Apa yang Lebih Buruk dari Mati?

picture by etsy.com

“Apa yang lebih buruk daripada mati?”

Saya melempar ponsel ke tempat tidur. Kemudian badan saya menyusul. Mendarat dengan kepala lebih dulu, menelungkup di bantal. Pertanyaan yang sama berputar di kepala saya.

Apa yang lebih buruk dari mati, sedangkan saya sendiri belum pernah mati? 

Saya teringat aroma uap chamomile yang sering ia hirup untuk menenangkan diri. Bagi saya, menenangkan diri membutuhkan lebih dari sekedar uap chamomile atau menyesapnya di bibir. Saya butuh rokok dan ampas kopi. Saya harus menghisap rokok dan menjilati ampas kopi hingga mengering di bibir saya. Tapi ini bukan mengenai chamomile atau ampas kopi. Saya tidak butuh ditenangkan. Ini mengenai mati. Saya belum pernah mati.

Saya teringat janji-janji tentang sehidup semati itu. Saat saya mengamati dia di balik lensa kamera saya, dia terbang melincah di padang daffodil kuning cerah. Dan cahaya matahari membuatnya berpendar-pendar seperti peri. Seandainya dia punya sepasang sayap dan lingkaran halo di kepalanya, saya tidak akan terkejut. Saya memotretnya tanpa henti. Mengagumi senyumannya yang cemerlang, mengalahkan keindahan lansekap di sekelilingnya. Dia berputar menghadap saya, membuat saya termenung dengan mulut menganga. Saya sedang melihat surga. Lengkap dengan bidadari yang memang sudah menjadi milik saya. Saya jatuh cinta padanya -untunglah, dia membalas cinta saya. Saya kemudian berjanji untuk sehidup semati bersamanya. Dia menerimanya dengan tawa yang mengguncang bahunya. Saya dan dia kemudian berfoto bersama. Dengan lansekap  padang daffodil menyala di belakang kami berdua.

“Katakan, apa yang lebih buruk dari mati?”

Ponsel saya kembali bergetar di samping kepala saya. Malas-malasan saya membaca pesannya, kepala saya menjadi ramai hanya untuk memikirkannya saja. Saya kembali menyurukkan ponsel itu. Kali ini ke kolong kasur. Biar saja ponsel itu berdebu di bawah sana. Biar saja dimakan laba-laba di bawah sana. Saya beri tahu ya, para laba-laba di bawah sana itu sangat bengis. Dia memakan apa saja. Bahkan dia memangsa mimpi-mimpi indah saya, mereka mencurinya, lalu menyulamkannya di jaringnya yang lengket. Kemudian sebagai gantinya, mereka mengirimkan kutukan-kutukan kepada saya. Pesan-pesan singkat di ponsel itu, salah satunya. Para laba-laba di kolong kasur sayalah penyebab semua mimpi buruk saya. Semua kesedihan saya. Begitulah, setidaknya yang saya percayai.

Lalu saya kembali memikirkan pesan itu. Apa yang lebih buruk dari mati? Saya belum pernah mati, tapi saya sudah pernah ditinggal mati. Tapi saya juga tidak tahu, memangnya ada yang lebih buruk dari mati? Saya selalu ingat potret saya dengan dia saat itu, saya menyimpannya rapi di dalam kepala saya. Saya tidak mau meninggalkannya tergeletak, laba-laba itu akan mencurinya, lalu menggantikan pemandangan seram untuk saya. Di dalam foto itu, dia tersenyum sangat lebar, sedangkan bibir saya hampir bisa dikatakan menyeringai. Saya tidak suka difoto. Saya hanya suka menggunakan kamera untuk mengabadikan obyek yang saya suka. Sayang, saya sendiri bukanlah obyek yang saya suka.

Dia dulu sangat ceria, sangat apa adanya. Dia selalu mengumandangkan tawanya yang ringan namun mengguncang bahunya. Dia selalu tersenyum lewat matanya. Saya selalu tersihir saat melihatnya bergerak, sangat selaras dengan semesta yang mengiringinya. Dan kebaikan hatinya selalu bisa membuat saya tersenyum, selalu bisa mendamaikan diri saya yang sering bergolak. Dia bisa memadamkan bara di dada saya, menggantikan kemarahan yang membakar di sana, mengubahnya menjadi hangat dan bertumbuh, menggelitiki perut saya.

Dia selalu menyukai padang daffodil di belakang rumah saya. Padang itu tidak bisa disebut padang yang sebenarnya, hanya sepetak tanah yang ditumbuhi bunga-bunga kuning itu, karena ibu saya menyukainya. Padang kecil itu dikelilingi pagar kayu yang sudah lapuk. Tapi memang saya tidak bisa menyangkal keindahan lansekap di sekelilingnya. Ibu saya suka pegunungan, maka dia membawa saya ke sini. Ibu saya hidup di antara ranting-ranting pakis, di antara bunga-bunga kuning, dan dia bersenandung doa di udara. Ibu saya sudah mati, itulah sebabnya tadi saya bilang, saya tahu rasanya ditinggal mati. Tapi saya tetap tidak menemukan jawaban dari apakah yang lebih buruk dari mati. Saat ibu saya mati, saya tahu dia meninggalkan senyumannya untuk saya, saya tau ibu saya tetap hidup di antara harmoni semesta yang beriringan dengan saya. Itulah, saya tidak mau membiarkan lubang di dada saya menganga terlalu lama karena kehilangan dia, selebihnya lubang itu sembuh berkat  peri saya yang baik hati itu.

Pikiran saya memang selalu melantur. Dia, yang menyukai padang daffodil itu selalu mengatakan, ada jutaan burung yang hidup di kepala saya dan mereka tidak henti-henti berkeriap, memunculkan banyak pikiran-pikiran di dalam kepala saya. Dia mengatakan mungkin kepala saya adalah sarang yang nyaman untuk mereka, mungkin remah-remah ide saya begitu lezat hingga burung-burung mungil itu akan terus menetap di sana. Ia tidak mengatakan hal itu buruk, sejauh saya masih bisa mengenali burung mana yang sedang bicara, dia bilang, tidak akan jadi masalah kalau saya selalu melantur. Tapi saya harus fokus kali ini, pertanyaannya di dalam pesan ponsel tadi masih menunggu saya, dan sangat mengganggu.

Jauh, jauh hari sebelum pesan-pesan itu ada, mimpi saya dicuri para laba-laba. Saya terbiasa dengan kedamaian yang memabukkan. Saya terbiasa tidak pernah memimpikan apa-apa. Kecuali terkadang saya bermimpi menjebak dia –kamu- ke dalam kamera saya dan memenjarakan kamu selamanya supaya saya bisa memiliki dia selamanya. Baiklah, saya akan memanggil “dia” –peri cantik itu- dengan sebutan –kamu. Supaya seolah-olah kita sedang berbincang. Karena saya sangat bingung sekarang dengan perubahan sikap kamu, mendadak selalu membicarakan kematian, dan setapak demi setapak bergerak mundur menjauhi saya. Sejak mimpi saya dicuri para laba-laba, dan berganti dengan mimpi seram yang menggambarkan bahwa saya tidak bisa menemukan kamu lagi di padang saya, segera saya merasa gelisah.

Saya mencari kamu. Saya mencari kamu di tempat kamu menemukan saya. Kamu ingat di dekat danau mati itu, kan? Danau yang kering itu, yang walaupun turun hujan selama empat puluh hari, tetap akan kering kembali? Saya tahu danau itu masih menunggu hujan yang tepat untuk kembali menghidupkannya. Saya menjadi mirip danau itu, saya merasa kering. Merasa mati. Saya hanya menunggu kamu untuk kembali mengisi saya. Saya tidak bisa menemukan kamu di mana-mana. Mimpi-mimpi saya selalu kembali berulang, saya kehilangan kamu dan tidak bisa menemukan kamu. Mimpi saya mewujud nyata. Lalu saya menghubungi kamu melalui ponsel. Saya tahu ponselmu bergetar di telapak tanganmu, tapi kamu tidak juga menjawab panggilan saya. Saya menjadi ketakutan saat kamu membalas pesan saya dengan kalimat apa yang lebih buruk dari mati.

**

Dia ada di sana. Kedua matanya tajam mengawasi. Menangkap apa yang menjadi fokusnya. Dia tidak mendengar langkahku mendekatinya. Dia seperti singa yang sedang memburu mangsanya, seluruh indranya terfokus pada apa yang di depannya.

Klik.

Dia terlonjak dan berpaling dengan sengit ke arahku. Aku menangkap potretnya dengan kamera saku yang hasil gambarnya selalu blur dan tidak jelas. Kamera yang tergantung di lehernya tentulah jauh lebih bagus hasilnya dari milikku, namun aku tersenyum melihat potretnya abadi di dalam kameraku. Ia berdecak kesal, buruannya lepas. Seekor burung mungil berwarna putih –entah aku tidak tahu namanya, telah membubung ke angkasa. Jelas, kedatanganku mengagetkan pemburu sekaligus buruannya.

“Maaf. Maaf mengagetkanmu.” Ujarku, sementara aku melihat kilat matanya berapi-api, dia kesal. Oh tidak. Dia sangat kesal. Dia berbalik dan membawa punggungnya menjauhiku. Aku tersaruk-saruk mengikutinya, dia belum juga mau bicara.

“Ayolah. Aku hanya butuh teman bicara.” Aku kembali mencoba. Berhasil. Dia menolehkan kepalanya, kemudian melampiaskan kekesalannya. Dia marah-marah lebih dari dua puluh menit. Namun, setelah kekesalannya mereda, ia menanyakan tujuanku mendatanginya.

Aku bilang padanya aku turis yang akan tinggal di daerahnya dalam waktu beberapa lama. Dia bertanya macam-macam. Apakah aku punya keluarga, berapa usiaku, kenapa aku memotretnya dan membiarkan objeknya lepas, kemudian dia juga bertanya satu hal.

“Mengapa mau berbicara denganku?”

Kami berbicara sambil berjalan di antara semak-semak dan daun-daun berwarna cokelat menutupi alas hutan. Aku suka hutan. Aku suka pegunungan. Dan aku suka pemuda yang sedang berbincang denganku ini. Aku ingat pipinya bersemu saat aku menjawab pertanyaannya.

“Mengapa aku tidak boleh berbicara pada orang yang ingin kuajak bicara?”

Kemudian kami semakin sering bertemu. Aku selalu mengunjunginya, karena dia tidak suka berkunjung selain ke hutan dan ke tepi danau yang mati itu. Beberapa orang yang kukenal memperingatiku, dia pemuda yang aneh. Dia lebih suka memandang lewat lensa kamera dibanding berbicara. Pemuda yang aneh, tinggal sendirian untuk mengurus padang bunga. Pemuda yang aneh. Tidak suka bersosialisasi. Yang lebih menyukai burung untuk dipotret, ketimbang gadis-gadis. Aku tahu, aku mengenal dia lebih baik dibanding semua orang yang selama ini hidup berdampingan dengannya sebagai tetangga dekat. Oh, aku tidak peduli. Sama sekali.

“Apa yang lebih buruk dari mati?”

Aku membalas pesannya untuk yang pertama kali, sejak berpuluh-puluh pesan yang sama menghujani kotak masuk di ponselku, dan potretnya menyala di dalam layar ponselku.

“Di mana kamu? Kenapa tidak menemui saya? Ke mana saya harus mencari kamu?”

Pesan-pesan yang sama membanjiri ponselku lagi, lagi dan lagi-lagi. Aku masih ingat janji itu. Janji sehidup semati di padang bunga miliknya.

Tahukah dia apa yang lebih buruk dari mati?

Aku menunggunya menemukan jawaban pertanyaan itu. Sementara, tarikan napasku kuhitung mundur.. Tiga.. Dua..

**

Saya tidak ingin menangis. Tapi sesuatu merobek dada saya, melubanginya dan membuatnya bernanah. Baunya sangat busuk hingga saya tidak tahan untuk tidak berteriak. Saya sangat tidak mengerti apa yang kamu inginkan dari saya. Saya jatuh kepada kamu yang menemukan saya. Saya membuka diri saya kepada kamu yang mengetuk pintu hati saya. Lalu saya sekarang terpuruk. Tersuruk di kaki kamu. Kamu tahu, saya ingin mengoyak jantung saya dan memberikannya kepada kamu.. Saya ingin jantung kamu berdetak, dan saya akan hidup di dalam jantung saya –yang saya berikan kepada kamu.

Kenapa kamu memberikan saya pertanyaan bodoh itu? Pertanyaan yang sekarang digunakan para laba-laba untuk menyerang saya, dan kini menjadi lebih menyakitkan karena saya kini tahu jawabannya. Para laba-laba itu menyulamkan jawabannya di jaring mereka, kemudian menyusupkannya ke dalam mimpi saya. Semunya menjadi sangat buruk karena bahkan jika saya berteriak dengan lantang, saya tetap tidak bisa memberitahu kamu apa jawabannya.

**

Ellois Illyana, perempuan yang telah mengukir senyum di setiap wajah yang mengenalnya, untuk mengenangnya.

Rest In Peace.

Saya tahu, apa itu yang lebih buruk dari mati. Saya kehilangan kamu. Lebih baik saya mati. 

 

Iklan

One thought on “Apa yang Lebih Buruk dari Mati?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s