Ramalan, Mimpi, dan Pertanda

Pemuda itu mengernyitkan dahinya saat memasuki tenda yang kugelar di pasar malam. Penampilannya kontras dengan apa yang ada di bilikku, seperti pemuda modern yang tersesat di dalam bilik takhyul. Aku mengawasi kedua matanya yang bulat, hitam, bergerak liar ke penjuru ruangan bongkar pasang yang menjadi rumah keduaku.

“Saya hanya ingin tahu jodoh saya.”

Ia berujar sambil beringsut mendekatiku, kemudian duduk di bantal bundar berwarna ungu yang memang sengaja kuletakkan sebagai alas duduk para tamu.  Aku menyilangkan kaki, kemudian mulai mengaduk teh di dalam cangkir keramik. Gelang-gelangku bergemerincing sesuai dengan gerakan yang kulakukan, aku melihatnya mengawasiku.

Ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak nyaman. Nyata di dalam matanya keingintahuan yang besar terpancar, namun di detik yang sama, kilau keraguan berpendar-pendar di sana.  Ia terlalu muda dan tampan untuk percaya ramalan. Pandanganku berlaih ke  dalam pola-pola dari cangkir teh yang telah kubalikkan. Daun-daun teh yang mengering itu menceritakan tabir takdir yang akan mengikuti sang pemuda.

Aku menatap daun-daun itu dengan cermat, mendengarkan bisik-bisik lirih yang mendesis dari dalam cangkir. Dari sudut mataku, aku melihat tamuku bergerak-gerak dalam duduknya. Penasaran.  

“Apa yang anda lihat?”  

Aku menggerakkan jariku ke arahnya, mengisyaratkannya untuk sabar sebentar. Konsentrasiku tidak boleh terpecah. Suara-suara lirih itu tidak boleh terusik oleh interupsi apapun. Ia mengedikkan bahunya dengan tidak sabaran.

“Agak aneh. Aku tidak melihat adanya visi tentang pasangan anda dalam waktu dekat ini.”

Aku berujar kemudian setelah jeda beberapa lama. Ia mengernyit ke arahku, tatapannya bingung bercampur tidak percaya.  

“Memangnya apa yang kurang dariku?”

Tuntutnya masam. Aku berjuang menahan tawa, justru karena dia terlihat terlalu sempurna. Sebagai balasannya aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tahu apa-apa.

Daun tehku tidak menggambarkan apa-apa, suara-suara di cangkirku juga tidak bercerita apa-apa.

Ia bangkit dengan muram, meninggalkan sejumlah uang di meja kaca, dan berkata dengan muram.  

“Bahkan kakekku yang pembaca tarot juga hanya bisa berteka-teki tentang jodohku.”  

Dalam nyaring suaraku sendiri di kepalaku, aku menjawabnya.  

Mungkin anda harus berhenti mendatangi para peramal dan mulai mencari sendiri perempuan itu.

Sedetik kemudian, aku melongokkan kepalaku kembali ke dalam cangkir keramik. Sebuah desiran yang aneh menuntut kepalaku untuk melihatnya sekali lagi. Di dasar cangkir, sesuatu terpampang, bentuk yang tidak kulihat sebelumnya. Sesuatu yang terbentuk dari sisa-sisa lembar daun teh yang tertinggal. Bentuknya menyerupai mawar.

**  

Aku menyesap coklat yang sengaja kupesan untuk mengusir penat. Di luar tenda, semua kabut mistik menyingkap hilang, kehidupan terasa normal dan menyenangkan. Di dalam sana, segalanya begitu misterius dan memualkan. Kebanyakan hanya terdengar desisan suara dan potongan-potongan gambar yang bergerak terlalu cepat sehingga sulit kutangkap maknanya.  

Gambar mawar di dalam dasar cangkir keramik itu sungguh-sungguh mengusik pikiranku. Sulit kuuraikan menjadi sebuah pertanda, atau visi masa depan. Tentang apapun. Sebuah geletar yang aneh membanjiri tubuhku. Belum pernah aku merasa serisau ini.

Gambar di dalam cangkir itu seakan mengisyaratkan, bukan hanya takdir pemuda itu yang sedang kuterawang, melainkan aku akan ikut tersulam bersamanya. Sungguh perasaan yang aneh. Dan sedikit menakutkan.

Aku jarang sekali menangkap gambaran masa depan milikku sendiri. Semua yang kubaca -melalui garis tangan, kartu tarot, atau daun teh- hanya sebatas permintaan pelanggan yang membayarku untuk melakukannya. Kemampuanku hanya berlaku bagi orang lain.   Aku tidak pernah bisa membaca nasibku sendiri.  

Mataku menangkap barisan penjual di pasar malam mulai menyemut untuk merapikan dagangan mereka, bersiap meninggalkan tenda-tenda mereka. Aku masih enggan beranjak. Tidak ada apa-apa yang menungguku pulang. Tidak ada siapa-siapa yang akan kutemui di rumah.

Aku kembali menyejajarkan kakiku, duduk tanpa alas di rumput lapangan yang terasa tajam menggores-gores kaki. Cokelat panas yang kubeli dari stand di ujung tendaku menguarkan aroma yang menyenangkan. Aku menyesapnya, dan kembali mencoba menguraikan semua pertanda.  

Gambaran-gambaran itu kembali berkelebat. Ah! Aku melihat pemuda itu duduk bersama kakeknya, berdebat mengenai apa yang dilihat lelaki tua itu di antara tumpukan tarot yang tersebar di mejanya. Suara kakeknya berulang-ulang menggemakan tentang mawar. Aku kembali terkesiap. Gambaran itu berarti masa lalu!

Aku tidak bisa melihat masa lalu.. atau setidaknya aku merasa begitu. Belum pernah aku merasa perlu untuk mengawasi masa lalu seseorang. Bagi kebanyakan orang, masa depan adalah yang terpenting.  

“Boleh saya duduk di sini?”

Suara itu membuat jantungku berhenti. Kemudian berdenyut dengan lebih cepat. Gelagapan. Dengan tolol, aku hanya bisa mengangguk dan beringsut memberikan ruang pada sosok yang tiba-tiba menjulang di depanku.  

“Kupikir anda tidak akan kembali ke sini.”

Gumamku saat ia mendudukkan dirinya di sebelahku. Aroma musk  segar memenuhi rongga penciumanku, membuatku tergelitik.   Ia benar-benar pemuda modern yang tersesat di dunia takhyul.  

“Namaku Jess.”

Sebuah tato salib di pergelangan tangannya menyembul saat ia mengulurkan tangannya padaku. Aku terpaku sesaat sebelum menyambut tangannya, melihat uliran mawar di sekitar lengkung salibnya yang berwarna ungu. Mawar itu muncul lagi.  

Pertanda macam apa ini? Seminggu yang lalu, ia muncul dan menyisakan tanda mawar di cangkirku, kemudian ia datang dan menampakkan gambar mawar di pergelangannya?

“Jadi namamu?”

Desaknya mendapatiku melamun melihat gambar di tangannya.  

“Ross.”

Sahutku pendek.  

“Aneh.” Ucapnya menyahut perkenalan kami, dan ia tidak juga melepaskan genggamannya. Gelenyar aneh merambati tubuhku. Getaran ini sudah lama tidak kurasakan… .

“Aku yakin kamu adalah jodohku.”

Suaranya bergemerincing menyapu telingaku. Sengatan listrik menyentakku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Namun anehnya terasa menyenangkan, membuat perutku tergelitik. Ia membelai-belai wajahku dengan lembut, menyenandungkan melodi lagu cinta yang tidak kukenali.

Aku membeku di tempat tidurku, mendapati wajahnya yang berbayang-bayang, sulit untuk menangkap rupanya. Namun jauh di dalam hati, aku yakin pria tanpa wajah yang sedang merengkuhku ini adalah pasangan yang memang diciptakan untukku.  

“Bagaimana mungkin, sedangkan aku bahkan tidak bisa melihat wajahmu.”

Tukasku menepiskan lengannya yang masih memeluk tubuhku. Kami berbaring berdampingan, cahaya bersinar-sinar di wajahnya. Membutakan mataku.  

“Ada masanya saat kita akan bertemu. Lihatlah pertanda-pertanda di sekitarmu.”  

Kemudian mimpiku lenyap. Aku terbangun bersimbah peluh dan gemetaran.

Itulah satu-satunya gambaran yang kutangkap untuk diriku sendiri. Jauh beberapa tahun yang lalu saat aku masih berusia dua belas tahun. Saat aku masih memiliki keluarga yang menerimaku. Jauh sebelum visiku menghancurkan keluargaku sendiri.  

Jauh sebelum orangtuaku mengusirku karena dianggap penyihir, serta pembawa sial hanya karena bisa melihat masa depan. Karena bisa melihat kebakaran itu merenggut hampir separuh keluarga. Nenek, kakek, adikku yang masih bayi.. Bukan berarti aku tidak memperingati mereka, namun m

ereka menganggap visikulah yang menyebabkan semua petaka..   Aku menggelengkan kepalaku, mengusir kenangan yang mendadak membanjir, menyakitkan rasanya melihat kedua mata orangtua itu membelalak -penuh air mata dan kebencian- saat mengusirku. Lima tahun ini aku menyendiri, menjauh, mengabaikan permintaan maaf mereka untuk merengkuhku kembali.

Sejak saat itu, aku memfokuskan diri untuk melihat sesuatu hanya saat diminta. Dan mengabaikan gambaran-gambaran lain yang singgah di kepalaku. Terutama gambaran tentang kedua orangtua itu. Ayah.. Ibu.. Perasaan rindu yang aneh berpusar menyelimutiku.  

“Melamun?”

Suaranya menyeretku ke masa sekarang, dan tangan kami masih bertautan. Aku menggeleng tanpa suara, tanpa berupaya menarik tanganku kembali dari jemarinya. Rasa hangat masih merambati diriku. Barulah aku tersadar, suaranya mirip betul dengan lelaki yang memelukku di dalam mimpi itu.  

“Rasanya sangat aneh.”

Bisikku kemudian. Ia menatapku dengan kedua manik mata hitamnya, rasanya tubuhku terpaku di tempat. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas.  

“Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya. Merasakanmu, lebih tepatnya. Saat itu, aku hanya bisa mendengar suaramu. Kemudian aku bisa melihat perdebatanmu dengan kakekmu. Sungguh aneh, aku tidak bisa melihat masa lalu. Entahlah.”  

Ia mengangguk. Masih belum melepaskan genggamannya di tanganku. Kedua matanya masih menancap di mataku. Dunia sedang terjungkir balik. Kilas kelebatan gambar-gambar memenuhi kepalaku. Bahkan sekarang aku kembali bisa mengawasi masa depan tanpa konsentrasi berarti. Tanpa tarot. Tanpa garis tangan. Tanpa daun teh. Segalanya terasa memusingkan.

Seperti melihat film bisu yang bergerak kabur. Kebanyakan hanya tentang dia dan seorang perempuan yang berada di rengkuhannya. Persis seperti mimpiku saat itu.  

“Aku juga merasa aneh. Aku juga pernah memimpikanmu jauh sebelum saat ini. Kau tahu, kakekku juga bisa membaca masa depan. Ia berkata, jodohku akan datang dengan sendirinya. Ha! Tidak heran, setiap hubunganku dengan wanita, selalu berakhir dengan tiba-tiba di tengah jalan. Kupikir kakek tua itulah yang menyebabkannya. Entah apa ini ada hubungannya denganmu. Tapi ia menyuruhku mencari pertanda.”  

“Sudah lama sekali aku mencari perempuan ini -dengan segala omong kosong kakekku- yang diceritakannya memang ditakdirkan untukku. Yang akan menggenapi rusukku. Yang akan merawatku hingga mati.”  

Ia menelisik wajahku, kemudian memainkan jemariku.  

“Kupikir.. kupikir mungkin kamulah perempuan itu.”  

Ia berujar kemudian, malu-malu. Aku terbahak. Konyol sekali rasanya, percaya pada ramalan, takhyul, dan hal-hal mistik macam itu. Bahkan kami belum saling mengenal, tapi geletar aneh saat ia menyentuh, menatap dan berbicara melalui suaranya yang bergemerincing, benar-benar memasung hati dan pikiranku dalam sekejap.  

“Namamu Ross. Mawar, bukan? Dan aku memang sengaja mengukir mawar di tanganku. Kakekku yang mewanti-wanti aku harus mencari pertanda tentang mawar..”  

“Aku juga melihat mawar di cangkirmu, saat kau datang..”

Bisikku lirih, tidak berani mengangkat wajahku yang merah padam. Aku belum pernah jatuh cinta.  

Ia terpana, menjatuhkan tanganku dari genggamannya. Kemudian ia memungutnya lagi dengan kedua belah tangan. Hangat. Hangat sekali.  
“Kenapa kau tidak mengatakannya?”

Bisiknya di telingaku.  

“Aku melihatnya saat kau sudah beranjak dari tendaku.”  

“Sulit dijelaskan, tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta saat pertama melihatmu.”

Bisiknya lagi. Membuatku mematung.  

“Tapi hanya karena pertanda lalu kita bisa jatuh cinta?”

Usikku, kemudian menempelkan kepalaku di kepalanya.  

“Pertanda itu sudah ada bertahun yang lalu, kita hanya belum saling menemukan.”

Kemudian ia mengecup bibirku. Rasanya ada ribuan permen coklat meleleh di sana.  

“Menemukan hanya perkara waktu, dan kita sudah saling memiliki, jauh sebelum bertemu..”

Iklan