Perempuan yang Menunggu Mati

Aku hidup dari menelan kepahitan, lalu memuntahkannya, empat puluh tujuh kali banyaknya, sepanjang usia lupa milik ibu.

**

Tidak ada yang lebih kelam, selain sepasang ceruk yang menganga di wajahnya.  Ceruk itu kelam, pekat, dan anyir. Mengingatkan aku tentang cerita-cerita seram tentang adanya sebuah lubang tempat ditimbunnya tubuh-tubuh yang dikoyak, dan ditorehkan luka-luka menjelang ajalnya. Cerita-cerita seram yang sering diteriakkan dari lidah yang biasanya beku dari dalam bibir ibu. Bibir yang biasanya hanya bergumam-gumam muram, merutuk, lalu bungkam itu mendadak buas, mendadak melengking tawa getir yang keji saat mimpi mulai menari, di saat sepasang kelopaknya bahkan belum terpejam. 

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Sayup-sayup suara ibu mengalun dari dalam bilik tempatnya bersembunyi. Di dalam kamar itu hanya ada sebilah cermin, sehelai kasur tipis, dan tubuh ibu yang ringkih. Teramat ringkih untuk bisa memeluk dirinya sendiri. Segera setelah kakiku melewati ambang pintu, yang tersisa dari dirinya hanya ceruk menganga yang dulunya tempat sepasang mata. Semakin lama aku memandangnya, semakin dalam aku tersedot kepedihan di dalamnya.

**

Mereka datang!
Mereka datang membawa klewang, dan bengis menjadi sekutu mereka. Tangan-tangan mereka telah penuh dengan daging-daging yang mereka cabik dari kawanan perempuan yang ditengarai sebagai perempuan sayap kiri. Padahal perempuan-perempuan itu hanya memiliki bakat dan nurani yang senang mereka bagi. Kepintaran mereka terlalu menakutkan. Kecedasan mereka terlalu mengancam!

Merekapun lalu dibungkam, dikotorilah tangan mereka dengan darah yang tak pernah setitikpun mereka tumpahkan, jari-jemari mereka dipasung, didera dakwa telah memotong-motong satu legiun Jendral dengan keji! Benang yang pernah terjalin dengan kawanan perempuan itu akan segera dikoyak dengan keji. Benang-benang itu akan dipotong-potong tanpa kompromi. seperti yang mereka lakukan pada kawanan Perempuan Kami. Larilah!

Larilah! Lari!

Ia adalah Wanita, yang meneriakkan peringatan. Ia adalah satu kawanan perempuan dengan. satu sayap yang menempel di punggungnya. Sayap kiri. Dadanya serasa meledak dengan geraman amarah yang dibalut duka, mata miliknya tak henti menumpahkan curah air yang mengirisi pipinya. Ia lari, ia berhasil lari, mengendap-endap seperti pencuri, lalu menyiarkan kabar kepada mereka yang pernah disinggahi perempuan-perempuan sayap kiri. Kabar itu hanya berisi satu seruan; Lari! Selamatkan diri!

Ia lalu menangkap lenganku yang gemetar, sebelum kemudian kembali berlari. meneriakkan peringatan-peringatan untuk saudari-saudari kawanan yang lain.

Lari, nak. Sembunyi. Jangan katakan apapun pada yang kau singgahi.

Ia berbisik, suaranya seakan berasal dari liang kubur saat aku menatap sepasang matanya.

**

Perempuan itu baru menginjak sembilan belas. Terlalu ranum untuk bertelanjang kaki,
terlalu mengundang untuk meringkuk di bawah malam yang berbayang-bayang. Kakinya telah lelah untuk menyeretnya agar terus bersembunyi, padahal hari baru berganti satu kali putaran matahari, sementara lengannya terus gemetar.

Peringatan Wanita terus berkumandang dari dalam kepalanya. Membuatnya seketika merasa renta. Ibu dan saudara-saudara perempuannya telah dijarah dan ditangkapi… . Ia tak sanggup, bahkan hanya sekadar untuk menangisi.

Ia meringkuk di sudut jalan yang ternyata masih liar. Aroma perempuannya yang baru mekar, terendus sekumpulan serigala, mereka menerjang dengan mata nyalang berahi yang rakus. Mereka menyeretnya ke dalam liang, lubang yang dijadikan sarang. Dan taring-taring mereka seketika berubah kemaluan, menusukinya hingga jeri. Jengkal demi jengkal tiap-tiap bagian tubuhnya. Ia menangis… ia terus menangis.Sungguh sekali ini ia ingin mati.

**

Lari!

Ibu berbisik di telingaku saat usiaku lima belas. Mata yang biasanya hanya berupa ceruk tanpa cahaya itu mendadak menyala-nyala. Ia menggamit lenganku erat, lalu bersimpuh di kakiku dan membuatku bersumpah.

Larilah, dan jangan kembali!

Namun kakiku telah terbenam ke dalam rawa-rawa genangan masa lalu yang menghisap daya hidupnya hingga hampir tuntas. Aku bersumpah tidak akan lari dan mengakibatkan ia seorang diri.

“Laila, mana tehnya?”

Dari balik pintu, suara Serigala satu menggelegar. Ibu memberitahuku, bahwa laki-laki itu adalah Serigala, di malam-malam saat ia bisa menemukan suara yang tersangkut di tenggorokannya, dan ceruk matanya hidup. Di sela-sela ceritanya, ibu menggumam-gumam tanpa arti, menangis, meratap-ratap, lalu kembali fokus. Lalu bergumam lagi. Fokus lagi. Begitu seterusnya.

Hati-hatilah pada Serigala satu. Dia bisa memangsamu.

Serigala yang mana, Bu?

Ibu melirik ke kanan dan ke kiri, lalu bergumam lagi, kemudian suaranya beralih, berubah jernih, seperti genta angin.

a yang menempati sebelah kamarmu.

Ayah?

Aku terkejut dengan mulut menganga, ibu bergumam-gumam lagi, sesekali melantunkan lagu yang menjadi salah satu bagian cerita-cerita seramnya tentang lubang dan tubuh-tubuh koyak sebelum dijemput ajal.

Ia Serigala Satu. Ia yang mengoyakku di paling awal sebelum kumpulan lainnya melakukan hal yang sama, lalu ia memasungku lebih dari empat puluh hari. Rahangnya melengkung senyum saat benih itu mekar di dalam rahimku. Ia tidak peduli benih siapa. Ia bujang tua bajingan yang kesepian. Mendamba putra. sekarang, pergilah, pergi!

Malam jahanam, sekawanan perempuan menari dengan iblis mendiami liang-liang yang mereka biarkan terbuka. Mengalun dari bibir-bibir tipis mereka lagu-lagu agar iblis tetap menyalakan dian di tubuh mereka. Menyalalah mereka karena keringat dan gairah. Dirajangilah para jenderal laki-laki dengan belati-belati perak. Dari ujung.. dari ujung..

Ia lalu kejang-kejang, dan aku selalu muntah-muntah mendengarkan cerita yang selalu ia sebut cerita-cerita seram.

“Laila, mana tehnya!”

Suara Serigala satu terasa mendesak. Aku meninggalkan ibu yang kejang-kejang, dengan bola mata terbalik dan tangis yang menenggelamkannya. Dari balik pintu, aku menemukan Serigala Satu, dengan mata merah dan taring memanjang ya g bersiap menerjang. Cangkir teh yang telah kosong pecah di lantai. Serpihannya menyebar, menyebar seperti ibu yang koyak dan berserak. Malam itu kali pertama aku melihat taring Sang Serigala berubah kemaluan saat ia menusuki tiap jengkal. Tiap liang. Tiap lipatan yang tersembunyi. Dikoyakkan aku hingga tercabik. Aku ingin mati. Matikan aku kali ini… .

Malam jahanam, sekawanan perempuan menari dengan iblis mendiami liang-liang yang mereka biarkan terbuka. Mengalun dari bibir-bibir tipis mereka lagu-lagu agar iblis tetap menyalakan dian di tubuh mereka. Harum mawar mekar setiap satu tetes darah ditumpahkan dari tubuh para Jenderal.. Menyalalah mereka karena keringat dan gairah. Dirajangilah para jenderal laki-laki dengan belati-belati perak. Dari ujung.. dari ujung rambut turun ke dada.. lalu pusar.. lalu kemaluan.. dirajangi mereka.. dirajangi mereka hingga telapak kaki tak luput dari bilah belati… . Perempuan-perempuan sayap kiri, sayap kiri satu-satunya sayap yang paling ditakuti. Dikutuklah mereka dan liang-liang yang mereka miliki, dengan keji. Dengan keji merekalah korban yang dikoyaki sepanjang ingatan, tidak satupun darah tertumpah dari tangan-tangan lentik para perempuan yang senang berbagi nurani.. .

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler… .

**

Dari dalam bilik tempatnya bersembunyi, ibu menceritakan cerita-cerita seram, empat puluh enam tahun lamanya. Di tahun ke empat puluh tujuh, kami masih menunggu…

*tulisan ini diikutkan dalam Lomba: Gerwani, Sundal Perkasa yang Menolak Mati, melalui Lembaga Lingkar Puisi dan Prosa, dan mendapatkan peringkat ketiga

Iklan

4 thoughts on “Perempuan yang Menunggu Mati

  1. Selalu suka tulisan Adel walau sering kali ( bahkan hampir selalu ) bikin bingung. Harus baca berulang atau pelan-pelan seperti sedang mengunyah makanan yang terlalu enak hingga sayang untuk ditelan. Hihi. Tapi saya suka banget tulisan-tulisan Adel. Absurd, kadang gelap, kelam, tak mudah dicerna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s