Ashoka dan Api yang Membakar Kepalanya

Perempuan itu memiliki rambut sewarna api, api paling membara bagi siapa saja yang telah meilhatnya. Api yang bisa menyulut hasrat paling dalam di dada manusia. Laki-laki. Perempuan. Bahkan yang berada di antaranya. Atau, yang bukan sama sekali di antara keduanya.
Perempuan itu membiarkan saja mahkota yang disungginya itu basah, mengkilat, dan terasa memanggil, terus menari-nari. Dan makhluk lain yang melihatnya akan menelan hasrat mereka yang mendadak membuncah, lalu tergesa-gesa untuk memadamkan gairah yang mendadak rekah. Susah payah mereka meredamnya. Karena, apa yang dibangkitkan api di dalam rambut perempuan itu adalah keinginan sejati mereka yang menapakkan kaki di dunia.
Ia meliukkan tubuhnya, bahunya berguncang seiring kakinya menapak langkah, ia membawa serta kunci yang bergemerincing di lengannya. Perempuan ini memiliki bahu melengkung khas perempuan yang tidak pernah berlatih beban. Tubuhnya kurus dengan tulang-tulang selangka yang menonjol. Sepasang matanya berbinar-binar meskipun ia tidak pernah mengerti kenapa mata itu terus berbinar, sementara api di hidupnya sudah padam, bahkan sebelum sempat bara itu menggeliat.
BUKA
Ia membalik tulisan yang telah lusuh dan coreng-moreng di dinding luar loket berwarna biru yang anak-anak kuncinya bergemerincing di lengannya. Orang-orang mulai mengedip padanya, berjejalan, berdesak-desakan, beringsut menuju ia yang kini duduk di ruangan loket yang sarat aroma besi dan tembakau. Panas. Panas sekali di dalam sini. Ia ingin mengikat api yang berkibar di rambutnya. Namun ia sedang sangat ingin bercumbu dengan sesuatu. Seseorang. Beberapa orang. Siapa saja.
Perlahan, ia menyulut rokok lintingan yang selalu terselip di telinganya.
“Lima ribu satu orang.”
Suara perempuan ini dalam dan serak. Sesekali ia terbatuk, namun asap masih zaja mengepul dari balik bibirnya.
“Anak-anak juga lima ribu. Sama.”
Keringat menetes di tengkuknya. Asap memenuhi pandangannya. Orang-orang masih berdesakan. Berjubel-jubel di hadapannya. Hari pertama sirkus itu buka di Kerta Maya. Hari pertama pula ia menjual sesuatu selain tubuhnya.
*
“Berapa?”
Hari sudah terlanjur jauh menuju larut, namun laki-laki di depannya masih terlihat rapi, dan aroma parfum segar tercium dari badannya yang atletis. Perempuan itu memain-mainkan ujung rambutnya. Memilinnya. Memuntirnya. Ada yang bergejolak di dirinya. Hasratnya membuncah. Hasrat yang mulai padam akibat keringat dan asap yang membelit tubuhnya seperti jaring laba-laba itu menggelegak, meletup-letup menuntut puas hingga tuntas.
“Lima ribu, tuan. Tapi hari sudah jauh malam. Sebentar lagi Gigir Perigi tutup.”
Laki-laki itu tersenyum, anehnya, terlihat begitu cemerlang di matanya.
“Ambil saja kembaliannya.”
Laki-laki itu berlalu.
Perempuan penjual karcis itu menggaruk pipinya. Tiga bekas luka melintang dari mata menuju dagunya, terasa gatal.
Siapa laki-laki itu?
Malam itu ia dipenuhi oleh hasrat yang terasa melimpah-limpah. Rambutnya basah oleh gairah. Jam di sakunya menunjukkan angka sebelas. Ada angin yang menggelitik tubuhnya, ia mengancingkan kemeja flanel merah yang dikenakannya. O, betapa ia ingin rapat. Betapa ingin ia hangat. Hari itu ia menggerai rambutnya, namun tidak seperti biasanya, di mana banyak mata yang melempar ingin ke dadanya, di mana banyak desah yang ingin mampir ke telinganya, hari itu tidak. Tidak ada yang meliriknya meski ia mengibarkan rambutnya yang sewarna api. Tidak ada yang menginginkannya sebesar ia menginginkan mereka semua. Hanya ada laki-laki terakhir yang membeli tiketnya.
Ia teringat sebelum malam itu, ia bermimpi, ia telah bercumbu dengan seekor singa. Tubuh binatang itu liat di dalam dekapannya. Geraman buas yang menyeruak dari dalam dada hewan itu membuatnya menggeliat, membuatnya melenguh menderu-deru. Ia bermimpi cakar itu merobeki tubuhnya, dan dengan senang hati ia menyerahkan tubuh telanjangnya. Ketika taring sang Raja terbenam ke dalam kulitnya, ia terbangun, tersengal-sengal, lalu air mata memenuhi wajahnya. Tidak ada singa. Tidak ada laki-laki. Tidak ada wanita di sisinya. Tidak ada yang di antara keduanya. Ia hanya merasa merana.
*
“Kau terlihat kacau, Non.”
Laki-laki itu datang lagi saat perempuan itu hendak mengunci bilik loketnya. Bersetelan rapi dan gaya. Menguarkan aroma yang membuatnya terpana. Mendadak ada yang menyala-nyala di dalam dirinya, padahal ia mengira bara di dalamnya sudah mati. Mati sejak tiga luka tertoreh di pipinya yang dulunya pualam. Mati sejak ia harus berpindah-pindah menghindari razia petugas moral. Ia hanya punya tubuh yang indah. Maka ia menjualnya.
Petugas-petugas itu beberapa pelanggannya. Mereka yang mengisikinya untuk segera pindah jika ia berdiam terlalu lama. Ia berpindah. Melompat dari satu sarang ke sarang lain. Sampai ia lelah, lalu menyerah. Perempuan itu lantas mendatangi rombongan pasar malam yang hendak membuka acara mereka. Mengemis kepada pemiliknya. Lagi-lagi ia bersiap harus menjual tubuhnya, namun, pemilik pasar malam itu berbudi. Laki-laki itu memberinya tumpangan, memberinya makan, memberinya atap untuk berlindung. Syaratnya, perempuan itu harus bekerja padanya. Menjual karcis saja. Jangan menjual yang lainnya. Perempuan itu patuh.
Ia tidak lagi menjual tubuhnya. Ia berhubungan dengan siapa saja yang ingin bercumbu dengannya. Tanpa harga.
“Non.”
Laki-laki itu masih di sana. Entah berapa lama benaknya berkelana. Melupakan laki-laki yang kedatangannya terlalu larut untuk bercengkrama.
“Sebentar lagi kami tutup, tuan.”
Dari kejauhan perempuan itu melihat lampu bianglala tak lagi menyala, sementara tenda-tenda mulai meredupkan cahayanya. Para pekerja mulai terlihat hilir mudik membongkari wahana. Kuda-kuda karusel terlihat muram tanpa penunggangnya, temaram cahaya membuat catnya yang mulai terkelupas berubah bersepuh kelam serupa malam.
Laki-laki itu mengulurkan rokoknya, rokok putih mint khas kaum borjuis. Perempuan itu menggeleng, ia lantas memantik api pada lintingan yang telah dikepitnya di antara telunjuk dan jari tengah.
“Sudah ada.”
Laki-laki itu megernyit memandangnya.
“Tembakau saja?”
Perempuan itu tertawa.
“Ditambah sejumput daun dari surga untuk sekeping tawa, tuan. Mau mencoba?”
Laki-laki itu tersenyum, mendekatkan wajahnya ke arah perempuan, melekatkan tubuhnya di box besi yang berfungsi sebagai loket. Mereka saling memandang, hanya terhalang sekat kaca. Hanya ada lubang setengah bundar tempat perempuan itu biasa mengangsurkan karcis kepada pembelinya.
“Sudah mau tutup, Non. Jalan denganku, sebentar?”
Perempuan itu melayang di sisi sang laki-laki. Malam itu bulan bundar sempurna.
*
Malam itu bulan bundar sempurna, tapi laki-laki itu hanya menyisakan satu pertanyaan yang menari di kepalanya.p
“Kamu mau itu, Non?”
“Itu?”
“Lebih baik dari lintingan ganjamu.”
Perempuan itu melepas kemejanya, beberapa pekerja yang masih sibuk hilir mudik membongkari wahana membelalak ke arah sepasang buah ranum yang menggantung di dadanya.
“Aku mau, ini.”
Perempuan itu menuntun lelaki itu menelusup tubuhnya, menekannya di tempat ia ingin disentuh, dan betapa herannya ia saat lelaki itu justru menepiskan tangannya.
“Bukan itu, Non. Ini, ambillah.”
Laki-laki itu memberinya sebungkus sesuatu. Ia bisa menghirupnya dan terbang sesudahnya. Terbang. Tanpa kendali.
Perempuan itu memungut kemejanya, lalu berlari menuju tenda tempat ia biasa rebah dan memejam mata. Ada yang retak di kedalaman dirinya. Ia belum pernah ditolak sebelumnya.
*.
“Bagaimana, non? Mau itu?”
Laki-laki itu ternyata mengejarnya. Berdiri di luar tenda dengan tangan terlipat di dada, dan kemeja yang digulung hingga siku.
“Tuan tahu betul apa yang saya mau.”
Laki-laki itu berlalu. Perempuan itu mengejarnya.
“Ya, Tuan. Kenapa bahkan tidak bertanya siapa nama saya?”
“Tidak perlu, semakin sedikit saling mengenal, semakin baik, Non. Mau berapa?”
“Saya cuma punya tubuh saya, tuan. Dan saya sudah punya ganja.”
“Ambil saja. Cuma-cuma.”
Laki-laki itu melempar bungkusan yang isinya bisa membuat perempuan itu gila. Atau bahagia.
Perempuan itu ternganga.
“Nama saya Shoka, tuan!”
Laki-laki itu hanya melambai dari kejauhan. Punggungnya menjauh, malam yang rakus dan penuh rahasia menelannya perlahan-lahan hingga hanya jejak kakinya yang tersisa.
Perempuan itu terduduk. Ada yang menyerbu kepalanya. Ada panas yang terasa membakar dirinya. Menggenangkan air mata hingga tumpauh, meruah mengaliri eajahnya.
Pernah ada perempuan lain dengan cakar besi menindih badannya, memaksa mencicip buah molek yang baru tumbuh di dadanya. Merobek-robek kembang yang baru saja mekar di selangkangannya. Rakus. Rakus. Ia menangis, menjerit melawan sekuat tenaga. Namun cakar itu lebih kuat. Dan tajam. Dan mencabik wajahnya. Menyisakan luka codet tiga baris dari pipi menuju ke bibirnya. Ia hina. Ia terhina. Ia lalu lari, sejauh-jauhnya dari perempuan bercakar besi yang menetap di tempat yang dulunya ia tinggali bersama kakak lelakinya yang lembut. Dan penyayang. Dan beristri perempuan dengan cakar besi di tangannya. Dari situ ia belajar, tubuhnya adalah harta yang berharga karena perempuan itu bahkan ingin menjarahnya.
Dari situ ia belajar menggunakan tubuhnya. Menjumput api dan menaruhnya di rambutnya. Menyulut hasrat siapa saja yang memandangnya. Dengan itu, ia memiliki dunia.
Perempuan itu tergugu, sebungkus penawar telah tergeletak di samping kakinya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak berharga, dan ia terlalu jauh, terlalu jauh ia telah terluka… .

Perjalanan Setengah Tahun

Anak lanang yang dulu menghuni rahimku itu kini genap setengah tahun. Mikhael, sang malaikat pengayom pembawa terang, begitulah aku menamainya. Dagna, sang cahaya, aku memanggilnya. Aku mendoakan segala terang untuknya, dan gelap pasti tetap menjadi bayangannya, tapi aku tetap berdoa, segala kebaikan selalu kudaraskan untuk anak lanangku.

Sang Halomoan, sang kesayangan, Nababan, si batak nomor dua puluh satu. Siabangan bagi opung Nababan sekeluarga. Dia dicintai, dan aku berterima kasih pada alam raya atas berkat yang luar biasa ini.

Hari ini, genap perjalanannya setengah tahun, setelah kami berbagi tubuh lebih dari empat puluh minggu. Kami tidak lulus asi esklusif. Anak lanangku menolak menyusu langsung. Batak cilikku sudah merasakan manisnya buah apel dan pear di usianya yang baru setengah tahun kurang dua minggu.

Tidak apa-apa.

(Aku tidak akan menuliskan alasannya, aku hanya akan menuliskan alasanku ada hanyalah karena dia ada.)

Seperti yang telah kutulis, kami berbagi tubuh lebih dari empat puluh minggu. Di waktu seharusnya ia sudah menyundulkan kepalanya untuk merobek jalan lahir, ia memilih tenang, meringkuk diam-diam di dalam sana. Nyaman sekali, ya nak, di sana?

(Iya, ingin kukatakan dunia kejam, tapi biarlah ia akan mencicipinya sendiri, nanti. Seperti kata pepatah, tempat ternyaman adalah rahim ibu, namun tentu saja, kau tidak akan bisa meringkuk di sana selamanya! Hidup bukan hanya cari nyaman, nak! Hidup akan menempamu menjadi kuat dan tegar. Aku, tidak akan menuliskan bahwa kau harus kuat, kau harus tegar, tidak! Kau akan menjadi kuat karena Sang Hidup itu sendiri yang akan membuatmu kuat.)

Lalu akhirnya, karena tidak ada tanda-tanda kontraksi alami, dan air ketuban sudah menyusut habis, kami harus berjuang di meja operasi tanpa persiapan. Sama sekali. Tetapi Tuhan berkehendak semua lancar, meskipun sebelum pisau-pisau bedah itu mengiris perut dan dagingku, aku sempat was-was. Denyut jantung anak lanangku itu terlalu bekerja keras akibat asupan oksigen yang minim karena air ketuban yang sudah hampir habis.

Tapi sekali lagi, Haleluya! Kuasa Tuhan tidak ada yang menyangka. Syukur kepada Allah!

Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, tangisan itu merobek malam hening. Aku menangis. Bahagia. Haru. Tidak siap. Grogi. Waswas. Campur aduk… .

Lalu bayi merah yang masih penuh darah dan sisa ketuban itu didekatkan padaku. Aku ingin merangkul, mendekap ia erat, ingin kelekatkan tubuh mungil itu hangat di dada, dan menciumi pipinya yang bulat.

Namun aku tidak kuasa. Sepasang kakiku masih mati rasa. Sepasang tanganku diikat tali longgar, masih ditancapi infus dan sebagainya. Aku hanya bisa mencium kening anak lanang itu, dan berujar “Selamat datang, nak. Ini mama,”

Selanjutnya, Bapa Kami dan Salam Maria menjadi daras ujaran pertama dari bapaknya. Aku tahu, bapaknya pasti menangis. Sama merasakan hal yang aku rasa.

(Terima kasih, aku tahu kamu ayah yang baik untuk anak lanang yang sekarang sudah genap enam bulan dan sedang senang-senangnya berguling-guling di kasur. Dia selalu membuat kita waswas karena sewaktu-waktu bisa saja ia terguling, dan hanya lantai keras yang akan menangkapnya. Yang paling kencang menangis kesakitan setelah tangisan anak itu, tentu saja aku.)

Kami bukan orang tua yang sempurna, nak! Aku masih suka mengeluh: lelah, menjaga anak lanang itu seharian. (Padahal, konon hal itu adalah terlarang. Ibu tidak boleh bilang capek buat anaknya. Masa bodo, nak! Aku kalau tidak mengeluh, pasti sudah jadi bidadari. Atau, malah sudah mati. Tapi aku tidak akan mengeluh terus-menerus. Janji!)

Nak, maaf, ucapan selamat setengah tahunmu ini jika kau baca suatu hari nanti (dan saat kau sudah bisa membaca, kau pasti sudah mengenal betapa ruwetnya isi kepala mamakmu ini), jangan heran ya! Tertawa saja, dan jambak mamakmu seperti yang biasanya kau lakukan. Atau, guling-guling saja dari ujung kasur ke tempat mamakmu rebah, minta cium lalu nyengir seperti saat gigimu masih ompong.

Bertumbuhlah seperti semestinya, Dagna. Aku, ibumu, mamak ikan pausmu, tidak akan memaksa, apalagi menghalangi jalan yang mana saja yang hendak kau pilih, yang paling terjal sekalipun. Aku hanya akan berpesan, hati-hati, sejauh apapun kakimu membawamu jauh, pergi dari ibumu, selalu, ingatlah pulang, ke rumah di mana ada ibu yang mendekapmu, di mana ada ayah, yang mendoakanmu.

Saat di persimpangan, kenanglah rumah, ingatlah bagaimana ayah dan ibumu pernah memberitahumu akan sesuatu,dan jika ingatanmu tidak terlalu sempurna, ikuti saja terang yang selalu ada dalam hatimu. 

Selamat ulang bulan yang keenam, nak!

Selamat bertumbuh, Mikhael Dagna Halomoan Nababan!

SONJA

Sejak dulu, perempuan ditakdirkan untuk menjadi makhluk yang kuat di balik sosoknya yang selalu dipandang rapuh. Saat rahimnya rekah karena tunas yang mekar di dalamnya, tubuhnya bukan lagi miliknya. Dan ia harus menanggungnya selama sembilan bulan. Lebih atau kurang. Saat tunas itu bertumbuh, dirasakannya tubuhnya menjadi gembur dan bertambah massa. Pijakan kakinya limbung menahan beban yang tidak seharusnya.

Ia tidak lagi merasakan tidur yang nyaman. Seiring perutnya yang membulat, setiap gerakan akan terasa nyeri. Ia hanya akan meringis-ringis menahan sakit. Tidak sekalipun katup bibirnya membuka untuk mengeluarkan keluhan, apalagi serapah, padahal tubuhnya dirasanya bukan lagi miliknya. Ada makhluk yang sedang bertumbuh di dalamnya. Dan makhluk itu berbagi tubuh bersamanya. Sebaliknya, bibirnya justru tersenyum, sehat-sehat kau ya, nak, di dalam sana, sampai tiba saatnya kita berjumpa.

Perempuan itu, ibu. Pada sepasang matanya, teduh lautan menyimpan segala rahasia, rahasia yang selalu bermuara pada senyum yang tersungging di bibirnya. Rahasia yang tak pernah ia lelehkan di sudut matanya melalui bening air mata. Di dalam dekapan dadanya, berpulang segala gundah dan luka. Bahkan duka larut saat sepasang tangannya membelai rambut di kepala.

Ibu, di mana ibu?

Aku pernah mengenal perempuan yang kupanggil ibu. Perempuan yang dari sepasang ranum dadanya dulu, aku pernah menyusu. Ia kini masih kukenal dengan nama Ibu, namun, sepasang mata yang dulu teduh membayang lautan, di mana anak-anak ombak berkejaran dengan gembira kini telah berubah batu hitam. Rahasia-rahasia yang biasanya ia sembunyikan dengan pandai lewat tawa dan canda, kini menguar lepas melalui deras airmata.

Ibu, kenapa, Ibu?

Pada jaman dulu, Sonja, pernah hidup perempuan dengan sepasang sayap yang terbuat dari kaca, (malam itu hujan, gelegar petir mengamuk tidak seperti biasa, ibu mendekap tubuhku yang meringkuk dan gemetar ketakutan), sepasang mata perempuan itu teduh membayang lautan luas, hingga siapa saja ingin menyelam di kedalamannya.

Perempuan itu pastilah peri, ibu. Aku melupakan gelegar guntur yang membuat ciut nyali, dan betapa herannya aku ketika ibu justru menggeleng.

Bukan, Sonja, perempuan itu adalah perempuan biasa.

Tapi, ibu, perempuan biasa tidak punya sayap kaca bukan?

Di dunia ini, semua perempuan itu luar biasa, Sonja, tidak pernah ada perempuan yang hanya menjadi sekadar perempuan biasa. Nah, apakah kau ingin dengar lanjutannya?

Aku mengangguk dan merapatkan tubuhku ke badan ibu, di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Guntur dan petir masih mengamuk dengan gelegarnya.

Perempuan bersayap kaca itu mematahkan sayapnya yang indah, Sonja, memberikannya pada laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta. Laki-laki itu telah mampu menyelami lautan teduh di sepasang matanya. Laki-laki itu telah menanamkan riak-riak gelombang yang membuatnya merasa bahagia di dalam hatinya. Ia mematahkan sayap itu, karena, sayap-sayapnya hanya akan membuatnya selalu menjauh dari laki-laki yang ia puja.

Sayap-sayap kaca itu berubah tajam saat ia mendekatkan tubuhnya pada sang laki-laki. Sayap-sayap itu menolak menguncup saat perempuan itu ingin melekatkan badannya pada lelakinya. Bagaimana mereka bisa berdekatan dengan lekat, jika sayap-sayap runcing itu terus mengembang, seakan, mengancam akan mengirisi kulit sang laki-laki?

Sungguhlah saat itu aku dibuat bingung oleh cerita Ibu. Usiaku masih jauh dari remaja, namun jika kuingat-ingat dongeng malam itu, tentulah itu bukan dongeng untuk anak-anak perempuan yang biasanya.

Akhirnya, Sonja (aku melamun saat itu, membayangkan jika aku punya sayap runcing di punggungku, pastilah tidak ada yang mau mendekat, dan suara ibu mengagetkanku), perempuan itu memotong kedua sayapnya demi bisa berdekatan dengan laki-lakinya.

Sakitkah? Tanyaku.

Ibu hanya tersenyum simpul, pernahkah jarimu teriris saat memotong wortel? Sakitkah? Ibu bertanya.

Aku membalas dengan anggukan.

Seperti itulah pedihnya, dikalikan sepuluh.

Aku meringis. Ibu tertawa. Tawa paling indah yang pernah kudengar. Aku menyimpannya baik-baik di sudut kepala. Tawa itu tak pernah terdengar lagi sesudahnya. Aku hanya bisa mengulangnya di dalam kepala.

Lalu, setelah itu, apa yang terjadi, bu?

Batu hitam itu kemudian muncul ke sepasang mata ibu, menutupi lautan yang biasanya teduh di dalamnya. Menjadikan kedua matanya keras, kelam, dan mati.

Seperti kebanyakan dongeng pada umumnya, keberuntungan tak pernah berpihak pada perempuan yang telah berkorban demi lelakinya. Lihat saja Cinderella, dia kehilangan keluarganya hanya demi sang pangeran.

Tapi, Bu, ibu tiri dan saudara tiri Cinderella itu jahat, mereka menyiksa Cinderella, mengurungnya agar tidak bisa datang ke pesta dansa.

Sekali lagi ibu tersenyum, manis, manis sekali.

Ibu tiri Cinderella mengurungnya karena ia tahu, Pangeran itu mata keranjang. Tak direlakannya Cinderella yang cantik jatuh ke rayuan laki-laki berhidung belang. Kedua anaknya buruk rupa, ia tidak khawatir Pangeran akan merayunya.

Aku ternganga, Ibu melanjutkan ceritanya.

Lalu lihat itu, si Duyung yang menukar ekornya dengan sepasang kaki, ia merelakan suaranya hilang asal bisa ke daratan bertemu laki-laki impiannya, namun apa yang ia dapat? Ia berakhir tanpa suara hanya untuk melihat Pangeran pujaannya melenggang mesra bersama Putri Raja yang mengaku telah menyelamatkannya.

Aku terdiam. Hujan telah reda, dan mata Ibu yang biasa teduh membayang lautan masih berupa sepasang batu hitam.

Perempuan itu kehilangan sayapnya, ia kehilangan kebebasannya. Ia terbiasa terbang sehingga melangkahkan kaki saja ia kesakitan. Ia terbiasa menari bersama udara sehingga tanah membuatnya lemah dan basah. Ia terbaring, lembek, dan tak berdaya. Ia begitu basah karena air mata tak pernah mengering dari sudut matanya.

Lalu di mana lelakinya? Setelah didapatinya perempuan itu menjadi lemah dan buruk karena tak terbiasa dengan tanah, laki-laki itu masih dengan besar hati merawatnya. Memapahnya berjalan dari hari ke hari hingga perempuan itu kembali kuat dan bercahaya. Perempuan itu, meski tak punya sepasang sayap kaca, kini memiliki sepasang kaki kuat yang bisa membuatnya berdansa bersama lelakinya. Hidup mereka bahagia. Sangat bahagia.

Kemudian lahirlah peri mungil dari rahim perempuan itu, peri yang sangat cantik, Sonja, cantik sekali. Dengan segera hidup mereka semakin berwarna. Perempuan ini, sekali lagi, ia jatuh cinta. Bukan pada lelakinya saja, tapi juga pada peri mungil yang keluar dari rahimnya.

Namun ingatlah, Sonja, laki-laki itu makhluk pencemburu, laki-laki itu cemburu perempuannya terlalu mengasihi peri mungil mereka. Peri itu mulai bertumbuh menjadi perempuan kecil jelita, namun laki-laki itu malah mulai menyibukkan dirinya sendiri. Berkubang membuang-buang waktu dengan tidak pulang. Berhari-hari. Bermalam-malam. Sampai akhirnya perempuan itu tidak tahan. Berbagai rahasia telah menyelinap ke dalam matanya, mengeraskan mata itu menjadi batu. Tidak ada lagi lautan di dalam sepasang mata peremluan itu, yang tertinggal hanya kekosongan yang gelap. Kekosongan yang terasa keras dan getir. Rahasia-rahasia mulai ia muarakan di bibirnya, berderai-derai tawa disungginya di depan perempuan kecilnya yang jelita. Namun, sesungguhnya, berdarah-darah hatinya mengurai rahasia.

Ibu menghela napas, panjang. Aku merasakan getirnya.

Aku teringat akan ayah, bu.

Ia menelengkan kepala, melihat jam dinding bundar di dinding di hadapan kami, lalu beranjak tanpa menyelesaikan ceritanya. Ada bening yang menggumpal di sudut matanya.

Benar, Sonja, aku juga teringat ayahmu.

Dari balik punggung ibu, aku melihat seberkas bening kaca tergurat menyembul bergerigi di balik pakaiannya.

Solo, 11 oktober 2015.

Suatu Masa: Ketika Ellia bertemu Abiram

Ellia seakan ingin meledak dalam kumparan cahaya yang mengungkungnya. Di barisan semak lili merah jambu yang menari-nari, dadanya ingin meledak karena rasa senang yang muncul tanpa terduga-duga. Pagi tadi, saat ia memanen kuntum-kuntum embun di barisan para lili (bunga-bunga cantik merah jambu itu merona di bawah sentuhan tangan beledunya yang mungil), ia mendengar Sang Kenari bernyanyi:

Terselip di antara kabar angin,
Yang lama hilang akan kembali,
Rumah-rumah akan berseri,
Perapian dipenuhi nyala api,
Hangat hanya hangat yang mengusir sepi,
Tunas-tunas lalu bersemi,
Dia kembali.
Dia kembali.

Ellia sampai menjatuhkan keranjang embunnya yang berharga, embun itu sama berkhasiatnya dengan nektar para mawar, menghidupkan hidup yang beranjak layu karena matahari, mengembangkan sayap para peri, serta melukiskan pelangi di kulit-kulit pohon yang kisut.

Namun Ellia tidak peduli. Ia segera mengembangkan sayap yang menggantung lemas di bahunya, secepat kilat ia menuju petak matahari –sebentuk tanah yang diselimuti rumput berwarna ungu yang bermandikan matahari, di sana, tempatnya biasa berdiam, diam-diam merindukan peri yang lama tidak dilihatnya lagi. Peri yang lalu menghilang tanpa menyisakan kabar kecuali hanya berupa sepotong kisikan angin.

Aku pergi sementara saja.

Abiram.

Ia terbahak-bahak teringat buntut serupa buntut tikus yang menempel di tubuh Abiram. Cahaya matahari membuatnya sangat bersemangat. Bukan. Namun kabar dari Sang Kenari yang menyalakan hidup yang hampir lesap dari dalam dirinya.

*

Taman Para Peri. Begitu Abiram pernah menyebut hutan kecil tempat mereka tinggal, dan bersembunyi. Mereka adalah sekumpulan peri –kebanyakan dari mereka adalah peri pohon dan peri bunga, beberapa diantaranya  kelinci yang ternyata pesulap ulung, sekelompok marmut pencuri kenari, bergerombol-gerombol mawar pongah dengan duri berbisa, sebarisan lili merah muda tukang merona, sekumpulan pohon tua yang tidak mau menyebutkan nama, sepasukan belalang tanpa bulu mata, serta seekor burung kenari buta.

Abiram adalah Kepala Suku, para peri penari yang genit (peri-peri ini datang sesuka hati mereka, tinggal di kastil-kastil yang terletak di utara), menyebut Abiram adalah Maha Raja. Ellia terkikik-kikik geli saat peri-peri penari itu dengan genit mencolek-colek buntut Abiram dengan sikap menggoda. Abiram yang kehilangan kata-kata hanya menanggapi mereka dengan memberi mereka sekeranjang penuh nektar mawar yang mereka panen dengan susah payah. Peri-peri genit itu lalu pergi dengan mendaratkan kecupan masing-masing di pipi Abiram, dua kali untuk setiap peri.

Ellia sendiri adalah peri bunga biasa yang tidak memiliki keahlian apapun selain memanen embun dan membuat  lili-lili merah jambu menjadi lebih merona. Namun berkat keberanian Ellia di suatu pagi, saat melihat Abiram tersengat laba-laba raksasa yang entah berasal dari kutukan negeri yang mana, peri bunga itu mengisap racun itu sendiri melalui bibirnya. Akibatnya, Ellia kejang-kejang dan muntah-muntah lebih dari tiga putaran matahari. Abiram menaruh hormat tinggi-tinggi untuk itu.

Selain itu, Ellia adalah peri pemberani. Ia pernah mengusir sekumpulan lebah bodoh, menimpuki mereka dengan kotoran kelinci, saat kawanan itu memyerbu semak mawar pongah mereka yang berharga. Dan untuk itu, mawar-mawar berbisa telah berbaik hati memberikan nektar mereka tanpa menyengat Ellia sama sekali.

*

“Abiram, kau tidak penasaran?”

“Tentang apa?”

“Dunia.”

“Memangnya dunia kenapa?”

(Ellia melemparkan setangkup embun ke wajah Abiram yang terkaget-kaget hingga tak mampu menghindar. Sekumpulan peri bunga yang lain berdeham-deham.)

“Dunia kan tidak hanya di sini.”

“Aku tahu. Lalu kenapa?”

“Tidak inginkah kau melihatnya?”

(Abiram mencolek nektar dari toples kaca yang telah diisi penuh-penuh oleh Ellia, sebarisan belalang melolong protes –jangan sampai jatah kami berkurang karena kau licik menjilat duluan, Abiram!)

“Baik. Aku akan melihatnya. Dunia yang mana yang ingin kau ketahui?”

“Maksudku, aku ingin melihatnya!”

(Ellia gusar. Ia menutup toples dengan asal-asalan, lalu melemparkannya pada peri lainyang terlihat putus asa — peri itu telah bersusah payah memanen nektar sepanjang pagi, dan ia belum mendapatkan setetespun, para mawar meruncingkan duri-durinya yang berbisa.)

“Tidak bisa, Elli. Kalau kau pergi, siapa yang memanen nektar dan menjaga petak matahari? Bayi-bayi peri harus dibaringkan di sana setiap satu putaran matahari. Dan hanya kau yang bisa ke sana tanpa dilukai barisan semak mawar-mawar jahanam itu.”

(Ellia terdiam, ia tahu petak matahari dipagari barisan mawar karena kesakralan tempat itu. Namun ia baru sadar hanya ia yang bisa ke sana. Bahkan Abiram yang Kepala Suku pun akan tersengat dan mati jika terkena duri-duri itu.)

“dan, Elli, jika para bayi tidak dibaringkan di sana, mereka akan kisut. Layu. Seperti masa-masa gelap saat kita belum menemukan petak matahari. Hanya akan ada tangisan dan pemakaman. Semua berkabung. Semua beranjak tua. Mati.”

(Ellia mengangguk.)

“Biar aku yang pergi.”

Setelah percakapan pagi itu, Abiram menghilang. Tujuh putaran purnama penuh. Ia tak kunjung kembali. Taman Para Peri perlahan-lahan berkabung. Bagi mereka, sang Kepala Suku adalah jiwa yang menghidupi semangat mereka semua. Tanpa terkecuali.

*
Ellia menangkupkan sebentuk cawan kaca di antara bibir-bibir mawar yang merekah, rona pongah itu perlahan luruh, menetes di cangkirnya. Nektar-nektar madu berlelehan di dalamnya, berkilau-kilau penuh nyala hidup. Sejenak setelah kelopak-kelopak itu tertidur layu, Ellia menjentikkan embun di atas mereka, menjadikan kuntum-kuntum mati itu terlahir kembali. Ellia mengusap-usap mereka dengan lembut. Hatinya merasa sendu. Dua putaran matahari setelah Sang Kenari bernyanyi, Abiram belum kembali.

Elli beringsut ke maple tua yang batangnya mulai menghitam, menyembunyikan tangisnya di sana.

Lalu, dari balik bayang-bayang pohon-pohon yang terlihat berkilau-kilau karena mereka serentak tersenyum hormat, Abiram, tersenyum lebih cerah dari matahari.

“Aku tidak pergi dalam waktu yang terlalu lama, bukan?”

Di sepasang mata peri pohon yang sewarna tembaga itu, Ellia melihat: dunia.

SEPEREMPAT: Tentang Suatu Masa

Suatu masa yang telah mati karena laju waktu tidak pernah mengenal mati.

Masa itu datang seperti hantu. Mengendap-endap tanpa suara, lesap di dasar kepala. Menggumpal abu-abu, lalu beranjak terang. Terang yang justru menjadikannya lebih gelap daripada abu-abu. Gaungnya selalu memenuhi gendang telingamu hingga mendengung. Hingga berdenging. Hingga kau tak tahan lagi.

Lalu kau muntah.

Muntah serapah.

Aku tidak percaya lagi padamu!

Kau tahu, mendung telah berpindah ke dalam mataku?

Hantu-hantu yang mencengkerammu dengan cakar yang melengkung dan berbulu

Suatu hari, aku mendengar gemuruh dari dalam kepalamu. Gemuruh itu, melompati sepasang matamu dengan kilat yang membuatku buta seketika.

Kilat itu terlalu tajam.

(Membuat aku ingat pada cakar yang masih mencengkeram isi kepalamu.)

Gemuruh itu, berdentum-dentum saat aku melihat mata –milikmu, yang sedang menatap aku.

Apa yang kau lihat dari dalam sana?

Aku melihat semesta di dalam mata itu –mata milikmu.

Semesta yang sama, yang telah lama kuberikan padamu. Semesta yang benderang sebelum masa Kejatuhan.

(Aku akan menceritakan Kejatuhan setelah ini. Jangan terperangkap garis waktu ceritaku.)

Aku masih melihat semesta itu di sana. Setidaknya, aku berharap semesta itu ada, dan aku akan menetap selamanya.

Namun, goresan cakar-cakar hantu di kepalamu itu, terus mengoyakkan aku di malam-malam hening. Cakar-cakar itu, ingatlah, mereka melengkung, dan berbulu. Mereka menangkap ingatan-ingatanmu. Memenjarakannya di bawah cengkeraman para hantu.

Ingatlah sesuatu, para hantu tidak mengenal usai. Apa yang kau lihat dari sepasang mata milikmu?

Kejatuhan yang Membusukkan Waktu (setiap mengingat ini, aku harus kembali menambali lubang-lubang di dalam dada)

Meminjam tangan waktu, aku kembali membawamu ke dalam Kejatuhan. Bintang timur menggoda engkau sedemikian -pijarnya, sungguh menyesatkan!

Aku kehilangan engkau. Engkau, menghilangkan aku. Lalu aku membusukkan waktu. Membuatnya terengah-engah. Mencekiknya hingga habis pongah.

Saat itu, ada satu jangkrik yang terus melubangi telingaku. Membuatku beralih dari jalan, yang saat menitinya hanya membuatku pedih. Dan aroma waktu saat itu, begitu amis. Nanah memancur dari liang-liang kepedihan yang kupancung. Seharusnya mereka mati saat aku memenggalnya.

Aku lupa, aku tidak mendaraskan mantra agar kepedihan tetap bersemayam dengan tenang di alam baka.

Akibatnya, aku harus menutup kedua mata, dan hidung, dan telinga, dan, lidahku mengikuti suara jangkrik.

Krik.

Kamu tidak berguna.

Krik.

Kamu tidak cukup berharga.

Krik.

Aku memelihara jangkrik itu. Mengikuti suaranya. Namun, aku telah membusukkan waktu, bukan? Saat aku memberikan racun kepada waktu, cairan itu memercik ke dalam dadaku. Membusukkan isi di dalamnya. Aku hampir bukan manusia. Aku tumpul. Tanpa rasa.

Kurasa, kamupun terpercik racun itu. Kamupun membusuk di dalamnya.

Lalu, krik.

Jangkrik itu menikamku di hadapanmu, tepat saat engkau kembali menemukan aku.

Memotong-motong tubuhku hingga kaku.

Dan, krik.

Siulan terakhirnya, memenjarakan aku di dalam lubang yang lebih buruk. Lebih busuk.

Namun, kamu telah menemukan aku, yang sedang mencari kamu.

Ini tanganku, mari kita makamkan Kejatuhan. Aku telah memesankan nisan berulir untuknya. Namun kali ini, jangan lepaskan tanganku.

Prasangka-prasangka yang tertinggal dan membikin huru-hara

Para hantu bahkan masih berdiam dan menancapkan cakarnya di dalam sana. Lalu ada asap di kepalamu. Membuatmu tersedak hingga batuk-batuk tiap mengingatku. Para hantu, dengan setia masih membisikkan ingatanmu lewat cakar-cakar mereka.

Tubuhmu terpancang. Kepalamu dicincang. Asap dan hantu bekerjasama mengoyakkan kamu. Kaki-kakimu terasa seperti dilumuri timah, lengket dan berat. Bibirmu disulamkan sedemikian rapat, dan siapapun yang menyulamnya -entah hantu entah asap entah dirimu- meninggalkan jarumnya menggantung begitu saja.

Jarum yang akan menusuk aku setiap engkau mengeluarkan satu suara. Suara yang berhubungan dengan Kejatuhan. Suara yang ditajamkan para hantu yang menggasak kepalamu. Suara yang digelapkan asap-asap yang bernama prasangka.

Namun, tahukah engkau, bahwa aku telah menanggung pedih yang lebih, selain suara yang memiliki ujung jarum yang menusuki aku?

Atau suara-suara gelap yang hampir membuatku kehilangan aku, karena tidak mampu kehilangan kamu?

Benar. Aku akan menanggung semuanya hingga habis. Hingga para hantu melepaskan cakar mereka pada ingatanmu. Hingga para asap memudar di dalam kepalamu.

Seperempat Abad Menghidu Udara, Selamat Merayakannya

Tidak seperti kisah kebanyakan yang manis, dan hanya membuat gigimu terkikis, aku menuliskannya dalam gelap yang meraba-raba.

Aku menuliskannya dengan gemetar, karena dari sekian masa yang pernah terhampar, aku memilih masa paling paceklik, paling krisis, masa di mana seperempat perjalananmu meniti usia.

Namun di tahun ke delapan tangan kita bergandengan, terang melingkupi kita dari segala penjuru. Hangat memancar dari orang-perorang-seseorang-banyak orang, mengikat kita dari simpul mati, menjadi simpul sangat mati. Tidak akan terpisah, sekuat apapun ikatan itu hendak diburai.

Aku tersenyum memandang jemari kiriku. Jari manis, tepatnya. Lihatlah ke sana, ke arah jari milikmu. Jari manis sebelah kiri, masihkah para hantu, dan para asap mengerubungimu?

Jika masih, adalah jawabannya, aku tidak akan mengatakan apapun lagi.

“Jangan biarkan mereka mengusikmu. Percayalah pada… .”

Isilah sendiri sesukamu.

Kamar Sepi, 6 Juni 2013,

PS. Aku sengaja menuliskannya di tempat terbuka. Kulengkapi dengan aksara melintang-lintang, tidak terbaca, dan terkunci. Tidak ada yang bisa membaca “aku” seperti kamu. Selamat merayakan kelahiran, Semestaku.

Negeri Oranye

Aku menemukannya dengan tidak sengaja. Almanak itu tergeletak dengan debu yang menutupi permukaan sampulnya yabg terbuat dari kulit berwarna cokelat yang terlihat lusuh, bahkan ujung-ujungnya bolong-bolong, pertanda telah termakan ngengat. Sepertinya ia tergolek bisu di dalam laci ketiga lemari tua peninggalan Mama ini sudah cukup lama. Lama sekali, barangkali. Sejak almarhumah dikebumikan  bertahun yang lalu, aku tidak pernah menjamah kamar beliau. Aku membiarkan kamarnya menjadi museum yang tidak pernah terjamah. Bahkan aku tidak pernah memasukinya sekedar untuk membuka jendelanya. Namun, hari ini terpaksa aku harus membersihkan kamarnya yang terasa angker, karena begitu gelap, pengap, dan dipenuhi debu serta sarang laba-laba akibat bertahun-tahun dalam pembiaran
Begitupun bertahun sebelumnya saat beliau masih bugar, dan bukan merupakan mayat perempuan yang kisut dengan bibir yang tertekuk ke bagian bawah. Astaga, bahkan saat mangkat pun beliau masih terlihat begitu pemarah.

Namun, sepuluh tahun kemudian setelah beliau wafat, aku membuka kenop pintu yang terasa dingin di tanganku. Menyalakan lampu, dan terhenyak. Mama, maaf. Aku menuju ke arah lemari, membukanya. Menemukan pakaian-pakaian Mama yang telah menguning karena jamur, lalu di laci yang letaknya tiga tingkat di bawah tumpukan pakaiannya, rahasia Mama itu menampakkan dirinya. Mama tidak suka lemari yang mengharuskannya menggantung baju-baju, ia memilih lemari dengan tingkap-tingkap kayu sebagai penyekat dan dipenuhi dengan laci-laci yang terkunci. Ada tiga laci, aku menghitung. Satu, kosong. Dua, berisi akte-akte dan surat penting lainnya. Tiga, almanak yang terasa berat.

Ujung-ujung jemariku terasa tersengat listrik saat membuka lembar-lembar halaman almanak yang berbau apak itu, lengkap dengan kertas yang menguning dan terlalu rapuh. Tulisan tangan Mama terlihat bersilang-silang di atas penanggalan yang telah dibuatnya sendiri dengan rapi.

20 Maret 1923.
Jedediah Amzi. Suami yang menyenangkan. Seharusnya aku bahagia.

18 April 1924.
Marie Absalome.
Aku harus memanggilnya istri Jedediah. Ah. Akulah Marie Absalome. Nama yang aneh.

27 Mei 1950.
Miriam Amzi. Anak perempuan pertama. Mata biru lautnya membuat siapa saja ingin berenang di kedalaman matanya.

17 September 1955.
Negeri Oranye. Sungguh sebuah negeri yang membuat lupa siapa saja yang memasukinya.

Dahiku mengerut membaca tulisan tangannya. Sudah lama aku tahu bahwa Mama telah membuat kalendernya sendiri, meskipun aku tidak pernah diijinkan membaca isinya selain lembar pertama seperti yang baru saja kubaca. Kalender Mama hanya berisi tahun-tahun kelahiran orang-orang terdekatnya. Papa menertawai Mama dengan alamanak yang terus menerus dibawanya di dalam tas kulit imitasinya yang berwarna cokelat, sementara Mama yang memang pemarah, hanya akan menekuk bibirnya ke bawah sambil menggerutu. Kedua orang tua itu memang tidak pernah berhenti saling menertawai. Tunggu, Negeri Oranye?

**

Ia merasakan panas yang membakar bola matanya. Jemarinya bergetar saat menggoreskan pena ke buku tebalnya yang bersampul kulit. Banyak penanggalan yang telah ia tuliskan di sini. Kelahiran suaminya, kelahiran dirinya sendiri, kelahiran putrinya, dan kemunculan sebuah negeri yang ingin benar ia tinggal di dalamnya.

Sore itu matahari berwarna jeruk, berwarna oranye, terang sekaligus hangat. Ia memeluk dadanya yang ringkih, mengawasi putrinya yang baru berusia lima tahun, yang sedang mengejar kelinci di halamannya yang berumput. Ranting-ranting pohon oak yang menghitam membentuk cakar, menjulang dengan latar belakang langit yang oranye. Ia merasakan matanya panas, dan berair. Ia melihat lengkung cakar di ranting pohon, lalu awan membentuk segurat wajah yang muram, namun langit sangat cerah. Ia merasakan ada yang ingin disampaikan semesta kepadanya. Darah di dalam dirinya bergolak, sesuatu yang telah lama dikurungnya melesak, membuncah, menuntut keluar.

Tanpa berpikir ia melangkahkan kedua kakinya yang putih, mengindahkan bahwa ia sedang bertelanjang kaki, dan keliman di ujung gaun birunya mulai ternoda lumpur di jalanan yang masih berupa tanah lumpur.

Miriam. Masuk. Tunggu mama di dalam.

Gadisnya menoleh dengan pandangan ingin tahu, kaki-kali kecilnya bersiap berlari untuk mengejarnya yang sudah berada di luar pagar.

Miriam. Masuk!

Gadis kecil itu hanya menatap dengan pandangan ingin tahu, namun perintah ibunya membuatnya menjadi kerdil, ia pun berlari, lalu membanting pintu. Tanpa menoleh ke arah ibunya yang telah kembali berjalan seperti orang linglung.

Perempuan itu menelengkan kepalanya, menangkap suara-suara yang bergema di dalam kepalanya. Sementara langit berangsur memadamkan warna oranye yang hangat, perlahan menggantinya dengan hitam yang menyepuh semua warna menjadi abu-abu.

Ia merasa sangat aneh, bahwa sore tidak terasa seperti biasanya, dan malam lebih dingin daripada seharusnya. Ia melihat banyak yang bergerak di bawah bayang-bayang pohon palem, ada yang melata di atas batang akasia, dan jalan lumpur yang mengotori keliman gaunnya terasa semakin membenamkan kakinya.

Aneh.

Seharusnya jalanan tidak terasa lembek karena mataharu musim panas mengeringkan air di dalam lumpur.

Aneh.

Aneh.

Ia terus berjalan, dengan riuh yang hampir memekakkan kedua telinganya, hatinya terus bertanya-tanya. Sudah lama kepalaku sepi. Mengapa hari ini muncul riuh di dalam sini. Mengapa sore ini intuisi muncul kembali.

Ia mencengkeram erat almanak yang masih dipegangnya, dan penanya telah lama terjatuh. Entah.

**

20 Maret 1923 – 20 Sep 1955.
Requiem in Peace. Jedediah Amzi.

Negeri itu hanya berwarna oranye jeruk, serupa sore yang aneh saat intusiku kembali berteriak. Untuk pertama kalinya aku berteriak kepada Miriam, gadis kecil yang malang. Kedua kakiku terasa kisut akibat terendam lumpur begitu lama. Sore yang aneh. Sangat aneh. Lebih aneh karena tepat tiga hari selanjutnya Jedediah meninggal. Dia hanya.. meninggal begitu saja. Negeri Oranye, ah Negeri Oranye!

Aku masih bisa membayangkan aroma kamperfuli yang menyenangkan berpadu dengan aroma lembut verbenna di Negeri Oranye. Dan sore itu aroma madu bercampur susu dari kue-kue madeleine mengambang di udara. Surga yang menyenangkan. Surga yang entah… .

Mama menyukai aroma kamperfuli, dan mengoleksi ratusan pot verbenna di bawah jendela kamarnya. Ingatanku menerawang, sudah lama ia tidak memasak kue madeline, seketika harum madu bercampur susu mengambang di kamar yang pengap itu. Aku menarik kait jendelanya yang terbuat dari kayu, membiarkan udara masuk dan mengusir segala macam aroma masa lalu yang selalu membuatku tersengat. Almanak Mama lebih dari sekedar penanggalan, lebih dari sekedar yang ia ceritakan padaku saat aku bertanya.

Mama, ceritakan padaku lagi, semuanya.

Sore itu langit berwarna oranye jeruk, harum madu bercampur susu lamat-lamat mengambang, bercampur aroma verbenna yang telah lama kering dan busuk di bawah lengkung jendelanya.

**

Berhati-hatilah karena hidup bisa sangat kejam. Ia menggoreskan penanya ke atas almanaknya yang bersamlul kulit. Ia berkeras bahwa buku yang selalu dibawanya adalah sebuah jurnal kejadian. Bukan berupa diary yang berisi keluh-kesah segala sesuatu seperti perempuan tua. Ia melirik suaminya yang tampak kekenyangan di kursi makan, saus mentega masih meninggalkan jejak di bibirnya hingga membuatnya berkilat. Putri mereka mendengkur halus di sofa bundar tak jauh dari tempatnya menulis.

Masakanmu enak, Marie. Sayang Miriam masih terlalu kecil untuk bisa mengunyah daging kalkun saus mentegamu yang terasa alot.

Perempuan itu hanya mendongak sekilas dari almanaknya, lalu tersenyum. Namun ia menggeleng saat Jedediah memberinya isyarat untuk mengikutinya ke arah kamar.

Marie, ayolah.

Perempuan itu menggeleng. Lalu ia beranjak untuk menggendong Miriam di satu lengannya, lengan lainnya memeluk almanaknya yang berharga.

Tidurlah, Jedediah. Aku akan menemani Miriam.

Laki-laki itu menggelengkan kepalanya yang berambut sewarna tembaga lalu menggumam.

Kau lebih sayang almanakmu rupanya.

Marie Absalome menutup pintu kamar Miriam perlahan. Sepelan ia menutup pintu hatinya kepada Jedediah.

**
1 Juli 1950.
Suara-suara.

Perempuan itu bodoh, laki-laki itu berujar kepada satu rekannya di bar murahan di ujung jalan. Wajahnya memerah dan titik-titik keringat bermain di dahinya.

Bodoh, karena ia melahirkan perempuan lainnya yang pasti juga sama bodoh dengannya.

Tapi bukankah sama saja perempuan dan laki-laki. Rekannya yang ternyata perempuan itu menanggapi dengan mata yang berkedip licik. Perempuan yang itu mengenakan celana panjang ketat yang tidak pantas dan atasan dengan belahan dada yang terlalu rendah.

Kau tidak mengerti adat bangsawan, ya? Harus ada anak laki-laki di dalam sebuah keluarga.

Laki-laki itu kembali menenggak rum yang berbuih di gelasnya dengan pandangan yang tidak beralih dari wajah rekannya. Lalu satu tangannya merambat di tubuh rekannya yang perempuan yang tidak pantas itu. Dari paha. Lalu naik ke pangkal paha. Menggeseknya pelan. Lalu ke atas perut, mengusapnya. Kemudian dada. Meremasnya.

Buih di dalam rum itu berpindah ke dalam kepalaku. Mendidihkannya. Bar terkutuk. Laki-laki bajingan.

18 April 1951.
Kelahiran yang berulang.

Selamat berulang tahun yang ke dua puluh tujuh.

Suaminya membelikannya sebuah pot berisi verbenna, sama seperti tahun-tahun yang sebelumnya. Ditambah dengan pelukan yang segarusnya sama hangat, namun ciumannya kini terasa anyir berbau kebohongan.

Kenapa kau tidak tersenyum, Marie? Ini ulang tahunmu bukan? Kita rayakan dengan.. misalnya.. hmm.. bagaimana dengan memanggang kue? Madeleine? Kita berdua menyukai kue madu itu.

Perempuan itu menggeleng.

Bukannya aku bodoh karena melahirkan anak perempuan yang juga akan menjadi bodoh seperti aku?

Astaga dari mana kau bisa berpikiran seperti itu?

Suara suaminya terasa menusuk kedua lubang di telinganya. Mrnghunjam bebas ke dalam hatinya.

Aku mendamba anak lelaki, benar. Kita bisa mencobanya, bukan?

Lalu senyum lelaki itu mengembang, membuat perempuan itu ingat pada matahari sore, yang membuatnya jatuh cinta pada lelaki yang memiliki hangat yang sama.

Perempuan itu bodoh. Buih-buih rum yang mendidihkan kepalanya lesap saat kedua tangan kekar itu mengusap tubuhnya.

Hangat. Ia merasa hangat.

**

Mataku tidak berhenti berair dan ujung jariku serasa teraliri listrik saat menyentuhnya. Ruangan masih dipenuhi aroma madu dan susu. Aku kembali menggali dalam benak, seingatku mama hanya berbau kamper dan memasang muka muram sepanjang hari. Madu dan susu sempat tercium dari tubuhnya kala ia bahagia. Atau setelah ia memanggang Madeline. Aktivitas yang tidak pernah dilakukannya lagi semenjak… Ah! Semenjak ia membentakku, dan berjalan dengan linglung pada saat usiaku lima tahun.

Aroma madu dan susu semakin pekat, matahari menggantung seperti jeruk. Bundar, dan oranye. Ranting-ranting oak tua yang terlihat dari jendela kamar terlihat seperti cakar. Ada wajah yang muram di dalam awan. Langit berwarna oranye terang. Cakar ranting oak terlihat hitam, mengancam. Aku melompati jendela, menggenggam almanak, mendekapnya. Berkali-kali kakiku terantuk batu-batu di halaman berumput yang kasar. Jalanan sudah berupa aspal yang terasa keras di kakiku yang telanjang. Udara sarat aroma masa lalu. Berat. Sangat berat. Aku bisa melihat diriku berusia lima tahun sedang melompat-lompat mengejar kelinci. Dan aku melihat Mama dengan rambut hitam yang berkibar dan gaun yang keliman di ujungnya terkena noda lumpur. Ia berjalan dengan linglung. Menengadah, menengok ke kanan lalu ke kiri. Lalu kembali ke kanan. Lalu ia berjalan lurus.

Almanaknya terjatuh. Angin membuka lembarannya. Mataku terpaku.

17 September 1955.
Negeri Oranye

Perempuan itu tiba di sebuah negeri berwarna oranye setelah pekat membutakan matanya. Kedua kakinya terasa kisut karena terendam lumpur. Ia tidaj tahu sudah berjalan seberapa lama. Intuisinya hanya menuntutnya untuk terus bergerak. Sementara bayangan-bayangan terus menggeliat-geliat di bawah pancaran mulam rembulan.

Negeri itu hanya berupa sebuah padang dengab banyak lentera yang tersangkut di dahan-dahan. Bahkan bulan yang biasanya angkuh kepucatan terlihat begitu semarak dan hangat. Ia menari-nari, berputar dari satu pohon ke pohon lain. Menyentuh batangnya yang empuk, dan dengan iseng menjilatnya. Rasa madu memenuhi rongga mulutnya membuatnya terbelalak.

Oh sungguh negeri yang menyenangkan. Bolehkah aku mengajak seseorang?

Ia mendengarkan dengan takzim dan tidak ada yang menyahuti suaranya.

Ia menjawili lentera-lentera yang memancar cahaya oranye lembut. Sudah sejak lama ia menyukai warna oranye. Senja. Jeruk. Madu. Kue madeline.

Ia merasa kembali ke kanak-kanaknya yang terasa surga. Saat sore, selalu, ayahnya yang mencangklong pipa tembakau di bibirnya akan mendongengkannya tentang raja-raja, dan ibunya yang bertahi lalat di bawah bibir membuatkan mereka sekeranjang kue madeline yang hangat. Sorenya selalu hangat. Sorenya selalu bahagia.

Di sebuah sore yang hangat, ia juga bertemu Jedediah Amzi. Lelaki berlesung pipi yang hangat seperti matahari oranye di senja yang tidak pernah buruk.

Ia teringat Jedediah. Suaminya yang penyayang. Namun sesuatu mencubit hatinya, membuatnya berhenti menari dan mencelup jemarinya ke dalam pohon-pohon madu. Sesuatu itu mengepak di dalam hatinya. Intuisi yang selama ini disingkirkannya hingga hanya menjadi sebuah ilusi.

Di negeri oranye yang penuh lentera itu ia mendengar mendiang ibunya.

Marie, kita para perempuan Absalome terlahir dengan bakat bisa mengetahui isi hati. Kau akan selalu menemukannya jika ada yang menutupi.

Lalu negeri itu terjungkir balik. Ia terhisap ke dalam kumparan pekat yang menyesakkan dadanya. Malam kembali kelam dan abu-abu membutakan mata.

Di ujung jalan yang entah di mana, ia melihay sesosok bocah laki-laki mendengkur di dalam gendongan Jedediah. Dan perempuan yang tidak pantas itu meringkik di samping suaminya.

Mama. Kau bilang papa terkena serangan jantung? Mungkin malam saat aku mendengar kalian saling berteriak itu, kau mengatakan bahwa kau tahu?

Mama, bisakah kau percaya? Aku tiba di sebuah negeri oranye dengan bulan bersinar semarak dan lentera tergantung di dahan-dahan?

Aku melangkah, negeri itu berpendar oranye. Kayu-kayunya menguarkan aroma madu.

Kita perempuan-perempuan Absalome terlahir dengan bakat bisa mengetahui isi hati.

Suara itu terasa kering, seakan terpahat di udara yang terus mengambang aroma pekat madeline.

Lalu negeri itu terjungkir. Kakiku tergores-gores tanpa alas.

Malam kembali menyepuhkan abu-abu yang berbayang-bayang. Di sudut bar murahan, sesosok laki-laki mendengkur puas di atas dada perempuan yang tidak pantas.

Di kaki langit yang tidak memiliki warna selain kelam, ada sesosok perempuan. Di tangannya tergenggam sebuah jarum, dan segumpal benang telah ia hamparkan.

Di tangannya yang lain, sebuah gunting telah ia gerakkan, lalu terpotonglah kelopak itu. Kelopak yang seharusnya memekarkan kembang, memabukkan kumbang. Lalu terbukalah, tanpa penghalang suatu apa, sebuah pusat yang berbinar –dulunya.

Sepasang mata, ia berujar lirih, sepasang mata, terbukalah kini engkau.

Ia hirau akan pekat yang memerciki tubuhnya dengan anyir yang amis. Ia membendung badai yang bersiap menelannya, menguncinya di pangkal leher.

Sesungguhnya kesedihan tidaklah berarti apa-apa. Begitulah ia menggumamkan himnenya ketika gunting di tangannya memecah hening dengan suara melenting. Tangannya tidak bergetar saat mengumpulkan potongan-potongan kelopaknya yang terserak di lantai.

Namun hatinya remuk.

Hatinya remuk.

*

Jarum telah tergenggam di tangan kirinya, dan segulung benang telah ia hamparkan menutupi separuh lantainya.

Aku akan mulai menjahit.

Menjahit apa saja yang telah terbuka.

Ia mulai dengan katup yang bisa membuka – menutup – dan bersuara di wajahnya. Lalu ia menyasar lubang-lubang di tubuhnya.

Kepala. Dada. Selangkangan.

Kepala. Dada. Selangkangan.

Ia menusukkannya pelan-pelan. Menjahitnya rapat-rapat hingga lekat.

Badai hampir mencapai matanya. Mata yang kini terasa perih, karena tidak lagi mengenal gelap yang menentramkan. Ia tertawa melihat serpih-serpih kelopaknya.

Ini aku. Ini mataku. Ini tubuhku.

Sanggupkah kamu mengenalinya?

Ramalan, Mimpi, dan Pertanda

Pemuda itu mengernyitkan dahinya saat memasuki tenda yang kugelar di pasar malam. Penampilannya kontras dengan apa yang ada di bilikku, seperti pemuda modern yang tersesat di dalam bilik takhyul. Aku mengawasi kedua matanya yang bulat, hitam, bergerak liar ke penjuru ruangan bongkar pasang yang menjadi rumah keduaku.

“Saya hanya ingin tahu jodoh saya.”

Ia berujar sambil beringsut mendekatiku, kemudian duduk di bantal bundar berwarna ungu yang memang sengaja kuletakkan sebagai alas duduk para tamu.  Aku menyilangkan kaki, kemudian mulai mengaduk teh di dalam cangkir keramik. Gelang-gelangku bergemerincing sesuai dengan gerakan yang kulakukan, aku melihatnya mengawasiku.

Ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak nyaman. Nyata di dalam matanya keingintahuan yang besar terpancar, namun di detik yang sama, kilau keraguan berpendar-pendar di sana.  Ia terlalu muda dan tampan untuk percaya ramalan. Pandanganku berlaih ke  dalam pola-pola dari cangkir teh yang telah kubalikkan. Daun-daun teh yang mengering itu menceritakan tabir takdir yang akan mengikuti sang pemuda.

Aku menatap daun-daun itu dengan cermat, mendengarkan bisik-bisik lirih yang mendesis dari dalam cangkir. Dari sudut mataku, aku melihat tamuku bergerak-gerak dalam duduknya. Penasaran.  

“Apa yang anda lihat?”  

Aku menggerakkan jariku ke arahnya, mengisyaratkannya untuk sabar sebentar. Konsentrasiku tidak boleh terpecah. Suara-suara lirih itu tidak boleh terusik oleh interupsi apapun. Ia mengedikkan bahunya dengan tidak sabaran.

“Agak aneh. Aku tidak melihat adanya visi tentang pasangan anda dalam waktu dekat ini.”

Aku berujar kemudian setelah jeda beberapa lama. Ia mengernyit ke arahku, tatapannya bingung bercampur tidak percaya.  

“Memangnya apa yang kurang dariku?”

Tuntutnya masam. Aku berjuang menahan tawa, justru karena dia terlihat terlalu sempurna. Sebagai balasannya aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tahu apa-apa.

Daun tehku tidak menggambarkan apa-apa, suara-suara di cangkirku juga tidak bercerita apa-apa.

Ia bangkit dengan muram, meninggalkan sejumlah uang di meja kaca, dan berkata dengan muram.  

“Bahkan kakekku yang pembaca tarot juga hanya bisa berteka-teki tentang jodohku.”  

Dalam nyaring suaraku sendiri di kepalaku, aku menjawabnya.  

Mungkin anda harus berhenti mendatangi para peramal dan mulai mencari sendiri perempuan itu.

Sedetik kemudian, aku melongokkan kepalaku kembali ke dalam cangkir keramik. Sebuah desiran yang aneh menuntut kepalaku untuk melihatnya sekali lagi. Di dasar cangkir, sesuatu terpampang, bentuk yang tidak kulihat sebelumnya. Sesuatu yang terbentuk dari sisa-sisa lembar daun teh yang tertinggal. Bentuknya menyerupai mawar.

**  

Aku menyesap coklat yang sengaja kupesan untuk mengusir penat. Di luar tenda, semua kabut mistik menyingkap hilang, kehidupan terasa normal dan menyenangkan. Di dalam sana, segalanya begitu misterius dan memualkan. Kebanyakan hanya terdengar desisan suara dan potongan-potongan gambar yang bergerak terlalu cepat sehingga sulit kutangkap maknanya.  

Gambar mawar di dalam dasar cangkir keramik itu sungguh-sungguh mengusik pikiranku. Sulit kuuraikan menjadi sebuah pertanda, atau visi masa depan. Tentang apapun. Sebuah geletar yang aneh membanjiri tubuhku. Belum pernah aku merasa serisau ini.

Gambar di dalam cangkir itu seakan mengisyaratkan, bukan hanya takdir pemuda itu yang sedang kuterawang, melainkan aku akan ikut tersulam bersamanya. Sungguh perasaan yang aneh. Dan sedikit menakutkan.

Aku jarang sekali menangkap gambaran masa depan milikku sendiri. Semua yang kubaca -melalui garis tangan, kartu tarot, atau daun teh- hanya sebatas permintaan pelanggan yang membayarku untuk melakukannya. Kemampuanku hanya berlaku bagi orang lain.   Aku tidak pernah bisa membaca nasibku sendiri.  

Mataku menangkap barisan penjual di pasar malam mulai menyemut untuk merapikan dagangan mereka, bersiap meninggalkan tenda-tenda mereka. Aku masih enggan beranjak. Tidak ada apa-apa yang menungguku pulang. Tidak ada siapa-siapa yang akan kutemui di rumah.

Aku kembali menyejajarkan kakiku, duduk tanpa alas di rumput lapangan yang terasa tajam menggores-gores kaki. Cokelat panas yang kubeli dari stand di ujung tendaku menguarkan aroma yang menyenangkan. Aku menyesapnya, dan kembali mencoba menguraikan semua pertanda.  

Gambaran-gambaran itu kembali berkelebat. Ah! Aku melihat pemuda itu duduk bersama kakeknya, berdebat mengenai apa yang dilihat lelaki tua itu di antara tumpukan tarot yang tersebar di mejanya. Suara kakeknya berulang-ulang menggemakan tentang mawar. Aku kembali terkesiap. Gambaran itu berarti masa lalu!

Aku tidak bisa melihat masa lalu.. atau setidaknya aku merasa begitu. Belum pernah aku merasa perlu untuk mengawasi masa lalu seseorang. Bagi kebanyakan orang, masa depan adalah yang terpenting.  

“Boleh saya duduk di sini?”

Suara itu membuat jantungku berhenti. Kemudian berdenyut dengan lebih cepat. Gelagapan. Dengan tolol, aku hanya bisa mengangguk dan beringsut memberikan ruang pada sosok yang tiba-tiba menjulang di depanku.  

“Kupikir anda tidak akan kembali ke sini.”

Gumamku saat ia mendudukkan dirinya di sebelahku. Aroma musk  segar memenuhi rongga penciumanku, membuatku tergelitik.   Ia benar-benar pemuda modern yang tersesat di dunia takhyul.  

“Namaku Jess.”

Sebuah tato salib di pergelangan tangannya menyembul saat ia mengulurkan tangannya padaku. Aku terpaku sesaat sebelum menyambut tangannya, melihat uliran mawar di sekitar lengkung salibnya yang berwarna ungu. Mawar itu muncul lagi.  

Pertanda macam apa ini? Seminggu yang lalu, ia muncul dan menyisakan tanda mawar di cangkirku, kemudian ia datang dan menampakkan gambar mawar di pergelangannya?

“Jadi namamu?”

Desaknya mendapatiku melamun melihat gambar di tangannya.  

“Ross.”

Sahutku pendek.  

“Aneh.” Ucapnya menyahut perkenalan kami, dan ia tidak juga melepaskan genggamannya. Gelenyar aneh merambati tubuhku. Getaran ini sudah lama tidak kurasakan… .

“Aku yakin kamu adalah jodohku.”

Suaranya bergemerincing menyapu telingaku. Sengatan listrik menyentakku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Namun anehnya terasa menyenangkan, membuat perutku tergelitik. Ia membelai-belai wajahku dengan lembut, menyenandungkan melodi lagu cinta yang tidak kukenali.

Aku membeku di tempat tidurku, mendapati wajahnya yang berbayang-bayang, sulit untuk menangkap rupanya. Namun jauh di dalam hati, aku yakin pria tanpa wajah yang sedang merengkuhku ini adalah pasangan yang memang diciptakan untukku.  

“Bagaimana mungkin, sedangkan aku bahkan tidak bisa melihat wajahmu.”

Tukasku menepiskan lengannya yang masih memeluk tubuhku. Kami berbaring berdampingan, cahaya bersinar-sinar di wajahnya. Membutakan mataku.  

“Ada masanya saat kita akan bertemu. Lihatlah pertanda-pertanda di sekitarmu.”  

Kemudian mimpiku lenyap. Aku terbangun bersimbah peluh dan gemetaran.

Itulah satu-satunya gambaran yang kutangkap untuk diriku sendiri. Jauh beberapa tahun yang lalu saat aku masih berusia dua belas tahun. Saat aku masih memiliki keluarga yang menerimaku. Jauh sebelum visiku menghancurkan keluargaku sendiri.  

Jauh sebelum orangtuaku mengusirku karena dianggap penyihir, serta pembawa sial hanya karena bisa melihat masa depan. Karena bisa melihat kebakaran itu merenggut hampir separuh keluarga. Nenek, kakek, adikku yang masih bayi.. Bukan berarti aku tidak memperingati mereka, namun m

ereka menganggap visikulah yang menyebabkan semua petaka..   Aku menggelengkan kepalaku, mengusir kenangan yang mendadak membanjir, menyakitkan rasanya melihat kedua mata orangtua itu membelalak -penuh air mata dan kebencian- saat mengusirku. Lima tahun ini aku menyendiri, menjauh, mengabaikan permintaan maaf mereka untuk merengkuhku kembali.

Sejak saat itu, aku memfokuskan diri untuk melihat sesuatu hanya saat diminta. Dan mengabaikan gambaran-gambaran lain yang singgah di kepalaku. Terutama gambaran tentang kedua orangtua itu. Ayah.. Ibu.. Perasaan rindu yang aneh berpusar menyelimutiku.  

“Melamun?”

Suaranya menyeretku ke masa sekarang, dan tangan kami masih bertautan. Aku menggeleng tanpa suara, tanpa berupaya menarik tanganku kembali dari jemarinya. Rasa hangat masih merambati diriku. Barulah aku tersadar, suaranya mirip betul dengan lelaki yang memelukku di dalam mimpi itu.  

“Rasanya sangat aneh.”

Bisikku kemudian. Ia menatapku dengan kedua manik mata hitamnya, rasanya tubuhku terpaku di tempat. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas.  

“Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya. Merasakanmu, lebih tepatnya. Saat itu, aku hanya bisa mendengar suaramu. Kemudian aku bisa melihat perdebatanmu dengan kakekmu. Sungguh aneh, aku tidak bisa melihat masa lalu. Entahlah.”  

Ia mengangguk. Masih belum melepaskan genggamannya di tanganku. Kedua matanya masih menancap di mataku. Dunia sedang terjungkir balik. Kilas kelebatan gambar-gambar memenuhi kepalaku. Bahkan sekarang aku kembali bisa mengawasi masa depan tanpa konsentrasi berarti. Tanpa tarot. Tanpa garis tangan. Tanpa daun teh. Segalanya terasa memusingkan.

Seperti melihat film bisu yang bergerak kabur. Kebanyakan hanya tentang dia dan seorang perempuan yang berada di rengkuhannya. Persis seperti mimpiku saat itu.  

“Aku juga merasa aneh. Aku juga pernah memimpikanmu jauh sebelum saat ini. Kau tahu, kakekku juga bisa membaca masa depan. Ia berkata, jodohku akan datang dengan sendirinya. Ha! Tidak heran, setiap hubunganku dengan wanita, selalu berakhir dengan tiba-tiba di tengah jalan. Kupikir kakek tua itulah yang menyebabkannya. Entah apa ini ada hubungannya denganmu. Tapi ia menyuruhku mencari pertanda.”  

“Sudah lama sekali aku mencari perempuan ini -dengan segala omong kosong kakekku- yang diceritakannya memang ditakdirkan untukku. Yang akan menggenapi rusukku. Yang akan merawatku hingga mati.”  

Ia menelisik wajahku, kemudian memainkan jemariku.  

“Kupikir.. kupikir mungkin kamulah perempuan itu.”  

Ia berujar kemudian, malu-malu. Aku terbahak. Konyol sekali rasanya, percaya pada ramalan, takhyul, dan hal-hal mistik macam itu. Bahkan kami belum saling mengenal, tapi geletar aneh saat ia menyentuh, menatap dan berbicara melalui suaranya yang bergemerincing, benar-benar memasung hati dan pikiranku dalam sekejap.  

“Namamu Ross. Mawar, bukan? Dan aku memang sengaja mengukir mawar di tanganku. Kakekku yang mewanti-wanti aku harus mencari pertanda tentang mawar..”  

“Aku juga melihat mawar di cangkirmu, saat kau datang..”

Bisikku lirih, tidak berani mengangkat wajahku yang merah padam. Aku belum pernah jatuh cinta.  

Ia terpana, menjatuhkan tanganku dari genggamannya. Kemudian ia memungutnya lagi dengan kedua belah tangan. Hangat. Hangat sekali.  
“Kenapa kau tidak mengatakannya?”

Bisiknya di telingaku.  

“Aku melihatnya saat kau sudah beranjak dari tendaku.”  

“Sulit dijelaskan, tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta saat pertama melihatmu.”

Bisiknya lagi. Membuatku mematung.  

“Tapi hanya karena pertanda lalu kita bisa jatuh cinta?”

Usikku, kemudian menempelkan kepalaku di kepalanya.  

“Pertanda itu sudah ada bertahun yang lalu, kita hanya belum saling menemukan.”

Kemudian ia mengecup bibirku. Rasanya ada ribuan permen coklat meleleh di sana.  

“Menemukan hanya perkara waktu, dan kita sudah saling memiliki, jauh sebelum bertemu..”

Aku menulis ini untukmu, bacalah. Dengarlah.

Aku adalah hantu. Ya. Hantu. Kau boleh menertawakanku. Tapi, sebelum engkau tertawa hingga jantungmu memutus berhenti, dengar, dengarkan dulu ceritaku.

Jadi, aku adalah hantu, tahukah tempat bagi para hantu? Ya. Ya. Di antara sudut berkabut antara purnama dan muka bening telaga. Di antara dahan -ranting, atau akar akasia, atau beringin, atau kemboja -sebut saja semua pohon keramat itu! Aku berdiam, diam-diam di antara bayang-bayang.

Tahukah kau bagaimana rasanya menjadi hantu? Tidak ada rasanya. Hantu itu transparan, tentu kau tahu itu. Hantu tidak pernah tidur, tidak pernah bermimpi, tidak pernah punya harapan. Hantu hanya berenang-renang di dalam angin, tertawa-tawa di dalam hujan. Hantu tidak memperdulikan malam, tidak mengindahkan pagi. Hantu tidak membedakan benderang matahari, atau lembut bulan yang tersipu.

Hantu selalu abu-abu. Terkadang ada. Lebih sering tidak ada. Begitulah. Aku selalu berdiam di bawah bayang-bayang.

Lalu, bagaimama aku bisa mengenalmu, padahal aku adalah hantu?

Aku masih belum tahu pasti tentang pertanyaan yang juga terus mendengung di kepalaku itu. Aku juga masih bertanya, mengapa aku begitu manusia. Sekali lagi kujelaskan, aku adalah hantu.

Aku punya teori.

Begini,

Hantu, kau tahu, mereka juga punya emosi, meski sangat samar dan tersembunyi. Mereka juga bisa merasa, meskipun kebanyakan memilih mengabaikannya, karena rasa itu tidak akan bisa diterjemahkan menjadi hasrat, mimpi, atau harap. Rasa itu biasanya hanya singgah kemudian menguap, hilang.

Aku telah hidup lama, kau tahu. Atau mati lama, karena aku adalah hantu. Selama hidup -atau mati, terserahlah! Aku banyak mengamati. Aku hidup di iklim emosi. Iklim yang sebenarnya terlarang bagi para hantu. Aku tidak boleh terikat dengan emosi, emosi kepada benda -maksudku makhluk yang masih hidup, bernapas, dan punya detak nadi.

Bahkan aku tidak boleh terlalu rapat menjalin emosi dengan akasia yang kudiami. Aku tidak boleh membuat para hidup menjadi dekat dengan yang sudah mati.

Tapi, aku melanggarnya. Aku memilih tinggal di akasia renta. Aku tahu dia kesepian dan kehilangan kekasih.

Jangan tertawa. Benar, akasia itu punya kekasih. Seekor parkit cokelat yang bersayap patah sebelah. Kau mau mendengar kisah akasia dan parkit itu?

Lain kali akan kuceritakan. Kali ini aku harus fokus tentang ceritaku sendiri. Dan ceritaku ini, sebagian -atau keseluruhannya adalah ceritamu juga. Jadi, dengarkan baik-baik.

Jadi, setelah aku berdiam di bawah bayang-bayang akasia tua itu, aku semakin tertarik pada hubungan emosi. Aku menjadi terobsesi. Benar, padahal hantu tidak bisa terobsesi. Ia hanya bisa tertarik sebentar, kemudian hilang. Seharusnya hantu seperti itu. Seharusnya. Tapi kita tahu, seharusnya itu selalu tidak berlaku. Selalu ada penyimpangan-penyimpangan tentang suatu hal yang seharusnya pasti.

Jadi, setelah akasia itu bisa kuajak bicara, setiap malam ia menangis padaku. Ia bilang ia rindu kekasihnya yang riang. Ia rindu kekasihnya yang tidak bisa lagi terbang. Ia rindu dahannya dipatuki paruh lancip itu, ia rindu, ia rindu! Anehnya, aku mulai ingin merindu. Entah pada siapa.

Satu hal, para hantu memang saling mengenal. Tapi mereka tidak saling merindu. Bayangkan satu koloni besar yang saling mengenal, tapi lumpuh rasa satu sama lain. Bayangkan betapa matinya. Benar. Itulah koloni para hantu. Dan kami tidak juga mati, mati dalam hal pergi ke surga atau neraka, semacam terjebak, seperti itulah.

Jadi, kemudian aku merasa ingin merindu. Aku terikat pada akasia itu, aku selalu memaksanya bercerita tentang kekasihnya. Ah, aku ingin punya kekasih. Ingin sekali. Jangan tanyakan bagaimana semasa aku hidup, sebelum menjadi hantu, seperti apa aku. Setelah beberapa abad, memori itu memudar, kami menjadi hampa, menjelma kabut-kabut transparan.

Kemudian ada Perempuan yang ingin mati.

Ia menjerat maut dengan kedua tangannya sendiri. Ia mengumpan maut dengan tubuhnya sendiri. Saat itu, maut hanya satu jengkal jaraknya, dan ia mendadak tersungkur, menjauhi lonceng kematian yang sudah mulai berdenting untuknya.

Kamu. Kamu yang membuatnya tersungkur.

Aku belum pernah melihat sesuatu yang bisa begitu dalam mengoyak emosiku seperti itu. Aku melihat mata perempuan itu, matanya mati. Seperti danau hitam tanpa dasar, tak terbaca. Namun bibirnya menyunggingkan senyum, senyum itu keji di bawah temaram purnama, dan dengan engkau yang meneteskan darah di bibir. Kalian berdua tersungkur, dengan hitam sebagai latarnya, dan deru kendaraan berlalu lalang di hadapan kalian.

Perempuan itu berkata, ia ingin mati, dan kamu bilang, jangan. Kamu tidak mau dia mati. Lalu kamu memeluk dia. Dia menangis namun wajahnya bercahaya. Lalu aku merasa merana.

Siapa aku? Aku hanya hantu.

Akasia tua itu bergumam lirih.

“Aku rindu kekasihku.”

Aku, mengangguk muram. Semuram temaram malam.

“Aku juga merindu. Siapa Rindu?”

Karanganyar, 13 Januari 2013. Ketika rindu, mendadak enggan padam.

Obituari

Sebaris demi sebaris -begitulah ia menyejajarkan aksaranya. Obituari seseorang yang tinggal di kepalanya

Ia mengemasi kenangan yang bertebaran di penjuru ingatannya. Kemudian, ia mulai melipat semuanya perlahan-lahan, sangat hati-hati, agar tidak merusak lembar-lembar rapuh itu, dan menahan diri agar tidak melihat ke dalam isinya. Membaca isinya hanya akan membuat hatinya sesak dan nyeri, akibatnya, rongga matanya hanya akan memanas, lalu terbentuklah air terjun di sana. Ia benci menangis. Ia sudah berjanji tidak akan menangis.

Namun hatinya pedih, lipatan-lipatan kenangan itu tetap saja menggores-gores tajam, tanpa ampun. Meremukkannya seperti sekantung keripik yang akan hancur hanya dalam sekali remas. Ia lalu menyerah, menyurukkan lembar-lembar kenangannya, membiarkannya kembali berceceran di ruang hati dan kepalanya. Ia membiarkan dirinya tersesat sembari mengeja, mengeja setiap kata, setiap kalimat, setiap penggal memori yang membuatnya tercabik. Terkoyak hingga babak belur.

*

Ia merasa dirinya terbelah. Tepat di tengah-tengah. Separuh dirinya memerintahkannya untuk pergi -sejauh mungkin! Namun
separuh yang lain, justru mencengkeram kuat-kuat, terbius pesona lawan jenis di hadapannya. Ia menancapkan matanya ke arah lelaki itu, yang juga tengah melempar pandangannya. Sepasang mata itu beradu, ia merasa ada yang meledak di dadanya. Warna-warni yang membuatnya lupa, yang membuatnya memasung kedua kakinya, dan membuatnya sama sekali tidak bisa menjauh -apalagi pergi.

Seperti pecandu ia mendekat, padahal ia sama sekali belum pernah mabuk sebelumnya. Sepasang mata mereka masih beradu, memenjarakan satu dengan yang lainnya. Dada mereka berdentum-dentum, seolah sudah sekian lama mereka saling merindu. Benaknya menyanyi nyaring, sudah lama memang ia menginginkan dia. Ia mengabaikan pertanda yang seharusnya menjadi pagar baginya. Pagar yang membatasinya, agar ia tidak terlanjur jauh melangkah masuk.

Pertanda itu bersinar redup ditimpa cahaya neon, letaknya di jari manis sebelah kiri si lelaki. Namun ia membutakan matanya, benaknya dipenuhi anggur yang harus ia sesap. Anggur itu terlihat menggantung -ranum dan menggiurkan, di ujung bibir sang lelaki. Ia mengabaikan pagar pertandanya, ia justru malah melempar kait berisi umpan. Lelaki itu -lelaki biasa, tidak tahan kepada umpan. Sejenak mereka berhadapan, hanya sejengkal jarak yang membentang di antara mereka. Sedetik kemudian mereka lupa. Bibir mereka sibuk saling menyetubuhi satu dengan yang lainnya.

*

Joham

Ia tidak akan pernah melupakan nama lelaki itu. Ia merasa seperti lalat di atas kertas yang telah dilumuri lem. Ia telah terpenjara. Ia terus menerus tergelincir saat mencoba terbang, ia telah terperangkap, dan melekat erat di sana.

Joham, bercintakah ia dengan istrinya?

Suara itu mengusiknya. Asalnya dari dalam kepala. Ia menggoyangkan kepalanya, merasa kembali terbelah. Tepat di tengah-tengah. Seharusnya ia berhenti menjadi pemabuk yang terus mencandui anggur di bibir Joham. Namun dirinya di sisi lain, menolak dengan angkuh. Joham ada di dalam genggamannya. Lelaki itu tak sekalipun menolak umpan yang ia lempar bersama kailnya. Lelaki itu selalu secara sukarela menjadi ikan yang terperangkap dan menggelepar di mata pancingnya. Lelaki itu bahkan dengan merana juga mengakui telah jatuh padanya. Lelaki itu.. ah lelaki itu!

*

Sebaris demi sebaris, begitulah ia menyejajarkan aksaranya.

Terkutuk. Jalang. Perempuan Ular. Ia menuliskan segala sumpah serapah yang diterimanya. Ia mengguratkannya bersama sunyi, dan darah yang mengalir dari bibinya telah berubah pekat, menggumpal di dalam hatinya. Kebenciannya berlapis-lapis, membentuk gunung yang siap meletus di dasar hatinya.

Ia membenci dirinya yang terbelah. Ia membenci kedua sisinya. Ia retak. Pecah berserakan. Lelaki itu, dengan cincin di jari manisnya, telah menghantamkannya ke gelombang pasang, yang dengan segera menenggelamkannya dalam kepedihan yang kekal. Ia terlalu benci untuk merasa pedih. Terlalu koyak untuk menangisi.

Joham. Aku. Hamil.

Lelaki. Terkutuklah. Dia.

Anggur di bibirnya berubah. Menghitam. Berbisa.

Ia. Berteriak. Jalang.

Pergilah. Ke neraka. Jahanam!

Ia memaki dan terus memaki. Nama lelaki itu menancap di dadanya seperti pisau yang berkarat. Naif. Ia terjerat kailnya sendiri. Joham tak lebih dari sekedar pemangsa.

*
Sebaris demi sebaris, aksaranya tersusun. Obituari seseorang yang menjadi dirinya yang lain.

Ia tersesat, mengeja tiap kata, tiap kalimat, tiap penggal memori yang masih mengendapi kepalanya. Ia tertusuk, robek, dan berdarah. Berkali-kali. Berkali-kali. Ia merasa kembali terbelah. Sebagian dirinya menantangnya untuk mati, sebagian yang lain mengutuknya agar ia kembali berdiri.

Ia menimang belati di tangannya, mulai mengiris dari bagian dada. Membelahnya hingga terengah-engah. Sebaris demi sebaris, ia menyejajarkan aksaranya..

Di sini telah terbaring dan mati, sebuah hati yang pernah mencintai