Di kaki langit yang tidak memiliki warna selain kelam, ada sesosok perempuan. Di tangannya tergenggam sebuah jarum, dan segumpal benang telah ia hamparkan.

Di tangannya yang lain, sebuah gunting telah ia gerakkan, lalu terpotonglah kelopak itu. Kelopak yang seharusnya memekarkan kembang, memabukkan kumbang. Lalu terbukalah, tanpa penghalang suatu apa, sebuah pusat yang berbinar –dulunya.

Sepasang mata, ia berujar lirih, sepasang mata, terbukalah kini engkau.

Ia hirau akan pekat yang memerciki tubuhnya dengan anyir yang amis. Ia membendung badai yang bersiap menelannya, menguncinya di pangkal leher.

Sesungguhnya kesedihan tidaklah berarti apa-apa. Begitulah ia menggumamkan himnenya ketika gunting di tangannya memecah hening dengan suara melenting. Tangannya tidak bergetar saat mengumpulkan potongan-potongan kelopaknya yang terserak di lantai.

Namun hatinya remuk.

Hatinya remuk.

*

Jarum telah tergenggam di tangan kirinya, dan segulung benang telah ia hamparkan menutupi separuh lantainya.

Aku akan mulai menjahit.

Menjahit apa saja yang telah terbuka.

Ia mulai dengan katup yang bisa membuka – menutup – dan bersuara di wajahnya. Lalu ia menyasar lubang-lubang di tubuhnya.

Kepala. Dada. Selangkangan.

Kepala. Dada. Selangkangan.

Ia menusukkannya pelan-pelan. Menjahitnya rapat-rapat hingga lekat.

Badai hampir mencapai matanya. Mata yang kini terasa perih, karena tidak lagi mengenal gelap yang menentramkan. Ia tertawa melihat serpih-serpih kelopaknya.

Ini aku. Ini mataku. Ini tubuhku.

Sanggupkah kamu mengenalinya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s