Lelakon

Tirai-tirai mulai diturunkan dari tingkapnya, tidak ada tepuk tangan meriah, hanya ada tepukan malas-malasan dari sudut-sudut remang. Di atas panggung yang seharusnya mewah itu berdiri sesosok dewi, berlapis pupur dan berlapis gincu. Di kepalanya, tergerai surai sewarna tembaga yang molek. Saya ingin menelan ludah saya, tapi sepertinya gumpalan liur itu memilih tersangkut di batang tenggorok, lantas membuat saya tersedak. Lalu, sepertinya bukan lagi gravitasi yang menahan kaki-kaki saya tetap berdiri. Tatapan sepasang mata itu memaku saya hidup-hidup di tempat saya berdiri, hingga bernapaspun saya tidak berani.

Lalu sesuatu meledak.

Dan saya terbangun, kembali berkubang dalam genangan keringat dan kencing di atas kasur saya sendiri.

*

“Kupikir kau tidak merokok.”

Saya ingat saya terkekeh, dan hari itu hujan. Saya merapatkan syal hijau yang meliliti leher saya, sementara ia merapatkan tudung jaket ke kepalanya, menutupi surai indah yang membuat banyak laki-laki tergila-gila. Saya lalu menghirup rokok saya dalam-dalam.

“Kenapa saya harus tidak merokok?”

“Kenapa kamu harus merokok?”

Saya tidak pernah berhasil membalas pertanyaannya. Saya selalu terpojok di sudut loteng paling gelap dan berdebu, dengan benang laba-laba yang terjulur ke arah saya, memintal saya ke dalam kegelapan paling liat di dalam pekat. Lalu, saya hanya akan terpekur melihat sepasang boots yang sudah menjadi alas kaki saya selama dua tahun, membayangkan sepasang mata kenari itu membalas tatapan saya dari bawah sana, membayangkan lengkung senyum yang selalu terlukis di wajahnya. Senyum itu terlukis bukan untuk saya seorang, saya tahu. Ia harus senantiasa tersenyum agar orang-orang suka terhadapnya, ia harus tersenyum karena dia adalah pelakon. Karena dia adalah bintang yang harus bersinar paling terang di antara bintang-bintang lain yang senantiasa menyepuh diri mereka hingga berkilau di jajaran galaksi.
Lalu, saat saya menemukan suara saya lagi untuk menjawab pertanyaannya, dia sudah menghilang. Membaur di antara deretan para bintang yang berlomba-lomba menonjolkan kemilaunya, hingga langit dibuat resah.

*

Saya memiliki panggung paling mahal di dunia, saya harus membayar dengan hidup saya untuk memilikinya. Saya harus merelakan waktu saya, merelakan waktu berarti merelakan kebersamaan dengan keluarga. Merelakan waktu, berarti hanya malam-malam sepi yang tertinggal selain ampas kopi.
Saya hanya punya ponsel pintar yang bodoh, dan seekor kucing yang malas.
Saya ingin keluar, meliar, lalu menggeliat di bawah langit yang sama yang menaungi manusia normal lainnya. Manusia yang punya keluarga, kawan, saudara, rekan, pacar, dan lain sebagainya.

Saya mendengar sesuatu mendesis.

Cermin saya sedang sinis. Kemudian, getaran konstan dari ponsel saya memecah angan saya yang berkelana, layarnya berkedip, dia menelepon, dan saya tidak tahu harus menjawab apa.

Saya memukul cermin karena ia tidak mau berhenti mendesis.

Saya bermimpi, di atas panggung yang saya miliki, dewi itu melakonkan sandiwara dengan sempurna. Tubuhnya berkilat karena keringat, rambutnya basah, dan saya bermimpi saya sedang mengendus dengan rakus aromanya. Aroma itu, satu-satunya yang sanggup menentramkan gelisah saya sepanjang waktu. 

*
Kenapa kamu menghindari saya?

Saya tidak menghindar.

Kamu bersikap seolah tidak mengenal saya.

Saya manager, saya harus memastikan semua berjalan sesuai rencana. Semuanya bergantung pada saya, saya tidak ada waktu…

Tidak ada waktu untuk saya?

Dia lalu berpaling, menyembunyikan dua genangan air yang mulai terbentuk di kolam matanya. Saya benci airmata. Saya benci kenapa dia harus menangis sementara saya tidak ingin melihatnya menangis.

Saya memilih memarahi seseorang yang memasang tirai. Mencari-cari alasan dan menaikkan volume suara saya, hingga membuat pekerja serampangan berkepala botak itu gemetar tertahan. Menangis sana, saya tidak ada masalah jika kamu yang menangis, tapi laki-laki botak itu tidak menangis. Bintang saya yang sedang menangis, dan saya harus menawarkan bahu saya seperti seharusnya. Namun seperti biasanya, saya hanya berlalu dan membiarkan isakan itu menguap bersama angin. 

*
Dia tidak menjawab telepon saya, ponsel pintar saya yang bodoh ini bahkan tidak bisa membuat dia menjawab panggilan saya.

“Besok gladi resik. Jaga kesehatan.”

Pesan saya tidak berbalas.

***

Tirai-tirai mulai diturunkan dari tingkapnya, tidak ada tepuk tangan meriah, hanya ada tepukan malas-malasan dari sudut-sudut remang. Di atas panggung yang seharusnya mewah itu berdiri sesosok dewi, berlapis pupur dan berlapis gincu. Di kepalanya, tergerai surai sewarna tembaga yang molek. Saya ingin menelan ludah saya, tapi sepertinya gumpalan liur itu memilih tersangkut di batang tenggorok, lantas membuat saya tersedak. Lalu, sepertinya bukan lagi gravitasi yang menahan kaki-kaki saya tetap berdiri. Tatapan sepasang mata itu memaku saya hidup-hidup di tempat saya berdiri, hingga bernapaspun saya tidak berani.

Dewi itu menyunggingkan senyumnya perlahan, dan sebelum saya bergerak, sesuatu meledak.

Saya melihat genangan merah membasahi lantai kayu yang kini di atasnya, membujur tubuh dewi.

Saya tidak bisa berteriak seperti adik saya berteriak serak. 

“Ibu!”

Sepuluh tahun kemudian, saya kembali ke panggung Ibu, panggung paling mahal yang pernah saya miliki, karena saya membayarnya dengan waktu. Membayar dengan waktu, berarti merelakan kebersamaan dengan keluarga. Kebersamaan dengan keluarga berarti saya msminggalkan adik saya. Meninggalkan adik saya kepada paman yang ternyata adalah pembunuh Ibu yang diakuinya saat mabuk dan meniduri adik saya, bertahun-tahun yang lalu, sebelum menjualnya kepada mucikari. Ia berpindah-pindah mucikari dan tak pernah berhasil lari, sampai akhirnya, bos saya menjadikannya gundik, kemudian dia menjadi bintang di panggung saya.

Panggung ini adalah panggung paling mahal yang pernah saya punya. Dan dia sedang menangis, lagi-lagi, saya tahu dia menangis karena punggungnya bergetar menahan sesak yang menghimpit dadanya.

“Jangan menangis lagi.”

Saya menjulurkan kotak yang berisi rokok lintingan sendiri. Di dalamnya saya menambahkan sejumput fantasi.

“Saya tidak merokok.”

Dia mengusap matanya dengan punggung tangan sebelum melanjutkan dengan suara parau.

“Kamu sudah meninggalkan saya, dan sekarang kamu mengabaikan saya.”

“Saya harus minta maaf akan itu. Kamu boleh merokok. Usiamu sudah dua puluh.”

“Kenapa harus merokok?”

Saya siap terbelit jaring laba-laba dan terhimpit ke dalam gelap yang liat memadatkan pekat saat saya melihat bibir adik saya berubah menjadi bibir Ibu.

“Merokok sajalah, tidak perlu bertanya kenapa.”

Lalu ayah saya akan menamparnya. Saya ingat, saya mengoleskan alas bedak tebal-tebal untuk menutupi bekas merahnya, dan saya tahu, perih yang sebenarnya berada dalam hati ibu.

“Merokok sajalah, tidak perlu bertanya.”

Saya menjawab, dan adik perempuan saya itu mengambil sebatang hanya untuk dipatahkannya menjadi dua.

“Saya tidak ingin seperti Ibu.”

Saya ingin sekali menamparnya.

***

Saat itu Paman sedang mabuk dan ia mengacungkan senjata itu ke kepala adik saya.

Bagaimana saya tahu?

Saya memiliki panggung paling mahal sedunia. Panggung mahal yang saya beli dengan waktu. Dengan waktu berarti dengan segalanya. Saya pergi dari rumah bukan tanpa alasan. Saya mencari tahu di mana ayah saya saat ibu saya terbunuh.

Dia sedang menangisi mayat ibu, di atas gundukan tanah makam yang masih penuh bunga-bunga. Ibu sangat suka bunga, tapi ayah tak pernah memberikannya.

“Terlambat, yah.”

Saya ingat saya berkata, dan paman saya yang gila menghardik saya keluar dari pemakaman. Saya bilang saya mau pergi dan saya menitipkan Aliyha, dia mengiyakan tanpa menanyakan saya akan kemana.

Saya tidak berpikir Paman saya yang tampak berbudi adalah iblis paling keji. Segera setelah saya pergi, saya dengar kabar ayah saya gantung diri. Namun saya tidak mencari tahu kabar Aliyha, adik perempuan saya yang satu-satunya karena saya sibuk menata anak tangga demi panggung milik ibu. Selain itu, saya percaya ada paman yang menjaganya untuk saya. 

Saya menyusun anak-anak tangga, sepotong demi sepotong dengan tubuh dan keringat dan darah saya. Saya menghitung lebih dari tiga kali rahim saya berbuah dan tidak satupun saya biarkan tumbuh dan berkenalan dengan dunia.

Tidak. Tidak, satupun saya biarkan berkembang demi kelak memanggil saya, Ibu. 

Saya berkenalan dengan orang-orang Lelakon, ikut mementaskan lakon dari satu panggung ke panggung lain sembari melacur dari satu laki-laki, ke lelaki lain. Mabuk dari satu pentas ke pentas lain, hingga akhirnya saya ingin menciptakan panggung saya sendiri. Dan saya sadar, satu-satunya panggung yang saya inginkan adalah panggung Ibu.

Saya lalu memutar roda kendali, berpindah dari pelakon menjadi pengarah lakon, lalu menjadi penanggung jawab panggung, kemudian menjadi penyusun lakon, dan pada akhirnya, saya menjadi penguasa panggung. Semua darah dan keringat dan tangis yang sembunyi-sembunyi itu, pada akhirnya saya memetik hasilnya.

Saya banyak mengenal manusia, dan saya memanfaatkan mereka. Saya kembali ke kota saya, dan mereparasi panggung yang sudah saya beli. Lewat mereka, saya mencari tahu segalanya. Termasuk adik saya yang sudah dijual oleh paman saya yang gila.

Lalu dia muncul. Adik yang saya tinggalkan itu: Aliyha.

Dia menangis, dan saya tak sanggup untuk memeluknya.

Saya mendengarnya berteriak bahwa dia sedang mencari saya.

Saya meninggalkannya di depan panggung dan dia masih menangis.

***

Dia adalah bintang dan saya adalah tuhan pemilik panggung jagat raya. Saya menemukan laki-laki, yang dulu kepadanya saya titipi adik perempuan saya, dan dia malah menjualnya setelah sebelumnya menidurinya dengan paksa.

Dan dialah yang menembak ibu saya.

Saya bertanya kepadanya, mengapa?

Dia hanya memamerkan gigi geliginya yang menghitam karena tembakau.

“Anak sundal, sudah jadi sundal pula kau rupanya.”

Saya menendang mulutnya. Dia terikat seperti binatang buruan yang rusak dan hina. Dia pikir dia menyewa saya, tak mengenali keponakannya yang tertua. Ia pikir ia sedang asyik bersama pelacur ibukota yang sedang berlibur ke kotanya bersama rombokan pelakon yang akan memainkan Lelakon di panggung ibu. 

Kenapa, saya tanya lagi.

Dia semakin terkekeh-kekeh.

“Sundal itu mengataiku cebol tak tahu malu, aku cuma kepengen pegang susunya. Ha ha ha!”

Saya menembak, tepat di antara ke dua matanya, tempat di mana pelurunya dulu bersarang di kepala Ibu, tapi saya belum juga merasa lega. 

Ponsel pintar saya bergetar, alarmnya menyala. Lima menit lagi, pertunjukan bintang-bintang di jagat raya saya dimulai. Saya mengisi kembali peluru di pistol dan menyelipkannya di celana. Mayat cebol itu membelalak ke arah saya. Dan saya menginjak tepat kemaluannya.

***

Panggung usang itu mendadak gempita. Orang-orang bertepuk riuh, dan siulan bersahut-sahutan memekakkan telinga. Badan saya berkali-kali dipeluk, tangan saya berulang kali dijabat, dan rambut saya diacak-acak. Ucapan selamat terpantul-pantul di udara. Panggung saya sukses, dan pentas Lelakon di atasnya mengundang decak kagum penontonnya.

Tirai sebentar lagi diturunkan dari tingkap-tingkapnya, dan saya mendekat ke arah panggung, mencari bintang saya yang paling benderang, memanggilnya cukup keras hingga orang-orang menoleh, menonton.

“Aliyha!”

Dia tertawa begitu bahagia, sepasang lengannya terentang, setengah berlari menyongsong tubuh saya, kemudian saya menembak kepalanya.

Saya sudah bilang saya memiliki panggung paling mahal sedunia. Saya membelinya dengan segalanya. Segalanya berarti sudah tidak ada yang tersisa. Saya meledakkan kepala saya saat seseorang lain mulai menjerit di belakang saya.

Solo, 23 Januari 2016

SONJA

Sejak dulu, perempuan ditakdirkan untuk menjadi makhluk yang kuat di balik sosoknya yang selalu dipandang rapuh. Saat rahimnya rekah karena tunas yang mekar di dalamnya, tubuhnya bukan lagi miliknya. Dan ia harus menanggungnya selama sembilan bulan. Lebih atau kurang. Saat tunas itu bertumbuh, dirasakannya tubuhnya menjadi gembur dan bertambah massa. Pijakan kakinya limbung menahan beban yang tidak seharusnya.

Ia tidak lagi merasakan tidur yang nyaman. Seiring perutnya yang membulat, setiap gerakan akan terasa nyeri. Ia hanya akan meringis-ringis menahan sakit. Tidak sekalipun katup bibirnya membuka untuk mengeluarkan keluhan, apalagi serapah, padahal tubuhnya dirasanya bukan lagi miliknya. Ada makhluk yang sedang bertumbuh di dalamnya. Dan makhluk itu berbagi tubuh bersamanya. Sebaliknya, bibirnya justru tersenyum, sehat-sehat kau ya, nak, di dalam sana, sampai tiba saatnya kita berjumpa.

Perempuan itu, ibu. Pada sepasang matanya, teduh lautan menyimpan segala rahasia, rahasia yang selalu bermuara pada senyum yang tersungging di bibirnya. Rahasia yang tak pernah ia lelehkan di sudut matanya melalui bening air mata. Di dalam dekapan dadanya, berpulang segala gundah dan luka. Bahkan duka larut saat sepasang tangannya membelai rambut di kepala.

Ibu, di mana ibu?

Aku pernah mengenal perempuan yang kupanggil ibu. Perempuan yang dari sepasang ranum dadanya dulu, aku pernah menyusu. Ia kini masih kukenal dengan nama Ibu, namun, sepasang mata yang dulu teduh membayang lautan, di mana anak-anak ombak berkejaran dengan gembira kini telah berubah batu hitam. Rahasia-rahasia yang biasanya ia sembunyikan dengan pandai lewat tawa dan canda, kini menguar lepas melalui deras airmata.

Ibu, kenapa, Ibu?

Pada jaman dulu, Sonja, pernah hidup perempuan dengan sepasang sayap yang terbuat dari kaca, (malam itu hujan, gelegar petir mengamuk tidak seperti biasa, ibu mendekap tubuhku yang meringkuk dan gemetar ketakutan), sepasang mata perempuan itu teduh membayang lautan luas, hingga siapa saja ingin menyelam di kedalamannya.

Perempuan itu pastilah peri, ibu. Aku melupakan gelegar guntur yang membuat ciut nyali, dan betapa herannya aku ketika ibu justru menggeleng.

Bukan, Sonja, perempuan itu adalah perempuan biasa.

Tapi, ibu, perempuan biasa tidak punya sayap kaca bukan?

Di dunia ini, semua perempuan itu luar biasa, Sonja, tidak pernah ada perempuan yang hanya menjadi sekadar perempuan biasa. Nah, apakah kau ingin dengar lanjutannya?

Aku mengangguk dan merapatkan tubuhku ke badan ibu, di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Guntur dan petir masih mengamuk dengan gelegarnya.

Perempuan bersayap kaca itu mematahkan sayapnya yang indah, Sonja, memberikannya pada laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta. Laki-laki itu telah mampu menyelami lautan teduh di sepasang matanya. Laki-laki itu telah menanamkan riak-riak gelombang yang membuatnya merasa bahagia di dalam hatinya. Ia mematahkan sayap itu, karena, sayap-sayapnya hanya akan membuatnya selalu menjauh dari laki-laki yang ia puja.

Sayap-sayap kaca itu berubah tajam saat ia mendekatkan tubuhnya pada sang laki-laki. Sayap-sayap itu menolak menguncup saat perempuan itu ingin melekatkan badannya pada lelakinya. Bagaimana mereka bisa berdekatan dengan lekat, jika sayap-sayap runcing itu terus mengembang, seakan, mengancam akan mengirisi kulit sang laki-laki?

Sungguhlah saat itu aku dibuat bingung oleh cerita Ibu. Usiaku masih jauh dari remaja, namun jika kuingat-ingat dongeng malam itu, tentulah itu bukan dongeng untuk anak-anak perempuan yang biasanya.

Akhirnya, Sonja (aku melamun saat itu, membayangkan jika aku punya sayap runcing di punggungku, pastilah tidak ada yang mau mendekat, dan suara ibu mengagetkanku), perempuan itu memotong kedua sayapnya demi bisa berdekatan dengan laki-lakinya.

Sakitkah? Tanyaku.

Ibu hanya tersenyum simpul, pernahkah jarimu teriris saat memotong wortel? Sakitkah? Ibu bertanya.

Aku membalas dengan anggukan.

Seperti itulah pedihnya, dikalikan sepuluh.

Aku meringis. Ibu tertawa. Tawa paling indah yang pernah kudengar. Aku menyimpannya baik-baik di sudut kepala. Tawa itu tak pernah terdengar lagi sesudahnya. Aku hanya bisa mengulangnya di dalam kepala.

Lalu, setelah itu, apa yang terjadi, bu?

Batu hitam itu kemudian muncul ke sepasang mata ibu, menutupi lautan yang biasanya teduh di dalamnya. Menjadikan kedua matanya keras, kelam, dan mati.

Seperti kebanyakan dongeng pada umumnya, keberuntungan tak pernah berpihak pada perempuan yang telah berkorban demi lelakinya. Lihat saja Cinderella, dia kehilangan keluarganya hanya demi sang pangeran.

Tapi, Bu, ibu tiri dan saudara tiri Cinderella itu jahat, mereka menyiksa Cinderella, mengurungnya agar tidak bisa datang ke pesta dansa.

Sekali lagi ibu tersenyum, manis, manis sekali.

Ibu tiri Cinderella mengurungnya karena ia tahu, Pangeran itu mata keranjang. Tak direlakannya Cinderella yang cantik jatuh ke rayuan laki-laki berhidung belang. Kedua anaknya buruk rupa, ia tidak khawatir Pangeran akan merayunya.

Aku ternganga, Ibu melanjutkan ceritanya.

Lalu lihat itu, si Duyung yang menukar ekornya dengan sepasang kaki, ia merelakan suaranya hilang asal bisa ke daratan bertemu laki-laki impiannya, namun apa yang ia dapat? Ia berakhir tanpa suara hanya untuk melihat Pangeran pujaannya melenggang mesra bersama Putri Raja yang mengaku telah menyelamatkannya.

Aku terdiam. Hujan telah reda, dan mata Ibu yang biasa teduh membayang lautan masih berupa sepasang batu hitam.

Perempuan itu kehilangan sayapnya, ia kehilangan kebebasannya. Ia terbiasa terbang sehingga melangkahkan kaki saja ia kesakitan. Ia terbiasa menari bersama udara sehingga tanah membuatnya lemah dan basah. Ia terbaring, lembek, dan tak berdaya. Ia begitu basah karena air mata tak pernah mengering dari sudut matanya.

Lalu di mana lelakinya? Setelah didapatinya perempuan itu menjadi lemah dan buruk karena tak terbiasa dengan tanah, laki-laki itu masih dengan besar hati merawatnya. Memapahnya berjalan dari hari ke hari hingga perempuan itu kembali kuat dan bercahaya. Perempuan itu, meski tak punya sepasang sayap kaca, kini memiliki sepasang kaki kuat yang bisa membuatnya berdansa bersama lelakinya. Hidup mereka bahagia. Sangat bahagia.

Kemudian lahirlah peri mungil dari rahim perempuan itu, peri yang sangat cantik, Sonja, cantik sekali. Dengan segera hidup mereka semakin berwarna. Perempuan ini, sekali lagi, ia jatuh cinta. Bukan pada lelakinya saja, tapi juga pada peri mungil yang keluar dari rahimnya.

Namun ingatlah, Sonja, laki-laki itu makhluk pencemburu, laki-laki itu cemburu perempuannya terlalu mengasihi peri mungil mereka. Peri itu mulai bertumbuh menjadi perempuan kecil jelita, namun laki-laki itu malah mulai menyibukkan dirinya sendiri. Berkubang membuang-buang waktu dengan tidak pulang. Berhari-hari. Bermalam-malam. Sampai akhirnya perempuan itu tidak tahan. Berbagai rahasia telah menyelinap ke dalam matanya, mengeraskan mata itu menjadi batu. Tidak ada lagi lautan di dalam sepasang mata peremluan itu, yang tertinggal hanya kekosongan yang gelap. Kekosongan yang terasa keras dan getir. Rahasia-rahasia mulai ia muarakan di bibirnya, berderai-derai tawa disungginya di depan perempuan kecilnya yang jelita. Namun, sesungguhnya, berdarah-darah hatinya mengurai rahasia.

Ibu menghela napas, panjang. Aku merasakan getirnya.

Aku teringat akan ayah, bu.

Ia menelengkan kepala, melihat jam dinding bundar di dinding di hadapan kami, lalu beranjak tanpa menyelesaikan ceritanya. Ada bening yang menggumpal di sudut matanya.

Benar, Sonja, aku juga teringat ayahmu.

Dari balik punggung ibu, aku melihat seberkas bening kaca tergurat menyembul bergerigi di balik pakaiannya.

Solo, 11 oktober 2015.

Aku menulis ini untukmu, bacalah. Dengarlah.

Aku adalah hantu. Ya. Hantu. Kau boleh menertawakanku. Tapi, sebelum engkau tertawa hingga jantungmu memutus berhenti, dengar, dengarkan dulu ceritaku.

Jadi, aku adalah hantu, tahukah tempat bagi para hantu? Ya. Ya. Di antara sudut berkabut antara purnama dan muka bening telaga. Di antara dahan -ranting, atau akar akasia, atau beringin, atau kemboja -sebut saja semua pohon keramat itu! Aku berdiam, diam-diam di antara bayang-bayang.

Tahukah kau bagaimana rasanya menjadi hantu? Tidak ada rasanya. Hantu itu transparan, tentu kau tahu itu. Hantu tidak pernah tidur, tidak pernah bermimpi, tidak pernah punya harapan. Hantu hanya berenang-renang di dalam angin, tertawa-tawa di dalam hujan. Hantu tidak memperdulikan malam, tidak mengindahkan pagi. Hantu tidak membedakan benderang matahari, atau lembut bulan yang tersipu.

Hantu selalu abu-abu. Terkadang ada. Lebih sering tidak ada. Begitulah. Aku selalu berdiam di bawah bayang-bayang.

Lalu, bagaimama aku bisa mengenalmu, padahal aku adalah hantu?

Aku masih belum tahu pasti tentang pertanyaan yang juga terus mendengung di kepalaku itu. Aku juga masih bertanya, mengapa aku begitu manusia. Sekali lagi kujelaskan, aku adalah hantu.

Aku punya teori.

Begini,

Hantu, kau tahu, mereka juga punya emosi, meski sangat samar dan tersembunyi. Mereka juga bisa merasa, meskipun kebanyakan memilih mengabaikannya, karena rasa itu tidak akan bisa diterjemahkan menjadi hasrat, mimpi, atau harap. Rasa itu biasanya hanya singgah kemudian menguap, hilang.

Aku telah hidup lama, kau tahu. Atau mati lama, karena aku adalah hantu. Selama hidup -atau mati, terserahlah! Aku banyak mengamati. Aku hidup di iklim emosi. Iklim yang sebenarnya terlarang bagi para hantu. Aku tidak boleh terikat dengan emosi, emosi kepada benda -maksudku makhluk yang masih hidup, bernapas, dan punya detak nadi.

Bahkan aku tidak boleh terlalu rapat menjalin emosi dengan akasia yang kudiami. Aku tidak boleh membuat para hidup menjadi dekat dengan yang sudah mati.

Tapi, aku melanggarnya. Aku memilih tinggal di akasia renta. Aku tahu dia kesepian dan kehilangan kekasih.

Jangan tertawa. Benar, akasia itu punya kekasih. Seekor parkit cokelat yang bersayap patah sebelah. Kau mau mendengar kisah akasia dan parkit itu?

Lain kali akan kuceritakan. Kali ini aku harus fokus tentang ceritaku sendiri. Dan ceritaku ini, sebagian -atau keseluruhannya adalah ceritamu juga. Jadi, dengarkan baik-baik.

Jadi, setelah aku berdiam di bawah bayang-bayang akasia tua itu, aku semakin tertarik pada hubungan emosi. Aku menjadi terobsesi. Benar, padahal hantu tidak bisa terobsesi. Ia hanya bisa tertarik sebentar, kemudian hilang. Seharusnya hantu seperti itu. Seharusnya. Tapi kita tahu, seharusnya itu selalu tidak berlaku. Selalu ada penyimpangan-penyimpangan tentang suatu hal yang seharusnya pasti.

Jadi, setelah akasia itu bisa kuajak bicara, setiap malam ia menangis padaku. Ia bilang ia rindu kekasihnya yang riang. Ia rindu kekasihnya yang tidak bisa lagi terbang. Ia rindu dahannya dipatuki paruh lancip itu, ia rindu, ia rindu! Anehnya, aku mulai ingin merindu. Entah pada siapa.

Satu hal, para hantu memang saling mengenal. Tapi mereka tidak saling merindu. Bayangkan satu koloni besar yang saling mengenal, tapi lumpuh rasa satu sama lain. Bayangkan betapa matinya. Benar. Itulah koloni para hantu. Dan kami tidak juga mati, mati dalam hal pergi ke surga atau neraka, semacam terjebak, seperti itulah.

Jadi, kemudian aku merasa ingin merindu. Aku terikat pada akasia itu, aku selalu memaksanya bercerita tentang kekasihnya. Ah, aku ingin punya kekasih. Ingin sekali. Jangan tanyakan bagaimana semasa aku hidup, sebelum menjadi hantu, seperti apa aku. Setelah beberapa abad, memori itu memudar, kami menjadi hampa, menjelma kabut-kabut transparan.

Kemudian ada Perempuan yang ingin mati.

Ia menjerat maut dengan kedua tangannya sendiri. Ia mengumpan maut dengan tubuhnya sendiri. Saat itu, maut hanya satu jengkal jaraknya, dan ia mendadak tersungkur, menjauhi lonceng kematian yang sudah mulai berdenting untuknya.

Kamu. Kamu yang membuatnya tersungkur.

Aku belum pernah melihat sesuatu yang bisa begitu dalam mengoyak emosiku seperti itu. Aku melihat mata perempuan itu, matanya mati. Seperti danau hitam tanpa dasar, tak terbaca. Namun bibirnya menyunggingkan senyum, senyum itu keji di bawah temaram purnama, dan dengan engkau yang meneteskan darah di bibir. Kalian berdua tersungkur, dengan hitam sebagai latarnya, dan deru kendaraan berlalu lalang di hadapan kalian.

Perempuan itu berkata, ia ingin mati, dan kamu bilang, jangan. Kamu tidak mau dia mati. Lalu kamu memeluk dia. Dia menangis namun wajahnya bercahaya. Lalu aku merasa merana.

Siapa aku? Aku hanya hantu.

Akasia tua itu bergumam lirih.

“Aku rindu kekasihku.”

Aku, mengangguk muram. Semuram temaram malam.

“Aku juga merindu. Siapa Rindu?”

Karanganyar, 13 Januari 2013. Ketika rindu, mendadak enggan padam.

Luka

by Adellia Rosa @adelliarosa dan Angghie Gerardini @njiegerardini

“Bodoh! Kemana matamu?” Bentak ayah gusar, wajahnya mengeras karena amarah. Aku baru saja melempar guci kesayangannya dengan palu. Tangannya melayang siap menamparku. Kupejamkan mata menahan ketakutan, tubuhku gemetaran.

Ajaib, tangan ayah berhenti di udara, setengah berdecak, ia berjalan melewatiku, kearah gucinya yang hancur. “Buat apa palu ini?” tanya ayah, lebih pelan namun kemarahan masih jelas tergambar di wajahnya. “Memasang foto, Yah… Foto kita…,” sahutku, masih gemetaran. Ayah mengerutkan kening, setengah heran. “Kau masih mengharap ibumu?” Tanya ayah dingin. Aku mengangguk ragu-ragu.

Satu tamparan keras mendarat di salah satu pipiku. “Anak bodoh! Apa sekolahmu begitu payah melatih otakmu? Tak ada lagi tempat untuk ibumu di sini, meskipun hanya fotonya,” ujar ayah pelan, tapi tak pernah mengurangi kegarangan dalam suaranya. “Bersihkan!” Perintah ayah kemudian, lalu meninggalkanku yang semakin gemetaran. Ketakutanku makin liar berjingkatan. Air mataku mengerih kesakitan. Kurasakan betul rindu yang makin rimbun di pucuk-pucuk hatiku.

***

Malam itu udara berkabut, aku baru pulang bersama ayah dari kediaman nenek. Ibu tidak ikut serta, beliau mengeluh sakit kepala. Aku turun dari mobil dengan setengah berlari memasuki rumah. Ingin segera bercerita betapa menyenangkan di rumah nenek. Kue-kue pai hangat disajikan masih hangat mengepul, susu-susu yang masih berbuih, buah apel merah ranum yang baru saja dipetik. Suasana pedesaan yang indah, ingin sekali mengajak ibu kesana.

Alangkah terkejutnya aku dan ayah mendapati rumah dalam keadaan hingar bingar. Orang-orang berdansa, bermandi peluh dimana-mana. Bau minuman murahan tersebar di seluruh ruangan, bercampur dengan desahan dari suara-suara asing yang tak kami kenal.

Ibu tidak ada di bawah, tidak berbaur dengan hiruk pikuk pesta. Aku melihat kamarnya terkunci dari dalam. Ayah mendobraknya dengan garang. Kesetanan, ayah membabat pria yang asik bercumbu bersama ibu, duduk membeku di bangku meja rias ibu. Pria asing itu roboh, tergeletak tanpa nyawa.

Kejadian malam itu kembali berkelebatan di ingatanku, setengah berteriak aku memaksa diriku melupakannya. Kuusap peluh yang deras di dahiku. Aku duduk melipat lutut, bersandar di punggung ranjangku, membenamkan isak dalam-dalam hingga hanya aku dan Tuhan yang mendengar tangisku.

Aku berdiri, ragu melangkah ke meja belajar di depan jendela yang memantulkan sinar purnama nanar. Bergetar, kuraih silet mungil di atas meja. Sejenak aku memainkannya, memutarnya berirama. Hingga tajamnya melandas lembut di lenganku yang mulus. Kugigit bibir bawahku, menahan perih yang tercipta sebab goresan itu. Ada sensasi berbeda melihat darah segar menganak sungai di tanganku. Darah segar yang berhulu pada kata IBU di lengan kiriku. Ibu, yang memilih pergi entah kemana setelah malam itu.

Aku tertawa histeris, darah yang mengalir tanpa henti seakan semakin memabukkanku. Tak kuhiraukan diluar kamar, ayah membanting semua barang yang bisa diraihnya. Melampiaskan kekesalannya. Tak kuhiraukan ia mulai berteriak parau, memanggil-manggilku. Mungkin ayah butuh bantuan, mungkin hanya butuh pelampiasan.

Ya, pelampiasan. Sejak malam jahanam itu, ayah melampiaskan semuanya padaku. Amarah, nafsu, putus asa. Semuanya ia tumpahkan padaku. Sejak malam dimana aku membantunya mengubur pria asing yang mencumbu ibuku, di taman mawar belakang rumah. Taman favoritku bersama ibu.

Darah semakin menderas di lenganku, wajah ibu di balik bingkai foto ibu seakan tertawa mengejek kebodohanku. Menantangku untuk mencari kebebasan, sama seperti yang ia lakukan, saat mengubah rumah kami menjadi ajang pesta liar yang bingar. Aku memutuskan menjawab tantangannya.

***

Suara musik yang hentak memekakan telinga. Hingar bingar orang-orang membuatku pusing tak kepalang. Puluhan mata memandangku nanar. Mungkin belum terbiasa melihat gadis berusia 15 tahun sedang berdiri kebingungan di klub dewasa, bahkan berniat untuk bergabung, berkubang di kehidupan malam yang kujadikan pelampiasan. Pelampiasan dari segala rasa yang membuatku merasa tertekan.

Lambat laun akupun hanyut dengan liukan badan di lantai dansa. Aku larut dalam suasana yang… Ah, entah apa aku harus menyebutnya, yang jelas aku sangat menikmatinya! Suasana yang membuatku hanyut dan lupa akan segala hal yang menekan batinku tanpa iba dan ampun.
Sepasang mata mengawasiku dengan liar. Sesekali menelan ludahnya, belingsatan. Aku tahu isi kepalanya, semua pria sama saja. Persis seperti pria asing yang mencumbu ibuku atau bahkan ayahku. Aku mendekatinya setengah terpuruk. Aku lupa aku masih terlalu muda, aku lupa aku di mana. Aku hanya merasakan berbagai sensasi bersama pemilik mata yang mengawasiku di sudut klub. Aku bahkan tidak ingat namanya. Aku hanya ingat, aku terbangun dengan pakaian berserakan dimana-mana, badanku membengkak penuh lebam bekas tamparan dan pukulan. Tapi aku merasa puas, dan bahagia, bahkan sedikit ketagihan.

***

“Darimana kau semalam?” Suara berat ayah menyambutku di ruang tamu. Ruangan itu seakan beku, meski terasa hangat mentari masih tersipu menembus celah-celah kelambu.

“Apa pedulimu yah? Tak ada pelampiasan ketika aku tak pulang?” Entah terasuki setan darimana, aku tiba-tiba lancang berteriak. Mungkin aku hanya merasa muak. Benar saja, tanpa banyak bicara ia menghampiriku. Mencengkram keras daguku sambil mendorongku hingga bersandar kasar di balik pintu. Kurasakan rahang-rahangku kaku.

Matanya berkilat kemarahan teramat. Semetara aku masih memberanikan diri melihat matanya dengan tatapan menantang. Tapi sungguh, aku gemetaran. Aku berani hanya karena bosan menjadi pelampiasan.

Seakan kesetanan, tangan ayah dengan kasar melucuti pakaianku, tampaklah buah dadaku yang masih berkembang. Terpampang jelas di kedua bola matanya. Matanya tajam melihat bilur-bilur membiru bekas pukulan pria semalam. Sedetik kemudian ia berpaling, lalu mulai melampiaskan nafsunya sekali lagi.

Aku memilih membeku.

Ayah tertawa puas setelahnya. Meninggalkanku tanpa selembar pakaian, di atas ubin kayu yang dingin. Aku masih memilih membeku, melupakan cara berbicara, berteriak atau bahkan bergerak. Ayahku yang jahanam kembali lagi meghampiriku, membawakan selembar selimut tua dan menggenggam sebuah pigura. Tampak jelas foto ibu tersenyum didalamnya. “Tidurlah nyenyak..” Bisik ayahku. Bedebah sialan, selalu bersikap lembut setelah melampiaskan. Membuatku tak jarang ketagihan.

***

Aku kembali bersama sang pria asing yang kutemui di klub. Kuajak ia ke kamarku. Bila perlu, aku akan mengajak ayah bergabung. Aku mulai kesetanan dan sangat ketagihan. Aku tak peduli pintuku tak terkunci, aku sengaja membuatnya sedikit terbuka. Pelampiasan! Hanya itu yang kupikirkan. Aku sedang berada di awang-awang saat ayahku datang. Dengan murka ia menghantam pria itu dengan kursi. “Tidak ada yang boleh merenggut milikku,” teriak ayah gusar. Aku tercenung ketakutan. Tak kurasakan jemari ayah kembali melucuti pakaianku dengan kasar.

***

Aku benar-benar mati rasa. Aku tak peduli ayah sibuk menyembunyikan mayat pria asing itu. Aku semakin tak peduli dengan dunia. Masa depanku hacur tak bersisa. Aku marah, sangat marah. Aku membenci hidupku. Takut, gelisah, sedih, hancur, marah, semua hanya bisa tumpah dalam isak yang diam-diam kurendam dalam kubang kenistaan.

Tuhan. Nama agung yang entah kapan terakhir kali kupuji. Wangi terindah yang entah kapan terakhir kuciumi. Dekap ternyaman yang entah kapan terakhir kujadikan sandaran. Tetiba aku sangat merindunya. Ah, berani sekali aku merindunya setelah bersimbah dosa tak terkira. Aku merasa kotor. Sangat kotor dan tak berharga. Bahkan ayahku sendiri meniduriku!

Aku mencari silet mungil yang selalu kujadikan kawan. Aku mencarinya diatas tumpukan puntung rokok dan bekas botol-botol bir yang kusesap tiap malam. Semuanya bertumpuk diatas meja usang yang seharusnya kupakai belajar. Persetan, aku bahkan lama tak menjamah sekolah.

Tersenyum getir kumainkan ujungnya, hingga akhirnya kusayat-sayat dadaku. Sesekali kugigit bibir bawahku menahan perih, tapi setelah itu rasa lega menjalari hatiku saat kulihat darah segar menganak sungai di tubuhku. “Akan kusayat seluruh bagian tubuhku, satu per satu. Hingga kalian tak bisa lagi melihat tubuh mulusku, Setan!”

Balon Biru

“Bunda, Fiya mau beli balon!!” Rengek Fiya, anakku satu-satunya. Jari telunjuknya mengarah ke penjual balon keliling yang sedang mengayuh sepeda tuanya.

“Biru lagi non Fiya?” Tanya Mang Kokom sang penjual balon begitu sampai dihadapan kami. Fiya yang sedang bergelayutan di lenganku mendadak melompat kearah Mang Kokom. “Iya, Fiya mau yang biru.” Aku menatap Fiya yang sedang melonjak kegirangan dengan mata berkaca-kaca. Biru adalah warna kesayangan Fiya. Balon, permen, eskrim, boneka semuanya berwarna biru.

“Fiya suka biru! Fiya suka balon biru!” Teriak Fiya sambil berlari mengitari halaman. Airmata mengalir deras dikedua pipiku. Dua puluh tahun berlalu, Fiya masih bertingkah seperti itu. Waktu seakan membeku untuknya, memerangkap gadis kecilku didalam tubuh wanita dewasa.

Terpanggang Kenyataan

Aku terpekur meratapi jasad suamiku yang terbujur kaku dihadapanku. Mengenaskan, tubuhnya hangus terpanggang. Seandainya tidak ada masalah dan PHK setahun yang lalu, tentu semua ini tidak pernah terjadi.

Kehidupan rumah tanggaku sangat berkecukupan, bahkan  mewah. Suamiku yang seorang area manager  suatu bank terkenal membuat kami terlena. Hampir setiap hari, Ardan suamiku menghadiahiku dan anak-anakku dengan berbagai benda-benda mahal. Mulai dari perhiasan, gadget teranyar, sepatu-sepatu bermerk, baju-baju mahal serta kami selalu makan di restoran kelas atas.

Aku ingat permintaan Dewi, anak sulungku yang duduk di kelas 2 SMA kepada Ardan, suamiku di suatu waktu, “Pa, teman-teman Dewi sudah naik mobil, masa Dewi diantar jemput mama terus?” rengeknya. Ardan yang sedang sibuk dengan laporan akhir tahunnya hanya menengok sekilas, kemudian menuliskan jumlah rupiah dengan nominal besar di atas buku ceknya lalu memberikannya pada Dewi. “Pilih sendiri mobil yang kau inginkan. Ajak mamamu membelinya, minta beliau untuk mendaftarkanmu ke sekolah mengemudi,” kata Ardan, kemudian kembali menekuri laporannya.

Aku sempat terperangah melihat nominal angka di selembar cek itu, 400 juta rupiah! Dengan mudahnya suamiku memberikan uang sebesar itu pada Dewi, demi sebuah mobil! Tanpa pertimbangan dan persetujuanku, seperti biasanya. Dewi pun dengan girangnya memilih sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat dengan uang itu.

Hari-hari berikutnya giliran si kembar Andre dan Aldo yang merengek minta dibelikan IPad keluaran terbaru. Padahal untuk ukuran anak SMP, benda itu masih belum dibutuhkan. Seperti biasa, suamiku dengan mudahnya meloloskan permintaan mereka.

Suatu malam, aku yang tak tahan dengan segala pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikiranku mengenai betapa mudahnya suamiku mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Meskipun dia adalah area manager, tapi tidak mungkin sebesar itu penghasilannya, sampai bisa setiap saat menuruti kemauan anak-anak yang kadang tidak masuk akal.

Aku memasuki ruang kerja Ardan yang terlihat sangat berantakan. Sudah lumayan lama aku tidak pernah memasuki ruangan ini. Ardan jatuh tertidur di atas mejanya dan mendengkur halus. Laptopnya masih berpendar menyala dan tampak rekening suamiku di sana. Rupanya dia tadi melihat jumlah tabungannya melalui internet. Penasaran, aku membuka salah satu fitur yang isinya posisi saldo. Luar biasa terperangah aku melihat jumlahnya. 200 trilyun rupiah! Bahkan dalam mimpipun aku tak pernah membayangkan memiliki uang sebesar itu.

“Kinanti? Aku melihatmu begitu gelisah pagi ini. Ada apa?” kata Ardan saat aku menyiapkan sepiring sarapan paginya. Ya, aku memang sangat gelisah mengingat jumlah saldo di rekeningnya tadi malam. “Tidak mas. Aku baik-baik saja,” kilahku, sekuat tenaga menyimpan rasa ingin tahu didalam hatiku. Aku akan menanyainya nanti malam, sepulang kerja.

Malam memang sudah lama datang, namun Ardan tak kunjung pulang. Ketiga buah hatiku sudah terlelap di kamar mereka masing-masing. Sudah lewat tengah malam dan ponselnya mati. Aku cemas, dan jatuh tertidur kelelahan menunggu Ardan pulang. Paginya, aku bagai disambar petir mendengar kabar dari rekan kerja Ardan, bahwa ia sedang diinterograsi di kepolisian atas dugaan fraud! Ya fraud! Penyalahgunaan keuangan bank tempatnya bekerja! Dengan kata lain korupsi, atau bahkan mencuri. Tidak main-main jumlahnya mencapai 500 trilyun rupiah! Bergegas aku mendatangi kantor polisi dan menemukan suamiku meringkuk di sel tahanan.

Pontang-panting aku menghubungi semua kolega keluarga kami, agar paling tidak suamiku bisa keluar dari tahanan. Semua tabunganku dan milik  anak-anak dan juga tabungan Ardan terkuras untuk mengembalikan dana bank yang Ardan salah gunakan. Pengacara dari berbagai kolega kukerahkan untuk membebaskan Ardan. Untunglah, beberapa minggu kemudian Ardan kembali bebas. Namun, kami tidak akan menikmati kekayaan seperti dulu.

Rumah mewah, mobil dan harta yang lain sudah habis terjual. Itupun belum menutup semua uang yang harus dikembalikan pada bank yang menuntut Ardan. Seumur hidup, kami akan menanggung cicilan kepada bank, atau Ardan akan kembali dipenjara.

Kehidupan kamipun kembali dimulai, dan sangat berat. Ketiga anak yang terbiasa dengan hidup mewah mulai merengek menjalani kehidupan kami yang melarat di sepetak rumah kumuh di pinggiran kota. Dewi bahkan meninggalkan rumah dan memilih menjadi istri simpanan pengusaha kaya di usianya yang bahkan baru memasuki 17 tahun, dan belum tamat SMA. Tak dihiraukannya aku berlutut untuk menahannya. Si kembar semakin ugal-ugalan dan menjadi preman di terminal. Sementara aku yang biasanya hanya duduk manis di rumah membaca majalah wanita, kini harus banting tulang menjadi buruh cuci, dan Ardan menjadi tukang parkir. Kehidupan kami semakin memburuk  sampai suatu ketika perubahan itu datang.

Ardan pulang membawa sejumlah uang yang cukup besar, dia mengatakan dia menjadi perantara penjualan mobil dan mendapat komisi. Si kembar mendukung pernyataan Ardan, aku seperti biasa tak pernah berhak untuk bertanya. Sekalinya aku bertanya, Ardan akan naik pitam. Aku tidak ingin Andre dan Aldo menyaksikan pertengkaran kami.  Aku selalu memilih diam.

Ada keanehan yang terjadi, Ardan memilih tidur menyendiri bersama si kembar di kamar depan. Melarangku memasuki kamarnya. Dia selalu mengunci kamar jika sedang tidak di rumah dan jika malam tiba, dia memasuki kamar bersama si kembar dan aku selalu mencium bau terbakar dari sana.

“Jaga lilinnya! Jika nyalanya berkelip seperti tertiup angin, cepat kalian tiup sampai padam! Jangan biarkan lilin itu padam sendiri,” sayup-sayup kudengar suara suamiku memerintahkan pada si kembar. Aku mengintip dari lubang kunci dan aku tak melihat adanya suamiku, hanya ada si kembar sedang menghadap lilin kecil yang cahayanya menari-nari di ruangan kamar yang gelap. Itulah malam terakhir aku mendengar suara suamiku, sebelum menemukannya terpanggang dibakar massa, dalam wujud setengah manusia setengah binatang. Celeng.

Malam Pernikahan

Flatsku terletak di depan sebuah danau kecil yang indah. Sekarang sedang musim dingin, dan danau itu  membeku. Permukaannya berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari. Aku tersenyum melihat pemandangan itu, yang setiap hari kulihat dari balik jendelaku. Pagi ini semua tampak seribu kali lebih indah daripada biasanya. Semalam Robert baru saja melamarku, dan sekarang ia masih terlelap dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.

“Kau mau menikah denganku?” bisik Robert sembari berlutut. Satu tangannya meraih jemariku, tangan yang lainnya menunjukkan cincin bermata biru itu kepadaku. “Kau melamarku?” tanyaku setengah tergelak, tak percaya Robert benar-benar melakukan ini. Robert memberengut, “Kenapa kau tertawa? Aku serius Maria,” ucapnya pasti. Aku tertegun sejenak, kemudian merasa begitu bahagia sampai tak bias berkata-kata. Aku hanya mampu mengangguk, dan dengan bergetar jemari Robert memasangkan cincin bermata biru itu di jari manisku.

Dua tahun ini aku menghabiskan waktuku bersama Robert. Lelaki tampan dengan rambut cokelat dan mata hazelnya yang indah. Aku jatuh cinta pada deru nafasnya saat menciumku, pada aroma tubuhnya yang memabukkan, pada senyumannya yang cemerlang, serta pada pelukannya. Aku mencintai pria yang luar biasa, aku mencintai pria yang juga jatuh cinta kepadaku.

“Jadi kapan kau menikahiku?” ujarku sembari membelai bahu Robert yang baru saja terbangun dari tidurnya. Robert tersenyum lembut, lalu menarikku kedalam pelukannya. “Kapanpun kau siap sayangku..” bisiknya. Kamipun kembali bergumul, mencairkan suasana pagi yang beku dengan ciuman-ciuman yang membara.

**

“Jadi pernikahan seperti apa yang kalian inginkan?” Tanya seorang wedding planner yang juga sahabat Robert. Aku melirik Robert, mengangkat sebelah mataku sebagai ajakan untuk berunding. Robert mengelus punggung tanganku. “Kau yang menentukan semuanya,” katanya. “Kau serius?” tanyaku dengan mata berbinar-binar. Sejak dulu, aku memang bermimpi untuk merancang sendiri pesta pernikahanku. Robert mengecup pipiku sekilas, lalu berjalan menjauhi kami sambil menyalakan rokoknya.

“Aku ingin memakai gaun victorian berwarna gading, membawa seikat bunga mawar merah muda yang lembut. Disisiku Robert mengenakan tuksedo, dan oh ya dia pasti sangat tampan. Aku ingin rambutku disikat sehalus rambut para ratu, dan mengenakan sepasang sepatu dari beledu,” suaraku terdengar begitu nyaring dan bahagia. Amanda, nama wedding planner itu terus menerus tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Jemarinya dengan lincah mencatat setiap kata ayang meluncur dari bibirku.

“Mengingat salju akan mencair 3 bulan lagi, sempurna rasanya jika kami menikah di taman rumput terbuka. Altar perkawinan dihiasi oleh bunga mawar, dan ya aku ingin perkawinanku bernuansa pastel yang lembut. Piano terletak di sudut taman, dan para tamu berdansa dengan irama klasik yang merdu.” Amanda masih mengembangkan senyumannya dan mencatat dengan lincah. Aku memutar otak, apalagi yang kuinginkan dan belum kusebutkan. Kurasa sudah cukup, hal-hal yang lain kupercayakan pada Amanda.

“Aku akan menjadikan pernikahanmu lebih daripada yang kau impikan,” ucap Amanda optimis, tangannya mengelus punggung tanganku. “Aku percaya padamu. Kau wedding planner terbaik di kota ini, kau juga sahabat Robert. Aku yakin pernikahanku akan sempurna ditanganmu,” ucapku. Senyum lebar menghiasi wajahku. “Baiklah, kutelpon jika gaunmu sudah siap ya!” lanjut Amanda. Aku mengangguk seraya berjalan riang kearah Robert yang sudah menungguku.

**

Dua bulan yang luar biasa sibuk. Setiap hari Amanda menelponku, menanyakan detail pernikahan. Mulai dari kue pengantin, hidangan untuk tamu, mengukur badanku di penjahit gaun, memesan sepatu, mencari bunga mawar yang sesuai, menanyakan jumlah tamu yang akan kuundang, dan bahkan dia menyuruhku untuk berdiet! Katanya aku harus tampil sempurna di hari pernikahanku. Belum pernah hari-hariku segila ini. Robert merasakan hal yang sama, dia harus mengukur badannya di penjahit juga, menemani Amanda mencari sepatu yang tepat untuknya, mencari taman yang sempurna, menghubungi pendeta, dan lain sebagainya. Hampir gila kami berdua dibuatnya.

Telepon seluler Robert kembali berdering untuk ketiga kalinya pagi ini. Dia membiarkannya begitu saja. Sama, teleponku juga terus menerus berdering. “Aku masih merasa seharusnya kita mengangkat telepon itu Robert.” Kataku, menempel erat ditubuhnya. “Amanda tidak pernah membiarkan kita bebas sedikitpun sayangku. Ini pernikahan kita, aku tak menyangka kita begitu sibuk dibuatnya,” kata Robert setengah tergelak. “Aku ingin pernikahan kita sempurna sayang.. tapi tentu tidak segila ini,” ujarku, ikut tergelak bersama Robert. Robert menatap mataku serius, “Ini adalah pernikahan paling sempurna sepanjang jaman.”

**

Seminggu menjelang pernikahan. Aku dilanda stres luar biasa! Dunia tampak jungkir balik dihadapanku. Aku merasa seperti bebek buruk rupa saat mengenakan gaun pengantinku. Ibuku bahkan terus menerus menelponku menanyakan persiapan pernikahanku. Ya Tuhan, apa sebaiknya kami menikah di gereja kecil saja? Tanpa pesta? Diam-diam?

Ini bahkan sudah jauh malam dan aku tak sanggup membayangkan bagaimana pestaku nantinya. Meriahkah? Atau justru berantakan? Apakah aku akan terlihat sempurna? Syukurlah, aku memiliki Robert. Dialah satu-satunya duniaku yang normal. Tidak jungkir balik seperti yang kulihat karena pesta pernikahan. Sekali lagi, nama Amanda muncul di layar ponselku. “Maria! Demi Tuhan, kemarilah, lihat. Apakah seperti ini sepatu yang kau inginkan?” suara serak Amanda memberondong begitu aku mengatakan “Halo..”

Benar. Persiapan pernikahan ini gila! Aku memandang kosong kesekelilingku. Robert tertidur pulas disampingku. Aku mendadak tersenyum, segila apapun persiapan pernikahan ini, semuanya akan terbayar saat hari itu tiba. Saat aku menjadi Ny. Robert dan disaat itu, kami yang awalnya berdua, akan menjadi satu, dihadapan Tuhan. “Oke Amanda, besok pagi aku kesana..’ lalu aku tertidur pulas dan bermimpi pernikahanku berjalan sempurna.

**

Besok, pestaku akan digelar. Bunga-bunga musim semi mulai bermekaran. Taman sudah dipersiapkan, lengkap dengan piano putih dan bunga-bunga bernuansa pastel yang lembut. Altar pernikahan terlihat cantik dan mempesona. Aku puas melihat hasilnya, dan malam memang belum terlalu larut, Amanda mengajakku ke kafe dan kami terus berbincang-bincang.

“Besok hari pentingmu Maria. Kuucapkan selamat!” Kata Amanda bersemangat sambil menyorongkan segelas kopi ke arahku. Aromanya sungguh menggoda. “Terimakasih Amanda, kau membantuku mewujudkan semuanya,” aku tersenyum tulus, dan kami berpelukan. Kami sudah menjadi sepasang sahabat sekarang. “Pulanglah, kau tidak ingin ada kantong mata di matamu kan besok? Pagi-pagi benar aku akan datang membawakan gaunmu dan membawa beberapa tukang rias. Persiapkan harimu!” ucap Amanda. Kulihat binar kebahagiaan ikut mengisi wajahnya. Aku ikut tersenyum bahagia, lalu melambaikan tanganku dan mulai berjalan menuju flatsku.

**

Syukurlah aku tidak bangun kesiangan, setelah tidur yang kurasakan sedemikian panjang. Hari masih gelap rupanya, matahari belum juga menampakkan sinarnya. Aku bersiap menunggu kedatangan Amanda dan beberapa tukang riasnya. Robert bahkan sudah tidak ada diranjang, mungkin dia sedang bersiap memakai tuksedonya, di flatsnya sendiri. Aku tak ingat saat pulang semalam apakah ada Robert disini atau tidak. Sepertinya aku begitu kelelahan, dan langsung tertidur begitu badanku menyentuh ranjang bulu angsaku.

Satu jam, dua jam, tiga jam. Amanda tak kunjung datang, bahkan aku tak bisa menghubungi Robert. Sepertinya tanganku menembus setiap benda yang kusentuh. Ah aku berimajinasi karena kelelahan. Panik mulai melandaku, ini hari pernikahanku! Kemana perginya semua orang? Aku menatap danau yang sudah tidak membeku dihadapanku. Mendadak tersadar suasana begitu terasa sepi, dan tubuhku terasa begitu ringan seakan melayang.

Robert datang bersama Amanda dengan wajah berduka dan berlinangan air mata. Amanda membawa bingkisan gaun ditangannya. “Robert, kau yakin mau kesini?” bujuk Amanda lirih. “Hey! Ada apa ini! Robert! Ini hari pernikahan kita kan?” teriakku. Robert bergeming. “Amanda! Mana tukang riasmu? Lihat matahari mulai muncul! Pernikahanku sebentar lagi!” Amanda juga membisu, airmata tak henti-hentinya membanjiri kedua pipinya. Ada apa ini?

“Maria..” bisik Robert terluka dan berlinangan airmata, meredam teriakan dan pertanyaan-pertanyaan yang meluncur dari bibirku. Dipeluknya selembar bajuku yang berlumuran darah. Bajuku! Baju yang kukenakan semalam. Kurasakan tubuhku mulai memudar. Samar-samar aku membaca sebuah berita di koran yang dibawa oleh Amanda. “Seorang gadis muda berambut pirang tewas tertabrak minibus yang meluncur dengan kecepatan maksimum didepan jalan flatsnya di seberang danau. Menurut kepolisian, gadis malang bernama Maria  tersebut ditemukan dengan kondisi tubuh remuk dan mengenaskan. Keluarga korban…..”

Tanpa Duka

Ayahku entah siapa dan ibuku pelacur. Setiap malam, rumahku dipenuhi para pelacur tua yang menemani para lelaki penjudi. Semua itu normal bagiku, aku terbiasa dengan suasana itu sejak kecil.

Ibuku memaksaku untuk memanggil ayah pada laki-laki setengah tua berwajah runcing dan licik yang tinggal bersama kami. Aku menolak memanggilnya ayah. Setauku, seorang ayah tidak akan memaksa anak gadisnya untuk melayaninya. Ya, aku menjadi bulan-bulanan bejat lelaki itu. Tubuhkulah dipaksa melayaninya. Tidak masalah, aku menganggap tubuhku hanya bagian yang terpisah dari jiwaku yang murni, yang tidak tersentuh.

Malam itu kembali berulang. Lelaki runcing itu kembali memasuki kamarku, entah dia selalu berhasil membuka pintu kamarku yang terkunci. Lelaki itu juga selalu berhasil menghindari ranjau-ranjau jebakan yang kupasang di muka pintu. Sekali lagi, lelaki itu bebas menjamah tubuhku. Aku tak mau lagi berontak. Sudah cukup aku merasakan cambukan lelaki itu akibat aku meronta. Ini tubuh bukan milikku.

Paginya, aku terbangun dengan badan sakit luar biasa. Memar dimana-mana. Lelaki yang mengaku suami ibuku itu, mencengkeramku terlalu kuat saat melampiaskan hasratnya. “Kenapa badanmu?!” Tanya ibuku penuh selidik saat aku menghidangkan sarapan pagi. Lelaki itu duduk membelakangiku, keringat muncul dari balik kepalanya yang setengah botak. “Jatuh, terbentur.” Jawabku pendek. Percuma jika aku bercerita, ibuku si wanita jalang ini tak kan peduli. Dia sudah terbiasa memaksaku melayani tamunya dengan bayaran lebih mahal darinya. Tentu bukan pula menjadi masalah bagi ibuku jika tahu aku melayani suaminya setiap malam.

“Ambilkan aku air Hera.” Tukas lelaki itu padaku. “Air sudah ada didekatmu Dick.” Tukasku masam. “Sampai kapan kau tidak mau memanggil dia ini ayah? Paling tidak tunjukkan hormatmu, panggil dia om dicky!” Murka ibuku. Piring sarapannya melayang mengenai kepalaku. Lelaki bernama Dicky itu hanya menyeringai kearahku. Aku mengabaikan perih yang mendera kepalaku. “Tidak ini tidak sakit! Tubuhmu terpisah dari jiwamu!” Jerit batinku sendiri.

Tubuhmu terpisah dari jiwamu.. Tubuhmu terpisah dari jiwamu.. Berkali-kali kuucapkan mantra itu. Selalu berhasil. Mantra itu berhasil menulikan emosiku. Mematikan rasaku. Jiwaku murni. Silakan ambil tubuhku, itu tidak berharga lagi. Lelah dan hampa, aku merasa sangat kosong. Jiwaku harus segera terbebas dari tubuh luarku. Api bisa menjadi jalan penyucian jiwaku, menjadi lebih murni.

Aku tersenyum melihat kobaran api yang membesar dari sekitar ranjangku, merembet ke tubuhku, menjalar ke dinding kayu sekitarku. Dibalik dinding ibuku menjerit-jerit kesakitan, lelaki itu juga sama saja berteriak kesetanan. Api sudah sampai mereka pula rupanya. Tak pernah ada duka, aku memang tak pernah punya keluarga.