Ashoka dan Api yang Membakar Kepalanya

Perempuan itu memiliki rambut sewarna api, api paling membara bagi siapa saja yang telah meilhatnya. Api yang bisa menyulut hasrat paling dalam di dada manusia. Laki-laki. Perempuan. Bahkan yang berada di antaranya. Atau, yang bukan sama sekali di antara keduanya.
Perempuan itu membiarkan saja mahkota yang disungginya itu basah, mengkilat, dan terasa memanggil, terus menari-nari. Dan makhluk lain yang melihatnya akan menelan hasrat mereka yang mendadak membuncah, lalu tergesa-gesa untuk memadamkan gairah yang mendadak rekah. Susah payah mereka meredamnya. Karena, apa yang dibangkitkan api di dalam rambut perempuan itu adalah keinginan sejati mereka yang menapakkan kaki di dunia.
Ia meliukkan tubuhnya, bahunya berguncang seiring kakinya menapak langkah, ia membawa serta kunci yang bergemerincing di lengannya. Perempuan ini memiliki bahu melengkung khas perempuan yang tidak pernah berlatih beban. Tubuhnya kurus dengan tulang-tulang selangka yang menonjol. Sepasang matanya berbinar-binar meskipun ia tidak pernah mengerti kenapa mata itu terus berbinar, sementara api di hidupnya sudah padam, bahkan sebelum sempat bara itu menggeliat.
BUKA
Ia membalik tulisan yang telah lusuh dan coreng-moreng di dinding luar loket berwarna biru yang anak-anak kuncinya bergemerincing di lengannya. Orang-orang mulai mengedip padanya, berjejalan, berdesak-desakan, beringsut menuju ia yang kini duduk di ruangan loket yang sarat aroma besi dan tembakau. Panas. Panas sekali di dalam sini. Ia ingin mengikat api yang berkibar di rambutnya. Namun ia sedang sangat ingin bercumbu dengan sesuatu. Seseorang. Beberapa orang. Siapa saja.
Perlahan, ia menyulut rokok lintingan yang selalu terselip di telinganya.
“Lima ribu satu orang.”
Suara perempuan ini dalam dan serak. Sesekali ia terbatuk, namun asap masih zaja mengepul dari balik bibirnya.
“Anak-anak juga lima ribu. Sama.”
Keringat menetes di tengkuknya. Asap memenuhi pandangannya. Orang-orang masih berdesakan. Berjubel-jubel di hadapannya. Hari pertama sirkus itu buka di Kerta Maya. Hari pertama pula ia menjual sesuatu selain tubuhnya.
*
“Berapa?”
Hari sudah terlanjur jauh menuju larut, namun laki-laki di depannya masih terlihat rapi, dan aroma parfum segar tercium dari badannya yang atletis. Perempuan itu memain-mainkan ujung rambutnya. Memilinnya. Memuntirnya. Ada yang bergejolak di dirinya. Hasratnya membuncah. Hasrat yang mulai padam akibat keringat dan asap yang membelit tubuhnya seperti jaring laba-laba itu menggelegak, meletup-letup menuntut puas hingga tuntas.
“Lima ribu, tuan. Tapi hari sudah jauh malam. Sebentar lagi Gigir Perigi tutup.”
Laki-laki itu tersenyum, anehnya, terlihat begitu cemerlang di matanya.
“Ambil saja kembaliannya.”
Laki-laki itu berlalu.
Perempuan penjual karcis itu menggaruk pipinya. Tiga bekas luka melintang dari mata menuju dagunya, terasa gatal.
Siapa laki-laki itu?
Malam itu ia dipenuhi oleh hasrat yang terasa melimpah-limpah. Rambutnya basah oleh gairah. Jam di sakunya menunjukkan angka sebelas. Ada angin yang menggelitik tubuhnya, ia mengancingkan kemeja flanel merah yang dikenakannya. O, betapa ia ingin rapat. Betapa ingin ia hangat. Hari itu ia menggerai rambutnya, namun tidak seperti biasanya, di mana banyak mata yang melempar ingin ke dadanya, di mana banyak desah yang ingin mampir ke telinganya, hari itu tidak. Tidak ada yang meliriknya meski ia mengibarkan rambutnya yang sewarna api. Tidak ada yang menginginkannya sebesar ia menginginkan mereka semua. Hanya ada laki-laki terakhir yang membeli tiketnya.
Ia teringat sebelum malam itu, ia bermimpi, ia telah bercumbu dengan seekor singa. Tubuh binatang itu liat di dalam dekapannya. Geraman buas yang menyeruak dari dalam dada hewan itu membuatnya menggeliat, membuatnya melenguh menderu-deru. Ia bermimpi cakar itu merobeki tubuhnya, dan dengan senang hati ia menyerahkan tubuh telanjangnya. Ketika taring sang Raja terbenam ke dalam kulitnya, ia terbangun, tersengal-sengal, lalu air mata memenuhi wajahnya. Tidak ada singa. Tidak ada laki-laki. Tidak ada wanita di sisinya. Tidak ada yang di antara keduanya. Ia hanya merasa merana.
*
“Kau terlihat kacau, Non.”
Laki-laki itu datang lagi saat perempuan itu hendak mengunci bilik loketnya. Bersetelan rapi dan gaya. Menguarkan aroma yang membuatnya terpana. Mendadak ada yang menyala-nyala di dalam dirinya, padahal ia mengira bara di dalamnya sudah mati. Mati sejak tiga luka tertoreh di pipinya yang dulunya pualam. Mati sejak ia harus berpindah-pindah menghindari razia petugas moral. Ia hanya punya tubuh yang indah. Maka ia menjualnya.
Petugas-petugas itu beberapa pelanggannya. Mereka yang mengisikinya untuk segera pindah jika ia berdiam terlalu lama. Ia berpindah. Melompat dari satu sarang ke sarang lain. Sampai ia lelah, lalu menyerah. Perempuan itu lantas mendatangi rombongan pasar malam yang hendak membuka acara mereka. Mengemis kepada pemiliknya. Lagi-lagi ia bersiap harus menjual tubuhnya, namun, pemilik pasar malam itu berbudi. Laki-laki itu memberinya tumpangan, memberinya makan, memberinya atap untuk berlindung. Syaratnya, perempuan itu harus bekerja padanya. Menjual karcis saja. Jangan menjual yang lainnya. Perempuan itu patuh.
Ia tidak lagi menjual tubuhnya. Ia berhubungan dengan siapa saja yang ingin bercumbu dengannya. Tanpa harga.
“Non.”
Laki-laki itu masih di sana. Entah berapa lama benaknya berkelana. Melupakan laki-laki yang kedatangannya terlalu larut untuk bercengkrama.
“Sebentar lagi kami tutup, tuan.”
Dari kejauhan perempuan itu melihat lampu bianglala tak lagi menyala, sementara tenda-tenda mulai meredupkan cahayanya. Para pekerja mulai terlihat hilir mudik membongkari wahana. Kuda-kuda karusel terlihat muram tanpa penunggangnya, temaram cahaya membuat catnya yang mulai terkelupas berubah bersepuh kelam serupa malam.
Laki-laki itu mengulurkan rokoknya, rokok putih mint khas kaum borjuis. Perempuan itu menggeleng, ia lantas memantik api pada lintingan yang telah dikepitnya di antara telunjuk dan jari tengah.
“Sudah ada.”
Laki-laki itu megernyit memandangnya.
“Tembakau saja?”
Perempuan itu tertawa.
“Ditambah sejumput daun dari surga untuk sekeping tawa, tuan. Mau mencoba?”
Laki-laki itu tersenyum, mendekatkan wajahnya ke arah perempuan, melekatkan tubuhnya di box besi yang berfungsi sebagai loket. Mereka saling memandang, hanya terhalang sekat kaca. Hanya ada lubang setengah bundar tempat perempuan itu biasa mengangsurkan karcis kepada pembelinya.
“Sudah mau tutup, Non. Jalan denganku, sebentar?”
Perempuan itu melayang di sisi sang laki-laki. Malam itu bulan bundar sempurna.
*
Malam itu bulan bundar sempurna, tapi laki-laki itu hanya menyisakan satu pertanyaan yang menari di kepalanya.p
“Kamu mau itu, Non?”
“Itu?”
“Lebih baik dari lintingan ganjamu.”
Perempuan itu melepas kemejanya, beberapa pekerja yang masih sibuk hilir mudik membongkari wahana membelalak ke arah sepasang buah ranum yang menggantung di dadanya.
“Aku mau, ini.”
Perempuan itu menuntun lelaki itu menelusup tubuhnya, menekannya di tempat ia ingin disentuh, dan betapa herannya ia saat lelaki itu justru menepiskan tangannya.
“Bukan itu, Non. Ini, ambillah.”
Laki-laki itu memberinya sebungkus sesuatu. Ia bisa menghirupnya dan terbang sesudahnya. Terbang. Tanpa kendali.
Perempuan itu memungut kemejanya, lalu berlari menuju tenda tempat ia biasa rebah dan memejam mata. Ada yang retak di kedalaman dirinya. Ia belum pernah ditolak sebelumnya.
*.
“Bagaimana, non? Mau itu?”
Laki-laki itu ternyata mengejarnya. Berdiri di luar tenda dengan tangan terlipat di dada, dan kemeja yang digulung hingga siku.
“Tuan tahu betul apa yang saya mau.”
Laki-laki itu berlalu. Perempuan itu mengejarnya.
“Ya, Tuan. Kenapa bahkan tidak bertanya siapa nama saya?”
“Tidak perlu, semakin sedikit saling mengenal, semakin baik, Non. Mau berapa?”
“Saya cuma punya tubuh saya, tuan. Dan saya sudah punya ganja.”
“Ambil saja. Cuma-cuma.”
Laki-laki itu melempar bungkusan yang isinya bisa membuat perempuan itu gila. Atau bahagia.
Perempuan itu ternganga.
“Nama saya Shoka, tuan!”
Laki-laki itu hanya melambai dari kejauhan. Punggungnya menjauh, malam yang rakus dan penuh rahasia menelannya perlahan-lahan hingga hanya jejak kakinya yang tersisa.
Perempuan itu terduduk. Ada yang menyerbu kepalanya. Ada panas yang terasa membakar dirinya. Menggenangkan air mata hingga tumpauh, meruah mengaliri eajahnya.
Pernah ada perempuan lain dengan cakar besi menindih badannya, memaksa mencicip buah molek yang baru tumbuh di dadanya. Merobek-robek kembang yang baru saja mekar di selangkangannya. Rakus. Rakus. Ia menangis, menjerit melawan sekuat tenaga. Namun cakar itu lebih kuat. Dan tajam. Dan mencabik wajahnya. Menyisakan luka codet tiga baris dari pipi menuju ke bibirnya. Ia hina. Ia terhina. Ia lalu lari, sejauh-jauhnya dari perempuan bercakar besi yang menetap di tempat yang dulunya ia tinggali bersama kakak lelakinya yang lembut. Dan penyayang. Dan beristri perempuan dengan cakar besi di tangannya. Dari situ ia belajar, tubuhnya adalah harta yang berharga karena perempuan itu bahkan ingin menjarahnya.
Dari situ ia belajar menggunakan tubuhnya. Menjumput api dan menaruhnya di rambutnya. Menyulut hasrat siapa saja yang memandangnya. Dengan itu, ia memiliki dunia.
Perempuan itu tergugu, sebungkus penawar telah tergeletak di samping kakinya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak berharga, dan ia terlalu jauh, terlalu jauh ia telah terluka… .

Iklan