Api

Ia melihat perempuan itu begitu saja. Bintang-bintang bergayut di ujung rambut sang perempuan saat ia mengibaskannya. Hanya merah yang memenuhi matanya. Merah yang hangat. Merah yang rekah. Merah yang damba.

Perempuan itu mengerling, sejenak. Menancapkan pandangan ke sepasang mata miliknya sendiri.

*
Ia teringat pada cerita usang yang didongengkan padanya saat matanya terbenam pada malam yang lelap. Pada malam yang pekat. Pada malam yang sembap. Karena pada malam yang sama, ia akan terbangun kembali, menggigil dingin saat udara menyengat panas, dan dari pipinya, bergurat-gurat air meleleh dari matanya.

Ia merasa perih yang entah. Seolah-olah sang mimpi sendiri yang membuatnya jeri. Ia tidak pernah ingat mimpinya. Namun di kepalanya selalu mendengung dongeng dari bibir keriput nenek buyutnya yang beraroma kayu lapuk.

Hati-hatilah pada nyalang api yang menjilat-jilat rongga di tubuhmu. Karena saat panas itu membakarmu dari dalam, dia akan datang.

Peri bergigi runcing dan berjubah api. Ia hanya akan mengabukanmu tanpa engkau bisa menyadari.

Hati-hati.

Sejak saat itu, hatinya diliputi panas yang menggeliat-geliat. Dan ia tidak berhenti mencari-cari peri berjubah api.

*

Ia pernah bertanya, suatu ketika. Kepada ibu yang memeluknya suatu malam saat ia terbangun dan kembali berteriak.

“Siapa peri bergigi runcing dan berjubah api itu? Apakah ia ada?”

Ibunya hanya tersenyum, lalu menjelaskan bahwa itu hanya dongeng sang nenek buyut untuk menakutinya. Sebab, menurut ibunya, setiap manusia selalu memiliki api di dalam dadanya. Itulah yang membuat mereka semua hidup, dan bersemangat. Ibunya menutup cerita dengan menarik selimut hingga batas dagunya.

Malam itu, ia kembali bermimpi. Kali itu, ia terbakar di pasungan yang dilalap api. Namun aneh, ia justru mencengkeram sang api. Di sudut matanya, sang peri mengerling, menatapnya dengan sepasang mata merah yang merekah. Menyala-nyala.

*

Ia memiliki api. Ia membakar apa saja. Ia menghanguskan manusia. Ia mengabukan laki-laki. Memanggang perempuan. Mengganyang yang bukan keduanya.

Api disungginya tinggi-tinggi. Kali itu ia tidak lagi bermimpi pekat yang membuatnya kalut, dan ia tak lagi menggigil di saat udara menyengat dengan sangat. Ia melupakan mimpi yang membuatnya jeri.

Ia memiliki api. Api di dada. Api di kepala. Api di selangkangan.

Ia berjengit menatap sebaris gigi runcing dan jubah api berpendar di pundak perempuan. Bintang-bintang berdenyar di ujung rambutnya. Perempuan itu mengerling dari balik cermin. Menatap wajah yang menatapnya balik dengan jengah.

Hati-hati dengan api yang nyalang yang membakarmu dari dalam,
Sebab saat api itu kau pelihara, ia akan datang
Peri bergigi runcing, bermata darah, dan berjubah api

Hati-hati dengan api,
Sebab ia akan menjelma engkau
Dan engkau adalah satu.

Aku menulis ini untukmu, bacalah. Dengarlah.

Aku adalah hantu. Ya. Hantu. Kau boleh menertawakanku. Tapi, sebelum engkau tertawa hingga jantungmu memutus berhenti, dengar, dengarkan dulu ceritaku.

Jadi, aku adalah hantu, tahukah tempat bagi para hantu? Ya. Ya. Di antara sudut berkabut antara purnama dan muka bening telaga. Di antara dahan -ranting, atau akar akasia, atau beringin, atau kemboja -sebut saja semua pohon keramat itu! Aku berdiam, diam-diam di antara bayang-bayang.

Tahukah kau bagaimana rasanya menjadi hantu? Tidak ada rasanya. Hantu itu transparan, tentu kau tahu itu. Hantu tidak pernah tidur, tidak pernah bermimpi, tidak pernah punya harapan. Hantu hanya berenang-renang di dalam angin, tertawa-tawa di dalam hujan. Hantu tidak memperdulikan malam, tidak mengindahkan pagi. Hantu tidak membedakan benderang matahari, atau lembut bulan yang tersipu.

Hantu selalu abu-abu. Terkadang ada. Lebih sering tidak ada. Begitulah. Aku selalu berdiam di bawah bayang-bayang.

Lalu, bagaimama aku bisa mengenalmu, padahal aku adalah hantu?

Aku masih belum tahu pasti tentang pertanyaan yang juga terus mendengung di kepalaku itu. Aku juga masih bertanya, mengapa aku begitu manusia. Sekali lagi kujelaskan, aku adalah hantu.

Aku punya teori.

Begini,

Hantu, kau tahu, mereka juga punya emosi, meski sangat samar dan tersembunyi. Mereka juga bisa merasa, meskipun kebanyakan memilih mengabaikannya, karena rasa itu tidak akan bisa diterjemahkan menjadi hasrat, mimpi, atau harap. Rasa itu biasanya hanya singgah kemudian menguap, hilang.

Aku telah hidup lama, kau tahu. Atau mati lama, karena aku adalah hantu. Selama hidup -atau mati, terserahlah! Aku banyak mengamati. Aku hidup di iklim emosi. Iklim yang sebenarnya terlarang bagi para hantu. Aku tidak boleh terikat dengan emosi, emosi kepada benda -maksudku makhluk yang masih hidup, bernapas, dan punya detak nadi.

Bahkan aku tidak boleh terlalu rapat menjalin emosi dengan akasia yang kudiami. Aku tidak boleh membuat para hidup menjadi dekat dengan yang sudah mati.

Tapi, aku melanggarnya. Aku memilih tinggal di akasia renta. Aku tahu dia kesepian dan kehilangan kekasih.

Jangan tertawa. Benar, akasia itu punya kekasih. Seekor parkit cokelat yang bersayap patah sebelah. Kau mau mendengar kisah akasia dan parkit itu?

Lain kali akan kuceritakan. Kali ini aku harus fokus tentang ceritaku sendiri. Dan ceritaku ini, sebagian -atau keseluruhannya adalah ceritamu juga. Jadi, dengarkan baik-baik.

Jadi, setelah aku berdiam di bawah bayang-bayang akasia tua itu, aku semakin tertarik pada hubungan emosi. Aku menjadi terobsesi. Benar, padahal hantu tidak bisa terobsesi. Ia hanya bisa tertarik sebentar, kemudian hilang. Seharusnya hantu seperti itu. Seharusnya. Tapi kita tahu, seharusnya itu selalu tidak berlaku. Selalu ada penyimpangan-penyimpangan tentang suatu hal yang seharusnya pasti.

Jadi, setelah akasia itu bisa kuajak bicara, setiap malam ia menangis padaku. Ia bilang ia rindu kekasihnya yang riang. Ia rindu kekasihnya yang tidak bisa lagi terbang. Ia rindu dahannya dipatuki paruh lancip itu, ia rindu, ia rindu! Anehnya, aku mulai ingin merindu. Entah pada siapa.

Satu hal, para hantu memang saling mengenal. Tapi mereka tidak saling merindu. Bayangkan satu koloni besar yang saling mengenal, tapi lumpuh rasa satu sama lain. Bayangkan betapa matinya. Benar. Itulah koloni para hantu. Dan kami tidak juga mati, mati dalam hal pergi ke surga atau neraka, semacam terjebak, seperti itulah.

Jadi, kemudian aku merasa ingin merindu. Aku terikat pada akasia itu, aku selalu memaksanya bercerita tentang kekasihnya. Ah, aku ingin punya kekasih. Ingin sekali. Jangan tanyakan bagaimana semasa aku hidup, sebelum menjadi hantu, seperti apa aku. Setelah beberapa abad, memori itu memudar, kami menjadi hampa, menjelma kabut-kabut transparan.

Kemudian ada Perempuan yang ingin mati.

Ia menjerat maut dengan kedua tangannya sendiri. Ia mengumpan maut dengan tubuhnya sendiri. Saat itu, maut hanya satu jengkal jaraknya, dan ia mendadak tersungkur, menjauhi lonceng kematian yang sudah mulai berdenting untuknya.

Kamu. Kamu yang membuatnya tersungkur.

Aku belum pernah melihat sesuatu yang bisa begitu dalam mengoyak emosiku seperti itu. Aku melihat mata perempuan itu, matanya mati. Seperti danau hitam tanpa dasar, tak terbaca. Namun bibirnya menyunggingkan senyum, senyum itu keji di bawah temaram purnama, dan dengan engkau yang meneteskan darah di bibir. Kalian berdua tersungkur, dengan hitam sebagai latarnya, dan deru kendaraan berlalu lalang di hadapan kalian.

Perempuan itu berkata, ia ingin mati, dan kamu bilang, jangan. Kamu tidak mau dia mati. Lalu kamu memeluk dia. Dia menangis namun wajahnya bercahaya. Lalu aku merasa merana.

Siapa aku? Aku hanya hantu.

Akasia tua itu bergumam lirih.

“Aku rindu kekasihku.”

Aku, mengangguk muram. Semuram temaram malam.

“Aku juga merindu. Siapa Rindu?”

Karanganyar, 13 Januari 2013. Ketika rindu, mendadak enggan padam.

Apa yang Lebih Buruk dari Mati?

picture by etsy.com

“Apa yang lebih buruk daripada mati?”

Saya melempar ponsel ke tempat tidur. Kemudian badan saya menyusul. Mendarat dengan kepala lebih dulu, menelungkup di bantal. Pertanyaan yang sama berputar di kepala saya.

Apa yang lebih buruk dari mati, sedangkan saya sendiri belum pernah mati? 

Saya teringat aroma uap chamomile yang sering ia hirup untuk menenangkan diri. Bagi saya, menenangkan diri membutuhkan lebih dari sekedar uap chamomile atau menyesapnya di bibir. Saya butuh rokok dan ampas kopi. Saya harus menghisap rokok dan menjilati ampas kopi hingga mengering di bibir saya. Tapi ini bukan mengenai chamomile atau ampas kopi. Saya tidak butuh ditenangkan. Ini mengenai mati. Saya belum pernah mati.

Saya teringat janji-janji tentang sehidup semati itu. Saat saya mengamati dia di balik lensa kamera saya, dia terbang melincah di padang daffodil kuning cerah. Dan cahaya matahari membuatnya berpendar-pendar seperti peri. Seandainya dia punya sepasang sayap dan lingkaran halo di kepalanya, saya tidak akan terkejut. Saya memotretnya tanpa henti. Mengagumi senyumannya yang cemerlang, mengalahkan keindahan lansekap di sekelilingnya. Dia berputar menghadap saya, membuat saya termenung dengan mulut menganga. Saya sedang melihat surga. Lengkap dengan bidadari yang memang sudah menjadi milik saya. Saya jatuh cinta padanya -untunglah, dia membalas cinta saya. Saya kemudian berjanji untuk sehidup semati bersamanya. Dia menerimanya dengan tawa yang mengguncang bahunya. Saya dan dia kemudian berfoto bersama. Dengan lansekap  padang daffodil menyala di belakang kami berdua.

“Katakan, apa yang lebih buruk dari mati?”

Ponsel saya kembali bergetar di samping kepala saya. Malas-malasan saya membaca pesannya, kepala saya menjadi ramai hanya untuk memikirkannya saja. Saya kembali menyurukkan ponsel itu. Kali ini ke kolong kasur. Biar saja ponsel itu berdebu di bawah sana. Biar saja dimakan laba-laba di bawah sana. Saya beri tahu ya, para laba-laba di bawah sana itu sangat bengis. Dia memakan apa saja. Bahkan dia memangsa mimpi-mimpi indah saya, mereka mencurinya, lalu menyulamkannya di jaringnya yang lengket. Kemudian sebagai gantinya, mereka mengirimkan kutukan-kutukan kepada saya. Pesan-pesan singkat di ponsel itu, salah satunya. Para laba-laba di kolong kasur sayalah penyebab semua mimpi buruk saya. Semua kesedihan saya. Begitulah, setidaknya yang saya percayai.

Lalu saya kembali memikirkan pesan itu. Apa yang lebih buruk dari mati? Saya belum pernah mati, tapi saya sudah pernah ditinggal mati. Tapi saya juga tidak tahu, memangnya ada yang lebih buruk dari mati? Saya selalu ingat potret saya dengan dia saat itu, saya menyimpannya rapi di dalam kepala saya. Saya tidak mau meninggalkannya tergeletak, laba-laba itu akan mencurinya, lalu menggantikan pemandangan seram untuk saya. Di dalam foto itu, dia tersenyum sangat lebar, sedangkan bibir saya hampir bisa dikatakan menyeringai. Saya tidak suka difoto. Saya hanya suka menggunakan kamera untuk mengabadikan obyek yang saya suka. Sayang, saya sendiri bukanlah obyek yang saya suka.

Dia dulu sangat ceria, sangat apa adanya. Dia selalu mengumandangkan tawanya yang ringan namun mengguncang bahunya. Dia selalu tersenyum lewat matanya. Saya selalu tersihir saat melihatnya bergerak, sangat selaras dengan semesta yang mengiringinya. Dan kebaikan hatinya selalu bisa membuat saya tersenyum, selalu bisa mendamaikan diri saya yang sering bergolak. Dia bisa memadamkan bara di dada saya, menggantikan kemarahan yang membakar di sana, mengubahnya menjadi hangat dan bertumbuh, menggelitiki perut saya.

Dia selalu menyukai padang daffodil di belakang rumah saya. Padang itu tidak bisa disebut padang yang sebenarnya, hanya sepetak tanah yang ditumbuhi bunga-bunga kuning itu, karena ibu saya menyukainya. Padang kecil itu dikelilingi pagar kayu yang sudah lapuk. Tapi memang saya tidak bisa menyangkal keindahan lansekap di sekelilingnya. Ibu saya suka pegunungan, maka dia membawa saya ke sini. Ibu saya hidup di antara ranting-ranting pakis, di antara bunga-bunga kuning, dan dia bersenandung doa di udara. Ibu saya sudah mati, itulah sebabnya tadi saya bilang, saya tahu rasanya ditinggal mati. Tapi saya tetap tidak menemukan jawaban dari apakah yang lebih buruk dari mati. Saat ibu saya mati, saya tahu dia meninggalkan senyumannya untuk saya, saya tau ibu saya tetap hidup di antara harmoni semesta yang beriringan dengan saya. Itulah, saya tidak mau membiarkan lubang di dada saya menganga terlalu lama karena kehilangan dia, selebihnya lubang itu sembuh berkat  peri saya yang baik hati itu.

Pikiran saya memang selalu melantur. Dia, yang menyukai padang daffodil itu selalu mengatakan, ada jutaan burung yang hidup di kepala saya dan mereka tidak henti-henti berkeriap, memunculkan banyak pikiran-pikiran di dalam kepala saya. Dia mengatakan mungkin kepala saya adalah sarang yang nyaman untuk mereka, mungkin remah-remah ide saya begitu lezat hingga burung-burung mungil itu akan terus menetap di sana. Ia tidak mengatakan hal itu buruk, sejauh saya masih bisa mengenali burung mana yang sedang bicara, dia bilang, tidak akan jadi masalah kalau saya selalu melantur. Tapi saya harus fokus kali ini, pertanyaannya di dalam pesan ponsel tadi masih menunggu saya, dan sangat mengganggu.

Jauh, jauh hari sebelum pesan-pesan itu ada, mimpi saya dicuri para laba-laba. Saya terbiasa dengan kedamaian yang memabukkan. Saya terbiasa tidak pernah memimpikan apa-apa. Kecuali terkadang saya bermimpi menjebak dia –kamu- ke dalam kamera saya dan memenjarakan kamu selamanya supaya saya bisa memiliki dia selamanya. Baiklah, saya akan memanggil “dia” –peri cantik itu- dengan sebutan –kamu. Supaya seolah-olah kita sedang berbincang. Karena saya sangat bingung sekarang dengan perubahan sikap kamu, mendadak selalu membicarakan kematian, dan setapak demi setapak bergerak mundur menjauhi saya. Sejak mimpi saya dicuri para laba-laba, dan berganti dengan mimpi seram yang menggambarkan bahwa saya tidak bisa menemukan kamu lagi di padang saya, segera saya merasa gelisah.

Saya mencari kamu. Saya mencari kamu di tempat kamu menemukan saya. Kamu ingat di dekat danau mati itu, kan? Danau yang kering itu, yang walaupun turun hujan selama empat puluh hari, tetap akan kering kembali? Saya tahu danau itu masih menunggu hujan yang tepat untuk kembali menghidupkannya. Saya menjadi mirip danau itu, saya merasa kering. Merasa mati. Saya hanya menunggu kamu untuk kembali mengisi saya. Saya tidak bisa menemukan kamu di mana-mana. Mimpi-mimpi saya selalu kembali berulang, saya kehilangan kamu dan tidak bisa menemukan kamu. Mimpi saya mewujud nyata. Lalu saya menghubungi kamu melalui ponsel. Saya tahu ponselmu bergetar di telapak tanganmu, tapi kamu tidak juga menjawab panggilan saya. Saya menjadi ketakutan saat kamu membalas pesan saya dengan kalimat apa yang lebih buruk dari mati.

**

Dia ada di sana. Kedua matanya tajam mengawasi. Menangkap apa yang menjadi fokusnya. Dia tidak mendengar langkahku mendekatinya. Dia seperti singa yang sedang memburu mangsanya, seluruh indranya terfokus pada apa yang di depannya.

Klik.

Dia terlonjak dan berpaling dengan sengit ke arahku. Aku menangkap potretnya dengan kamera saku yang hasil gambarnya selalu blur dan tidak jelas. Kamera yang tergantung di lehernya tentulah jauh lebih bagus hasilnya dari milikku, namun aku tersenyum melihat potretnya abadi di dalam kameraku. Ia berdecak kesal, buruannya lepas. Seekor burung mungil berwarna putih –entah aku tidak tahu namanya, telah membubung ke angkasa. Jelas, kedatanganku mengagetkan pemburu sekaligus buruannya.

“Maaf. Maaf mengagetkanmu.” Ujarku, sementara aku melihat kilat matanya berapi-api, dia kesal. Oh tidak. Dia sangat kesal. Dia berbalik dan membawa punggungnya menjauhiku. Aku tersaruk-saruk mengikutinya, dia belum juga mau bicara.

“Ayolah. Aku hanya butuh teman bicara.” Aku kembali mencoba. Berhasil. Dia menolehkan kepalanya, kemudian melampiaskan kekesalannya. Dia marah-marah lebih dari dua puluh menit. Namun, setelah kekesalannya mereda, ia menanyakan tujuanku mendatanginya.

Aku bilang padanya aku turis yang akan tinggal di daerahnya dalam waktu beberapa lama. Dia bertanya macam-macam. Apakah aku punya keluarga, berapa usiaku, kenapa aku memotretnya dan membiarkan objeknya lepas, kemudian dia juga bertanya satu hal.

“Mengapa mau berbicara denganku?”

Kami berbicara sambil berjalan di antara semak-semak dan daun-daun berwarna cokelat menutupi alas hutan. Aku suka hutan. Aku suka pegunungan. Dan aku suka pemuda yang sedang berbincang denganku ini. Aku ingat pipinya bersemu saat aku menjawab pertanyaannya.

“Mengapa aku tidak boleh berbicara pada orang yang ingin kuajak bicara?”

Kemudian kami semakin sering bertemu. Aku selalu mengunjunginya, karena dia tidak suka berkunjung selain ke hutan dan ke tepi danau yang mati itu. Beberapa orang yang kukenal memperingatiku, dia pemuda yang aneh. Dia lebih suka memandang lewat lensa kamera dibanding berbicara. Pemuda yang aneh, tinggal sendirian untuk mengurus padang bunga. Pemuda yang aneh. Tidak suka bersosialisasi. Yang lebih menyukai burung untuk dipotret, ketimbang gadis-gadis. Aku tahu, aku mengenal dia lebih baik dibanding semua orang yang selama ini hidup berdampingan dengannya sebagai tetangga dekat. Oh, aku tidak peduli. Sama sekali.

“Apa yang lebih buruk dari mati?”

Aku membalas pesannya untuk yang pertama kali, sejak berpuluh-puluh pesan yang sama menghujani kotak masuk di ponselku, dan potretnya menyala di dalam layar ponselku.

“Di mana kamu? Kenapa tidak menemui saya? Ke mana saya harus mencari kamu?”

Pesan-pesan yang sama membanjiri ponselku lagi, lagi dan lagi-lagi. Aku masih ingat janji itu. Janji sehidup semati di padang bunga miliknya.

Tahukah dia apa yang lebih buruk dari mati?

Aku menunggunya menemukan jawaban pertanyaan itu. Sementara, tarikan napasku kuhitung mundur.. Tiga.. Dua..

**

Saya tidak ingin menangis. Tapi sesuatu merobek dada saya, melubanginya dan membuatnya bernanah. Baunya sangat busuk hingga saya tidak tahan untuk tidak berteriak. Saya sangat tidak mengerti apa yang kamu inginkan dari saya. Saya jatuh kepada kamu yang menemukan saya. Saya membuka diri saya kepada kamu yang mengetuk pintu hati saya. Lalu saya sekarang terpuruk. Tersuruk di kaki kamu. Kamu tahu, saya ingin mengoyak jantung saya dan memberikannya kepada kamu.. Saya ingin jantung kamu berdetak, dan saya akan hidup di dalam jantung saya –yang saya berikan kepada kamu.

Kenapa kamu memberikan saya pertanyaan bodoh itu? Pertanyaan yang sekarang digunakan para laba-laba untuk menyerang saya, dan kini menjadi lebih menyakitkan karena saya kini tahu jawabannya. Para laba-laba itu menyulamkan jawabannya di jaring mereka, kemudian menyusupkannya ke dalam mimpi saya. Semunya menjadi sangat buruk karena bahkan jika saya berteriak dengan lantang, saya tetap tidak bisa memberitahu kamu apa jawabannya.

**

Ellois Illyana, perempuan yang telah mengukir senyum di setiap wajah yang mengenalnya, untuk mengenangnya.

Rest In Peace.

Saya tahu, apa itu yang lebih buruk dari mati. Saya kehilangan kamu. Lebih baik saya mati.