpikanmu jauh sebelum saat ini. Kau tahu, kakekku juga bisa membaca masa depan. Ia berkata, jodohku akan datang dengan sendirinya. Ha! Tidak heran, setiap hubunganku dengan wanita, selalu berakhir dengan tiba-tiba di tengah jalan. Kupikir kakek tua itulah yang menyebabkannya. Entah apa ini ada hubungannya denganmu. Tapi ia menyuruhku mencari pertanda.”  

“Sudah lama sekali aku mencari perempuan ini -dengan segala omong kosong kakekku- yang diceritakannya memang ditakdirkan untukku. Yang akan menggenapi rusukku. Yang akan merawatku hingga mati.”  

Ia menelisik wajahku, kemudian memainkan jemariku.  

“Kupikir.. kupikir mungkin kamulah perempuan itu.”  

Ia berujar kemudian, malu-malu. Aku terbahak. Konyol sekali rasanya, percaya pada ramalan, takhyul, dan hal-hal mistik macam itu. Bahkan kami belum saling mengenal, tapi geletar aneh saat ia menyentuh, menatap dan berbicara melalui suaranya yang bergemerincing, benar-benar memasung hati dan pikiranku dalam sekejap.  

“Namamu Ross. Mawar, bukan? Dan aku memang sengaja mengukir mawar di tanganku. Kakekku yang mewanti-wanti aku harus mencari pertanda tentang mawar..”  

“Aku juga melihat mawar di cangkirmu, saat kau datang..”

Bisikku lirih, tidak berani mengangkat wajahku yang merah padam. Aku belum pernah jatuh cinta.  

Ia terpana, menjatuhkan tanganku dari genggamannya. Kemudian ia memungutnya lagi dengan kedua belah tangan. Hangat. Hangat sekali.  
“Kenapa kau tidak mengatakannya?”

Bisiknya di telingaku.  

“Aku melihatnya saat kau sudah beranjak dari tendaku.”  

“Sulit dijelaskan, tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta saat pertama melihatmu.”

Bisiknya lagi. Membuatku mematung.  

“Tapi hanya karena pertanda lalu kita bisa jatuh cinta?”

Usikku, kemudian menempelkan kepalaku di kepalanya.  

“Pertanda itu sudah ada bertahun yang lalu, kita hanya belum saling menemukan.”

Kemudian ia mengecup bibirku. Rasanya ada ribuan permen coklat meleleh di sana.  

“Menemukan hanya perkara waktu, dan kita sudah saling memiliki, jauh sebelum bertemu..”

Obituari

Sebaris demi sebaris -begitulah ia menyejajarkan aksaranya. Obituari seseorang yang tinggal di kepalanya

Ia mengemasi kenangan yang bertebaran di penjuru ingatannya. Kemudian, ia mulai melipat semuanya perlahan-lahan, sangat hati-hati, agar tidak merusak lembar-lembar rapuh itu, dan menahan diri agar tidak melihat ke dalam isinya. Membaca isinya hanya akan membuat hatinya sesak dan nyeri, akibatnya, rongga matanya hanya akan memanas, lalu terbentuklah air terjun di sana. Ia benci menangis. Ia sudah berjanji tidak akan menangis.

Namun hatinya pedih, lipatan-lipatan kenangan itu tetap saja menggores-gores tajam, tanpa ampun. Meremukkannya seperti sekantung keripik yang akan hancur hanya dalam sekali remas. Ia lalu menyerah, menyurukkan lembar-lembar kenangannya, membiarkannya kembali berceceran di ruang hati dan kepalanya. Ia membiarkan dirinya tersesat sembari mengeja, mengeja setiap kata, setiap kalimat, setiap penggal memori yang membuatnya tercabik. Terkoyak hingga babak belur.

*

Ia merasa dirinya terbelah. Tepat di tengah-tengah. Separuh dirinya memerintahkannya untuk pergi -sejauh mungkin! Namun
separuh yang lain, justru mencengkeram kuat-kuat, terbius pesona lawan jenis di hadapannya. Ia menancapkan matanya ke arah lelaki itu, yang juga tengah melempar pandangannya. Sepasang mata itu beradu, ia merasa ada yang meledak di dadanya. Warna-warni yang membuatnya lupa, yang membuatnya memasung kedua kakinya, dan membuatnya sama sekali tidak bisa menjauh -apalagi pergi.

Seperti pecandu ia mendekat, padahal ia sama sekali belum pernah mabuk sebelumnya. Sepasang mata mereka masih beradu, memenjarakan satu dengan yang lainnya. Dada mereka berdentum-dentum, seolah sudah sekian lama mereka saling merindu. Benaknya menyanyi nyaring, sudah lama memang ia menginginkan dia. Ia mengabaikan pertanda yang seharusnya menjadi pagar baginya. Pagar yang membatasinya, agar ia tidak terlanjur jauh melangkah masuk.

Pertanda itu bersinar redup ditimpa cahaya neon, letaknya di jari manis sebelah kiri si lelaki. Namun ia membutakan matanya, benaknya dipenuhi anggur yang harus ia sesap. Anggur itu terlihat menggantung -ranum dan menggiurkan, di ujung bibir sang lelaki. Ia mengabaikan pagar pertandanya, ia justru malah melempar kait berisi umpan. Lelaki itu -lelaki biasa, tidak tahan kepada umpan. Sejenak mereka berhadapan, hanya sejengkal jarak yang membentang di antara mereka. Sedetik kemudian mereka lupa. Bibir mereka sibuk saling menyetubuhi satu dengan yang lainnya.

*

Joham

Ia tidak akan pernah melupakan nama lelaki itu. Ia merasa seperti lalat di atas kertas yang telah dilumuri lem. Ia telah terpenjara. Ia terus menerus tergelincir saat mencoba terbang, ia telah terperangkap, dan melekat erat di sana.

Joham, bercintakah ia dengan istrinya?

Suara itu mengusiknya. Asalnya dari dalam kepala. Ia menggoyangkan kepalanya, merasa kembali terbelah. Tepat di tengah-tengah. Seharusnya ia berhenti menjadi pemabuk yang terus mencandui anggur di bibir Joham. Namun dirinya di sisi lain, menolak dengan angkuh. Joham ada di dalam genggamannya. Lelaki itu tak sekalipun menolak umpan yang ia lempar bersama kailnya. Lelaki itu selalu secara sukarela menjadi ikan yang terperangkap dan menggelepar di mata pancingnya. Lelaki itu bahkan dengan merana juga mengakui telah jatuh padanya. Lelaki itu.. ah lelaki itu!

*

Sebaris demi sebaris, begitulah ia menyejajarkan aksaranya.

Terkutuk. Jalang. Perempuan Ular. Ia menuliskan segala sumpah serapah yang diterimanya. Ia mengguratkannya bersama sunyi, dan darah yang mengalir dari bibinya telah berubah pekat, menggumpal di dalam hatinya. Kebenciannya berlapis-lapis, membentuk gunung yang siap meletus di dasar hatinya.

Ia membenci dirinya yang terbelah. Ia membenci kedua sisinya. Ia retak. Pecah berserakan. Lelaki itu, dengan cincin di jari manisnya, telah menghantamkannya ke gelombang pasang, yang dengan segera menenggelamkannya dalam kepedihan yang kekal. Ia terlalu benci untuk merasa pedih. Terlalu koyak untuk menangisi.

Joham. Aku. Hamil.

Lelaki. Terkutuklah. Dia.

Anggur di bibirnya berubah. Menghitam. Berbisa.

Ia. Berteriak. Jalang.

Pergilah. Ke neraka. Jahanam!

Ia memaki dan terus memaki. Nama lelaki itu menancap di dadanya seperti pisau yang berkarat. Naif. Ia terjerat kailnya sendiri. Joham tak lebih dari sekedar pemangsa.

*
Sebaris demi sebaris, aksaranya tersusun. Obituari seseorang yang menjadi dirinya yang lain.

Ia tersesat, mengeja tiap kata, tiap kalimat, tiap penggal memori yang masih mengendapi kepalanya. Ia tertusuk, robek, dan berdarah. Berkali-kali. Berkali-kali. Ia merasa kembali terbelah. Sebagian dirinya menantangnya untuk mati, sebagian yang lain mengutuknya agar ia kembali berdiri.

Ia menimang belati di tangannya, mulai mengiris dari bagian dada. Membelahnya hingga terengah-engah. Sebaris demi sebaris, ia menyejajarkan aksaranya..

Di sini telah terbaring dan mati, sebuah hati yang pernah mencintai

Samudra

Saat memejam mata, aku bisa mendengar suara gemuruh lautan dan kecipak ombak yang memanggil. Pulangkan aku ke sana.

Ia menelengkan kepalanya ke arahku, mata bulatnya menatap nanar, kering. Di sudut ruanan, aku melihat kedua orang tuanya berdekapan dalam tangis yang hening.

Tolong dia, Dokter.

Perempuan tua itu memohon padaku setengah jam yang lalu. Ia terus-menerus menyeka matanya yang membengkak akibat airmata yang terus mengalir di sana, menggenang tiada habis.

Dulu dia gadis yang manis, entahlah. Ia berubah, menjadi penyendiri, pemurung, dan menutup diri. Berkali-kali menginginkan kembali ke lautan. Laut telah mengubahnya, ia kehilanga dirinya.

Perempuan tua itu kembali terisak, sementara sang suami lebih banyak diam dengan pandangan menerawang. Seolah, ia bahkan tak mampu untuk sekedar bicara meluapkan kekhawatirannya. Hanya tangan keriputnya yang berbau balsem menepuk-nepuk punggung sang istri yang terisak di rengkuhan dadanya.

Aku mengangguk. Menyanggupi. Mulai malam ini, gadis bermata bulat itu menjadi tambahan pasien kejiwaan di klinikku.
*
Ombak bersenandung bersama angin yang meliuk-liuk. Merdu. Menampar-nampar pipiku dengan percikan air asin yang terasa dingin. Matahari, bulatan raksasa oranye itu tampak terselubung selimut berwarna ungu. Senja. Aku menunggu. Satu jam. Dua jam.

Ia tak kunjung datang.

Himne malam mulai berkumandang, sayup-sayup dan hening. Tidak ada lagi suara-suara selain ombak yang tak henti berdebur. Malam mulai berarak meninggalkan hamparan langit hitam maha luas dengan butir-butir bintang berkelap-kelip, menyapa.

Malam, tidak datangkah ia?

Angin kembali menerbangkan seberkas rambutku. Amis. Asin. Sesuatu menggelitik indra terdalamku. Rasa. Rasa yang kuat. Sangat kuat. Aku menolehkan kepala, ia sudah berada di sana.

Tersenyum, pucat di bawah siraman bulan yang keperakan.

Maaf membuatmu menunggu begitu lama.

Jemari kami bertaut. Kehangatan merayap dari ujung kepala sampai kaki. Pasir-pasir dingin dan keras di bawah kaki menjadi tidak begitu berarti.

Aku akan datang lagi.

Aku berjanji. Ia tersenyum, masih pucat dan terlihat seperti pualam. Mulus. Bercahaya. Tidak manusiawi. Sesuatu di dalam diriku memerintahkan untuk pergi dan jangan kembali. Sesuatu di dirinya menarik dan mengikatku seperti simpul mati. Hari ini, dan hari-hari selanjutnya, aku datang, pergi, lalu kembali lagi.
*
Ia masih membisu dengan kedua tangan bersedekap di dada. Di kedalaman matanya, aku melihat rindu yang mendamba. Merantainya seperti di dalam penjara. Aku mencoba memasuki dunia yang ada di kepalanya.

Apa yang terjadi, sebenarnya?

Ia melengkungkan senyum yang tidak menyentuh matanya. Mata itu dingin, dalam dan bermuara segala rahasia. Ia hanya tersenyum, menyeringai.

Aku gila. Kau mau mendengar para gila?

Suaranya berbisik, sekering kaktus yang layu tapi masih menyisakan duri. Aku melepas jas putih yang melekat, jas itu hanyalah menjadi momok -tembok yang menghalangi interaksi sejati. Aku mulai duduk di ranjang yang di dudukinya. Ruangan serba putih tanpa noda ini terasa menyilaukan. Aku bergidik, membayangkan bagaimana rasanya tinggal di dalamnya.

Namun, gadis di hadapanku ini tidak terusik pada ruanga putih asing yang memenjarakannya. Tidak terusik pada pria asing yang mencoba mengorek isi kepalanya. Ia hanya menerawang, menggumam, memohon, lalu kembali memandang menerawang. Sejauh ini, dia bertindak pasif. Tidak menyerang. Tidak ada tanda-tanda depresi yang destruktif. Selain merusak dirinya sendiri di kedalaman.

Aku terbayang kedua wajah renta yang terluka itu saat memasrahkannya padaku.

Aku menjadi begitu melankoli menghadapinya, padahal seharusnya emosi semacam ini tidak boleh ada. Aku semacam.. terpengaruh pada keadaannya. Ah!

Aku membujuknya kembali bicara. Berhasil. Ia mulai berbicara dengan suara jernih, seolah-olah kejadian itu baru berlangsung hari ini. Seolah-olah kejadian itu dialaminya, sehari-hari..

Aku hanya datang ke tempat-tempat yang harus kudatangi. Di sanalah aku berpulang, di tempat di mana ada samudra dengan ombaknya, di mana ada langit hitam dengan bintang dan bulan, di mana ada dia.

Dia siapa?

Ia membasahi bibirnya yang kering dan mengelupas di permukaannya. Tawanya berkumandang seperti gema lonceng. Ringan. Renyah. Seolah ia normal.

Dia yang menemukan aku, Putra Samudra.

Putra Samudra?

Alisku terangkat naik. Imajinasinya mulai menyihirku menjadi kanak-kanak yang percaya pada dongeng-dongeng indah sebelum tidur. Aku menunggunya kembali bercerita, kehausan seperti musafir yang tersesat di padang gurun, dan dialah sang pembawa air untuk menghilangkan dahaga.

Dia menceritakan banyak rahasia samudra. Di malam-malam yang hening, saat hanya ada senandung angin yang melebur bersama ombak, ia berkata, aku harus ikut dan tinggal dengannya.

Di mana?

Di dasar samudra. Karena ia Putra Samudra.

Benarkah?

Ya. Aku mendengar gemuruh ombak memanggilku di luar sana. Bisa antarkan aku ke sana?

Tidak. Aku sudah berjanji akan menolongmu.

Menolong dari apa?

Dari imajinasi yang membuatmu terperangkap di sini.

Aku kekasih Putra Samudra. Aku ingat semuanya, semuanya nyata..

Seketika wajahnya berubah sendu. Ia terisak, namun tak ada air mata di sana. Ia hanya memohon, ia butuh kembali ke lautan untuk menemui kekasihnya.
*
“Maaf. Belum banyak perkembangan yang berarti.” Ucapku di corong telepon, mengabarkan keadaan gadis itu kepada orang tuanya. Di seberang hanya kudengar suara desah napas tertahan, aku tahu perempuan tua itu kembali menangis, merana. Dan suaminya pastilah ada di belakangnya, menguatkan tubuh rentanya untuk tetap bisa berdiri.

“Tolong dia, Dokter.” Suara itu terisak-isak. Kepedihan mulai berpindah dari kabel telepon, ke tubuhku. Getarannya membuat menggigil hingga aku merasa harus ikut merana.

“Sebenarnya apa yang terjadi selama ini?” Aku bertanya. Terlalu banyak hal-hal yang tidak kumengerti tentang gadis itu sebelumnya. Suara di seberang berubah parau dan berat. Sang ayah mengambil alih suara.

“Kami terpaksa mengurungnya di kamar. Namun ia selalu bisa menemukan jalan ke luar. Kami menemukannya di dalam pelariannya, hampir tenggelam, nafasnya sudah hampir habis, dan tubuhnya membiru. Setiap ia berhasil lolos dari pengamatan kami, ia selalu hampir mati tenggelam. Di lautan. Di sisi pantai yang berbeda-beda.”

“Tapi jarak pantai ke rumah kalian jauh, bukan?”

“Tidak terlalu jauh bila kita tahu harus mengambil jalan yang mana. Ia tumbuh dengan mengingat-ingat jalan yang mana yang bisa mengarah ke pantai. Dulu ia sangat berbahagia, ia memang sangat menyukai lautan. Setiap hari, dari waktu kanak-kanak, ia selalu menghabiskan waktu senggangnya di sana. Aku tidak melihat adanya pengaruh buruk. Sampai..”

“Sampai apa?” Desakku setengah berteriak di corong telepon. Suara parau lelaki itu seperti gelombang pasang, bergemuruh sarat kesedihan.

“Sampai ia berubah menjadi obsesif pada lautan. Mengocehkan tentang pria dari samudra yang akan meminangnya. Aku khawatir dan membatasinya. Ia berontak. Selalu bisa pergi dari kurungan kamarnya. Lalu ia berubah menjadi pendiam. Menolak makan. Menolak bicara. Terus mengocehkan tentang dunia di bawah samudera. Dia menjadi gila, dokter. Seharusnya tak kubiarkan ia pergi sendirian ke lautan..”

Aku tercenung. Klinik ini juga tidak terlalu jauh dari lautan..
*
Kali ini aku tidak harus menunggu. Ia sudah ada di sana. Tersenyum. Wajahnya pucat bersepuh sinar rembulan. Ia menggamit lenganku, memasuki air yang mula-mula terasa dingin di mata kaki. Lalu hangat, saat sebatas pinggang.

Benarkah ada dunia di bawah samudra?

Ia mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya.

Pulanglah bersamaku.

Tidak ada perintah di dalam suaranya, namun tubuhku melembek seperti agar-agar, dengan patuh mengikuti tubuhnya yang telah terbenam separuh dada. Ia menjulurkan lengannya ke arahku.

Lari! Kembali ke sini!

Seseorang berteriak, menampar kesadaranku. Aku menoleh ke arah suara lain itu. Jas putihnya berkibar-kibar tertiup angin dan kacamatanya dipenuhi titik-titik air.

Pria dari Samudra itu menungguku, beberapa meter di depanku. Tidak bergerak. Tidak bersuara. Namun aku seketika kembali patuh, belenggunya telah mengikatku seperti simpul mati.

Kembali ke sini!

Raunag pria berjas itu menggelegar dari bibir pantai. Kemudian sebuah ombak besar menerjangku tanpa ampun. Menyedotku ke dalam kumparan air asin tak berujung. Pekat. Paru-paru terbakar. Aku meronta-ronta menggapai udara. Pria Samudera memegangiku erat-erat.

Pulang, bersamaku.

Suaranya lembut, hingga aku tak mampu mengabaikan perintahnya.
*
Aroma kematian sarat mengambang di rumah duka. Kulihat kedua orang tua itu berpelukan sambil terus-menerus menangisi mayat pucat dan babak-belur membiru karena tenggelam dan terbentur-bentur batuan karang.

Maaf. Maaf.

Ujarku berkali-kali pada peti hitam itu. Tidak mampu melihat wajah gadis yang melarikan diri malam itu.

Kedua lenganku memar, bengkak dan hatiku lebih patah. Aku gagal menjaganya.
*
Putra Samudra itu yang menghipnotisnya, menyeretnya ke dalam gulungan ombak. Ia lelaki rupawan dengan mata biru gelap yang dalam. Aku tidak kuasa menyelamatkan gadis itu, aku sudah berenang sekuat tenaga, dan ia tetap saja tenggelam..

Lelaki itu mengenakan jas putih yang mungkin dulunya adalah milikku, menatapku dengan kasihan sekaligus iba.

“Berikan ia obat penenang. Kematian pasiennya mengguncangnya hingga ia menceritakan hal-hal yang tidak pernah dilihatnya..”

Cerita Kosong -Ketiadaan

Jantungnya sesak. Dipaksa memacu begitu cepat –liar tak tahu malu. Punggung yang semula melengkung itu menegak, kedua bola matanya liar menari-nari. Melahap rakus pemandangan yang berlalu dihadapannya. Pemandangannya sederhana : sosok yang terbalut dalam berkat surgawi –elok, itu berjalan melewatinya, dan meninggalkan aroma yang ia candui sepanjang usia.

Pada awalnya ia menggenggam sesuatu yang akan meregangkan nyawanya. Sebotol penuh pil-pil kecil anti depresi yang dibelinya secara sembunyi-sembunyi. Pada awalnya, ia telah memejamkan mata, dan kerongkongannya bersiap membuka -menelan, dan sebotol kecil air mineral dijinjingnya di lengan kiri. Ia berdiri dengan punggungnya yang melengkung –terlalu bongkok untuk usianya, dan napasnya yang pendek-pendek selalu membuatnya  gagap. Ia memegang erat butir-butir anti depresi itu dan berkomat-kamit. Merapal mantra-mantra yang akan menguatkan dirinya untuk membuka tutup botol, dan sekalian habis menenggak isinya. Kemudian jantungnya bergetar aneh, memaksanya membuka mata. Dan aroma yang mengambang di udara itu begitu pekat di dalam kepalanya yang bebal –bodoh.

Bukan salah siapa-siapa jika ia memilih sudut jalan yang berdinding bata merah tua. Di sanalah ia menemukan kaitan yang mencengkeram ulu hatinya, sedemikian kencang hingga bernapaspun terasa berat, dan asam telah membuat mulutnya berkarat. Ia tidak bisa menyampaikannya. Maka disanalah dia, mencengkeram sebotol pil bersama airnya, hendak mengakhiri jantungnya yang berdetak tak tahu malu dan kurang ajar.

Lalu juga bukan salah siapa-siapa jika punggungnya yang biasanya melengkung itu mendadak tegak saat suara langkah-langkah yang samar itu teraba indra pendengarannya. Ia menyembunyukan botol pil di dalam genggamannya, menyusul kedua matanya membulat menangkap bayangan yang memenjarakannya seperti selamanya.

Ia hidup di dalam bayang-bayang, seperti hantu tak kasat mata. Tidak dikenali. Tidak penting untuk diketahui. Ia hidup seorang diri. Tidak ada yang bersedia menyambut tangannya yang keriput dan lusuh di usia belia. Ia berkelana, dari satu kota ke kota lainnya. Namun ia selalu kembali, ke sudut jalan yang berdinding bata merah tua. Menunggu sosok yang membuat jantungnya liar tak terkendali. Memburu aroma yang membuatnya birahi, dan nafsunya terpenuhi hanya dengan menciumnya lebih dekat. Ia menyetubuhi aroma itu di dalam pikirannya, dan matanya memutar kilas sosok –tubuh yang ia damba hingga merana.

Kaitan di dadanya itu menancap, mengakar hingga hatinya menghitam. Sementara mulutnya masih saja terasa asam, membakar lidahnya saat ia berusaha menyampaikan. Ia melemparkan lidahnya pada api nerakanya sendiri, yang menghanguskannya menjadi seonggok daging –mengkerut dan berwarna abu. Api itu tinggal di dalam dirinya. Selalu membakar habis apa yang ia lalui. Api itu –gabungan nafsu dan mimpinya yang paling membara

Ia mulai menghitung, berapa lama tidak bersuara saat karat-karat itu mulai merambat mulutnya. Ia menghitung, dan terus menghitung, kemudian mendadak tersadar. Ia lupa berapa lama ia tidak bersuara. Ia lupa usianya. Ia lupa, siapa dirinya.

Ia telah gelisah sepanjang usia waktu, waktu yang tidak bisa ditentukan berapa lama. Karena ia sibuk mengingat dan waktu telah kembali berjalan, sementara ia masih saja mengingat-ingat lupa. Punggungnya kembali melengkung dan dinding bata di belakangnya terasa dingin, menusuknya hingga menggigil. Ia roboh, pil-pilnya masih tergenggam di tangannya, dan matanya menggeletar, tertumpah airmata yang selalu disembunyikannya.  Ia berbaring dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Menangis meratap-ratap. Tidak ada yang pasti dalam ratapannya. Awalnya ia meratapi punggungnya yang bongkok, napasnya yang membuatnya gagap, serta lidahnya yang terbakar habis hingga tidak bisa bicara. Api itu masih ada di kedalaman dirinya, bersiap berkobar, menghancurkan. Kemudian ia meratapi sosok yang ia gilai dan aroma yang membuatnya terpenjara, aroma yang telah ia setubuhi berkali-kali. Namun hatinya hampa, ia tidak bisa merasa. Rasa miliknya ikut mati bersama lidah yang telah ia bakar agar tidak lagi bisa berkata-kata. Ia hidup di dalam bayang-bayang, tidak ada yang repot-repot mengindahkan tubuhnya yang bongkok saat mengejang berteriak-teriak dalam hampa. Tidak ada yang bersedia berhenti sekedar menanyakan bagaimana keadannya.

Kemudian ia tertawa, berguncang-guncang, hingga membuatnya tersedak. Ia duduk menempelkan punggungnya. Di sudut jalan itu, di tempat yang tidak berada di mana-mana, tempatnya hilang dan menemukan. Dinding bata itu tempatnya meluruskan punggung dan mengisap pipa yang membuat mulutnya asam, dinding bata itu penjaranya yang membuatnya tidak bisa bergerak, bicara, maupun mengingat. Dan kunci penjaranya ada pada sosok yang aromanya telah membuatnya lupa.

Ia ingat, ia pernah berusaha terlihat. Menggumamkan suara yang tergagap-gagap, dan tangannya terulur, memegang bahu sosok yang ia puja. Namun sosok itu menembus tangannya, bersikap seolah-olah tangan keriput itu tidak pernah menyentuh bahunya. Dan aromanya tetap saja memekatkan mimpi-mimpinya menjadi nyata. Ia mabuk. Tanpa anggur yang menyinggahi lidahnya. Ia merasa bebal dan bodoh, memutuskan berkelana. Singgah ke kota-kota yang banyak penghuninya. Di sana ia tak lebih dari bayang-bayang. Tidak penting. Tidak disangka ada. Dan jubah kumalnya membungkus badannya yang bongkok, semakin mengisolasikan dirinya. Ia hanya bicara pada dirinya sendiri, dan api di dalam tubuhnya itu yang telah mengkerutkan lidahnya menjadi sewarna abu, mulai menggerogoti hatinya. Ia serupa patung tanpa rasa. Patung bongkok buruk rupa. Ia kembali menjadi hantu.

Kota-kota yang disinggahinya hanya berupa ingatan kabur yang terus berlari menjauhi dirinya. Kota-kota yang ia singgahi hanya makin memekatkan aroma yang ia setubuhi di dalam pikirannya. Maka, ia kembali ke penjaranya, berkali-kali. Ia tidak pernah menghitung waktunya. Dan sosok itu, masih berjalan melewatinya, mengabaikannya. Ia mengembara, berjalan, berlari, namun selalu kembali.. Dinding bata itu memanggilnya, dan punggungnya hanya tahu satu tempat untuknya melekat, hidungnya hanya menangkap aroma yang memekat. Api itu berkeretak di dalam dadanya, melahap satu tempat lagi yang masih tersisa. Jantungnya.. Jantungnya melompat-lompat –berdetak penuh gairah, dadanya meledak! Botol-botolnya telah kosong. Ia meraung-raung, masih saja tidak ada yang mau mendengarnya..

Semesta Senja

Ada sepasang kaki telanjang yang menjejak pasir, kemudian mencelupkan jari-jemarinya di antara lidah-lidah ombak yang mengecup bibir pantai. Matahari membulat oranye di hadapannya, Sang Raja Hari tampak agung, dihiasi selendang jingga keunguan yang terhampar di sisi-sisinya.

Pemilik kaki itu merentangkan kedua lengannya, menyambut angin yang tiba-tiba merengkuh tubuhnya. Rambutnya meliuk-liuk seiring aroma amis lautan yang mengambang di udara. Satu tangannya merengkuh botol-botol cat air yang mengering, sekering hatinya. Sebelah hatinya pedih menatap senja yang tak lagi setia. Lukisan-lukisannya mati di rahim senja. Hasratnya melayu di semesta senja.

Ia melangkahkan kaki-kakinya, menimbulkan bunyi berkecipak di air yang berbuih, menuju sepasang camar yang sedang bercengkrama di atas karang. Salah satu camar mendelik menatapnya, kemudian memekik, mengagetkan pasangannya. Seekor ikan terjatuh dari cengkeraman cakarnya. Keduanya membubung, menjauh. Ia hanya tersenyum iri.

Langit mulai berubah rupa, mengganti riasannya dengan meluruhkan selendang jingga keunguan milik sang Raja. Langit kehilangan kebiruannya, bertransformasi menjadi selimut maha luas berwarna oranye, dengan satu bulatan sempurna sebagai pusat tata surya. Sejenak hening menyergap, sebatang nyiur mendadak enggan gemulai, seolah pergantian waktu yang ditandai dengan munculnya senja, berubah menjadi ritual sakral maha suci.

Sang Raja Hari yang masih mempertahankan sisa-sisa kegarangannya mulai meremang, menyerah. Selimut senja telah meninabobokannya, melesakkannya ke dalam bantalan langit yang temaram, hitam. Cahaya oranye itu memudar, sebentar lagi bulan yang rapuh akan muncul, berpendar perak, menggantung rendah ke arah lambaian nyiur. Gemerisik angin kembali menggelitik, wanita itu, pemilik kaki itu, mengatupkan kedua matanya. Di telinganya, lautan bersorak nyaring, rindunya akan segera tuntas. Selepas senja, sang pemilik gelegar ombak akan berpuas mengecup bibir pantai beberapa meter lebih jauh ke daratan.

Ia cemburu pada pantai. Pada kesetiaan ombak. Pada keceriaan para camar. Pada semarak angin yang menampar pipinya. Ia cemburu pada alam yang memiliki ritme harmoninya sendiri. Pada semesta, ia cemburu karena ia telah lama kehilangan harmoni.

Baginya, semestanya telah runtuh. Baginya, ia bukan lagi bagian dari semesta. Baginya, ia hanya selongsong hampa tanpa jiwa. Ia memungut kulit kerang yang terinjak kakinya. Kerang yang telah lama mati.

Ia hanya menatap lama, pikirannya mengembara kemana-mana. Kulit kerang itu cantik, namun kosong, terabai begitu saja di bibir pantai. Sementara harmoni lainnya masih bernyanyi beriringan di dalam semesta, kulit kerang itu berkilauan seorang diri.

Ia membelalak melihat matanya mengedip di dalam kulit kerang, tersadar ia serupa denganya. Ia melemparnya jauh, lautan menertawainya dengan mengirim ombak kecil yang menciprati wajahnya. Ia kembali berkabung dengan kesedihan yang purba.

 

**

 

Ia tersenyum, memainkan kuas dengan tangan kirinya, menatap lautan yang berpendar tertimpa cahaya sore matahari. Ia begitu mengagumi dan memuja semesta. Menumpahkannya dalam sehelai kanvas yang terpampang di hadapannya. Ia melukis langit yang oranye, matahari yang membulat sempurna, dan iringan camar yang berarak menuju sarangnya. Ia bersiul-siul sesekali. Hatinya girang bisa menikmati keindahan semesta.

Matanya mendadak menangkap siluet seorang gadis yang sedang tercenung di bibir pantai. Rambut sang gadis berkibar karena liukan angin yang menggoda. Ia terperangah, senja-nya biasanya sepi. Senja-nya biasanya seorang diri. Ia beringsut mendekat, meninggalkan peralatan lukisnya berceceran di bawah nyiur, menyisakan jejak yang panjang di hamparan pasir yang kini sudah tidak terasa hangat. Ia menatap lurus punggung sang gadis, penasaran.

“Aku tidak pernah melihatmu disini.”

Ia berbasa-basi. Sang gadis menolehkan kepalanya, matanya dipenuhi air mata. Ada gurat kesedihan terpancar di wajahnya.

“Apa yang membuatmu demikian sedih?” Ujarnya lagi, menatap sang gadis yang semakin terisak.

“Aku baru saja kehilangan semestaku.” Sang gadis menjawab lirih. Langit benar-benar sudah gelap sekarang, dan bulan belum juga menampakkan wajahnya.

“Semesta tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau dan aku adalah bagian darinya.” Ia mencoba menghibur. Sang gadis menyeka air mata yang terus-menerus bergulir di pipinya.

“Aku hanya kehilangan seseorang, rasanya seluruh semesta runtuh karenanya.”

Jarak mereka hanya satu rentangan tangan saja sekarang. Kaki-kaki mereka terendam di air yang dingin.

“Namaku Rossy.”

Gadis itu tersenyum, menerima uluran tangannya.

“Aku Connie.”

Malam itu, mereka berbagi kisah. Butiran pasir tak lagi terasa keras dan dingin di kaki mereka.

 

***

“Tidak bisa seperti ini, Rossy.”

“Kenapa?”

“Karena kita perempuan.”

 

***

 

Mereka bertemu setiap hari. Setelah perkenalan di suatu senja yang aneh, Connie yang saat itu sedang patah hati, menyambut uluran tangan Rossy untuk mengembalikan semestanya berputar seperti semula. Connie mengajarinya mencintai matahari, lautan, para camar, serta angin yang menggoda batang nyiur. Cerita tentang para ombak yang begitu setia menciumi bibir pantai hingga tak pernah kering, membuat mereka berdua iri. Connie menemukan harmoninya kembali bersama Rossy. Rossy menemukan semesta-nya lengkap dengan kehadiran Connie.

Di bibir pantai itu mereka bergandengan tangan, saling tertawa, dan merasa bahagia.

“Terima kasih, Rossy.”

Rossy menolehkan kepalanya, mereka sedang berbaring berjajar menatap langit yang mulai temaram.

“Untuk?”

Connie menegakkan badannya, memandang lautan yang terus menggelora dengan deburannya.

“Untuk mengenalkanku pada semesta-mu.”

Rossy bangkit, menyentuhkan ujung jemarinya ke tangan Connie.

“Aku sudah mengatakan padamu, kita bagian dari semesta. Tidak adil rasanya membenci dunia hanya karena kehilangan.”

Malam itu, untuk waktu yang sangat lama, Connie menumpahkan air matanya di dada Rossy. Malam itu, sesuatu yang hangat bertumbuh di dada mereka.

 

**

 

“Namanya Pedro..”

Connie mengawali kisahnya, Rossy menyilangkan kakinya, pasir yang di dudukinya mulai terasa nyaman.

“Aku mengenalnya sudah sangat lama. Aku melihatnya, dan jatuh cinta. Sesederhana itu.”

Rossy berdeham, tidak hendak menyela.

“Kau mungkin memang sangat naïf, caramu memandang dunia dengan segala keindahannya. Caramu menyukai Senja, dan kau tidak pernah kesepian walaupun tinggal seorang diri karena kau menganggap semesta selalu bersamamu.”

Connie menyulut batang rokoknya yang kedua, melanjutkan ceritanya sambil menghembus asapnya perlahan.

“Tapi, jika kau tahu betapa naifnya aku, kau akan menertawai kebodohanku. Aku mencintai Pedro, sama seperti kau mencintai semesta. Bagiku, Pedro-lah semestaku. Dan aku adalah bagian darinya. Sesuatu yang bodoh, karena ia tidak pernah merasakan hal yang sama denganku.”

Rossy tersenyum menenangkan, malam itu adalah malam pertama mereka berkenalan. Senja tadi, Rossy melihatnya bercucuran air mata menatap lautan. Kini, mata bulat Connie seperti terus menerus menahan air mata yang hendak melesak keluar.

“Aku mendekati Pedro, seperti bumi yang terus-menerus mengelilingi matahari. Ia selalu bersinar, dan ia adalah pusat tata surya-ku. Tapi tentu saja, bumi yang bodoh tidak akan pernah bisa bersatu dengan matahari.”

“Apa yang terjadi, Connie?”

“Aku berencana mengatakan semua padanya pagi tadi. Terlambat. Aku hanya menemukan hatiku remuk dan aku berlari kesini.”

“Ia menolakmu?”

“Dengan menyakitkan. Dia mencium bibir ibuku tadi pagi. Dia ayah tiriku.

Mereka berdua berpandangan, debur ombak menjadi irama yang begitu getir.

 

**

Malam itu udara sarat akan kegelisahan. Connie tak henti-hentinya mengetuk-ngetukujung jarinya ke atas meja. Rossy memandangnya dari seberang, menyodorkan coklat panas kegemaran Connie. Entah apa yang sedang Connie pikirkan, Rossy tidak tahu. Beberapa minggu telah mereka lalui bersama. Pondok Rossy kini menjadi benderang dengan keceriaan yang ia bagi bersama Connie. Connie menyesap cokelat itu dalam hening, matanya beradu pandang dengan Rossy. Tatapan sekilas itu membakar sesuatu di dalam dada mereka.

Bibir mereka sontak membeku. Tangan-tangan Connie dengan kasar menyentakkan jemari Rossy yang menari di atas tubuhnya. Keduanya terengah. Malam mulai kehilangan anggurnya yang memabukkan.

“Tapi aku cinta padamu!”

“Aku tahu, tapi kita tidak bisa seperti ini, Rossy.”

“Kenapa?”

“Karena kita berdua perempuan.”

“Jadi ini yang kau risaukan sedari tadi?” Rossy hanya mampu berucap lirih.

Sesuatu pecah di hati Rossy, serpihannya membanjir di mata Connie saat langkahnya menghentak pergi.

 

**

 

Ia hanya menatap murung lukisan lansekap senja yang telah ia selesaikan. Pondok itu begitu kosong, bahkan lambaian nyiur di ujung matanya tidak mampu membuatnya menemukan cintanya kepada semesta. Ia merasa kosong, sesuatu terenggut di kedalaman dirinya.

Sejak awal ia melihat perempuan yang menangis di bibir pantai itu, ia telah mengingatkan dirinya. Hanya semesta mungilnya yang bisa menerimanya. Hanya pada hamparan langit luas di beranda rumahnya ia bisa mengadu. Hanya pada lansekap senja ia bisa bercerita dan jatuh cinta. Hanya kepada ombak ia bisa bersenandung.

Ia merasa kehilangan untuk kesekian kalinya. Kali ini bukan ia yang pergi. Kali ini ialah yang ditinggal pergi. Ia selalu seorang diri, semenjak meninggalkan keluarganya. Ia memilih terasing, setelah menyadari dunia di seberang sana belum –atau- bahkan tidak bisa menerimanya. Ia masih mengingat dengan jelas ucapan para pendeta. Final dan merupakan harga mati.

Segala sesuatu tercipta berpasang-pasangan. Laki-laki dan perempuan.

Senja itu, ia ingin mengutuk semesta.

 

**

 

Pada suatu hari saat senja, saat matahari sedang membulat sempurna, dan sinarnya tidak lagi membutakan matanya, Rossy berdiri di bibir pantai yang tidak pernah kering dijilati lidah-lidah ombak yang setia. Satu tangannya memeluk botol-botol cat air yang telah kering, sekering hatinya. Kedua matanya nanar menatap sepasang camar yang sedang kasmaran, dan hanya angin yang lagi-lagi memeluk tubuhnya.

Senja itu ia menjauh dari semesta yang dikenalnya. Semestanya runtuh. Ia bahkan tidak ingat pernah mengatakan bahwa tidak adil untuk membenci semesta hanya karena kehilangan. Ia membelalak melihat matanya mengedip di dalam kulit kerang, tersadar dialah kulit kerang itu. Ia melemparnya jauh, Lautan menertawainya dengan mengirim ombak kecil yang menciprati wajahnya.

Sebelah hatinya pedih melihat senja yang tidak lagi setia. Senja itu, ia melihat perempuan yang dikenalnya karena sedang menangis di bibir pantai, mengalamatkan sebuah ciuman. Pada lelaki pemilik kaki lain, yang menawarkan senja yang lain. Dengan pantai yang lain. Dengan matahari oranye yang lain. Senja itu, ia hanya merasa terluka..

 

Catatan Pertama Perempuan -sebelum Hawa

Pagi itu sungai-sungai madu berubah keruh. Sesuatu merayapi badanku dengan begitu kencangnya, menggeliat-geliat kuat -mencengkeram. Mirip ular yang membelit dan meremukkan. Bedanya, belitan itu berasal dari dalam.

Sesungguhnya aku dan dia tercipta dari inti yang sama. Aku bernapas melalui kedua lubang di wajah, kemudian aku memandang melewati dua rongga yang terpasang di atasnya. Aku melirik -dia, dan menemukan hal yang sama.

Mengapa harus menjadi begitu berbeda

Saat aku menatap kedua buah molek yang menjuntai di bagian dada, dan surai emas membingkai kepalaku, jauh lebih panjang dan mengkilap dari miliknya. Aku menangkap perbedaannya.

Selain kedua itu, yang berbeda hanyalah tonggak -angkuh yang tertancap di kemaluannya, sedangkan milikku lebih menyerupai gua -atau lesung tempatnya akan terbenam kelak.

Selain buah yang molek di dada, surai yang lebih mempesona, serta gua tempatnya akan terbenam kelak, mengapa aku harus menghamba? Sedang kita tidak begitu berbeda. Tercipta dari inti yang sama.

Seratus kelahiran dan kematian

Marah hanyalah satu dari sekian rasa yang bisa kuterjemahkan. Sesuatu yang merayap seperti ular di dalam badanku itu menghanguskan apa saja yang dilewatinya. Kecuali iri. Bersaudara dengan dengki.

Ia menatapku sama seperti aku menatapnya. Tanah mengkhianati kaki, memaksanya menekuk lutut untuk menciumnya.

Ular menggelegak lagi, melecutkan benci ke dalam nadi-nadi. Kaki berhasil menantang langit kembali, tegak berdiri. Ia menatap dengan pemujaannya, ia mengira aku kekasihnya. Aku harus bersujud di kakinya

Kemarahan yang lain bergaung di udara. Membuatku terperangkap dalam beban berat udara, aku terpelanting. Dengan wajah menghantam tanah. Kemarahan Agung membuatku terburai. Namun Kebencian menyatukan kepingannya. Dan ular, mendampingi dengan setia.

Terkutuk

Di dalam masa Pencobaan aku banyak melahirkan bayi-bayi yang terbentuk dari dendam, amarah dan benci. Bayi-bayi itu semerah darah, dan menjilat-jilat serupa api yang panas.

Namun kesemuanya mati, aku menghitungnya lebih dari seratus bayi. Dan ular, sekali lagi menjadi teman penghiburanku.

Perempuan, sesungguhnya rahim yang terbuahi adalah terberkahi

Masa Pencobaan itu berakhir saat Ular membujuk perempuan serupa aku di langit Eden. Perempuan itu terusir dengan apel yang tergigit dan terkandung di rahimnya. Bersama dia -lelaki yang karena penolakanku membuatku jatuh ke dalam Pencobaan.

Perempuan itu terberkahi.

Dan anak-anak yang akan lahir dari rahimnya, akan menjadi mangsa dari anak-anak yang terlahir dari rahimku -yang lahir terus menerus kemudian mati. Nafsu. Amarah. Dengki. Iri hati.

Dan ular akan masih terus melata dan mendesis, menawarkan apel kepada anak-anak Hawa.

Apa yang Lebih Buruk dari Mati?

picture by etsy.com

“Apa yang lebih buruk daripada mati?”

Saya melempar ponsel ke tempat tidur. Kemudian badan saya menyusul. Mendarat dengan kepala lebih dulu, menelungkup di bantal. Pertanyaan yang sama berputar di kepala saya.

Apa yang lebih buruk dari mati, sedangkan saya sendiri belum pernah mati? 

Saya teringat aroma uap chamomile yang sering ia hirup untuk menenangkan diri. Bagi saya, menenangkan diri membutuhkan lebih dari sekedar uap chamomile atau menyesapnya di bibir. Saya butuh rokok dan ampas kopi. Saya harus menghisap rokok dan menjilati ampas kopi hingga mengering di bibir saya. Tapi ini bukan mengenai chamomile atau ampas kopi. Saya tidak butuh ditenangkan. Ini mengenai mati. Saya belum pernah mati.

Saya teringat janji-janji tentang sehidup semati itu. Saat saya mengamati dia di balik lensa kamera saya, dia terbang melincah di padang daffodil kuning cerah. Dan cahaya matahari membuatnya berpendar-pendar seperti peri. Seandainya dia punya sepasang sayap dan lingkaran halo di kepalanya, saya tidak akan terkejut. Saya memotretnya tanpa henti. Mengagumi senyumannya yang cemerlang, mengalahkan keindahan lansekap di sekelilingnya. Dia berputar menghadap saya, membuat saya termenung dengan mulut menganga. Saya sedang melihat surga. Lengkap dengan bidadari yang memang sudah menjadi milik saya. Saya jatuh cinta padanya -untunglah, dia membalas cinta saya. Saya kemudian berjanji untuk sehidup semati bersamanya. Dia menerimanya dengan tawa yang mengguncang bahunya. Saya dan dia kemudian berfoto bersama. Dengan lansekap  padang daffodil menyala di belakang kami berdua.

“Katakan, apa yang lebih buruk dari mati?”

Ponsel saya kembali bergetar di samping kepala saya. Malas-malasan saya membaca pesannya, kepala saya menjadi ramai hanya untuk memikirkannya saja. Saya kembali menyurukkan ponsel itu. Kali ini ke kolong kasur. Biar saja ponsel itu berdebu di bawah sana. Biar saja dimakan laba-laba di bawah sana. Saya beri tahu ya, para laba-laba di bawah sana itu sangat bengis. Dia memakan apa saja. Bahkan dia memangsa mimpi-mimpi indah saya, mereka mencurinya, lalu menyulamkannya di jaringnya yang lengket. Kemudian sebagai gantinya, mereka mengirimkan kutukan-kutukan kepada saya. Pesan-pesan singkat di ponsel itu, salah satunya. Para laba-laba di kolong kasur sayalah penyebab semua mimpi buruk saya. Semua kesedihan saya. Begitulah, setidaknya yang saya percayai.

Lalu saya kembali memikirkan pesan itu. Apa yang lebih buruk dari mati? Saya belum pernah mati, tapi saya sudah pernah ditinggal mati. Tapi saya juga tidak tahu, memangnya ada yang lebih buruk dari mati? Saya selalu ingat potret saya dengan dia saat itu, saya menyimpannya rapi di dalam kepala saya. Saya tidak mau meninggalkannya tergeletak, laba-laba itu akan mencurinya, lalu menggantikan pemandangan seram untuk saya. Di dalam foto itu, dia tersenyum sangat lebar, sedangkan bibir saya hampir bisa dikatakan menyeringai. Saya tidak suka difoto. Saya hanya suka menggunakan kamera untuk mengabadikan obyek yang saya suka. Sayang, saya sendiri bukanlah obyek yang saya suka.

Dia dulu sangat ceria, sangat apa adanya. Dia selalu mengumandangkan tawanya yang ringan namun mengguncang bahunya. Dia selalu tersenyum lewat matanya. Saya selalu tersihir saat melihatnya bergerak, sangat selaras dengan semesta yang mengiringinya. Dan kebaikan hatinya selalu bisa membuat saya tersenyum, selalu bisa mendamaikan diri saya yang sering bergolak. Dia bisa memadamkan bara di dada saya, menggantikan kemarahan yang membakar di sana, mengubahnya menjadi hangat dan bertumbuh, menggelitiki perut saya.

Dia selalu menyukai padang daffodil di belakang rumah saya. Padang itu tidak bisa disebut padang yang sebenarnya, hanya sepetak tanah yang ditumbuhi bunga-bunga kuning itu, karena ibu saya menyukainya. Padang kecil itu dikelilingi pagar kayu yang sudah lapuk. Tapi memang saya tidak bisa menyangkal keindahan lansekap di sekelilingnya. Ibu saya suka pegunungan, maka dia membawa saya ke sini. Ibu saya hidup di antara ranting-ranting pakis, di antara bunga-bunga kuning, dan dia bersenandung doa di udara. Ibu saya sudah mati, itulah sebabnya tadi saya bilang, saya tahu rasanya ditinggal mati. Tapi saya tetap tidak menemukan jawaban dari apakah yang lebih buruk dari mati. Saat ibu saya mati, saya tahu dia meninggalkan senyumannya untuk saya, saya tau ibu saya tetap hidup di antara harmoni semesta yang beriringan dengan saya. Itulah, saya tidak mau membiarkan lubang di dada saya menganga terlalu lama karena kehilangan dia, selebihnya lubang itu sembuh berkat  peri saya yang baik hati itu.

Pikiran saya memang selalu melantur. Dia, yang menyukai padang daffodil itu selalu mengatakan, ada jutaan burung yang hidup di kepala saya dan mereka tidak henti-henti berkeriap, memunculkan banyak pikiran-pikiran di dalam kepala saya. Dia mengatakan mungkin kepala saya adalah sarang yang nyaman untuk mereka, mungkin remah-remah ide saya begitu lezat hingga burung-burung mungil itu akan terus menetap di sana. Ia tidak mengatakan hal itu buruk, sejauh saya masih bisa mengenali burung mana yang sedang bicara, dia bilang, tidak akan jadi masalah kalau saya selalu melantur. Tapi saya harus fokus kali ini, pertanyaannya di dalam pesan ponsel tadi masih menunggu saya, dan sangat mengganggu.

Jauh, jauh hari sebelum pesan-pesan itu ada, mimpi saya dicuri para laba-laba. Saya terbiasa dengan kedamaian yang memabukkan. Saya terbiasa tidak pernah memimpikan apa-apa. Kecuali terkadang saya bermimpi menjebak dia –kamu- ke dalam kamera saya dan memenjarakan kamu selamanya supaya saya bisa memiliki dia selamanya. Baiklah, saya akan memanggil “dia” –peri cantik itu- dengan sebutan –kamu. Supaya seolah-olah kita sedang berbincang. Karena saya sangat bingung sekarang dengan perubahan sikap kamu, mendadak selalu membicarakan kematian, dan setapak demi setapak bergerak mundur menjauhi saya. Sejak mimpi saya dicuri para laba-laba, dan berganti dengan mimpi seram yang menggambarkan bahwa saya tidak bisa menemukan kamu lagi di padang saya, segera saya merasa gelisah.

Saya mencari kamu. Saya mencari kamu di tempat kamu menemukan saya. Kamu ingat di dekat danau mati itu, kan? Danau yang kering itu, yang walaupun turun hujan selama empat puluh hari, tetap akan kering kembali? Saya tahu danau itu masih menunggu hujan yang tepat untuk kembali menghidupkannya. Saya menjadi mirip danau itu, saya merasa kering. Merasa mati. Saya hanya menunggu kamu untuk kembali mengisi saya. Saya tidak bisa menemukan kamu di mana-mana. Mimpi-mimpi saya selalu kembali berulang, saya kehilangan kamu dan tidak bisa menemukan kamu. Mimpi saya mewujud nyata. Lalu saya menghubungi kamu melalui ponsel. Saya tahu ponselmu bergetar di telapak tanganmu, tapi kamu tidak juga menjawab panggilan saya. Saya menjadi ketakutan saat kamu membalas pesan saya dengan kalimat apa yang lebih buruk dari mati.

**

Dia ada di sana. Kedua matanya tajam mengawasi. Menangkap apa yang menjadi fokusnya. Dia tidak mendengar langkahku mendekatinya. Dia seperti singa yang sedang memburu mangsanya, seluruh indranya terfokus pada apa yang di depannya.

Klik.

Dia terlonjak dan berpaling dengan sengit ke arahku. Aku menangkap potretnya dengan kamera saku yang hasil gambarnya selalu blur dan tidak jelas. Kamera yang tergantung di lehernya tentulah jauh lebih bagus hasilnya dari milikku, namun aku tersenyum melihat potretnya abadi di dalam kameraku. Ia berdecak kesal, buruannya lepas. Seekor burung mungil berwarna putih –entah aku tidak tahu namanya, telah membubung ke angkasa. Jelas, kedatanganku mengagetkan pemburu sekaligus buruannya.

“Maaf. Maaf mengagetkanmu.” Ujarku, sementara aku melihat kilat matanya berapi-api, dia kesal. Oh tidak. Dia sangat kesal. Dia berbalik dan membawa punggungnya menjauhiku. Aku tersaruk-saruk mengikutinya, dia belum juga mau bicara.

“Ayolah. Aku hanya butuh teman bicara.” Aku kembali mencoba. Berhasil. Dia menolehkan kepalanya, kemudian melampiaskan kekesalannya. Dia marah-marah lebih dari dua puluh menit. Namun, setelah kekesalannya mereda, ia menanyakan tujuanku mendatanginya.

Aku bilang padanya aku turis yang akan tinggal di daerahnya dalam waktu beberapa lama. Dia bertanya macam-macam. Apakah aku punya keluarga, berapa usiaku, kenapa aku memotretnya dan membiarkan objeknya lepas, kemudian dia juga bertanya satu hal.

“Mengapa mau berbicara denganku?”

Kami berbicara sambil berjalan di antara semak-semak dan daun-daun berwarna cokelat menutupi alas hutan. Aku suka hutan. Aku suka pegunungan. Dan aku suka pemuda yang sedang berbincang denganku ini. Aku ingat pipinya bersemu saat aku menjawab pertanyaannya.

“Mengapa aku tidak boleh berbicara pada orang yang ingin kuajak bicara?”

Kemudian kami semakin sering bertemu. Aku selalu mengunjunginya, karena dia tidak suka berkunjung selain ke hutan dan ke tepi danau yang mati itu. Beberapa orang yang kukenal memperingatiku, dia pemuda yang aneh. Dia lebih suka memandang lewat lensa kamera dibanding berbicara. Pemuda yang aneh, tinggal sendirian untuk mengurus padang bunga. Pemuda yang aneh. Tidak suka bersosialisasi. Yang lebih menyukai burung untuk dipotret, ketimbang gadis-gadis. Aku tahu, aku mengenal dia lebih baik dibanding semua orang yang selama ini hidup berdampingan dengannya sebagai tetangga dekat. Oh, aku tidak peduli. Sama sekali.

“Apa yang lebih buruk dari mati?”

Aku membalas pesannya untuk yang pertama kali, sejak berpuluh-puluh pesan yang sama menghujani kotak masuk di ponselku, dan potretnya menyala di dalam layar ponselku.

“Di mana kamu? Kenapa tidak menemui saya? Ke mana saya harus mencari kamu?”

Pesan-pesan yang sama membanjiri ponselku lagi, lagi dan lagi-lagi. Aku masih ingat janji itu. Janji sehidup semati di padang bunga miliknya.

Tahukah dia apa yang lebih buruk dari mati?

Aku menunggunya menemukan jawaban pertanyaan itu. Sementara, tarikan napasku kuhitung mundur.. Tiga.. Dua..

**

Saya tidak ingin menangis. Tapi sesuatu merobek dada saya, melubanginya dan membuatnya bernanah. Baunya sangat busuk hingga saya tidak tahan untuk tidak berteriak. Saya sangat tidak mengerti apa yang kamu inginkan dari saya. Saya jatuh kepada kamu yang menemukan saya. Saya membuka diri saya kepada kamu yang mengetuk pintu hati saya. Lalu saya sekarang terpuruk. Tersuruk di kaki kamu. Kamu tahu, saya ingin mengoyak jantung saya dan memberikannya kepada kamu.. Saya ingin jantung kamu berdetak, dan saya akan hidup di dalam jantung saya –yang saya berikan kepada kamu.

Kenapa kamu memberikan saya pertanyaan bodoh itu? Pertanyaan yang sekarang digunakan para laba-laba untuk menyerang saya, dan kini menjadi lebih menyakitkan karena saya kini tahu jawabannya. Para laba-laba itu menyulamkan jawabannya di jaring mereka, kemudian menyusupkannya ke dalam mimpi saya. Semunya menjadi sangat buruk karena bahkan jika saya berteriak dengan lantang, saya tetap tidak bisa memberitahu kamu apa jawabannya.

**

Ellois Illyana, perempuan yang telah mengukir senyum di setiap wajah yang mengenalnya, untuk mengenangnya.

Rest In Peace.

Saya tahu, apa itu yang lebih buruk dari mati. Saya kehilangan kamu. Lebih baik saya mati.