Perempuan Api

Sesuatu itu menggeliat dari dalam dada, merayap -merambat, perlahan namun pasti. Menghanguskan setiap yang dilewatinya. Dari dada hingga ke mata kaki. Dari dada hingga ke kepala. Meluluh-lantakkan segala rasa. Membakar logika. Membuat kepayang -lalu lupa. Sesuatu itu hanya meninggalkan sejumput arang yang kemudian mengabu di dada, membuatku mati rasa. Sesuatu itu… .

Ah, aku harus menceritakan padamu semuanya, terlebih dulu.  

Seperti dongeng, semuanya berawal dari suatu ketika. Ketika yang menandai suatu masa, ketika yang -entah, ditandai dengan angka-angka yang menjadi penanda. Waktu. Namun, kutegaskan padamu, dari aku yang telah kehilangan bentuk, makna, serta rasa, sehingga sebuah masa menjadi tidak terlalu penting untuk diingat kapan persisnya.

Sesuatu itu telah membakar segala penanda yang membuatku terikat dengan dunia. Aku melupakan sebutan angka penanda yang menyebutkan masa ketika itu.  Ketika itu, aku masih utuh. Belum tergenapi. Dan aku naif. Sangat naif.

Aku percaya aku adalah bagian dari semesta. Hamba dari semesta. Ketika itu adalah masa sebelum aku mengenal Ular. Benar, Ular adalah elemen lain dalam dongeng yang hendak kusampaikan kali ini. Bukan sebuah dongeng yang indah yang hendak kuceritakan, yang membuatmu terhanyut, hingga kau bersumpah ingin menjadi salah satu tokoh di dalamnya.

Namun, kisah ini hanya berupa sebuah dongeng penuh omong kosong yang mengubah Perempuan menjadi Penyihir Keji.  

Pada masa itu, aku bertemu dengan Ular, mungkin hanya berupa kebetulan. Mungkin memang jalan nasib yang tergenapi sendiri. Aku pada awalnya menanggapi derik -desisan Ular itu dengan setengah hati. Ia melata, bersisik, serta meninggalkan jejak meliuk-liuk di atas pasir. Jejak-jejak itu secara lantang mengungkapkan makna yang ingin ditinggalkan Sang Ular.  

“Ikuti, jika kau ingin mengetahui.”  

Sudah kukatakan bahwa saat itu aku naif bukan? Maka, aku dengan segala keingintahuan yang mungkin bersumber dari neraka itu sendiri, mulai melangkahkan kedua kaki bodohku, mengikuti jejak yang berulir-ulir itu. Jejak yang selalu abadi di atas pasir. Angin dan hujan tidak akan mampu menghapus jejak itu, Ular telah memantrainya, agar para manusia -aku, terpikat, dan mengikutinya. Terbukti, aku yang awalnya hanya ingin mengetahui, tergerak untuk mengikuti, kemudian menjadi abdi. Di dalam perjalananku mengikuti, aku berulang kali tersesat, menemukan, lalu kemudian tersesat sama sekali.  

Ular itu mendesis ke arahku, dan ia memberiku sebuah terang. Terang yang awalnya menyejukkan. Ia menjumputnya dari binar benderang matahari, lalu meletakkannya di dadaku. Saat aku tidak bisa menemukan ulir-uliran bekas badannya di jalan -entah pasir entah tanah, suaranya yang serak dan kering menyala di dalam kepalaku.  

“Nyalakan terang di dalammu. Engkau akau menemukan aku.”  

Namun aku melupakan bait lain dalam syair yang ia tinggalkan di kepalaku. Akibatnya, aku terbakar dalam jeda hening yang panjang. Aku terbakar, sesat, dan kegelapan semesta mengutukku hingga akhir -yang entah kapan.  

**

Ular memanggilku Perempuan Api, setelah meletakkan berkat -atau justru kutukan itu, di dalam dadaku. Berkat yang berupa terang dari benderang matahari. Kemudian setelah memberikannya, ia menghilang. Aku curiga ia lebur -luluh di kedalamanku, karena sesekali aku bisa mendengar suaranya yang kering di dalam kepalaku. Ia hanya akan muncul sesekali, saat aku menyalakan terang di dada, lalu meninggalkan goresan-goresan jejak berikutnya yang harus kuikuti.  

Aku berjalan dengan hati yang terus menyala-nyala, mencari satu jejak ke jejak berikutnya. Di dalam perjalananku, aku menemukan beberapa persinggahan. Persinggahan satu dengan yang lainnya tidak pernah berbeda. Semuanya memiliki pemantik yang dengan segera bisa menyalakan terang di dalam dada. Terang yang kemudian tak terkendali. Menjadi kobaran api yang hanya menyisakan abu pada akhirnya.

Aku tidak pernah tersadar, terang -sejumput api yang diberikan ular itu, kelak akan mengubahku menjadi sesuatu yang asing, menjadi penyihir. Penyihir yang bisa membakar apa saja yang dilewatinya, penyihir yang hanya meninggalkan Pencobaan  bagi yang disinggahinya.  

“Ikutilah iramaku, menari, dan terbakarlah bersamaku.”  

Syair bait itulah yang menjadi umpan di mata kail yang purba -ucapan manis dengan tubuh yang molek. Kemudian, persinggahan-persinggahan itu datang silih berganti kepadaku. Memagut, menelanjangi, meningkahi, saling silang. Membujur. Menjungkir balik. Tubuh koyak. Badan tercabik. Bibir berdarah. Bintang-bintang meledak. Dada berkobar. Nikmat. Nikmat yang entah.  

“Mari datang, cicipi aku. Akulah anggur di dasar cawanmu. Akulah perempuan, dengan api yang takkan pernah padam untuk membakar gelora di hatimu.”  

Aku tidak pernah menghitung berapa banyak yang telah singgah di badanku. Atau berapa banyak badan yang kusinggahi. Aku hanya tahu, Ular itu meninggalkan jejak-jejak di tempat-tempat yang kudatangi. Dan semuanya memiliki pemantik api. Semuanya mengobarkan terang di dada, semuanya bisa membakar logika. Kemudian aku mendengar Ular bersorak dari dalam kepala.  
“Nyalakan terang, nyalakan terang di dada. Engkau akan menemukan aku.”  

**

Aku tidak akan melupakan daging mereka yang setengah membusuk, saat kutinggalkan  Percobaan pada mereka. Mereka -para persinggahan itu, akan memohon kepadaku. Menyembah. Bersujud. Menekuk muka mereka untuk mencium bumi yang kujejaki. Memohon pengampunan. Pembebasan.

Mereka membutuhkan api, agar terang ikut menyala di dada mereka. Mereka mengatakan mereka telah lama mati. Mereka mengisahkan, bahwa aku datang lalu menyihir mereka hingga bangkit lagi. Mereka lelaki. Beberapa perempuan. Beberapa bukan keduanya. Dan mereka semua mencintai terang -panas nyala api, yang kupelihara dari berkah Sang Ular.  

Pada masa itu, bukan saja aku telah tergenapi. Aku bukan perawan suci, namun tetap terberkahi. Api menyala terang di kepala. Membuat setiap yang memandang ingin lebur -mengabu bersamaku. Menari bersamaku. Meliat. Melata hingga luluh lantak. Mereka semua memuja, sementara aku mendesis dan mulai berbisa.  

Kemudian aku sadar sepenuhnya bahwa aku telah menjadi Penyihir.

Aku mulai bisa mengatur semesta. Aku bisa mengirim hujan -badai di setiap mata yang kusinggahi. Aku bisa mencipta kemarau di hati mereka yang kosong. Aku bisa menghidupkan – mematikan – menghidupkan – lalu membunuhnya berkali-kali. Semudah menekan klik-klik-klik pada saklar lampu.  

Akulah Penyihir.

Mengendalikan semesta. Menjadi pusat gravitasi. Menarik mereka untuk berotasi, mengelilingi aku. Akulah matahari. Akulah pemilik segala terang, panas, dan api. Segala yang berdekatan denganku akan merasakan gelora tiada tara, panas -menghebat, lalu luluh lantak! Mengabu! Yang tersisa hanya residu pembakaran.
Aku tertawa.

Memberikan Pencobaan, membebaskan Pengampunan. Dan aku terus menari, satu-satunya yang kulihat hanyalah merah. Api. Akulah merah. Akulah api. Ular tidak terlihat, namun jejak-jejak itu masih menyala di kepala.  

Kemudian. Masa itu datang.  

**

Ular mewujud kembali. Setengah berbisik, ia menelisik. Ragaku sempurna. Tawaku lengkung pelangi. Api masih menyala di dada. Namun, kemudian Ular hanya bertanya.  

“Siapa namamu?”  

Suaraku hanya tinggal tergelincir dari lidahku. Kata itu hendak melompat keluar. Namun kemudian aku lupa. Aku pernah ingat ia memanggilku Perempuan Api. Kemudian mereka memanggilku Penyihir. Namun aku tetap saja tidak bisa mengingat.  

Siapa namaku?  

Aku menyentuh Ular. Wujudnya sedingin es. Permukaannya semulus porselen. Wujudnya sedatar bidang persegi. Api berkobar di tubuhnya. Di dadanya sebentuk lubang meghitam, menyala-nyala. Sebentuk daging menghitam, berkerut, berubah menjadi arang. Sepersekian detik kemudian aku tersadar. Api itu memakan hati! Menyerakkannya menjadi abu! Aku menatap matanya yang ganjil, dengan api yang masih berkobar. Api itu menyala dengan aneh, api yang berkobar di mata itu mewujud sosok yang kukenali, dan ular menggeliat di dalamnya. Aku.  

Ular itu menggeliat di dalam aku.  

Siapa aku?   Kemudian Ular itu pecah. Berserakan. Pecahannya mengenai buku jariku. Pecahannya tersangkut di kakiku.  

“Nyalakan terang di dalammu. Engkau akan menemukan aku.  
Nyalakan terang di dalammu, api itulah aku..”

Iklan

Cermin-cermin Berderak

Rambutku ikal bergelombang berwarna keemasan, mengkilat sehalus sutera. Mataku berwarna hijau zaitun, di hiasi bulu mata yang lentik. Hidungku menjulang ramping di antara belahan pipiku yang merona. Jangan tanyakan bibirku, yang merupakan bagian terbaik dari wajahku. Bibirku tipis, serta lembut berwarna merah muda.

Aku mengenakan gaun sutera berenda berwarna toska. Sepasang sarung tangan lembut membungkus jari-jariku yang lentik, dilengkapi dengan cincin berhiaskan emerald kuno yang sangat langka. Aku memakai sepasang sepatu kaca yang cantik, yang berpendaran berkilau-kilau tertimpa sinar lentera.
“Sampai kapan kau terus bercermin seperti itu Rose?” sebuah suara menghalau pandanganku dari cerminku. Di dalam cermin, gadis sempurna dengan tatapan mempesona itu melirik suara yang mengusiknya, seraya mendesah.

“Ayolah, sudah lama kita tak berkuda” sambung suara itu lagi. Albert, suamiku tampak setampan biasanya, dengan memakai setelan pakaian berkuda, dan sepasang sepatu boots dari kulit berwarna cokelat tua. Sebuah topi bundar bertengger di kepalanya. Aku membenarkan letak topi itu, sekilas aroma maskulin menguar dari tubuh Albert. “Oh Albert, cuaca sedang sangat panas, aku malas pergi keluar.” Aku memasang muka memelas. “Kau tak ingin kulit cantikmu terbakar matahari Rose? Kau tidak ingin pergi ke danau kita?” pancing Albert.

Oh danau! Danau yang terletak di lereng gunung itu, yang berpermukaan tenang, serta sangat cantik di hiasi teratai-teratai berwarna ungu. Satu hal yang terbaik dari danau itu, aku bisa melihat bayanganku jauh lebih cantik di banding cermin-cermin di rumahku. Bayangan itu terasa agung, namun misterius karena berada di dasar danau. Aku mengangguk bersemangat, lalu mengganti gaunku dengan celana panjang berbahan denim, serta jaket kulit yang merupakan hadiah Albert untukku. Rambutku yang panjang kuikat kencang ke puncak kepalaku. Butuh beberapa jam lamanya di depan cermin untuk memastikan penampilanku sempurna.

Aku menemui Albert yang sudah setengah mengantuk di beranda depan. Ku guncang perlahan pundaknya. “Lama sekali kau!” sembur Albert. “Aku hanya ingin terlihat sempurna” sahutku “Kita jadi berkuda? Sepertinya sore ini akan sangat indah” seruku sambil berjalan menuju kandang kuda. Aku tak mendengar desisan kekesalan Albert mengenai betapa cintanya aku pada diriku sendiri.

Benar saja, danau itu sangat indah! Aku lebih suka duduk di pinggiran danau, sembari mengamati bayanganku yang terpantul di atasnya. Oh aku benar-benar tampak misterius di dalam air.
Serupa dewi air yang agung! Tapi dewi air yang sedang memakai kostum berkuda tentunya! Aku terbahak karena pikiranku sendiri. Senja mulai turun menyapa, kulihat Albert tak nampak di sekelilingku. Ah, mungkin dia sudah pulang. Kuputuskan untuk kembali ke rumah, lagipula secinta-cintanya aku pada danau ini, aku lebih senang menghabiskan waktu dengan cermin-cerminku di kamar. Melihat diriku melalui cermin itu, bukan hanya untuk mengagumi betapa sempurnanya diriku. Aku juga sering membayangkan bahwa aku hidup di negeri dongen bersama pangeran tampan, yang memiliki istana yang dikelilingi padang mawar. Albert tentulah pangeranku, tapi dia tidak romantis. Dia tidak peduli pada hal-hal yang bersifat sentimental. Dia terlalu realistis, terlalu fokus menjalankan peternakannya. Hari ini pun, dia mengajakku berkuda, namun lantas meninggalkanku sendirian. Pastilah dia memiliki urusan sendiri, batinku mencari kesimpulan sendiri.
**
Rose, kau tak akan menemukan sebuah cermin pun di dalam rumah kita. Aku telah menghancurkan semuanya, ku banting ke lantai kita, bunyinya sungguh memilukan, meninggalkan derak kesunyian. Rose, sudah saatnya kau hidup di dunia nyata, bukannya mengagumi dirimu sepanjang hari. Benar, kau memang serupa putri yang luar biasa. Bukan berarti kau menghabiskan waktumu sepanjang hari bercermin dan berkhayal. Aku akan membuatmu tersadar, bahwa kamu nyata, aku nyata, hubungan kita nyata. tak akan kubiarkan kamu terhanyut akan cintamu yang begitu memuja dirimu sendiri. Maafkan aku Rose, cermin-cermin ini tak lagi ada gunanya.
**
Aku melihat Albert sedang mengamuk di kamarku. Dia memecahkan semua cermin yang kupunyai! Di pukulnya dengan buku-buku jarinya sampai berdarah, di bantingnya ke lantai kuat-kuat. Dia terus menerus melelehkan air mata. Setiap bayanganku seakan ikut hancur bersama cermin-cermin itu menjadi ribuan serpih yang terhampar dimana-mana. Aku menghambur ke arah Albert, mencoba menghentikannya. “Albert! Kau gila! Apa yang kau lakukan dengan semua ini!” tuntutku marah. Sejenak Albert mengalihkan tatapannya padaku “Kau harus berhenti memuja dirimu sendiri seperti itu Rose! Tak ingatkan kau akan Dewi Narcissa yang menenggelamkan dirinya ke danau karena begitu memuja bayangannya?” suara Albert bergetar penuh amarah. “Kau akan tenggelam dalam pemujaanmu sendiri Rose! Pemujaan terhadap dirimu sendiri!” sambung Albert sambil membanting cerminku yang terakhir, gagal, tidak pecah seutuhnya, hanya menghasilkan suara berderak. “Berhentilah kau!” seruku seraya melindungi
cermin itu dari jangkauan Albert. “Minggir! Ini demi kebaikanmu!” Albert mendorongku, begitu kuatnya, sampai aku terpental ke dinding. Kurasakan sesuatu merembes keluar dari kepala dan hidungku. Pandanganku mulai menggelap seiring derak mengerikan dari cerminku yang terakhir, terhempas berkeping-keping.