keping enam menit

Silakan, jika memang kau begitu hebat. Lakukan saja.

Lalu koin itu meluncur dari genggaman tangan milikku. Berdenting memecah sepi yang mencabik-cabik jiwa hingga terasa kering. Ini tidak pernah mudah. Batinku mendesis. Aku tidak pernah hebat. Rasa sesal memenuhi tubuhku, berbuih-buih seperti aspal panas, membuatku melepuh, gosong, dan buruk. Tapi, seperti penyesalan pada umumnya, sesal itu hanya meninggalkan nyeri yang teramat dalam. Tanpa pernah bisa kau perbaiki dengan semestinya.

Koin itu berkilau samar di lantai kayu. Aku memandang berkeliling. Ada telepon yang hanya bisa digunakan jika nomornya diputar, ia membisu di ujung ruangan. Kebisuannya terasa angkuh, memamerkan warna merah yang menyala. Tepat di seberang telepon itu, ada ruangan yang pemiliknya akhir-akhir ini mengusik pikiranku. Pikiranku seakan bukan lagi milikku. Ada suara-suara yang terus menerus memekik. Menyalahkan. Menggerutu.

Aku membungkuk untuk mengambil keping koin, lalu rasa nyeri merambati punggungku. Punggung ini sudah terlalu lama digerogoti rematik, membungkuk tanpa mengernyit atau mengerang sakit adalah hal sepele yang kurindukan. Kemudian, dari balik bayang-bayang, aku merasakan ada sepasang mata lentik membakar punggungku dengan tatapannya.

“Hestia?”

Pemilik mata itu bungkam. Ia tidak pernah lagi menjawab panggilanku. Tidak menjerit saat kulayangkan tamparanku. Tidak menangis saat melihatku membawa Santya ke dalam kamar yang seharusnya menjadi altar suci tempat ritual penyatuan kami sebagai suami yang membutuhkan istri. Hestia. Hestia. Ke mana perginya semua nada yang merdu itu dari bibirmu?

Aku menatap mata itu. Langsung ke pusat yang dulunya adalah duniaku. Mata itu kosong. Hampa. Sehampa mata Santya yang sudah tak bernyawa. Santya. Santya. Sudah kularang ia, sudah kuperingatkan ia untuk berhenti. Berhenti mengeriting rambutnya. Atau mengecatnya menjadi merah menyala. Atau mengenakan legging warna neon dengan atasan yang hanya menutupi separuh badannya. Santya. Kularang kau pergi ke disko sambil menghisap ganja. Aku telah melarang engkau berpesta pora. Aku terlalu tua mengikuti pestamu, Santya. Ia hanya berjengit, lalu mengecup pipiku dengan lembut. Aku bisa mencium aroma parfum yang terlalu berlebihan di antara belahan dadanya. Kalau begitu, tinggal saja di rumah, Manis. Kau tidak bilang tua saat mengajakku kawin. Aku tidak tahan duduk-duduk seharian seperti Hestia. Lama-lama aku bisa keriput sebelum waktunya.
Ia berlalu. Tidak pernah kembali. Tubuh moleknya ditemukan dipenuhi tusukan pisau beberapa pekan kemudian, tidak jauh dari pub biasa ia melakukan pesta. Tidak ada barang yang hilang. Seolah pembunuhnya hanya ingin membunuhnya. Itu saja.

Saat Hestia mendengar Santya tewas, ia tidak menunjukkan perubahan apapun. Tidak raut wajah. Tidak pula sepatah kata. Ia tetap bisu. Dan datar. Dan kosong. Ia hanya menyeret kakinya kembali ke kamar utama. Ke altar penyatuan kami. Namun hanya punggungnya yang menjadi sisian untukku tidur. Lama-kelamaan, aku merasa jiwaku ikut kosong. Melompong.

Aku singguh rindu kehangatan rumah ini sebelum ada Santya.

***

“Alden!”

Ingatanku tak mungkin salah. Jeritan Hestia kala itu seperti kuku menggaruk papan tulis. Membuat sekujur tubuhku ngilu.

“Bawa dia kembali!”

Perempuan ayu berahang kokoh itu lalu melemparkan pandangannya yang setajam mata pedang ke arahku. Aku mengernyit. Hestia meraung.

“KAU MERASA BEGITU HEBAT! BAWA DIA PULANG! BEDEBAH TUA!”

Semenjak hari itu, perempuan ayu itu, tempatku mencurahkan segala hidup, menghilangkan suara dari dalam lehernya. Ia menolak bicara.

***
“Mungkin ada hubungannya koin itu dengan anakmu, Manis.”

Itu Santya. Ia menggelayut manja di leherku. Ia selalu memakai paefum di belahan dadanya. Kaosnya selalu menunjukkan pusar di perut ratanya. Celananya selalu ketat membalut panggul indah dengan lenggok sintren. Laki-laki mudah terperdaya. Aku. Terjebak dengan sukarela di dalamnya.

“Alden itu sudah besar. Besar pula kepalanya. Dipikirnya dengan minggat begini aku akan jadi lembek. Jangan harap!”

Santya mengelus-elus pahaku. Angin semilir di beranda mendadak terasa panas dan memabukkan.

“Santya, kita nikah saja.”

“Oho, sakit hati Alden tak akan terbayangkan, Bagya, Manisku.”

“Tapi kau cinta aku. Bukan Alden.”

“Memang begitu. Dunia kejam ya. Tidak punya bapak sejak lahir. Lalu ketemu Alden yang tergila-gila, tapi dia terlalu hijau. Kekanakan. Aku benci bocah.”

“Kau lebih suka yang tua seperti aku. Nikah saja denganku.”

Kami menikah sore itu, tanpa ijin Hestia, dan Alden, masih belum jelas entah di mana.
***
Dahulu kau pernah berjanji, sebelum perkawinan mengikat kita dengan kokoh di tiang rumah megahmu, sebelum anak laki-laki lahir dari rahimku, bahwa tidak ada apa pun di dunia yang akan memisahkan kita. Aku. Kamu. Anak kita kelak. Lalu kita tertawa. Saling berjanji, tapi janji hanyalah kata-kata manis yang membuat mabuk, lalu keesokannya kita akan bangun dengan bibir pahit dan sakit kepala. Silakan. Jika kamu memang begitu hebat, lakukan saja.”

Anak laki-laki di ujung ruangan menangis. Usianya baru genap tujuh belas. Ia menangis dengan mata yang mencerminkan jiwanya yang terkoyak-koyak.

Ia pergi. Melempar koin seratus rupiah itu ke arahku.

“Lima puluh rupiah untuk tiga menit. Itu yang di hadapanmu ada seratus. Enam menit, Pak Tua, enam menit waktumu menemukanku, Pak Tua.”

Anak laki-laki yang mewarisi kokoh rahang dan keras kepala ibunya itu lalu meludah. Entah kenapa aku merasa koyak. Lalu, aku ingat, selepas jeritan itu, saat Hestia memanggil Alden, Santya tetap duduk tenang tanpa kehilangan kendali, ia menyilangkan kakinya, dan sudut matanya mengikuti kepergian Alden. Tidak ada penyesalan di sana.

Sementara, buku pernikahan kami terbuka lebar-lebar di meja tempat Hestia meletakkan cangkir teh untuk Santya. Anak perempuan yang dianggapnya anak sendiri. Gadis muda pujaan anak laki-lakinya sendiri. Istri baru laki-laki yang dipanggilnya suami.

***

“Kenapa, pak?”

Sakrie, tukang sapu kuris ceking itu menghampiriku. Aku duduk di beranda yang sama, tempat Santya melingkarkan tangan jenjangnya ke leherku. Beranda yang sama, tempatku meminangnya. Beranda yang sama, yang letaknya tepat di bawah jendela kamar Hestia.

“Entahlah, Sakrie. Alden belum pulang juga. Sudah hampir tiga bulan. Aku kangen suara ibunya.”

“Lho, kangen Mas Alden apa kangen Ibu Hestia? Saya ndak ngerti, Pak.”

“Sudahlah. Pokoknya begitu.”

“Itu ada seratus rupiah bolehbsaya pinjem, pak? Saya mau nelepon Martini, anak saya sakit, pak.”

“Pakai telepon di dalam saja. Seratus ini kan cuma sebentar kalo dipake nelepon di sana.”

“Anu, pak, nomornya tetangga saya yang buat nyambungken Martini saya oret-oret di deket box telepon di ujung jalan itu, Pak.”

“Ya sudah sana. Ini saya ada seribu. Pakai saja.”

“Ndak usah, Pak. Seratus rupiah saja sudah cukup. Enam menit sudah cukup, pak. Saya ndak perlu ngobrol lama.”

Ada petir. Menyala. Tepat di kepala. Membakar dada.

“Sakrie, aku ikut.”

“Tapi, pak…”

Aku menegakkan tubuh, punggung rematikku membuatku kembali mengernyit. Kutepis tangan Sakrie yang hendak membimbingku.

Aku akan bawa Alden pulang, Hestia. Lalu kita bisa bercinta.

***

Sakrie mematung di tempatnya. Koin seratus rupiah meluncur dari genggamannya.

“Pak? Pak Bagya?”

Dari dalam gagang telepon, masih terdengar bisik-bisik yang licik, licin.

“Halo? HALO? SIAPA INI?”

Sakrie merebut gagang telepon boks itu dariku. Aku belum sanggup bergerak. Tulisan di box itu cukup menarik perhatianku. Tulisan tangan Alden. Menuliskan sederet nomor. Aku memencet nomor-nomor itu. Tanpa melihatnya. Aku mengenal nomor itu seoanjang usia. Telepon merah yang angkuh di ruang keluarga.

“Dalam enam menit ke depan, setelah kamu menghubungi nomor ini. Semua milikmu hilang. Hitung mundur, Pak Tua.”

***

Ia memeluk Alden dengan kedua lengannya yang terentang terbuka.

“Kemarilah, Mas! Lihat siapa yang sudah pulang!”

Alden tersenyum jahil, melirik arlojinya. Melambaikan tangan.

Lalu merah membumbung, melalap langit dengan amarahnya.

Sebelumnya, aku terpental dan sesuatu meledak dengan kerasnya.

Masih terngiang jeritan Hestia. Masih terukir senyum di wajahnya, lalu kulihat wajah itu kosong sejenak, lalu digantikan rasa sakit yang dirasakannya kurang dari sedetik, sebelum semuanya menyerpih. Menyerpih. Menjadi debu dan abu.

Hestia. Hestia.

****

“Benar. Setel saja enam menit, lalu aku hanya tinggal menunggu si tua itu menghubungiku. Aku akan datang pada ibu. Aku tidak pernah jauh, bu. Rumah itu terlalu banyak memiliki lorong tersembunyi. Si tua itu bahkan tidak menyadari. Tapi aku tahu, ibu. Aku tahu semua lubang, semua lorong, semua kamar rahasia di sini. Aku tahu sejak kakek mengenalkanku. Ia berkata ini rahasia. Bagya bahkan tidak pernah tahu.

Ibu, aku akan memelukmu, membawamu pergi.”

Lalu telepon di meja mulai berdering… .

Anak laki-laki itu yang telah merapal ucapannya berkali-kali, beranjak menuju meja telepon. Telepon yang utama, yang berwarna merah serupa darah, dengan kalender 1982 terpaku miring di atasnya, telah ia utak-atik hingga tak lagi mengeluarkan suara. Teleponnya sendiri di hadapannya, lusuh berwarna hijau tua. Telepon itu akses rahasia paralelnya, mulai menjerit keras di hadapannya.

Sudah kubilang, ruang kosong ini tersembunyi, Pak Tua. Enam menit, waktumu, mulai dari tiga… dua… satu… .

Sukoharjo, 17 Juni 2015.
Aku sudah menyelesaikan tantangan menulis kita, Rendra, Ade, Doroii, Andiana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s