Jalan Magnolia No. 27

image

1/ Bisik-bisik berlumur tawa yang entah.

Aku mengintip ke dalam jendela yang bingkai kayu tuanya telah diselimuti lumut, dan rasanya empuk saat telapak tanganku menyentuhnya. Hidungku berdebu saat menempel di kacanya. Rumah itu telah lama ditinggalkan penghuninya, ibuku pernah bercerita. Jangan dekat-dekat ke sana, Feli, kau bisa ditahan karena memasuki properti orang lain tanpa ijin, ayahku dengan serius memperingati. Waktu itu aku yakin seratus juta persen, bahwa aku mendengar suara-suara tawa dari dalam sana saat melewati rumah itu. Jangan coba-coba, Felicia! Ibuku murka saat aku mengatakan hendak mengintip ke dalam sana.

Namun, rumah besar berdinding bata cokelat, dengan atap miring dan cerobong asap bulat itu, selalu punya cara untuk memancingku untuk sekadar mengintip. Lagipula rumah itu hanya satu blok saja jauhnya dari tempat tinggalku. Apa salahnya mengintip sebentar?

2/ Bayangan-bayangan yang terekam jauh dari sempurna.

Dinding-dindingnya kusam. Lantainya berdecit saat diinjak. Jam kayu di atas perapian tidak menunjukkan perubahan pada jarum yang bersejajaran di angka sepuluh. Sofa-sofa merah telah mengelupas kulitnya. Perutnya menganga berhamburan busa-busa yang sudah berubah warna menjadi hijau tua.

Di seluruh ruangan, terpampang potret yang membuatku gemetar hingga ke tulang-tulang. Jika bukan karena rasa penasaran yang berapi-api, aku pasti sudah lari. Kuperingatkan diriku berkali-kali, usahaku bersusah-payah mengungkit, dan memanjati jendela lapuk itu akan sia-sia kalau aku menjadi pengecut yang melarikan diri hanya karena foto-foto konyol di dindingnya.

Tapi foto-foto itu sama sekali tidak konyol.

Badut, di dalam foto tidak terlalu menakutkan, namun tetap saja, seringainya seram!

Bayangkan, apa yang disembunyikan para badut, dibalik senyum yang dipulas pemerah bibir yang keterlaluan, dan bedak putihΒ  yang mirip sekali dengan abu orang mati?

3/ Jerat Pemburu

Selain udara kosong yang hanya meniupkan debu ke mataku hingga pedih, rumah ini kosong. Benar-benar kosong. Aku sudah menjelajah ke seluruh ruangan. Hanya ada tiga ruangan, kamar tidur, dapur yang menyatu dengan ruang tamu dan ruang makan, lalu kamar mandi di dalam kamar tidur.Kamar tidurnyaΒ  sempit, kamar mandinya –yang demi Yesus aku tidak mau memasukinya karena pasti jauh lebih kotor, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang mendiami kamar mandi yang sudah lama tidak dibersihkan. Di dalam kamar itu, ada lebih banyak foto badut, dan tempat tidurnya sudah bobrok sama sekali (ada banyak tali-tali dari lilitan tembaga diikatkan di sisi ranjang.) Lalu dapur, di dekat pintu belakang yang mengarah ke hutan kecil, pintunya terkunci, dapurnya mengerikan. Banyak noda-noda menghitam di lantai dan mejanya. Aku terus mengenyahkan pikiran bahwa noda hitam itu darah, mungkin saja dahulu pemilik rumah memasak kaldu lalu gosong atau apalah.

Lalu ada sesuatu yang menghentikan langkahku yang tinggal beberapa meter dari jendela tempatku menyelinap.Β 

Suara-suara tawa menggema. Mengganggu dan terasa mengancam.

“Mengapa terburu-buru? Bermainlah dulu.”

Perwujudan sosok di hadapanku lebih menyerupai mimpi buruk ketimbang nyata. Sebuah kamera video menyala di tangannya. Suara-suara yang kudengar berkali-kali saat melewati rumah ini mengalun dari dalamnya.

“Gadis kecil, apa kau takut?”

Aku menyesal tidak memeriksa kamar mandi. Lebih menyesal lagi saat aku menyadari bahwa aku tidak membawa semprotan merica di saku celana.

4/ Kabar yang berulang

“Jed, ke mana Felicia? Sudah hampir tengah malam!”

Meridia berteriak panik mendapati kamar anak perempuannya kosong, dan Jed, suaminya memberi tatapan yang sama bingungnya.

“Dari tadi sore aku belum melihatnya, sayang!”

“Dan kau tidak curiga?”

Suara Merida melengking karena marah sekaligus khawatir.

“Kupikir ia sudah pulang!”

warga diminta untuk selalu berhati-hati seiring meningkatnya laporan tentang kasus anak hilang. Kebanyakan yang dilaporkan menghilang adalah anak perempuan berusia tiga belas sampai delapan belas tahun. Kepolisian telah bergerak untuk menyelidiki apakah kasus anak-anak hilang ini seperti kasus yang pernah terjadi tujuh belas tahun yang lalu, di mana pelakunya sampai sekarang belum terungkap. Semua korban juga belum ditemukan hingga kini. Hanya ada beberapa asumsi bahwa pelaku melakukan penyamaran saat melakukan kejahatannya. Beberapa laporan yang masuk saat teror menyerang tujuh belas tahun yang lalu menyebutkan, bahwa ada sesosok badut asing yang berkeliaran di sekitar rumah kosong di jalan magnolia nomor dua puluh tujuh…

“Demi Tuhan, Jed. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Feli… .”

Mereka berpandangan ke arah televisi yang menyala di ruang tamu, kemudian saling terisak-isak.

*

Gadis kecil, mau bermain?

Kamera videonya berkerlip ke arahku. Sosok gendut berpakaian polkadot dengan pemulas bibir yang keterlaluan, dan bedak putih seperti abu orang mati itu, menyeringai. Aroma bibirnya masih melekat di badanku yang babak belur.

Sambil tertawa-tawa, ia mengayunkan parang berkarat yang dipenuhi bercak gelap. Sementara tubuhku menggelepar-gelepar, sebelah lenganku lunglai, tergantung berayun-ayun di sisi ranjang yang diikat tali-temali sewarna tembaga… .

Iklan

33 thoughts on “Jalan Magnolia No. 27

  1. I hate clown!
    Baca tulisan ini entah kenapa adegannya tervisualkan dengan sangat jelas. Suasana mencekamnya terbangun sempurna. Endingnya nyeremiiiin. Berhasil.

  2. huwanjiiiir…
    ini kalo dijadiin film pendek, pasti keren mampus-mampusan.. tapi gue ga sanggup nongtongnya pasti… jantungan chuuuy.. maklum dah uzur ((:
    ini keren level sangat, Del…

  3. Agak bingung dengan settingnya.
    Cerobong asap, berarti ada tempat pemanas di dalam ruangan? Atau dijadikan sebagai saluran asap di dapur?
    Lalu, dapur yang menyatu dengan ruang tamu dan ruang makan, gimana bentuknya ini? Sementara dapur yang terdapat pintu belakang yang mengarah ke hutan, berarti ruangan-ruangan itu lurus terus tanpa sekat hingga pintu belakang?
    Terkunci, dan mengerikan, berarti dapat disimpulkan ruang tamu dan ruang makan juga mengerikan?
    Saya bingung..
    Ato mungkin saya yang saya kurang dapat berimajinasi..
    Terimakasih..

    • Cerobong asap, saya membayangkan rumah ini ada perapiannya. Benar, tidak bersekat. Dapur terbuka dengan ruang makan sekaligus ruang tamu, dan ada pintu belakang. Saya bayangkan rumah ini berbentuk persegi panjang, dan ada pintu belakang di dekat dapur. Bagian dapur mengerikan, bagian ruang tamu terdapat sofa yang sudah terburai isinya. Cukup mengerikan karena busanya sudah berwarna hijau πŸ™‚

      • Mm.. maka sejauh pemahaman saya dari cerita pendek mbak Adel, bagian “Lalu dapur, di dekat pintu belakang yang mengarah ke hutan kecil, pintunya terkunci, dapurnya mengerikan” menjadi suatu bagian yang diulang, berlebihan. Mungkin, hanya mungkin, lebih mengena lagi bila sedikit lebih fokus dengan hutan kecil.

        Kemudian, bila saya dan istri adalah orang tua dari si Feli, sangat tidak mungkin hanya terisak-isak saja seperti yang terdapat dalam “Mereka berpandangan ke arah televisi yang menyala di ruang tamu, kemudian saling terisak-isak”. Kami pasti lebih mengambil sikap untuk mencari tahu keberadaan Feli dengan gelisah dan sangat emosional, karena Feli adalah anak kami.

        Selanjutnya, perihal struktur ceritanya. Struktur ceritanya sangat mudah untuk dipahami, tidak seperti cerita-cerita mbak Adel yang sebelumnya. Menarik, bagi saya yang awam akan cerita-cerita fiksi dan kurang dapat berimajinasi. Penomoran dan kalimat yang menyertainya, yang seakan seperti sebuah sub-judul, sesungguhnya bagi saya sangat membantu dalam memahami isi cerita. Karena dengan penomoran dan kalimat yang menyertai itu, bagi saya merupakan sebuah inti dari cerita yang di bawahnya. Perihal penomoran dan kalimat itu, kemudian saya teringat dengan struktur cerita pewayangan yang dibawakan oleh dalang.

        Dalang dalam membawakan satu cerita pewayangan dalam pentasnya, selalu terbagi dalam beberapa babakan, hingga di akhir cerita. Nah, penomoran dan kalimat itu, saya intepretasikan selayaknya babakan. Dalam satu babakan, terdapat cerita yang berbeda setting, hingga lakon yang berbeda karakter, dibanding babakan sebelumnya. Namun sedikit berbeda dengan cerpen mbak Adel ini. Terdapat satu bagian cerita, yaitu bagian terakhir pada cerpen mbak Adel, yang tanpa babakan (penulisan cerita setelah tanda bintang). Maka menurut saya -yang sekali lagi, minim sekali perihal tetekbengek karya sastra- cerpen mbak Adel kali ini, meski mudah dipahami, namun terdapat incosistency yang sangat jelas pada strukturnya.

        Perlu diperhatikan pula masalah tanda bacanya, mbak.. Seperti misal pada ‘Gadis kecil, mau bermain?’. Sejauh yang saya tahu, bukankah seharusnya ada tanda kutip yang menyertai kalimat tersebut?

        Ah saya terlalu banyak membual..
        Bukan pujian, progress mbak Adel sangatlah nampak dalam setiap karyanya.. dan semakin lihai pula..

        Maafkan saya yang terlalu banyak komentar, padahal nihil..

        Sukses selalu, mbak Adel..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s