Ashoka dan Api yang Membakar Kepalanya

Perempuan itu memiliki rambut sewarna api, api paling membara bagi siapa saja yang telah meilhatnya. Api yang bisa menyulut hasrat paling dalam di dada manusia. Laki-laki. Perempuan. Bahkan yang berada di antaranya. Atau, yang bukan sama sekali di antara keduanya.
Perempuan itu membiarkan saja mahkota yang disungginya itu basah, mengkilat, dan terasa memanggil, terus menari-nari. Dan makhluk lain yang melihatnya akan menelan hasrat mereka yang mendadak membuncah, lalu tergesa-gesa untuk memadamkan gairah yang mendadak rekah. Susah payah mereka meredamnya. Karena, apa yang dibangkitkan api di dalam rambut perempuan itu adalah keinginan sejati mereka yang menapakkan kaki di dunia.
Ia meliukkan tubuhnya, bahunya berguncang seiring kakinya menapak langkah, ia membawa serta kunci yang bergemerincing di lengannya. Perempuan ini memiliki bahu melengkung khas perempuan yang tidak pernah berlatih beban. Tubuhnya kurus dengan tulang-tulang selangka yang menonjol. Sepasang matanya berbinar-binar meskipun ia tidak pernah mengerti kenapa mata itu terus berbinar, sementara api di hidupnya sudah padam, bahkan sebelum sempat bara itu menggeliat.
BUKA
Ia membalik tulisan yang telah lusuh dan coreng-moreng di dinding luar loket berwarna biru yang anak-anak kuncinya bergemerincing di lengannya. Orang-orang mulai mengedip padanya, berjejalan, berdesak-desakan, beringsut menuju ia yang kini duduk di ruangan loket yang sarat aroma besi dan tembakau. Panas. Panas sekali di dalam sini. Ia ingin mengikat api yang berkibar di rambutnya. Namun ia sedang sangat ingin bercumbu dengan sesuatu. Seseorang. Beberapa orang. Siapa saja.
Perlahan, ia menyulut rokok lintingan yang selalu terselip di telinganya.
“Lima ribu satu orang.”
Suara perempuan ini dalam dan serak. Sesekali ia terbatuk, namun asap masih zaja mengepul dari balik bibirnya.
“Anak-anak juga lima ribu. Sama.”
Keringat menetes di tengkuknya. Asap memenuhi pandangannya. Orang-orang masih berdesakan. Berjubel-jubel di hadapannya. Hari pertama sirkus itu buka di Kerta Maya. Hari pertama pula ia menjual sesuatu selain tubuhnya.
*
“Berapa?”
Hari sudah terlanjur jauh menuju larut, namun laki-laki di depannya masih terlihat rapi, dan aroma parfum segar tercium dari badannya yang atletis. Perempuan itu memain-mainkan ujung rambutnya. Memilinnya. Memuntirnya. Ada yang bergejolak di dirinya. Hasratnya membuncah. Hasrat yang mulai padam akibat keringat dan asap yang membelit tubuhnya seperti jaring laba-laba itu menggelegak, meletup-letup menuntut puas hingga tuntas.
“Lima ribu, tuan. Tapi hari sudah jauh malam. Sebentar lagi Gigir Perigi tutup.”
Laki-laki itu tersenyum, anehnya, terlihat begitu cemerlang di matanya.
“Ambil saja kembaliannya.”
Laki-laki itu berlalu.
Perempuan penjual karcis itu menggaruk pipinya. Tiga bekas luka melintang dari mata menuju dagunya, terasa gatal.
Siapa laki-laki itu?
Malam itu ia dipenuhi oleh hasrat yang terasa melimpah-limpah. Rambutnya basah oleh gairah. Jam di sakunya menunjukkan angka sebelas. Ada angin yang menggelitik tubuhnya, ia mengancingkan kemeja flanel merah yang dikenakannya. O, betapa ia ingin rapat. Betapa ingin ia hangat. Hari itu ia menggerai rambutnya, namun tidak seperti biasanya, di mana banyak mata yang melempar ingin ke dadanya, di mana banyak desah yang ingin mampir ke telinganya, hari itu tidak. Tidak ada yang meliriknya meski ia mengibarkan rambutnya yang sewarna api. Tidak ada yang menginginkannya sebesar ia menginginkan mereka semua. Hanya ada laki-laki terakhir yang membeli tiketnya.
Ia teringat sebelum malam itu, ia bermimpi, ia telah bercumbu dengan seekor singa. Tubuh binatang itu liat di dalam dekapannya. Geraman buas yang menyeruak dari dalam dada hewan itu membuatnya menggeliat, membuatnya melenguh menderu-deru. Ia bermimpi cakar itu merobeki tubuhnya, dan dengan senang hati ia menyerahkan tubuh telanjangnya. Ketika taring sang Raja terbenam ke dalam kulitnya, ia terbangun, tersengal-sengal, lalu air mata memenuhi wajahnya. Tidak ada singa. Tidak ada laki-laki. Tidak ada wanita di sisinya. Tidak ada yang di antara keduanya. Ia hanya merasa merana.
*
“Kau terlihat kacau, Non.”
Laki-laki itu datang lagi saat perempuan itu hendak mengunci bilik loketnya. Bersetelan rapi dan gaya. Menguarkan aroma yang membuatnya terpana. Mendadak ada yang menyala-nyala di dalam dirinya, padahal ia mengira bara di dalamnya sudah mati. Mati sejak tiga luka tertoreh di pipinya yang dulunya pualam. Mati sejak ia harus berpindah-pindah menghindari razia petugas moral. Ia hanya punya tubuh yang indah. Maka ia menjualnya.
Petugas-petugas itu beberapa pelanggannya. Mereka yang mengisikinya untuk segera pindah jika ia berdiam terlalu lama. Ia berpindah. Melompat dari satu sarang ke sarang lain. Sampai ia lelah, lalu menyerah. Perempuan itu lantas mendatangi rombongan pasar malam yang hendak membuka acara mereka. Mengemis kepada pemiliknya. Lagi-lagi ia bersiap harus menjual tubuhnya, namun, pemilik pasar malam itu berbudi. Laki-laki itu memberinya tumpangan, memberinya makan, memberinya atap untuk berlindung. Syaratnya, perempuan itu harus bekerja padanya. Menjual karcis saja. Jangan menjual yang lainnya. Perempuan itu patuh.
Ia tidak lagi menjual tubuhnya. Ia berhubungan dengan siapa saja yang ingin bercumbu dengannya. Tanpa harga.
“Non.”
Laki-laki itu masih di sana. Entah berapa lama benaknya berkelana. Melupakan laki-laki yang kedatangannya terlalu larut untuk bercengkrama.
“Sebentar lagi kami tutup, tuan.”
Dari kejauhan perempuan itu melihat lampu bianglala tak lagi menyala, sementara tenda-tenda mulai meredupkan cahayanya. Para pekerja mulai terlihat hilir mudik membongkari wahana. Kuda-kuda karusel terlihat muram tanpa penunggangnya, temaram cahaya membuat catnya yang mulai terkelupas berubah bersepuh kelam serupa malam.
Laki-laki itu mengulurkan rokoknya, rokok putih mint khas kaum borjuis. Perempuan itu menggeleng, ia lantas memantik api pada lintingan yang telah dikepitnya di antara telunjuk dan jari tengah.
“Sudah ada.”
Laki-laki itu megernyit memandangnya.
“Tembakau saja?”
Perempuan itu tertawa.
“Ditambah sejumput daun dari surga untuk sekeping tawa, tuan. Mau mencoba?”
Laki-laki itu tersenyum, mendekatkan wajahnya ke arah perempuan, melekatkan tubuhnya di box besi yang berfungsi sebagai loket. Mereka saling memandang, hanya terhalang sekat kaca. Hanya ada lubang setengah bundar tempat perempuan itu biasa mengangsurkan karcis kepada pembelinya.
“Sudah mau tutup, Non. Jalan denganku, sebentar?”
Perempuan itu melayang di sisi sang laki-laki. Malam itu bulan bundar sempurna.
*
Malam itu bulan bundar sempurna, tapi laki-laki itu hanya menyisakan satu pertanyaan yang menari di kepalanya.p
“Kamu mau itu, Non?”
“Itu?”
“Lebih baik dari lintingan ganjamu.”
Perempuan itu melepas kemejanya, beberapa pekerja yang masih sibuk hilir mudik membongkari wahana membelalak ke arah sepasang buah ranum yang menggantung di dadanya.
“Aku mau, ini.”
Perempuan itu menuntun lelaki itu menelusup tubuhnya, menekannya di tempat ia ingin disentuh, dan betapa herannya ia saat lelaki itu justru menepiskan tangannya.
“Bukan itu, Non. Ini, ambillah.”
Laki-laki itu memberinya sebungkus sesuatu. Ia bisa menghirupnya dan terbang sesudahnya. Terbang. Tanpa kendali.
Perempuan itu memungut kemejanya, lalu berlari menuju tenda tempat ia biasa rebah dan memejam mata. Ada yang retak di kedalaman dirinya. Ia belum pernah ditolak sebelumnya.
*.
“Bagaimana, non? Mau itu?”
Laki-laki itu ternyata mengejarnya. Berdiri di luar tenda dengan tangan terlipat di dada, dan kemeja yang digulung hingga siku.
“Tuan tahu betul apa yang saya mau.”
Laki-laki itu berlalu. Perempuan itu mengejarnya.
“Ya, Tuan. Kenapa bahkan tidak bertanya siapa nama saya?”
“Tidak perlu, semakin sedikit saling mengenal, semakin baik, Non. Mau berapa?”
“Saya cuma punya tubuh saya, tuan. Dan saya sudah punya ganja.”
“Ambil saja. Cuma-cuma.”
Laki-laki itu melempar bungkusan yang isinya bisa membuat perempuan itu gila. Atau bahagia.
Perempuan itu ternganga.
“Nama saya Shoka, tuan!”
Laki-laki itu hanya melambai dari kejauhan. Punggungnya menjauh, malam yang rakus dan penuh rahasia menelannya perlahan-lahan hingga hanya jejak kakinya yang tersisa.
Perempuan itu terduduk. Ada yang menyerbu kepalanya. Ada panas yang terasa membakar dirinya. Menggenangkan air mata hingga tumpauh, meruah mengaliri eajahnya.
Pernah ada perempuan lain dengan cakar besi menindih badannya, memaksa mencicip buah molek yang baru tumbuh di dadanya. Merobek-robek kembang yang baru saja mekar di selangkangannya. Rakus. Rakus. Ia menangis, menjerit melawan sekuat tenaga. Namun cakar itu lebih kuat. Dan tajam. Dan mencabik wajahnya. Menyisakan luka codet tiga baris dari pipi menuju ke bibirnya. Ia hina. Ia terhina. Ia lalu lari, sejauh-jauhnya dari perempuan bercakar besi yang menetap di tempat yang dulunya ia tinggali bersama kakak lelakinya yang lembut. Dan penyayang. Dan beristri perempuan dengan cakar besi di tangannya. Dari situ ia belajar, tubuhnya adalah harta yang berharga karena perempuan itu bahkan ingin menjarahnya.
Dari situ ia belajar menggunakan tubuhnya. Menjumput api dan menaruhnya di rambutnya. Menyulut hasrat siapa saja yang memandangnya. Dengan itu, ia memiliki dunia.
Perempuan itu tergugu, sebungkus penawar telah tergeletak di samping kakinya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak berharga, dan ia terlalu jauh, terlalu jauh ia telah terluka… .

SEPEREMPAT: Tentang Suatu Masa

Suatu masa yang telah mati karena laju waktu tidak pernah mengenal mati.

Masa itu datang seperti hantu. Mengendap-endap tanpa suara, lesap di dasar kepala. Menggumpal abu-abu, lalu beranjak terang. Terang yang justru menjadikannya lebih gelap daripada abu-abu. Gaungnya selalu memenuhi gendang telingamu hingga mendengung. Hingga berdenging. Hingga kau tak tahan lagi.

Lalu kau muntah.

Muntah serapah.

Aku tidak percaya lagi padamu!

Kau tahu, mendung telah berpindah ke dalam mataku?

Hantu-hantu yang mencengkerammu dengan cakar yang melengkung dan berbulu

Suatu hari, aku mendengar gemuruh dari dalam kepalamu. Gemuruh itu, melompati sepasang matamu dengan kilat yang membuatku buta seketika.

Kilat itu terlalu tajam.

(Membuat aku ingat pada cakar yang masih mencengkeram isi kepalamu.)

Gemuruh itu, berdentum-dentum saat aku melihat mata –milikmu, yang sedang menatap aku.

Apa yang kau lihat dari dalam sana?

Aku melihat semesta di dalam mata itu –mata milikmu.

Semesta yang sama, yang telah lama kuberikan padamu. Semesta yang benderang sebelum masa Kejatuhan.

(Aku akan menceritakan Kejatuhan setelah ini. Jangan terperangkap garis waktu ceritaku.)

Aku masih melihat semesta itu di sana. Setidaknya, aku berharap semesta itu ada, dan aku akan menetap selamanya.

Namun, goresan cakar-cakar hantu di kepalamu itu, terus mengoyakkan aku di malam-malam hening. Cakar-cakar itu, ingatlah, mereka melengkung, dan berbulu. Mereka menangkap ingatan-ingatanmu. Memenjarakannya di bawah cengkeraman para hantu.

Ingatlah sesuatu, para hantu tidak mengenal usai. Apa yang kau lihat dari sepasang mata milikmu?

Kejatuhan yang Membusukkan Waktu (setiap mengingat ini, aku harus kembali menambali lubang-lubang di dalam dada)

Meminjam tangan waktu, aku kembali membawamu ke dalam Kejatuhan. Bintang timur menggoda engkau sedemikian -pijarnya, sungguh menyesatkan!

Aku kehilangan engkau. Engkau, menghilangkan aku. Lalu aku membusukkan waktu. Membuatnya terengah-engah. Mencekiknya hingga habis pongah.

Saat itu, ada satu jangkrik yang terus melubangi telingaku. Membuatku beralih dari jalan, yang saat menitinya hanya membuatku pedih. Dan aroma waktu saat itu, begitu amis. Nanah memancur dari liang-liang kepedihan yang kupancung. Seharusnya mereka mati saat aku memenggalnya.

Aku lupa, aku tidak mendaraskan mantra agar kepedihan tetap bersemayam dengan tenang di alam baka.

Akibatnya, aku harus menutup kedua mata, dan hidung, dan telinga, dan, lidahku mengikuti suara jangkrik.

Krik.

Kamu tidak berguna.

Krik.

Kamu tidak cukup berharga.

Krik.

Aku memelihara jangkrik itu. Mengikuti suaranya. Namun, aku telah membusukkan waktu, bukan? Saat aku memberikan racun kepada waktu, cairan itu memercik ke dalam dadaku. Membusukkan isi di dalamnya. Aku hampir bukan manusia. Aku tumpul. Tanpa rasa.

Kurasa, kamupun terpercik racun itu. Kamupun membusuk di dalamnya.

Lalu, krik.

Jangkrik itu menikamku di hadapanmu, tepat saat engkau kembali menemukan aku.

Memotong-motong tubuhku hingga kaku.

Dan, krik.

Siulan terakhirnya, memenjarakan aku di dalam lubang yang lebih buruk. Lebih busuk.

Namun, kamu telah menemukan aku, yang sedang mencari kamu.

Ini tanganku, mari kita makamkan Kejatuhan. Aku telah memesankan nisan berulir untuknya. Namun kali ini, jangan lepaskan tanganku.

Prasangka-prasangka yang tertinggal dan membikin huru-hara

Para hantu bahkan masih berdiam dan menancapkan cakarnya di dalam sana. Lalu ada asap di kepalamu. Membuatmu tersedak hingga batuk-batuk tiap mengingatku. Para hantu, dengan setia masih membisikkan ingatanmu lewat cakar-cakar mereka.

Tubuhmu terpancang. Kepalamu dicincang. Asap dan hantu bekerjasama mengoyakkan kamu. Kaki-kakimu terasa seperti dilumuri timah, lengket dan berat. Bibirmu disulamkan sedemikian rapat, dan siapapun yang menyulamnya -entah hantu entah asap entah dirimu- meninggalkan jarumnya menggantung begitu saja.

Jarum yang akan menusuk aku setiap engkau mengeluarkan satu suara. Suara yang berhubungan dengan Kejatuhan. Suara yang ditajamkan para hantu yang menggasak kepalamu. Suara yang digelapkan asap-asap yang bernama prasangka.

Namun, tahukah engkau, bahwa aku telah menanggung pedih yang lebih, selain suara yang memiliki ujung jarum yang menusuki aku?

Atau suara-suara gelap yang hampir membuatku kehilangan aku, karena tidak mampu kehilangan kamu?

Benar. Aku akan menanggung semuanya hingga habis. Hingga para hantu melepaskan cakar mereka pada ingatanmu. Hingga para asap memudar di dalam kepalamu.

Seperempat Abad Menghidu Udara, Selamat Merayakannya

Tidak seperti kisah kebanyakan yang manis, dan hanya membuat gigimu terkikis, aku menuliskannya dalam gelap yang meraba-raba.

Aku menuliskannya dengan gemetar, karena dari sekian masa yang pernah terhampar, aku memilih masa paling paceklik, paling krisis, masa di mana seperempat perjalananmu meniti usia.

Namun di tahun ke delapan tangan kita bergandengan, terang melingkupi kita dari segala penjuru. Hangat memancar dari orang-perorang-seseorang-banyak orang, mengikat kita dari simpul mati, menjadi simpul sangat mati. Tidak akan terpisah, sekuat apapun ikatan itu hendak diburai.

Aku tersenyum memandang jemari kiriku. Jari manis, tepatnya. Lihatlah ke sana, ke arah jari milikmu. Jari manis sebelah kiri, masihkah para hantu, dan para asap mengerubungimu?

Jika masih, adalah jawabannya, aku tidak akan mengatakan apapun lagi.

“Jangan biarkan mereka mengusikmu. Percayalah pada… .”

Isilah sendiri sesukamu.

Kamar Sepi, 6 Juni 2013,

PS. Aku sengaja menuliskannya di tempat terbuka. Kulengkapi dengan aksara melintang-lintang, tidak terbaca, dan terkunci. Tidak ada yang bisa membaca “aku” seperti kamu. Selamat merayakan kelahiran, Semestaku.

Negeri Oranye

Aku menemukannya dengan tidak sengaja. Almanak itu tergeletak dengan debu yang menutupi permukaan sampulnya yabg terbuat dari kulit berwarna cokelat yang terlihat lusuh, bahkan ujung-ujungnya bolong-bolong, pertanda telah termakan ngengat. Sepertinya ia tergolek bisu di dalam laci ketiga lemari tua peninggalan Mama ini sudah cukup lama. Lama sekali, barangkali. Sejak almarhumah dikebumikan  bertahun yang lalu, aku tidak pernah menjamah kamar beliau. Aku membiarkan kamarnya menjadi museum yang tidak pernah terjamah. Bahkan aku tidak pernah memasukinya sekedar untuk membuka jendelanya. Namun, hari ini terpaksa aku harus membersihkan kamarnya yang terasa angker, karena begitu gelap, pengap, dan dipenuhi debu serta sarang laba-laba akibat bertahun-tahun dalam pembiaran
Begitupun bertahun sebelumnya saat beliau masih bugar, dan bukan merupakan mayat perempuan yang kisut dengan bibir yang tertekuk ke bagian bawah. Astaga, bahkan saat mangkat pun beliau masih terlihat begitu pemarah.

Namun, sepuluh tahun kemudian setelah beliau wafat, aku membuka kenop pintu yang terasa dingin di tanganku. Menyalakan lampu, dan terhenyak. Mama, maaf. Aku menuju ke arah lemari, membukanya. Menemukan pakaian-pakaian Mama yang telah menguning karena jamur, lalu di laci yang letaknya tiga tingkat di bawah tumpukan pakaiannya, rahasia Mama itu menampakkan dirinya. Mama tidak suka lemari yang mengharuskannya menggantung baju-baju, ia memilih lemari dengan tingkap-tingkap kayu sebagai penyekat dan dipenuhi dengan laci-laci yang terkunci. Ada tiga laci, aku menghitung. Satu, kosong. Dua, berisi akte-akte dan surat penting lainnya. Tiga, almanak yang terasa berat.

Ujung-ujung jemariku terasa tersengat listrik saat membuka lembar-lembar halaman almanak yang berbau apak itu, lengkap dengan kertas yang menguning dan terlalu rapuh. Tulisan tangan Mama terlihat bersilang-silang di atas penanggalan yang telah dibuatnya sendiri dengan rapi.

20 Maret 1923.
Jedediah Amzi. Suami yang menyenangkan. Seharusnya aku bahagia.

18 April 1924.
Marie Absalome.
Aku harus memanggilnya istri Jedediah. Ah. Akulah Marie Absalome. Nama yang aneh.

27 Mei 1950.
Miriam Amzi. Anak perempuan pertama. Mata biru lautnya membuat siapa saja ingin berenang di kedalaman matanya.

17 September 1955.
Negeri Oranye. Sungguh sebuah negeri yang membuat lupa siapa saja yang memasukinya.

Dahiku mengerut membaca tulisan tangannya. Sudah lama aku tahu bahwa Mama telah membuat kalendernya sendiri, meskipun aku tidak pernah diijinkan membaca isinya selain lembar pertama seperti yang baru saja kubaca. Kalender Mama hanya berisi tahun-tahun kelahiran orang-orang terdekatnya. Papa menertawai Mama dengan alamanak yang terus menerus dibawanya di dalam tas kulit imitasinya yang berwarna cokelat, sementara Mama yang memang pemarah, hanya akan menekuk bibirnya ke bawah sambil menggerutu. Kedua orang tua itu memang tidak pernah berhenti saling menertawai. Tunggu, Negeri Oranye?

**

Ia merasakan panas yang membakar bola matanya. Jemarinya bergetar saat menggoreskan pena ke buku tebalnya yang bersampul kulit. Banyak penanggalan yang telah ia tuliskan di sini. Kelahiran suaminya, kelahiran dirinya sendiri, kelahiran putrinya, dan kemunculan sebuah negeri yang ingin benar ia tinggal di dalamnya.

Sore itu matahari berwarna jeruk, berwarna oranye, terang sekaligus hangat. Ia memeluk dadanya yang ringkih, mengawasi putrinya yang baru berusia lima tahun, yang sedang mengejar kelinci di halamannya yang berumput. Ranting-ranting pohon oak yang menghitam membentuk cakar, menjulang dengan latar belakang langit yang oranye. Ia merasakan matanya panas, dan berair. Ia melihat lengkung cakar di ranting pohon, lalu awan membentuk segurat wajah yang muram, namun langit sangat cerah. Ia merasakan ada yang ingin disampaikan semesta kepadanya. Darah di dalam dirinya bergolak, sesuatu yang telah lama dikurungnya melesak, membuncah, menuntut keluar.

Tanpa berpikir ia melangkahkan kedua kakinya yang putih, mengindahkan bahwa ia sedang bertelanjang kaki, dan keliman di ujung gaun birunya mulai ternoda lumpur di jalanan yang masih berupa tanah lumpur.

Miriam. Masuk. Tunggu mama di dalam.

Gadisnya menoleh dengan pandangan ingin tahu, kaki-kali kecilnya bersiap berlari untuk mengejarnya yang sudah berada di luar pagar.

Miriam. Masuk!

Gadis kecil itu hanya menatap dengan pandangan ingin tahu, namun perintah ibunya membuatnya menjadi kerdil, ia pun berlari, lalu membanting pintu. Tanpa menoleh ke arah ibunya yang telah kembali berjalan seperti orang linglung.

Perempuan itu menelengkan kepalanya, menangkap suara-suara yang bergema di dalam kepalanya. Sementara langit berangsur memadamkan warna oranye yang hangat, perlahan menggantinya dengan hitam yang menyepuh semua warna menjadi abu-abu.

Ia merasa sangat aneh, bahwa sore tidak terasa seperti biasanya, dan malam lebih dingin daripada seharusnya. Ia melihat banyak yang bergerak di bawah bayang-bayang pohon palem, ada yang melata di atas batang akasia, dan jalan lumpur yang mengotori keliman gaunnya terasa semakin membenamkan kakinya.

Aneh.

Seharusnya jalanan tidak terasa lembek karena mataharu musim panas mengeringkan air di dalam lumpur.

Aneh.

Aneh.

Ia terus berjalan, dengan riuh yang hampir memekakkan kedua telinganya, hatinya terus bertanya-tanya. Sudah lama kepalaku sepi. Mengapa hari ini muncul riuh di dalam sini. Mengapa sore ini intuisi muncul kembali.

Ia mencengkeram erat almanak yang masih dipegangnya, dan penanya telah lama terjatuh. Entah.

**

20 Maret 1923 – 20 Sep 1955.
Requiem in Peace. Jedediah Amzi.

Negeri itu hanya berwarna oranye jeruk, serupa sore yang aneh saat intusiku kembali berteriak. Untuk pertama kalinya aku berteriak kepada Miriam, gadis kecil yang malang. Kedua kakiku terasa kisut akibat terendam lumpur begitu lama. Sore yang aneh. Sangat aneh. Lebih aneh karena tepat tiga hari selanjutnya Jedediah meninggal. Dia hanya.. meninggal begitu saja. Negeri Oranye, ah Negeri Oranye!

Aku masih bisa membayangkan aroma kamperfuli yang menyenangkan berpadu dengan aroma lembut verbenna di Negeri Oranye. Dan sore itu aroma madu bercampur susu dari kue-kue madeleine mengambang di udara. Surga yang menyenangkan. Surga yang entah… .

Mama menyukai aroma kamperfuli, dan mengoleksi ratusan pot verbenna di bawah jendela kamarnya. Ingatanku menerawang, sudah lama ia tidak memasak kue madeline, seketika harum madu bercampur susu mengambang di kamar yang pengap itu. Aku menarik kait jendelanya yang terbuat dari kayu, membiarkan udara masuk dan mengusir segala macam aroma masa lalu yang selalu membuatku tersengat. Almanak Mama lebih dari sekedar penanggalan, lebih dari sekedar yang ia ceritakan padaku saat aku bertanya.

Mama, ceritakan padaku lagi, semuanya.

Sore itu langit berwarna oranye jeruk, harum madu bercampur susu lamat-lamat mengambang, bercampur aroma verbenna yang telah lama kering dan busuk di bawah lengkung jendelanya.

**

Berhati-hatilah karena hidup bisa sangat kejam. Ia menggoreskan penanya ke atas almanaknya yang bersamlul kulit. Ia berkeras bahwa buku yang selalu dibawanya adalah sebuah jurnal kejadian. Bukan berupa diary yang berisi keluh-kesah segala sesuatu seperti perempuan tua. Ia melirik suaminya yang tampak kekenyangan di kursi makan, saus mentega masih meninggalkan jejak di bibirnya hingga membuatnya berkilat. Putri mereka mendengkur halus di sofa bundar tak jauh dari tempatnya menulis.

Masakanmu enak, Marie. Sayang Miriam masih terlalu kecil untuk bisa mengunyah daging kalkun saus mentegamu yang terasa alot.

Perempuan itu hanya mendongak sekilas dari almanaknya, lalu tersenyum. Namun ia menggeleng saat Jedediah memberinya isyarat untuk mengikutinya ke arah kamar.

Marie, ayolah.

Perempuan itu menggeleng. Lalu ia beranjak untuk menggendong Miriam di satu lengannya, lengan lainnya memeluk almanaknya yang berharga.

Tidurlah, Jedediah. Aku akan menemani Miriam.

Laki-laki itu menggelengkan kepalanya yang berambut sewarna tembaga lalu menggumam.

Kau lebih sayang almanakmu rupanya.

Marie Absalome menutup pintu kamar Miriam perlahan. Sepelan ia menutup pintu hatinya kepada Jedediah.

**
1 Juli 1950.
Suara-suara.

Perempuan itu bodoh, laki-laki itu berujar kepada satu rekannya di bar murahan di ujung jalan. Wajahnya memerah dan titik-titik keringat bermain di dahinya.

Bodoh, karena ia melahirkan perempuan lainnya yang pasti juga sama bodoh dengannya.

Tapi bukankah sama saja perempuan dan laki-laki. Rekannya yang ternyata perempuan itu menanggapi dengan mata yang berkedip licik. Perempuan yang itu mengenakan celana panjang ketat yang tidak pantas dan atasan dengan belahan dada yang terlalu rendah.

Kau tidak mengerti adat bangsawan, ya? Harus ada anak laki-laki di dalam sebuah keluarga.

Laki-laki itu kembali menenggak rum yang berbuih di gelasnya dengan pandangan yang tidak beralih dari wajah rekannya. Lalu satu tangannya merambat di tubuh rekannya yang perempuan yang tidak pantas itu. Dari paha. Lalu naik ke pangkal paha. Menggeseknya pelan. Lalu ke atas perut, mengusapnya. Kemudian dada. Meremasnya.

Buih di dalam rum itu berpindah ke dalam kepalaku. Mendidihkannya. Bar terkutuk. Laki-laki bajingan.

18 April 1951.
Kelahiran yang berulang.

Selamat berulang tahun yang ke dua puluh tujuh.

Suaminya membelikannya sebuah pot berisi verbenna, sama seperti tahun-tahun yang sebelumnya. Ditambah dengan pelukan yang segarusnya sama hangat, namun ciumannya kini terasa anyir berbau kebohongan.

Kenapa kau tidak tersenyum, Marie? Ini ulang tahunmu bukan? Kita rayakan dengan.. misalnya.. hmm.. bagaimana dengan memanggang kue? Madeleine? Kita berdua menyukai kue madu itu.

Perempuan itu menggeleng.

Bukannya aku bodoh karena melahirkan anak perempuan yang juga akan menjadi bodoh seperti aku?

Astaga dari mana kau bisa berpikiran seperti itu?

Suara suaminya terasa menusuk kedua lubang di telinganya. Mrnghunjam bebas ke dalam hatinya.

Aku mendamba anak lelaki, benar. Kita bisa mencobanya, bukan?

Lalu senyum lelaki itu mengembang, membuat perempuan itu ingat pada matahari sore, yang membuatnya jatuh cinta pada lelaki yang memiliki hangat yang sama.

Perempuan itu bodoh. Buih-buih rum yang mendidihkan kepalanya lesap saat kedua tangan kekar itu mengusap tubuhnya.

Hangat. Ia merasa hangat.

**

Mataku tidak berhenti berair dan ujung jariku serasa teraliri listrik saat menyentuhnya. Ruangan masih dipenuhi aroma madu dan susu. Aku kembali menggali dalam benak, seingatku mama hanya berbau kamper dan memasang muka muram sepanjang hari. Madu dan susu sempat tercium dari tubuhnya kala ia bahagia. Atau setelah ia memanggang Madeline. Aktivitas yang tidak pernah dilakukannya lagi semenjak… Ah! Semenjak ia membentakku, dan berjalan dengan linglung pada saat usiaku lima tahun.

Aroma madu dan susu semakin pekat, matahari menggantung seperti jeruk. Bundar, dan oranye. Ranting-ranting oak tua yang terlihat dari jendela kamar terlihat seperti cakar. Ada wajah yang muram di dalam awan. Langit berwarna oranye terang. Cakar ranting oak terlihat hitam, mengancam. Aku melompati jendela, menggenggam almanak, mendekapnya. Berkali-kali kakiku terantuk batu-batu di halaman berumput yang kasar. Jalanan sudah berupa aspal yang terasa keras di kakiku yang telanjang. Udara sarat aroma masa lalu. Berat. Sangat berat. Aku bisa melihat diriku berusia lima tahun sedang melompat-lompat mengejar kelinci. Dan aku melihat Mama dengan rambut hitam yang berkibar dan gaun yang keliman di ujungnya terkena noda lumpur. Ia berjalan dengan linglung. Menengadah, menengok ke kanan lalu ke kiri. Lalu kembali ke kanan. Lalu ia berjalan lurus.

Almanaknya terjatuh. Angin membuka lembarannya. Mataku terpaku.

17 September 1955.
Negeri Oranye

Perempuan itu tiba di sebuah negeri berwarna oranye setelah pekat membutakan matanya. Kedua kakinya terasa kisut karena terendam lumpur. Ia tidaj tahu sudah berjalan seberapa lama. Intuisinya hanya menuntutnya untuk terus bergerak. Sementara bayangan-bayangan terus menggeliat-geliat di bawah pancaran mulam rembulan.

Negeri itu hanya berupa sebuah padang dengab banyak lentera yang tersangkut di dahan-dahan. Bahkan bulan yang biasanya angkuh kepucatan terlihat begitu semarak dan hangat. Ia menari-nari, berputar dari satu pohon ke pohon lain. Menyentuh batangnya yang empuk, dan dengan iseng menjilatnya. Rasa madu memenuhi rongga mulutnya membuatnya terbelalak.

Oh sungguh negeri yang menyenangkan. Bolehkah aku mengajak seseorang?

Ia mendengarkan dengan takzim dan tidak ada yang menyahuti suaranya.

Ia menjawili lentera-lentera yang memancar cahaya oranye lembut. Sudah sejak lama ia menyukai warna oranye. Senja. Jeruk. Madu. Kue madeline.

Ia merasa kembali ke kanak-kanaknya yang terasa surga. Saat sore, selalu, ayahnya yang mencangklong pipa tembakau di bibirnya akan mendongengkannya tentang raja-raja, dan ibunya yang bertahi lalat di bawah bibir membuatkan mereka sekeranjang kue madeline yang hangat. Sorenya selalu hangat. Sorenya selalu bahagia.

Di sebuah sore yang hangat, ia juga bertemu Jedediah Amzi. Lelaki berlesung pipi yang hangat seperti matahari oranye di senja yang tidak pernah buruk.

Ia teringat Jedediah. Suaminya yang penyayang. Namun sesuatu mencubit hatinya, membuatnya berhenti menari dan mencelup jemarinya ke dalam pohon-pohon madu. Sesuatu itu mengepak di dalam hatinya. Intuisi yang selama ini disingkirkannya hingga hanya menjadi sebuah ilusi.

Di negeri oranye yang penuh lentera itu ia mendengar mendiang ibunya.

Marie, kita para perempuan Absalome terlahir dengan bakat bisa mengetahui isi hati. Kau akan selalu menemukannya jika ada yang menutupi.

Lalu negeri itu terjungkir balik. Ia terhisap ke dalam kumparan pekat yang menyesakkan dadanya. Malam kembali kelam dan abu-abu membutakan mata.

Di ujung jalan yang entah di mana, ia melihay sesosok bocah laki-laki mendengkur di dalam gendongan Jedediah. Dan perempuan yang tidak pantas itu meringkik di samping suaminya.

Mama. Kau bilang papa terkena serangan jantung? Mungkin malam saat aku mendengar kalian saling berteriak itu, kau mengatakan bahwa kau tahu?

Mama, bisakah kau percaya? Aku tiba di sebuah negeri oranye dengan bulan bersinar semarak dan lentera tergantung di dahan-dahan?

Aku melangkah, negeri itu berpendar oranye. Kayu-kayunya menguarkan aroma madu.

Kita perempuan-perempuan Absalome terlahir dengan bakat bisa mengetahui isi hati.

Suara itu terasa kering, seakan terpahat di udara yang terus mengambang aroma pekat madeline.

Lalu negeri itu terjungkir. Kakiku tergores-gores tanpa alas.

Malam kembali menyepuhkan abu-abu yang berbayang-bayang. Di sudut bar murahan, sesosok laki-laki mendengkur puas di atas dada perempuan yang tidak pantas.

Di kaki langit yang tidak memiliki warna selain kelam, ada sesosok perempuan. Di tangannya tergenggam sebuah jarum, dan segumpal benang telah ia hamparkan.

Di tangannya yang lain, sebuah gunting telah ia gerakkan, lalu terpotonglah kelopak itu. Kelopak yang seharusnya memekarkan kembang, memabukkan kumbang. Lalu terbukalah, tanpa penghalang suatu apa, sebuah pusat yang berbinar –dulunya.

Sepasang mata, ia berujar lirih, sepasang mata, terbukalah kini engkau.

Ia hirau akan pekat yang memerciki tubuhnya dengan anyir yang amis. Ia membendung badai yang bersiap menelannya, menguncinya di pangkal leher.

Sesungguhnya kesedihan tidaklah berarti apa-apa. Begitulah ia menggumamkan himnenya ketika gunting di tangannya memecah hening dengan suara melenting. Tangannya tidak bergetar saat mengumpulkan potongan-potongan kelopaknya yang terserak di lantai.

Namun hatinya remuk.

Hatinya remuk.

*

Jarum telah tergenggam di tangan kirinya, dan segulung benang telah ia hamparkan menutupi separuh lantainya.

Aku akan mulai menjahit.

Menjahit apa saja yang telah terbuka.

Ia mulai dengan katup yang bisa membuka – menutup – dan bersuara di wajahnya. Lalu ia menyasar lubang-lubang di tubuhnya.

Kepala. Dada. Selangkangan.

Kepala. Dada. Selangkangan.

Ia menusukkannya pelan-pelan. Menjahitnya rapat-rapat hingga lekat.

Badai hampir mencapai matanya. Mata yang kini terasa perih, karena tidak lagi mengenal gelap yang menentramkan. Ia tertawa melihat serpih-serpih kelopaknya.

Ini aku. Ini mataku. Ini tubuhku.

Sanggupkah kamu mengenalinya?

Perempuan Api

Sesuatu itu menggeliat dari dalam dada, merayap -merambat, perlahan namun pasti. Menghanguskan setiap yang dilewatinya. Dari dada hingga ke mata kaki. Dari dada hingga ke kepala. Meluluh-lantakkan segala rasa. Membakar logika. Membuat kepayang -lalu lupa. Sesuatu itu hanya meninggalkan sejumput arang yang kemudian mengabu di dada, membuatku mati rasa. Sesuatu itu… .

Ah, aku harus menceritakan padamu semuanya, terlebih dulu.  

Seperti dongeng, semuanya berawal dari suatu ketika. Ketika yang menandai suatu masa, ketika yang -entah, ditandai dengan angka-angka yang menjadi penanda. Waktu. Namun, kutegaskan padamu, dari aku yang telah kehilangan bentuk, makna, serta rasa, sehingga sebuah masa menjadi tidak terlalu penting untuk diingat kapan persisnya.

Sesuatu itu telah membakar segala penanda yang membuatku terikat dengan dunia. Aku melupakan sebutan angka penanda yang menyebutkan masa ketika itu.  Ketika itu, aku masih utuh. Belum tergenapi. Dan aku naif. Sangat naif.

Aku percaya aku adalah bagian dari semesta. Hamba dari semesta. Ketika itu adalah masa sebelum aku mengenal Ular. Benar, Ular adalah elemen lain dalam dongeng yang hendak kusampaikan kali ini. Bukan sebuah dongeng yang indah yang hendak kuceritakan, yang membuatmu terhanyut, hingga kau bersumpah ingin menjadi salah satu tokoh di dalamnya.

Namun, kisah ini hanya berupa sebuah dongeng penuh omong kosong yang mengubah Perempuan menjadi Penyihir Keji.  

Pada masa itu, aku bertemu dengan Ular, mungkin hanya berupa kebetulan. Mungkin memang jalan nasib yang tergenapi sendiri. Aku pada awalnya menanggapi derik -desisan Ular itu dengan setengah hati. Ia melata, bersisik, serta meninggalkan jejak meliuk-liuk di atas pasir. Jejak-jejak itu secara lantang mengungkapkan makna yang ingin ditinggalkan Sang Ular.  

“Ikuti, jika kau ingin mengetahui.”  

Sudah kukatakan bahwa saat itu aku naif bukan? Maka, aku dengan segala keingintahuan yang mungkin bersumber dari neraka itu sendiri, mulai melangkahkan kedua kaki bodohku, mengikuti jejak yang berulir-ulir itu. Jejak yang selalu abadi di atas pasir. Angin dan hujan tidak akan mampu menghapus jejak itu, Ular telah memantrainya, agar para manusia -aku, terpikat, dan mengikutinya. Terbukti, aku yang awalnya hanya ingin mengetahui, tergerak untuk mengikuti, kemudian menjadi abdi. Di dalam perjalananku mengikuti, aku berulang kali tersesat, menemukan, lalu kemudian tersesat sama sekali.  

Ular itu mendesis ke arahku, dan ia memberiku sebuah terang. Terang yang awalnya menyejukkan. Ia menjumputnya dari binar benderang matahari, lalu meletakkannya di dadaku. Saat aku tidak bisa menemukan ulir-uliran bekas badannya di jalan -entah pasir entah tanah, suaranya yang serak dan kering menyala di dalam kepalaku.  

“Nyalakan terang di dalammu. Engkau akau menemukan aku.”  

Namun aku melupakan bait lain dalam syair yang ia tinggalkan di kepalaku. Akibatnya, aku terbakar dalam jeda hening yang panjang. Aku terbakar, sesat, dan kegelapan semesta mengutukku hingga akhir -yang entah kapan.  

**

Ular memanggilku Perempuan Api, setelah meletakkan berkat -atau justru kutukan itu, di dalam dadaku. Berkat yang berupa terang dari benderang matahari. Kemudian setelah memberikannya, ia menghilang. Aku curiga ia lebur -luluh di kedalamanku, karena sesekali aku bisa mendengar suaranya yang kering di dalam kepalaku. Ia hanya akan muncul sesekali, saat aku menyalakan terang di dada, lalu meninggalkan goresan-goresan jejak berikutnya yang harus kuikuti.  

Aku berjalan dengan hati yang terus menyala-nyala, mencari satu jejak ke jejak berikutnya. Di dalam perjalananku, aku menemukan beberapa persinggahan. Persinggahan satu dengan yang lainnya tidak pernah berbeda. Semuanya memiliki pemantik yang dengan segera bisa menyalakan terang di dalam dada. Terang yang kemudian tak terkendali. Menjadi kobaran api yang hanya menyisakan abu pada akhirnya.

Aku tidak pernah tersadar, terang -sejumput api yang diberikan ular itu, kelak akan mengubahku menjadi sesuatu yang asing, menjadi penyihir. Penyihir yang bisa membakar apa saja yang dilewatinya, penyihir yang hanya meninggalkan Pencobaan  bagi yang disinggahinya.  

“Ikutilah iramaku, menari, dan terbakarlah bersamaku.”  

Syair bait itulah yang menjadi umpan di mata kail yang purba -ucapan manis dengan tubuh yang molek. Kemudian, persinggahan-persinggahan itu datang silih berganti kepadaku. Memagut, menelanjangi, meningkahi, saling silang. Membujur. Menjungkir balik. Tubuh koyak. Badan tercabik. Bibir berdarah. Bintang-bintang meledak. Dada berkobar. Nikmat. Nikmat yang entah.  

“Mari datang, cicipi aku. Akulah anggur di dasar cawanmu. Akulah perempuan, dengan api yang takkan pernah padam untuk membakar gelora di hatimu.”  

Aku tidak pernah menghitung berapa banyak yang telah singgah di badanku. Atau berapa banyak badan yang kusinggahi. Aku hanya tahu, Ular itu meninggalkan jejak-jejak di tempat-tempat yang kudatangi. Dan semuanya memiliki pemantik api. Semuanya mengobarkan terang di dada, semuanya bisa membakar logika. Kemudian aku mendengar Ular bersorak dari dalam kepala.  
“Nyalakan terang, nyalakan terang di dada. Engkau akan menemukan aku.”  

**

Aku tidak akan melupakan daging mereka yang setengah membusuk, saat kutinggalkan  Percobaan pada mereka. Mereka -para persinggahan itu, akan memohon kepadaku. Menyembah. Bersujud. Menekuk muka mereka untuk mencium bumi yang kujejaki. Memohon pengampunan. Pembebasan.

Mereka membutuhkan api, agar terang ikut menyala di dada mereka. Mereka mengatakan mereka telah lama mati. Mereka mengisahkan, bahwa aku datang lalu menyihir mereka hingga bangkit lagi. Mereka lelaki. Beberapa perempuan. Beberapa bukan keduanya. Dan mereka semua mencintai terang -panas nyala api, yang kupelihara dari berkah Sang Ular.  

Pada masa itu, bukan saja aku telah tergenapi. Aku bukan perawan suci, namun tetap terberkahi. Api menyala terang di kepala. Membuat setiap yang memandang ingin lebur -mengabu bersamaku. Menari bersamaku. Meliat. Melata hingga luluh lantak. Mereka semua memuja, sementara aku mendesis dan mulai berbisa.  

Kemudian aku sadar sepenuhnya bahwa aku telah menjadi Penyihir.

Aku mulai bisa mengatur semesta. Aku bisa mengirim hujan -badai di setiap mata yang kusinggahi. Aku bisa mencipta kemarau di hati mereka yang kosong. Aku bisa menghidupkan – mematikan – menghidupkan – lalu membunuhnya berkali-kali. Semudah menekan klik-klik-klik pada saklar lampu.  

Akulah Penyihir.

Mengendalikan semesta. Menjadi pusat gravitasi. Menarik mereka untuk berotasi, mengelilingi aku. Akulah matahari. Akulah pemilik segala terang, panas, dan api. Segala yang berdekatan denganku akan merasakan gelora tiada tara, panas -menghebat, lalu luluh lantak! Mengabu! Yang tersisa hanya residu pembakaran.
Aku tertawa.

Memberikan Pencobaan, membebaskan Pengampunan. Dan aku terus menari, satu-satunya yang kulihat hanyalah merah. Api. Akulah merah. Akulah api. Ular tidak terlihat, namun jejak-jejak itu masih menyala di kepala.  

Kemudian. Masa itu datang.  

**

Ular mewujud kembali. Setengah berbisik, ia menelisik. Ragaku sempurna. Tawaku lengkung pelangi. Api masih menyala di dada. Namun, kemudian Ular hanya bertanya.  

“Siapa namamu?”  

Suaraku hanya tinggal tergelincir dari lidahku. Kata itu hendak melompat keluar. Namun kemudian aku lupa. Aku pernah ingat ia memanggilku Perempuan Api. Kemudian mereka memanggilku Penyihir. Namun aku tetap saja tidak bisa mengingat.  

Siapa namaku?  

Aku menyentuh Ular. Wujudnya sedingin es. Permukaannya semulus porselen. Wujudnya sedatar bidang persegi. Api berkobar di tubuhnya. Di dadanya sebentuk lubang meghitam, menyala-nyala. Sebentuk daging menghitam, berkerut, berubah menjadi arang. Sepersekian detik kemudian aku tersadar. Api itu memakan hati! Menyerakkannya menjadi abu! Aku menatap matanya yang ganjil, dengan api yang masih berkobar. Api itu menyala dengan aneh, api yang berkobar di mata itu mewujud sosok yang kukenali, dan ular menggeliat di dalamnya. Aku.  

Ular itu menggeliat di dalam aku.  

Siapa aku?   Kemudian Ular itu pecah. Berserakan. Pecahannya mengenai buku jariku. Pecahannya tersangkut di kakiku.  

“Nyalakan terang di dalammu. Engkau akan menemukan aku.  
Nyalakan terang di dalammu, api itulah aku..”

Ramalan, Mimpi, dan Pertanda

Pemuda itu mengernyitkan dahinya saat memasuki tenda yang kugelar di pasar malam. Penampilannya kontras dengan apa yang ada di bilikku, seperti pemuda modern yang tersesat di dalam bilik takhyul. Aku mengawasi kedua matanya yang bulat, hitam, bergerak liar ke penjuru ruangan bongkar pasang yang menjadi rumah keduaku.

“Saya hanya ingin tahu jodoh saya.”

Ia berujar sambil beringsut mendekatiku, kemudian duduk di bantal bundar berwarna ungu yang memang sengaja kuletakkan sebagai alas duduk para tamu.  Aku menyilangkan kaki, kemudian mulai mengaduk teh di dalam cangkir keramik. Gelang-gelangku bergemerincing sesuai dengan gerakan yang kulakukan, aku melihatnya mengawasiku.

Ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak nyaman. Nyata di dalam matanya keingintahuan yang besar terpancar, namun di detik yang sama, kilau keraguan berpendar-pendar di sana.  Ia terlalu muda dan tampan untuk percaya ramalan. Pandanganku berlaih ke  dalam pola-pola dari cangkir teh yang telah kubalikkan. Daun-daun teh yang mengering itu menceritakan tabir takdir yang akan mengikuti sang pemuda.

Aku menatap daun-daun itu dengan cermat, mendengarkan bisik-bisik lirih yang mendesis dari dalam cangkir. Dari sudut mataku, aku melihat tamuku bergerak-gerak dalam duduknya. Penasaran.  

“Apa yang anda lihat?”  

Aku menggerakkan jariku ke arahnya, mengisyaratkannya untuk sabar sebentar. Konsentrasiku tidak boleh terpecah. Suara-suara lirih itu tidak boleh terusik oleh interupsi apapun. Ia mengedikkan bahunya dengan tidak sabaran.

“Agak aneh. Aku tidak melihat adanya visi tentang pasangan anda dalam waktu dekat ini.”

Aku berujar kemudian setelah jeda beberapa lama. Ia mengernyit ke arahku, tatapannya bingung bercampur tidak percaya.  

“Memangnya apa yang kurang dariku?”

Tuntutnya masam. Aku berjuang menahan tawa, justru karena dia terlihat terlalu sempurna. Sebagai balasannya aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tahu apa-apa.

Daun tehku tidak menggambarkan apa-apa, suara-suara di cangkirku juga tidak bercerita apa-apa.

Ia bangkit dengan muram, meninggalkan sejumlah uang di meja kaca, dan berkata dengan muram.  

“Bahkan kakekku yang pembaca tarot juga hanya bisa berteka-teki tentang jodohku.”  

Dalam nyaring suaraku sendiri di kepalaku, aku menjawabnya.  

Mungkin anda harus berhenti mendatangi para peramal dan mulai mencari sendiri perempuan itu.

Sedetik kemudian, aku melongokkan kepalaku kembali ke dalam cangkir keramik. Sebuah desiran yang aneh menuntut kepalaku untuk melihatnya sekali lagi. Di dasar cangkir, sesuatu terpampang, bentuk yang tidak kulihat sebelumnya. Sesuatu yang terbentuk dari sisa-sisa lembar daun teh yang tertinggal. Bentuknya menyerupai mawar.

**  

Aku menyesap coklat yang sengaja kupesan untuk mengusir penat. Di luar tenda, semua kabut mistik menyingkap hilang, kehidupan terasa normal dan menyenangkan. Di dalam sana, segalanya begitu misterius dan memualkan. Kebanyakan hanya terdengar desisan suara dan potongan-potongan gambar yang bergerak terlalu cepat sehingga sulit kutangkap maknanya.  

Gambar mawar di dalam dasar cangkir keramik itu sungguh-sungguh mengusik pikiranku. Sulit kuuraikan menjadi sebuah pertanda, atau visi masa depan. Tentang apapun. Sebuah geletar yang aneh membanjiri tubuhku. Belum pernah aku merasa serisau ini.

Gambar di dalam cangkir itu seakan mengisyaratkan, bukan hanya takdir pemuda itu yang sedang kuterawang, melainkan aku akan ikut tersulam bersamanya. Sungguh perasaan yang aneh. Dan sedikit menakutkan.

Aku jarang sekali menangkap gambaran masa depan milikku sendiri. Semua yang kubaca -melalui garis tangan, kartu tarot, atau daun teh- hanya sebatas permintaan pelanggan yang membayarku untuk melakukannya. Kemampuanku hanya berlaku bagi orang lain.   Aku tidak pernah bisa membaca nasibku sendiri.  

Mataku menangkap barisan penjual di pasar malam mulai menyemut untuk merapikan dagangan mereka, bersiap meninggalkan tenda-tenda mereka. Aku masih enggan beranjak. Tidak ada apa-apa yang menungguku pulang. Tidak ada siapa-siapa yang akan kutemui di rumah.

Aku kembali menyejajarkan kakiku, duduk tanpa alas di rumput lapangan yang terasa tajam menggores-gores kaki. Cokelat panas yang kubeli dari stand di ujung tendaku menguarkan aroma yang menyenangkan. Aku menyesapnya, dan kembali mencoba menguraikan semua pertanda.  

Gambaran-gambaran itu kembali berkelebat. Ah! Aku melihat pemuda itu duduk bersama kakeknya, berdebat mengenai apa yang dilihat lelaki tua itu di antara tumpukan tarot yang tersebar di mejanya. Suara kakeknya berulang-ulang menggemakan tentang mawar. Aku kembali terkesiap. Gambaran itu berarti masa lalu!

Aku tidak bisa melihat masa lalu.. atau setidaknya aku merasa begitu. Belum pernah aku merasa perlu untuk mengawasi masa lalu seseorang. Bagi kebanyakan orang, masa depan adalah yang terpenting.  

“Boleh saya duduk di sini?”

Suara itu membuat jantungku berhenti. Kemudian berdenyut dengan lebih cepat. Gelagapan. Dengan tolol, aku hanya bisa mengangguk dan beringsut memberikan ruang pada sosok yang tiba-tiba menjulang di depanku.  

“Kupikir anda tidak akan kembali ke sini.”

Gumamku saat ia mendudukkan dirinya di sebelahku. Aroma musk  segar memenuhi rongga penciumanku, membuatku tergelitik.   Ia benar-benar pemuda modern yang tersesat di dunia takhyul.  

“Namaku Jess.”

Sebuah tato salib di pergelangan tangannya menyembul saat ia mengulurkan tangannya padaku. Aku terpaku sesaat sebelum menyambut tangannya, melihat uliran mawar di sekitar lengkung salibnya yang berwarna ungu. Mawar itu muncul lagi.  

Pertanda macam apa ini? Seminggu yang lalu, ia muncul dan menyisakan tanda mawar di cangkirku, kemudian ia datang dan menampakkan gambar mawar di pergelangannya?

“Jadi namamu?”

Desaknya mendapatiku melamun melihat gambar di tangannya.  

“Ross.”

Sahutku pendek.  

“Aneh.” Ucapnya menyahut perkenalan kami, dan ia tidak juga melepaskan genggamannya. Gelenyar aneh merambati tubuhku. Getaran ini sudah lama tidak kurasakan… .

“Aku yakin kamu adalah jodohku.”

Suaranya bergemerincing menyapu telingaku. Sengatan listrik menyentakku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Namun anehnya terasa menyenangkan, membuat perutku tergelitik. Ia membelai-belai wajahku dengan lembut, menyenandungkan melodi lagu cinta yang tidak kukenali.

Aku membeku di tempat tidurku, mendapati wajahnya yang berbayang-bayang, sulit untuk menangkap rupanya. Namun jauh di dalam hati, aku yakin pria tanpa wajah yang sedang merengkuhku ini adalah pasangan yang memang diciptakan untukku.  

“Bagaimana mungkin, sedangkan aku bahkan tidak bisa melihat wajahmu.”

Tukasku menepiskan lengannya yang masih memeluk tubuhku. Kami berbaring berdampingan, cahaya bersinar-sinar di wajahnya. Membutakan mataku.  

“Ada masanya saat kita akan bertemu. Lihatlah pertanda-pertanda di sekitarmu.”  

Kemudian mimpiku lenyap. Aku terbangun bersimbah peluh dan gemetaran.

Itulah satu-satunya gambaran yang kutangkap untuk diriku sendiri. Jauh beberapa tahun yang lalu saat aku masih berusia dua belas tahun. Saat aku masih memiliki keluarga yang menerimaku. Jauh sebelum visiku menghancurkan keluargaku sendiri.  

Jauh sebelum orangtuaku mengusirku karena dianggap penyihir, serta pembawa sial hanya karena bisa melihat masa depan. Karena bisa melihat kebakaran itu merenggut hampir separuh keluarga. Nenek, kakek, adikku yang masih bayi.. Bukan berarti aku tidak memperingati mereka, namun m

ereka menganggap visikulah yang menyebabkan semua petaka..   Aku menggelengkan kepalaku, mengusir kenangan yang mendadak membanjir, menyakitkan rasanya melihat kedua mata orangtua itu membelalak -penuh air mata dan kebencian- saat mengusirku. Lima tahun ini aku menyendiri, menjauh, mengabaikan permintaan maaf mereka untuk merengkuhku kembali.

Sejak saat itu, aku memfokuskan diri untuk melihat sesuatu hanya saat diminta. Dan mengabaikan gambaran-gambaran lain yang singgah di kepalaku. Terutama gambaran tentang kedua orangtua itu. Ayah.. Ibu.. Perasaan rindu yang aneh berpusar menyelimutiku.  

“Melamun?”

Suaranya menyeretku ke masa sekarang, dan tangan kami masih bertautan. Aku menggeleng tanpa suara, tanpa berupaya menarik tanganku kembali dari jemarinya. Rasa hangat masih merambati diriku. Barulah aku tersadar, suaranya mirip betul dengan lelaki yang memelukku di dalam mimpi itu.  

“Rasanya sangat aneh.”

Bisikku kemudian. Ia menatapku dengan kedua manik mata hitamnya, rasanya tubuhku terpaku di tempat. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas.  

“Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya. Merasakanmu, lebih tepatnya. Saat itu, aku hanya bisa mendengar suaramu. Kemudian aku bisa melihat perdebatanmu dengan kakekmu. Sungguh aneh, aku tidak bisa melihat masa lalu. Entahlah.”  

Ia mengangguk. Masih belum melepaskan genggamannya di tanganku. Kedua matanya masih menancap di mataku. Dunia sedang terjungkir balik. Kilas kelebatan gambar-gambar memenuhi kepalaku. Bahkan sekarang aku kembali bisa mengawasi masa depan tanpa konsentrasi berarti. Tanpa tarot. Tanpa garis tangan. Tanpa daun teh. Segalanya terasa memusingkan.

Seperti melihat film bisu yang bergerak kabur. Kebanyakan hanya tentang dia dan seorang perempuan yang berada di rengkuhannya. Persis seperti mimpiku saat itu.  

“Aku juga merasa aneh. Aku juga pernah memimpikanmu jauh sebelum saat ini. Kau tahu, kakekku juga bisa membaca masa depan. Ia berkata, jodohku akan datang dengan sendirinya. Ha! Tidak heran, setiap hubunganku dengan wanita, selalu berakhir dengan tiba-tiba di tengah jalan. Kupikir kakek tua itulah yang menyebabkannya. Entah apa ini ada hubungannya denganmu. Tapi ia menyuruhku mencari pertanda.”  

“Sudah lama sekali aku mencari perempuan ini -dengan segala omong kosong kakekku- yang diceritakannya memang ditakdirkan untukku. Yang akan menggenapi rusukku. Yang akan merawatku hingga mati.”  

Ia menelisik wajahku, kemudian memainkan jemariku.  

“Kupikir.. kupikir mungkin kamulah perempuan itu.”  

Ia berujar kemudian, malu-malu. Aku terbahak. Konyol sekali rasanya, percaya pada ramalan, takhyul, dan hal-hal mistik macam itu. Bahkan kami belum saling mengenal, tapi geletar aneh saat ia menyentuh, menatap dan berbicara melalui suaranya yang bergemerincing, benar-benar memasung hati dan pikiranku dalam sekejap.  

“Namamu Ross. Mawar, bukan? Dan aku memang sengaja mengukir mawar di tanganku. Kakekku yang mewanti-wanti aku harus mencari pertanda tentang mawar..”  

“Aku juga melihat mawar di cangkirmu, saat kau datang..”

Bisikku lirih, tidak berani mengangkat wajahku yang merah padam. Aku belum pernah jatuh cinta.  

Ia terpana, menjatuhkan tanganku dari genggamannya. Kemudian ia memungutnya lagi dengan kedua belah tangan. Hangat. Hangat sekali.  
“Kenapa kau tidak mengatakannya?”

Bisiknya di telingaku.  

“Aku melihatnya saat kau sudah beranjak dari tendaku.”  

“Sulit dijelaskan, tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta saat pertama melihatmu.”

Bisiknya lagi. Membuatku mematung.  

“Tapi hanya karena pertanda lalu kita bisa jatuh cinta?”

Usikku, kemudian menempelkan kepalaku di kepalanya.  

“Pertanda itu sudah ada bertahun yang lalu, kita hanya belum saling menemukan.”

Kemudian ia mengecup bibirku. Rasanya ada ribuan permen coklat meleleh di sana.  

“Menemukan hanya perkara waktu, dan kita sudah saling memiliki, jauh sebelum bertemu..”

Aku menulis ini untukmu, bacalah. Dengarlah.

Aku adalah hantu. Ya. Hantu. Kau boleh menertawakanku. Tapi, sebelum engkau tertawa hingga jantungmu memutus berhenti, dengar, dengarkan dulu ceritaku.

Jadi, aku adalah hantu, tahukah tempat bagi para hantu? Ya. Ya. Di antara sudut berkabut antara purnama dan muka bening telaga. Di antara dahan -ranting, atau akar akasia, atau beringin, atau kemboja -sebut saja semua pohon keramat itu! Aku berdiam, diam-diam di antara bayang-bayang.

Tahukah kau bagaimana rasanya menjadi hantu? Tidak ada rasanya. Hantu itu transparan, tentu kau tahu itu. Hantu tidak pernah tidur, tidak pernah bermimpi, tidak pernah punya harapan. Hantu hanya berenang-renang di dalam angin, tertawa-tawa di dalam hujan. Hantu tidak memperdulikan malam, tidak mengindahkan pagi. Hantu tidak membedakan benderang matahari, atau lembut bulan yang tersipu.

Hantu selalu abu-abu. Terkadang ada. Lebih sering tidak ada. Begitulah. Aku selalu berdiam di bawah bayang-bayang.

Lalu, bagaimama aku bisa mengenalmu, padahal aku adalah hantu?

Aku masih belum tahu pasti tentang pertanyaan yang juga terus mendengung di kepalaku itu. Aku juga masih bertanya, mengapa aku begitu manusia. Sekali lagi kujelaskan, aku adalah hantu.

Aku punya teori.

Begini,

Hantu, kau tahu, mereka juga punya emosi, meski sangat samar dan tersembunyi. Mereka juga bisa merasa, meskipun kebanyakan memilih mengabaikannya, karena rasa itu tidak akan bisa diterjemahkan menjadi hasrat, mimpi, atau harap. Rasa itu biasanya hanya singgah kemudian menguap, hilang.

Aku telah hidup lama, kau tahu. Atau mati lama, karena aku adalah hantu. Selama hidup -atau mati, terserahlah! Aku banyak mengamati. Aku hidup di iklim emosi. Iklim yang sebenarnya terlarang bagi para hantu. Aku tidak boleh terikat dengan emosi, emosi kepada benda -maksudku makhluk yang masih hidup, bernapas, dan punya detak nadi.

Bahkan aku tidak boleh terlalu rapat menjalin emosi dengan akasia yang kudiami. Aku tidak boleh membuat para hidup menjadi dekat dengan yang sudah mati.

Tapi, aku melanggarnya. Aku memilih tinggal di akasia renta. Aku tahu dia kesepian dan kehilangan kekasih.

Jangan tertawa. Benar, akasia itu punya kekasih. Seekor parkit cokelat yang bersayap patah sebelah. Kau mau mendengar kisah akasia dan parkit itu?

Lain kali akan kuceritakan. Kali ini aku harus fokus tentang ceritaku sendiri. Dan ceritaku ini, sebagian -atau keseluruhannya adalah ceritamu juga. Jadi, dengarkan baik-baik.

Jadi, setelah aku berdiam di bawah bayang-bayang akasia tua itu, aku semakin tertarik pada hubungan emosi. Aku menjadi terobsesi. Benar, padahal hantu tidak bisa terobsesi. Ia hanya bisa tertarik sebentar, kemudian hilang. Seharusnya hantu seperti itu. Seharusnya. Tapi kita tahu, seharusnya itu selalu tidak berlaku. Selalu ada penyimpangan-penyimpangan tentang suatu hal yang seharusnya pasti.

Jadi, setelah akasia itu bisa kuajak bicara, setiap malam ia menangis padaku. Ia bilang ia rindu kekasihnya yang riang. Ia rindu kekasihnya yang tidak bisa lagi terbang. Ia rindu dahannya dipatuki paruh lancip itu, ia rindu, ia rindu! Anehnya, aku mulai ingin merindu. Entah pada siapa.

Satu hal, para hantu memang saling mengenal. Tapi mereka tidak saling merindu. Bayangkan satu koloni besar yang saling mengenal, tapi lumpuh rasa satu sama lain. Bayangkan betapa matinya. Benar. Itulah koloni para hantu. Dan kami tidak juga mati, mati dalam hal pergi ke surga atau neraka, semacam terjebak, seperti itulah.

Jadi, kemudian aku merasa ingin merindu. Aku terikat pada akasia itu, aku selalu memaksanya bercerita tentang kekasihnya. Ah, aku ingin punya kekasih. Ingin sekali. Jangan tanyakan bagaimana semasa aku hidup, sebelum menjadi hantu, seperti apa aku. Setelah beberapa abad, memori itu memudar, kami menjadi hampa, menjelma kabut-kabut transparan.

Kemudian ada Perempuan yang ingin mati.

Ia menjerat maut dengan kedua tangannya sendiri. Ia mengumpan maut dengan tubuhnya sendiri. Saat itu, maut hanya satu jengkal jaraknya, dan ia mendadak tersungkur, menjauhi lonceng kematian yang sudah mulai berdenting untuknya.

Kamu. Kamu yang membuatnya tersungkur.

Aku belum pernah melihat sesuatu yang bisa begitu dalam mengoyak emosiku seperti itu. Aku melihat mata perempuan itu, matanya mati. Seperti danau hitam tanpa dasar, tak terbaca. Namun bibirnya menyunggingkan senyum, senyum itu keji di bawah temaram purnama, dan dengan engkau yang meneteskan darah di bibir. Kalian berdua tersungkur, dengan hitam sebagai latarnya, dan deru kendaraan berlalu lalang di hadapan kalian.

Perempuan itu berkata, ia ingin mati, dan kamu bilang, jangan. Kamu tidak mau dia mati. Lalu kamu memeluk dia. Dia menangis namun wajahnya bercahaya. Lalu aku merasa merana.

Siapa aku? Aku hanya hantu.

Akasia tua itu bergumam lirih.

“Aku rindu kekasihku.”

Aku, mengangguk muram. Semuram temaram malam.

“Aku juga merindu. Siapa Rindu?”

Karanganyar, 13 Januari 2013. Ketika rindu, mendadak enggan padam.

Hari Kedua Bulan Pertama, Tahun Ular : Requiem Nyaring Menyalak di Kepala

Requiem æternam dona eis, Domine,

et lux perpetua luceat eis

Te decet hymnus Deus, in Sion,

Tibi reddetur votum in Jerusalem

Pagi itu, aku melihat matahari merah datang bersama bintang timur, keduanya mengerjap molek.

Aku mencoba meraih matahari itu dalam genggaman, tentu, tentu tanganku terbakar.

Dan bintang timur memucat, menatap lenganku yang hendak kembali menjawil.

“Katakan, katakan apa yang salah.”

Ia adalah matahari. Ia adalah pusat. Pusat yang dikelilingi api.

Ia tidak pernah memberi jawabannya.

Ia hanya menjumput api,dan menaruhnya lekat-lekat.

Kuulangi

Ia menaruhnya lekat-lekat, letaknya di dada sebelah kiri.

Tentu, tentu aku hangus mengabu setelahnya.

Bintang itu mengerling sekali. Dadaku terbakar berkali-kali.

     Exaudi orationem meam;

      ad te omnis caro veniet.

      Requiem æternam dona eis, Domine.

Ia kembali menari-nari. Membuat buta. Kali ini bintang timur tidak ada di sisinya.

Tanganku telah melepuh, dadaku masih berupa abu.

“Katakan, dengan apa aku bisa menggenggammu?”

Ia mengirim lautan datang menemui mataku. Lengkap dengan gemuruh bernama cemburu.

Seharusnya aku mati dengan semesta yang memusuhiku karena mencintai matahari.

Exaudi orationem meam;

ad te omnis caro veniet.

Requiem æternam dona eis, Domine.

Siapakah yang sedang menyanyi?

Dari jauh aku melihat bayangan sirens, dengan tubuh separuh duyung dan kepala serupa dewi.

Bintang timur bersiul nyaring di belakangnya.

Siapakah yang bernyanyi?

Kuulangi.

Siapakah yang telah mati?

Hari itu, aku melihat matahari merah,

Bintang timur meringkuk di sudut,

Hari itu, aku jatuh.

Lalu mati.

Kyrie eleison;

Christe eleison;

Kyrie eleison.

Hari itu, aku mati. Hari itu aku mencintai matahari.

kyrie elesion

PS. Hari kedua, bulan pertama, tahun ular. Aku belum pernah semati ini.

Obituari

Sebaris demi sebaris -begitulah ia menyejajarkan aksaranya. Obituari seseorang yang tinggal di kepalanya

Ia mengemasi kenangan yang bertebaran di penjuru ingatannya. Kemudian, ia mulai melipat semuanya perlahan-lahan, sangat hati-hati, agar tidak merusak lembar-lembar rapuh itu, dan menahan diri agar tidak melihat ke dalam isinya. Membaca isinya hanya akan membuat hatinya sesak dan nyeri, akibatnya, rongga matanya hanya akan memanas, lalu terbentuklah air terjun di sana. Ia benci menangis. Ia sudah berjanji tidak akan menangis.

Namun hatinya pedih, lipatan-lipatan kenangan itu tetap saja menggores-gores tajam, tanpa ampun. Meremukkannya seperti sekantung keripik yang akan hancur hanya dalam sekali remas. Ia lalu menyerah, menyurukkan lembar-lembar kenangannya, membiarkannya kembali berceceran di ruang hati dan kepalanya. Ia membiarkan dirinya tersesat sembari mengeja, mengeja setiap kata, setiap kalimat, setiap penggal memori yang membuatnya tercabik. Terkoyak hingga babak belur.

*

Ia merasa dirinya terbelah. Tepat di tengah-tengah. Separuh dirinya memerintahkannya untuk pergi -sejauh mungkin! Namun
separuh yang lain, justru mencengkeram kuat-kuat, terbius pesona lawan jenis di hadapannya. Ia menancapkan matanya ke arah lelaki itu, yang juga tengah melempar pandangannya. Sepasang mata itu beradu, ia merasa ada yang meledak di dadanya. Warna-warni yang membuatnya lupa, yang membuatnya memasung kedua kakinya, dan membuatnya sama sekali tidak bisa menjauh -apalagi pergi.

Seperti pecandu ia mendekat, padahal ia sama sekali belum pernah mabuk sebelumnya. Sepasang mata mereka masih beradu, memenjarakan satu dengan yang lainnya. Dada mereka berdentum-dentum, seolah sudah sekian lama mereka saling merindu. Benaknya menyanyi nyaring, sudah lama memang ia menginginkan dia. Ia mengabaikan pertanda yang seharusnya menjadi pagar baginya. Pagar yang membatasinya, agar ia tidak terlanjur jauh melangkah masuk.

Pertanda itu bersinar redup ditimpa cahaya neon, letaknya di jari manis sebelah kiri si lelaki. Namun ia membutakan matanya, benaknya dipenuhi anggur yang harus ia sesap. Anggur itu terlihat menggantung -ranum dan menggiurkan, di ujung bibir sang lelaki. Ia mengabaikan pagar pertandanya, ia justru malah melempar kait berisi umpan. Lelaki itu -lelaki biasa, tidak tahan kepada umpan. Sejenak mereka berhadapan, hanya sejengkal jarak yang membentang di antara mereka. Sedetik kemudian mereka lupa. Bibir mereka sibuk saling menyetubuhi satu dengan yang lainnya.

*

Joham

Ia tidak akan pernah melupakan nama lelaki itu. Ia merasa seperti lalat di atas kertas yang telah dilumuri lem. Ia telah terpenjara. Ia terus menerus tergelincir saat mencoba terbang, ia telah terperangkap, dan melekat erat di sana.

Joham, bercintakah ia dengan istrinya?

Suara itu mengusiknya. Asalnya dari dalam kepala. Ia menggoyangkan kepalanya, merasa kembali terbelah. Tepat di tengah-tengah. Seharusnya ia berhenti menjadi pemabuk yang terus mencandui anggur di bibir Joham. Namun dirinya di sisi lain, menolak dengan angkuh. Joham ada di dalam genggamannya. Lelaki itu tak sekalipun menolak umpan yang ia lempar bersama kailnya. Lelaki itu selalu secara sukarela menjadi ikan yang terperangkap dan menggelepar di mata pancingnya. Lelaki itu bahkan dengan merana juga mengakui telah jatuh padanya. Lelaki itu.. ah lelaki itu!

*

Sebaris demi sebaris, begitulah ia menyejajarkan aksaranya.

Terkutuk. Jalang. Perempuan Ular. Ia menuliskan segala sumpah serapah yang diterimanya. Ia mengguratkannya bersama sunyi, dan darah yang mengalir dari bibinya telah berubah pekat, menggumpal di dalam hatinya. Kebenciannya berlapis-lapis, membentuk gunung yang siap meletus di dasar hatinya.

Ia membenci dirinya yang terbelah. Ia membenci kedua sisinya. Ia retak. Pecah berserakan. Lelaki itu, dengan cincin di jari manisnya, telah menghantamkannya ke gelombang pasang, yang dengan segera menenggelamkannya dalam kepedihan yang kekal. Ia terlalu benci untuk merasa pedih. Terlalu koyak untuk menangisi.

Joham. Aku. Hamil.

Lelaki. Terkutuklah. Dia.

Anggur di bibirnya berubah. Menghitam. Berbisa.

Ia. Berteriak. Jalang.

Pergilah. Ke neraka. Jahanam!

Ia memaki dan terus memaki. Nama lelaki itu menancap di dadanya seperti pisau yang berkarat. Naif. Ia terjerat kailnya sendiri. Joham tak lebih dari sekedar pemangsa.

*
Sebaris demi sebaris, aksaranya tersusun. Obituari seseorang yang menjadi dirinya yang lain.

Ia tersesat, mengeja tiap kata, tiap kalimat, tiap penggal memori yang masih mengendapi kepalanya. Ia tertusuk, robek, dan berdarah. Berkali-kali. Berkali-kali. Ia merasa kembali terbelah. Sebagian dirinya menantangnya untuk mati, sebagian yang lain mengutuknya agar ia kembali berdiri.

Ia menimang belati di tangannya, mulai mengiris dari bagian dada. Membelahnya hingga terengah-engah. Sebaris demi sebaris, ia menyejajarkan aksaranya..

Di sini telah terbaring dan mati, sebuah hati yang pernah mencintai

Samudra

Saat memejam mata, aku bisa mendengar suara gemuruh lautan dan kecipak ombak yang memanggil. Pulangkan aku ke sana.

Ia menelengkan kepalanya ke arahku, mata bulatnya menatap nanar, kering. Di sudut ruanan, aku melihat kedua orang tuanya berdekapan dalam tangis yang hening.

Tolong dia, Dokter.

Perempuan tua itu memohon padaku setengah jam yang lalu. Ia terus-menerus menyeka matanya yang membengkak akibat airmata yang terus mengalir di sana, menggenang tiada habis.

Dulu dia gadis yang manis, entahlah. Ia berubah, menjadi penyendiri, pemurung, dan menutup diri. Berkali-kali menginginkan kembali ke lautan. Laut telah mengubahnya, ia kehilanga dirinya.

Perempuan tua itu kembali terisak, sementara sang suami lebih banyak diam dengan pandangan menerawang. Seolah, ia bahkan tak mampu untuk sekedar bicara meluapkan kekhawatirannya. Hanya tangan keriputnya yang berbau balsem menepuk-nepuk punggung sang istri yang terisak di rengkuhan dadanya.

Aku mengangguk. Menyanggupi. Mulai malam ini, gadis bermata bulat itu menjadi tambahan pasien kejiwaan di klinikku.
*
Ombak bersenandung bersama angin yang meliuk-liuk. Merdu. Menampar-nampar pipiku dengan percikan air asin yang terasa dingin. Matahari, bulatan raksasa oranye itu tampak terselubung selimut berwarna ungu. Senja. Aku menunggu. Satu jam. Dua jam.

Ia tak kunjung datang.

Himne malam mulai berkumandang, sayup-sayup dan hening. Tidak ada lagi suara-suara selain ombak yang tak henti berdebur. Malam mulai berarak meninggalkan hamparan langit hitam maha luas dengan butir-butir bintang berkelap-kelip, menyapa.

Malam, tidak datangkah ia?

Angin kembali menerbangkan seberkas rambutku. Amis. Asin. Sesuatu menggelitik indra terdalamku. Rasa. Rasa yang kuat. Sangat kuat. Aku menolehkan kepala, ia sudah berada di sana.

Tersenyum, pucat di bawah siraman bulan yang keperakan.

Maaf membuatmu menunggu begitu lama.

Jemari kami bertaut. Kehangatan merayap dari ujung kepala sampai kaki. Pasir-pasir dingin dan keras di bawah kaki menjadi tidak begitu berarti.

Aku akan datang lagi.

Aku berjanji. Ia tersenyum, masih pucat dan terlihat seperti pualam. Mulus. Bercahaya. Tidak manusiawi. Sesuatu di dalam diriku memerintahkan untuk pergi dan jangan kembali. Sesuatu di dirinya menarik dan mengikatku seperti simpul mati. Hari ini, dan hari-hari selanjutnya, aku datang, pergi, lalu kembali lagi.
*
Ia masih membisu dengan kedua tangan bersedekap di dada. Di kedalaman matanya, aku melihat rindu yang mendamba. Merantainya seperti di dalam penjara. Aku mencoba memasuki dunia yang ada di kepalanya.

Apa yang terjadi, sebenarnya?

Ia melengkungkan senyum yang tidak menyentuh matanya. Mata itu dingin, dalam dan bermuara segala rahasia. Ia hanya tersenyum, menyeringai.

Aku gila. Kau mau mendengar para gila?

Suaranya berbisik, sekering kaktus yang layu tapi masih menyisakan duri. Aku melepas jas putih yang melekat, jas itu hanyalah menjadi momok -tembok yang menghalangi interaksi sejati. Aku mulai duduk di ranjang yang di dudukinya. Ruangan serba putih tanpa noda ini terasa menyilaukan. Aku bergidik, membayangkan bagaimana rasanya tinggal di dalamnya.

Namun, gadis di hadapanku ini tidak terusik pada ruanga putih asing yang memenjarakannya. Tidak terusik pada pria asing yang mencoba mengorek isi kepalanya. Ia hanya menerawang, menggumam, memohon, lalu kembali memandang menerawang. Sejauh ini, dia bertindak pasif. Tidak menyerang. Tidak ada tanda-tanda depresi yang destruktif. Selain merusak dirinya sendiri di kedalaman.

Aku terbayang kedua wajah renta yang terluka itu saat memasrahkannya padaku.

Aku menjadi begitu melankoli menghadapinya, padahal seharusnya emosi semacam ini tidak boleh ada. Aku semacam.. terpengaruh pada keadaannya. Ah!

Aku membujuknya kembali bicara. Berhasil. Ia mulai berbicara dengan suara jernih, seolah-olah kejadian itu baru berlangsung hari ini. Seolah-olah kejadian itu dialaminya, sehari-hari..

Aku hanya datang ke tempat-tempat yang harus kudatangi. Di sanalah aku berpulang, di tempat di mana ada samudra dengan ombaknya, di mana ada langit hitam dengan bintang dan bulan, di mana ada dia.

Dia siapa?

Ia membasahi bibirnya yang kering dan mengelupas di permukaannya. Tawanya berkumandang seperti gema lonceng. Ringan. Renyah. Seolah ia normal.

Dia yang menemukan aku, Putra Samudra.

Putra Samudra?

Alisku terangkat naik. Imajinasinya mulai menyihirku menjadi kanak-kanak yang percaya pada dongeng-dongeng indah sebelum tidur. Aku menunggunya kembali bercerita, kehausan seperti musafir yang tersesat di padang gurun, dan dialah sang pembawa air untuk menghilangkan dahaga.

Dia menceritakan banyak rahasia samudra. Di malam-malam yang hening, saat hanya ada senandung angin yang melebur bersama ombak, ia berkata, aku harus ikut dan tinggal dengannya.

Di mana?

Di dasar samudra. Karena ia Putra Samudra.

Benarkah?

Ya. Aku mendengar gemuruh ombak memanggilku di luar sana. Bisa antarkan aku ke sana?

Tidak. Aku sudah berjanji akan menolongmu.

Menolong dari apa?

Dari imajinasi yang membuatmu terperangkap di sini.

Aku kekasih Putra Samudra. Aku ingat semuanya, semuanya nyata..

Seketika wajahnya berubah sendu. Ia terisak, namun tak ada air mata di sana. Ia hanya memohon, ia butuh kembali ke lautan untuk menemui kekasihnya.
*
“Maaf. Belum banyak perkembangan yang berarti.” Ucapku di corong telepon, mengabarkan keadaan gadis itu kepada orang tuanya. Di seberang hanya kudengar suara desah napas tertahan, aku tahu perempuan tua itu kembali menangis, merana. Dan suaminya pastilah ada di belakangnya, menguatkan tubuh rentanya untuk tetap bisa berdiri.

“Tolong dia, Dokter.” Suara itu terisak-isak. Kepedihan mulai berpindah dari kabel telepon, ke tubuhku. Getarannya membuat menggigil hingga aku merasa harus ikut merana.

“Sebenarnya apa yang terjadi selama ini?” Aku bertanya. Terlalu banyak hal-hal yang tidak kumengerti tentang gadis itu sebelumnya. Suara di seberang berubah parau dan berat. Sang ayah mengambil alih suara.

“Kami terpaksa mengurungnya di kamar. Namun ia selalu bisa menemukan jalan ke luar. Kami menemukannya di dalam pelariannya, hampir tenggelam, nafasnya sudah hampir habis, dan tubuhnya membiru. Setiap ia berhasil lolos dari pengamatan kami, ia selalu hampir mati tenggelam. Di lautan. Di sisi pantai yang berbeda-beda.”

“Tapi jarak pantai ke rumah kalian jauh, bukan?”

“Tidak terlalu jauh bila kita tahu harus mengambil jalan yang mana. Ia tumbuh dengan mengingat-ingat jalan yang mana yang bisa mengarah ke pantai. Dulu ia sangat berbahagia, ia memang sangat menyukai lautan. Setiap hari, dari waktu kanak-kanak, ia selalu menghabiskan waktu senggangnya di sana. Aku tidak melihat adanya pengaruh buruk. Sampai..”

“Sampai apa?” Desakku setengah berteriak di corong telepon. Suara parau lelaki itu seperti gelombang pasang, bergemuruh sarat kesedihan.

“Sampai ia berubah menjadi obsesif pada lautan. Mengocehkan tentang pria dari samudra yang akan meminangnya. Aku khawatir dan membatasinya. Ia berontak. Selalu bisa pergi dari kurungan kamarnya. Lalu ia berubah menjadi pendiam. Menolak makan. Menolak bicara. Terus mengocehkan tentang dunia di bawah samudera. Dia menjadi gila, dokter. Seharusnya tak kubiarkan ia pergi sendirian ke lautan..”

Aku tercenung. Klinik ini juga tidak terlalu jauh dari lautan..
*
Kali ini aku tidak harus menunggu. Ia sudah ada di sana. Tersenyum. Wajahnya pucat bersepuh sinar rembulan. Ia menggamit lenganku, memasuki air yang mula-mula terasa dingin di mata kaki. Lalu hangat, saat sebatas pinggang.

Benarkah ada dunia di bawah samudra?

Ia mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya.

Pulanglah bersamaku.

Tidak ada perintah di dalam suaranya, namun tubuhku melembek seperti agar-agar, dengan patuh mengikuti tubuhnya yang telah terbenam separuh dada. Ia menjulurkan lengannya ke arahku.

Lari! Kembali ke sini!

Seseorang berteriak, menampar kesadaranku. Aku menoleh ke arah suara lain itu. Jas putihnya berkibar-kibar tertiup angin dan kacamatanya dipenuhi titik-titik air.

Pria dari Samudra itu menungguku, beberapa meter di depanku. Tidak bergerak. Tidak bersuara. Namun aku seketika kembali patuh, belenggunya telah mengikatku seperti simpul mati.

Kembali ke sini!

Raunag pria berjas itu menggelegar dari bibir pantai. Kemudian sebuah ombak besar menerjangku tanpa ampun. Menyedotku ke dalam kumparan air asin tak berujung. Pekat. Paru-paru terbakar. Aku meronta-ronta menggapai udara. Pria Samudera memegangiku erat-erat.

Pulang, bersamaku.

Suaranya lembut, hingga aku tak mampu mengabaikan perintahnya.
*
Aroma kematian sarat mengambang di rumah duka. Kulihat kedua orang tua itu berpelukan sambil terus-menerus menangisi mayat pucat dan babak-belur membiru karena tenggelam dan terbentur-bentur batuan karang.

Maaf. Maaf.

Ujarku berkali-kali pada peti hitam itu. Tidak mampu melihat wajah gadis yang melarikan diri malam itu.

Kedua lenganku memar, bengkak dan hatiku lebih patah. Aku gagal menjaganya.
*
Putra Samudra itu yang menghipnotisnya, menyeretnya ke dalam gulungan ombak. Ia lelaki rupawan dengan mata biru gelap yang dalam. Aku tidak kuasa menyelamatkan gadis itu, aku sudah berenang sekuat tenaga, dan ia tetap saja tenggelam..

Lelaki itu mengenakan jas putih yang mungkin dulunya adalah milikku, menatapku dengan kasihan sekaligus iba.

“Berikan ia obat penenang. Kematian pasiennya mengguncangnya hingga ia menceritakan hal-hal yang tidak pernah dilihatnya..”