Burung-burung Hitam di Mata Mahla

Tidak ada yang pernah tahu bagaimana bisa sekelompok burung berbulu hitam muncul dari sepasang mata milik seorang perempuan.

“Aku melihatnya menangis di sudut jalan, dan saat aku mendekatinya untuk menanyakan apa yang salah, ia mengirimkan burung-burung dari dalam matanya untuk menyerang dan mematukiku. Aku hampir buta karenanya!” Yeesaac, perempuan tambun itu bercerita dengan suara yang menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Ia menjadi pusat perhatian di antara kerumunan orang yang mengelilinginya. Tangan gemuk pendeknya yang bergerak-gerak saat menggambarkan ceritanya, membuat beberapa orang menahan napas karena ngeri, beberapa bergidik takut, dan lebih sedikit lagi yang merasa iba kepada perempuan muda yang sedang dituturkan Yeesaac.

“Tapi, kenapa dia mengirimkan burung-burung hitam untuk menyerangmu, Yeesaac? Apa yang telah kau perbuat?”

Seseorang bertanya, dan kerumunan menggumam-gumam samar, saling mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Sedangkan Yeesaac, ia menghela napasnya dengan berat, lalu menghembuskannya perlahan.

“Entah, saudaraku. Aku sama tidak tahunya denganmu. Tetapi Mahla, nama perempuan itu kuanggap saudaraku, karena semua perempuan adalah bersaudara, dan aku berharap ia mau membagi kesedihannya padaku. Hari itu adalah hari kesembilan ia mengenakan pakaian berkabung meskipun kita semua tahu, ia tidak punya keluarga untuk ditangisi kepergiannya. Dia hanya menangis, dan aku mendekatinya. Lalu…”

Mereka semua bergidik saat Yeesaac menggerakkan tangan-tangan gemuknya membentuk sayap-sayap yang menyambar matanya.

*

Bisik-bisik berkembang menjadi desas-desus, yang, menjalari lembah hingga berubah menjadi cerita harian yang dituturkan burung-burung di pokok kenari, atau, dibicarakan diam-diam di beranda rumah yang dulunya lengang. Para wanita sibuk berprasangka, dan para pria ikut bercengkrama di antara mereka. Menceritakan cerita yang telah diulang-ulang dengan berbagai versi.

Perempuan itu bisa mengirim tulah lewat tatapan matanya, kabar itu awalnya terdengar. Lalu berubah, menjadi, perempuan itu membuat siapa saja yang ditatapnya kesakitan seperti dicakari dan dipatuki sekawanan burung hitam yang jumlahnya puluhan ribu. Kemudian menjadi kabar yang lebih aneh, perempuan itu menularkan kesedihan yang tampak dalam di matanya itu, menjalari seluruh lembah desa yang mereka huni, seakan-akan mereka tak bisa gembira lagi, seolah-olah pandangan mereka yang ceria berubah sekelam kepak sayap burung-burung yang bersarang di matanya.

Kabar-kabar yang beredar itu semakin berkelindan, saling jalin-menjalin, menutupi kabar satu dengan yang lain. Mengubah cerita satu dengan menambah cerita lain, hingga kebenaran menjadi hal yang sulit untuk ditemukan.

Sementara, perempuan di sudut jalan yang dikabarkan membawa petaka itu, tetap menundukkan pandangannya, siapapun tak berani mendekatinya untuk sekadar melihat atau menatapnya. Rasa iba yang pertama kali orang-orang rasakan kepadanya berubah menjadi rasa takut yang terasa menyengat, rasa takut yang aneh dan tidak masuk akal. Sedang mereka sendiri bertanya-tanya, akankah sepasang mata perempuan itu mengirimkan burung-burung hitam untuk menyerang mereka, jika mereka menatapnya sekali saja?

Karena sesungguhnya, mustahil rasanya memalingkan pandangan dari sosok perempuan elok yang bertudung hitam dan bertubuh sewarna pualam. Ia pucat, molek, perempuan itu menawan dengan sepasang mata gelap, yang, pastilah sang iblis bersarang di dalamnya. Begitulah mereka menyebutnya.

Namun, saat itu tidak ada yang menyadari, bahwa perempuan bernama Mahla itu telah hadir di antara mereka begitu saja, mereka mengabaikan kehadirannya seolah-olah perempuan itu memang tinggal di sana, di ujung jalan yang gelap itu, mereka merasa ia sudah bertahun-tahun lamanya seperti seharusnya memang di sanalah tempatnya tinggal, meskipun mereka tahu, bahwa di ujung jalan itu hanya ada sebuah lubang kosong menganga yang bahkan sebilah papanpun takkan sanggup bertahan di atasnya tanpa terperosok ke dalamnya.

*

Yeesaac memutuskan akan menemui Mahla, perempuan misterius yang hampir menyerangnya dengan burung-burung dari dalam matanya. Yeesaac, perempuan kita ini adalah perempuan keras kepala yang sok tahu dan tukang gosip, penyebar kabar keji, begitulah ia dikenal. Ia dulunya dihindari, ia sangat jarang diikutkan dalam pembicaraan-pembicaraan karena kebanyakan orang menghindari lidahnya yang lebih tajam dari pisau yang digunakan untuk membelah limau. Namun, kabar tentang dirinya yang telah diserang burung-burung gaib itu sedikit banyak telah mengubah pandangan orang-orang yang pada dasarnya memang mudah melupakan apa yang seharusnya mereka ingat.

Mereka jadi iba padanya, orang-orang mulai mempercayai perkataannya yang berubah-ubah tiap kali ia menceritakan kembali, dan seperti naifnya para kanak-kanak saat mendengar dongeng, orang-orang malah terpana setiap kali ia kembali bercerita, dan mereka percaya padanya lebih daripada seharusnya.

Maka, untuk mempertahankan harga diri yang telah diperolehnya kembali, Yeesaac melangkahkan kaki gempalnya, menuju pondokan yang letaknya di barat daya, tempat perempuan bernama Mahla yang menjadi pokok beritanya berada, tepat seperti dugaannya, pondokan itu tidak berada di sana, hanya tersisa lubang menganga yang siap menelan tubuh gempalnya.

“Perempuan bernama Mahla itu pasti tak pernah ada, aku pasti bermimpi saja.”

Yeesaac menggumam sambil menolehkan kepalanya, rambut keritingnya bergoyang-goyang tertiup angin yang mendadak semakin dingin, di atas kepalanya, mendung mendadak berkumpul seakan menggulung langit dalam kelamnya. Ia lalu berbalik, bersiap-siap pergi ketika dilihatnya perempuan yang bertudung hitam itu menunduk di hadapannya. Ia gemetar, tak sanggup menatap wajah yang sedang menunduk itu, ia gentar membayangkan kawanan burung yang akan mencakar matanya, namun ia membutuhkan lebih banyak simpati untuk hidupnya yang sepi dan menyedihkan. Ia butuh kisah untuk bisa dibagi kembali, dengan itu Yeesaac bisa selalu diterima dalam kerumunan orang yang biasanya abai.

Yeesaac melangkahkan kakinya, pelan, sangat pelan, ketika tiba waktunya ia berada tepat di hadapan Mahla, ditengadahkannya wajah perempuan yang sedang menunduk dan tertutup tudung itu, dilihatnya di sana, di lubang yang seharusnya berada sepasang bola mata, hanya ada hitam. Kelam yang terlalu pekat, dan ada kesedihan tiba-tiba membungkusnya sedemikian rapat, kelepak sayap burung-burung bergesekan di telinganya. Yeesaac ingin menjerit, namun bibirnya kehilangan daya untuk membuka, lidahnya menempel ketat ke langit-langit mulutnya, lalu perempuan terkutuk yang bertudung itu tersenyum padanya, senyum yang getir. Senyum yang sungguh keji.

Jadi Yeesaac, cerita apa yang akan kau kabarkan kali ini?

Sementara, burung-burung masih saja menghambur keluar dari mata Mahla.

Iklan

One thought on “Burung-burung Hitam di Mata Mahla

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s