Aku menulis ini untukmu, bacalah. Dengarlah.

Aku adalah hantu. Ya. Hantu. Kau boleh menertawakanku. Tapi, sebelum engkau tertawa hingga jantungmu memutus berhenti, dengar, dengarkan dulu ceritaku.

Jadi, aku adalah hantu, tahukah tempat bagi para hantu? Ya. Ya. Di antara sudut berkabut antara purnama dan muka bening telaga. Di antara dahan -ranting, atau akar akasia, atau beringin, atau kemboja -sebut saja semua pohon keramat itu! Aku berdiam, diam-diam di antara bayang-bayang.

Tahukah kau bagaimana rasanya menjadi hantu? Tidak ada rasanya. Hantu itu transparan, tentu kau tahu itu. Hantu tidak pernah tidur, tidak pernah bermimpi, tidak pernah punya harapan. Hantu hanya berenang-renang di dalam angin, tertawa-tawa di dalam hujan. Hantu tidak memperdulikan malam, tidak mengindahkan pagi. Hantu tidak membedakan benderang matahari, atau lembut bulan yang tersipu.

Hantu selalu abu-abu. Terkadang ada. Lebih sering tidak ada. Begitulah. Aku selalu berdiam di bawah bayang-bayang.

Lalu, bagaimama aku bisa mengenalmu, padahal aku adalah hantu?

Aku masih belum tahu pasti tentang pertanyaan yang juga terus mendengung di kepalaku itu. Aku juga masih bertanya, mengapa aku begitu manusia. Sekali lagi kujelaskan, aku adalah hantu.

Aku punya teori.

Begini,

Hantu, kau tahu, mereka juga punya emosi, meski sangat samar dan tersembunyi. Mereka juga bisa merasa, meskipun kebanyakan memilih mengabaikannya, karena rasa itu tidak akan bisa diterjemahkan menjadi hasrat, mimpi, atau harap. Rasa itu biasanya hanya singgah kemudian menguap, hilang.

Aku telah hidup lama, kau tahu. Atau mati lama, karena aku adalah hantu. Selama hidup -atau mati, terserahlah! Aku banyak mengamati. Aku hidup di iklim emosi. Iklim yang sebenarnya terlarang bagi para hantu. Aku tidak boleh terikat dengan emosi, emosi kepada benda -maksudku makhluk yang masih hidup, bernapas, dan punya detak nadi.

Bahkan aku tidak boleh terlalu rapat menjalin emosi dengan akasia yang kudiami. Aku tidak boleh membuat para hidup menjadi dekat dengan yang sudah mati.

Tapi, aku melanggarnya. Aku memilih tinggal di akasia renta. Aku tahu dia kesepian dan kehilangan kekasih.

Jangan tertawa. Benar, akasia itu punya kekasih. Seekor parkit cokelat yang bersayap patah sebelah. Kau mau mendengar kisah akasia dan parkit itu?

Lain kali akan kuceritakan. Kali ini aku harus fokus tentang ceritaku sendiri. Dan ceritaku ini, sebagian -atau keseluruhannya adalah ceritamu juga. Jadi, dengarkan baik-baik.

Jadi, setelah aku berdiam di bawah bayang-bayang akasia tua itu, aku semakin tertarik pada hubungan emosi. Aku menjadi terobsesi. Benar, padahal hantu tidak bisa terobsesi. Ia hanya bisa tertarik sebentar, kemudian hilang. Seharusnya hantu seperti itu. Seharusnya. Tapi kita tahu, seharusnya itu selalu tidak berlaku. Selalu ada penyimpangan-penyimpangan tentang suatu hal yang seharusnya pasti.

Jadi, setelah akasia itu bisa kuajak bicara, setiap malam ia menangis padaku. Ia bilang ia rindu kekasihnya yang riang. Ia rindu kekasihnya yang tidak bisa lagi terbang. Ia rindu dahannya dipatuki paruh lancip itu, ia rindu, ia rindu! Anehnya, aku mulai ingin merindu. Entah pada siapa.

Satu hal, para hantu memang saling mengenal. Tapi mereka tidak saling merindu. Bayangkan satu koloni besar yang saling mengenal, tapi lumpuh rasa satu sama lain. Bayangkan betapa matinya. Benar. Itulah koloni para hantu. Dan kami tidak juga mati, mati dalam hal pergi ke surga atau neraka, semacam terjebak, seperti itulah.

Jadi, kemudian aku merasa ingin merindu. Aku terikat pada akasia itu, aku selalu memaksanya bercerita tentang kekasihnya. Ah, aku ingin punya kekasih. Ingin sekali. Jangan tanyakan bagaimana semasa aku hidup, sebelum menjadi hantu, seperti apa aku. Setelah beberapa abad, memori itu memudar, kami menjadi hampa, menjelma kabut-kabut transparan.

Kemudian ada Perempuan yang ingin mati.

Ia menjerat maut dengan kedua tangannya sendiri. Ia mengumpan maut dengan tubuhnya sendiri. Saat itu, maut hanya satu jengkal jaraknya, dan ia mendadak tersungkur, menjauhi lonceng kematian yang sudah mulai berdenting untuknya.

Kamu. Kamu yang membuatnya tersungkur.

Aku belum pernah melihat sesuatu yang bisa begitu dalam mengoyak emosiku seperti itu. Aku melihat mata perempuan itu, matanya mati. Seperti danau hitam tanpa dasar, tak terbaca. Namun bibirnya menyunggingkan senyum, senyum itu keji di bawah temaram purnama, dan dengan engkau yang meneteskan darah di bibir. Kalian berdua tersungkur, dengan hitam sebagai latarnya, dan deru kendaraan berlalu lalang di hadapan kalian.

Perempuan itu berkata, ia ingin mati, dan kamu bilang, jangan. Kamu tidak mau dia mati. Lalu kamu memeluk dia. Dia menangis namun wajahnya bercahaya. Lalu aku merasa merana.

Siapa aku? Aku hanya hantu.

Akasia tua itu bergumam lirih.

“Aku rindu kekasihku.”

Aku, mengangguk muram. Semuram temaram malam.

“Aku juga merindu. Siapa Rindu?”

Karanganyar, 13 Januari 2013. Ketika rindu, mendadak enggan padam.

Iklan

4 thoughts on “Aku menulis ini untukmu, bacalah. Dengarlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s